Disclaimer :
Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling, but all of idea in this fict belong to me
Pairing :
Draco Malfoy dan Hermione Granger
Genre :
Romance, Hurt/Comfort
Rated : T (teen)
|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|
.
.
.
Chapter 3
(Still Mr. Annoying)
Pagi ini suasana di aula besar terlihat ramai seperti biasanya. Tentu saja, karena para siswa-siswi tengah menikmati sarapan perdana mereka di Hogwarts—setelah peristiwa perang besar tentunya dengan 'Kau-Tahu-Siapa-yang namanya kini boleh disebut', si pangeran pesek, eh maksudnya Voldemort—
"Mione, bagaimana hari pertamamu dengan si Malfoy?" Celetuk Ginny tiba-tiba.
Hermione sedikit tersedak kentang tumbuk yang masih berada didalam mulutnya, buru-buru ia meraih pialanya, dan meneguk habis jus labu didalamnya. Ketiga sahabatnya—Harry, Ron, plus Ginny—menatapnya heran.
"Err, kau baik-baik saja 'Mione?" Tanya Harry cemas, tak bisa menyembunyikan rasa khawatir di dalam nadanya.
"Apa si Malfoy keparat itu menyakitimu? Huh, lihat saja. Aku akan memberi pelajaran dengannya. Tunggu disini," kata Ron seraya berdiri hendak menghampiri meja Slytherin. Tapi dengan tiba-tiba tangannya dicegat dengan sigap oleh Hermione. Hermione hanya menatapnya tajam, dan mendengus pelan. Ia tak percaya bahwa bisa-bisanya ia mempunyai seorang sahabat –katakanlah mantan kekasih— yang se-tempramen Ron, gampang sekali membuatnya naik darah dan emosi. Bahkan sebelum dipancing pun, ia sudah keburu terpancing duluan. 'Dasar Ron!' Gerutu Hermione dalam hati.
"Maaf," kata Ron tersadar dengan tatapan Hermione itu, lalu ia kembali duduk.
Hermione menghela napas pelan sebelum mulai berkata, "Dengarkan aku, Malfoy sama sekali tidak menyakitiku. Justru tadi malam ia menawarkan bantuan untuk membawakan koperku, yah tapi tentu saja kutolak. Memang sulit dipercaya ini ku katakan, tapi kurasa bekerjasama dengannya selama setahun kedepan tidak begitu buruk," jelas Hermione santai sembari kembali meneguk jus labu dalam piala keduanya, sama sekali tidak berbohong dengan apa yang dikatakannya barusan.
Ketiga sahabatnya sontak memasang wajah terkejut. Harry membelalakkan matanya, Ginny sedikit menganga dengan ekspresi yang sulit diartikan. Sementara Ron? Huh, jangan tanyakan bagimana ekspresi dari makhluk yang satu ini. Ia melotot kaget, bisa dibilang bola matanya hampir saja melompat keluar dari tempatnya, dan makanan yang ada dimulutnya? Terjatuh begitu saja karena mulutnya yang menganga lebar—sangat berlebihan, tapi hey! Itu fakta!
Hermione balik memandangi sahabat-sahabatnya dengan tampang yang tak kalah herannya.
"Hey kalian kenapa?" Kata Hermione bingung sambil terus menatapi ketiga sahabatnya secara bergantian, dan tiba-tiba tatapannya terhenti, tepat disalah satu makhluk aneh—setidaknya begitulah pikiran Hermione 'untuk saat ini'.
"Ronald Weasley, tak bisakah kau berhenti menganga dengan mulut penuh makanan seperti itu? Kau tahu, itu terlihat menjijikan," kata Hermione dengan tatapan malas sembari mengernyit jijik. Serempak Harry dan Ginny juga mengikuti arah pandang Hermione, mendapati Ron yang buru-buru mengatupkan mulutnya, mungkin sedikit malu karena teguran Hermione. Tunggu dulu, malu? Oh, Ronald Weasley juga masih mempunyai rasa malu ternyata, kukira tidak.
"Kau membuatku mual, Ron," timpal Ginny seraya mendelik ke arah kakak termudanya itu sebelum kembali menyuapkan sesendok sup kacang kedalam mulutnya. Harry yang mendengarnya berusaha keras untuk tidak tertawa meskipun ia sangat ingin melakukannya.
"Mmhh, maafkan aku," Ron menggaruk-garuk pipinya pelan—salah tingkah.
"Kurasa, itu pertanda baik 'Mione," Harry yang sudah bisa mengontrol dirinya mulai berasumsi, mengubaha arah pembicaraan sebelumnya. Hermione hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah, kelihatannya ia baru saja teringat akan sesuatu.
"Hey, bukankah sebentar lagi pelajaran transfigurasi kemudian dilanjut herbology? Aku tidak mau terlambat untuk hari pertamaku di tahun terakhir ini. Apa kalian tidak mau ikut denganku sekarang?" Hermione menatap ketiga sahabatnya lekat-lekat, menunggu jawaban dari pertanyaannya—lebih tepatnya ajakannya—. Serempak Harry, Ginny, dan Ron mengangguk mantap dan ikut berdiri meninggalkan aula besar menuju ruang kelas Transfigurasi.
Setelah pelajaran transfigurasi usai, mereka segera menuju ke kelas berikutnya, kelas herbology yang tentu saja berlangsung di rumah kaca. Hermione tersenyum senang. Langkahnya terasa ringan.
Sementara itu di perjalanan menuju kelas herbology, —rumah kaca— Harry tak henti-hentinya tersenyum. Tentu saja ini karana Ginny. Yah, karena Ginny. Dan sekali lagi, karena Ginny. Akibat perang besar Hogwarts setahun lalu, maka jadilah mereka –Harry, Hermione, Ron- seangkatan dengan Ginny yang notabene lebih muda setahun dari mereka. Maksudku paling tidak setahun 'lebih sedikit' tentunya untuk Hermione, mengingat Hermione yang memasuki Hogwarts sudah hampir berusia dua belas tahun. Dan kebetulan, hampir semua pelajaran yang diambil Harry tahun ini sama dengan pelajaran yang juga diambil Ginny. Entah faktor kesengajaan atau memang hanya kebetulan, sudahlah tak usah dipikirkan.
-OoOoO-
"Mione, kau mau kemana?" Tanya Ginny penasaran setelah melihat Hermione keluar terburu-buru dari rumah kaca, tepat ketika pelajaran Herbology usai. Hermione sontak berhenti melangkah dan kemudian membalikkan badannya.
"Aku mau ke perpustakaan dulu Gin. Mmh, aku baru ingat kalau aku masih belum menyelesaikan essay transfigurasiku," jelas Hermione.
"Maksudmu essay transfigurasi yang baru akan dikumpul dua minggu lagi?" Hermione hanya mengangguk dan tersenyum. "Oh Merlin!" lanjut Ginny lagi sambil membulatkan matanya dan menepuk jidatnya untuk sesaat. Bagaimana tidak, baru hari itu juga mereka mendapatkan tugas transfigurasi dan baru akan dikumpulkan dua minggu ke depan. Tapi Hermione dengan begitu rajinnya sudah ingin mengerjakannya sekarang? Ckc, dasar Hermione ...
Hermione lagi-lagi tersenyum dengan tanggapan serta ekspresi yang diberikan sahabatnya itu kepadanya, "Ya sudah Gin, aku pergi dulu. Salam untuk Harry dan Ron. Sampai jumpa nanti," Hermione berkata sambil berlalu.
Setelah beberapa lama, akhirnya Hermione sampai juga di perpustakaan. Ia segera masuk dan mencari tempat yang paling pojok untuk duduk –maklum, ia sangat suka keheningan jika itu sudah menyangkut soal buku, tugas, membaca, dan segala macamnya—. Tempat itu selalu menjadi tempat favorit baginya, apalagi untuk mengerjakan tugas dari para professor yang membutuhkan konsentrasi tinggi agar hasilnya sempurna. Sangat tipikal Hermione. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat seseorang telah duduk dengan nyaman disana. Sepintas ia melihat rambut pirang menyembul dari balik buku yang dibaca orang itu. Hey, tunggu dulu! Pirang? Hanya ada satu orang kan di Hogwarts yang memiliki warna rambut pirang platinum seperti itu? Oh tidak itu artinya—
"Apa yang kau lakukan disini, Granger? Mengamatiku, eh?" Belum sempat Hermione melanjutkan asumsinya, pikirannya sudah dibuyarkan oleh sebuah suara. Suara menyebalkan yang teramat sangat dikenalinya. Yah siapa lagi kalau bukan Draco Malfoy yang kini sudah menurunkan bukunya setengah dari wajahnya agar bisa melihat dengan jelas gadis yang ada dihadapannya sekarang. Terang saja, sejak tadi ia merasa tengah dipandangi hingga akhirnya ia buka suara. 'Oh Merlin, dia tetap masih menyebalkan! Aku jadi benci jika harus mengakui bahwa aku sempat berpikir menyukainya! Tidak akan!' Inner Hermione.
"Jangan terlalu percaya diri, Malfoy," kata Hermione malas namun tetap dengan nada tajam berbahaya. "Dan satu lagi, aku sama sekali tidak sedang mengamatimu!" 'Dasar Malfoy, meskipun sudah 'agak' bersikap baik tapi tetap saja menyebalkan! Hey aku sudah mengatakannya dua kali bukan?' Batin Hermione kesal.
"Oh yah? Lalu apa namanya kalau bukan mengamati? Jelas-jelas aku mendapatimu tengah menatapku lekat-lekat. Oh aku tahu, kau tidak sedang mengamatiku tapi memperhatikanku kan?" Goda Draco sebelum kemudian bibirnya tertarik kesamping, membentuk seringaian seperti biasa—khas Malfoy sekali. "Mengakulah Granger," lanjutnya lagi. Kini ia menutup bukunya dan mulai berjalan santai ke arah Hermione yang masih tidak bergerak dari posisinya sambil memasukkan tangannya ke saku celana.
"You wish Malfoy!" Bentak Hermione sambil menggertakkan giginya penuh emosi ketika jaraknya dengan Draco sudah tinggal semeter lagi. Ini bukanlah pertanda baik jika melihat Hermione Granger sudah seperti ini, siapapun tahu itu.
"Dasar berang-berang!" Ejek Draco kemudian.
"Lalu kau apa, huh? Dasar Ferret!" Hermione berkata sambil memutar bola matanya.
"Beaver!"
"Musang!"
"Sok tahu!"
"Sok tampan!"
"Aku memang tampan kan? Dasar jelek!"
"Bau!" Sengit Hermione tak mau kalah. Untuk sesaat mata Draco membulat dengan sempurna. Baru kali ini ada seorang gadis yang dengan berani-beraninya mengatai dirinya bau. Oh tentu saja seorang Malfoy selalu wangi. Ia merasa harga dirinya kini jatuh merosot dengan sangat tak elitnya.
"Kauu...berani-beraninya!" Draco menggeram tak tahan dikatai seperti itu. Telunjuknya mengacung ke arah Hermione. Jika saja tatapan bisa membunuh seseorang, pastilah Hermione kini sudah tumbang tak berdaya karena tatapan tajam yang dialamatkan Draco kepadanya.
"Yah aku memang berani! Kau baru tahu hah? Lalu apa maumu?" Tantang Hermione sambil berkacak pinggang. Untuk sesaat, ia benar-benar telah melupakan tujuan awalnya datang ke perpustakaan—mengerjakan essay transfigurasinya.
"Kau benar-benar menjengkelkan!"
"Kau pikir kau tidak huh? Kau sungguh menyebalkan!" 'Sangat teramat-amat menyebalkan dan menjengkelkan,' timpal Hermione dalam hati.
"Dasar rambut semak!" Hermione mendelik mendengarnya. Ia memang agak sensitive jika sudah disangkutpautkan dengan masalah rambutnya yang –well, memang megar seperti semak-semak, apalagi ketika tertiup angin.
"Dasar vampir!" Kali ini giliran Draco yang mendelik.
"Gigi maju!"
"Gigiku tidak maju idiot! Dasar mayat hidup pirang!" Bentak Hermione lagi yang suaranya sudah naik sekitar satu oktaf.
"Oh yah? Dasar semak keriting!" Balas Draco pedas.
"Dasar alb—
"Ssssssssstttt! Jaga suara kalian kalau tidak mau kuusir dari sini" Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari ujung ruangan yang setengah berteriak kesal. Madam Pince kini terlihat mendumel sendiri sambil kembali melanjutkan aktivitasnya—menyortir buku-buku perpustakaan. Akan tetapi telinga Hermione yang peka masih dapat sedikit menangkap kalau Madam Pince tadinya sempat menggumamkan beberapa kata seperti 'Dasar anak muda. Remaja labil' dan entah apalah itu.
"Minggir berang-berang, aku mau lewat. Kau sudah mengacaukan mood membacaku," kata Draco setengah berbisik tepat ditelinga kiri Hermione, kemudian berlalu pergi meninggalkan perpustakaan –dan Hermione, tentunya yang masih berdiri terpaku ditempatnya—.
"Awass kau Malfoy! Tunggu pembalasanku!" Hermione mendesis kesal. Dan tak lama kemudian, tanpa sadar ia menyunggingkan seringaian mautnya, yang bahkan hampir sama dengan seringai milik Malfoy. Ternyata gadis manis Gryffindor pun bisa terlihat semengerikan ini jika sedang kesal. Yah maka dari itu berhati-hatilah dengan singa.
-OoOoO-
Hari ini sangat melelahkan. Setidaknya itulah yang tengah dirasakan oleh ketua murid putra tersayang kita yang satu ini, Draco Malfoy. Kini ia terduduk bersandar di sofa panjang berwarna merah maroon yang menghadap perapian dengan api menyala kecil sambil memejamkan matanya, menepis rasa lelah yang menderanya. Berlatih quidditch memang sangat menguras tenaga. Tentu saja posisinya sebagai seorang seeker sekaligus kapten quidditch Slytherin, ditambah lagi dengan jabatannya sebagai ketua murid yang memiliki banyak tugas disana-sini membuatnya sangat sibuk akhir-akhir ini—padahal ini baru awal tahun ajaran baru. Sekarang ia jadi sulit mengatur waktu istirahatnya. Apalagi mengingat pertandingan quidditch antara Slytherin dan Gryffindor yang akan berlangsung tiga hari lagi. Hal inilah yang membuatnya belakangan ini sangat gencar berlatih bersama tim quidditchnya. Mendengar pintu kamar mandi yang menjeblak terbuka, ia segera membuka matanya kemudian bersiap-siap untuk segera meluncur kesana. Saat ini berendam air hangat dengan aroma susu merupakan hal yang paling indah dalam bayangan Draco. Sebenarnya dari tadi ia sudah sangat ingin berendam, tapi mendengar gemericik air dari dalam sana membuatnya mengurungkan niat untuk sementara. Ia tahu kalau partner ketua muridnya pasti sudah memakai kamar mandi duluan sehingga ia akhirnya harus mengalah sebelum memilih sofa sebagai tempat menunggunya. Ia terlalu lelah untuk memprotes Hermione yang sudah terlalu lama di kamar mandi.
"Malfoy, kau nampaknya sangat lelah," kata Hermione sehabis keluar dari kamar mandi lengkap dengan gaun tidur merah emasnya—khas Gryffindor sekali. Draco hanya menaikkan sebelah alisnya heran—sejujurnya ia agak terkejut dengan kehadiran partnernya yang ia tidak sadari itu. Sementara Hermione masih terus tersenyum manis dihadapannya. "Aku sudah menyiapkan air hangat beraroma susu kesukaanmu di bathtub," lanjut Hermione lagi setelah perkataannya yang pertama tak digubris sama sekali oleh sang Malfoy junior. Maklum saja, Draco sudah sangat kelelahan. Bahkan hanya untuk sekedar menanggapi perkataan Hermione pun rasanya ia sudah tak sanggup lagi. Ia masih tetap pada posisinya, melihat aneh ke arah Hermione. Akan tetapi sejurus kemudian sarafnya sudah menuntun tubuhnya untuk segera masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan Hermione yang masih senyam-senyum tak jelas seperti orang gila. 'Dasar gadis keriting aneh,' pikir Draco sambil lalu. Setelah menutup pintu, ia agak sedikit terkejut mendapati bathtub yang memang sudah terisi penuh—dengan aroma susu yang menguar ke seluruh penjuru ruang kamar mandi ketua murid yang super luas itu. "Ternyata benar. Tapi hebat juga dia bisa tahu kesukaanku," gumamnya pelan. Dan tanpa rasa curiga sedikitpun ia mulai berendam.
'Satu...' Hermione mulai menghitung dalam hati.
'Dua...'
'Tiiiii—
"Arrrrrggggggggggghhhh!" Binggo! Suara dari kamar mandi! Tepat seperti dugaannya, Hermione tersenyum penuh kemenangan.
"GRANGEEEEEEEEEERRRRR!"
-To Be Continued-
-OoOoO-
A/N :
Hmmm... chapter 3 update juga nih Tapi maaf kalau chapter ini gak memuaskan... Tapi moga masih ada yang nungguin dan mau review lagi yah hehe... Tapi saya minta maaf banget kalau masih ada kesalahan disana-sininya, maklum pemula xD ... Oh iya maksih banget buat temen2 yang udah nyempatin waktunya buat review fict saya ini di chapter 2 ... Ini balasannya yah :
BlueDiamond13 :
Makasih reviewnya... Iya maaf yah kalau ada yang kurang rapi, soalnya gak di edit dulu sih hehe... Semoga masih mau ngereview *plakk ...
Chalttelmore3-23 :
Hy juga Chaltter ... Hehe syukurlah kalau fict saya ini bisa buat kamu ketawa2 sendiri xD .. Makasih yah atas saran-saran dan pendapatnya. Ini udah di update chapter 3 nya ... Moga kamu suka ...
Melia Tsuzumi Taoru :
Makasih pendapatnya dan makasih juga udah nyempetin review ... Haha awalnya sih saya juga agak aneh kalau Hermione gagap gitu, tapi yah namanya juga lagi deg-degan jadi apa aja bisa terjadi xD ... Ini chapter 3 udah update... Moga suka yah (y) ...
Ochan Malfoy :
Makasih Ochan mau review lagi ... Bagus deh kalau Ochan suka hehe ... Chap 3 belum udahan kok. Mungkin ini selesainya di chapter belasan nantinya ... Maksud aku tuh pas di chapter 2 kemarin pas aku update, sebenarnya chapter 3 juga udah selesai diketik waktu itu ... Gitu ... Ini chapter 3 udah update ... Moga Ochan suka yah ... Review lagi? xD
Shizyldrew :
Makasih yah udah review ... Iya emang konfliknya belum bertebaran(?) soalnya ini kan masih chapter2 awal, lagian saya sengaja mau lambatin alurnya ... Tapi tunggu aja yah lanjutannya.. Moga shizyl mau review lagi hehe ...
amuto :
Iya nih chapter 3 udah update... Makasih yah moga sempet buat review lagi hehe ...
hikari re chen :
Ini chapter 3 udah update ... Tunggu aja yah kalnjutannya Makasih udah review ... Review lagi boleh? XD.
Naomi Averell :
Makasih udah review... Apapun review kamu, itu tetep berharga banget buat author hehe ... Penasaran? Yaudah tungguin aja yah kelanjutannya. Nih udah update chapter 3 nya ... Fict kamu juga bagus kok
senjadistria :
Iya, entah kenapa saya suka aja gitu sama cerita DraMione yang settingnya mereka jadi ketua murid bareng xD ... Amin yah moga gk bosenin, ini chapter 3 udah update... Iya saya usahain buat fict ini semenarik yang sy bisa hehe. Makasih reviewnya... Review lagi? :D
christabellicious :
Bagus deh kalo Christa seneng bacanya hehe .. Bener banget Chris, satu review aja tuh yah bisa bikin kita semangat buat nulis xD ... Fict kamu juga bagus kok. Salam kenal Christa ... Review lagi boleh? xD ...
WhidaNilam :
Makasih reviwnya Whilda ini udah update chapter 3 nya ... Moga suka hehe ...
penelopi :
Sebenarnya sih hermione gak kagum2 gimana sih dan juga belum ada rasa sama Draco. Tapi yang di chapter 1 itu yang Hermione's POV sebenarnya diluar kendalinya Mione sendiri. Dalam artian gara2 Draco udah berjasa banget buat dia, jadinya dia jadi agak aneh gitu dengan cara pandangnya terhadap Draco yang sekarang hehe... Kalau soal feelnya Draco,mmh tunggu aja yah kelanjutannya.. Ini udah update chapter 3... Makasih yah udah review ... Review lagi ? xD ...
Guest :
Wah keren? Makasih reviewnya Ini hapter 3 udah update. Moga sukayah xD…
Makasih buat temen-temen yang udah baca dan review fict saya ini ... Baik yang cuman jadi silent rider, makasih juga... Tapi beneran loh satu aja review dari kalian itu sangat mempengaruhi kelanjutan cerita ini kedepannya So? RnR pleaseee xD ...
Salam manis,
Miss Lovegood.
