Disclaimer :
Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling, but all of idea in this fict belong to me J
Pairing :
Draco Malfoy dan Hermione Granger
Genre :
Romance, Hurt/Comfort
Rated : T (teen)
Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts
Warning : Typo(s) maybe, bahasa mungkin berantakan, alur sengaja dilambatin supaya feelnya makin dapet hehe... Agak OOC mungkin dan lain sebagainya...
|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|
My Blood is Ferret
Chapter 11
(The Ball)
.
.
.
"Bagaimana? Apakah aku sudah cantik?" Tanya seorang gadis Gryffindor yang kelihatannya masih tingkat enam.
"Bagaimana denganku? Apakah poni baruku sesuai dengan penampilanku?" Tanggap gadis yang satunya lagi.
"Hey hey kalau aku bagaimana? Bulu mata badaiku bagus tidak? Aku dapat ini dari Seamus loh, katanya muggle-muggle terkenal sering menggunakan ini!" Tiba-tiba Parvati Patil muncul—yang entah darimana—ditengah kedua adik tingkatnya itu. Kedua gadis tersebut hanya mentapnya bingung dan aneh.
"Kau menggunakan barang muggle?" Romilda Vane juga tiba-tiba muncul dan ikut berkomentar atas penampilan Parvati.
"Ya, tentu saja. Apa yang salah? Kau tahu? Muggle-muggle memiliki selera mode fashion yang menarik dan keren!" Jelas Parvati bangga dengan mata yang berbinar-binar. Romilda terdiam nampak memikirkan sesuatu mendengar hal itu.
Hening.
"Hmm, apakah kau masih punya satu yang bisa kupakai?" Tanyanya tiba-tiba dengan nada aneh—terdengar lebih seperti seseorang yang sedang sakit perut. Parvati menyeringai senang melihat ekspresi Romilda itu.
"Eh? Maksudmu bulu mata badai seperti milikku ini?" Parvati tersenyum jahil ke arah Romilda yang kelihatan sekali sangat mengidam-idamkan bulu mata badai sepertinya.
"Err—ya ... Apa kau masih ada satu lagi?" Tanyanya kikuk.
"Hmm, sebenarnya aku sangat ingin memberikannya untukmu," ucap Parvati. Mata Romilda Vane berkilat-kilat bahagia mendengarnya. "Tapi sayang, aku hanya diberi satu oleh Seamus," lanjut Parvati tersenyum lebar—lebih kepada mengejek. Ia berlalu meninggalkan Romilda yang kini tengah merengut kesal di tempatnya berdiri.
-OoOoO-
"Hahahaha ... Lucu sekali! Kau benar-benar melakukan itu padanya?" Muka Ginny memerah karena tawa lantaran baru saja selesai mendengarkan cerita Parvati Patil tentang Romilda Vane beberapa saat yang lalu.
"Yah, tentu saja! Jujur, aku sedikit kesal padanya. Mentang-mentang dia sudah setingkat denganku, kelakuannya makin manjadi-jadi! Aku heran mengapa Ron bisa berakhir dengannya? Maksudku, lihatlah dia gadis yang centil dan suka menggoda. Dua hari yang lalu saja aku secara tak sengaja mendapatinya tengah merayu Seamus! Demi Merlin! Apakah Ronald Weasley saja belum cukup untuknya? Hell!" Parvati berkicau kesal layaknya burung yang tak pernah mendapat jatah makanan.
"Ya, kau benar. Menurutku dia memang agak menyebalkan," komentar Ginny menyetujui.
"Ya, seratus persen!" Balas Parvati mantap. "Mmh ngomong-ngomong apa kau belum bersiap-siap ke pesta, Gin?" Parvati mengerutkan keningnya memandangi wajah Ginny yang masih polos tanpa polesan make-up. Bahkan gadis Weasley itu masih mengenakan sweater hangatnya!
"Astaga, kau berbicara padaku seolah-olah pestanya tinggal beberapa menit lagi. Oh, Parvati buka matamu. Ini masih pukul empat sore!" Gadis berambut merah itu mendengus pelan. Sementara Parvati hanya terkikik ditempatnya.
"Iya, aku tahu Gin. Tapi apa kau tak takut kalau waktumu nanti tidak akan cukup untuk berdandan? Oh, ayolah sweety... Dandan itu membutuhkan waktu yang lama! Belum lagi kau harus mencocokkan gaunmu dengan sepatu, make-up, aksesoris, perhia—"
"Oh Parvati manisku, aku bisa mengaturnya nanti. Kau tenang saja," potong Ginny tak sabaran.
Hening.
"Kau tahu? Aku sangat merindukan masa-masa seperti ini ketika Lavender masih hidup," Gumam gadis berdarah India itu yang secara tiba-tiba terlihat merenung. Matanya menerawang jauh ke depan. Ginny memandangnya iba. Bagaimanapun Ginny tentu tahu rasanya kehilangan orang terdekat. Yah, Lavender merupakan teman dekat dari Parvati Patil. Teman berbagi cerita, teman berbagi gosip, teman berdandan, dan masih banyak lagi hal-hal lain yang membuat mereka semakin akrab. Tapi mau bagaimana lagi, faktanya kini Lavender Brown gadis berambut keriting itu sudah tak ada—perang besar yang membuatnya harus menjadi pahlawan gugur dimangsa sang werewolf—Fenrir Greyback. Menyedihkan memang. Ah, kisah persahabatan yang melodramatis. Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Parvati membuka suaranya kembali.
"Gin! Lihat, sudah hampir pukul lima sekarang! Merlin, Merlin, Merlin!" Parvati memekik nyaring setelah matanya secara tak sengaja menatap pergeseran jarum jam yang menurutnya sangat cepat itu.
"Demi Godric, Ginny! Aku sungguh belum mengecek aksesoris yang akan ku pakai nanti malam! Oh aku ke kamar dulu yah... Dah!" Ucap Parvati menggebu-gebu sambil berlalu terburu-buru menaiki tangga menuju kamar anak perempuan. Ginny hanya melongo melihatnya.
Gadis Weasley itu menarik napas panjang kemudian menghembuskannnya cukup keras. Yah, ia sadar bahwa kebersamaan tak selamanya memihak—menilik kisah Parvati Patil dan Lavender Brown. Kemudian ia pun mulai beranjak berdiri untuk mandi dan bersiap-siap juga.
-OoOoO-
"Granger," panggil seoarang pemuda bersurai platina.
"Hn," Hermione menyahut seadanya. Atensinya masih terfokus pada buku yang kini dibacanya.
"Ini sudah pukul enam," kata Draco lagi. Hermione mendongak.
"Lalu?" Gadis berambut coklat itu berkata santai dengan wajah polosnya.
"Hell, Granger! Kau masih bertanya 'lalu'?" Hermione mengangguk—yang membuat Draco menggeram. "Itu artinya pestanya akan dimulai kurang lebih satu jam lagi," jelasnya.
"Oh, kukira ada apa," Hermione mengangkat bahunya—kembali melanjutkan bacaannya yang sempat tertunda tadi. Draco melongo melihatnya. Ia begitu berbeda dengan gadis-gadis yang pernah ditemui—apalagi diajak Draco ke sebuah pesta. Biasanya setiap gadis yang diajaknya akan berdandan berjam-jam sebelum pesta dimulai. Tapi Hermione? Ah, gadis itu nampak santai dan cuek. Seolah-olah tak ada beban yang akan dia hadapi jika terlambat berdandan sedikt saja.
"Kau tidak takut kehabisan waktu berdandan?" Draco bertanya tak percaya.
"Untuk apa?" Lagi-lagi hanya jawaban singkat dan mengesalkan yang diterima Draco. Pria keturunan Mafoy itu hanya bisa menggeram kesal ditempatnya. Tidak mengeluarkan kata apa-apa lagi. Percuma jika berbicara dengan gadis keras kepala seperti Hermione, pikirnya.
-OoOoO-
"Harry! Kau yakin dengan perkataanmu?" Ron bertanya dengan wajah yang mengkerut memandangi Harry di depannya yang mengenakan setelan serba abu-abu lengkap dengan sepatu hitam mengkilapnya—hadiah dari bibi dan pamannya. Harry tersenyum sendiri jika mengingat sepatu itu diberikan oleh bibi dan pamannya yang dulu sangat membencinya lebih dari apapun.
"Harry, aku berbicara padamu!" Tegur Ron tiba-tiba—yang sukses membuat Harry berhenti tersenyum-senyum sendiri lantaran membayangkan hadiah sepatu barunya itu.
"Harus ku katakan berapa kali sih Ron? Sungguh penampilanmu sekarang jauh lebih baik dibanding di tahun ke-empat kita dulu!" Harry berkata sebal.
Bagaimana tidak, sudah hampir 43 kali—Harry ternyata diam-diam menghitungnya—Ron menanyainya tentang penampilannya. Ia pun sudah bosan berulang kali harus meyakinkan sahabat berambut merahnya itu.
Tapi memang benar bahwa sungguh Harry sama sekali tak berbohong dengan apa yang ia katakan. Karena penampilan Ron pada kali ini memang jauh lebih baik dibanding di tahun ke-empat mereka yang mengerikan dulu.
Sekarang Ron mengenakan setelan jas berwarna ungu manis dengan jubah pesta berwarna senada yang nampak membuat penampilannya semakin menawan. Tak ada lagi jubah pesta berenda-renda yang ketinggalam jaman. Namun meski demikian, tetap saja semenjak tadi kegiatannya hanyalah berputar-putar di depan cermin memandangi siluetnya sendiri dengan tak yakin lalu kemudian menanyai pendapat Harry—dan begitu seterusnya sehingga membuat Harry merasa mengantuk bahkan sebelum pesta dimulai! Demi Merlin!
Harry menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa. Manik emeraldnya kemudian beralih memandangi jam besar yang bertengger kokoh di dinding asrama Gryffindor.
Pukul 7 kurang 35 menit. Kurang lebih setengah jam lagi, pikirnya.
-OoOoO-
"Granger! Cepatlah, sudah hampir pukul tujuh!" Teriak Draco dari balik pintu.
"Kau pergi duluan saja, Malfoy! Aku belum selesai!" Hermione balas berteriak dari dalam kamar. Draco mendengus.
"Sudah ku bilang tadi, seharusnya kau mendengarkan apa kataku! Bukannya malah keras kepala dan tetap membaca buku di jam-jam terakhir sebelum pesta," gerutu Draco.
"Berhentilah mengoceh, pirang! Tenang saja, aku akan datang tepat waktu. Dan jangan pernah kau menyalahkan buku-buku tak berdosaku!" Omel Hermione yang nadanya semakin meninggi tatkala menyebutkan perihal buku-bukunya. Draco memutar bola matanya.
"Dan hey! Kau tak bilang kalau gaun pemberian ibumu ternyata berwarna hijau! Aku tak tampak seperti seorang Gryffindor sekarang," sambung Hermione lagi terdengar agak frustasi menyadari bahwa tak ada satupun identitas seorang Gryffindor yang melekat di tubuhnya saat ini.
"Apa salahnya? Kau memang cocok berada di Slytherin sebenarnya, jadi kurasa warna hijau tak masalah untukmu. Lagian kalau mau protes, langsung saja ke Mum. Jangan padaku," balas Draco dari luar.
"Uh, kau menyebalkan! Sudahlah, pergilah duluan ferret! Kau malah akan membuatku semakin lama," ujar Hermione.
"Baiklah, aku menyerah. Tapi awas saja kalau sampai kau tampak jelek nantinya—padahal sudah berdandan selama ini. Aku tidak akan mau mengakuimu sebagai pasanganku kalau itu sampai terjadi," cerosos Draco yang disusul seringaiannya beberapa detik kemudian.
'Pasangan? Yang benar saja?' Hermione mendengus mendengarnya.
"Well, kalau begitu aku duluan keriting! Bye, love" Teriak Draco berlalu setelah merasa tak ada lagi respon yang diterimanya dari balik pintu kamar Hermione. Mungkin dia sedang sibuk mengurusi rambut keritingnya, pikirnya sebelum benar-benar meninggalkan asrama ketua murid menuju aula besar—tempat pesta berlangsung. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah gadis singa itu tengah merona pink di dalam kamarnya mendengar Draco yang baru saja memanggilnya dengan sebutan 'love'.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Hermione selesai dengan penampilannya. Ia melirik jam di atas nakasnya yang kini telah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit—yang berarti bahwa ia tidak akan terlambat.
"Bersiaplah, Malfoy," gumamnya sembari tersenyum—nyaris menyeringai—menatapi pantulan bayangannya di depan cermin meja riasnya. Kemudian ia mengambil high heelsnya kemudian memakainya dan segera keluar melewati lubang lukisan menyusul Draco ke aula besar.
-OoOoO-
"Whoa, mate! Kau tampan sekali," sanjung Blaise Zabini ketika melihat Draco di aula besar.
Yah, Draco memang sangat tampan malam ini. Setelan serba hitam yang membalut tubuhnya semakin membuat kulit pucat ivory-nya nampak sangat seksi di bawah cahaya lampu pesta. Apalagi ditambah dengan rambut pirang platinanya yang terlihat sangat kontras dengan penampilannya. Satu kata untuk sang Pangeran Slytherin kita kali ini. Sempurna.
Draco hanya menyeringai mendapat pujian seperti itu dari Blaise Zabini.
"Kau juga tampan, mate!" Draco menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Kemudian merangkul pelan bahu Blaise dengan tangan kanannya, sementara tangan yang satunya sedang memegang segelas wine merah. Draco memang tidak berbohong. Blaise Zabini yang memiliki warna kulit kecoklatan itru terlihat sangat cocok dengan balutan setelan jas berwarna cream—nyaris putih. Membuatnya terlihat semakin manis—yah, hitam manis.
Sementara di sudut ruangan lainnya, nampak pemuda berkacamata bulat dengan bekas luka sambaran petir di dahinya—siapa lagi kalau bukan Harry Potter—tengah berbincang akrab dengan sahabat rambut merahnya—Ronald Weasley.
"Haha aku tak tahu harus berkata apa Ron, jika mengingat masa-masa tahun ke-empat kita dulu, benar-benar Yule Ball yang sangat buruk menurutku," kata Harry.
"Bloody Hell! Kau benar, Harry. Tapi tentu saja momenku lebih buruk daripadamu. Bayangkan jika kau harus memakai jubah pesta yang dipenuhi renda-renda aneh? Aku begitu mirip dengan bibi Tessie kala itu," sungut Ron. Harry hanya nyengir mendengarnya. Jujur, mau tak mau ia juga mengakui bahwa Ron memiliki pengalaman yang jauh lebih buruk darinya.
"Janggut Merlin!" Pekik Ron tiba-tiba dengan mulut yang menganga. "Cantik sekali!" Tambahnya lagi. Tepat saat itu, Ginny datang menghampiri Harry dan kakaknya—Ron. Harry tercengang di tempatnya berdiri. Ikut menganga menyaksikan orang yang baru saja datang menghampirinya.
"Yah, dia memang sangat cantik," gumam Harry tanpa sadar—masih menatap Ginny dengan pandangan mendamba. Ginny menggunakan gaun berwarna merah marun selutut dengan bagian bawah yang agak mengembang. Di sisi-sisi gaunnya terdapat bordiran-bordiran cantik dengan warna emas—sangat khas Gryffindor. High heelsnya berwarna silver mengkilap dengan garis-garis merah di beberapa bagiannya. Ia juga menggunakan jepitan berwarna emas di kepalanya. Benar-benar cantik.
Ron berbalik menghadap Harry dan mendapati adiknya—Ginny Weasley yang juga sudah ada di samping pria berkacamata itu. Ron mendengus pelan. "Bukan dia yang kumaksud, Harry," sahut Ron sambil menyodok rusuk Harry dengan siku.
"Auw! Tak ada kekerasan dalam pesta, Ron," protes Harry dengan nada meringis. Namun Ron kelihatan tidak begitu peduli. Ia mengedikkan dagunya ke arah pintu aula besar—mengisayaratkan bahwa seseorang yang ia maksud ada disana. Harry dan Ginnya mengikuti arah pandangnya.
"Wow! 'Mione cantik sekali!" Pekik Ginny sembari menutup mulutnya tak percaya. Sementara Harry? Ekspresinya hampir sama dengan Ron. Bedanya, ia hanya melongo. Sedangkan Ron bahkan sampai menganga melihatnya.
Ekspresi orang-orang yang hadir di aula besar itu juga tak jauh beda dengan Harry, Ginny, dan Ron. Untuk sejenak, masing-masing dari mereka menghentikan aktifitasnya. Yang semulanya berbincang, bergosip, makan, minum, atau sekedar saling mengomentari penampilan masing-masing, kini terbius mematung dengan sepasang atensi yang menatap tak berkedip ke arah pintu aula besar—yang sebagai titik fokus mereka sekarang.
"Malaikat," Draco bergumam setengah sadar menyaksikan sosok makhluk cantik di hadapannya. Bahkan Blaise pun tak mengedipkan matanya selama beberapa saat.
Hermione tersenyum kikuk di ambang pintu—merasa heran terhadap sikap orang-orang di aula besar yang menatapnya dengan berbagai macam tatapan. Tentu saja ia merasa canggung dan aneh. 'Apakah aku terlihat begitu buruk?' Batinnya cemas. Bagaimana tidak? Bahkan para professor pun menatapnya dengan intens. Hal ini makin membuatnya gugup, tentu saja. Hermione hadir dengan menggunakan gaun berwarna hijau zamrud selutut dengan lengan terbuka menjuntai di pundaknya (hampir mirip dengan lengan gaun yang ia kenakan di tahun ke empatnya dulu)—sangat kontras dengan kulit putih mulusnya. Ia mengepang beberapa bagian rambutnya yang kemudian digelung tinggi ke atas sehingga menampakkan leher jenjangnya yang putih mulus menggoda. Bahkan dari ekor matanya, ia dapat dengan jelas melihat tatapan lapar yang dilemparkan oleh Cormac McLaggen dan beberapa pria lainnya terhadapnya. Ia menelan ludah melihat suasana yag tercipta di aula besar karena kemunculannya.
Bahkan Pansy Parkinson sekalipun merasa tak percaya melihatnya. Bola matanya nyaris keluar dari rongganya saking terkejutnya. Begitupun dengan Astoria—yang diketahui diam-diam memang menaruh hati pada kakak kelas tampannya—Draco Malfoy. Tentu saja hal ini membuatnya cemburu dan semakin membenci Hermione—apalagi setelah ia tahu bahwa Hermione adalah pasangan pesta dansa Draco. Kentang goreng yang ia pegang bahkan hancur tak berbentuk lagi karena diremas-remas penuh emosi oleh sang Geengrass muda itu. Matanya berkilat-kilat marah. Bahkan sekarang ia terlihat lebih bengis dan menyeramkan dibanding Pansy Parkinson yang notabene memiliki wajah yang seram dan bengis—sebengis-bengisnya siswi Hogwarts lainnya—selain Milicent Bulstrode tentunya.
Draco menatap Hermione tak percaya dengan pandangan mendamba—seperti tatapan mata Harry kepada Ginny. Sudut bibirnya terangkat membentuk segaris senyuman tipis nan menawan yang tentu saja mampu membius wanita-wanita seantero Hogwarts—kecuali McGonagall sepertinya. Hermione tersenyum canggung ke arah Malfoy muda tersebut sembari menuruni tangga perlahan dengan tempo anggun.
Atas inisiatif sendirinya, Draco maju melangkah menghampiri Hermione yang masih ada di pertengahan tangga. Ia mengulurkan tangannya ke depan dan membungkuk sopan di hadapan gadis Gryffindor itu—mirip dengan kisah-kisah sang Pangeran di dongeng-dongeng muggle. Dan untuk sesaat Hermione merasa bahwa ialah yang kini menjadi tokoh utama sang Putri seperti di dongeng-dongeng muggle yang sering ia baca sejak kecil dulu.
Jujur, entah mengapa Hermione merasa aneh dengan detak jantungnya yang semakin berdebar hebat tatkala melihat Draco yang membungkuk di hadapannya dengan tangan kanan terjulur serta senyuman penuh gairah dari bibir tipisnya. Dengan langkah ragu-ragu akhirnya Hermione memilih untuk menerima uluran tangan Draco kemudian berjalan bersama menuruni sisa tangga dengan tangan yang kini saling bergandengan. Hermione akhirnya bisa tersenyum tulus, begitupun dengan Draco—yang sejak tadi telah melakukannya terlebih dahulu.
Tak lama setelah mereka tiba di dalam aula besar, terdengar suara tegas dari Professor McGonagall yang mampu menarik perhatian dan kesadaran para siswa-siswi Hogwarts dari alam bawah sadar yang memerangkap mereka untuk sementara waktu tadi—sejak kemunculan Hermione.
Professor McGonagall berdeham sebentar sembari memperbaiki letak kacamata perseginya.
"Well, terima kasih bagi kalian yang sudah hadir dalam pesta perayaan ini—yah meskipun terkesan agak terlambat dari yang seharusnya. Ini bukanlah pesta dansa biasa seperti sebelum-sebelumnya. Seperti yang sudah kusampaikan di awal tahun ajaran lalu bahwa pesta ini digelar untuk menghilangkan segala kepenatan selepas perang besar," jelas McGonagall panjang lebar diiringi dengan senyuman langkanya. Semua yang hadir di disana secara serempak bertepuk tangan meriah dengan wajah sumringah.
"Baiklah kita mulai saja. Sebagai pembukaan, saya persilakan kepada masing-masing ketua murid agar segera bersama pasangannya untuk membuka dansa perdana malam ini," kata McGonagall dengan mata berbinar dibalik lensa kacamatanya.
"Mmh, kebetulan kami berpasangan, Professor," Draco menginterupsi. Sontak aula besar kembali riuh karenanya. Professor McGonagall menyipitkan matanya. Namun tak lama kemudian, ia tersenyum penuh arti ke arah sepasang ketua murid itu.
"Baiklah, ini dia sepasang ketua murid kita. Draco Malfoy dan Hermione Granger!" Sahut Professor McGonagall riang yang dalam sekejap mengundang gemuruh koor di aula besar. Pastilah hal ini membuat para siswa-siswi kelas satu, dua, dan tiga merasa sebal karena hanya bisa mendengar suara-suara meriah di aula besar tanpa diperbolehkan untuk ikut melihat dan bergabung dalam pesta kali ini—yah karena pesta ini memang hanya diperuntukkan untuk murid tahun ke empat, lima, enam, dan tujuh saja.
Dan seketika semua penerangan yang berada di aula besar meredup dan akhirnya padam satu persatu hingga hanya meninggalkan sepasang lampu sorot yang berpendar indah menyoroti Draco dan Hermione. Jujur saja Hermione merasa terkejut dengan apa yang terjadi dengan lampu-lampu yang tiba-tiba padam itu. Sungguh ia tidak pernah ingat bahwa ada rencana seperti ini sebelumnya di dalam rapat—yah karena memang ia tidak pernah tahu.
Perlahan alunan musik lembut mulai mengalun indah, yang membuat Draco mulai melancarkan aksinya. Ia menarik Hermione ke arahnya. Tangan kirinya ia letakkan di pinggang ramping gadis singa itu yang membuat Hermione sedikit terkejut. Namun detik berikutnya ia juga mulai meletakkan tangan kanannya di bahu Draco. Sementara tangan satunya lagi saling bertaut dengan jemari pucat sang Pangeran Slytherin itu. Perlahan namaun pasti, mereka mulai berdansa dengan pandangan yang tak lepas dari masing-masing sosok di hadapan mereka. Hingga semuanya terasa begitu cepat dan begitu mengalir sampai membuat mereka tidak menyadari bahwa lantai dansa kini sudah dipenuhi dengan para pasangan lainnya. Bahkan para Professor pun mulai ikut turun ke lantai dansa.
Dan disinilah mereka. Masih terbawa suasana hati yang begitu aneh namun menyenangkan. Yah, tentu saja aneh bukan mendapati dirimu berdansa dengan khidmat bersama seseorang yang dulunya begitu kau benci hingga ke ubun-ubun? Tapi yah, seperti yang dikatakan orang-orang bahwa waktu memang bisa membawamu ke tahap-tahap dan berbagai momen yang tidak pernah kau duga sebelumnya. Dan inilah yang terjadi terhadap sepasang anak manusia yang tak pernah tahu akan takdir mereka selanjutnya. Waktu telah mempertemukan mereka dalam momen yang sangat manis—dalam keadaan tak saling lempar mantra, tentu saja.
Beberapa lagu telah mengalun sempurna menemani tiap derap langkah orang-orang yang memenuhi lantai dansa. Kini jari jemari mereka tak lagi saling bertaut. Kedua tangan Hermione –yang entah bagaimana— kini berada di sekitar leher Draco—entah sejak kapan ia mengalungkannya. Begitupula dengan Draco, kedua tangannya kini sudah berada di sekitaran lingkar pinggang gadis berambut coklat tersebut—mendekap mesra tubuh mungil Hermione. Dahi mereka tertempel satu sama lain. Manik mereka saling menatap dengan pandangan yang sarat arti yang tak mampu mereka ungkapkan. Senyuman indah masih setia menempel di bibir mungil Hermione—sama halnya dengan Draco.
Dan semuanya terjadi begitu cepat, Draco menunduk kemudian secepat kilat mengecup singkat bibir ranum Hermione. Hermione menatapnya kaget. 'Dua kali! Sudah dua kali, Hermione!' Batinnya. Tetapi ia tak dapat menyangkal dan sama sekali tak dapat menolak perlakuan Draco. Entah bagaimana segerombolan kupu-kupu terasa memenuhi perutnya yang bergejolak entah mengapa.
Draco masih tersenyum menatapnya—namun hal itu tak lama, karena detik barikutnya wajah tampannya sudah dihiasi dengan seringai khasnya.
"Kau cantik, Hermione," puji Draco intens tepat di telinga Hermione. Hermione merasa wajahnya memanas seketika. Ia merona semerah bunga geranium ketika mendengarnya. Tentu saja melihat hal ini semakin membuat seringaian Draco kian melebar.
"Ah, aku ... Aku lelah, Draco," Hermione berkata agak gugup. Bagaimana tidak sampai sekarang ia masih bisa merasakan manisnya rasa bibir Draco, meskipun hanya kecupan singkat. Draco mengangguk pelan seraya menggandeng Hermione dan membawanya ke tepi aula besar.
"Tunggu disini. Aku akan mengambilkan minuman dan makanan untuk kita berdua," ucap Draco. Hermione hanya mengangguk tanpa suara namun dengan seulas senyum tipis sebagai jawaban 'iya'. Draco pun melangkah pergi lalu kemudian menghilang di tengah lautan manusia di tengah riuh rendah pesta yang semakin sesak dipenuhi pasangan-pasangan lainnya.
Hermione menoleh ke kanan dan ke kiri. Manik hazelnya sibuk menerawang ke setiap sudut aula besar yang kini disulap menjadi ruangan pesta tersebut—kalau-kalau saja ia mendapati sejumput rambut pirang platina yang tengah berada di sekitar sana. Yah, mau tak mau Hermione mengakui bahwa ia mencari seorang Draco Malfoy. Sudah lebih sekitar sepuluh menit ia menunggu namun Draco belum kunjung datang menemuinya—membawakan segelas minuman dan berbincang hangat dengannya. Yah entah kenapa Hermione memikirkan hal itu.
Dan tiba-tiba saja atensi fokusnya menemukan sasaran yang ia cari-cari sejak tadi. Rupanya Draco tengah berbincang-bincang dengan orang tuanya—Narcissa dan Lucius. Ah, bagaimana Hermione bisa lupa kalau Malfoy senior akan hadir? Untuk sejenak Hermione merasa bimbang, apa ia harus menghampiri mereka? Atau tetap berada disini sembari memperhatikan gerak-gerik mereka? Ah, a ingin mengambil pilihan yang pertama tetapi sejujurnya Hermione pun agak ragu jika harus menghampiri The Malfoys tersebut.
Entah firasat atau apa, Draco tiba-tiba menoleh tepat ke arahnya. Pandangan mereka bersobobrok. Draco tampak tersenyum dan membuat gerakan tangan seolah-olah ia menyuruh agar Hermione mendekat. Gadis berambut coklat tersebut akhirnya berdiri dari duduknya dan kemudian penuh dengan keraguan, ia mulai berjalan ke arah The Malfoys yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Seketika ia merasa tubuhnya kaku dan sulit digerakkan. Bagaimanapun Hermione tak bisa lupa akan keluarga Malfoy yang dulunya sangat membenci penyihir keturunan muggle sepertinya.
Perlahan namun pasti, akhirnya Hermione tinggal beberpa meter dari mereka. Narcissa kini nampak tersenyum ke arahnya—yang entah bagaimana ternyata bisa sedikit membantu untuk menjadi penenang kegelisahan hatinya. Sementara Lucius? Dia hanya diam masih memandangi Hermione—sepertinya ia memang tipikal orang yang sangat sulit untuk tersenyum meski sebenarnya ia mau melakukannya. Entah Hermione berhalusinasi atau bagaimana, samar-samar Lucius mulai menampakkan segurat senyum tipis dari bibir dinginnya. Yah, meskipun lebih terlihat seperti meringis. Tapi Hermione merasa itu sudah merupakan kemajuan besar setelah berakhirnya rezim si Pangeran Pesek.
Beberapa langkah lagi Hermione sudah akan sampai di hadapan Malfoy senior. Draco menantinya dengan penuh senyum merekah. Gelas minuman yang tadi dibawanya sudah ia diletakkan di salah satu meja panjang.
Namun sebelum Hermione sampai di hadapan mereka, tiba-tiba saja Astoria Greengrass muncul dan dengan segera menggandeng tangan Draco mesra. Draco terkejut, tentu saja. Si little Greengrass itu makin meggamitnya mesra. Bergelayutan di lengan Draco sembari tersenyum-senyum layaknya orang gila.
Kontan The Malfoy senior juga ikut terkejut, tapi mereka tidak tahu hal apa yang harus mereka lakukan. Mengusir Astoria darisana tentu saja bukanlah ide yang baik. Bisa-bisa jika mereka bertindak kasar kepada Astoria, keluarga Greengrass akan mengakhiri kontrak kerjasama saham mereka—yang saat ini sangatlah berpengaruh terhadap kelangsungan bisnis kerajaan Malfoy. Karena tak dipungkiri, salah sedikit saja perusahaan kerajaan bisnis Malfoy bisa jatuh bangkrut—mengingat status kelam mereka setelah runtuhnya rezim Voldemort, yah meskipun mereka berbalik kubu di detik-detik terakhir. Namun hal itu tak cukup membuat banyak orang percaya begitu saja, dan beginilah jadinya. Mereka tidak boleh bersikap kasar kepada Astoria, karena bisa-bisa nama mereka akan menjadi jelek di telinga keluarga Greengrass hanya dikarenakan masalah sepele seperti ini—yang akhirnya berujung pada pemutusan kerjasama yang sangat mereka butuhkan saat ini.
Draco mendelik menatap Astoria yang kelihatannya sama sekali tak berniat untuk melepaskan pegangannya di lengan Draco. Dan yang lebih membuat Draco muak dan rasanya ingin mencekik leher si Greengrass muda itu adalah ketika Astoria secara spontan mengecup bibirnya—tidak memedulikan tatapan tidak percaya dari Malfoy senior, khususny Hermione.
Hermione tidak tahu mengapa hatinya terasa begitu sakit dan sesak. Batinnya juga menjerit pilu dengan sedikit gemuruh amarah di dalamnya. Ia belum pernah merasakan yang seperti ini sebelumnya. Padahal ia sadar betul bahwa tak seharusnya ia seperti ini. Toh ia dan Malfoy tak memiliki hubungan apa-apa, jadi ia sama sekali tak berhak untuk menyalahkan Draco.
Manik hazelnya yang semula jernih bagaikan kristal kini penuh dengan linangan air mata—yang Hermione jug tak tahu apa sebabnya. Yang jelas yang ia inginkan untuk saat ini adalah pergi sejauh mungkin dari pemandangan yang begitu menohok hatinya itu.
Dengan senyum canggung dan penuh keraguan bercampur kecewa, ia menghampiri Malfoy senior.
"Saya permisi Mrs. Malfoy, Mr. Malfoy. Saya masih ada tugas lain yang mesti saya kerjakan," jelas Hermione berbohong dengan suara yang bergetar berusaha menahan tangis yang akan segera pecah. Narcissa dan Lucius menatapnya iba dan penuh simpati.
"Tunggu, Hermione dear," ucap Narcissa ketika Hermione sudah akan melangkahkan kakinya meninggalkan mereka. Hermione berbalik sebentar dengan senyuman yang sebisa mungkin ia buat menjadi natural—tidak dipaksakan. Namun tentu saja hal itu sia-sia. Toh ia lebih terlihat seperti baru saja terkena serangan bludger.
"Oh iya, aku hampir lupa. Aku sungguh berterima kasih akan gaun ini, Narcissa," ucap Hermione tulus. Untuk sesaat Narcissa mengulum senyum langkanya. Sementara Astoria terlihat melotot tak percaya akan apa yang baru saja di dengarnya. Yang benar saja, Narcissa memberikan gaun indah itu untuk Hermione? Ia menggeram dalam hati lalu kemudian semakin kencang menggamit lengan Draco. Draco menatap murka ke arahnya sambil terus berusaha melepaskan dirinya dari sang nenek lampir.
"Aku benar-benar menyesal dengan ini, tapi sungguh aku masih harus mengerjakan tugas," Hermione kembali beralibi. Dan tanpa menunggu persetujuan orang-orang yang ada disana, Hermione segera berlari secepat yang ia bisa keluar dari aula besar.
"HERMIONE!" Draco berteriak di belakangnya, namun terlambat. Hermione sudah pergi meninggalkan aula besar bersama remuk redam hatinya.
-To Be Continued-
-OoOoO-
.
.
Wah mohon maafkan author atas keterlambatan updatenya. Author sadar author telat update sehari dari waktu yang seharusnya. Yah meskipun hanya sehari, tapi author merasa bersalah. Maklum seminggu belakangan ini author disibukkan dengan berbagai ulangan harian di Muggle World T_T *curcol ... But, thanks a lot of for u all gays! Saya harap masih ada yang menanti kelanjutan fict ini, dan sekedar info ... Ini merupakan chap terpanjang dari seluruh chap MBiF saya rasa, panjangnya sekitar 4k+ tanpa disclaimer dan CCSL ... Saya harap kalian masih bersedia membaca dan mereview fict ini agar saya tahu bagaimana pendapat kalian ^^ ...
Well, berikut balasan reviewnya :
blizzard19 :
Hello juga blizzard (^o^)/ ... Maaf saya gak tau pasti tamatnya bakal di chap berapa ... Tapi seperti rencana awal, kalau fict ini bakalan tamat di chap belasan kok :) ... Emang abis Juni mau kemana? Ujian yah? XD ... Klo iya, semoga sukses ^^ ... Mmh keren? Hehe thanks... Klo soal Pansy, entahlah ... Baca aja chap ini dan chap2 berikutnya :) Makasih yah sudah review, mind to review again?
Nalula zurachan :
Hehe iya tetep tunggu yah XD ... Makasih sudah review sista :) ... Review lagi?
valerieva :
hihi ... Bagus deh kalau kamu seneng dan suka bahkan sampe nahan ketawa krn gak mau ganggu dedek kecil yg lagi bobo XD ... Ah iya deg-degan jg author pas nulisnya *plakkk wkw~ ... Merasa kependekan? Wah padahal chap kemaren itu yg terpanjang dari chap2 sebelumnya deh perasaan XD (atau ini juga hanya perasaan author? :O) ... Iya ini sudah update :) maaf agak ngaret sehari hehe ... Makasih ya sista atas semangat dan reviewnya :) review again? ^^
Ginerva :
cieee yang pengen dicium Draco juga wkw~ *pukpuk lain kali yah XD ... Makasih yah sudah review, review lagi? :)
PL Therito :
Hehe jawabannya ada di chap2 selanjutnya :) makasih yah love atas reviewnya XD ... Review lagi?
Ryoma Ryan :
Makasih yah atas reviewnya :) Review again? XD ...
BlueDiamond13 :
Hehe iya gak ap2 :) Makasih yah sudah review, review lagi? ^^
Rannada Youichi :
Hihi baguslah kalau bisa senyam-senyum gara2 fict ini XD ... Iya ini sudah update, maaf agak ngaret ... Makasih yah sudah review, review again? :)
hikari re-chen :
Hehe iya tunggu aja chap2 berikutnya, ada lagi kok ntar XD ... Makasih yah sudah review :) Review lagi?
Ochan Malfoy :
Iya si Pansy emang nyebelin xixixi~ ... Bagus deh klo chap kemaren bikin Ochan senyam-senyum sendiri XD ... Ini Draconya udah terpesona pake banget kok sama Mione *tapi sayang ada Astor wkw~ ... Makasih sudah review dear :) ... Review again?
Ladyusa :
Iya gapapa :) ... Ini sudah update, ahaha iya setuju! Si Pansy emang iri :p *dicekik Pansy* ... Makasih atas review dan semangatnya :) Review lagi?
larastin :
hi juga larastin (^o^)/ ... Benarkah? Kalau gitu makasih yah udah ngikutin dari chap awal hingga sekarang? Makasih jg atas reviewnya dear :) Review again?
Constantinest :
Ini sudah update kok, gak penasaran lagi kan? XD ... Iya ntar dipoles pake madu plus gula segala rasa biar tambah manis *eh? Wkwk~ Sy masih belum tahu bakal sampai chap berapa, yg jelas cuman sampe belasan ^^ ... Makasih sudah sempet review :) Review lagi?
Naomi Averell :
Iya dong, Draco gitu loh XD .. Iya ini sudah update kok ^^ Makasih yah atas semangat dan reviewnya sist :) Ditunggu selalau XD *plakk ...
Keep read an review yah guys! :) Satu saja review dari kalian benar-benar bisa membuat author senang dan semangat untuk melanjutkan fict ini (yang silent reader, ditunggu juga reviewnya XD) ...
P.S : Untuk chap selanjutnya, saya meminta maaf karena mungkin tak bisa tepat waktu untuk meng-updatenya. Berhubung minggu depan, author udah semesteran alias UKK ... Doakan semoga hasilnya baik dan memuaskan yah :) Aamiin.
Byebye all, see u in the next chap ^^
.
.
.
Salam,
Miss Lovegood
