Disclaimer :
Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling, but all of idea in this fict belong to me :)
Pairing :
Draco Malfoy dan Hermione Granger
Genre :
Romance, Hurt/Comfort
Rated : T (teen)
Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts
Warning : Typo(s) maybe, bahasa mungkin berantakan, alur sengaja dilambatin supaya feelnya makin dapet hehe... Agak OOC mungkin dan lain sebagainya...
|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|
.
.
.
My Blood is Ferret
Chapter 7
(Sweet Hug)
Draco kaget bukan main ketika mendengar suara pintu yang dibanting dengan sangat keras. Draco yakin siapapun yang mendengarnya juga pasti akan merasakan hal yang sama –kaget— seperti dirinya. Tak lama setelah itu, seorang gadis berambut coklat lebat muncul dari balik pintu yang tadinya dibanting itu—lebih tepatnya pintu kamarnya sendiri. Ia berjalan menuruni tangga yang memisahkan ruang rekreasi dengan kamar kedua ketua murid. Keadaannya tidak bisa dibilang sedang 'baik-baik' saja. Ia nampak sangat kacau—setidaknya itu yang dilihat Draco. Ia memandangi Hermione dengan wajah yang bingung bercampur heran. Jika saja sekarang Hermione sedang dalam keadaan normal—maksudku dalam mood yang bagus, sudah pasti dia akan tertawa terbahak-bahak melihat tampang cengo Draco yang sangat langka itu—nampaknya hari ini memang hari keberuntungan Draco.
Memang Draco perhatikan –dengan tidak sengaja tentunya—, semenjak Hermione kembali ke asrama ketua murid tadi sore setelah mengikuti kelas transfigurasi, ia terlihat berbeda. Wajahnya nampak masam dan ketika itu ia langsung berlari menaiki tangga lalu mengunci diri di dalam kamarnya—dan baru keluar sekarang. Draco yang sedang duduk di sofa di samping perapian dapat dengan jelas melihat mata gadis itu sembab dan agak bengkak. Tidak salah lagi—sepertinya ia habis menangis, pikir Draco.
Kini Hermione mendudukkan dirinya di sofa yang berlainan dengan Draco—sofa yang menghadap ke perapian. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang benar-benar kusut. Namun meski demikian, Draco masih sempat berpikir bahwa Hermione tetap cantik walau dalam keadaan seperti itu, dan setelah itu ia merutuki dirinya sendiri yang tanpa sadar telah mengagumi Hermione. Entah darimana Draco berinisiatif untuk membuat coklat panas di pantry. Mungkin coklat panas bisa sedikit menenangkannya, pikirnya. Dan tak lama kemudian ia kembali dengan dua gelas coklat panas di masing-masing tangannya. Draco yang merasa iba dengan keadaan partnernya itu mulai beringsut mendekati Hermione—duduk di sebelahnya dan meletakkan coklat panas itu di meja di depan mereka.
Tanpa disangka-sangka olehnya, Hermione tiba-tiba memeluknya erat. Tangisnya pecah di bahu Draco. Draco dapat merasakan kemejanya basah oleh air mata Hermione. Tapi toh, ia membiarkannya juga. Membiarkan Hermione menangis sepuasnya di dalam pelukannya. Awalnya Draco memang agak canggung mendapat perlakuan yang tak biasanya itu dari Hermione. Tapi lama kelamaan ia mulai terbiasa. Dan secara alamiah, tangan kirinya bergerak sendiri untuk membelai lembut rambut Hermione, sementara itu tangan satunya mengelus-elus punggung gadis itu yang masih bergetar karena menangis sesenggukan. Kejadian ini berlangsung hingga beberapa menit sampai akhirnya tangis Hermione mulai mereda. Gadis itu mendongak menatap pria pirang dihadapannya. Matanya masih berkaca-kaca. Buru-buru ia menyeka air matanya—yang dalam waktu singkat mungkin akan tumpah lagi—dan kemudian mengelap sisa-sisa air matanya yang juga mulai mengering di pipinya. Ia tidak tahu akan berkata apa untuk hal barusan yang ia lakukan.
"Maaf," hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.
"Tak apa. Menangis itu memang tak sebaiknya ditahan," balas Draco lembut.
"Aku..aku..." Hermione tak mampu melanjutkan perkataannya. Sebulir air mata kembali bergulir dari mata indahnya. Draco yang melihatnya, secara refleks mengusap lembut pipi Hermione yang dilalui air mata itu. Untuk sejenak Hermione sempat tersentak.
"Kau bisa bercerita padaku kapanpun kau mau kalau kau memang sudah benar-benar siap. Aku akan menjadi pendengar yang baik," Draco tersenyum tulus. Hermione hanya diam. Mungkin Draco ada benarnya juga. Jujur, ia sebenarnya sangat butuh tempat untuk berbagi cerita sekarang. Tidak mungkin kan ia ke asrama Gryffindor untuk bercerita dengan Ginny ataupun Harry? Lagipula ia masih belum siap untuk kesana. "Oh ya, kau minum saja dulu. Supaya perasaanmu agak baikan. Ini aku buatkan coklat panas untukmu. Maaf kalau nanti rasanya agak aneh," Draco terkekeh sambil menyodorkan segelas coklat panas ke arah Hermione. Setelah itu, ia mengambil coklat panas yang satunya lagi untuk dirinya sendiri. Hermione nampak malu-malu menerima coklat panas yang disodorkan Draco.
"Trims," ucapnya singkat lalu mulai meminum coklat panasnya. Draco hanya mengangguk dan tersenyum.
"Ngomong-ngomong kau kenapa?" Draco memulai pembicaraan. "Tapi, kalau tidak mau bercerita, tidak apa-apa kok," tambahnya cepat-cepat kemudian meminum coklat panasnya—menyembunyikan kecanggungannya.
"Tidak..Tidak. Aku rasa, aku memang sedang butuh tempat berbagi sekarang," Hermione berkata dengan suara yang agak rendah. Merasa tertarik, Draco mencondongkan sedikit badannya untuk lebih dekat dengan Hermione.
"Ceritakan saja," ujarnya santai.
"Kau bisa jaga rahasia kan? Kau harus janji untuk tidak akan memberitahu hal ini kepada siapa-siapa," Hermione memastikan.
"Tentu saja, Granger. Kau tahu? Slytherin merupakan sosok yang pandai menyimpan rahasia. Percayalah," Draco mencoba meyakinkan. Hermione terlihat menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Ia menatap pemuda di hadapannya lekat-lekat.
"Sebenarnya ... ini semua karena ... Ron," Hermione mulai menjelaskan lamat-lamat dengan wajah menunduk lalu kembali menatap Malfoy junior dihadapannya. Sementara itu, Draco hanya mengangkat sebelah alisnya tanpa berkomentar. Ia membiarkan gadis itu untuk meneruskan ceritanya. "Aku tanpa sengaja melihatnya dengan Romilda," lanjut Hermione lagi.
"Vane? Maksudmu Romilda Vane? Gadis singa itu?" Hermione melotot ke arahnya, "Uh oh, mmh.. Maksudku Gryffindor," kata Draco buru-buru. Sementara itu, Hermione kembali membuka mulut hendak melanjutkan.
"Yah, kau benar. Romilda Vane. Gadis yang ditahun ke-enam kita dulu sempat memberikan amortentia kepada Harry, namun malah diminum oleh Ron," Hermione menggelengkan kepalanya mengingat peristiwa itu. "Dan tidak hanya itu, tadi aku mendengar Ron mengajaknya ke pesta dansa Minggu depan. Dan kau tahu bagaimana reaksinya? Ia terlihat sangat senang. Yah tentu saja, Ron sekarang sudah hampir seterkenal Harry. Jadi bukan tidak mungkin jika sekarang Romilda benar-benar tertarik padanya. Aku merasa begitu sakit hati. Sudah tak ada harapan bagiku untuk pergi bersama Ron. Dan Ron sepertinya memang tak pernah memandangku lebih dari sekedar sahabat," Hermione mendesah, berkata dengan nada pilu yang membuat Draco semakin tidak tega melihatnya. "Mungkin aku akan berpikir dua kali untuk datang ke pesta dansa. Aku tak mungkin pergi sendirian atau mungkin saja aku pergi bersama Cormac saja," Hermione menerawang. Sedetik kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi kurasa, aku tak berniat dengan pilihan yang kedua itu. Sepertinya... err— mengerikan," Hermione memegang keningnya, nampak frustasi.
"Granger, kupikir kau tak perlu sesedih itu. Masih banyak pemuda Hogwarts yang akan mengajakmu unt—"
"Tidak ada pemuda yang mau mengajak gadis keras kepala dan yang kata orang sok tahu seperti aku ini, Malfoy!" Potong Hermione dengan nada suara yang agak meninggi. Draco sedikit terperanjat dibuatnya. Namun buru-buru ia kembali menguasai keadaan. Ia menarik napas perlahan kemudian menghembuskannya.
"Sama sekali tak akan ada pria yang akan meng—"
"Kau salah, Granger. Buktinya, aku berniat untuk mengajakmu," ujar Draco spontan yang kemudian langsung menutup mulutnya sendiri dengan kaget—matanya agak membulat mendengar perkataannya sendiri barusan.
'Bodoh, bodoh. Benar-benar bodoh. Kenapa kau berkata seperti itu Draco? Setidaknya jika kau ingin mengajaknya, kau bisa menggunakan rangkaian kata lain yang lebih terdengar elit," rutuk Draco kesal dalam hati. Hermione memicingkan matanya menatap ke arah pemuda pirang dihadapannya. Mencoba mencari siratan kebohongan dari iris kelabunya yang menawan.
"Ku pikir kau sudah mengajak Parkinson atau mungkin Greengrass kecil itu," Hermione berasumsi—masih dengan kedua alis yang saling bertautan.
"Jangan bodoh, Granger. Aku tak mungkin mengajak Pansy lagi. Dia memuakkan. Dan siapa yang kau maksud dengan Greengrass kecil itu?" Kini giliran Draco yang menyipitkan matanya.
"Yah, kau tahulah. Aku membicarakan adik Daphne, teman Slytherin seangkatanmu," jelas Hermione.
"Maksudmu Astoria?" Hermione mengangguk. Draco tertawa pelan. "Asal kau tahu Granger, aku sama sekali tidak berniat untuk mengajaknya," kata Draco enteng.
"Kau serius? Tapi yang kudengar, kau akhir-akhir ini cukup dekat dengannya. Dan banyak yang bilang kalau dia menyukaimu, dan begitupun sebaliknya," Draco menatapnya horror untuk sesaat.
"Aku? Menyukai Astoria? Hahahaha, lucu sekali tebakanmu Granger. Itu tidak mungkin. Kalau tentang dia yang menyukai aku, yah memang benar sih. Tapi aku sama sekali tak punya perasaan apa-apa padanya," Draco menjelaskan sembari menyenderkan punggungnya ke sofa sambil menatap ke arah perapian.
"Yah, mungkin saja. Karena kuperhatikan, sepertinya akhir-akhir ini kau memang dekat dengannya," Draco menoleh. Detik berikutnya dia tersenyum, yang lama-kelamaan malah berubah menjadi seringaian menyebalkan.
"Kau memperhatikanku eh, Granger?" Goda Draco. "Hmm... Atau jangan-jangan kau cemburu yah?" Tambahnya lagi dengan nada menggoda yang lebih dibandingkan yang tadi. "Kau tenang saja, Granger. Aku tidak suka padanya kok," Draco kembali berkata sambil mengedip-ngedipkan sebelah matanya dengan genit—sangat tidak Malfoy. Hermione memukul lengan Draco, "Hey..hey! Jangan memukuli aku seperti ini, Granger! Aku hanya berkata sesuai fakta," Draco berkata kemudian kembali terkekeh. Hermione merutuki wajahnya yang tiba-tiba memanas mendengar perkataan Draco tadi. Ia berani bersumpah bahwa wajahnya sekarang pasti sudah semerah tomat, atau malah lebih parah—semerah rambut para Weasley mungkin? Oh tidak, itu tak boleh terjadi, batinnya.
"Percaya diri sekali kau Malfoy," cibir Hermione kesal, mengerucutkan bibirnya. Draco semakin terkekeh melihat ekspresi Hermione yang menurutnya lucu itu.
"Jadi, kau mau tidak? Kalau kau tidak mau sih, tidak apa-apa. Aku hanya ingin membantumu agar tidak malu karena tidak punya pasangan di depan Weasel bodoh itu nantinya," Draco beralibi. Ia melirik ke arah Hermione dari ujung matanya—tak ingin begitu kentara bahwa baru saja ia mengajak sang Putri Gryffindor tersebut untuk menjadi pasangannya nanti—sangat Malfoy—gengsi berlebihan.
Hermione terlihat berpikir sejenak sebelum memberi jawaban.
"Hmm, baiklah. Kurasa kau tidak cukup buruk dibandingkan Cormac," Draco mendengus sebal mendengarnya.
"Itu sudah jelas. Aku seratus kali lipat lebih baik, tampan, mempesona, dan menawan dibandingkan McLaggen itu," Hermione memutar bola matanya bosan mendengar perkataan Draco yang begitu narsis itu. Tapi pada akhirnya, ia malah tersenyum. Entah kenapa ia merasa perasaannya menjadi lebih baik setelah berbagi cerita dengan sang Malfoy muda itu. Yah, kalau ia mengatakan hal ini beberapa tahun yang lalu, tentu saja ia sendiri pun tidak akan percaya. Ia baru tahu kalau ternyata Draco memiliki sisi yang menyenangkan juga, pikirnya. Dan begitulah seterusnya, berbagai percakapan mengalir begitu saja diantara mereka berdua sampai-sampai mereka lupa untuk turun ke aula besar untuk makan malam. Untungnya, Narcissa mengirimkan banyak makanan kepada mereka beberapa hari yang lalu sehingga mereka tak akan lemas kelaparan atau malah merepotkan peri rumah untuk membuatkan makanan. Dan mereka sangat bersyukur akan hal itu.
-OoOoO-
"Err—Malfoy, aku—ak..aku minta maaf," ujar Hermione di sela-sela acara makan malam mereka di asrama ketua murid. Hermione berpikir bahwa Narcissa sungguh baik hingga mau mengirimkan sebegini banyaknya makanan untuk mereka—yah meskipun Hermione tahu, lebih tepatnya makanan itu dikirimkan untuk Draco sebenarnya, tapi toh ia kecipratan juga kan?
Ia masih memegang sebuah roti daging-anti basi—yang mau tak mau Hermione akui bahwa rasanya benar-benar lezat.
"Minta maaf untuk apa, Granger?" Draco kembali menggigit sandwich yang dipegangnya.
"Err—karena telah membasahi bajumu," ucap Hermione menunduk. Sekarang pandangan Draco turun—melihat ke arah bajunya. Ternyata ia baru sadar bahwa disana—di pundak kemejanya, masih terdapat bekas air mata Hermione. Basah. Namun anehnya ia sama sekali tak sadar akan hal itu. Untuk sesaat ia berhenti mengunyah sandwichnya.
"Oh, itu. Tak apa," Draco kembali mendongak dengan senyuman yang menempel indah di wajah pucatnya. Ia kembali memakan sandwichnya.
"Err—Granger, hmm ... anu," Draco menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Yah?" Hermione menghentikan aktifitas makannya sejenak. Menautkan kedua alisnya heran.
"Hmm, tidak ada. Lupakan," ucap Draco kaku.
Hermione menaikkan satu alisnya, kemudian kedua bahunya.
Menit-menit waktu berlalu dengan begitu sepinya. Membisu. Tidak ada yang berbicara. Detik-detik kecanggungan terjadi di antara mereka. Yang terdengar hanyalah suara remasan bungkusan makanan, dentingan piala berisi coklat panas yang saling beradu menjadi pemuas kehangatan bagi masing-masing sang empunya, serta derik-derik kayu bakar yang berangsur-angsur mulai pupus dilahap sang jago merah di dalam perapian.
"Pink eh, Malfoy? Bahkan aku tak tahu kalau kau single sekarang," ucap Hermione tiba-tiba. Yang tentu saja membuat Draco sedikit terkejut. Sementara itu, Hermione terlihat sedang berusaha menahan tawanya—tersenyum-senyum geli di tempatnya.
Damn!
Draco baru menyadari sesuatu. Yah, tidak salah lagi, pikirnya. Perlahan-lahan manik kelabunya menunduk memandangi sebuah sapu tangan berwarna pink cerah dengan beberapa sulaman bunga di tiap sisinya. Dan yang paling membuat Draco ingin mencelupkan dirinya ke danau hitam sekarang juga adalah tulisan—lebih tepatnya bordiran tebal—berwarna kuning terang di atas sapu tangan pink mencolok itu. Disana tertulis 'I am single happy ... And I am proud with it!'. Lengkap sudah rasa malu Draco terkuras karena sapu tangan norak itu.
"Err—emm, jangan salah menyangka dulu, Granger. Ini hanya pemberian dari Pansy, yang mau tak mau harus aku terima demi menyenangkan hatinya. Yah, hanya itu. Sama sekali bukan mewakili perasaanku sekarang. Dan kalau kau mau tahu, aku masih normal." jelas Draco dengan rona-rona merah samar di wajahnya. Ia merasa bahwa Hermione pasti mengira bahwa dirinya mungkin saja pecinta sesama jenis—dengan melihat sapu tangan dengan warna mencolok itu—sungguh teramat sangat tidak Malfoy. Yah, meskipun ia sendiri merasa bahwa sepertinya ia agak berlebihan jika mengira Hermione akan berpikiran seperti dirinya. Sekali lagi, Draco benar-benar tidk tahu mengapa hal sekecil ini pun tidak ingin membuatnya terlihat aneh di mata partnernya itu. Entahlah.
"Tenang saja, Malfoy. Aku tak akan menuduhmu menyukai sesama jenis kok," ujar Hermione tersenyum lebar—seakan dapat membaca pikiran Draco sebelumnya.
Draco hanya memandangnya dengan tampang cengo. Mulutnya sedikit terbuka—yang tentu saja sama sekali tak ia sadari.
"Tutup mulutmu, Malfoy," Hermione kini tertawa lepas di tempatnya duduk. Draco yang baru menyadari mulutnya yang terbuka, buru-buru mengatupkannya—dengan salah tingkah, kembali ia menggaruk belakang kepalanya yang sama seklai tidak gatal.
"Hmm, kau belum mengantuk, Granger?" Draco berusaha mengalihkan pembicaraan yang ia rasa terlalu memojokkan dirinya.
"Hmm, yah kurasa aku belum mengantuk, Mal—(hoaaaamm)," belum sempat Hermione melanjutkan kalimatnya, ia sudah kelepasan menguap—yang mau tak mau hal itu membuktikan bahwa ia memang sudah mengantuk.
Draco mendengus pelan. "Kau sudah mengantuk, Granger," katanya.
Hermione tertawa pelan. "Oh, maaf Malfoy. Ternyata aku mengantuk. Kupikir belum," kini ia tersenyum. Untuk sesaat, Draco seperti terhipnotis dengan senyuman menenangkan sang Putri Gryffindor itu.
'Meskipun dalam keadaan mengantuk seperti ini, ia terlihat masih tetap mempesona,' batin Draco tanpa sadar. Ia menatap intens ke arah bola mata hazel milik gadis di hadapannya itu (tadinya mereka duduk bersebelahan di sofa depan perapian).
Draco mendekatkan wajahnya ke wajah Hermione. Hermione merasakan jantungnya akan meluncur—saking kencangnya jantungnya berpacu sekarang. Posisi mereka sudah sangat dekat. Bahkan dalam jarak yang sedekat ini, Hermione bisa mencium aroma mint menyegarkan yang menguar dari deru napas Draco. Wajahnya memanas seketika.
Sedikit lagi, hanya menyisakan beberapa centi lagi untuk menghilangkan celah di antara mereka. Hermione sudah tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bahkan hidung mereka sudah nyaris bersentuhan! Merlin!
Sedikit lagi ...
Lagi ...
Yah ...
Lagi ...
Dan ...
'to, tok, tok,' tiba-tiba seuah suara ketukan berhasil membuat sepasang ketua murid itu tersadar. Draco buru-buru menjauhkan wajahnya dari wajah Hermione. Mereka sama-sama merona merah. Draco nampak salah tingkah sekarang—begitupun Hermione yang kini lebih memilih untuk memperhatikan lantai asrama ketua murid—seolah-olah itu merupakan hal yang sangat menarik untuk dipandangi sekarang.
"Hmm, kurasa itu Grays. Aku mau lihat dulu," ucap Draco kaku, beranjak dari posisinya menuju ke jendela besar sebelah kanan asrama ketua murid.
'Untuk pertama kalinya, aku benar-benar harus mengatakan bahwa Grays benar-benar bodoh!' rutuk Draco kesal sambil berjalan menuju jendela. Ia melihat Grays yang sudah berada di tepi jendela. Ia membawanya masuk dan memberinya sedikit crackers. Setelah itu, ia mengambil bungkusan –lumayan besar— yang dibawa burung hantu abu-abu peraknya itu. Ia mengangkat sebelah alisnya heran.
-OoOoO-
"Granger, maaf membuatmu menunggu. Aku tak tahu apa yang dikirimkan mum hingga menyuruh Grays mengantarkannya malam-malam be—" ucapan Draco terputus.
"Granger," panggilnya pelan.
"_"
Granger," lagi.
"_" masih tak ada jawaban. Ia menunduk untuk melihat partnernya itu.
"Sudah tidur ternyata," gumamnya. Sekarang Draco bingung harus melakukan apa. Bagaimana sebaiknya? Ia tinggalakan sajakah Hermione disini sendirian? Hmm ... Tidak .. Tidak ... Itu bisa dibilang kejam. Meninggalkan seorang gadis di ruang rekreasi asrama sendirian dengan cuaca dingin seperti ini. Akhirnya setelah ia berpikir cukup lama, ia memutuskan untuk membawa Hermione ke kamarnya saja. Ia menggendong partnernya itu ala bridal style menaiki tangga menuju kamar sang murid perempuan.
Ia membaringkan Hermione di atas ranjangnya dengan perlahan. Diambilnya selimut merah hangat dan di balutkannya pada tubuh Hermione yang kini sudah tertidur pulas. Lama Draco mengamati wajah tenang itu, sampai akhirnya ia tak sadar bahwa ia tersenyum karenanya. Dan entah apa yang terjadi selanjutnya. Yang jelas sekarang bibir dingin Draco sudah menempel lembut di kening Hermione.
"Selamat malam, Granger," ujarnya sebelum menutup pintu kamar Hermione—melangkah keluar dengan wajah yang dihiasi senyuman menawan.
-To Be Continued-
-OoOoO-
Yupp! Chapter 7 is done \(^o^)/ ... Gimana? Gimana? Ah maaf banget yah kalau chap ini ngk memuaskan dan scene DraMionenya kurang romantis .-.
Jujur, Loony gal pede banget buat update chapter ini hehe ... Tapi Loony harap semoga kalian masih suka dan tetep setia mau baca :) hehe ... Oke, berikut balasan reviewnya :
Fressia Athena :
Well, ini chapter 7 nya udah update :) moga masih suka yah ... hehe maaf yah kalau chap sebelumnya kependekan. Yg ini gimana? XD ... Review lagi?
R. Jack Skelenton :
Hehe gitu yah? Bagaimana dgn chap ini? Maaf klo masih kurang memuaskan XD ... Review lagi?
Ochan Malfoy :
Haha si Ochan keliatan greget banget nih sm si Pansy? Wkwkwk ... Ini chapter 7 sudah update (full Dramione scene o_O XD) ... Review lagi?
Ladyusa :
Haha iya gpp kok :) hmm, ntar deh diliat. Tunggu aja chap berikut2nya :D *plakk ... Review lagi? XD ...
Guest :
Penasaran? Ini udah update ... Baca terus yah XD ... Review lagi?
Christabelicious :
Hehe iya ... Ini gimana? Apa romance udah agak berasa? *plakk XD ... Review lagi? *pelukciumkembali utk christa* :)
Naomi Averell :
Ah iy gpp kok hehe ... Penasaran? Ini udah update chap 7 nya:) ... Review lagi? XD
Neemarishima :
Hehehe iya maaf yah, apakah chap ini udah kembali panjang? *plakk ... Moga kmu masih suka yah sama ceritanya :) Review lagi?
munadyah said:
Hehehe ... gitu yah? Masa? Haha ... Jadi tersipu aku *plakk XD ... Ini gimana? Review lagi? Wkw.
Melia Tsuzumi Taoru :
Hmm, maaf yah hehe ... Gimana dgn chap ini? .-. semog gak terlalu buruk yah XD ... Review lagi? :)
Ah terima kasih banyak semuanya, yg masih sempat menyempatkan diri utk mereview cerita saya ini. Jujur, author sangat senang dgn review-review kalian. Semoga chap ini tidak begitu buruk yah XD *ngumpet di bawah jubah gaib* Eh? Haha abaikan. Loony harap kalian masih senang dgn cerita ini, sekali lagi terima kasih yah yg udah review, favs, dan follow :) Dan yg selama ini jdi silent reader, review sekali2 boleh dong? ^^ XD ... Oke, bye.
(klo masih ada beberapa typo atau penulisan yg kurang rapi, sy mohon maaf … Bener2 gk sempet ngedit ulang soalnya XD) …
See u in the next chapter ^^
Salam,
Miss Lovegood.
