[Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi]
(Name) dan Daiki kembali setelah beberapa jam. Anggota tim basket sweat drop seketika. Mereka bahkan tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. Sungguh pasangan yang mengerikan.
"Uhm, (Name)-chan, Akashicchi memanggilmu ke ruang OSIS ssu."
Kise hanya tertenyum kaku saat melihat ekspresi Daiki yang tiba-tiba berubah suram. (Name) juga hanya menatap datar tapi kemudian mengangguk.
"Baiklah. Terimakasih Kise-kun. kalau begitu, aku pergi dulu Daiki. Kau boleh pulang duluan."
(Name) sedikit membungkuk pada anggota tim. Sekalian pamit, sedikit banyak dia mengerti Akashi memanggilnya.
Daiki menggenggam tangan (Name) erat lalu menciumnya di depan semua anggota klub Basket. Tanpa. Rasa. Malu. Astaga-,
"Mereka benar-benar tanpa ampun ssu."
Kise menggelengkan kepala pelan, lalu menepuk punggung Midorima yang terlihat agak err- seperti ingin menangis.
o0o
(Name) masuk tanpa mengetuk. mengabaikan suara desahan Kuroko, atau Akashi yang sibuk memainkan tubuh Kuroko. Dia hanya menatap datar lalu berjalan santai menuju meja kerja Akashi.
"Jadi apa maumu sekarang Akashi-sama?"
Akashi menghentikan kegiatannya. Dan menatap (Name) tajam. Gadis ini tidak pernah berubah pikirnya.
"Bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk (Name)? Itu tidak sopan. Tunggu disini. Aku akan ke toilet sebentar."
(Name) angkat bahu. Dia tidak peduli, karena Akashi lah yang memanggilnya. Kuroko berdiri, memperbaiki seragamnya yang tadi dia acak-acak oleh Akashi. Akashi sendiri sudah keluar. Ke toilet.
"(Name)-chan. Dia ada di kota ini sekarang. Jadi apa yang akan kau lakukan? Melarikan diri lagi?"
(Name) hanya menghela napas berat. Dia mengerti maksud Kuroko. Tapi kali ini dia tidak akan lari.
"Aku tau. Dan tolong jangan memanggilku dengan panggilan itu lagi. Kau tau bukan, aku sedikit membencimu. Kita tidak akan pernah dekat."
Kuroko masih datar dan segera berjalan keluar ruangan. Dia memikirkan banyak hal. Tentang Dia, tentang (Name) yang membencinya.
0o0
(Name) keluar dari kamar dengan handuk yang masih dikepalanya. Dia menatap Akashi yang berdiri di balkon, memandang jauh ke langit. Dia terlihat hampa, dan kesepian.
"Aku sudah selesai. kau ingin makan apa?"
Akashi menoleh. Kemudian mengambil handuk dikepala (Name). Kemudian menggosok rambut panjang milik gadis disebelahnya. Agak kasar. Karena Akashi itu tipe S. Jangan membuatnya marah. Tolong.
"Kau bisa sakit."
(Name) hanya tertawa melihat tingkah Akashi. Mengingatkannya pada seseorang.
"Aku ini kuat kau tau. Lagi pula, jika sakit aku bisa memanggil Shintarou."
Akashi mengangkat alis. Meremehkannya. Menatap dalam. Sebenarnya tatapan itu sedikit menyeramkan. Membuat (Name) mengambil handuknya dan berlaribke Kamarnya.
"Makan malam mu ada di atas meja. Aku mengantuk."
0o0
Akashi menghentikan pekerjaannya. malam ini lagi-lagi dia tidak tidur. Banyak yang dia kerjakan. Syarat dari ayahnya agar dia di perbolehkan tinggal dengan (Name) adalah membantu pekerjaannya.
Hari sudah menunjukkan jam 04.30. Sudah pagi, dia akan tidur sebentar. Tapi dia haus, dan berjalan ke luar kamar.
Akashi menoleh ke kamar di sebelahnya. Kamar (Name), pintu nya terbuka. Sadar atau tidak dia malah masuk ke kamar itu dan menatap wajah tidur (Name) yang sangat manis.
"Dia lebih ceroboh dari perkiraanku. Gadis bodoh ini, ternyata memang berasal dari keluarga itu. Bahkan saat tertidur pun dia masih bisa menarik orang lain. Pesona yang mengerikan. Pantas saja Daiki bisa terjebak."
Akashi naik ke tempat tidur. Dia menumpuhkan tubuhnya dengan kedua tangannya. Memerangkap (Name). Dia berada diatasnya. Memandangi bibir tipis yang menggoda.
Haah~ jika begini, bisa-bisa Akashi ikut terjebak. Akashi menunduk melahap bibir gadis yang masih tertidur lelap.
Dia bahkan tidak ingin melepasnya. Benar-benar bisa menjadi candu.
Gerakan kecil dari (Name) membuat Akashi tersadar. Tapi tidak bergerak. Dia membeku.
(Name) membuka matanya perlahan. Matanya mengerjap lucu. Sangat manis.
"Akashi?"
Akashi tak bisa menggerakkan tubuhnya. Sungguh. Dia ingin pergi tapi sudah kepalang basah. Sedikit malu dan takut jika seandainya gadis ini marah dan mengusirnya dari rumah ini.
"Mau sampai kapan kau berada di atas ku? ini sudah pagi dan aku harus memasak. Jadi minggirlah."
'Hah'
Astaga, (Name) ini tidak peka atau bagaimana? dia tidak marah? seharusnya dia takut, karena dilihat dari segi manapun. Akashi seperti akan menyerangnya-- Tidak Akashi memang sudah menyerangnya.
Tapi yasudahlah. Itu artinya Akashi tidak harus menjelaskan apa pun.
"Ah baiklah."
o0o
"Hei apa kau dengar tentang keluarga Mayuzumi?"
"Ah Mayuzumi yang itu? Mayuzumi bersaudara, yang adiknya meninggal saat kecelakaan pesawat? bukankah itu cerita lama ya? Cerita itu memang sudah tersebar beberapa tahun lalu kan."
"Tidak. bukan yang itu, itu versi lamanya. Ada gosip baru yang katanya Mayuzumi adik, sebenarnya tidak meninggal. Dia hanya memalsukan kematiannya. Katanya dia melakukan itu karena hubungan terlarangnya dengan sang Kakak. Kau tau kan, hubungan asmara antar saudara-- itu menjijikkan sekali."
(Name) menghentikan langkahnya. Akashi yang berada di sampingnya, menarik bibir. Tersenyum licik.
"Hee~ benarkah? padahal katanya mereka sangat cantik dan tampan. banyak yang mengagumi pesona mereka. Tapi malah seperti itu."
"Kau tau, yang lebih menarik? katanya si Adik sekolah disini dengan nama dan marga baru."
"Wah aku jadi penasaran! Apa benar dia secantik itu?"
"Tentu saja. Dan-dan berita yang paling di tunggu-tunggu adalah. Si kakak, Mayuzumi Chihiro akan pindah ke sini besok. Bersekolah di Teiko. Kyaa~ aku jadi tidak sabar!!"
Mereka masuk ke ruang OSIS. Beberapa gadis yang bergosip tadi mendadak diam. Dan berpura-pura mengerjakan sesuatu.
Akashi berdehem dan menatap mereka penuh wibawa.
"Ah kalian boleh keluar."
Mereka semua mengangguk dan berjalan keluar. berpamitan. meninggalkan (Name) bersama Akashi. (Name) duduk menggantikan pekerjaan mereka.
"Itu kau kan Mayuzumi (Name)-san."
(Name) menarik senyum simpul. Dia tidak heran dari mana Akashi mengetahuinya.
"Aku tak pernah meragukan informasimu Akashi-kun. Kau memang benar. Itu aku."
TBC
