A/N : Hello! ^_^)/I'm so sorry for a looooong update, guys! (2 weeks, maybe? .-.) ... But certainly you knows what the reason (OML—Ordinary Muggling-exam-Muggle Level *plak )... But, don't worry—I'm back XD! And this is a new chapter special for you who still be waiting for MBiF! Hope u like it :D
.
.
Disclaimer :
Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling. But all of idea, of course belong to me :)
Pairing :
Draco Malfoy dan Hermione Granger
Genre :
Romance, Hurt/Comfort
Rated : T (teen)
Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts (after war)
...
Warning :
Saya sudah berusaha untuk tidak typo
(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf).
Bahasa yg mungkin masih jauh dari kata bagus(?), sepertinya agak OOC dan lain sebagainya ...
|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|
.
.
.
My Blood is Ferret
Chapter 12
(My Blood is Ferret)
.
.
.
"HERMIONEEE! Jangan pergi!" Draco berteriak lagi, kali ini nyaris menggegerkan seantero Hogwarts—andai saja tak teredam oleh alunan musik pesta yang keras memekakkan telinga. Bahkan beberapa pasang mata, sempat melirik ke arahnya dengan pandangan keheranan. Tapi toh, mereka pada akhirnya kembali terlarut dalam suasana kemeriahan pesta.
"Lihat! Apa yang telah kau perbuat? Kau mengacaukan semuanya!" Draco menyentakkan tangan Astoria secara kasar yang sejak tadi melingkari lengannya—entah mendapat kekuatan serta dorongan dari mana. Tiba-tiba saja ia merasa hatinya mendidih dan mencelos dalam waktu yang bersamaan menyaksikan kepergian Hermione yang berjuntai air mata. Astoria tertegun menatapnya dengan iris yang menyipit—kedua alisnya menyatu, bergumul tepat di tengah.
"Draco! Beraninya ka—"
"APA, HAH?!" Belum sempat Astoria menyelesaikan kalimatnya, Draco sudah terlebih dahulu membentaknya dengan urat-urat yang telah menonjol di sekitaran kening Draco. Astoria kembali mematung di tempatnya. Maniknya nampak berlinangan sekarang.
Kedua Malfoy senior yang berada di sana ternyata turut terkejut—tertegun—melihat kejadian yang terjadi tepat di depan hidung mereka. Draco memandangi mereka sejenak dengan pandangan yang seolah-olah menyiratkan permintaan tak kasat mata 'tolong-sekali-ini-saja-hargai-pilihanku'. Kemudian setelah itu, ia berjalan setengah berlari ke luar aula besar—tempat pesta berlangsung. Meninggalkan hiruk-pikuk kemeriahan pesta.
Ia tahu, betapa terlambatnya dirinya untuk menyusul Hermione. Tetapi, apa boleh buat? Salahkan Astoria yang dengan genitnya sampai tak mau melepaskan Draco dari cengkeraman memuakkannya. Draco tak tahu akan sampai kemana tumpuan kakinya akan membawanya menuju Hermione, yang jelas ia harus menemukan Hermione secepatnya!
.
-OoOoO-
.
Gadis itu masih berlari dalam pekatnya pencahayaan di sekitar koridor, namun ia tak peduli dengan penerangan yang sangat minim itu. Sebab, hatinya jauh lebih pekat dan kadarnya jauh lebih minim untuk sekedar bernapas diantara sesak oksigen akibat kristal bening yang semenjak tadi terus merangsek keluar bagaikan ablusi dari maniknya—seakan-akan melebur menjadi satu di sekitaran frame wajahnya. Ia masih terus berlari, bahkan sesekali nyaris terhuyung lantaran high heels-nya terasa kurang bersahabat. Namun sekali lagi, ia tetap tak peduli!
Gadis itu berhenti sejenak, wajah bonny-nya dipenuhi dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir bagaikan kanal sungai di wajah blanch-nya. Napasnya memburu—terengah-engah, sulit membedakan antara air mata ataupun peluh. Ia mengusap keningnya sejenak, menyenderkan sebelah tangan mungilnya di tembok dingin koridor–sebagai penopang tubuhnya yang kini semakin lama semakin kekurangan energi.
Hermione mencoba menenangkan diri, mengambil napas secara teratur kemudian menghembuskannya perlahan. Argent sang rembulan yang menyusup melalui celah di salah satu jendela besar, cukup untuk memberikan kilau remang di surai coklat—yang kini sudah kusut masai itu. Ia memejamkan maniknya. Merekam kembali segala peristiwa barusan. Peristiwa yang entah kenapa terus-menerus berseliweran di kepalanya dan menghambat fungsi otaknya yang cerdas.
'Untuk apa kau menangis, Hermione! Dia bukan siapa-siapamu, ingat?' Membatin meyakinkan diri sendiri bahwa sebenarnya tak ada yang salah dengan dirinya. Meyakinkan dirinya bahwa sama sekali hatinya tak merasakan luka yang menganga di dasarnya. Namun percuma. Toh, itu bukanlah jawaban yang sebenarnya mencuat di relungnya.
Gadis itu mengerjap, mengusap dengan kasar lelehan bening yang masih setia turun perlahan dari hazelnya. Suara-suara jangkrik di luar kastil sangat jelas terdengar—seolah-olah menjadi backsound riuh rendah pesta di aula besar sana, sekaligus menjadi suatu cadenza pedih yang mewakili setiap hembus napas Hermione.
Ia melepas high heels yang semenjak tadi setia menghiasi kaki jenjangnya, menjinjingnya di tangan sementara kakinya dibiarkan bertelanjang tanpa alas menyusuri lantai dingin koridor—yang kini sama mencekamnya dengan hatinya yang seolah-olah telah sekarat.
"Menangis, nona Granger?" Sebuah suara serak menyentak pikiran Hermione dari arah belakangnya. Ia menoleh, memutar badan.
"Mr. Filch?" Hermione meyipitkan atensinya, seolah-olah berkata 'apa-yang-anda-lakukan-disini?' terhadap Filch yang kini menjulang di hadapannya—menyeringai senang seperti biasa, layaknya menemukan santapan tikus gemuk bagi sang kucing kesayangan, Mrs. Norris.
"Sedang apa kau disini, eh? Berkeliaran malam-malam di koridor sepi sementara pesta besar tengah berlangsung di aula!" Filch berkata dalam nada abominasi-nya. Hermione meneguk saliva dalam kekeringan kerongkongan—akibat terlalu banyak menangis tadi, bahkan di wajahnya masih terdapat noda-noda bekas air mata yang telah mengering.
Hermione tidak tahu harus menjawab apa, pikirannya buntu seketika. Alibi atestasi pun terasa sulit untuk di lontarkan dari bibir ranumnya. Sekali lagi ia meneguk salivanya dengan tempo gugup—padahal ia yakin benar bahwa dirinya sama sekali tak melanggar aturan. Ia hanya sekadar melewati koridor sepi yang sangat jarang—bahkan bisa dibilang nyaris tidak pernah dilalui oleh murid-murid lainnya, apalagi di waktu malam seperti ini hanya demi menghindari Draco Malfoy yang kemungkinan besar akan mengejar dan menguntitnya hingga ke asrama. Dan Hermione tidak mau hal itu terjadi.
"Aku ... Aku—ah, kurasa apapun yang ku lakukan, itu sama sekali bukan urusanmu, Mr. Filch!" Hermione sudah mendapatkan setengah keberaniannya sekarang, menjerit tepat di depan hidung Filch yang seketika terlihat terkejut mendapati jari telunjuk Hermione yang kini menudingnya. Namun hal itu tak berlangsung lama. Dalam kalkulasi detik yang singkat, akhirnya Filch kembali mengeluarkan seringai menyebalkannya di depan Hermione. Gigi-gigi kuningnya semakin jelas terlihat dengan pencahayaan dari lentera yang ia pegang. Kuku-kuku kotor di tangannya pun melingkar di sekitaran lentera itu, sementara tangan yang satunya memegangi—lebih tepatnya menggendong—tubuh Mrs. Norris.
"Sedang merencanakan sesuatu, Miss?" Tanya Filch dengan wajah iblisnya. Hermione memandanganya tajam. Ia tak habis pikir, di tengah keadaannya yang telah terpuruk sedemikian rupa bersama remuk redam hatinya, masih saja penjaga sekolah bergigi kuning ini menaruh curiga terhadapnya! Benar-benar mengesalkan hingga ke ubun-ubun.
Hermione menarik napas, kemudian menghembuskannya dengan keras—mulai merasa emosi—diselingi rasa animus—terhadap kelakuan Filch yang sangat 'minta-ditonjok' itu.
"Mr. Filch, ku tekankan padamu, bahwa AKU SAMA SEKALI TIDAK MERENCANAKAN SESUATU MALAM INI! Dan perlu kau tahu juga, AKU INI KETUA MURID PEREMPUAN! Jadi apa salahnya aku berjalan-jalan keliling Hogwarts untuk sekadar patroli, hah?!" Bual
Hermione setengah berteriak.
"Meoowww!" Tiba-tiba suara meongan kucing yang nyalang terdengar setelahnya. Dengan seketika Hermione mendelik tajam ke arah Mrs. Norris dengan tatapan tak senang. Kucing itu balik menatapnya dengan pandangan berkilat-kilat yang melekat jelas di atensi fokusnya. Filch ikut menatap ke arah kucingnya, dan kemudian membelai-belai bulu-bulu tipis Mrs. Norris—seolah-olah itu dapat membuat kucing itu tenang—dengan rasa amatori yang berlebihan. Ia mendongak menatap Hermione dengan raut yang terpeta sangar.
"Jangan kucingku!" Raungnya marah, menarik Mrs. Norris semakin dalam ke pelukannya. Lentera yang ia pegang di tangan satunya ikut bergoyang-goyang karenanya. Siluet mereka semakin terlukis jelas di dinding koridor nan sepi itu, semakin menambah atmosfir yang tidak nyaman menjadi semakin suram. Kini giliran Hermione yang menyeringai melecehkan dan mulai berjalan perlahan ke arah Fich dan Mrs. Norris—yang masih setia di gendongnya.
"Mau apa kau?!" Jerit Filch yang mulai merasa terancam dan tersudutkan. Ia perlahan-lahan mundur mengikuti irama langkah Hermione yang kini mulai maju selangkah demi selangkah, semakin mempersempit jarak di antara mereka. Atensinya membeliak—nyaris keluar dari rongga selaputnya saking paniknya.
Semua orang pun tahu bahwa keadaan seorang Filch sekarang tak ubahnya seekor tikus kecil mengkeret yang siap di terkam sang singa lapar. Yah, benar-benar tindakan bodoh yang dilakukannya. Ia telah berani menyulut api emosi sang singa betina yang tengah di ambang ablusi akal sehatnya itu.
Tanpa sengaja, lentera yang dipegang Filch pun jatuh ke lantai dingin kastil—menghasilkan bunyi kelontangan berkepanjangan yang menggema di sepanjang koridor sepi itu. Penerangan pun padam seketika. Menyisakan tiga pasang cahaya yang masih bersinar sesuai agitasi diri masing-masing. Namun, di antara ketiga pasang cahaya itu, kilau manik kuning sang Mrs. Norris lah yang lebih dominan berpendar terang dalam keremangan cahaya bulan yang samar-samar.
Seorang squib mau melawan seorang penyihir hebat gemilang nan bersinar seperti Hermione Jean Granger? Blah! Yang benar saja!
Langkah demi langkah benar-benar telah mempersempit jarak antara mereka saat ini—membuat Filch mau tidak mau, meneguk salivanya secara kasar. Matanya masih membeliak lebar, namun tak sampai keluar dari rongga penopangnya. Hermione semakin menyeringai psycho di seberangnya, manik hazelnya berkilat-kilat penuh animus kesumat.
Tiga langkah lagi ...
Dua langkah lagi ...
Selangkah lagi, dan ...
"HERMIONEEEEE! Dimana kau?! Terdengar suara teriakan seorang pria memanggil nama Hermione. Hermione kembali menemukan kesadarannya, ia merasa setengah trans mendapati Filch yang mengkeret ketakutan di bawah kakinya sembari masih memeluk erat kucing kesayangannya—Mrs. Norris.
"Draco," Hermione bergumam, ia membekap mulutnya. Ia tak ingin bertemu dengan pemuda bersurai platina itu, tidak sekarang. Hermione terlihat bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang. Sementara Filch menggunakan kesempatan itu untuk pergi—berlari terseok-seok—secepat yang ia bisa meninggalkan Hermione seorang diri di koridor sepi itu, sebelum Hermione kembali menjadi seseorang yang nampak berkepribadian ganda lagi seperti tadi.
"HERMIOOOOONEEEEE!" Terdengar sebuah suara lagi. Jaraknya kini sudah begitu dekat terhadap Hermione. Sampai-sampai gadis ikal itu bisa dengan jelas mendengarkan desahan napas sang pemuda yang kentara sekali tengah terengah-engah itu—mungkin dikarenakan berlari dalam kalkulasi waktu yang lumayan lama.
Tanpa banyak berpikir lagi, Hermione segera berlari secepat yang ia bisa. Sebelah tangannya masih menjinjing high heels. Deru napasnya memburu, kaki-kaki reniknya terus mempercepat lajunya. Dengan keadaan yang masih berlari seperti itu, Hermione masih bisa mendengar suara derap langkah menggema seseorang di sepanjang koridor sepi itu—yang sepertinya sama terburu-burunya dengan dirinya. Dan ia yakin, bahwa orang itu—tak lain dan tak bukan—pastilah Draco Malfoy. Hermione sempat menegok ke belakang. Namun yang terlihat hanyalah kegelapa suram mencekam. Bahkan penerangan obor-obor di sepanjang koridor itu pun tak sanggup memberikan pencahayaan bagi tanduk matanya yang mulai letih.
Hermione berbelok dengan cepat ketika mendapati belokan di ujung koridor. Ia tahu bahwa belokan tersebut dapat mengantarnya dengan cepat hingga ke asrama ketua murid. Dan benar saja, samar-samar Hermione mulai melihat lukisan menuju asramanya. Ia semakin mempercepat langkahnya. Kini ia tak lagi mendengar derap langkah seseorang di belakangnya. 'Mungkin ia berbelok ke arah lain,' pikirnya.
"Katak Jelek," Hermione berkata pelan. Lukisan di hadapannya seketika mengayun terbuka menghamparkan pemandangan asrama ketua murid yang sama sekali tak berubah, masih seperti terakhir kali Hermione meninggalkannya beberapa waktu lalu.
Dengan langkah tergesa-gesa, Hermione segera melangkah naik ke atas tangga menuju kamarnya berada. Ia memutar kenop pintu kamarnya dengan gerakan kaku. Ranjang tempat tidurnya terlihat sangat menggoda. Kasur empuknya seolah-olah menjadi destinasi yang paling ia inginkan sekarang.
Dengan segera Hermione langsung berlari masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintunya rapat-rapat—bahkan ia lupa dengan mantra Colloportus, saking kalutnya hatinya kini—dan membanting dirinya ke kasur—menenggelamkan wajah lelahnya ke dalam tumpukan bantal. Hermione menangis, yah gadis itu kembali menangis. Peristiwa beberapa waktu lalu benar-benar melukai hatinya, padahal nyatanya ia sendiri pun tak tahu apa sebab yang sebenarnya dari perasaan dismal-nya itu. Tahu-tahu, ia tiba-tiba saja merasakan desolasi tepat di ulu hatinya, bagai tertusuk sembilu pedih.
.
-OoOoO-
.
"Granger," teriak seseorang dari luar. Jemari pucatnya masih setia mengetuk pintu di hadapannya dengan perasaan disilusi tiada tara. Bahkan sekarang ia mulai menggedor-gedor pintu tersebut karena tetap tak mendapatkan respons yang ia harapkan, padahal sudah lebih dari satu jam ia termangu menunggu disana. Ia tadinya ingin merapalkan mantra 'Alohomora' saja ke arah pintu kamar Hermione, namun ia merasa itu bukanlah tindakan yang cukup baik untuk dilakukan sekarang.
Draco meremas rambutnya frustrasi. Ia menyenderkan punggungnya ke pintu, dan perlahan-lahan merosotkan tubuh kekarnya hingga ke lantai—dengan posisi satu kaki yang berselonjoran, sedang kaki yang satunya ditekuk hingga mensejajarkan posisi lututnya dengan dadanya. Tangannya memegangi kepalanya yang mulai terasa berdenyut pening. Surai platinanya kini sudah tak tertata dengan baik seperti tadi, malah terlihat sangat berantakan dan sedikit lepek disebabkan peluh yang mengucur deras dari keningnya.
Ia mulai menarik kedua kakinya—mengambil posisi memeluk lutut. Tak berselang lama, Draco pun menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya, cukup lama dalam posisi itu. Dan mungkin sempat teridur.
Namun, tiba-tiba denting jam yang berdentang membuatnya tersentak. Ia menengadahkan kepalanya, memerhatikan keadaan sekeliling yang belum berubah sama sekali—masih sama seperti tadi. Ia berbalik menatap pintu kamar Hermione, menyadari sama sekali tak ada tanda-tanda sang penghuni kamar mau bertemu dengannya. Dengan itu, Draco pun mulai berdiri. Mengerjap-ngerjapkan atensi kelabunya yang semakin terasa berat. Mulai melangkah meninggalkan kamar Hermione—setelah sekali lagi ia menoleh dan masih tak menemukan tanda-tanda sang gadis akan keluar.
Ia sadar, ada yang salah dengan hati dan perasaannya terhadap Hermione—namun ia tak tahu perasaan apa itu. Mengingat Hermione bukanlah siapa-siapanya, tentu membuat kasus ini terasa aneh dan janggal. Entah mengapa melihat Hermione yang seperti itu, ia merasa hatinya pun ikut tersulut kepedihan yang teramat dalam. Hatinya hampa, sepi—layaknya burial-burial suram yang teronggok kelam.
.
-OoOoO-
.
Hermione berjalan gontai menuju arah pantri. Tenggorokannya terasa kering meminta dialiri seseuatu yang menyegarkan. Ia mulai berjalan pelan menuruni tangga.
Keadaan ruang rekreasi ketua murid tak jauh berbeda dengan keadaan di kamarnya. Gelap dan sunyi. Ruangan itu sama sekali tak memperlihatkan adanya tanda-tanda kehidupan disana. Dengan perasaan kalut serta kepala yang masih terasa berat, Hermione mulai melangkahkan kaki-kaki reniknya menuju pantri.
Gadis itu membuka lemari pendingin, mengambil sebuah teko berwarna perak—menuangkan air putih ke dalam sebuah piala. Ia meneguknya sampai habis, lalu kemudian kembali mengisi piala tersebut dengan air putih dan meminumnya dengan cepat—bahkan beberapa tetes air menyeruak keluar dari bibirnya dan membasahi leher jenjangnya, saking tergesa-gesanya. Hermione mengelap sudut bibirnya dengan punggung tangannya. Meletakkan piala kosong itu di atas sebuah meja kecil di sudut ruangan. Kemudian berjalan keluar meninggalkan pantri, setelah mematikan lampu disana.
Keadaan di ruang rekreasi masih sama seperti sebelumnya, gelap gulita. Hanya detik jam yang terdengar sesekali menghidupkan ruangan itu—yang nyatanya justru membuat kesan suram dan mencekam.
Dengan perlahan, Hermione mulai berjalan—berniat untuk kembali ke kamarnya.
'Mungkin Mallfoy masih sibuk dengan Astoria,' batinnya getir. Hermione sudah akan melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya, sebelum ia menyadari ada sesuatu yang aneh di depan matanya. Ia melihat ada sebuah lengan yang tergolek lemah di sebuah sofa. Terdorong rasa penasaran yang kuat, akhirnya Hermione memacu langkahnya mendekati sofa tersebut. Samar-samar, ia mulai melihat sejumput surai berwarna argent dibalik sofa tersebut.
'Apakah itu, Malfoy?' ia berkata dalam hati. Ia kembali berjalan mendekati objek tersebut.
Matanya seketika menyipit menjadi segaris ketika ia telah berada di depan sofa tersebut. Ia melihat Draco tergeletak lemah disana. Keadaannya terlihat kacau dan sangat berantakan. Jas beserta tuxedo-nya berserakan di lantai, dasinya masih terpasang di kerah kemeja putihnya—namun sudah hampir terlepas. Kemejanya pun nampak kusut disana-sini dan sudah menyeruak keluar dari celananya. Matanya terpejam, manik kelabunya tersembunyi dibalik kelopak sang empunya. Wajahnya terlihat damai dalam keadaan seperti itu, meski nampak guratan-guratan kelelahan yang terpatri disana.
Entah apa yang dipikirkan Hermione, ia malah berjalan mendekat ke arah Draco. Ia bahkan duduk di pinggiran sofa yang masih tersisa. Hermione menatap wajah Draco lekat-lekat dan tanpa sadar, jemari mungilnya mengusap lembut wajah Draco. Menyibakkan rambut sang Pangeran Slytherin tersebut hingga terlihat lebih rapi.
'Malfoy, andai kau mengerti dengan apa yang aku rasakan—yah, meskipun sebenarnya aku pun merasa bingung atas semua perasaan anehku ini terhadapmu.'
Ia kembali menyusuri lekuk wajah tampan pemuda di hadapannya. Menatapnya dalam-dalam, seolah-olah itu merupakan satu-satunya hal terakhir yang bisa ia lakukan. Dan tiba-tiba sebuah jemari pucat menghentikan aktifitasnya, membuat Hermione tersentak kaget. Jemari itu menggenggam tangan Hermione dengan erat.
"Hermione, jangan pergi," ujar pemuda itu—kelihatannya mengigau, karena matanya masih terpejam rapat-rapat. Hermione mematung di tempatnya.
Tak lama kemudian, ia menyadari bahwa tak seharusnya ia berada disana. Dengan gusar, Hermione berusaha untuk kembali ke kamarnya—meninggalkan Draco disana. Namun, sekali lagi jemari pucat itu menariknya dengan erat dan kencang. Mau tak mau, Hermione tanpa sengaja terjungkal ke arah pemuda itu. Jarak wajahnya dan Hermione begitu dekat, embusan napasnya terasa begitu hangat menjalari wajah Hermione.
Hingga membuat gadis itu kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu ketika dirinya berciuman—untuk yang pertama kalinya—dengan Draco Malfoy, pemuda yang dulunya merupakan daftar terakhir pilihan Hermione apabila sudah tak ada lagi pria di muka bumi ini. Demi Merlin!
"Hermione, aku minta maaf. Hermione jangan pergi!" Tiba-tiba Draco memekik masih dalam tidur gelisahnya. Hati Hermione menjadi sangsi, apakah seharusnya ia benar-benar kembali ke kamarnya atau—tetap disini menemani Malfoy?
Masih diliputi dengan rasa yang penuh keraguan, Hermione bahkan tak menyadari bahwa Draco sudah bangun.
"Granger," Draco bergumam pelan—namun tak dipungkiri bahwa hal itu mampu menyadarkan Hermione dari autosugestinya. Dengan cepat Hermione menarik tangannya kembali dari Draco dan segera berdiri dari sofa tersebut. Ia tak berkata apa-apa.
Hermione sudah akan berlari menuju kamarnya andai saja sebuah tangan kekar tak mengunci pergerakannya—yah dengan secepat kilat, Draco bangun dari posisi rebahannya dan ikut berdiri sembari memegangi pergelangan Hermione kuat-kuat.
"Malfoy, lepaskan aku!" Raung Hermione.
"Tidak, sebelum semua masalah ini beres!" Balas Draco dengan nada yang tak lebih rendah dari nada suara Hermione.
"Tapi kita sama sekali tidak punya masalah, Malfoy!" Hermione masih memberontak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sang Pangeran Slytherin itu.
"Kita punya masalah, Granger. Dan kita harus menyelesaikan itu semua sekarang!" Cengkeraman Draco semakin kuat, hingga membuat Hermione akhirnya berhenti meronta-ronta. Mungkin ia merasa sama sekali tak ada gunanya apabila melawan seorang Draco Malfoy, yang secara fisik pasti jauh lebih kuat dan tangguh darinya. Melihat Hermione yang sudah mulai lunak, akhirnya Draco melonggarkan sedikit cengkeramannya di lengan Hermione.
"Aku hanya ingin kau mendengar penjelasanku," Draco berkata lirih.
"Tapi tak ada yang perlu dijelaskan, Malfoy." Hermione masih bersikap keras kepala.
"Tentu saja ada, Granger! Kau mengacuhkanku setelah semua kejadian yang terjadi malam ini!" Pekik Draco. Hermione hanya bisa terdiam di tempatnya, tanpa merasa bisa melakukan satu hal sekalipun—yang sebenarnya sangat ia ingin lakukan.
"Granger, kumohon mengertilah. Aku...Aku tak tahu mengapa aku bisa seperti ini. Aku tak tahu mengapa aku begitu peduli denganmu yang justru bersikap apatis terhadapku sekarang. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Yang aku tahu, aku hanya merasa sakit ketika kau membenciku seperti ini," jelas Draco panjang lebar dalam nada putus asa yang sangat kentara. Perlahan, ia mulai melepaskan cengkeramannya di lengan Hermione. Hermione tak tahu harus menjawab apa, lengannya yang kebas dan sudah bebas bahkan sama sekali tak ia rasakan.
Berbagai pikiran berseliweran memenuhi cerebelum di kepalanya. Seharusnya sekarang ia sudah bisa menjauh dan meninggalkan Draco. Namun kaki-kaki kecilnya seolah-olah berkhianat. Ia sama sekali tak bisa menuntun kakinya untuk membawanya ke kamar. Ia masih disana, saling berpandangan dengan Draco Malfoy. Seolah-olah melalui tatapan mata, semua yang mereka rasakan bisa tersampaikan kepada hati masing-masing. Draco mulai mendekat ke arahnya, namun Hermione masih terdiam tanpa melakukan apapun.
Dan tiba-tiba sesuatu yang hangat dan lembut menyapu bibirnya. Membuatnya merasa setengah trans sekarang. Yah, Draco Malfoy menciumnya—untuk yang kedua kalinya dalam hidupnya. Hermione hendak memberontak dan mengakhiri semuanya. Namun sekali lagi, kini hatinya lah yang berkhianat. Dan entah mengapa ia ikut terlarut dalam romantisme kepedihan yang diciptakan Draco Malfoy. Yah, romantisme kepedihan—terasa manis sekaligus pedih di waktu yang bersamaan.
Keduanya—Draco dan Hermione—memejamkan mata. Menikmati hangatnya bibir masing-masing yang sebenarnya begitu mereka rindukan satu sama lain. Seolah-olah ciuman itu mampu memperjelas semua perasaan yang tak mereka sadari hingga sekarang. Seolah-olah hanya dengan ciuman tersebutlah, semua hal yang membuat hati mereka sesak bisa menjadi ringan—seringan kapas di udara.
Draco menekan tengkuk Hermione untuk memperdalam ciuman mereka. Dan tanpa sadar, kini ia sudah meyeret Hermione menuju tembok dingin asrama ketua murid—tepat di sebelah sebuah meja.
Draco mulai melumat bibir Hermione dengan penuh gairah, menggigit sedikit bibir Hermione agar diberi jalan masuk. Entah mengapa Hermione begitu menikmatinya, secara refleks ia membuka mulutnya. Kesempatan itu tak disia-siakan Draco Malfoy untuk melesatkan lidahnya masuk ke dalam mulut Hermione. Mengabsen satu persatu deretan gigi putih dan rapi itu. Tangan Hermione pun mulai bergerak ke leher Draco , mengalungkannya tepat disana. Sembari sesekali bergerak ke surai platina sang Pangeran Slytherin itu, meremasnya perlahan—membuat Draco semakin kehilangan kontrol untuk berhenti menciumi gadis singa itu.
Namun tiba-tiba hazel itu terbuka, setengah terkejut dengan apa yang ia lakukan sekarang bersama partner ketua muridnya, Draco. Ia sungguh terbawa suasana hingga tak menyadari segala hal yang telah terjadi. Untuk sejenak, manik coklat madu itu membulat terkejut—sementara Draco masih memejamkan matanya dengan terus mengeksplorasi bibir dan setiap jengkal rongga mulut seorang Hermione Granger.
Ketitiksadaran kini mulai memanggil akal sehat Hermione, ia mulai mencoba melepaskan diri dari Draco Malfoy. Ia sadar ini salah. Ia sadar bahwa ini semua tak seharusnya terjadi. Dengan tenaga yang masih tersisa, ia mendorong Draco cukup kuat. Membuat pagutan mereka terlepas. Draco menatapnya dengan pandangan bingung, heran, sendu, dan kecewa menjadi satu.
"Malfoy! Apa yang kau lakukan?" Hermione merengut.
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya memang dilakukan," jawab Draco sekenanya tanpa banyak pikir.
"Tidak, Malfoy! Aku tahu ini semua salah!" Hermione berteriak frustrasi, seakan-akan benar-benar lepas kendali.
"Granger," panggil Draco perlahan. "Sama sekali tak ada yang salah dengan semua ini. Semua ini benar dan memang seharusnya seperti ini," lanjutnya kemudian.
Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya dengan seringai kepedihan yang menempel di wajahnya. Ia nampak lelah dan seperti sudah tak bertenaga lagi.
"Tidak, Malfoy! Aku tahu segala hubungan yang terjadi diantara kita pasti tak akan pernah bisa berhasil! Kau dan aku berbeda! Kau darah murni, sedangkan aku hanyalah seorang darah lumpur hina. Yah, aku akui ucapan Astoria benar," Hermione tertawa, tertawa hambar. Napasnya memburu diiringi dengan detak jantungnya yang kini memacu seratus kali lipat dari yang seharusnya. Pandangannya mulai mengabur. Tubuhnya terasa tak memijak muka bumi lagi. Tubuh mungil itu pun akhirnya perlahan-lahan merosot ke tembok dingin asrama.
Draco berjalan mendekati gadis itu dengan wajah super khawatir terpeta jelas di garis-garis wajahnya.
"Granger, kau tak apa?" Draco berujar cemas. Raut wajahnya begitu gusar. Tiba-tiba manik hazel Hermione terbuka lebar, mamandanginya tanpa kedip. Dan tak lama kemudian disusul dengan tawa melengking dari bibir ranum Hermione, yang kini terlihat lebih pucat. Gadis itu tertawa layaknya orang psycho. Membuat Draco sedikit terkejut karenanya.
"Granger, kau kenapa?" Draco kembali bertanya sembari menuntun tubuh rapuh itu untuk berdiri dalam posisi tegak. Dan tiba-tiba Hermione melumat bibir Draco secara brutal, tak membiarkan sang empunya untuk melepaskan diri. Hermione menggigit bibir Draco dengan cukup kuat, membuat sedikit darah segar mengalir disana.
'Dia bukan Hermione!' Batin Draco menjerit gusar.
Hermione masih melumat bibirnya dengan kasar dan memaksa, ia benar-benar begitu mirip dengan orang yang mengidap kepribadian ganda sekarang, pikir Draco sesempat-sempatnya ia berpikir. Dan tiba-tiba ...
"Aaarrrrrggggghhh!" Draco mengerang kesakitan. Baru-baru saja sebuah benda tajam menembus perutnya. Yah, sebuah pisau yang tergelatak di atas meja—tempat Draco biasa mengupas apel hijaunya—digunakan Hermione untuk menikam Draco tepat di perutnya, mungkin sedikit mengenai ususnya.
Kemeja putih itu kini berlumuran darah segar yang tak henti-hentinya mengalir. Draco memegangi perutnya kesakitan, meringis. Dan tak lama setelah itu ia ambruk ke lantai dingin asrama yang dilapisi karpet abu-abu itu. Ia tak menyangka Hermione akan sekejam dan setega itu terhadapnya. Hermione menyeringai iblis di seberangnya. Pisau yang berlumuran darah itu masih berada dalam genggamannya. Ia kemudian mulai tertawa melengking—lagi. Tawa yang benar-benar sangat bukan Hermione. Tawa seorang Hermione yang mengalami psychopat lebih tepatnya.
"MY BLOOD IS FERRET! Hahahahahahaha!" Lengkingan tawa Hermione memenuhi atmosfir ruang rekreasi asrama ketua murid yang sepi, sunyi, dan mencekam itu.
"Hermione," Draco bergumam pelan, memanggil nama depan Hermione. Maniknya terlihat sayu dan mengeluarkan sedikit air mata darisana. Sebelum manik itu tertutup rapat bersama rasa nyeri yang ia rasakan.
Hermione berhenti tertawa. Ia memandangi tubuh kekar di hadapannya yang tergeletak tak berdaya berlumuran darah. Ia sempat mendengar pemuda itu mengucapkan nama depannya dengan lembut. Dan tiba-tiba ia merasakan matanya memanas, tetes demi tetes air mata mulai mengucur dengan deras dari atensinya yang kini menyiratkan keperihan.
'Merlin! Apa yang kulakukan?!' Batinnya tak percaya. Ia menunduk, memandangi tangannya yang ternyata juga berlumuran darah segar Draco, dengan refleks ia menjatuhkan pisau tersebut. Ia membekap mulutnya frustrasi melihat peristiwa yang terpampang nyata di hadapannya.
Kakinya segera menuntun tubuhnya mendekati Draco. Berlutut di sebelah pemuda yang kini sama sekali tak berdaya itu.
"Kumohon jangan pergi, kumohon jangan tinggalkan aku. Kumohon maafkan aku, Draco." Hermione mulai menangis terisak-isak. Bahunya bergetar hebat. Namun sama sekali tak ada tanda-tanda pemuda di hadapannya akan terbangun.
"DRACOOOOOOO!"
-To Be Continued-
-OoOoO-
.
.
Taaraaaaa~
Ini chap 12 saya persembahkan untuk kalian yg masih setia menunggu, membaca, mereview, favorites, dan follow MBiF sampai sejauh ini :) Saya minta maaf yah, karena ternyata updatenya hari Minggu U,u ... Semalem pas mau update, jaringannya kolot XD ...
Oh iya ini balasan review di chap kemarin :
BlueDiamond13 :
Hehe maaf yah, chap kemarin emang gk di edit. Soal typo yg itu, seharusnya sy nulisnya 'berserobok' :) dan sy rasa masih ada beberapa typo lagi di chap kemarin. Kamu jeli banget yak, suka saya XD. Thanks yah sudah review, ini sudah update :) Review lagi?
Ms. KuDet :
Eh iya gpp kok, kmu udah ngikutin dari awal aja saya sudah senang :) ... Klo dalam novel, interaksi DraMione lumayanlah dibanding di film (meskipun hanya sekadar saling ngejek XD). Makasih yah sudah review :) Review lagi?
blizzard19 :
Kece? Thanks hehe ... Dari awal July gak bisa baca ff? Mmh, ini masih Juni kok XD ... Oh iya, ini sudah update chap 12 nya, makasih sudah review :) Review lagi?
Ochan Malfoy :
Hehe cakar aja Astorianya, gpp kok :D *plak... Makasih yah Ochan atas semangat, dukungan, dan reviewnya sampai fic ini bisa update kembali hehe ... Review lagi? :)
Nalula zurachan :
Terimakasih lula atas review dan semangatnya (boleh kan manggil gitu?) Hehe ... Eh iya, ini chap 12 nya sudah update :) Review lagi?
Shinta Jane Malfoy :
Hehe pites aja si Tori, sy dukung kok :D *plak ... Ini sudah update, thanks yah sudah review :) Review lagi?
blackrose :
Ini chap 12 nya sudah update, semoga rasa penasarannya sedikit berkurang XD ... Makasih yah sudah review, review lagi? :)
valerieva :
Tabok aja si Astor kalau mau :D *plakk ... Ini sudah update, eva ^^ (boleh kan manggil gitu? XD) ... Makasih atas semangat, dukungan, dan reviewnya :) Review lagi?
hikari rhechen :
Ini sudah update chap 12 nya :) Terimakasih sudah review :) Review lagi?
pidaucy :
Makasih karena masih setia menunggu :) Iya gpp kok, hehe iya nih UKK dan tugas2 semester bejibun, jadi baru sempat sekarang (sudah bebas gitu wkw) ... Thanks sudah review :) Review lagi?
Naomi Averell :
Thanks atas dukungan semangat serta reviewnya, sist :) Ini udah update chap 12 nya. Review lagi? ^^
PL Therito :
Orang ketiga sebagai penenang Mione? Wkw entahlah *angkat bahu. Thanks atas reviewnya dan thanks jg karena sudah menunggu yah love, ini chap 12 nya sudah update :) Review lagi?
Ryoma Ryan :
Eh? Boleh kok :) Silakan si Astornya dijadiin makanan utama di pesta XD *plakk ... Ini sudah update, semoga masih mau baca hehe... Makasih sudah mereview dan tetap menunggu :) Review lagi?
Ladyusa :
Haha sabar beb, semua akan indah pada waktunya XD *plakkk ... Eh iya ini sudah update, thanks yah atas reviewnya :) Review lagi?
Constantinest :
Sudah update, semoga saja rasa penasarannya berkurang dikit XD ... Hmm, menikah? Entahlah haha *angkat bahu. Liat aja kelanjutannya hehe... Makasih loh yah sudah review :) Review lagi?
Adisty Malfoy :
Makasih sudah ngingetin saya berkali-kali hehe ... Ini sudah update chap 12nya, Review lagi? :)
Terimakasih semua bagi yang masih setia membaca, mengikuti, dan mereview fict ini :) Satu review dari kalian bisa menjadi bahan bakar semangat author untuk kembali update tepat waktu per pekannya :) ... So, mind to review guysss? ^^
P.S : Saya lagi ada FF baru nih dengan pair DraMione, genrenya horror. Judulnya "Malfoy Manor and The Dark Moaning Lady". Cuman oneshot kok, tapi lumayan panjang hehe ... Siapa tahu ada yang berminat membaca dan mereview :) *promosi XD.
.
.
Salam,
Miss Loony.
