Disclaimer :
Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling, but all of idea in this fict belong to me :)
Pairing :
Draco Malfoy dan Hermione Granger
Genre :
Romance, Hurt/Comfort
Rated : T (teen)
Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts
Warning : Typo(s) maybe, bahasa mungkin berantakan, alur sengaja dilambatin supaya feelnya makin dapet hehe... Agak OOC mungkin dan lain sebagainya...
|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|
.
.
.
My Blood is Ferret
Chapter 8
(Bad Feel)
"Malfoy, cepatlah sedikit," Hermione berteriak sambil mondar-mandir di depan pintu kamar Draco.
"Tunggu sebentar, Granger!" Draco balas berteriak dari dalam kamarnya. Tak lama kemudian sosok pirang platinum terang itu akhirnya muncul juga dihadapan Hermione.
"Kau ini lama sekali, waktu dandanmu seperti perempuan saja," Hermione menggerutu, melipat kedua tangannya di dada.
"Granger, .dandan. Aku hanya merapikan sedikit rambutku," Draco berkata lambat-lambat dengan penekanan di kalimat 'aku tidak dandan'. Hermione memutar bola matanya.
"Sama saja bodoh,"
"Hey, tentu saja tidak. Dan satu lagi, .bodoh, berang-berang!" Giliran Draco yang menggerutu.
"Oh yah, ferret?" Balas Hermione sengit dengan nada mengejek. Baru Draco akan membuka mulutnya untuk meluncurkan kalimat balasan yang lebih pedas ketika Hermione sudah menyelanya duluan sambil menaikkan satu tangannya ke arah Draco. "Stop Malfoy. Aku tidak mau tenagaku di pagi hari yang cerah ini terkuras habis hanya karena beradu mulut denganmu. Dan satu hal lagi, sebaiknya sekarang kita segera ke aula besar. Karena kurang lebih satu jam lagi, kita akan ke Hogsmeade untuk mengawasi murid-murid yang melakukan kunjungan," jelas Hermione panjang lebar.
"Yah, aku tahu Granger," jawab Draco malas. 'Gadis menyebalkan', tambahnya dalam hati. Seiring dengan perkataan Draco itu, mereka pun melangkah meninggalkan asrama ketua murid dan segera sarapan di aula besar sebelum berangkat ke Hogsmeade.
-OoOoO-
"Hei, Mione!" Teriak Ginny sambil melambai riang ke arah Hermione yang baru saja muncul dari pintu masuk aula besar. Ia menepuk-nepuk tempat disampingnya, pertanda menyuruh Hermione agar duduk disana. Dengan senyum mengembang, Hermione pun turut tersenyum senang dan kemudian bergabung dengan sahabatnya itu. Namun, tiba-tiba saja senyumnya menghilang ketika melihat pemandangan di seberang tempat duduknya. Dihadapan Ginny, ada Harry disana. Dan disamping Harry ada... Coba kalian tebak? Yah, Ronald Weasley. Dan yang membuat Hermione sangat muak adalah kehadiran Romilda Vane disampingnya yang bergelayut manja sambil sesekali meminta untuk disuapi Ron. Sungguh Hermione merasa mual melihat tingkah mereka. Jujur, tiba-tiba saja perasaannya bagai terbakar. Hatinya begitu perih, tapi sekuat tenaga ia coba untuk sembunyikan dibalik senyum palsu yang tersungging paksa dari bibirnya. Harry mengerti dengan keadaan Hermione. Karena ia tahu perasaan yang sebenarnya dari sahabat perempuannya itu kepada sahabat berambut merahnya. Ia juga turut menyesal akan sikap Ron yang tak pernah memandang Hermione lebih dari sekedar sahabat. Dan Ginny pun sangat menyayangkan kebodohan kakaknya itu yang begitu tidak peka mengenai masalah perasaan perempuan. Harry menatap Hermione simpati, kemudian ia sedikit mencondongkan badannya ke depan sembari berbisik pelan dengan raut wajah khawatir.
"Kau baik-baik saja, Hermione?" Tanya Harry.
"Ya, seperti yang kau lihat, Harry," Hermione berusaha untuk tersenyum sebisanya. Ginny turut menatapnya cemas. "Jangan menatapku seperti itu, Gin. Sungguh, aku baik," lagi-lagi Hermione mengulum senyum mirisnya.
Harry kembali terduduk di tempatnya. Ron menatap heran melihat ekspresi Harry, sepertinya tidak menyadari apa yang dilakukan Harry tadi—mencondongkan badannya ke arah Hermione. Kemudian pandangannya berganti menatap kedepan.
"Oh, hai 'Mione! Kenapa kau baru bergabung? Kita sudah daritadi disini. Benar kan, Milda?"
'Hah? Milda katanya?' Hermione meneguk ludah dengan kasar mendengar panggilan baru Ron itu terhadap gadis yang merupakan adik tingkatnya tersebut. Romilda mengangguk semangat kemudian tersenyum malas memandang Hermione. Ginny mendengus kesal.
"Hermione sudah disini sejak tadi, Ron! Kau saja yang sangat sibuk bermesraan!" Rengut Ginny ketus dengan sedikit nada sinis terselip didalamnya—menggantikan jawaban Hermione. Tapi ternyata Ron tidak merasa bersalah sama sekali.
"Benarkah itu, Hermy?" bukannya menanggapi perkataan adiknya, Ron malah kembali bertanya dengan wajah innocent-nya yang—mau tak mau—membuat Hermione semakin ingin untuk menonjoknya tepat di hidung. Bahkan lebih keras dibanding ketika ia menonjok Draco Malfoy di tahun ketiganya dulu.
"Hmm, maaf guys." Hermione angkat suara. "Aku harus segera bergegas. Sebentar lagi, ada kunjungan Hogsmeade siswa tahun ketiga. Aku duluan yah," Hermione merapikan mantelnya kemudian segera berlalu tanpa menggubris pertanyaan bodoh seorang Ron Weasley. ("Hey, tapi Mione, kau belum menghabiskan makananmu!"Terdengar teriakan protes dari Harry—Hermione hanya berbalik tersenyum menanggapi, kemudian melesat keluar dari aula besar).
"Kenapa dia? Aneh sekali," Ron mengernyit heran. Sementara Ginny dan Harry hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Tidak peka. Sangat-sangat tidak peka. Yah, itulah yang dipikirkan sepasang kekasih itu atas sikap bodoh Ron.
Hermione keluar aula besar sedikit terburu-buru dengan wajah muram. Setitik kesedihan dan kekecewaan bisa terlihat jelas dibalik manik hazelnya yang indah. Tanpa disadarinya, sepasang atensi kelabu ternyata mengamatinya sejak tadi. Tak lama setelah perginya Hermione, Draco pun ikut berdiri dan segera meninggalkan aula besar sambil berlari-lari kecil untuk mengejar ketinggalannya. Theo dan Blaise hanya saling memandang bingung dan menyodok dengan sikut satu sama lain, tapi untuk kali ini mereka lebih memilih untuk tidak berkomentar apa-apa. Dan diam-diam Draco merasa bersyukur akan hal itu, dan juga karena si kelelawar tua yang sedang tak ada disana. Kalian tahu siapa maksudku? Hmm siapa lagi kalau bukan Parkinson cempreng itu, yang pastinya akan banyak bertanya ini dan itu.
-OoOoO-
"Mmh, Granger," Draco memecah kesunyian yang terjadi—Hermione berjalan di depannya. Mereka sudah selesai menyelesaikan tugas—mengawasi kunjungan murid tahun di ketiga Hogsmeade. Keping-keping heksagonal satu persatu jatuh mengenai kepala pirangnya yang tak tertutupi apapun. Memasuki pertengahan bulan September, sepertinya salju turun lebih awal.
"Hn," hanya itu yang dikatakan Hermione tanpa menoleh sama sekali sambil masih terus berjalan menapaki gumpalan salju tebal yang memenuhi ruas jalanan. Pandangannya lurus ke depan, tatapannya kosong. Kedua tangannya yang terbungkus rapi dengan sarung tangan ia masukkan ke dalam saku mantelnya yang hangat. Wajahnya masih muram sejak tadi. Mungkin gara-gara Weasel bodoh itu, pikir Draco.
"Dingin yah," Draco berkata lagi sambil melirik partner disampingnya. Melihat tak ada respon, maka ia kembali melanjutkan setelah berdeham sebentar. "Kurasa, meminum butterbeer hangat di Three Broomstick tak ada salahnya,"
Kali ini perkataannya berhasil membuat Hermione untuk berbalik menatapnya. Satu alisnya terangkat dengan ekspresi aneh. Jujur, Draco sedikit harap-harap cemas menyaksikan ekspresi Hermione yang sulit diartikan itu. Apakah dia akan menolak? Oh tidak, jangan. Ajakan seorang Malfoy belum pernah ditolak, -ralat- maksudku tidak pernah ditolak. Namun sepersekian detik berikutnya, hal yang tak disangka-sangkanya terjadi. Hermione tersenyum tipis lalu kemudian berkata, "Well, kurasa bukan ide yang buruk, Malfoy."
Draco bernapas lega mendengar respon Hermione itu. Sayangnya hal itu tak bertahan lama, karena sekarang napasnya terasa sesak. Pasalnya, dengan tak diduga-duga, Hermione tiba-tiba saja menggamit tangannya dan menariknya sampai ke Three Broomstick. Draco dapat merasakan jantungnya yang tak berdetak normal, berpacu dua kali lipat dari biasanya. Sejenak Draco membulatkan matanya menatap lengannya yang digamit riang oleh Hermione. Secepat itukah mood gadis ini berubah? Ia bertanya dalam hati.
-OoOoO-
Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai ke Three Broomstick dan mencari tempat yang masih kosong. Kebetulan, tempat yang berada disamping jendela lah yang merupakan satu-satunya meja tak berpenghuni saat itu. Dengan segera Hermione menarik lengan Draco untuk menuju kesana dan memesan dua gelas butterbeer hangat. Hermione memandang ke luar. Sekilas pemandangan diluar sana mengingatkan Hermione dengan cerita muggle kesayangannya dulu semasa kecil—Snow White.
Tempat yang lumayan bagus, pikir Hermione. Tentu saja, jendela akan banyak membantumu untuk memandangi pemandangan diluar yang dipenuhi salju-salju yang tak henti-hentinya turun seiring dengan orang yang berlalu lalang—atau hey, lihat anak-anak itu yang dengan riangnya bermain lempar bola salju. Tiba-tiba saja ia tersenyum mengingat masa-masa dulunya dengan Harry dan Ron yang sangat suka bermain salju bersama. Namun, tiba-tiba saja hatinya mencelos ketika mengingat sekarang sudah begitu banyak hal yang berubah. Termasuk sahabatnya sendiri, Ron. Yah, meskipun ia menyimpan perasaan terhadap Ron, tapi jujur ia tak akan keberatan jika saja Ron mau untuk meluangkan waktunya untuk sahabat-sahabatnya lagi seperti masa-masa dulu—seperti di tahun-tahun awal mereka. Hermione tersenyum miris mengingat fakta bahawa kini sahabat sekaligus orang yang disukainya itu sudah memiliki seseorang yang jauh lebih penting dan berharga dibanding dirinya. Lamunan Hermione terhenti ketika sebuah suara menginterupsinya.
"Sampai kapan kau mau melihat ke luar jendela terus, Granger? Kau tahu, pesananmu sudah datang beberapa menit yang lalu," Draco mendengus pelan.
"Ah? Eh? Mmh, maaf.. Maksudku benarkah?" Hermione sedikit salah tingkah.
"Sebegitu tidak jelasnya kah pernyataanku?" Bukannya menjawab, Draco malah balik bertanya. Hermione memerah malu. Untuk menyembunyikannya, dengan segera ia mengambil butterbeer dihadapannya dan meminumnya asal—nyaris tanpa minat. Draco mengamati gerak-gerik Hermione kemudian berusaha memulai pembicaraan.
"Sudah baikan?" Cetus Draco tiba-tiba. Hermione mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi pertanda bingung.
"Eh? Aku..aku..Yah aku sempurna. Kabarku baik. Sangat baik," Hermione berkata agak gugup yang dengan segera ia rutuki dalam hati.
"Bukan kabarmu, Granger. Tapi keadaanmu yang aku tanyakan," Hermione mngernyit bingung mendengar ucapan pemuda pirang dihadapannya itu.
"Maaf?" Ia menyipitkan matanya. "Kurasa kau cukup cerdas Malfoy untuk mengetahui letak kesamaan atas kabar dan keadaan," Hermione memutar bola matanya. Sementara Draco hanya menyeringai.
"Dan kukira kau juga cukup cerdas Granger untuk tidak melamun dan berwajah muram ketika kau menganggap bahwa keadaanmu sedang baik-baik saja, oh tidak maksudku sangat baik katamu," Draco kembali menyeringai ketika melihat Hermione membuang muka dengan dihiasi rona merah dimasing-masing pipinya. "Sehat dari segi fisik dan batin itu berbeda, Granger," lanjut Draco lagi.
"Apa pedulimu?" Hermione berkata tanpa memandang Draco sedikitpun.
"Well, tak usah berpura-pura kua. Aku tahu, se-maskulinnya pun kau, tetap saja kau ini adalah seorang perempuan yang kadang bisa merasa rapuh," Hermione mendelik ke arahnya ketika ia mendengar kata 'maskulin' meluncur dari bibir Draco. 'Memang dia pikir aku ini lelaki?' Rutuknya kesal.
"Kau tak tahu apa-apa tentangku. Dan satu lagi, kutekankan padamu ferret. . ! Jadi berhenti menyebutku dengan sebutan maskulin!" Hermione berkata sebal –menekankan setiap kata-katanya— sambil melipat tangannya di dada dan sedikit mengerucutkan bibirnya kedepan. Draco tergelak menyaksikan ekspresi Hermione itu.
"Siapa bilang aku tak tahu? Tentu saja aku tahu. Aku ini kan si 'Tuan-Tahu-Segala'. Memangnya kau saja yang bisa jadi 'Nona-Tahu-Segala, eh?" cibir Draco. Aku tahu, Granger kalau kau ini sedang kesal dengan Weasel merah itu," Hermione memandanginya heran. 'Darimana ia tahu?' Batinnya. "Tak usah memandangku seperti itu, Granger," Draco mendengus sebal. Hermione terlihat berusaha mengatur napasnya. Tarik, hembuskan. Tarik, hembuskan, dan begitu seterusnya sampai lima kali. Draco mengernyit.
"Kau sedang apa, Granger?" 'Sepertinya tak apa jika aku sedikit membagi masalahku dengan Malfoy. Lagipula kan, bukannya dia sudah tahu yang sebenarnya tentang perasaanku terhadap Ron? Bahkan aku sudah pernah bercerita padanya. Jadi apa salahnya?' Hermione bergulat dengan pikirannya sendiri. Sekali lagi ia menarik napas panjang kemudian mengehembuskannya perlahan. Sementara Draco masih setia menunggunya untuk berbicara.
"Kurasa kau benar, Malfoy. Yah ini memang karena Ron," Hermione memulai dengan wajah menunduk. Kali ini Draco terlihat lebih serius daripada sebelumnya.
"Menurutku, Weasel bodoh itu akan menyesal nantinya," Draco mencoba membangkitkan kembali semangat gadis didepannya itu. Meski ia sendiri tak yakin dengan cara ia menyampaikannya.
"Karena apa?" Hermione mendongak, kembali bertanya.
"Karena telah menyia-nyiakan wanita istimewa sepertimu," Draco berkata refleks dan dengan spontan membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. Ia tak henti-hentinya menyumpahi dirinya. Merutuki kebodohan bibirnya, hingga kata-kata tabu seperti itu bisa meluncur begitu saja dari sana. Di wajahnya yang pucat, nampak rona-rona samar yang tentunya sangat jarang terlihat dan terjadi bagi seorang Malfoy. Hermione menatapnya tak percaya, cukup terkejut sebenarnya dengan ucapan Malfoy junior itu. Ia mencoba mencari setitik kebohongan di netra kelabu pemuda itu. Nihil. Ia tak menemukannya. "Mmh, maksudku. Mmh well, tentu saja dia akan menyesal karena telah menyia-nyiakan sahabat terbaiknya," Draco terlihat salah tingkah, ia menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sama sekali tak gatal. Hermione yang juga merasa gugup, tak tahu ingin berkata apa. Akhirnya ia lebih memilih untuk kembali menyeruput butterbeernya yang sudah tak hangat lagi dengan terburu-buru karena perasaannya yang tiba-tiba juga menjadi tak karuan.
Tanpa diduga sebelumnya, tiba-tiba saja Draco mencondongkan badannya ke depan dan mengusap bibirnya perlahan. Hermione memerah malu ketika menyadari bahwa akibat dari cara meminum butterbeernya yang terburu-buru itu meninggalkan noda di sekitar pinggiran bibirnya. Untuk sejenak, ia hanya melemparkan pandangan tak percaya ke arah sang Malfoy muda itu yang malah menatapnya hangat dan penuh kelembutan. Hermione berani bersumpah bahwa ini yang pertama kalinya ia melihat tatapan Draco sehangat dan selembut itu kepada seorang wanita. Bahkan Pansy Parkinson sekalipun.
Hermione's POV
Ah, seperti aku sering memperhatikan Malfoy saja. Barangkali saja sudah ratusan gadis yang ia perlakukan seperti ini tanpa sepengetahuanku, tentu saja. Hey! Kenapa aku tiba-tiba berpikiran seperti ini? Aku—iri? Atau—cemburu? Oh, hell no Hermione! Tidak mungkin. Sangat tidak mungkin. Tapi apa yang tidak mungkin di dunia ini? Oh berhentilah kau benak sialan! Berhentilah berbicara padaku seakan-akan aku ini memang benar-benar berharap untuk seorang Draco Malfoy! Sekali lagi tidak. Oh apa yang ku lakukan? Berbicara dengan benakku sendiri? Memaki pikiran sendiri? Orang-orang pasti menganggapku tak waras jika tahu hal ini. Oke Hermione, rileks. Bernapaslah sekarang seperti sebelum-sebelumnya kau bernapas. Jangan sesak seperti ini. Oke, kita coba. Tarik...hembuskan. Sekali lagi, tarik...hembuskan. Jujur aku merasa masih sesak dengan jarak yang sedekat ini dengan Malfoy. Dengan begini, aku bisa dengan leluasa memandangi setiap lekuk-lekuk wajahnya yang baru aku sadari ternyata menawan. Baiklah, maksudku sangat menawan. Oke, oke. 'Sangat-sangat me-na-wan'. Aku bersumpah akan mengutuk diriku sendiri jika sampai ada orang yang membaca pikiranku saat ini. Huh, entah sudah berapa lama kami dalam posisi seperti ini. Wajahnya berada begitu dekat dengan wajahku. Bahkan aku bisa merasakan tiap hembus napasnya yang sangat menenangkan itu. Seketika indera pencimanku dipenuhi dengan aroma mint yang menguar dari tubuhnya. Sebenarnya aku malas mengakuinya, tapi sungguh—sepertinya aku suka aroma itu. Kumohon jangan paksa aku untuk mengulangi kalimatku tadi, dan tolong jangan anggap aku gila karena telah mengatakannya. Tenanglah, Hermione. Ini hanya ferret Malfoy. Kau tak perlu sampai setegang ini untuk menghadapinya. Tapi, dia benar-benar sa—
'Ckrekk'
Hey! Suara apa itu barusan? Tiba-tiba saja seberkas cahaya menyilaukan membuyarkan pikiranku seiring dengan berlalunya suara aneh yang aku belum tahu entah apa itu. Seketika aku berbalik ke arah jendela—sumber cahaya tersebut berasal bersamaan dengan Malfoy yang juga mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela—sama sepertiku. Dan coba tebak apa yang aku dapat? Disana, aku melihat dengan jelas Rita Skeeter sedang tersenyum penuh kemenangan bersama seorang juru kamera yang selalu setia disampingnya. Merlin! Apa yang terjadi? Tamatlah aku! Sejenak, aku langsung melirik Malfoy dihadapanku yang ternyata juga melakukan hal yang sama sepertiku. Ia kemudian menatapku horror dan begitupun dengan diriku yang juga menatapnya demikian. Kalian tahu dimana letak hal terburuknya? Tentu saja hal terburuknya adalah karena gambar yang diambil Skeeter adalah ketika Malfoy masih mengusap bibirku pelan dengan pandangan yang—oh, mungkin kalian sudah tahu bagaimana tepatnya. Bisakah aku panik sekarang? Jawabannya, tentu saja. Yah, aku panik!
Tak ada yang bisa aku lakukan selain menjeduk-jedukkan kepalaku ke meja—terkejut sekaligus bercampur frustasi. Hah, aku benar-benar tidak menyukai Rita –kumbang sialan- Skeeter itu!
Kumohon seseorang, bunuhlah aku sekarang.
-To Be Continued-
-OoOoO-
|Pojok Author|
.
.
Terimakasih buat yg masih setia membaca dan meninggalkan jejak reviewnya untuk MBiF :)
Balasan review :
Fressia Athena :
Makasih reviewnya. Hehe baguslah klo kmu suka chap yg kemaren :) Hmm, pesta dansanya? Sepertinya di chap 11 deh nanti XD (jgn tabok author karena pestanya kelamaan wkwk) ... Ini chap 8 udah update, review lagi? :)
christabelicious :
Makasih semangatnya sista :) ini chap 8nya udah update. Draco kelembutan yak? Ahhaha yaudah ntar dikerasin(?) deh kayak kayu *eh? (ditendang Draco) wkwk~ ah ngk deh bcanda. Draco kan dsini udah mendingan sifatnya, jd yah gitu deh XD *angkat bahu... Review lagi? :)
Guest :
Ahaha iy sayang banget yah, dikit lagi padahal XD, siapa sih authornya? . *ditendang readers wkw~ ... Isi paketnya? Tunggu aj di chap2 selanjutnya XD. Ini chap 8 sudah update :) Makasih yah sudah review :) review lagi?
BlueDiamond13 :
Makasih udah nyempetin buat review :) iy, gpp kok ^^ ... Ini udah dilanjut :), review lagi? XD.
Neemarishima :
Wah makasih yah Neemarishima :) Iya nih dikit lagi nyampe padahal . *lah yg nulis siapa? hehe, ini chap 8 udah update, moga tetep suka yah XD ... Review lagi? :)
Ladyusa :
Jiah manis kayak gula? Wkw ... Wah pantes banyak semut di lepi author *eh? ... Pesta dansanya di chap 11 kayaknya (tp kiss nya mungkin ad di chap sebelumnya *eh author keceplosan XD). Iy ini udah update kok, makasih yah reviewnya :) review lagi?
Naomi Averell :
Iya gpp kok telat, yg penting tetep review XD *plakk ... Hehe, makasih yah naomi udah review (mekipun telat, Loony ttep seneng kok XD). Ini chap 8 sudah update, review lagi? :)
Juliette Apple :
Makasih atas review dan semangatnya sista :) *seneng deh Julie bisa mampir XD ... Review lagi?
Ochan Malfoy :
Hehe makasih yah Ochan udah review lagi :) Iya doain aja biar gk ada penghalang PDKT mereka XD *plakk ... bagus deh kalo chap kemarin bisa bikin Ochan seneng wkwk~, ini udah update. Review lagi? :)
Guest :
Iya, ini udah update :) Maksih yah reviewnya ... Review lagi? XD
P.S : Wah ada dua org yg review dgn pen name 'Guest' :O apakah orgnya beda? XD.
Ryoma Ryan-Le Renard Roux :
Haha Draco emg manis kik kayak gula *eh? Hmm, makasih yah sudah review :) Ini chap 8nya udah update, review lagi? XD ...
PL Therito (PMnya sekalian jawab sini yah ttg MBiF ini XD) :
Makasih Therito udah ngikutin MBiF sampai sejauh ini :) *meskipun sy baru tahu loh klo kmu ngikutin hehe ... Ini chap 8nya sudah update ... Mind to review? XD ...
Terimakasih yah bagi semuanya yg udah baca apalagi sampai mereview fict ini, author senang dgn review2 kalian :) (bikin author semangat nulis dan lanjutin cerita DraMione lainnya yg masih nunggu giliran publish di lepi XD) ... Keep smile guys ... Keep read and review too XD ..
~see u in the next chapter :)
Salam,
Miss Lovegood.
