Disclaimer :

Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling, but all of idea in this fict belong to me J

Pairing :

Draco Malfoy dan Hermione Granger

Genre :

Romance, Hurt/Comfort

Rated : T (teen)

Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts

Warning : Typo(s) maybe, bahasa mungkin berantakan, alur sengaja dilambatin supaya feelnya makin dapet hehe... Agak OOC mungkin dan lain sebagainya...

|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|

My Blood is Ferret

Chapter 4

(Worried)

Pagi ini Draco sarapan dengan ogah-ogahan. Ia hanya mengaduk-aduk makanannya sambil sesekali menyuapnya masuk kedalam mulutnya dengan malas. Wajahnya nampak menahan sesuatu. Tapi apa?

"Hey, mate! Kau tahu? Daritadi aku perhatikan, kau hanya memainkan makananmu sambil sesekali kau lahap dengan malas, dan kau mainkan lagi lau kau makan dengan malas lagi. Begitu seterusnya, kau mainkan lagi dan—

"Cukup Zabini! Kau berisik sekali! Kau tak mau kan aku membunuhmu saat ini juga karena mulut cerewetmu itu? Kau tahu? Itu makin membuatku badmood saja!" Geram Draco sembari memberikan death glare ke arah Blaise Zabini. Theodore Nott yang meihatnya tak tahan untuk tidak tertawa—meskipun hanya tertawa tertahan. "Berhenti seperti itu Nott!" Lanjut Draco tajam yang memaksa Theo untuk segera menghentikan aktifitasnya itu.

"Hey hey hey! Sebenarnya ada apa denganmu, Draco? Biasanya kau hanya memanggil nama belakang kami jika kau sedang kesal. Apakah itu artinya kau memang sedang kesal?" Theo angkat bicara. Jujur ia sangat bingung dengan tingkah Draco pagi ini. Semenjak kedatangannya ke aula besar, wajahnya terlihat murung dan tidak berselera.

"Hey lihat, si Granger itu sedari tadi melihat kesini terus," bisik Blaise tiba-tiba membuyarkan ketegangan yang terjadi sambil menunjuk-nunjuk pelan ke arah meja Gryffindor—takut ketahuan kalau sedang menunjuk-nunjuk sang Head Girl. Mau tak mau, Draco dan Theo ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Blaise. Dan yah! Benar saja, ternyata Hermione tengah menatap Draco sambil tersenyum-senyum misterius. Hal ini tentu saja makin membuat Draco jadi tidak mood. Ia menatap tajam ke arah Hermione yang masih tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.

"Oh mate, apakah kekesalanmu pagi ini ada hubungannya dengan mud— maksudku si Granger itu?" Ralat Theo cepat-cepat, hampir saja ia keceplosan menyebut Hermione dengan julukan You-Know-What. Ia tidak bisa membayangkan dirinya manghabiskan sisa hidupnya di Azkaban hanya ditemani dengan kecupan-kecupan mengerikan dari dementor-dementor yang haus akan kenangan bahagia orang-orang. Yah memang sejak jatuhnya rezim Voldemort, status darah sudah dihapuskan. Dan sebutan-sebutan seperti 'Darah Lumpur' bisa berakhir mengenaskan di Azkaban. Theo bergidik ngeri membayangkan itu semua.

"Yah bisa kau tebak sendiri, Theo," kata Blaise menggantikan jawaban Draco. Ia melirik sesaat ke arah Draco.

"Hmm, yah kau benar Blaise, kurasa aku sudah tahu jawabannya," jawab Theo sambil mengedikkan bahunya.

"Jangan kalian ungkit-ungkit lagi soal ini. Aku sudah tak mau mengingatnya," gertak Draco pelan namun dalam nada berbahaya yang sukses membuat kedua sahabatnya itu hanya terdiam dan saling pandang—meskipun terlihat sekali mereka sebenarnya sangatlah penasaran—, tak berani berkata apa-apa lagi sebelum kemudian mereka kembali melanjutkan aktifitas makannya yang sempat tertunda.

-OoOoO-

Begitu sampai di depan asrama ketua murid, Draco segera mengucapkan kata sandinya lalu serta merta masuk kedalamnya setelah lukisan ksatria berbaju baja dihadapannya itu mengayun terbuka. Dengan langkah gontai ia melewati ruang rekreasi yang ternyata sudah dihuni duluan oleh partner ketua muridnya—Hermione Granger. Draco hanya menatapnya sekilas sedang bersama dengan sekitar lima buah buku menemaninya yang tebalnya sangat mengerikan untuk ukuran orang normal.

Draco's POV

Yah bukannya Granger tidak normal sih, tapi setidaknya kewarasannya jika sudah membaca buku, memang sudah mendekati minus ter-ekstrim. Hey jangan salahkan aku kalau aku berpikiran seperti itu, mengingat ia selalu mengatakan bahwa itu hanyalah bacaan ringan saja. Cih, ringan katanya? Hanya orang kurang waras yang menganggap bahwa buku dengan ribuan halaman serta ratusan bahkan ribuan deretan tulisan-tulisan sekecil semut didalamnya adalah bacaan ringan. Tapi hey, aku tidak bilang kalau Granger itu tidak waras kan? Yah meskipun secara tidak langsung aku hampir menganggapnya seperti itu. Yah kalian tahulah hobi Granger yang satu itu benar-benar sangat abnormal. Maksudku membaca buku memang hal yang bagus, tapi apakah kau tak berpikir untuk merasa bosan jika harus terus menerus membaca buku berulang kali selama sepanjang hari dalam hidupmu? Demi kaus kaki Merlin, bahkan kalau aku tidak salah hitung, ia sudah membaca buku sejarah Hogwarts untuk yang ketiga kalinya untuk hari ini, entah bagaimana caranya ia bisa menyelesaikannya—mungkin saja ia sudah hafal isinya sampai ia tak membutuhkan waktu lama lagi untuk membaca buku itu atau mungkin ia memiliki metode tersendiri dalam membaca buku? Kalau begitu aku akan minta diajarinya nanti, aku harus tau apa triknya. Hey tuunggu, apa yang kupikirkan? Hah sudahlah kembali ke topik. Kadang aku merasa kasihan pada otaknya, yah bisa jadi kan itu sebabnya rambutnya susah menurut sehingga megar-megar begitu karena banyaknya tekanan yang terjadi dalam kepalanya. Katanya sih itu menyenangkan –setidaknya menurutnya—, tapi hey! Kenapa aku malah memikirkan hobinya yang mengerikan itu? Huh, lupakan saja. Tadi tujuan utamaku kan setelah sampai disini ingin ke pantry. Yah kupikir secangkir coklat panas bisa merilekskan pikiranku setidaknya sampai aku mendengar sebuah suara yang memanggil nama margaku. Yap, siapa lagi yang memanggilku dengan panggilan seperti itu dalam ruangan ketua murid ini selain dia?—yah, kecuali ada yang mengendap-ngendap masuk kesini—. Dengan malas aku berbalik ke arahnya dan kembali menatapnya malas. Kalian tentu tahu kan hal apa yang sudah ia perbuat padaku kemarin malam? Kalau kalian lupa, aku bisa ingatkan—kejadian menyebalkan yang terjadi padaku dikamar mandi karena ulahnya yang sangat beringas itu, ingat?

Author's POV

"Malfoy," panggil Hermione kepada pemuda bermarga Malfoy yang baru saja melewatinya itu. Dengan menatap malas, pemuda itu akhirnya berhenti berjalan. Yah sepertinya tadi ia akan berjalan ke arah pantry sebelum Hermione menyuarakan marganya. "Kemarilah," panggil si gadis bermarga Granger itu lagi sambil menepuk-nepuk sofa disampingnya, mengisyaratkan agar sang Malfoy muda untuk duduk disana. Draco pun berjalan mendekat dan menjejalkan bokongnya kasar di sofa yang Hermione tadi tunjukkan.

"Ada apa Granger?" Tanya Draco to the point dengan nada datar lantaran masih kesal dengan perlakuan partnernya itu kemarin malam.

"Hmm, apa kau masih marah padaku?" Hermione balik bertanya hati-hati dengan nada ragu-ragu yang mengiringi perkataannya.

"Kelihatannya?" Kata Draco malas. Ia memutar bola matanya.

"Kalau begitu, mmmh aku—" Hermione menggantungkan kalimatnya untuk beberapa saat. Bahkan sepertinya, sudah beberapa menit lamanya. Rasa gengsinya kembali menyerang lantaran hanya ingin mengutarakan sebuah kata maaf kepada sang Pangeran Slytherin—partnernya. Sementara itu, Draco hanya menaikkan satu alisnya heran, menunggu kelanjutan rangkaian kata-kata dalam bentuk kalimat yang akan diucapkan Hermione selanjutnya.

"Kau apa Granger? Kau tahu? Kau membuatku bingung serta penasaran—well meskipun hanya sedikit sih," cibir Draco, menyadari kata 'penasaran' yang tak sengaja ia sebutkan.

"Uh-oh, maksudku apa kau ingin secangkir coklat panas? Ini ada satu kusediakan untukmu," kata Hermione pada akhirnya sembari menyodorkan sacangkir coklat panas ke arah Draco. Ia sedikit gugup ketika mengatakannya apalagi mengingat bahwa bukan itulah sebenarnya yang hendak ia katakan, tapi entah kenapa kalimat itulah yang meluncur begitu saja dari bibir mungilnya. 'bodoh, bodoh, bodoh! Bagus sekali Hermione, kau terlihat sangat bodoh' rutuknya kesal sampai-sampai tak berhenti untuk menyumpah-nyumpahi dirinya sendiri. Lagi-lagi respon Draco hanya mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi.

"Kali ini kau benar-benar tidak bermaksud untuk meracuniku dengan coklat panas itu kan?" Draco berkata sambil menunjuk-nunjuk secangkir coklat panas—yang asapnya masih mengepul di udara—yang disodorkan Hermione untuknya, ekspresinya terlihat ngeri. Sepertinya ia trauma dengan gadis di hadapannya itu. Hermione memutar bola matanya bosan mendengar tuduhan konyol Draco yang ditujukan untuknya.

"Yah aku memang ingin meracunimu, tentu saja tidak bodoh! Aku tidak akan selicik itu meskipun aku membencimu ½ mati, Malfoy!" Geram Hermione. Ia tak menyangka niat baiknya akan dianggap berkebalikan pada kenyataannya. Sementara itu Draco terlihat bernapas lega—yang entah karena apa. Tak lama kemudian, akhirnya Draco menyambar coklat panas itu dari tangan Hermione, meminumnya hanya dengan sekali tegukan dan habis dalam sekejap. Kalau sudah ada, untuk apa repot-repot membuatnya? Pikirnya. Setelah cangkir itu sudah kosong tak bersisa, ia meletakkannya diatas meja bundar didepannya sambil mengelap sudut bibirnya yang masih menyisakan setetes coklat disana dengan ibu jarinya yang masih bergerak bebas.

"Nampaknya kau benar-benar kehausan Malfoy," sindir Hermione mengernyit ke arah Draco dengan tampang yang sulit diartikan.

"Asal kau tahu Granger, secangkir coklat panasmu itu belum cukup untuk membayar kesalahanmu kemarin. Jadi jangan berharap banyak dulu padaku," sahut Draco kemudian sambil menyeringai tampan. Yah menurut Hermione seringai menyebalkannya itu sebenarnya terlihat tampan jika diperhatikan—tapi tentu saja ia enggan mengakuinya. Hermione hanya terdiam ditempatnya sebelum alam kesadaran segera menghampirinya dan menariknya kembali dengan tangan-tangan waktu transparan ketika melihat Draco mulai berdiri dari posisi duduknya dan meninggalkannya sendirian disana dengan banyaknya pikiran yang masih sibuk berputar dibenaknya. Padahal baru saja ia kembali berniat untuk menyusun kata-kata yang pas untuk mengutarakan permintaan maafnya. Tapi apa? Draco sudah pergi begitu saja meninggalkannya seenaknya—tanpa terima kasih atas coklat panasnya pikir Hermione kesal, well meskipun hanya secangkir coklat panas sih, tapi kan sedikit kata terima kasih tidak masalah bukan? Ditambah sebelum kepergiannya, ia malah melontarkkan kalimat memuakkan untuk sekedar didengarkan. Hermione melipat tangan di dada sambil terus mengumpat-ngumpat tidak jelas. Yah, meskipun secara diam-diam ia mengaku salah atas penyebab sikap Draco itu, tapi well kalian tahulah Putri Griffyndor kita yang satu ini sangat keras kepala. Dan semenjak hari itu, hubungan keduanya kembali menjadi agak dingin, lebih tepatnya mereka tak lagi banyak mengobrol seperti hari-hari awal dimana mereka mulai saling menerima kehadiran satu sama lain.

-OoOoO-

"Yah inilah pertandingan yang kita tunggu-tunggu! Gryffindor melawan Slytherin!" Suara Lee Jordan terdengar membahana di lapangan quidditch yang luas itu. Berbagai teriakan supporter terdengar nyaring memekakkan telinga. Yah, hari ini adalah hari pertandingan quidditch antara Gryffindor dan Slytherin. Itu berarti sudah tiga hari berlalu semenjak insiden di kamar mandi ketua murid saat Hermione menyiapkan air rendaman –panas- susu untuk Draco Malfoy yang membuat ketua murid putra kita itu harus uring-uringan selama seharian penuh pada keesokan harinya—sampai-samapai Blaise dan Theo bingung dibuatnya.

Kini pertandingan semakin memanas dengan poin yang ketinggalan lumayan jauh. Gryffindor unggul dengan 190 poin. Sementara itu Slytherin masih tertinggal dengan 40 poin. Hal ini membuat Draco semakin liar terbang dengan kecepatan tinggi diatas rata-rata demi memburu snitch kecil yang terbang sangat cepat—bersaing dengan Harry Potter tentunya. Ia melesat dengan cepat ke udara setelah melihat snitch yang sedari tadi ia cari-cari lewat dihadapannya. Dengan kecepatan penuh ia menuntun sapunya untuk bergerak meliuk-liuk mengikuti snitch. Tak peduli dengan seberapa cepatnya kini sapunya itu melaju. Bahkan teriakan-teriakan penonton juga turut mewakili ketegangan itu untuk beberapa saat. Kadang-kadang hening, tak ada yang bersuara—karena para penonton tengah menahan nafasnya sesaat menyaksikan adegan berbahaya didepan mereka. Dan tiba-tiba ...

"Kita saksikan, kapten sekaligus seeker Slytherin Draco Malfoy berusaha untuk mengejar snitch bersaing dengan seeker sekaligus kapten Gryfiindor kita Harry Potter! Dan yah, sedikit lagi, lagi daaannnnnnn..." Teriakan Lee Jordan terputus seiring dengan keheningan yang kembali melanda para penonton karena lagi-lagi harus menahan nafas mereka melihat sang idola tengah mati-matian memperebutkan snitch yang jaraknya semakin dekat saja dari keduanya. "Dan 150 poin untuk Slytherin! Kedudukan sekarang seri! 190 poin untuk masing-masing tim! Wow, hal yang sangat jarang terjadi antara Gryffindor dan Slytherin! Sungguh luar biasa!" Lanjut Lee Jordan dengan nada takjub antusias yang sukses membuat kegaduhan yang sangat menyakitkan telinga untuk didengarkan dibangku penonton. Meskipun terlihat beberapa pendukung Gryffindor terlihat sedikit kecewa, namun berkebalikan dengan pendukung Slytherin yang sibuk meneriaki nama Draco Malfoy. Yah, Draco Malfoy berhasil menangkap snitch di detik-detik terakhir persaingannya dengan Harry Potter. Namun sesuatu terjadi, tiba-tiba ia lepas kendali dan sapunya menukik tajam ke arah tanah dari ketinggian yang bisa dibilang 'wow' itu. Terdengar teriakan histeris dan jeritan tertahan dari beberapa orang yang ada disana dan menyaksikan kejadian itu. "Ouchh nampaknya sangat menyakitkan! Setidaknya, ku kira itu akan membuat tulangnya retak di beberapa bagian," sahut Lee Jordan kembali menyuarakan rasa prihatinnya. Dan benar saja, Draco Malfoy yang sudah kehilangan keseimbangan sesaat setelah menangkap snitch tadi, akhirnya limbung dan lepas kendali yang menyebabkan sapunya menukik tajam ketanah dan membuatnya untuk mendarat dengan sangat tidak mulusnya. Sangat terlihat bahwa posisi jatuhnya terlihat buruk—ralat, benar-benar sangat buruk. Ia terjatuh ditanah berbatu yang tentunya tak dapat dibayangkan seberapa sakitnya sambil masih menggenggam snitch di tangan kanannya. Ia merasakan sakit yang luar biasa. Kulitnya seperti dikuliti paksa merasakan perih yang merobek-robek hingga menembus ke tulang-tulang. Kepalanya juga pusing—sangat pusing sampai ia kira kepalanya akan pecah saat itu juga karena denyutannya yang benar-benar tak terkendali, ia berani bersumpah rasanya seperti dihantam berpuluh-puluh bludger dalam waktu yang bersamaan. Semua inderanya seketika itu juga seperti tak berfungsi lagi. Entahlah, mungkin rasa sakit yang menyerangnya benar-benar sudah mencapai tingkat akut keparahan. Penglihatannya buram, mengabur dan perlahan-lahan semuanya menjadi gelap dalam hitungan beberapa detik saja. Beberapa orang yang menyaksikannya segera berlari sempoyongan untuk melihatnya—lebih tepatnya untuk menolongnya—. Dengan sigap orang-orang disana segera memberikan pertolongan padanya.

"Kita harus segera membawanya ke Hospital Wings," dengan perkataan Harry Potter disela-sela ketegangan itu, Draco segera dilarikan menuju ke Hospital Wings. Berharap Madam Pomfrey bisa melakukan sesuatu pada Draco.

Hermione yang mendengar sayup-sayup suara diluar kastil itu merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi. Yah Hermione Granger sedang berada di ruang ketua murid, sangat jarang ia tidak melihat sahabatnya—Harry dan Ron bertanding quidditch meskipun sebenarnya ia tak suka quidditch. Tapi entah mengapa hari ini ia juga melakukan hal yang jarang tersebut—tak melihat sahabat-sahabatnya bertanding. Yah mungkin alasannya adalah Malfoy, yah Draco Malfoy menjadi alasan utama mengapa ia malas menyaksikan pertandingan asramanya sendiri. Semenjak insiden dirinya mengerjai Draco itu, Draco terlihat agak mendiamkan Hermione. Sudah tiga hari, yah sampai hari ini tiba mereka tak saling mengobrol banyak. Mereka hanya berkata seperlunya saja. Sebenarnya Hermione juga merasa bersalah terhadap Draco, tapi ia gengsi untuk mengakuinya meskipun ia sudah pernah mencoba meminta maaf kepada Draco sehari pasca insiden naas Draco yang disebabkan olehnya itu. Yah mungkin itulah sebabnya ia tak duduk dibangku penonton sekarang. Dan barusan ia tak mungkin salah dengar. "Malfoy," Gumamnya. Dan seketika itu pula ia berlari sekencang-kencangnya meninggalkan ruang ketua murid dengan berbagai pikiran yang berkecamuk dikepalanya. "Yah, Malfoy!" Kini ia memekik berusaha untuk tetap tenang dengan langkah-langkah gontainya yang menggema disepenjang koridor sepi. Tujuannya hanya satu, yah tujuannya saat ini hanyalah Draco Malfoy. Orang yang selama tiga hari ini mengusik pikirannya.

-To Be Continued-

-OoOoO-

|Pojok Author|

Ini chapter 4 nya sudah update, semoga masih ada yang sudi membaca dan mereview.

Oh iya, saya ucapkan terima kasih banyak buat kalian yang sudah mereview fic ini di chapter 3 (terima kasih juga untuk silent rider). Author usahakan untuk update tiap pekannya, dan maaf jika di chap kemarin masih ada beberapa typo dan kekurangan lainnya (dan saya juga baru sadar chap kemarin ternyata emang agak pendek, maaf yah readers hehe, ini udah 2k+ lagi kok). Saran-saran serta pendapat kalian sangat membangun untuk kelanjutan fic ini, sekali lagi terima kasih. Tapi mohon maaf sekali karena saya tidak sempat membalas review kalian di chapter ini. Masih pantaskah saya menerima review dari kalian? Hehe...

Review dari kalian bener-bener bisa nambah semangat nulis author.

Keep Smile guys ^_^

Salam manis,

Miss Lovegood