Aomine menguap lebar dengan tampang malasnya. Jika Midorima tidak mengatakan bahwa ini menyangkut [Name] dia tidak akan mau pergi keluar seperti ini.

Midorima tiba-tiba menghubunginya dengan mengatakan bahwa sesuatu kan terjadi pada [Name] jika mereka tidak cepat.

Dan sekarang apa? Midorima malah datang terlambat. ini sudah lewat 15 menit dari waktu perjanjian mereka. Ingin sekali rasanya dia pulang dan menikmati waktunya dengan majalah favoritnya atau tidur di Apartment milik [Name].

"Maaf aku sedikit terlambat nanodayo."Aomine menatap malas Midorima, ingin memaki tapi diurungkan ketika melihat ekspresi Midorima. Jika sudah seperti ini, itu artinya dia tidak sedang main-main dengan keadaan [Name] --walau pada kenyataannya Midorima memang tak pernah bermain-main.-- dan sebaiknya dia mendengarkan hal apa yang akan disampaikan Midorima padanya.

"Kudengar sekarang dia ada di Tokyo. aku tidak tau apa yang dilakukannya tapi ini sudah pasti menyangkut [Name]."

Aomine diam dan mencerna kalimat dari teman setimnya ini. Dan maniknya melebar ketika menyadari sesuatu. 'Dia' yang dimaksud Midorima adalah dia yang mungkin akan mengambil [Name] darinya, dan Aomine tidak pernah memikirkan saat [Name] tidak ada lagi disampingnya.

Walaupun arah hubungan mereka belum jelas Aomine tetap saja tidak memginginkan [Name] menghilang dan meninggalkannya sendiri.

"Jika begitu kita harus menjauhkannya dari [Name, dia tidak boleh bertemu dengannya."

Midorima mengangguk paham, karena dia pun merencanakan hal yang sama. Dan hal pertama yang akan mereka lakukan adalah menemui [Name] sekarang juga dan memastikan bahwa kemungkinan terburuk tidak terjadi.

0o0

[Name] menatap datar orang yang berdiri di depan pintu Apartmentnya. Tidak pernah bahwa dia akan berada disini, dan apa-apaan koper-koper itu? barang-barang itu juga.

"Apa yang kau lakukan disini Akashi?"

Yang ditanya tak segera menjawab dan malah melengos masuk seenak jidatnya menyeret dua koper besar.

"Tentu saja aku akan tinggal disini."

Jawabnya santai. Ingin sekali (Name) menendangnya keluar tapi itu tak ada gunanya bukan.

"Kau keberatan??"

Pertanyaan itu tidak memerlukan jawaban, karena Akashi itu absolut, tak bisa dibantah, yang yang dia katakan adalah perintah yang wajib dilakukan.

"Maaf saja Akashi, tapi tempat ini tidak seluas istanamu yang megah itu. Apa kau tidak keberatan jika tinggal ditempat kecil seperti ini?? Dan aku hanya memiliki satu tempat tidur dan perabotan yang hanya cukup untukku sendiri."

Akashi memainkan ponselnya, menuliskan seuatu. Tidak lama setelah itu, muncul beberapa orang pria berpakaian rapi yang membawa semua perabotan yang Akashi butuhkan masuk kedalam Apato milik (Name).

Apartmentnya memang memiliki dua kamar, tapi hanya satu yang terpakai. Yang satunya dikosongkan karena memang tidak dibutuhkan.

(Name) menyewa tempat yang cukup besar untuk ditinggali sendiri. Dan juga cukup mewah tapi tidak sebanding dengan rumah besar keluarga Akashi.

Tapi ya sudahlah, selama Akashi tidaj mengusiknya maka dia akan diam dan membiarkan Akashi tinggal ditempat ini selama yang Akashi inginkan. Dia tak ingi berurusan dengan Akashi lagi.

Lagipula Midorima menyewa Apato yang bersebelahan dengannya. Dia akan baik-baik saja selama ada Midorima dan juga Aomine disampingnya.

"Apa kau memiliki makanan atau apa pun? aku lapar."

(Name) mengerutkan dahinya samar, tak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibir seorang Akashi. Dia mengira Akashi akan memainkan ponselnya dan apa pun yang diinginkannya akan datang.

Bukankah ponselnya itu seperti kantong ajaib Doraemon?? Bisa mengeluarkan apa pun yang dia mau.

"ada kare dikulkas, kau bisa menghangatkannya jika kau mau."

Akashi mendelik dan menatap tajam (Name) seolah mengatakan 'hangatkan, atau aku akan membunuhmu'

(Name) tak ingin memperpanjang masalah, dia berdiri dan beranjak kedapur untuk menghangatkan kare lagipula dia belum makan sejak pulang sekolah.

"Akashi, apa yang kau lakukan disini?"

Suara Aomine terdengar samar-samar dari luar. Sepertinya kekasihnya itu datang berkunjung.

Haaahh, lagi-lagi dia belum bisa menjelaskan apa pun tentang Akashi pada Aomine. Dia pasti akan menanyakan banyak hal nanti.

"Tentu saja karena aku tinggal disini Daiki."

Aomine berjalan mendekat kearah (Name) yang berada didapur. (Name) tau apa yang diinginkan Aomine. Tapi dia harus menahan rasa penasaran Aomine karena disini ada Akashi.

"Tapi ini rumah milik (Name), Akashi!!"

"(Name) tidak keberatan dengan ini, jadi aku akan tetap tinggal disini dengannya. Benar kan (Name)?"

Akashi hanya memancing kemarahan Aomine dan (Name) tau itu. Dia harus segera menenangkannya, sebelum terjadi keributan.

Chuu~~

(Name) mencium Aomine sekilas dan membisikkan sesuatu yang bisa membuat Aomine sedikit merasa tenang.

"Duduklah dulu Daiki, kau juga belum makan bukan?? Ayo makan bersama."

Melihat senyum lembut milik (Name) membuat Aomine luluh dan duduk berhadapan dengan Akashi di meja makan, diikuti oleh (Name).

Tapi disisi lain Akashi malah terlihat muram dan mendecih kesal. Tak ada yang tau apa yang dirasakan Akashi saat ini.

Dia cemburu pada Aomine atau sebenarnya pada (Name) sendiri.

Tujuan awal Akashi adalah untuk menghancurkan (Name) dan memisahkannya dari Aomine.

Tapi tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan bukan.

Tbc

Haloo, Ubi goreng desu~~

Ga ada maksud buat nelantarin buku ini sebenernya. Tapi gw emang nulis klo lagi ada mood aja. Lagian agak ngestuck juga sih. Hehe . gw juga lebih sering di wp.

Happy reading.

Review?? boleh.