Disclaimer :

Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling. But all of idea, of course belong to me :)

Pairing :

Draco Malfoy dan Hermione Granger

Genre :

Romance, Hurt/Comfort

Rated : T (teen)

Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts (after war)

Warning!

Mmh, di chap ini author sengaja menampilkan sudut pandang Hermione untuk menjawab beberapa pertanyaan dari reader. Dan oh ya, kalimat yang di italic berarti flashback :)

.

Saya sudah berusaha untuk tidak typo

(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf).

Bahasa yg mungkin masih jauh dari kata bagus(?), sepertinya agak OOC dan lain sebagainya ...

|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|

.

.

"Kumohon jangan pergi, kumohon jangan tinggalkan aku. Kumohon maafkan aku, Draco." Hermione mulai menangis terisak-isak. Bahunya bergetar hebat. Namun sama sekali tak ada tanda-tanda pemuda di hadapannya akan terbangun.

"DRACOOOOOOO!"

.

.

My Blood is Ferret

Chapter 13

(What The Hell?)

.

.

.

"DRACOOOOOOO!" Sebuah suara menggema di dalam ruangan yang lumayan luas berdominasi warna merah dan emas. Gadis itu bangun terduduk dengan peluh yang mengucur deras di sekujur tubuhnya. Ingatan yang berputar-putar memenuhi otaknya barusan sungguh mengerikan, bagaimana tidak? Ia membunuh Draco Malfoy dengan tangannya sendiri. Itu merupakan hal yang paling gila menurutnya. Darah dan tubuh pucat itu masih sangat jelas terbayang di dalam anotasi otaknya. Ia kembali memejamkan matanya perlahan, mencoba untuk mengingat-ingat semua peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu. Lama dalam keadaan seperti itu.

Mengatur napas agar kembali teratur, manik itu terbuka perlahan, menampilkan sepasang iris coklat yang berpendar lemah di balik kelopaknya. Ia memegangi kepalanya, menandakan denyutan pening yang mendominasi. Ia meneliti ke arah sekitarnya. Gelap dan hening.

Hermione melirik jam weker yang bertengger kaku di atas nakas sebelah kiri tempat tidurnya. Pukul 03.13 am. Ini masih dinihari. Kepalanya masih terasa berputar-putar, namun tak urung ingatan itu juga masih ikut bersemayam seiring dengan putaran pening yang ia rasakan. Ia mengerang pelan, mau tak mau ia kembali mengingat kejadian yang sungguh diluar dugaannya beberapa jam lalu itu.

Hermione's PoV

Aku terbangun dengan kepala yang terasa seperti baru saja terhantam godam. Sakit, pusing, berputar-putar. Yah, itulah tepatnya yang aku rasakan. Aku melihat ke arah sekitarku, ruangan bercatkan merah yang di dominasi warna emas—khas Gryffindor. Tak salah lagi, pasti sekarang aku tengah berada di dalam kamarku sendiri. Tapi kenapa bisa? Bukankah ... Bukankah beberapa jam lalu aku masih berada di ruang rekreasi bersama ... Err, Malfoy? Dan aku ... aku ... aku benar-benar melakukannya! Sulit dipercaya.

Dan tetiba ingatan itu kembali mengambang di dasar pikiranku, membuatku tertarik dan berotasi pada kejadian beberapa jam lalu itu.

Aku berlari meninggalkan pesta dikarenakan perasaan aneh yang bergejolak di hatiku ketika melihat kedekatan Malfoy dan Greengrass. Yup! Astoria Greengrass, siswi Slytherin yang berada dua tingkat dibawahku itu, adik si Daphne Greengrass—mantan pacar si Ferret Malfoy. Oh jangan tanyakan aku darimana aku tahu bahwa mereka pernah berkencan, salahkan si tukang gosip Parvati Patil dan partner setianya dulu, Lavender Brown. Yah dulu, sewaktu Lav masih hidup. Dan mengenai Malfoy dan Greengrass—Daphne Greengrass, mereka memang pernah berkencan kudengar, tetapi hanya sebentar. Dan setelah itu hubungan mereka berakhir, dan sekarang giliran si Little Greengrass yang tergila-gila dengan Malfoy. Oh kumohon jangan tanyakan darimana lagi aku tahu mengenai ini.

Dan hey! Kembali ke topik.

Hatiku merasa aneh dan aku sendiri tak tahu mengapa, yang jelas setelah aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, rasanya hatiku tetiba sakit dan perih seakan-akan ada lubang menganga tepat disana. Remuk redam kurasakan berkoar menjadi satu. Tapi tetap saja aku tak mengerti. Apakah aku ... Err, cemburu? Hell no! Tidak, tidak. Itu tidak boleh terjadi dan tak akan pernah terjadi, atau belum terjadi, eh? Err, bukannya perasaan itu kini tengah terjadi, Hermione? Oh diamlah benak sialan! Tak usah membuatku semakin terpojok dengan perasaan aneh ini. Dasar suara hati! Selalu muncul tuba-tiba seenaknya dengan pernyataan konyol yang membuatku mual. Tapi memang benar bukan kalau kau cemburu? Oh diamlah benak menyebalkan! Hah! Lihatlah, aku sudah seperti orang gila sekarang. Bertengkar dengan benakku sendiri, eh? Yang sudah jelas merupakan bagian dari diriku sendiri? Ah, kurasa aku memang aneh hari ini. Aku jadi teringat Luna Lovegood, mungkin saja Wrackspurt sedang berkeliaran memenuhi kepalaku sekarang.

Yah ini pasti hanya ulah Wrackspurt, yang seringkali dikatakan Luna itu. Err, untuk kali ini aku harus percaya bahwa Wrackspurt memang benar-benar ada dan bahkan mengacaukan pikiranku. Benar bukan? Buktinya aku merasa aneh sekarang, aku kan tidak suka dengan Malfoy. Iya kan? Bukannya aku ini mencintai Ron? Pemuda jangkung berambut merah menyala dengan bintik-bintik di wajahnya? Yah, aku mencintai Ron. Jadi kurasa sungguh tak logis apabila aku cemburu terhadap si Ferret Malfoy dan si Little Greengrass yang kecentilan itu. Tunggu, kecentilan? Oh ya jelas. Untuk apa dia dekat-dekat dengan Malfoy? Jelas-jelas bahwa Malfoy adalah pasanganku di pesta, dia pikir dia siapa? Oh Hermione, ayolah. Kenapa kau malah menyalahkan si Little Greengrass itu? Jelas-jelas kau tak memiliki perasaan apapun terhadap Malfoy. Iya kan? Err, entahlah aku bingung dengan perasaanku saat ini.

Memang ku akui setelah rezim Voldemort berakhir, aku tak lagi membenci Malfoy dengan sepenuh hati. Aku bahkan sempat berpikir bahwa ketika itu aku menyukainya, tapi sungguh itu merupakan kekeliruan besar. Bagaimana tidak? Aku tak mungkin suka dengan Ferret menyebalkan itu, yah mungkin saja. Tapi siapa yang tahu? Oh diamlah benak cerewet! Lagi-lagi dia ikut berkonservasi dengan seenaknya.

Tapi mengapa aku meninggalkan pesta semalam? Mengapa aku menangis karena Malfoy? Mengapa aku sampai hampir mencelakakan Mr. Filch dan kucingnya, Mrs. Norris? Mengapa ... Mengapa ... Iya, mengapa Hermione? Arrrghhhh! Aku bingung dengan semua ini dan aku sama sekali tak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Aku bingung dan tak mengerti, seolah-olah aku baru saja mempelajari ilmu sihir untuk yang pertama kalinya dalam hidupku. Dan peristiwa beberapa jam lalu? Ah, aku tak percaya itu benar-benar kulakukan.

Aku masih mengingat dengan jelas ketika aku dengan bodohnya menghampiri Malfoy di ruang rekreasi ketua murid. Entah apa yang kupikirkan, hanya saja aku merasa kasihan padanya. Kasihan? Ah, lagi-lagi aku tak tahu bagaimana harus menjelaskannya. Tiba-tiba saja hatiku terasa mendesakku secara kontinual untuk menghampiri Malfoy yang sedang tertidur dengan keadaan kacau di salah satu sofa di ruang rekreasi. Naluri simpati itu mengalir begitu saja dan membuatku tak kuasa melawannya.

Hell! Aku membelai wajah dan rambut platinanya, bahkan hingga ia terbangun pun aku belum cukup punya kewarasan untuk segera meninggalkannya disana! Dan ... Dan lebih parahnya lagi, aku ... aku tak bisa berbuat banyak ketika Malfoy menciumku. Yah, menciumku untuk yang kedua kalinya sepanjang sejarah Merlin!

"Hermione, aku minta maaf. Hermione jangan pergi!" Tiba-tiba Draco memekik masih dalam tidur gelisahnya.

Yah, aku masih mengingat igauan Malfoy itu. Rasanya ia benar-benar tulus ketika mengatakannya, apalagi sampai terbawa dalam tidurnya. Itu berarti bahwa ia benar-benar bersungguh-sungguh bukan?

"Kita punya masalah, Granger. Dan kita harus menyelesaikan itu semua sekarang!"

Aku punya masalah dengan Malfoy? Kurasa memang begitu, tapi apa masalahku? Aku bukan siapa-siapanya. Ia berhubungan dengan gadis manapun tentu saja bukan urusanku. Namun sial, rupanya hatiku sendiri berkhianat. Entah mengapa aku merasa bahwa aku dan Malfoy memang memiliki permasalahan yang perlu diselesaikan. Tapi apa? Dan ... Kenapa?

"Aku hanya ingin kau mendengar penjelasanku," Draco berkata lirih.

"Tapi tak ada yang perlu dijelaskan, Malfoy." Hermione masih bersikap keras kepala.

"Tentu saja ada, Granger! Kau mengacuhkanku setelah semua kejadian yang terjadi malam ini!" Pekik Draco.

Yah, kenapa aku mengacuhkan Malfoy? Apa salahnya terhadapku? Toh, kami hanyalah partner ketua murid dan sebatas pasangan dansa. Jadi, dimana masalahnya? Tapi apa pedulinya tentang semua ini? Arrgghhh! Lama-lama aku bisa jadi gila apabila terus-terusan memikirkan hal yang sama sekali tak bisa menembus batas logikaku ini.

"Granger, kumohon mengertilah. Aku...Aku tak tahu mengapa aku bisa seperti ini. Aku tak tahu mengapa aku begitu peduli denganmu yang justru bersikap apatis terhadapku sekarang. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Yang aku tahu, aku hanya merasa sakit ketika kau membenciku seperti ini," jelas Draco panjang lebar dalam nada putus asa yang sangat kentara.

Malfoy merasa sakit ketika aku berusaha menjauhinya? Seseorang, tolong jelaskan apa artinya ini semua. Mengapa semuanya terasa begitu rumit dan tak berujung? Dan kurasa, aku merasakan apa yang dirasakan oleh Malfoy. Ia tak tahu mengapa ia bersikap demikian ketika aku mencoba untuk mengacuhkannya. Dan aku? Aku pun tak tahu mengapa aku bersikap seperti ini ketika aku melihatnya dengan Astoria. Ah, ini sungguh anomali yang tak bisa kupahami dengan akal sehat sekalipun.

Lalu apa artinya ciuman yang diberikan Malfoy untukku? Ciuman yang kurasakan begitu tulus dan seakan-akan benar-benar mewakili perasaannya terhadapku. Tapi, perasaan apa?

Yang kuingat setelah itu bahwa Malfoy terus menciumiku tanpa henti. Bahkan aku belum sadar ketika ia sudah memerangkapku di dinding dingin asrama ketua murid. Masih memejamkan mata dan saling menikmati hangatnya bibir masing-masing. Aku benci mengatakannya, tapi aku merasa rindu dengan momen-momen seperti ini. Aku ... Err, menikmatinya—sama dengan momen ketika Malfoy untuk yang pertama kalinya menciumku.

Seolah-olah dengan ciuman itulah perasaan kami dapat tersampaikan, walau sebenarnya aku sendiri pun sama sekali tak tahu perasaan apa yang aku maksudkan. Yang jelas, aku merasa dadaku yang semulanya sesak berubah menjadi ringan, seringan kapas. Entah mengapa.

Namun hal itu tak bertahan lama, karena di detik selanjutnya akal sehatku sudah kembali. Tak seharusnya aku terbawa suasana seperti itu. Dengan tatapan terkejut bercampur marah—mungkin, aku melepaskan diri dari Mafoy, sebelum semuanya semakin kacau.

Aku mendorongnya cukup kuat, membuat pagutan kami terlepas. Kulihat ia menatapku dengan pandangan bingung, heran, sendu, sekaligus kecewa bercampur menjadi satu. Aku sempat merasa iba melihatnya yang seperti itu. Namun setitik kesadaran kembali menguasai pikiranku. Rasa antipati terhadap Malfoy tiba-tiba kembali muncul dan mengambang ke permukaan, merayap di sisi-sisi kewarasanku tanpa aku tahu apa penyebabnya.

"Malfoy! Apa yang kau lakukan?"

"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya memang dilakukan."

Melakukan apa yang seharusnya memang dilakukan? What the hell? Apa maksudnya?

"Granger," panggil Draco perlahan. "Sama sekali tak ada yang salah dengan semua ini. Semua ini benar dan memang seharusnya seperti ini."

Semua ini benar dan sudah memang seharusnya dan sepantasnya seperti ini? Ah, aku semakin bingung dengan semua yang dikatakan Malfoy!

"Tidak, Malfoy! Aku tahu segala hubungan yang terjadi diantara kita pasti tak akan pernah bisa berhasil! Kau dan aku berbeda! Kau darah murni, sedangkan aku hanyalah seorang darah lumpur hina. Yah, aku akui ucapan Astoria benar."

Yah, seingatku aku berkata seperti itu terhadap Malfoy. Pernyataan yang membuatku nampak benar-benar konyol di hadapannya. Tapi sungguh itu semua karena aku sudah merasa tidak tahu harus menjelaskan apa lagi. Perasaan aneh itu sungguh menyiksaku. Dan setelahnya aku tertawa hambar menatap wajah Malfoy yang sungguh tak ternilai harganya karena kebingungan—tak beda jauh denganku, sebenarnya.

Kurasakan napasku memburu ketika itu diiringi dengan detak jantugku yang memacu seratus kali lipat dari yang seharusnya. Dan lama-kelamaan, kepalaku merasa pusing dan seperti berputar-putar. Sakit bagai terhantam godam. Dan akhirnya pandanganku mulai mengabur. Tubuhku pun terasa tak memijak muka bumi lagi. Namun masih sempat kurasakan tubuh mungilku merosot ringkih hingga jatuh menyentuh lantai dingin asrama. Gelap. Yah, hanya itu yang dapat aku simpulkan sebelum akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi, tak sadarkan diri.

Dan beberapa waktu berikutnya aku bermimpi membunuh Malfoy dengan cara menikamnya dengan pisau tepat di perut. Aku tak mengerti mengapa aku bisa bermimpi seaneh dan semengerikan itu. Mimpi buruk itu benar-benar terasa begitu hidup dan nyata dalam pikiranku, seolah-olah itu benar-benar terjadi.

Namun, satu hal yang patut ku syukuri. Yah, itu hanyalah mimpi burukku. Tak bisa kubayangkan apa yang akan terjadi jika seandainya mimpi itu benar-benar kenyataan. Seantero Hogwarts tentu saja akan geger dengan berita bahwa sang ketua murid perempuan membunuh partner ketua muridnya dengan cara menikamnya lantaran terbakar api cemburu? Hell! Aku tak cemburu. Oke, kurasa aku sudah berpikiran terlalu jauh. Jelas-jelas bahwa itu semua hanya terjadi di dalam kepalaku, tidak lebih. Oke, aku merasa bersalah telah memimpikan Malfoy seperti itu. Tapi sepertinya itu lantaran aku yang memang benar-benar kesal padanya. Tapi atas dasar apa aku kesal dan marah padanya? Ah, inilah yang membuat kepalaku semakin pusing jika aku terus menerus memikirkan jawaban logisnya.

Tapi hei tunggu dulu! Kalau memang semalam aku pingsan di ruang rekreasi asrama ketua murid setelah Malfoy menciumku, lalu kenapa sekarang aku bisa berada disini? Di dalam kamarku hangatku sendiri? Sangat jelas bukan bahwa orang pingsan tak mungkin berjalan sendiri untuk berpindah ke kamar? Kamarku bahkan ada di lantai atas, sangat tidak mungkin jika aku yang berjalan menaiki tangga. Lalu siapa dibalik ini semua? Siapa yang membawaku kesini? Siapa yang membaringkanku di ranjang empukku ini?

Dan hey! Siapa ... Siapa yang menggantikan gaunku menjadi piama seperti ini? Oh, Merlin! Jelas-jelas semalam aku masih menggunakan gaun pesta pemberian Narcissa dengan lengkap, tak kurang suatu apapun. Apalagi sampai terganti dengan piama tidurku ini.

Aku sungguh tak berharap kalau itu semua dilakukan Draco Malfoy—Si Ferret-Pirang-Pucat! Ah, aku tak bisa berpikir jernih sekarang. Kalau benar dia yang menggantikan gaunku menjadi piama, berarti ... Berarti Mafoy melihat ... Aarrrgghhh! Malfoy sialan! Sempat-sempatnya ia mengambil kesempatan dalam kesempitan! Sekarang rasanya aku akan senang apabila mimpi burukku barusan benar-benar terjadi! Tapi, tunggu dulu. Tidak, tidak. Aku tak tega jika harus membunuh Malfoy. Aku tak sekejam itu. Bagaiamanapun aku ini adalah gadis singa yang manis. Lagipula tak mungkin hal itu benar-benar kulakukan padanya. Oh aku bingung, sungguh bingung!

Ayolah, Hermione. Tarik napas, hembuskan. Tarik, hembuskan. Ulangi sekali lagi, tarik ... Hembuskan ... Mmh, kurasa ini cukup membantuku. Aku kembali menatap ke arah sekitarku. Manikku menangkap pergerakan jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 04.23 am. Hah! Aku tak menyangka, membayangkan semua peristiwa serta mimpiku semalam benar-benar menghabiskan waktu berjam-jam! Demi Merlin!

Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku menjauhi Malfoy? Haruskah aku untuk menghindarinya selama beberapa hari ke depan nanti? Atau sebaiknya aku bersikap santai dan menganggap seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa di antara kami? Huh! Aku benar-benar tak tahu harus berbuat bagaimana. Menjauh dari Malfoy adalah hal yang sangat tidak mungkin untuk kulakukan. Malfoy adalah partner ketua muridku, ingat? Akan sangat mencurigakan apabila orang-orang tahu—terlebih lagi Professor McGonagall—bahwa aku dan Malfoy sedang bermusuhan. Err, oke. Kurasa kata 'bermusuhan' kurang tepat untuk menggambarkan keadaan kami sekarang. Lalu apa? Berselisih? Salah paham? Hah! Aku semakin gila saja. Apanya yang salah paham? Bahkan aku bukanlah siapa-siapanya Malfoy. Hubunganku dengannya hanyalah sebatas hubungan partner ketua murid, tidak lebih. Iya kan?

Lama dalam keadaan seperti itu, akhirnya aku memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Melangkah perlahan menuju kamar mandi untuk sekadar membersihkan wajahku yang kuduga sudah kusut masai seperti halnya rambut semakku ini.

Yah, kamar setiap ketua murid memang dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi di dalamya. Kamar mandi kecil lebih tepatnya dibanding kamar mandi utama di ruang asrama ini. Tetapi aku dan Malfoy lebih sering menggunakan kamar mandi utama yang berada di lantai bawah untuk mandi. Tentu saja, ukurannya yang sungguh besar serta fasilitasnya yang lengkap membuat kami hanya menggunakan kamar mandi di kamar kami masing-masing hanya jika terdesak atau hanya sekadar ingin membersihkan wajah atau semacamnya. Oke, kurasa sudah cukup aku membahas mengenai kamar mandi.

Aku masuk ke dalam kamar mandi dan segera berdiri di depan westafel. Kesejukan seketika itu juga aku rasakan ketika air dingin yang segar membasahi permukaan wajahku yang tadinya kaku ini. Perlahan aku mendongak dan menatap siluetku di depan cermin. Aku benar-benar kacau. Mataku sembab dan merah, wajahku pun masih memerah. Rambutku kusut masai, benar-benar berantakan. Dan tiba-tiba atensiku terfokus pada bibirku. Menatapnya lamat-lamat, mencoba mengingat bahwa bibir itu sudah dua kali diciumi Malfoy. Entah bagaimana aku merasa isi perutku berjumpalitan hanya karena mengingatnya. Aku menggeleng-gelengkan kepala meyakinkan bahwa aku sama sekali tak merasa senang akan hal itu. Sama sekali tidak! Weel, meskipun hatiku berkata lain.

Tak ingin berlama-lama, aku pun segera mengambil sebuah handuk kecil yang tergantung di sudut ruangan. Aku membersihkan wajahku perlahan, mencoba mengeringkannya. Merasa sudah baikan, aku pun melangkah keluar kembali ke arah tempat tidurku. Aku duduk di tepi ranjang dengan pandangan menerawang. Apa yang harus kulakukan selanjutnya?

'Kriukkk ... Kriukkk ...'

Ah, sial. Perut ini benar-benar tak bisa diajak berkompromi. Lapar tidak pada waktunya. Sarapan di aula besar kan masih cukup lama? Huh! Tapi mungkin ini karena aku terlalu lelah akan aktifitasku semalam.

Dengan berat hati aku kembali berdiri dan melangkah. Kali ini mencoba untuk keluar kamar menuju pantri. Sepertinya masih ada beberapa potong roti di lemari pendingin yang bisa aku makan untuk mengganjal dan menyogok para cacing kelaparan ini. Dengan perasaan yang campur aduk, aku segera membuka kenop pintu perlahan. Cacing-cacing di perutku ini sudah berkonpoi ria, tak memikirkan perasaan sang empunya. Benar-benar situasi yang menyebalkan!

Cklek ...

Aku tertegun seusai Perlahan aku memutar kenop pintu. Aku tertegun bukan main seusai membuka daun pintu lebar-lebar. Pemandangan yang benar-benar aku hindari dan tentu saja tak aku harapkan tengah ku saksikan sekarang.

Pria tinggi tegap dengan surai pirang platinanya berdiri menjulang disana. Tangannya menggantung di udara, sepertinya tadi ia berniat untuk mengetuk pintu kamarku. Oh Merlin! Apa yang harus ku perbuat sekarang? Sungguh, ia merupakan orang terakhir yang ingin aku temui saat ini.

Karena pria itu adalah ... Malfoy, Draco Malfoy.

-To Be Continued-

-OoOoO-

.

.

Hello semua :) Ini sudah update chap 13 nya, semoga bisa mengobati rasa penasaran kalian ya XD ... Mmh, maaf telat update 2hari U,U ... Soalnya minggu kemaren, author lagi liburan habis itu ada kegiatan Pra MOS junior2 yg baru masuk SMA –" *curcol, harap maklum ya XD ... Btw, author ada sedikit keterangan nih. Disimak yah ^^ ...

Ket :

"Tidak, Malfoy! Aku tahu segala hubungan yang terjadi diantara kita pasti tak akan pernah bisa berhasil! Kau dan aku berbeda! Kau darah murni, sedangkan aku hanyalah seorang darah lumpur hina. Yah, aku akui ucapan Astoria benar," Hermione tertawa, tertawa hambar. Napasnya memburu diiringi dengan detak jantungnya yang kini memacu seratus kali lipat dari yang seharusnya. Pandangannya mulai mengabur. Tubuhnya terasa tak memijak muka bumi lagi. Tubuh mungil itu pun akhirnya perlahan-lahan merosot ke tembok dingin asrama.

Scene diatas (apalagi yg di italic itu tuh) sebenarnya sudah cukup menjelaskan bahwa Hermione saat itu pingsan setelah dicium Draco—jika kalian jeli memerhatikan sih XD *plak ... Dan peristiwa setelahnya itu hanya mimpi buruknya Hermione, mungkin karena masih terbawa atmosfir2 saat itu, jadi Hermione sampai bermimpi sadis dan kejam ^^ *ditimpukreaders*.

Err, btw maaf atas keburukan chap ini ya. Karena jujur, author merasa gak puas dan percaya diri dgn chap kali ini *mungkin karena kurang mood saat nulis ._.|ditimpuk| ... Tapi semoga kalian masih setia membaca dan meninggalkan jejak XD ... Oke, berikut balasan reviewnya :

Adisti Malfoy :

Sudah update :) Draco nya gak mati kok :p XD ... Thx reviewnya. Review lagi?

Ochan Malfoy :

Cuman mimpi Chan, jadi Mione gk bakal masuk penjara kok XD ... Emm, ini sudah update :) Makasih ya atas review dan semangatnya :D ... Review lagi?

blizzard19 :

Suka Mione yg rada psycho? Err, iya sih kayak aunt Bella gitu XD ... Ini sudah update :) Semoga dirimu masih sempat baca ya sebelum benar2 meninggalkan segala macam alat elektronik di sekolah baru hehhe ... Thx reviewnya. Review lagi?

Hn :

Hmm, kamu hebat yah nebaknya XD .. Iya Draco masih hidup kok ^^ ... Ini sudah update ... Makasih ya atas semangat dan reviewnya :) Review lagi?

Shizyldrew :

Err iya rada serem memang XD ... Makasih reviewnya :) Review lagi?

Ryoma Ryan-Le Renard Roux :

Iya Draco gak mati kok ^^ Ini sudah update ... Makasih ya reviewnya :) Review lagi?

valerieva :

Semoga chap ini bisa menjawab semua pertanyaan kamu yg bejibun XD ... Ini sudah update, thx atas semangat & reviewnya :) Review lagi?

Laura Pyordova :

Makasih sudah baca dari awal hingga chap kemaren :) Dan sy seneng kalau beberapa chap bisa bikin kk ngakak XD ... Err, tenang aja kok kak, Draco nya gak mati :p hehe ... Mmh disini sy sengaja gunain PoV nya Hermione biar pertanyaan ttg perasaannya Mione itu sbenernya gimana bisa terjawab :) Makasih atas semangat & reviewnya ^^ ... Review lagi?

BlueDiamond13:

Iya saya rasa chap ini bisa menjawab pertanyaan kamu ya :) Terima kasih atas semangat dan reviewnya :) Review lagi?

blackrose :

Err, semoga chap ini bisa menjawab pertanyaan kamu ya :) Makasih reviewnya ^^ ... Review lagi?

esposa malfoy :

Chapter2 sebelumnya romantis bnget? Hehe thx. Err, iya itu cuman mimpi buruknya Mione kok :) Makasih yah sudah review ^^ ... Review lagi?

PL Therito :

Semoga chap ini bisa menjawab semua kebingunganmu, love XD ... Thx ya reviewnya :) ... Review lagi?

Azalea Malfoy :

Makasih yah sudah review :) Makasih juga sudah berkenan fans dgn sy XD *plak ... Baguslah kalau kamu suka dgn cara penulisan sy yg abal ini hehe ... Ini sudah update :) Review lagi?

Naomi Averell :

Iya sist sama2 :) Kamu kapan updatenya? XD ... Ah, jgn sampai nangis deh kan cuman mimpi :D *ditendang readers* ... Ini sudah update, thx reviewnya :) Review lagi?

Veela Rosea :

Ciee Laa-Chan sedih dan mau nangis bacanya XD haha *dijambak* ... Ini sudah update Laa-Chan :) thx sudah review ^^ (aku baru tahu loh kalau klo kamu ngikutin cerita ini setelah sekian lama jadi sider :p) wkw ... Review lagi?

Makasih banyak buat yg masih setia mengikuti, membaca, dan mereview fict ini :) Thx jg yg sudah fav ^^ ... Err, see u at the next chapter (tapi sy gak janji loh bisa update ontime, tapi tenang aja kok jarak updatenya masih semingguan2, cuman mungkin gak bisa mentok tepat Sabtu gitu hehe) ... Oke, bye ^^ ...

.

.

Salam,

Miss Loony.