Disclaimer :

Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling, but all of idea in this fict belong to me J

Pairing :

Draco Malfoy dan Hermione Granger

Genre :

Romance, Hurt/Comfort

Rated : T (teen)

Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts

Warning : Typo(s) maybe, bahasa mungkin berantakan, alur sengaja dilambatin supaya feelnya makin dapet hehe... Agak OOC mungkin dan lain sebagainya...

|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|

.

.

.

My Blood is Ferret

Chapter 5

(Cares)

Draco's POV

"Hey kau sudah sadar?" Sayup-sayup sebuah suara mulai tertangkap indera pendengaranku. Yah, yang aku ingat terakhir kali hanyalah aku berhasil menangkap snitch dan tiba-tiba sapuku oleng hilang keseimbangan kemudian kurasa aku menghantam sesuatu yang entah apa itu. Tapi bisa kusimpulkan kalau itu bukanlah kabar baik. Maksudku, pasti aku kecelakaan atau entah apalah kalian mau menyebutnya apa. Yang jelas sejak itu kesadaranku sudah hilang. Semuanya jadi gelap dan aku tak ingat apa-apa lagi.

"Hey kau dengar aku?" Lagi-lagi suara itu. Suara yang sama. Dan kurasa seseorang menggenggam tanganku yang masih terkulai lemas. Lantas aku tersadar dari pikiranku. Sepertinya suara itu begitu familiar ditelingaku, tapi siapa? Karena penasaran, akhirnya kukumpulkan tenagaku yang masih tersisa untuk sekedar membuka perlahan manik indahku ini (A/N: wah Draco kepedean *Draco: Hey itu fakta tau!). Memang, peristiwa tadi benar-benar menguras energiku. Samar-samar aku melihat gumpalan berwarna coklat dihadapanku. Aku tercengang. Astaga, benarkah itu... Granger? Ia menjengukku? Dan wajahnya, kenapa dia? Demi Merlin, baru kali ini aku melihat wajah Granger begitu terlihat panik dan khawatir dikarenakan aku. Yah, ini kali pertamanya aku melihat Granger mengkhawatirkanku. Dan lihatlah siapa yang menggenggam tanganku! Sulit dipercaya, itu Granger! Entah kenapa, tiba-tiba saja aku merasa kupu-kupu yang ada diperutku terbangun dan mengitari setiap jengkal hatiku. Membuatku jadi sedikit mual. Tapi hey, ini bukan mual seperti yang kalian bayangkan. Tapi, kurasa ini mual dengan sensasi aneh luar biasa. Jantungku memompa dengan tidak normal, dua kali lebih cepat dari biasanya. Sepertinya efek dari insiden sapu itu membuat jantungku jadi abnormal. Tapi benarkah lantaran itu? Ah, aku tidak tahu harus marah atau senang sekarang. Disisi lain, egoku memberontak dan terus menjadi pencetus bahwa aku benar-benar gila sampai ingin disentuh oleh seorang darah lumpur yang dulu begitu kubenci. Tapi, sebagian lagi berkata bahwa hal ini adalah hal yang benar dan walaupun sulit ku akui, aku mnginginkannya dan sedikit err.. menikmatinya. Oh, Merlin tampaknya aku mulai gila. Namun semua pikiranku tiba-tiba dihancurkan oleh sebuah suara itu lagi. Yah, suara Granger.

"Untunglah kau sudah sadar, Malfoy! Baru saja teman-temanmu pulang dari sini. Mereka membawakanmu berbagai macam bingkisan yang sebagian sudah kupindahkan ke asrama ketua murid karena sudah menumpuk disini," Ucapnya girang tak bisa menyembunyikan ekspresi senangnya—yah, setidaknya menurutku begitu. Dan entah kenapa itu malah membuatku menjadi tak berkutik. Namun tiba-tiba saja ekspresinya berubah seketika menjadi err—sedikit menyeramkan.

"Kau bodoh sekali! Terbang dengan kecepatan diatas rata-rata dan hanya menggantungkan hidupmu pada sebuah sapu. Hanya sebuah ranting kecil, Malfoy!" Granger berkata penuh amarah kepadaku. Sekarang aku merasa seperti tak lebih dari seorang anak kecil yang sedang dimarahi ibunya karena jatuh dari sepeda. Sepeda? Yah, benda muggle itu—aku tak salah ngomong kok. Dulu aku pernah mendengarnya—secara tak sengaja tentunya— dari seorang temanku yang berdarah campuran. Kau tahulah, tak semuanya loh anak Slytherin itu berdarah murni sebenarnya. Lihat saja Snape atau pangeran botak tanpa hidung itu. Bukankah mereka penyihir berdarah campuran yang masuk asrama Slytherin? Yayaya, kembali ke topik. Hey sampai mana tadi? Oh ya, Granger marah padaku, kan? Tapi, kalau dipikir-pikir kenapa dia yang marah? Kan aku yang jatuh, aku yang sakit, aku yang sulit bergerak semauku, tapi kenapa dia yang sensitif? Atau jangan-jangan Granger mencemaskanku? Masa iya?

"Mencemaskanku eh, Granger?" Aku mulai menggodanya, kembali aku sunggingkan seringaian favoritku—yang mampu membuat gadis-gadis Hogwarts tergila-gila. Aku tidak narsis kok, toh memang kenyataannya kan? Setelah aku berkata begitu, samar-samar kulihat wajahnya memerah dan lama kelamaan semakin jelas terlihat. Hey, kenapa dia? Apa aku salah bicara? Kurasa tidak. Tapi kenapa? Atau jangan-jangan perkataanku tepat sasaran? Ah, entahlah. Sesaat kemudian kulihat ia sudah mulai menguasai dirinya kembali dan bersiap membalas perkataanku.

"Apa maksudmu Malfoy?" Dia berkata tajam dengan tatapan yang sulit kuartikan. Lagi-lagi aku menyeringai puas melihat responnya itu.

"Yah, maksudku kau mengkhawatirkanku, Granger. Mengaku sajalah, aku tidak akan marah kok," kataku sambil tersenyum tulus. Yah, kali ini aku tersenyum, ingat tersenyum! Bukan menyeringai. Kulihat ia sedikit melunak, tatapannya sudah tak setajam tadi. Dan kulihat lagi, ia menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Dasar aneh, pikirku.

"Madam, bagaimana keadaannya?" Tiba-tiba ia mengalihkan pandangannya—mengarah lurus ke samping kananku. Sontak aku juga ikut menoleh ke arah pandangan Granger. Disana aku melihat si matron tua—eh maksudku Madam Pomfrey sedang berdiri sembari tersenyum tipis.

"Keadaannya sudah lumayan membaik Ms. Granger," sahutnya dengan nada lumayan ramah.

"Kalau begitu, kapan dia bisa pulang Madam?" Wah, ternyata gadis singa ini bisa bersikap begitu manis dan sopan. Eh, apa yang kupikirkan? Tidak, tidak. Anggap aku tak pernah mengatakan bahwa dia manis. Yang benar saja? Huh!

"Sepertinya Mr. Malfoy sudah bisa pulang hari ini Miss, mengingat ia sudah dua hari disini. Keadaannya juga sudah membaik. Dan kuharap kau bersedia merawat Mr. Malfoy dan mau meminumkan ramuan untuknya jika sudah kembali ke asrama nanti. Ini hanya agar dia bisa pulih dengan cepat. Kurasa istirahat dua hari lagi, bisa membuatnya kembali sehat," Madam Pomfrey berkata panjang lebar, membuatku jadi mengantuk saja mendengarnya. Dan aku baru menyadari sesuatu, coba ku ingat. What? Dia bilang aku sudah dua hari disini? Dan aku baru sadar sekarang? Tak kurasa mulutku sedikit menganga menyadarinya. Huh, pantas saja Granger terlihat senang begitu aku sadar. Palingan ia kesepian karena patroli sendirian. Entah kenapa hatiku sedikit mencelos mengingat kemungkinan—alasan Granger mengkhawatirkanku tadi. Ah, kenapa aku ini? Mungkin kepalaku memang mengalami benturan yang cukup keras sehingga pikiranku juga jadi tidak jelas seperti ini. Tapi, tunggu. Tadi Madam Pomfrey juga bilang kan, kalau aku masih harus istirahat dua hari lagi di asrama dan yang merawatku adalah Granger? Oh aku tak tahu, harus senang atau bersedih. Namun tiba-tiba sebuah suara kembali membuyarkan pikiranku.

"Oh kalau begitu, terima kasih banyak Madam." Granger berkata seraya tersenyum manis –yang menurutku hanya dibuat-buat— yang membuatku merasa mual melihatnya. Cih, palingan hanya pura-pura. Aduh, kenapa aku selalu berburuk sangka ya? Huh, sepertinya aku harus berlatih agar bisa mengubah sifat-sifat burukku yang sudah lama melekat ini. Kulihat Madam Pomfrey juga ikut tersenyum, dan hendak membuka suaranya.

"Sama-sama Miss Granger. Nanti akan kuantarkan daftar beserta jadwal ramuan yang harus diminum Mr. Malfoy, tentu saja lengkap dengan ramuannya. Dan utuk Mr. Malfoy, lain kali agar lebih berhati-hati dan semoga cepat sembuh," aku pun mencoba untuk tersenyum—sebagai respon dari perkataannya barusan—dihadapan matron Hogwarts ini setelah ia beralih memandang ke arahku dan tersenyum duluan, kemudian pergi—ke ruang kerjanya. Ah, sepertinya aku akan ketinggalan banyak pelajaran pasca insiden ini, aku mengeluh panjang-panjang dalam hati.

Author's POV

"Mmhh... Granger," Draco mulai membuka suaranya lagi.

"Ya, Malfoy?" jawab Hermione tanpa menoleh ke sumber suara. Matanya mencari-cari Madam Pomfrey yang tadi meminta izin hendak ke ruang kerjanya sebentar. Sepertinya masih ada yang ingin ia bicarakan dengan matron Hogwarts itu.

"Kurasa, mmhh... Seha—

"Oh iya Madam, saya rasa sebaiknya saya dan Malfoy akan kembali sekarang saja," Hermione berkata setelah matanya menangkap kehadiran wanita yang dicari-carinya tadi—yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.

"—rusnya kau membiarkanku dirawat disini saja, aku tak mau me—

"Mmh... bolehkah saya meminjam alat itu, Madam?" Hermione menunjuk salah satu alat yang berbentuk seperti kursi yang memiliki roda-roda kecil disetiap sudut kakinya. Jika di dunia muggle, biasanya benda itu dikenal dengan sebutan kursi roda. Madam Pomfrey hanya tersenyum dan mengangguk tanda mengiyakan.

"—repotkanmu, Grang—

"Oh sekali lagi terima kasih banyak Madam. Akan ku kembalikan alat ini secepatnya, dan kalau begitu saya dan Malfoy permisi dulu," Hermione pamit setelah mendudukkan Draco di kursi roda—dibantu dengan Madam Pomfrey tentunya. Madam Pomfrey kembali tersenyum. Disisi lain, kedua orang itu tak menyadari bahwa ada satu orang lagi di ruangan itu –yang merasa terabaikan- yang kini wajahnya sudah mulai memerah. Garis-garis wajahnya terlihat berlipat-lipat dikarenakan rasa kesalnya yang tertahan. Yah, siapa lagi kalau bukan Draco Malfoy. Ia benar-benar jengkel karena omongannya sama sekali tak diperhatikan. Bayangkan, sudah tiga kali ia mencoba membuka suara, namun selalu saja terpotong begitu saja. 'Huh, sungguh wanita-wanita yang menyebalkan!' Rutuk Draco dalam hati.

-OoOoO-

"GRANGER!" Draco berteriak agak keras. Kontan Hermione langsung menghentikan dorongannya dari kursi roda yang membawa Draco, lantaran kedua tangannya sekarang ia gunakan untuk menutup kedua telinganya rapat-rapat.

"Ada apa, Malfoy?" Sahut Hermione dengan wajah agak kesal, matanya mendelik memandang ke arah Draco yang kini juga mendongak untuk menatapnya balik.

"Kau tak perlu berteriak-teriak begitu, seperti debt kolektor saja! Kau tahu? Aku tak cukup jauh darimu, dan kurasa kau cukup pintar untuk tidak berteriak dalam radius jarak yang sedekat ini," lanjutnya lagi dalam satu tarikan napas sambil melipat tangannya di dada.

"Eh, kolektor? Istilah macam apalagi itu, Granger?" Draco bertanya tidak sabaran kemudian mendengus pelan, sementara Hermione hanya memutar bola matanya kesal.

"Itu istilah muggle bodoh! Debt kolektor itu penagih hutang. Tadi kau terdengar sangat mirip dengan mereka," tutur Hermione agak geli. "Jadi apa yang membuatmu berteriak begitu, huh?" Lanjutnya lagi.

"Kau mengabaikanku! Kau tahu? Daritadi aku berbicara seorang diri seperti orang yang kehilangan akal sehatnya,"

"Eh? Err—maaf aku sungguh tak mendengarmu Malfoy. Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"

"Jelas saja kau tak mendengarku jika kau terus-terusan melamun seperti orang bodoh, Granger! Bahkan aku tak yakin, kalau tadinya kau akan benar-benar membawaku ke asrama,"

"Aku melamun? Kau memperhatikanku?" Hermione sedikit memerah.

"Lupakan," jawab Draco datar, ia merasa sedikit keceplosan. "Aku hanya ingin bilang bahwa kau tak perlu repot-repot untuk membawaku kembali ke asrama ketua murid dan merawatku selama dua hari ke depan. Kurasa, aku tak keberatan jika harus berada di Hospital Wings selama empat hari," Draco berkata sungguh-sungguh. Terpeta raut keseriusan di wajahnya. Hermione yang mendengarnya sedikit bingung dan nyaris tertawa mendengar nada bicara Draco yang tidak biasanya itu.

"Dengar, Malfoy. Aku sama sekali tak merasa direpotkan jika harus merawatmu sampai sembuh selama dua hari ke depan. Justru aku, yah... well, aku sedikit senang bisa merawatmu (Draco mengangkat alisnya tinggi-tinggi, namun tak bisa menyembunyikan rasa senang di dalam hatinya mendengar perkataan Hermione itu) karena bagaimanapun juga, aku merasa bersalah karena sudah mengerjaimu beberapa hari yang lalu. Dan kupikir, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku. Jadi, anggap saja ini adalah bentuk permintaan maafku padamu," tutur Hermione panjang lebar. "Dan tolong jangan tolak permintaanku," tambahnya cepat-cepat ketika melihat Draco sudah hendak membuka mulutnya lagi.

"Hmm baiklah," putus Draco mengalah. Kemudian Hermione kembali melanjutkan aktifitasnya—mendorong kursi roda Draco hingga sampai di asrama ketua murid.

-OoOoO-

"Mmh, Granger," panggil Draco yang kini tengah berbaring diatas tempat tidur miliknya di asrama ketua murid. Dan Hermione pun tidak main-main dengan ucapannya, ia benar-benar merawat Draco dengan sungguh-sungguh. Bahkan ia berniat untuk tidak masuk kelas seharian penuh hari ini agar bisa menjaga Draco yang sampai sekarang belum terlalu bisa untuk melakukan berbagai kegiatan. Dan semenjak tadi pula ia berada dalam kamar Draco, kalau-kalau saja Draco ingin melakukan sesuatu, ia pikir ia dapat membantunya. Misalnya saja jika Draco ingin minum, makan atau apa saja yang belum bisa Draco lakukan saat ini.

"Hn..." Hermione merespon tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang tengah dibacanya. Yah, untuk membunuh kebosanan, ia memang sengaja membawa sebuah buku tebal dari kamarnya—yang katanya untuk bacaan ringan saja, ckck.

"Kurasa aku sudah terlalu merepotkanmu Granger, seharusnya kau masuk kelas saja hari ini. Aku yakin aku bisa melakukan hal yang aku mau tanpamu," Draco berkata dengan raut wajah yang gelisah. Jujur saja, ia merasa sangat tidak enak hati karena sudah membuat siswi terpintar di Hogwarts itu tidak masuk kelas seharian penuh hanya lantaran demi menjaga dan merawatnya. Sontak Hermione mengalihkan pandangannya ke arah pemuda pucat yang tengah berbaring lemah di hadapannya, ia menarik napas dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan kemudian menutup buku yang tengah dibacanya setelah ia menandai bacaan terakhirnya pada buku tersebut. Lalu ia meletakkan buku itu di atas nakas milik Draco kemudian kembali mendudukkan dirinya di kursi sebelah kiri dari ranjang Draco.

"Malfoy, aku sudah berjanji akan merawatmu. Jadi, kau tak perlu merasa aku direpotkan olehmu. Dan kupikir aku tidak akan ketinggalan pelajaran hanya karena hal ini, sebab besok aku sudah kembali masuk kelas. Lagian aku bisa melihat catatan Ginny nanti, uh aku tak berniat sama sekali untuk meminjam catatan Harry apalagi Ron," Hermione bergidik jika membayangkan dirinya harus menyalin catatan kedua sahabat laki-lakinya itu yang diyakininya pasti sembrono dan amburadul. Jadi ia berniat bahwa setelah ini, ia akan meminjam catatan Ginny saja atau Parvatil juga bisa, pikirnya. Draco sempat tersenyum tipis ketika melihat Hermione bergidik tatkala gadis itu berkata bahwa ia sama sekali tak berniat untuk menyalin catatan Ron maupun Harry.

"Tapi—

"Hussss...," perkataan Draco terpotong ketika telunjuk Hermione menempel di bibirnya. Yah, meskipun itu hanya bentuk refleks dari Hermione sebenarnya.

'Merlin, apa yang dia lakukan? Apa dia tidak tahu dia bisa saja membunuhku karena jantungku berdetak tak karuan karenanya?' Draco membatin. Kini ia merasa wajahnya mulai memanas, rona merah nampak samar di pipi pucatnya. Dan ia merasa beruntung karena Hermione tidak memperhatikannya lantaran sibuk dengan wajahnya sendiri yang juga mulai terasa hangat serta datak jantungnya yang juga sudah diatas rata-rata. Hermione sendiri pun bingung dengan apa yang dilakukannya barusan. Buru-buru ia menarik telunjuknya kembali dengan berbagai pikiran aneh di benaknya. Tak bisa dipungkiri lagi, hal itu sukses membuat wajahnya menjadi memerah tak tertahankan. Sesaat, kejadian itu membuat suasana menjadi hening dan membuat keduanya menjadi canggung sebelum salah satu diantara mereka mulai membuka suara.

"Granger, aku haus," pinta Draco yang sekarang arah pandangannya menatap lurus ke arah pintu. Mungkin ia masih belum berani menatap wajah gadis disampingnya itu yang mau tak mau ia akui mampu membuat hatinya berdebar-debar. Tanpa kata-kata lagi, Hermione segera beranjak dari posisi duduknya menuju pantry untuk mengambilkan minuman untuk Draco. Tak lama kemudian, ia kembali dengan mebawa segelas minuman ditangan kanannya.

"Minumlah," Hermione menyodorkan minuman itu ke arah Draco setelah membantu pemuda itu untuk bangun ke posisi duduk dengan bantal sebagai penyanggah di belakangnya. Namun, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari balik kaca jendela di kamar Draco. Ternyata ada seekor burung hantu yang tengah bertengger disana. Hermione merasa sangat familiar dengan warna tersebut dan kemudian secara refleks ia langsung bertanya.

"Malfoy, apa itu milik keluargamu?" Hermione menunjuk seekor burung hantu yang berbulu abu-abu perak nan indah. Draco yang tengah minum itu kini juga ikut mengalihkan pandangannya ke arah jendela lalu mengangguk dengan cepat, yang langsung saja membuat Hermione berdiri mendekati burung itu, mempersilakannya masuk dan membelainya dengan lembut. Kemudian ia mengambil potongan crackers dan dengan perlahan ia mulai mengambil surat yang terselip di kaki burung hantu keluarga Malfoy tersebut lalu memberikannya kepada Draco. Draco pun menerimanya dan memandangi surat itu sejenak kemudian mengangkat sebelah alisnya. Hermione yang melihat ekspresi Draco menjadi penasaran. Dan Draco pun tahu kalau Hermione merasa penasaran setelah mendapati wajah gadis itu terlihat kebingungan, maka ia pun mulai berbicara.

"Kurasa surat ini bukan hanya untukku, tapi untuk kita berdua," Draco berkata sebagai jawaban dari rasa penasaran Hermione. Hermione pun sedikit membulatkan matanya heran lantaran merasa agak kurang percaya mengetahui bahwa keluarga Malfoy mengirimkan surat untuk dirinya juga.

"Maksudmu, untukmu dan juga untukku?" Hermione masih belum mengubah ekspresinya. Sedangkan Draco hanya mengangguk tanda mengiyakan.

-To Be Continued-

-OoOoO-

|Pojok Author|

Makasih untuk teman-teman yang sudah menyempatkan diri untuk me-review fict saya yang kurang bermutu(?) ini ^_^ ... Yah meskipun hanya sedikit review, tapi saya cukup senang melihat orang yang membacanya sudah lebih dari 1000 J ... hehe ... Oke, saya minta maaf atas segala kekurangan yang mungkin masih menjadi teman setia fict ini. But, trust me! Saya benar-benar berusaha untuk membuat fict ini semakin baik lagi ke depannya yang mungkin sudah akan tamat dalam beberapa chapter lagi (yang akan saya lanjutkan dengan fic DraMione yang bergenre Dark fict) ... Dan berikut adalah balasan review di chapter 3 dan 4 (maaf baru sempet dibalas XDv) :

Shizyldrew :

Ah iya, baru ada nih :) ini aja belum bisa dikatakan konflik kok hehe ... Makasih reviewnya :) review lagi?

christabelicious :

Makasih reviewnya christa :) ah iya maafkan saya, masih ada typo. Tapi sudah di edit kok :) Review lagi?

Ochan Malfoy :

Draco diapain? Sudah terjawab kan di chapter 4 :) Iya Ochansay, si Malfoy disini belum maafin Hermione ceritanya XD ... Iya Draco kecelakaan, reaksi Hermione? Baca aja chap ini yah hehe ... Makasih reviewnya :)

Melia Tsuzumi Taoru :

Ah iya maaf kalo perdebatan mereka di chapter sebelumnya belum terasa greget hehe ... Ini chapter 5 nya sudah update, moga suka dan review lagi XDv.

senjadistria :

Ah iya, maafkan saya. Chapter kemarin memang agak kependekan hehe ... Tapi chap kali ini udah 2k+ lagi kok J maaf juga yah klo chap sebelumnya kurang greget hehe ... Konfliknya belum kerasa di chapter2 awal seperti ini. Mungkin chapter2 kedepannya nanti. Oh iya, makasih reviewnya. Review lagi?

Naomi Averell :

Iya nih, chapter 5 juga sudah update :) ... Saya rasa pertanyaan kmu sudah terjawab di chap 4 ... Ini chapter 5 juga sudah update. Makasih reviewnya. Review lagi? XDv.

Chalttermore3-23 :

Iya maaf yah, chap sebelumnya mungkin agak kependekan hehe ... Makasih sudah dibilang bagus dan seru yah J ini chapter 5 nya sudah update. Moga masih berkenan untuk mereview hehe ...

R. Jack Skelenton :

Makasih kak sekelenton sudah menyempatkan diri untuk me-review :) ... Adegan jatuhnya keren? Haha makasih lagi. Maaf yah klo masih ada sedikit typo, gk sempet ngecek ulang soalnya. Review lagi? XDv.

hikari rhechen :

Hi juga hikari :) ... Iya ini udah update kok ... Makasih yah saran2 dan reviewnya ... Rate M? Haha bukannya nolak, tapi maaf sepertinya saya belum pantas dan berpengalaman mengenai hal itu hehe ... (gak tahu mau nulis apa kalo ratednya naik XDv) Saya masih lugu *plakk |dilempar sandal sama hikari XDv ... Romancenya bentar lagi ada kok J tungguin aja chap2 selanjutnya yah ...

Makasih atas reviewnya yah semua (yang silent rider juga makasih deh, meskipun gak nge-review XD) J jujur author sebenarnya udah pengen banget namatin fict ini dan fokus ke dark fict DraMione saya yang selanjutnya ... Jadi, mungkin review dari kalian bakal menjadi dorongan semangat untuk melanjutkan fict ini sampai selesai ... Yah, meskipun di laptop author emang udah nyaris selesai sih hehe *plakk ... Okay, Keep read and review guys :)

Salam Manis,

Miss Lovegood.