Disclaimer :

Semua tokoh dalam fict ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling, but all of idea in this fict belong to me :)

Pairing :

Draco Malfoy dan Hermione Granger

Genre :

Romance, Hurt/Comfort

Rated : T (teen)

Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts

Warning : Typo(s) maybe, bahasa mungkin berantakan, alur sengaja dilambatin supaya feelnya makin dapet hehe... Agak OOC mungkin dan lain sebagainya...

|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|

.

.

.

My Blood is Ferret

Chapter 9

(Gossip)

Draco memanjat masuk lewat lubang lukisan setelah ia mengucapkan kata sandinya. Ia berjalan santai sembari bersiul merdu. Perutnya terasa kenyang sekarang, setelah menghabiskan makan malamnya di aula besar. Namun langkahnya terhenti pada satu titik yang memacu rasa penasarannya. Yah, tepat di sofa depan perapian seorang gadis tengah duduk gusar sembari menopang kepalanya dengan tangannya yang bersender di lengan sofa merah itu. Gadis itu terlihat memijit-mijit pelipisnya—sepertinya ada masalah. Sangat berbanding terbalik dengan sikap cerianya di aula besar tadi.

Dengan segera Draco menghentikan siulannya dan mulai berjalan ke arah partnernya itu, kemudian duduk tepat disampingnya. Namun sepertinya sang ketua murid putri sama sekali tak menyadari kehadirannya. Matanya terpejam—seakan ia benar-benar dalam kekalutan luar biasa. Merasa tak ada tanda-tanda pergerakan lain dari Hermione –selain memejamkan mata, menarik napas, membuang napas, memijit pelipis—, maka Draco membuka suara.

"Kau kenapa, Granger?" Tanya Draco. Namun yang ditanya masih diam—masih larut dalam aktifitas kalutnya itu.

"Granger, aku berbicara padamu," Draco berkata lagi. Namun lagi-lagi reaksi Hermione masih sama. Tidak ada respon. Draco merasa agak kesal karena perkataannya masih tak digubris.

"Grangeeeeeeerrr!" Draco tiba-tiba berteriak, tepat di telinga partnernya. Sontak Hermione langsung terjungkal kaget.

"Draco! Kau mengagetkanku! Sejak kapan kau disini, huh? Kau tahu? Kalau aku sampai terkena penyakit jantung bagaimana? Oh, aku tidak bisa membayangkan hidupku nantinya jika jantungku menjadi lemah dan sulit berkontraksi sehingga aku ter—"

"Kau cerewet sekali, Granger," Potong Draco sambil mengernyitkan hidungnya. Hermione memutar bola matanya.

"Terserahmu. Tapi bisakah kau jelaskan padaku untuk apa kau berteriak tepat di telingaku hingga membuatku kaget setengah mati, huh?" Hermione menyipitkan matanya menatap pemuda pirang yang tengah duduk di sampingnya. Kini giliran Draco yang memutar bola matanya disertai dengan dengusan yang cukup keras.

"Hello? Granger, kau bertanya padaku mengapa aku berteriak tepat di telingamu?" Bukannya malah menjawab, Draco malah balik bertanya. "Aku sudah mencoba berbicara padamu beberapa kali. Tapi kau tak menghiraukanku," jelas Draco bersungut-sungut.

"Eh? Maaf, aku tak dengar," Hermione berkata malu-malu dengan sedikit menunduk.

"Nah, itulah sebabnya mengapa aku harus sampai berteriak padamu," ujar Draco. "Memangnya ada apa denganmu? Ada masalah, eh?" Draco kembali bertanya. Kini Hermione mendongak menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Lebih dari sekedar masalah, Malfoy," gumamnya pelan. Hermione menghela napas, kemudian ia meraih sebuah koran di atas meja lalu menyodorkannya ke arah Draco. Draco mengangkat sebelah alisnya, namun tak urung ia menerima koran itu—Daily Prophet.

Betapa terkejutnya Draco begitu melihat koran yang tengah dalam genggamannya sekarang. Iris kelabunya melebar melihat fotonya bersama Hermione di Hogsmeade kemarin terpampang besar di halaman depan Daily Prophet. Kini ia mulai mengerti alasan mengapa Hermione begitu gusar. Ditambah lagi dengan scene gambar di foto tersebut. Draco baru menyadari bahwa ternyata posisi mereka saat itu begitu dekat. Wajahnya dan wajah Hermione tinggal berjarak beberapa senti lagi. Dan sebelah tangannya nampak memegangi bagian wajah Hermione (yang Draco sadari bahwa itu ketika ia membersihkan sisa butterbeer di bibir partnernya itu). Pandangan mereka terlihat begitu menyatu dan—hangat, layaknya pasangan yang sedang di mabuk asmara. Draco tak menyangka bahwa jadinya akan seperti ini. Maksudku, coba perhatikan gambar itu dengan seksama. Pasti kalian juga akan berpikir bahwa mereka akan melakukan—yah, kurasa kalian tahu apa.

Setelah puas mengamati foto yang bergambar dirinya –serta Hermione— itu. Kini mata Draco mulai menyusuri kata demi kata yang tertulis disana. Mula-mula ia membaca judulnya –yang ditulis dengan font super besar— yang serta merta langsung membuatnya kembali mengernyitkan hidungnya.

Daily Prophet

Apakah ini Akhir dari Petualangan Asmara dari Seorang Pewaris Tunggal Tahta Kerajaan Bisnis Malfoy?

Pewaris tunggal kerajaan bisnis Malfoy, Draco Lucius Malfoy(19) kemarin sore dipergoki sedang berkencan dengan seorang gadis yang dikenali sebagai salah satu dari Trio Golden Gryffindor—Pahlawan Dunia Sihir, Hermione Jean Granger(19).

Draco menghentikan aktifitas membacanya sejenak, sekarang ia berpaling memandang Hermione. "Kau masih 19 tahun, Granger? Setahuku kita lahir di tahun yang berbeda," kata Draco sedikit penasaran masih dengan wajah polosnya yang menghiasi mimik pucatnya. Hermione balik memandangnya tak percaya. Bisa-bisanya ia masih sempat menanyakan perihal umurku saat keadaannya seperti ini? batin Hermione kesal.

"Ya, Malfoy. Karena sekarang aku belum berulang tahun yang ke-20," jelas Hermione malas sembari memutar bola matanya bosan. Sementara itu Draco hanya mengangguk-angguk pertanda mengerti. Namun sepersekian detik berikutnya, ia kembali bertanya—yang semakin membuat Hermione gemas dan ingin mencekik lehernye detik itu juga.

"Lalu kapan kau berulang tahun, Granger?" Tanya Draco masih dengan wajah innocentnya.

"Sejak kapan kau peduli dengan tanggal ulang tahunku, huh? Memangnya kau berniat memberiku hadiah, eh?" Tanya Hermione asal –lebih kepada menyindir sebenarnya— dalam nada sinis yang terselip di dalam kalimatnya.

"Yah.. kalau itu maumu sih, tak masalah," jawab Draco santai, sama sekali tidak merasa tersinggung atas perkataan menyindir dari partnernya itu. Hermione lagi-lagi menyipitkan matanya mendengar perkataan Draco barusan. Ia tak habis pikir, apa yang ada dalam kepala pirang ferret itu? Semenjak kapan ia peduli denganku?! Lagi-lagi ia membatin dan menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi menyadari betapa anehnya Malfoy belakangan ini. Sementara Draco hanya mengedikkan bahunya tak peduli dengan ekspresi Hermione itu. Ia kembali larut dalam bacaannya yang tadi sempat terhenti. Dengan lincah, atensi kelabunya kembali terfokus pada deretan tulisan-tulisan kecil dalam koran itu.

Memang diketahui bahwa di tahun terakhir mereka di Hogwarts, mereka berdua menjabat sebagai head boy dan head girl. Tentu saja hal ini tak memungkiri akan adanya benih-benih cinta yang tumbuh di hati mereka nantinya. Dan sepertinya foto diatas telah memperjelas itu semua. Draco Malfoy dan Hermione Granger tengah memadu kasih dan berkencan secara diam-diam di salah satu rumah minum terkenal di Hogsmeade, Three Broomsticks.

Gadis cantik yang kerap disapa Hermione ini—yang ditahun keempatnya sempat digosipkan dekat dengan salah satu sahabatnya, Harry Potter dan juga dalam tahun yang sama pula dinyatakan tengah menjalin hubungan spesial dengan salah satu pemain Quidditch terkenal asal Bulgaria, Viktor Krum. Diyakini kali ini ia kembali menggaet pria tampan lainnya –setelah sebelumnya diduga ia tengah dekat dengan Ron Weasley— sekaligus partner ketua muridnya sendiri—yaitu, Draco Malfoy. Pria tampan yang digilai banyak wanita ini akhirnya kembali berpetualang mengarungi kisah percintaannya yang begitu misterius dengan gadis yang tak di duga-duga. Apakah ini merupakan akhir dari petualngan cintanya?

Sayangnya sepasang sejoli ini belum sempat ditanyai perihal hubungan tersembunyi mereka ini. Mari kita tunggu saja bagaimana kelanjutan hubungan manis mereka ini nantinya dan kesiapan mereka untuk mengumumkan hal ini ke publik secepatnya.

(By: Rita Skeeter)

"Dia sangat berlebihan," tanggap Hermione setelah ia melihat Draco selesai membaca berita konyol tersebut.

"Dan bahasanya membuatku mual," komentar Draco. "Apalagi di kalimat 'benih-benih cinta yang tumbuh di hati mereka'," Draco mendecakkan lidahnya.

"Untuk kali ini, aku setuju denganmu, ferret. Dan aku tak habis pikir, ia menggosipkanku dengan beberapa pria sekaligus! Memang aku ini gadis macam apa? Demi Merlin!" Hermione bertambah gusar di tempatnya.

"Yah, Skeeter itu memang menyebalkan," kata Draco lagi. Sejenak Hermione memandangnya.

"Begitu-begitu, kau juga pernah bekerjasama dengannya demi menjelek-jelekkan Harry, Malfoy," dengus Hermione.

"Itu masa lalu, Granger. Lagipula saat itu aku masih bocah ingusan," ujar Draco tak sadar. Sontak Hermione berpaling ke arahnya dan detik selanjutnya... Hermione terpingkal-pingkal di tempatnya duduk ketika mendengar Draco yang secara tak sengaja menyebut dirinya sendiri sebagai 'bocah ingusan'. Dengan segera Draco menutup mulutnya sendiri—refleks.

"Pffttt... Hahahaha, Draco kau.." Yah, Hermione kembali tertawa melihat ekspresi Draco yang menurutnya menggelikan itu, masih terlihat berusaha untuk mempertahankan ke-cool-annya di hadapan Hermione.

"Tak seperti itu, Granger. Maksudku saat itu aku masih bocah imut dan manis serta tampan dan digilai banyak gadis, tentu saja. Jadi, wajar saja kalau tingkahku memang masih menyebalkan," Draco mencoba menjelaskan. 'Sampai sekarang pun kau masih menyebalkan, ferret!' Hermione membatin. Kini ia sudah berhenti tertawa dan malah mendengus mendengar perkaraan Draco itu.

"Itu tak ada hubungannya sama sekali, Ferret albino!" Geram Hermione.

"Hey! Bisakah kau tak memanggilku dengan sebutan menjijikan itu?" Protes Draco.

"Tidak bisa!" Tukas Hermione cepat. "Lalalalalaalalalala..." Hermione berpura-pura bersenandung ria pertanda tak ingin mendengar argumen Draco selanjutnya—yang mungkin saja akan lebih pedas dibanding perkataannya.

"Aku tak suka dipanggil dengan sebutan itu, keriting!" Balas Draco pedas menekankan di kata 'keriting', yang sontak membuat wajah Hermione agak memerah. Entah karena marah atau mungkin malu.

"Tutup mulutmu, Ferret pirang! Rambutku tidak keriting, rambutku ikal!" Tandas Hermione tidak terima, ia melipat tangannya di depan dada sambil mengerucutkan bibirnya tanpa sadar. Nyaris saja Draco tertawa melihat tingkahnya, tapi sekuat tenaga ia tahan. 'Ternyata dia begitu sensitif jika menyangkut soal rambut semaknya itu. Hmm, menarik,' pikir Draco. Ia tersenyum—namun diselingi seringai licik tak kasat mata.

"Kenapa kau senyum-senyum terus, Malfoy? Apanya yang lucu, huh?" Hermione merengut ketika menyadari Draco yang sedari tadi hanya tersenyum-senyum sendiri layaknya orang gila. "Oh, ataukah kewarasanmu sudah hilang, eh?" Lanjutnya kesal namun diiringi dengan sedikit seringai tipis dari bibir ranumnya.

"In your dreams, Granger. Seorang Malfoy selalu memiliki kewarasan yang abadi,". Terang Draco bangga—penuh kemenangan sambil memegangi kerah kemejanya. Sementara itu Hermione malah menjulurkan lidahnya, seakan-akan ia benar-benar termuntah karena mendengar ucapan partnernya barusan. Namun Draco tidak peduli, kini gantian dia yang malah menyeringai—seringai khas andalannya. Beberapa menit terlalui tanpa ada yang berbicara satu patah kata pun diantara mereka. Sampai akhirnya, Hermione yang mulai membuka suara.

"Hmm, Malfoy," panggilnya pelan. Ia masih duduk bersebelahan dengan Draco.

"Ya?" Sahut Draco.

"Apa kau masih marah padaku?" Hermione bertanya ragu-ragu. Draco mengerutkan keningnya bingung. Tapi detik berikutnya, sepertinya ia sudah mengerti dengan arah pembicaraan Hermione. Namun ia memilih untuk berpura-pura belum mengerti.

"Apa maksudmu, Granger?" Tanyanya sok polos. Sementara Hermione nampak sedikit gelisah. Ia tampak memilin-milin ujung roknya. Sangat kelihatan bahwa 'nona-tahu-segala' kita sedikit gugup kali ini. Dan tentu saja ini merupakan momen yang menyenangkan bagi Draco ketika melihat wajah Hermione yang seperti itu.

"Yeah, kau tahulah. Yang waktu itu," jawab Hermione agak berat hati. Bagaimanapun harga diri tetap diatas segalanya, pikirnya. Lagian sebenarnya dia hanya merasa tak enak saja karena telah melakukan hal itu pada Draco.

"Yang mana, Granger?" Draco kembali bertanya dengan wajah polos yang sengaja dibuat-buat. Membuat Hermione semakin merasa bersalah.

"Peristiwa kamar mandi, Malfoy. Kumohon jangan suruh aku mengulanginya lagi," seru Hermione tidak sabar namun dalam nada pelan, kali ini lebih kepada rasa gengsinya yang tinggi. Draco menepuk jidatnya sendiri, berpura-pura seolah-olah ia baru mengingatnya.

"Oh, yang itu. Jelas saja aku masih marah, Granger." Draco melipat tangannya di dada, tiba-tiba berpura-pura marah. Kemudian iris kelabunya melirik gadis di sampingnya itu. Dengan jelas, Draco dapat melihat wajah Hermione yang begitu terkejut-tercengang dan tubuhnya yang semakin bergerak-gerak tak nyaman di tempatnya.

"Tentu saja aku tak lagi marah padamu, Granger," kata Draco tiba-tiba diiringi dengan senyum indahnya. Baru kali ini Hermione menyaksikan senyum yang begitu indah dari sang Malfoy muda itu. Selama ini yang ia pikir, Draco hanya bisa menyeringai sepanjang hidupnya. Namun ternyata persepsinya salah. Draco memiliki senyuman malaikat—begitu indah. Itulah yang dipikirkan Hermione untuk sejenak, seakan terhipnotis dengan pria pirang di hadapannya sekarang. Ia menoleh masih dengan tatapan tak percaya. Draco mengambil inisiatif sendiri untuk kembali membuka suara.

"Mana mungkin aku akan marah padamu kalau kau telah begitu baik padaku, Granger," Kata Draco menatap dalam-dalam ke atensi hazel Hermione, lalu kemudian mengalihkan pandangannya ke depan dengan menatap lurus ke arah perapian. Kalimat yang ia ucapkan tadi benar-benar tulus dari hatinya yang terdalam. Entah kenapa kalimat itu yang meluncur begitu saja dari bibir indahnya. Padahal tadinya ia masih berniat untuk bermain-main dengan Hermione. Hermione yang mendengar perkataan Draco hanya bisa melongo, sejujurnya ia sendiri merasa agak salah tingkah.

Hermione menyelipkan rambut yang menjuntai di wajahnya ke belakang telinganya. Ia kemudian terlihat mengambil napas dan menghembuskannya perlahan. Sangat jelas kalau sekarang ia benar-benar ketularan Neville—gugup.

"Hmm, oh yah? Ku pikir kau tak mau memaafkaanku, Draco. Ummh..Maaf, maksudku, Malfoy," Hermione mencoba tertawa lepas, namun sayang usahanya itu sama sekali tak terlihat seperti apa yang diharapkannya. Ditambah lagi dengan ketidaksadarnnya menyebut nama depan Draco, hal itu membuatnya benar-benar ingin mengutuk dirinya sendiri saat itu juga. Untuk sesaat, Draco nampak tercengang mendengar Hermione untuk yang pertama kalinya memanggilnya dengan sebutan 'Draco'. Tapi bukan Malfoy namanya jika ia tak bisa menyetel emosi wajahnya secepat mungkin.

"Tak apa, Gra— Hermione," Draco merasa asing ketika menyebut nama depan Hermione—namun sensasinya terasa nyaman dan pas di lidah—ah aku terlalu berlebihan, batinnya sendiri mengoreksi kata hatinya itu. Karena ini juga merupakan yang pertama kalinya ia memanggil Hermione dengan nama depannya. Dan kini gantian Hermione yang terkejut atas ucapan Draco. Secepat kilat, gadis itu menoleh ke arah pemuda pirang di sebelahnya.

"Eh?" Hermione mengerutkan dahinya, lengkap dengan matanya yang kini terlihat menyipit. Ia ingin memastikan kalau dirinya memang tak salah dengar.

"Kenapa? Namamu Hermione, kan?" Draco berkata santai—balas menatapnya.

"Err—yah, kau benar," Hermione tersenyum aneh.

"Jadi, kita teman?" Draco kembali bertanya sambil menaikkan satu kelingkingnya. Untuk beberapa saat, Hermione tek bereaksi apa pun. Raut kebingungan masih terpeta jelas di wajah cantiknya. Dengan agak-ragu, ia pun kini melakukan hal yang sama dan menautkan kelingkingnya dengan kelingking Draco—meskipun ia sendiri bingung akan maksud dari partnernya itu.

"Itu tadi apa?" Hermione ganti bertanya dengan penasaran setelah kelingking mereka tak lagi saling bertaut.

"Tanda pertemanan," jawab Draco singkat sambil tersenyum simpul.

"Bukannya kita sudah berteman?" Hermione kembali bertanya bingung.

"Yah, aku tahu. Tapi aku ingin pertemanan kita menjadi pertemanan yang terucap. Anggap saja sekarang kita adalah teman baru, aku ingin mengubah semua yang telah ku lakukan selama ini," lagi-lagi Draco tersenyum simpul. Dan kini ia sudah mulai berdiri, hendak beranjak dari tempatnya. Namun sebelum ia benar-benar pergi dari sana, tiba-tiba ia kembali menoleh dan mengucapkan sesuatu yang entah kenapa bisa membuat wajah Hermione memanas seketika.

"Selamat malam, Hermione," ucap Draco lembut sambil tersenyum—lagi. Tiga kata singkat. Hanya tiga kata singkat namun mampu membuat Hermione merasa aneh terhadap dirinya sendiri. Tiga kata yang sama dengan malam kemarin—yang Hermione jelas tak sempat mendengarnya malam itu lantaran sudah tertidur pulas. Namun tiga kata singkat itu kembali ia dengarkan—seperti dè ja vu saja rasanya, batinnya aneh. 'Hermione', sapaan yang terdengar begitu berbeda kali ini—entah mengapa.

Kedua tangan Draco ia masukkan ke dalam saku celananya, kini ia benar-benar telah beranjak pergi sambil kembali bersiul santai meninggalkan Hermione yang terlihat kaku di tempatnya—masih terbengong-bengong dengan kedua pipi yang merona dengan semburat merah muda disana.

"Merlin, kenapa aku?" Gumam Hermione pelan sambil memegangi dadanya yang masih mendetakkan jantungnya dengan frekuensi kecepatan dua kali lipat dari biasanya.

-To Be Continued-

-OoOoO-

|Pojok Author|

Sebelumnya saya ingin meminta maaf atas chapter yang kemarin, karena setelah sy cek, rupanya ada beberapa kata yang seharusnya ada malah menjadi tidak ada (tpi setelah author cek lagi ke lepi, ternyata kata tersebut ada :O apakah postingan di FFN memang terkadang seperti itu? Hmm, entahlah XD ... Yasudah, sekedar curcol aja wks~ :D

Berikut balasan review di chap kemarin :)

BlueDiamond13 :

Hehe iya ini sudah update :) ... Maaf yah kalau chap kali ini cuman 2k+ ... Tapi tenang aja, chap depan bakal agak panjang dari ini XD ... Terima kasih yah sudah review. Review lagi? :)

christabelicious :

Keren? Makasih Christa :) Iya ini sudah dilanjut kok, semoga gak terlalu mengecewakan yah :* hehe ... Review lagi?

Ryoma Ryan – Le Renard Roux :

Sudah di update :) Hehhe iya jadi trending topic merekanya XD *plakkk ... Tapi kayaknya gara2 hal ini, malah akan menjadi sedikit masalah di chap depan XD ... Haha, jadi Ryo Skeeter dong namanya? Wkw~ Makasih yah sudah review :)... Review lagi?

R. Jack Skelenton :

Makasih reviewnya k'Jack :) Haha, Hermione gak bakal bunuh diri kok. Itu kan cuma kiasan saking stresnya Hermione waktu itu XD ... Iy ini sudah update chap 9 nya :)

Neemarishima :

Hello Nee! ^^ (gitu kan? XD) ... Haha iy Ron emg gak peka -_- *ditabok Ron. Iya dong ini sudah dilanjut hehe ... Makasih yah reviewnya sista :) Review lagi?

Naomi Averell :

Gpp telat kok Naomi—daripada kagak sama sekali XD *plakk ... Adegan pestanya di chap 11 yah nanti—kuharap dirimu masih setia menunggu hehe. Makasih reviewnya sist :) Review again? XD.

PL Therito :

Hi jg honey :D *plakk ... Hehehe bagus deh klo kamu suka chap kemarin XD ... Kelelawar tua? Hmm, entahlah haha ... Ah iya, maaf yah sedikit typo pas kata 'mengernyit' itu wkw~ ... Iya, gpp sist :) makasih sudah review, review lagi? Hehe.

Ladyusa :

Haha iya, Hermione gak tahu nih kenapa masih ad aj rasa sama Ron meskipun Ron sm sekali gk peka, ckckc (*digampar Hermione |kan lu yg buat cerita thor?|eh? *author angkat bahu *plakk XD). Ini sudah update :) makasih reviewnya, review lagi?

Ochan Malfoy :

Haha iy, kk kangen Ochan *balas kedip2 mata |plakk *ditabok. Wkw cakar aja chan si Ron, kk dukung kok XD *plakkk. Ini chap 9 udah update hhe, maksih reviewnya :D review again?

Terima kasih bagi yang sampai sekarang masih setia mengikuti kelanjutan fict abal ini. Author sangat senang jika kalian mau berbaik hati memberikan sedikit reviewnya XD.

See u in the next chap ^.^

Salam,

Miss Lovegood.