Disclaimer :
Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling. But all of idea, of course belong to me :)
Pairing :
Draco Malfoy dan Hermione Granger
Genre :
Romance, Hurt/Comfort
Rated : T (teen)
Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts (after war)
Warning!
Saya sudah berusaha untuk tidak typo
(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf).
Bahasa yg mungkin masih jauh dari kata bagus(?), sepertinya agak OOC dan lain sebagainya ...
|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|
.
.
My Blood is Ferret
Chapter 14
(What The Hell II)
.
.
.
Hermione sudah hendak berbalik masuk kamar lagi dan membanting pintunya tepat di depan wajah Draco Malfoy sebelum tangan kekar pria itu mencegat pergerakannya dengan cara memegangi pergelangan tangannya yang mungil.
Hermione menggeram rendah dan meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari aligator berbahaya di depannya sekarang—well, setidaknya itu menurut pikiran Hermione yang tentunya karena masih diiringi dengan perasaan kesalnya.
"Lepaskan tanganku, Ferret! Kau menyakitiku!" Hermione berteriak marah.
"Kita perlu bicara, Granger. Kumohon," ucap Draco dengan wajah yang memelas—sememelas memelasnya orang yang paling memelas di dunia. Well, itu berlebihan.
"Aku sedang tak ingin berbicara dengan siapapun, Malfoy. Termasuk kau!" Jari telunjuk Hermione mengarah tepat ke arah hidung Draco yang cupingnya terlihat sedikit mengembang karena terkejut.
"Oh, ayolah, Granger! Apa kau tak berniat berterima kasih padaku karena telah menggantikan gaunmu yang berat itu dengan piama tidurmu, eh?" Draco mendengus sebal. Manik Hermione membeliak tak percaya.
"Apa maksudmu?" Hermione bertanya, menyipitkan matanya hingga segaris diiringi dengan deru napasnya yang memburu terkejut.
"Well, kukira seorang berang-berang Gryffindor bisa lebih cerdas dan tanggap dalam berpikir. Cih, ternyata aku salah," cibir Draco berpaling mengamati langit-langit ruangan. Hermione merasa wajahnya memanas. Bukan karena malu atau apa, tetapi dikarenakan emosinya yang serasa naik ke ubun-ubun level tertinggi di cerebelum kepalanya.
"Kalau kau hanya datang kesini untuk mengataiku, sebaiknya kau angkat bokong sialanmu itu pergi dari sini dan jangan mengganggu pagiku yang cerah! Sebelum aku berubah pikiran untuk tidak mengutukmu menjadi Ferret setengah Kodok!" Hermione berkata garang, menuding ke arah cuping hidung Draco. Atensi pemuda pirang itu membulat sempurna mendengar rencana sadis Hermione barusan.
Merlin! Ia tahu benar bahwa Hermione merupakan penyihir wanita yang hebat. Lalu? Lalu apa? Hell! Tentu saja gadis semak itu mampu melakukan kutukan sihir sebagaimana yang telah ia katakan pada Draco barusan. Demi Salazar! Dikutuk menjadi Ferret saja di tahun ke-empatnya oleh Professor Mad-Eye Moody-Palsu sudah membuat Draco sengsara dan uring-uringan sepanjang tahun itu. Lalu bagaimana apabila gadis singa itu juga turut menghadiahkannya kutukan menjadi seekor Ferret setengah Kodok? Ah, coba kalian bayangkan! Kodok gemuk berlendir mengkilap berpadu dengan musang jelek berbulu mengerikan! Iiihhh! Baru memikirkannya saja, Draco sudah bergidik sendiri di tempatnya.
"Hey! Kau kenapa, Malfoy?" Tegur Hermione sembari mengernyitkan dahinya hingga berlipat-lipat menjadi beberapa kerutan. Tangan kanannya masih bertengger di kenop pintu, bersiap-siap menutupnya apabila ia sudah merasa dalam keadaan terancam.
Draco masih mematung di tempatnya, manik kelabunya menerawang kosong dan jauh ke depan memandangi Hermione, masih memikirkan wujudnya yang kira-kira akan menjadi seperti apa jika benar-benar dikutuk oleh Hermione menjadi Ferret setengah Kodok?
"HELL NOOO!" Tiba-tiba teriakan itu keluar begitu saja dari bibir sang empunya tanpa bisa ditahan. Wajahnya persis seperti di tahun ke-empatnya dulu ketika atensinya melotot tak percaya memandangi Mad-Eye Moody-Palsu atas perbuatan kejinya—well, menurut Draco itu adalah hal keji dan tak berperasaan— yang dengan berani-beraninya ia alamatkan pada sang Malfoy junior, Draco Malfoy.
'Wait until my father hear about this!' Yah kira-kira seperti itulah dulu apresiasi kekesalan Draco, tak sabar untuk mengadukan peristiwa itu kepada ayahnya. Biasa, masa kecil saat usia menginjak empat belas tahun. Well, Draco masih termasuk bocah tampan, nakal, manja, dan menyebalkan. Tapi tak berarti bahwa sekarang ia tak tampan ataupun menyebalkan.
Hermione menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangannya sembari memejamkan matanya. Barulah setelah Draco mengakhiri jeritan hebohnya, Hermione baru berani membuka manik coklat gelapnya. Wajahnya kini galak dan murka.
"Hell, Malfoy! Kau akan membangunkan seluruh penghuni Hogwarts dengan jeritan heboh seperti itu yang mengisyaratkan seolah-olah kau tengah diperkosa saja!" Sembur Hermione sebal, melipat tangannya di dada. Giliran Draco yang melotot tak terima. Namun hal itu tak berlangsung lama, karena di detik berikutnya ia malah kembali bertampang menyebalkan.
"Wow, apa kau berniat untuk melakukannya, Granger?" Ujar Draco dengan nada rendah yang seolah-olah menohok pacu jantung Hermione, diiringi dengan seringai nakal di bibirnya yang entah darimana ia pungut kembali seringai itu—setelah sebelumnya ekspresinya begitu sayu memelas, lalu berteriak layaknya orang gila seperti tadi. "Ah, kalau boleh jujur, aku sama sekali tak keberatan apabila kau memang berniat untuk melakukan 'itu' padaku." Tambahnya lagi dengan nada yang lebih menggoda.
Blush! Untuk sejenak Hermione merasa bahwa Draco Malfoy adalah pria yang paling seksi di muka bumi ini. Yah, hanya sejenak dan sekejap karena pemikiran itu segera menguap bak angin berlalu.
'Hell! Tak seekor pun Ferret albino yang seksi! Demi kolor Merlin yang melorot! Yang benar saja!' Hermione membatin kesal, membayangkan Draco seakan-akan pemuda itu benar-benar seekor Ferret dengan bulu yang jelek, bukan seorang manusia apalagi pemuda tampan yang seksi.
Seringai Draco makin melebar ketika melihat wajah gadis di hadapannya sukses memerah—semerah bunga geranium yang sedang masa segar-segarnya. Well, sepertinya umpannya berhasil. Melihat Hermione yang lengah—entah karena tersipu atau apa—Draco segera mengambil kesempatan itu untuk menyelinap masuk ke dalam kamar Hermione yang didominasi warna merah dan emas, tanpa disadari sang pemilik ruangan yang nampaknya masih begitu terkejut dengan godaan sang Pangeran Slytherin keturunan Malfoy itu.
Hermione mengerjap-ngerjapkan matanya setelah beberapa titik kesadaran kembali bergumul memenuhi akal sehatnya yang sebenarnya terlampau sehat untuk sekadar berpikir. Ia menoleh ke arah kiri dan kanan, namun hasilnya nihil. Ia tak menjumpai pemuda berkulit pucat dengan seringai menggoda itu. Ia mendengus, meniup poninya kasar hingga menerbangkannya sampai ke atas.
"Dasar pria perusak hati wanita! Benar-benar tidak peka! Dia tidak tahu apa kalau aku ini masih marah padanya? Seharusnya kan dia meminta maaf padaku, meskipun aku berusaha keras untuk berkelit tak punya masalah dengannya. Huh, dasar Ferret-Pirang-Busuk-Menyebalkan!" Hermione mendumel tak senang seraya membanting pintu kamarnya dengan keras dan tak berperasaan, menimbulkan bunyi debam menggema.
Hari ini adalah akhir pekan, bebas pelajaran. Dan Hermione berniat untuk menghabiskan harinya dengan bergelung di kamarnya yang hangat. Apalagi mengingat hawa di luar sana yang sungguh dingin membekukan tulang belulang—maklum, ini sudah hampir memasuki bulan Desember dan sepertinya salju memang turun lebih awal dari yang seharusnya—, membuatnya berpikir seribu kali sebelum keluar kastil untuk sekadar membaca di dekat danau hitam—tempat hening favoritnya untuk melahap habis buku-buku setebal badan Ron. Oke, kurasa itu berlebihan.
Well, ia masih bisa membaca buku di dalam kamar, bukan? Hermione tersenyum sendiri memikirkan segudang rencana yang berseliweran di otak cemerlangnya. Ia ingin melupakan segala hal yang terjadi padanya semalam lewat bersemedi dengan buku di kamarnya sembari rebahan di bawah selimut hangat, mungkin? Ditemani dengan secangkir coklat panas dan cookies manis kiriman ibunya?
'Well done, Hermione! Itu sungguh pikiran yang teramat sangat menarik! Kau memang briliant!' Puji Hermione dalam hati pada dirinya sendiri. Ia ingin melakukan rencananya dengan totalitas. Melupakan keadaan hatinya yang sungguh tak ia mengerti akan perasaannya yang sebenarnya terhadap sang partner ketua muridnya, Draco Malfoy.
Hermione mencoba menarik ujung bibirnya, membentuk senyuman lebar yang terpatri di wajah cantiknya. 'Hari ini aku tak boleh stress!' Ia menyemangati dirinya sendiri. Langkahnya riang dan ringan di udara. Hermione berjalan mantap menuju tempat tidur dan kasur empuknya. Ia sudah akan menarik selimutnya sebelum langkahnya terhenti karena teringat akan sesuatu.
"Mmh, tapi kurasa membersihkan tubuh sejenak tak ada salahnya kan sebelum kembali bergelung dibawah selimut sembari membaca buku baru yang dikirimkan Mum dua hari lalu? Ah, kau memang jenius, Hermione!" Hermione menjentikkan jemarinya di udara. "Dengan begini, kau tentu akan mudah melupakan segala kejadian semalam dengan si Musang-Albino menyebalkan itu!" Hermione tersenyum lebar lalu kemudian tiba-tiba mendengus keras di akhir kalimatnya.
Ia melangkah perlahan menuju sudut ruangan untuk mengambil jubah mandinya. Hermione memutuskan untuk mandi di dalam kamar mandi di kamarnya saja, ketimbang harus berjalan melewati kamar si Ferret—yang berhadapan langsung dengan kamarnya—demi menuju ke kamar mandi utama di lantai bawah. Well, asrama ketua murid jauh berbeda dengan asramanya di Gryffindor. Jika di asrama Gryffindor, kamar murid perempuan berada di belokan sebelah kanan sementara kamar murid pria berada di belokan sebelah kiri, lain halnya dengan asrama ketua murid. Entah mengapa kamar sepasang ketua murid didesain dengan letak yang berhadapan seperti ini.
Hermione menghembuskan napas panjang, mulai berjalan menuju kamar mandi dengan jubah mandi yang disampirkan di bahu kanannya.
Sementara itu seorang pria pucat tengah terkikik geli dibawah selimut di ruangan itu. Siapa dia? What the hell!
.
-OoOoO-
.
Setelah sekitar dua puluh lima menit di dalam kamar mandi, akhirnya pintu kamar mandi itu menjeblak terbuka. Dengan segera aroma vanilla bercampur stroberi menyeruak ke sepenjuru ruangan, bahkan hingga menembus selimut dan masuk dalam-dalam ke indra penciuman Draco Malfoy—pemuda yang sedari tadi bersungut-sungut lantaran kelamaan menunggu Hermione selesai mandi.
Hermione keluar dengan mengenakan jubah mandi berwarna merah dengan bis-bis berwarna emas di pinggirnya. Tangannya sibuk menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya yang masih basah, menitikkan beberapa tetes air di lehernya yang jenjang. Diam-diam Draco memerhatikannya dibalik selimut, meminimalisir gerakannya dengan sehati-hati mungkin agar tak ketahuan sang singa betina.
"Lalalalala ... Hari yang cerah, tanpa Ferret-Busuk-Albino-Menyebalkan. Lalalalala, tak ada hari seindah ini. Malfoy gila, jelek, dan tidak peka ... Nanananna lalalalalala ... Memang tak ada seekor pun Ferret yang peka, apalagi seekor Ferret albi—" Senandung Hermione terhenti seketika saat menyadari sesuatu yang mengusik pikirannya. Alisnya berkerut-kerut lengkap dengan picingan mata yang nyaris menghilang dibalik kelopaknya. Draco merasa jantungnya berdetak tak karuan, berkedut-kedut tak nyaman di tempatnya.
'Kalau ketahuan, bukan jadi tak mungkin kalau aku keluar dari ruangan ini dengan wujud Ferret setengah Kodok!' Batin Draco ngeri.
Hermione tetiba tersenyum simpul di tempatnya berdiri, kembali menggosokkan handuk di kepalanya. "Oh, Crookshanks. Aku tak tahu kalau kau akan berpikiran sama denganku. Bergelung di dalam kamar dengan cuaca yang dingin seperti ini? Ah, kita memang sehati," ujar Hermione sumringah. Ia berlalu ke depan meja rias. Draco merasa lega karena Hermione mengira dirinya adalah Crookshanks. Kucing gemuk berbulu lebat oranye kesayangan Hermione—yang menurut Draco bertampang seram. Tunggu sampai Hermione mendengarnya, ia pasti dipitas habis karena telah mencela kucing kesayangannya itu. But well, untuk sekarang Draco merasa harus berterima kasih pada kucing gemuk yang hobi tidur itu. Draco menarik napas lega, kembali mengintip melalui celah kecil dari balik selimut.
Draco masih melihat Hermione duduk di depan meja riasnya sembari mulai menyisiri rambut semaknya yang sudah agak mengering. Selimutnya kembali bergerak-gerak, membuat gadis singa itu menoleh.
"Meoouuuw." Secara refleks Draco mengeong layaknya kucing manis tak berdosa lantaran merasa terancam akan ketahuan. Ia pun merasa bersyukur sebab pernah memerhatikan suara Crookshanks yang sedang mengeong.
"Sabarlah sedikit kucing manis, aku akan segera memberikan jatah makananmu," dengus Hermione pelan. Rasanya Crookshanks sudah terlalu gemuk untuk ukuran kucing unyu. Bahkan sekarang badannya sudah tergolong bulat seperti Doraemon, sebuah kartun anime Muggle. Tak lama setelah itu, ia pun berdiri menuju lemari kayu yang terletak tak jauh dari meja riasnya.
"Mmh, sepertinya hari ini aku tak kan keluar kamar. Dan kurasa tak masalah jika harus dibuatkan makanan oleh peri rumah, yah sekali-kali lah." Hermione mengedikkan bahu. "Tapi bagaimanapun aku tetap segan terhadap mereka, kurasa jiwa organisasi SPEWku masih mengalir deras dalam darahku," gumam Hermione bermonolog di depan lemari kayu super besarnya. Tanpa ba-bi-bu lagi ia mulai membuka lemarinya, menampilkan berbagai macam pakaian di dalamnya.
"Ah, kurasa pakai ini saja. Lagipula tak ada yang akan melihatku. Kedinginan? Well, selimutku tebal, bukan?" Hermione kembali bermonolog. Ia mengambil sebuah lingerie hitam dari dalam lemarinya beserta pakaian dalam lainnya. Draco berusaha keras menahan diri untuk tidak membuka matanya dan melihat pemandangan menggoda yang siap tersaji di depan matanya. Draco dapat merasakan tubuhnya yang menegang, tapi tak urung ia menutup matanya juga. Bagaimanapun ia bukanlah lelaki semesum itu, bukan?
Beberapa menit kemudian ...
"Oh, Crookshanks sayang. Kalau kau merasa tak nyaman di bawah selimut, keluarlah. Akan ku ambilkan sereal kesukaanmu," kata Hermione ketika melihat selimutnya semakin bergerak-gerak. Tubuh rampingnya sudah terbalut dengan lingerie hitam yang bisa dibilang transparan—tembus pandang. Memperlihatkan dengan jelas pakaian dalamnya yang lain. Ia kembali terduduk di depan meja rias, mengikat rambutnya tinggi dan di gelung ke atas. Leher jenjangnya yang putih bersih terekspos dengan sempurna, membuat Draco meneguk ludah gelisah. Well, kau tak bisa menyalahkan hormon lelaki kan?
Hermione kembali berdiri, berjalan ke arah sudut ruangan yang lain. Beberapa detik kemudian ia kembali dengan menenteng sekotak sereal makanan khusus kucing, ia menyimpannya di wadah makanan Crookshanks yang berwarna kuning terang.
"Crookshanks, kemarilah," ujar Hermione masih berjongkok di depan makanan Crookshanks. Ia menoleh karena merasa tak ada jawaban. "Oh kucing manis, apakah kau mau menemaniku membaca dulu? Well, terserahmu saja kalau begitu," lanjutnya tersenyum. Kaki-kaki reniknya kembali menuntunnya menuju sebuah rak yang berisi beberapa buku-buku tebal. Ia mengambil satu buku dengan sampul berwarna kuning kenari. Melihatnya sebentar kemudian melangkah menuju tempat tidurnya.
Hermione duduk di tepi ranjang sembari mengamat-amati lagi buku yang di pegangnya. "Mmh, ternyata Mum juga mengirimkan sebuah novel terbaru," gumamnya pelan. Sementara itu dari balik selimut, Draco berusaha keras untuk tidak melakukan gerak-gerik mencurigakan yang mungkin saja akan berakhir dengan nasibnya menjadi seekor Ferret setengah Kodok. Bernapas pun ia lakukan dengan sangat hati-hati. Jantungnya bertalu-talu dibalik paru-parunya yang kembang kempis. Bagaimana reaksi Hermione apabila melihatnya? Bisakah ia keluar dengan selamat nantinya? Ataukah ... Ataukah ia akan keluar dari kamar ini dengan wujud Ferret setengah Kodok? Bermacam-macam pikiran mulai berseliweran di kepalanya.
Sementara itu Hermione mulai merangkak naik ke atas kasurnya dengan sebuah buku tebal yang setia menempel di tangannya. Ia menarik sedikit selimutnya hingga sempat membuat jantung Draco seolah berhenti untuk sejenak. Draco menurunkan sedikit kepalanya hingga sejajar dengan pinggang Hermione.
"Oh, Crookshanks. Kenapa dari tadi kau bergerak-gerak terus sih? Tenanglah sedikit, aku ingin membaca novel ini," ujar Hermione. Atensinya masih terfokus pada deretan baris tulisan sekecil semut.
"Meoooouuww ..."
"Suaramu aneh. Mungkin kau salah makan tikus buruan, eh?" komentar Hermione sambil menggelengkan kepalanya prihatin. "Jangan mencakar lingerieku, Crookshanks! Itu menggelikan," tegur Hermione dari balik bukunya.
"Meouuuwww..."
"Crookshanks, aku sedang membaca buku. Kalau kau mengajakku bermain, nanti saja. Aku sedang berusaha menyegarkan kembali pikiranku atas semua tindak-tanduk menyebalkan si Ferret itu," jelas Hermione, yang lebih terdengar seperti curahan hati.
"Meoouuuwww..."
"Ah, terima kasih kau telah mengerti apa yang ku maksud, kucing manis." Hermione tersenyum sekilas dibalik bukunya. Masih belum sadar akan apa yang terjadi sebenarnya.
Sementara itu di dalam selimut, wajah sang Malfoy Junior terasa terbakar. Tidak hanya karena suhu di dalam sana yang sedikit pengap lantaran berusaha sekuat tenaga untuk tidak banyak bergerak, namun juga karena suatu hal. Yah, suatu hal yang mampu membuatnya menjadi panas dingin. Berkeringat ditengah-tengah suhu yang sebenarnya bisa membekukan tulangmu, eh?
Bagaimana tidak? Posisinya dengan Hermione begitu dekat. Ditambah lagi dengan jarak kepalanya yang segaris dengan pinggang ramping Hermione. Membuat atensinya bisa melihat ke atas maupun bawah. Sungguh, Draco berani bersumpah jika Hermione mengenakan dalaman atas berwarna putih. Sedangkan dalaman bawah, Draco tak berani cari mati untuk hal satu ini. Bagaimanapun juga apabila ketahuan nanti, setidaknya ia masih memiliki sedikit alibi bukan untuk mengatakan bahwa ia tak semesum apa yang dipikirkan Hermione? Yah, right!
"Duh, Crookshanks! Bisa tidak sih kau berhenti bergerak?" Hermione mulai mendumel, mengalihkan pandangannya ke arah selimut di sebelahnya. "Ataukah kau kedinginan, eh?" Tiba-tiba ekspresi Hermione yang awalnya terlihat kesal kini berubah menjadi aura prihatin bercampur cemas. "Oh, ayolah kucing manis. Mendekatlah padaku, agar kau bisa merasa hangat," ujar Hermione lagi.
'Sama sekali tidak kedinginan! Aku bahkan sudah hampir meledak saking panasnya, Granger!' Lenguh Draco dalam hati.
Hermione menarik kepala Draco yang dikiranya adalah tubuh Crookshanks.
"Err, bulumu terasa berbeda. Sepertinya kau benar-benar kedinginan." Hermione menariknya lebih dekat hingga sejajar dengan –kau tahu apa— milik Hermione.
'Uh, oh! Merlin! Aku tak menyangka bahwa dada Granger semenarik ini! Shit!' Draco menegang ditempatnya. Bahkan untuk mengatur napas pun rasanya begitu sulit untuk dilakukannya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Hermione setelah mengetahui bahwa makhluk di sebelahnya sekarang bukanlah kucing gemuk bodoh yang selama ini begitu Hermione sayangi, melainkan pria tampan Sang Pangeran Slytherin yang sepertinya begitu ia benci—untuk kurun waktu sekarang. Namun tiba-tiba pikiran liarnya terhenti dan tergantikan dengan sketsa seekor Ferret setengah Kodok di kepalanya.
'Merlin! Bagaimanapun, itu sungguh menjijikan!' Draco mendecakkan lidah, lupa akan posisinya sekarang.
"Crookshanks, jangan menjilatiku. Itu menggelikan!" Hermione memutar bola matanya, membalik halaman buku selanjutnya.
"Meooouuuw..." Hermione menghembuskan napas keras.
"Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau sukai. Tapi kumohon setelah itu diamlah. Oke?" Hermione memberi wanti-wanti. Tangan kanannya mulai menelusup masuk ke dalam selimut, sementara tangan kirinya masih memegang buku. Tak heran bukan kalau Si-Nona-Tahu-Segala ini sudah terbiasa membaca dengan satu tangan?
Jemari mungilnya mulai mengelus-elus kepala pirang Draco—rambut lebat Draco dikiranya bulu tebal Crookshanks—.
"Meoouuuww," Draco kembali mengeong, yang sebenarnya hanya sebagai pertanda bahwa ia begitu menikmati belaian Hermione. Namun tiba-tiba suatu hal mengusik perhatian Hermione, membuat gadis berambut coklat ikal itu menoleh dengan iris mata yang menyipit.
"Meoouuuww..." Sebuah suara lain tertangkap pendengarannya. Tapi kali ini lebih natural dan terdengar bukan dari balik selimutnya. Hermione mempertegak posisi duduknya—yah, tadi posisi Hermione adalah duduk setengah berbaring. Pergerakan jemarinya yang berada di balik selimut seketika berhenti.
"Meoouuww..." Suara itu kembali terdengar. Hermione meremas rambut Draco kencang—yang masih dikiranya bulu Crookshanks. Draco meringis tertahan. Jantungnya pun sudah berdetak tak karuan.
"Ba—bagaimana bisa? Tak ada hantu kucing, bukan?" Hermione berjengit di tempatnya, merasa paranoid akan keberadaan hantu kucing. Well, Hermione bukannya takut tapi hanya—Ah ... Oke, hanya sedikit takut. Right? Ingat, hanya sedikit.
Dan tiba-tiba sesosok makhluk di ambang pintu, sukses membuatnya terkejut setengah mati. Pintu bergeser terbuka menampilkan kucing gemuk bulat berbulu oranye lebat tengah berdiri disana, mengibas-ibaskan ekornya manja. Yah, bisa dipastikan kalau itu adalah Crookshanks yang asli. Lagipula Hermione baru mengingat kalau tadi ia memang hanya membanting pintunya tanpa menguncinya. Namun permasalahannya sekarang bukanlah itu. Tapi ...
Siapa yang berada di balik selimut ini?
"Crookshanks..." Hermione bergumam pelan. Ia merasa speechless menyaksikan sosok gempal di ambang pintu itu. Manik hazelnya nyaris melompat keluar dari rongga penyangganya.
Ekspresi Hermione seketika berubah horor menyadari suatu kemungkinan yang sebenarnya sangat tak ingin dibayangkannya. Suatu kemungkinan yang berhasil membuat bulu kuduknya tegak berdiri. Dengan pergerakan tegang dan kaku, Hermione meletakkan buku yang sedari tadi menemaninya—selain Crookshanks palsu, tentunya—di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Dengan perlahan jemarinya bergerak ke arah selimutnya.
Sementara itu Draco telah menghitung detik demi detik kalkulasi pengeksekusiannya yang tentunya akan terjadi sebentar lagi.
'Ayo, Draco. Untuk yang terakhir kalinya bayangkanlah dirimu menjadi seorang Pangeran Slytherin yang tampan sebelum semuanya terlambat. Sebelum kau benar-benar sukses dikutuk menjadi Ferret setengah Kodok yang tentunya tak akan bisa lagi mengenang momen-momen ketampananmu seperti saat ini,' batin Draco gusar, gelisah. Berbagai doa dan ucapan 'selamat-tinggal-pada-wujud-tampannya' sudah berkecamuk sedari tadi di benaknya.
'Setidaknya kau mungkin masih memiliki sedikit aura ketampanan Draco setelah dikutuk. Well, hanya secuil dan seujung kuku.' Benaknya yang lain kembali melontarkan dorongan semangat terhadap sang empunya meskipun nyatanya Draco tetap meringis tidak ikhlas.
Satu ...
Dua ...
Ti ...
Draco memejamkan manik kelabunya rapat-rapat hingga bisa dibilang seluruh otot wajahnya turut ikut ambil bagian mencetak kerutan kesengsaraan di wajah tampannya. Sementara jemari Hermione mulai bergerak untuk menarik selimutnya dan melihat apa sebenarnya yang ada dibalik sana.
Ga! Bingo!
"Aaaaarrrrrrrrrgggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhh!" Jeritan memekakkan telinga seketika terdengar bergema membahana luar biasa di sekeliling ruangan itu.
To Be Continued-
-OoOoO-
.
.
Well, terima kasih karena masih setia membaca dan meninggalkan jejak untuk MBiF :) Dan saya mohon maaf apabila chapter ini kurang memuaskan. Oh ya, berikut balasan review di chapter kemarin :
valerieva :
Hi Eva :) Ini sudah update, gak lama kan? Cuman sepekan seperti biasanya XD. Apakah masih penasaran tingkat dewa? *plak. Mmh, makasih atas semangat dan reviewnya ^^ Review lagi?
Veela Rosea :
Hi Laa-chan –" ... err, di chap kemarin itu namamu paling bawah yah karena belakangan ripiu :p Sy kan seorang Ravenclaw yg adil & bijaksana haha :p .. Well, namanya juga 'unknown feeling' ... Jadinya Mione bingung aja gitu, karena di sisi lain ia merasa cintanya sm Ron tapi ternyata ada sisi yg lain yg turut bergejolak di hatinya terhadap Draco Malfoy :D ... Btw thx reviewnya :D Ini sudah update :p RnR lagi yak? XD.
larastin :
Ketinggalan beberapa chap? Ayo balap XD *plak. Masih seru yah? Makasih dear ^^ ... Ini sudah update, masih penasaran? XD ... Review lagi?
Ladyusa :
Ah iya gpp kok say :) Hehe iya chap 12 memang serem XD. Maaf yah di chap kemarin itu scene Dramionenya emang kurang, karena fokusnya emang sm perasaannya Mione dulu hehe. Kalau chap ini bagaimana? ^^ Thx reviewnya, review lagi?
Naomi Averell :
Iya cuman mimpi kok sist XD *ditimpuk* ... Haha kurang panjang? Maaf yah hehe ... Tetap semangat deh cari inspirasi buat tulisanmu, pasti kamu bisa :D Kita samaan kok, jadi anak kelas 3 itu emang gampang2 susah :) ... Btw thx atas review dan semangatnya ^^ Review lagi?
pidaucy :
Well, sy juga suka chap 12 (kira2 kalau kenyataan gimana yah? *grin evil ... tapi ah gak tega sm beb Draco XD) ... Err, di fict ini kamar ketua murid sy variasi sedikt hehe, jadinya berhadapan dan tentu saja dgn mudahnya Draco ataupun Mione bisa saling mengunjungi *jgn pikir macem2 XD* Ah gpp kok kepanjangan, sy suka :3 hehe. Btw, thx sudah review :) Review lagi?
BlueDiamond13 :
Baguslah kalau Blue udah ngerti hehe ... Ah iya typo, maaf yah hehe. Mmh, kalimat berulang seperti apa? .-. Btw, thx sudah review yah :) Review lagi?
Ochan Malfoy :
Perasaan baru seminggu Chan, kok dibilang sekian lama nunggu? XD ... Err yg ganti gaunnya yah si Draco *senyumcanggung sambil garuk2 kepala* Btw thx atas semangat dan reviewnya :) Review lagi?
PL Therito :
Iya cuman mimpi kok ^^ ... Mmh, benar sekali chap kemarin itu berisi ttg curhatan dan kegalauan hati Mione hehe. Yah, sy salah ketik, seharusnya nulis well bukan 'weel' :) ... Tapi klo masalah tulisan 'pantri' dan 'berkonpoi' memang sy sengaja tulis demikian kok sist, karena sy hanya mencoba untuk mencintai bahasa Indonesia dan meminimalisir bahasa luar yg semakin menenggelamkan bahasa Indonesia yg asli *ditabok* ... Btw, thx yah sudah review :) Review lagi?
Azalea Malfoy :
Iya ini sudah update lagi, thx sudah nungguin :) Ah, sy terharu hehe ... Ternyata ada jg yang ngefans, ckc ... Btw, thank u so much for the review ^^ Review lagi?
Ryoma Ryan – Le Renard Roux :
Jgn shock dong hehe ... Mmh, yah sepertinya kamu memang terjebak :p Err, kalau greget jgn gigit kasur Ryo, kasian kasurnya .-. *ditendang* ... Iya sy jg gak tega kok bikin Draco mati :( ... Ini sudah update, thx yah sudah review :) Review lagi?
Constantinest :
Sy gak setega itu Mini-chan buat Draconya mati hehe ... Ini sudah update, masih penasaran? Mmh, klo soal Astor tunggu sj di chap2 depan :) Yah, semoga sy masih bisa terus lanjutin fict ini smpe tamat yah ^^ Btw thx reviewnya Mini-chan ^^ Review lagi?
Adisti Malfoy :
Ini sudah update, Adis :) Thx yah. Review lagi?
Makasih semuanya :) Yg gak review tapi cuman fav/follow, mmh ... Makasih juga ^^ ... Terlebih bagi yg telah memfavoritkan sy sbg author fav, terima kasih :D *terharu.
Well, mind to review guys? :) Yg silent, sekali2 review dong -.-
P.S : Sy ada ff baru, judulnya The Ending (sequel dari The Letter) RnR yak :)
.
.
Salam,
Miss Loony.
