Disclaimer :

Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling, but all of idea in this fict belong to me J

Pairing :

Draco Malfoy dan Hermione Granger

Genre :

Romance, Hurt/Comfort

Rated : T (teen)

Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts

Warning : Typo(s) maybe, bahasa mungkin berantakan, alur sengaja dilambatin supaya feelnya makin dapet hehe... Agak OOC mungkin dan lain sebagainya...

|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|

.

.

.

My Blood is Ferret

Chapter 2

(Something Different)

Tepuk tangan semakin bertambah riuh ketika nama sang Malfoy muda itu disebut. Berbalik dengan keadaan yang tadi, kini justru suara tepuk tangan dari meja Slytherin lah yang makin meramaikan suasana. Tentu saja mereka senang melihat pangeran asrama mereka menjabat sebagai ketua murid putra. Draco terlihat agak kaget sebelum kemudian kembali menyetel wajahnya dengan ekspresi santai dengan seulas senyum tipis diwajahnya. Yah, kali ini ia tersenyum bukan menyeringai seperti biasanya.

'Apa? Aku tidak salah dengar kan? Oh Merlin benar-benar mimpi buruk.' Hermione membatin—lagi. Untuk pertama kalinya ia merasa ada yang salah terhadap pendengarannya yang menurutnya tajam itu. Tapi kenyataannya, ternyata memang tak ada yang salah.

Disisi lain terdengar suara protesan dari Ron di meja Gryffindor, "Bloody Hell! Demi Godric, Harry! Tidakkah Professor telah salah memilih orang untuk dijadikan ketua murid putra?"

Ginny mendengus mendengar perkataan kakaknya, "Oh Ron, tak bisakah kau menerima keadaan? Aku yakin, para professor sudah memilih dengan benar. Dan lagipula, Malfoy setidaknya sudah berubah kan? Ia tidak seburuk yang dulu lagi, Ron."

"Tapi Ginny, tetap saja kan dia itu seorang Malfoy! Dan yang lebih membuatku tidak nyaman, dia itu Slytherin, ingat?" Ucap Ron dengan nada penekanan di kata 'Malfoy' dan 'Slytherin'. Ginny hanya memutar bola matanya bosan mendengar celotehan kakak termudanya itu. "Tak bisa kubayangkan betapa menderitanya Hermione nanti bila harus seasrama dengannya. Kenapa mereka tidak memilih kau saja, Harry?" lanjut Ron lagi. Kali ini ia beralih memandang Harry yang duduk dihadapannya.

"Tentu saja kau tidak lupa bahwa aku sudah jadi prefek dan kapten quidditch Gryffindor tahun ini kan, Ron?" Harry juga mulai angkat bicara mendengar namanya disebut-sebut. Sementara Ron masih terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ginny hanya bisa memandangnya sebal. Tak lama kemudian ia kembali memandang Harry dengan raut wajah yang lebih menampakkan kecurigaan yang begitu antusias. Ia mulai menjulurkan lehernya ke arah Harry.

"Harry," bisiknya. "Aku baru ingat. Bukankah hari ini hari pertama kita di Hogwarts? Lalu kenapa Hermione bilang bahwa tadi dia melamun karena memikirkan essay transfigurasinya? Demi Merlin Harry, aku baru sadar! Mana mungkin ada tugas di hari pertama bersekolah, bahkan kita belum belajar! Mungkinkah Hermione sudah tahu kabar ini sebelumnya sehingga ia melamun sepanjang hari ini?" Harry mengernyit sedikit mendengar perkataan Ron. Yah, kenapa mereka baru meyadarinya? Bukankah hari ini merupakan hari pertama mereka di Hogwarts? Lelucon kalau Hermione sudah lebih dulu mendapatkan tugas transfigurasi bahkan sebelum kelas transfigurasi dimulai. Harry baru akan membuka mulutnya menanggapi ketika ia mendengar suara Prof. McGonagall yang kembali mempersilakan Draco dan Hermione untuk naik ke atas podium—yang nampaknya memang baru disihir hari ini untuk persiapan penyambutan ketua murid yang baru.

Dan kini sepasang ketua murid –yang baru saja terpilih- itu sudah berdiri diatas podium. Mereka berjabat tangan dengan semua professor yang ada di aula besar saat itu diiringi ucapan-ucapan selamat yang tak henti-hentinya mengalir. Dan sebelum mereka menuruni podium, Draco membisikkan sesuatu kepada Hermione —tepat ditelinga sebelah kanannya— "Mohon kerjasamanya Miss," kata Draco pelan dengan nada yang sengaja dilembut-lembutkan, lengkap dengan seringaian khas Malfoy yang bertengger diwajah pucatnya itu. Hermione sempat bergidik karena hembusan napas Draco yang begitu dekat darinya. Ia jadi sedikit salah tingkah sebelum ia tersadar kemudian menoleh ke arah partnernya seraya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.

Suasana di aula besar bertambah riuh ketika Prof. McGonagall mulai mempersilakan para murid untuk memulai jamuan makan malam. Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring terdengar menggaung di sepanjang aula besar. Semua nampak menikmati, terlebih lagi mereka yang baru saja kembali ke Hogwarts selepas perang besar yang menguras tenaga dan energi serta meninggalkan kenangan kelam itu.

"Hey mate! Selamat yah! Sepertinya aku akan merindukanmu nantinya mate!" Kata Blaise kepada Draco disela-sela makannya dengan wajah sedih berlebihan yang dibuat-buat. Draco yang mendengarnya, selama beberapa detik menghentikan kegiatan makannya kemudian mengernyitkan dahi ke arah sahabat disampingnya itu.

"Memangnya aku akan pergi kemana? Aku masih di Hogwarts, Blaise," tanya Draco bingung, kemudian kembali meyuap puding coklatnya –makanan penutup— kedalam mulutnya.

"Oh ayolah Draco. Kau tidak mungkin tidak tahu apa maksudku kan?" Draco menggeleng dengan masih kernyitan di dahi. Blaise yang melihat ekspresi Draco hanya mendengus kesal.

"Oh baiklah Mister Malfoy yang terhormat—sambil memutar bola mata—, tampaknya perang besar memang telah membuat otakmu menjadi error! Maksudku selama setahun kedepan ini kau menjabat sebagai ketua murid, dan itu artinya kau harus pindah asrama Draco. Tidak di asrama Slytherin lagi! Kau tentu akan tinggal di asrama ketua murid bersama si Granger itu," jelas Blaise Zabini panjang lebar.

Deg! Draco yang baru menyadari hal itu langsung membelalakkan matanya kaget. Ia baru sadar sekarang, ternyata menjabat sebagai ketua murid tidak hanya menuntutnya untuk bekerjasama dengan Hermione, tapi juga harus berbagi asrama dengan gadis itu. Bayangkan, berdua! Oh demi Merlin Draco! Memang setelah perang berakhir, kini status darah sudah dihapuskan. Pureblood, Halfblood, maupun Mudblood sudah tidak terlalu penting lagi untuk sekedar menjadi permasalahan, apalagi menjadi penghambat persatuan-perdamaian antar asrama yang sudah lama dicita-citakan Dumbledore dulu. Tapi tetap saja Draco tak terlalu yakin untuk bisa satu asrama dengan Hermione. Masalahnya, ia masih merasa bersalah karena awalnya telah menjadi pengikut Pangeran Kegelapan dan menyerang Orde—meskipun pada akhirnya ia dan keluarganya ternyata membelot membela dan berjuang untuk Orde mengalahkan Voldemort.

"Mister Malfoy, mulai malam ini kau sudah bisa menempati asrama ketua murid. Jadi kuharap selepas dari sini, kau segera mengemasi barang-barangmu untuk dipindahkan kesana. Aku juga sudah memberitahukan hal ini kepada Miss Granger sebelumnya. Jadi sekali lagi kumohon kerjasamanya. Baiklah kurasa hanya itu, selamat malam Mister Malfoy dan Mister Zabini"—matanya mengarah ke arah Blaise untuk sesaat dengan senyum tipis diwajahnya— kata Prof. Mcgonagall sebelum ia melenggang pergi meninggalkan aula besar. Dan suara Prof. McGonagall itu sontak membuyarkan lamunan Draco barusan.

"Baik Professor," balas Draco buru-buru—yang jelas sudah terlambat sekali.

Draco yang baru sadar, kini mulai mencerna dengan baik setiap perkataan yang keluar dari mulut Prof. McGonagall. Ia hanya bisa memandang punggung kepala sekolahnya itu menjauh dari pandangannya dengan berbagai pikiran cemas memenuhi kepala pirangnya.

-OoOoO-

"Katak Jelek!" Dan lukisan pun mengayun terbuka, "Huhhh..Berat sekali sih!" Hermione menggerutu tak jelas sambil terus menyeret koper-kopernya –meskipun terlihat tidak begitu bergerak dari tempatnya semula— berusaha menaiki tangga menuju ruang rekreasi asrama ketua murid—menuju kamar barunya.

"Perlu bantuan eh, Granger?"

Sebuah suara tiba-tiba saja menginterupsi kegiatan—seret-menyeretnya itu. Hermione lantas terkejut dan segera mendongakkan kepalanya ke arah sumber suara. Ternyata penghuni yang lain sudah lebih dulu mendahuluinya diasrama barunya itu. Didapatinya seorang pria berambut pirang platina kini tengah berdiri menatapnya dengan pandangan menyebalkan –setidaknya itu menurut Hermione—. Tangannya dimasukkan kedalam saku celana, sementara wajahnya sibuk menampilkan seringaian yang seperti biasa. 'Uh menyebalkan!' Pikir Hermione dalam hati.

"Aku tak perlu bantuanmu, Malfoy!" Hermione berkata tajam. Yah, memang bukan Hermione Granger namanya kalau tidak bersikap keras kepala dan gengsi berlebihan seperti ini. Bahkan disaat keadaan genting begini, sebenarnya ia sangat butuh bantuan. Tapi apa mau dikata, dia gadis yang keras kepala dan harga dirinya jauh lebih tinggi hanya untuk sekedar menerima bantuan dari orang yang sudah menjadi musuh bebuyutannya selama kurang lebih enam tahun ini. 'No Hell, Hermione!' Batinnya lagi.

"Ya sudah," kata pemuda itu lagi cuek, yang kita ketahui bernama Draco Malfoy—sambil mengangkat bahunya, lalu berjalan meninggalkan Hermione sendirian dengan koper-koper super beratnya itu.

'Uh dasar Malfoy tidak peka! Kalau dia memang laki-laki, seharusnya dia kan langsung saja membantuku mengangkat koper-koper berat ini tanpa bertanya lagi! Huh, menyebalkan!' Gerutu Hermione dalam hati. Ia kan memang hanya gengsi untuk merima bantuan seorang Draco Malfoy, tapi sudahlah semuanya sudah lewat. Dan kini ia kembali berkutat—menyeret koper-koper super beratnya dengan susah payah. Seandainya saja ia tak menyimpan tongkat sihirnya dibagian terdalam kopernya dan malah menyimpannya didalam saku jubahnya, tentu saja dengan mudah ia sudah melayangkan koper-kopernya dengan segera ke kamar barunya dengan hanya sekali ayunan tongkat dan ucapan mantra. Memang kadang-kadang kepintarannya tak bisa diajak bekerja sama—yah seperti sekarang ini.

Sementara di sudut ruangan, nampak makhluk pirang berwajah pucat tampan tengah asyik duduk di sofa yang menghadap perapian—membaca buku lebih tepatnya. Namun tiba-tiba konsentrasinya dibuyarkan dengan suara pekikan (lebih mirip jeritan sebenarnya) seseorang—seorang wanita.

'Granger?' batin pemuda itu. Yah siapa lagi kalau bukan sang ketua murid perempuan keras kepala—Hermione Granger. Toh, hanya mereka berdua yang berada dalam ruangan tersebut sekarang. Dengan sigap ia berdiri dari duduk nyamannya dan segera bergegas ke arah sumber suara.

Disisi lain, kini terlihat Hermione yang sudah pasrah dengan nasibnya—ditimpa dengan beberapa koper berat miliknya sendiri. Sungguh naas nasib putri Gryffindor kita yang satu ini—hanya karena tersandung karpet. Namun...

Satu detik ...

Tiga detik ...

Lima detik ...

Tujuh detik ...

Mata gadis itu masih terpejam, menyembunyikan manik hazelnut indah dibalik kelopaknya. Sebenarnya ia sedang menunggu tubuhnya menghantam keras lantai asrama. Namun ... Sepertinya ada yang aneh. Bayangkan, dia sudah tujuh detik dalam posisi ini –tentu saja seorang Hermione Granger tak akan pernah salah menghitung- tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa tulang punggungnya kini mengalami keretakan.

'Apa lantai asrama ketua murid memang lembut dan hangat seperti ini? Wah, kalau begitu ini benar-benar keberuntungan!' batinnya kegirangan. Merasa dirinya sudah aman, kini ia mencoba membuka kelopak matanya perlahan. Yang pertama kali ia lihat adalah warna kelabu dan pirang platina. Dengan segera sarafnya mulai berjalan untuk memproses dan mengirim warna-warna yang ia lihat menuju otaknya. Deg! Merlin! Ternyata ...

Untuk beberapa saat pandangan gadis itu disambut dengan tatapan 'memukau' dari manik abu-abu dihadapannya. Manik tajam namun hangat—tak nampak lagi tatapan dingin seperti dulu. Diam-diam Hermione membenarkan hal itu dalam hati sebelum ia sadar atas apa yang tengah terjadi sekarang. Gadis itu –Hermione Jean Granger— berada dalam posisi setengah berbaring dalam dekapan hangat sang Pangeran Slytherin kita –Draco Lucius Malfoy—.

Manik biru kelabu dingin bertemu dengan manik coklat madu hangat, saling beradu pandang meskipun dalam diri masing-masing mengatakan bahwa hal itu seharusnya tak terjadi. Namun apa boleh buat, otak mereka sama-sama tak bisa bekerja dengan baik saat ini. Cukup lama bertahan dengan posisi seperti itu. Hingga beberapa menit telah berlalu dengan begitu indahnya sebelum salah satu dari mereka kembali tersadar dari arah gravitasi yang seperti mempermainkan mereka.

"Sampai kapan kau mau berada dalam posisi seperti ini eh, Granger?" Blush! Bagai tersiram air dingin dengan perkataan Draco barusan yang sontak membuat Hermione kembali tertarik ke permukaan nyata, mengingat dirinya masih dalam keadaan setengah berbaring dalam dekapan Sang Malfoy Muda. Dengan cepat-cepat gadis itu menarik dirinya—berdiri sempurna dengan wajah yang dihiasi semburat merah dibagian pipi kiri dan kanannya.

"Ma..malfoy..a..ak..aku..." Hermione tak sanggup melanjutkan kalimatnya saking gugupnya ia sekarang. 'Ada apa denganmu Hemione? Sejak kapan kau tertular gugup seperti Neville?' Rutuknya dalam hati. Sementara Draco yang masih setia berdiri didepannya hanya menaikkan sebelah alisnya pertanda ia sedang menunggu kelanjutan kalimat dari gadis dihadapannya itu. Hermione berusaha mengumpulkan kembali ke-Gryffindorannya—keberaniannya untuk melanjutkan kata-katanya.

"Te..Terima kasih Mal..Malfoy," akhirnya kalimat itu berhasil ia keluarkan. Ia bisa merasakan bahwa wajahnya seketika itu memanas. Bahkan ia berani bersumpah, pasti sekarang wajahnya tengah memerah tingkat akut—mungkin saja telah mengalahkan warna merah rambut para Weasley yang terkenal sangat merah itu.

Tawa Draco nyaris meledak di udara melihat tingkah Hermione itu. Tapi berusaha sekuat tenaga ia tahan. Tentu saja melihat wajah Putri Gryffindor yang sekarang ini merupakan hal langka bagi seorang Pangeran Slytherin tampan itu, apalagi ini semua disebabkan karena dirinya. Tapi buru-buru ia menyetel wajah datarnya kembali dan mulai membuka suaranya.

"Tak apa, Granger," sahutnya pelan.

"Mmh..ku..kurasa sudah malam Malfoy. Se..sebaiknya aku ke kamar sekarang. Oh yeah, besok adalah hari pertama kita bertugas sebagai ketua murid jadi kurasa aku akan beristirahat lebih cepat untuk malam ini," Hermione berkata panjang lebar berusaha menutupi sisa-sisa kegugupannya. "Dan kurasa kau juga sebaiknya beristirahat, itu baik untuk kesehatanmu," lanjutnya kemudian. Entah kenapa kalimat itu yang meluncur begitu saja dari bibirnya. 'Bodoh! Bodoh!' Ia tak henti-hentinya menyumpahi dirinya sendiri setelah mengucapkan kalimat tersebut.

Draco hanya mengangkat sebelah alisnya—lagi. "Mmmh, kau benar Granger. Selamat malam, dan..." Draco menggantung kalimatnya sesaat sebelum melanjutkan. "Semoga mimpi indah," ia berkata pelan nyaris berbisik. Namun Hermione masih bisa mendengarkan perkataan Draco itu. Berterimakasihlah kepada pangeran botak—Voldemort, Hermione. Karenanya, kau memiliki telinga tajam berkat selalu dikejar-kejar dengan kematian yang siap mengintaimu bersama kedua sahabatmu—Harry dan Ron.

Hermione hanya tersenyum masam, ia merasa asing dengan perkataan halus Draco barusan yang ditujukan padanya. Jujur, ia menjadi salah tingkah sekarang. Tak ingin berlama-lama dengan keadaan dimana dirinya merasa terpojokkan, Hermione segera melangkahkan kakinya, melenggang pergi menaiki anak tangga yang merupakan penghubung antara ruang rekreasi ketua murid dan kamar ketua murid yang saling berdampingan setelah melemparkan anggukan kecil pada Draco.

Sementara itu Draco masih terdiam tenang di ruang rekreasi asrama ketua murid menatapi punggung partnernya berlalu dan menghilang di belokan tangga.

"Tak pernah kusangka bisa sedekat ini dengannya. Benar-benar sesuatu yang berbeda," gumamnya pelan pada dirinya sendiri. Tanpa sadar, kedua ujung bibirnya saling tertarik membentuk kurva senyuman —bukan seringaian menyebalkan seperti biasa— indah menawan yang pasti mampu membuat jeritan-jeritan histeris gadis-gadis Hogwarts yang melihatnya.

-To Be Continued-

-OoOoO-

Author's note :

Sebelumnya saya minta maaf nih readers kalau fic saya ini masih jelek dan berantakan banget. Maklum saya masih baru dalam dunia per-fanfict-an hehe (meski saya hobi nulis udah lama sih xD *curcol). Jadi tolong yah berikan saran-saran, pendapat-pendapat ataupun komentar-komentar kalian tentang fict ini agar bisa lebih baik lagi ke depannya. Karena jujur, saya udah punya arsip plot cerita ini loh sebenernya hehe... Oh iya terimakasih banyak bagi yang sudah sudi membaca dan mereview cerita ini :D

Well, dibawah ini adalah balasan reviewnya :

Ochan Malfoy : Salam kenal juga Ochan :) Makasih yah sudah mereview. Gak tahu nih inspirasi dari frase 'banci-banci frustasi' darimana. Tahu-tahu aja langsung kepikiran hehe. Tapi sykurlah kalau Ochan bisa ketawa nge-bacanya :) ... Ikutin aja lanjutannya biar bisa tahu gimana reaksi Draco dan Hermione. Ini chapter 2 juga udah update... Review lagi yah :) *plakk ...

Christabellicious : Makasih Christa sudah mau review fic ini ... Makasih juga atas saran-saran dan pendapatnya :) Maaf yah, saya emang kadang suka gabungin bahasa formal dan informal dalam suatu cerita, jadi yah gitu deh hehe... Reviewnya lagi boleh? :)

hikari re chen : Ini chapter 2 nya sudah di update. Semoga kamu suka yah :) Terimakasih sudah mereviw. Review lagi dong hehe xD

Melia Tsuzumi Taoru : Makasih yah sudah difollow ceritanya :)

Makasih banyak yang sudah sudi membaca fic saya ini. Baik yang udah review, maupun yang cuma jadi Silent Reader. Tapi apa salahnya kan meninggalkan jejak review? :) Beneran deh, review dari kalian sangat berharga bagi author. Apalagi untuk author baru seperti saya ini. Saya butuh saran dan pendapat dari kalian biar saya tambah semangat ngelanjutinnya hehe. Review kalian sangat mempengaruhi kelanjutan fic ini loh. Dan oh ya, sekedar inifo. Sebenarnya chapter 3 juga udah selesai :) Jadi mohon reviewnya yah supaya bisa cepet update :)

Salam hangat,

Miss Lovegood