Disclaimer :

Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling, but all of idea in this fict belong to me J

Pairing :

Draco Malfoy dan Hermione Granger

Genre :

Romance, Hurt/Comfort

Rated : T (teen)

Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts

Warning : Typo(s) maybe, bahasa mungkin berantakan, alur sengaja dilambatin supaya feelnya makin dapet hehe... Agak OOC mungkin dan lain sebagainya...

|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|

.

Chapter 6

(The Letter)

Angin sepoi-sepoi berhembus melewati celah-celah jendela yang hanya terbuka sebagian di kamar sang ketua murid putra—di menara asrama ketua murid. Rasa heran menyelimti keduanya, setelah seekor burung hantu milik keluarga Malfoy datang beberapa menit yang lalu untuk mengantarkan sebuah surat.

Sepasang ketua murid itu saling memandang sejenak sebelum pandangan mereka beralih ke sebuah surat beremblem 'M' besar didepannya—sangat khas Malfoy—yang tengah dipegang oleh Malfoy junior itu. Mereka duduk bersisian—Draco diatas kasurnya, dan Hermione ditepi kasur disebelah Draco. Wajah mereka masing-masing menampilkan kebingungan dan keheranan. Pasalnya, surat dari keluarga Malfoy untuk Draco memang adalah suatu kewajaran. Tapi ini? Jelas-jelas di bagian depan surat itu juga tertulis nama yang begitu absurd untuk ditulis oleh keluarga Malfoy. Draco mulai membuka dan membaca suratnya bersama partnernya—Hermione, yang ternyata namanya juga disebutkan dalam surat itu.

Dear,

My beloved Son, Draco Malfoy

and Miss Granger.

Draco dear, Mum dan Dad sudah mendengar kabar tentang insiden yang telah menimpamu beberapa hari yang lalu. Dan kami sangat khawatir akan hal itu. Maafkan Mum yang baru sempat mengirimimu surat, lantaran cuaca yang tak memungkinkan untuk membiarkan Grays untuk tetap terbang ke Hogwarts. Bagaimana keadaanmu sekarang, dear? Apa sudah baikan? Kami harap iya. Tolong berhati-hatilah jika sedang bermain quidditch, lain kali. Tentu kau tak ingin membuat kami jantungan ketika mendapat kabar seperti ini lagi. Mum dan Dad akan berkunjung ke Hogwarts, kebetulan kami mendapat undangan untuk menghadiri pesta dansa yang kurang dari seminggu lagi. Dan kami harap kau sudah punya pasangan yang akan kau kenalkan pada kami.

Dan untuk Miss Granger, terimakasih banyak karena telah berbeik hati kepada putra kami, Draco. Kami mendapat kabar bahwa anda lah yang merawat Draco selepas dari Hospital Wings. Kami sangat senang dan bersyukur atas kehadiran anda, Miss. Dan kami juga ingin meminta maaf apabila selama ini, keluarga kami banyak melakukan kesalahan padamu. Sekali lagi terima kasih.

With love,

Narcissa-Lucius

P.S : Mum sudah meminta peri rumah untuk mengirimkan makanan ke asramamu (yang Mum rasa kalian butuhkan). Kau bisa langsung mengecek ke pantry. Dan satu lagi, sebenarnya Mum sangat berharap kalau nanti gadis yang akan kau kenalkan pada kami adalah Miss Granger.

Sukses sepasang ketua murid itu terperangah dengan surat yang baru saja mereka baca itu. Terlebih lagi sang ketua murid perempuan—Hermione Granger, yang benar-benar seakan tak percaya dengan surat yang dikirimkan Malfoy senior untuknya—lebih tepatnya untuk mereka berdua. Tadinya ia pikir bahwa ia akan dimarahi habis-habisan oleh Malfoy senior karena telah dekat-dekat dengan putra kesayangan mereka-Draco Malfoy. Tapi ternyata semua opininya itu salah. Benar-benar sulit rasanya untuk Hermione mempercayai surat tersebut. Apalagi tulisan dibagian 'P.S' nya yang membuat Hermione benar-benar menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Setelah cukup lama terdiam dan mulai menguasai diri, akhirnya Hermione mulai angkat bicara.

"Malfoy?" Panggil Hermione.

"Ya, Granger?" Balas Draco.

"Apa kau mengerti tulisan dibagian paling akhir?" Hermione memberanikan diri untuk bertanya. Kedua alisnya saling bertaut, lengkap dengan kernyitan di dahinya.

"Sebenarnya tidak. Tapi sepertinya, Mum berharap kalau kau itu adalah pacarku," jawab Draco enteng sambil mengusap-usap dagunya tanda berpikir, tanpa menyadari sedikitpun perubahan wajah Hermione yang sudah mulai memerah. 'What? Malfoy senior mengira aku ini pacarnya Draco? Tidak..tidak. Sepertinya dunia sudah hampir kiamat,' Hermione membatin tak percaya.

"Kuirasa kau salah perkiraan, Malfoy. Aku tahu mereka sangat anti muggle-born. Jadi, tidak mungkin jika maksud mereka seperti itu," Hermione berusaha mayakinkan.

"Asal kau tahu saja Granger, keluarga kami tidak lagi seperti dulu. Dan kurasa kau harus bersyukur akan hal itu. Lagipula akhir-akhir ini, Dad bilang kalau Mum sangat terobsesi dengan muggle. Jadi, tidak mustahil jika Mum berharap seperti itu," kali ini Draco berkata sambil menatap lurus ke depan, seperti sedang menerawang sesuatu. Sedangkan Hermione hanya diam tak tahu ingin berbicara apa lagi, saking masih tak percayanya. Sekarang ia sudah duduk disebuah kursi disamping tempat tidur yang menghadap ke arah Draco.

"Benar-benar sulit dipercaya," gumam Hermione tanpa sadar dengan volume suara yang benar-benar rendah. Dan sepertinya tidak didengar oleh Draco.

"Mmh Granger, ngomong-ngomong memangnya kau mau pergi dengan siapa nanti ke—err pesta dansa?" Draco bertanya sedikit malu-malu sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang jelas-jelas tidak gatal itu. Jelas dari wajahnya yang pucat, terlihat samar-samar rona merah disana.

"_"

"Granger?" Draco memanggil lagi karena merasa ucapannya yang pertama tak mendapat respon sama sekali.

"_"

Hening. Tak digubris. Merasa masih tak ada jawaban, akhirnya Draco menoleh ke arah partnernya, dan mendapati partner ketua muridnya itu sedang melamun. Ia mendengus keras kemudian mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Hermione.

"Granger! Aku berbicara padamu!" Suara Draco mulai meninggi, naik sekitar satu oktaf—nyaris berteriak. Dan hal itu sukses mengembalikan Hermione kembali dari permukaan non-bawah sadar. Hermione terlihat gelagapan.

"Eh? Apa? Kenapa?" Jawab Hermione refleks. "Maaf Malfoy. Aku tidak mendengarmu," Hermione nyengir tak bersalah.

"Dasar Granger, masih pagi-pagi sudah melamun," Draco mendengus lagi.

"Mmh, tadi kau bilang apa?" Hermione bertanya penasaran.

"Tidak ada," jawab Draco ketus.

"Ayolah Malfoy, ulangi sekali lagi. Aku janji kali ini akan ku dengarkan baik-baik," rengek Hermione dengan wajah memelas andalannya, matanya sengaja ia besarkan guna menambah kesan kasihannya—karena terdorong rasa penasaran. Draco memandangnya sejenak, lalu kembali menatap lurus ke depan. Ia nyaris tertawa melihat wajah konyol Hermione dengan bola mata membesar seperti itu. Tapi bukan Malfoy namanya jika tidak bisa menyembunyikan emosi mereka. Ia terlihat menghirup napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan sebelum mulai mengulangi pertanyannya yang bisa dibilang sangat tidak Malfoy itu. Pasalnya yang ia tanya sekarang adalah Hermione Granger. Musuh –lebih tepatnya mantan musuh— besarnya selama kurang lebih enam tahun belakangan ini. Yah, aneh. Sangat aneh. Tentu akan sangat terasa janggal bukan?

"Tadi aku bilang, memangnya kau mau pergi dengan siapa nantinya?" Draco nampak tidak sabaran untuk mengulang kalimat itu lagi.

"Kemana?" Tanya Hermione dengan wajah innocent yang sukses membuat Draco untuk mendengus –lagi-lagi— sebal.

"Ke pesta dansa, Granger!" Kata Draco mulai kesal.

"Oh itu!" Hermione menepuk jidatnya sendiri sembari tertawa renyah melihat ekspresi Draco. Namun sepersekian detik berikutnya, raut wajahnya tiba-tiba saja berubah—nampak lebih muram. "Aku..Aku belum tahu, Malfoy. Sebenarnya, aku masih mengharapkan seseorang untuk mengajakku," nada bicaranya terdengar lemah—sepertinya tersirat nada kesedihan disana. Kemudian ia menunduk, menyembunyikan ekspresi wajahnya.

"Maksudmu, kau berharap diajak oleh Weaselbee merah itu?" Tanya Draco santai sambil menatap partner disampingnya itu—tapi matanya sedikit melotot. Tiba-tiba Hermione mengangkat kepalanya. Ia mendelik ke arah Malfoy muda dihadapannya itu.

"Dia punya nama, Malfoy! Dan namanya Ron, bukan Weasel!" tegas Hermione.

"Ya, aku tahu. Tapi entah kenapa aku masih saja suka dengan panggilan itu," Draco berkata enteng tanpa merasa bersalah sedikitpun, yang mau tak mau membuat Hermione memutar bola matanya.

"Baiklah, terserahmu," putus Hermione mengalah. Draco menyeringai, yang membuat Hermione berpikir bahwa kelebihan Draco adalah bisa menyeringai sepanjang waktu—kapanpun dan dimanapun ia berada. Tak peduli dia mau sakit atau apa. Ckckc.

"Ternyata kau menyukai Weaselbee itu," Draco manggut-manggut sendiri, seolah-olah sudah tahu keadaan yang sebenarnya. "Apa yang kau lihat darinya?" Tanya Draco sedikit penasaran. Ingat, hanya sedikit.

"Bukan urusanmu ferret!" Jawab Hermione galak. Sementara itu, Draco hanya mengedikkan bahunya dan bergeming. Sepertinya ia sudah mulai terbiasa dengan panggilan 'ferret'.

-OoOoO-

Hari ini Draco sudah diperbolehkan untuk kembali mengikuti kelas seperti biasanya. Keadaannya sudah membaik. Dan tak dipungkiri hal itu juga berkat partnernya—Hermione Granger yang dengan sungguh-sungguh merawatnya selama dua hari. Seperti biasanya, aula besar sesak dipenuhi para murid yang sedang makan siang.

"Hi mate! Kami senang bisa melihatmu kembali!" Theo menepuk bahu kanan Draco yang kebetulan duduk disebelah kirinya. Draco memutar bola matanya—sepertinya kini dia ketularan Hermione— dan mulai mengambil makanan yang tersedia di hadapannya.

"Kita tidak bertemu hanya empat hari," jawab Draco malas, masih mengambil makanan.

"Whoaa mate! Empat hari itu adalah waktu yang lama. Kau tahu? Kami sangat merindukanmu!" Ucap Blaise dengan gaya lebay luar biasa. Sedangkan Draco tidak menanggapinya. Kemudian Blaise kembali melanjutkan perkataannya, "Mate, kami tidak menyangka kalau si Granger itu mau merawatmu," Blaise terkekeh, sementara Theo hanya mengangguk-angguk menyetujui. "Ternyata si Granger itu baik juga yah dan di—hey! Tumben makanmu banyak sekali Draco!" Blaise menatap horror ke arah piring Draco –yang tak biasanya seperti itu— yang penuh dengan makanan. Draco langsung memberi deathglare secara cuma-cuma kepada Blaise yang suaranya hampir saja menggemparkan seisi aula. Apa kata orang-orang jika melihat Pangeran Slytherin makan dengan porsi berlebih seperti itu? Draco tak mau disamakan dengan Ron Weasley yang terkenal rakus akan makanan.

"Aku lapar, Blaise," komentar Draco singkat kemudian kembali meneruskan 'acara' makannya dengan santai sebelum suara cempreng melengking terdengar memekik menyakitkan di telinganya. Draco hanya mendengus sebal. Tebak siapa? Ah tidak salah lagi. Pansy Parkinson.

"Drakkiiiee... Kau sudah sembuh? Oh aku sungguh senang bisa melihatmu. Kau tahu, aku selalu mencemaskanmu. Coba aku lihat wajahmu, oh syukurlah lebamnya sudah hilang. Drakkie kau tidak kenapa-kenapa kan harus dirawat oleh darah lumpur Grang—

"Jaga ucapanmu, Pans!" Bentak Draco dalam nada dingin, memotong cerocosan Pansy yang jelas-jelas sangat tidak bermutu bagi Draco itu. Jujur, Draco agak kesal mendengar Pansy yang menyebut Hermione dengan sebutan 'darah lumpur'. Bukan apa-apa, ia merasa tidak enak saja karena sudah merepotkan Hermione, lalu dengan mendengar sebutan itu? Tentu saja ia akan merasa lebih tidak enak lagi. Bagaimanapun juga, Hermione telah berjasa besar sampai ia bisa sembuh dalam jangka waktu yang sudah ditargetkan Madam Pomfrey sebelumnya. Lagipula kan bukannya status darah kini sudah tidak diberlakukan lagi?

Pansy langsung terdiam ketika dibentak oleh Draco. Blaise dan Theo nyaris tertawa melihat ekspresi Pansy yang hanya bisa megap-megap seperti ikan yang ada di daratan. Pansy hanya menatap mereka berdua dengan tatapan galak—seakan-akan ingin memakan mereka bulat-bulat—, membuat kedua manusia Slytherin itu akhirnya berhasil untuk menahan tawa mereka yang pasti sebentar lagi akan meledak. Setelah itu, Pansy tidak lagi berani mengajak Draco berbicara sampai jam makan siang berakhir. Dan Draco diam-diam mensyukuri hal itu.

-To Be continued-

-OoOoO-

Author's Note :

Ah, maafkan saya semuanya ... Saya tahu, mungkin chapter ini agak pendek yah? Hehe maaf ... maaf ... Maaf yah kalau chapter ini kurang memuaskan. Yang penting saya gak ingkar janji yah buat update fict ini per pekan hehe :) (mengingat saya selalu update tiap Jum'at XD) ... Oke, terimakasih banyak yang sudah mereview yah ... Saya kira sudah gak ada lagi yang minat baca dan nge-review fict abal ini loh hehe ... Author sangat menghargai review-review dari kalian. Berikut adalah balasan reviewnya :

Fressia Athena :

Ehehe maaf berhenti mendadak. Kan biar greget gitu penasarannya XDv *plakk... Iya, ini chapter 6 udah update, jadi gak penasaran lagi kan? :) Makasih yah sudah mereview. Review lagi? XD ...

thya.a meong :

Jiah todong pake pisau? Wkwkw, ampun jangan narik2 naju saya ... Ini sudah update chapter 6nya :) Makasih yah sudah mereview .. Review lagi? Hehe.

R. Jack Skelenton :

Hehe maaf sudah membuat penasaran XDv... Ini chapter 6 sudah update :)...Iya, planningnya mau bikin darkfict nantinya (abis ini tamat) hehe ...Makasih k' skelenton sudah review :) Review lagi? XDv ...

BlueDiamond13 :

Ah iya yah, udah agak lama emang kmu gak nge-review :) ... XDv *plakk ... Iya, ini sudah update hehe ... Maksih yah sudah review. Review lagi boleh? Wkwk.

christabelicious :

makasih christa udah mau review lagi :) maaf yah karena mungkin di chapter ini konfliknya belum dimunculkan XDv *plakk... Mungkin next chapter? Hehe, tapi makasih yah sudah review *pelukciumbalik* ... Review lagi? :)

Ochan Malfoy :

Iya Mione disini lumayan care sama Draco karena masih merasa bersalah gitu hehe. Ini chapter 6 sudah update (gak ada hal buruk dalam suratnya kok) haha author mau buat mereka sedikit bahagia aja dulu di chapter ini XD ... Berapa chap? Mungkin cerita ini akan tamat lebih dari 10 chapter ntar (maaf deh kalau kebanyakan chap XDv). Makasih Ochan sudah mereview :) ... Review lagi?

hikari rhe chen :

Lime? Ahaha gak janji XDv ... Romancenya kayaknya di chapter depan baru ada deh hehe ... Makasih yah sudah review. Review lagi? :)

Guest :

Hhehe maafkan diriku yah XDv plakk (udah ngomong double deh wkwk) ... Ini chap 6 sudah update. Makasih yah sudah review :) ... Review lagi?

Neemarishima :

Hi juga Neemarishima :) salam kenal juga... Ah iya gkpapa hehe (tapi alangkah baiknya jika di review di tiap chap haha *plakk) Author juga seneng, kalau kmu seneng sm cerita ini hehe :) (cerita ini manis? Makasih XD) ... Ah iy ntar author perhatiin lagi deh biar gak keliatan padet paragrafnya. Wah ternyata kamu jeli juga yah, haha. Iya maaf, abisnya sy bingung mau ngambil siapa jadi komentator selain Lee Jordan. Jadi anggep aj yah ceritanya Lee disini adalah tamu alumni Hogwarts yg diundang utk jadi komentator :D *plakk wkwk. Luna yg jadi komentator? Ah ntar komennya malah jadi ngelamun hehe. Tapi makasih banyak yah sudah mereview. In chap 6 sudah update, moga masih suka. Review lagi? Hehe.

Chalttermore3-23 :

Ini chapter 6 sudah update :) Udah tau kan isi suratnya? Hehe. Makaish yah sudah review. Review lagi? :)

Makasih semuanya yah karena sudah sudi membaca apalagi yg sudah menyempatkan diri untuk mereview fict ini. Author sangat menghargai review2 dari kalian :) ... Still keep read and review yah guys ... :)

Salam,

Miss Lovegood