Disclaimer :
Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling. But all of idea, of course belong to me :)
Pairing :
Draco Malfoy dan Hermione Granger
Genre :
Romance, Hurt/Comfort
Rated : T (teen)
Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts (after war)
Warning!
Saya sudah berusaha untuk tidak typo
(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf).
Bahasa yg mungkin masih jauh dari kata bagus(?), sepertinya agak OOC dan lain sebagainya ...
|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|
.
.
My Blood is Ferret
Chapter 15
(Musang Tampan)
.
.
.
"Aaaaarrrrrrrrrgggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhh!" Jeritan memekakkan telinga seketika terdengar bergema membahana luar biasa di sekeliling ruangan itu. Dengan satu kali gerakan, Hermione langsung meloncat turun dari kasurnya. Mata coklatnya nyaris terjungkal keluar dari rongga penopangnya. Jantungnya berdetak diatas kalkulasi rata-rata.
'Aku tak percaya ini, mataku pasti mengkhianatiku!' Batin Hermione gusar.
"Malfoy, Pervert! Apa yang kau lakukan di balik selimutku, eh? Merlin! Aku bahkan mengelusmu dengan penuh sayang! Kau menarik-narik bajuku! Ka—kau bahkan sempat menjilatiku! Oh, kupikir aku akan gila setelah ini semua!" Hermione bercerocos tanpa henti, satu tangannya memegangi dadanya tepat dimana jantungnya terletak dan berdetak bertalu-talu. Sementara tangan lainnya sibuk memijat pelipisnya yang kini dipenuhi dengan peluh-peluh keterkejutan.
Draco Malfoy memucat di tempatnya, ia masih bergelung di atas kasur empuk nan hangat sang Putri Gryffindor, tanpa tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia nampak mengkeret ketakutan, tak ada lagi seringai menyebalkan yang tercetak takzim dari bibir seksinya. Bukan tak mungkin bukan jika dalam hitungan beberapa detik lagi, ia akan berubah menjadi wujud barunya yang err—sungguh mengerikan? Ferret setengah Kodok! Fucking Hell!
Hey, kau tahu? Tertangkap basah itu sungguh tidak enak!
"Err, Granger ... Tenanglah, aku bisa menjelaskan semua ini padamu," ujar Draco takut-takut. Ia mulai merangkak turun dari kasur empuk partnernya, Hermione Granger. Dan sekarang ia tengah berdiri berhadapan dengan gadis singa itu. Yang well, nampaknya sebentar lagi memang akan menjadi singa betina ganas yang mengerikan, yang tentu saja akan siap kapan saja untuk mengutuk seekor ular seksi menjadi The Beast Toad Ferret!
"Apalagi yang ingin dan bisa kau jelaskna padaku, Ferret mesum? Jelas-jelas aku mendapatimu berada dalam kamarku, dan hell! Berada dalam balik selimutku! Dan lagi, kau sempat menarik-narik bajuku dengan –iewwh— kuku-kuku musangmu, dan yang lebih parah lagi kau bahkan sempat menjilatiku! Alasan apa yang kau punya untuk menjelaskan semua ini, Malfoy? Semuanya sudah sangat jelas, semua ini evident! Sama sekali tak mengandung hal-hal enigmatik yang bertele-tele, Malfoy! Dan itu kesimpulanku!" Sembur Hermione murka, mengakhiri ucapannya dengan helaan napas yang terbilang panjang. Bahkan sekarang ia sudah lupa akan pakaian yang sungguh minim dan semi transparan yang membungkus tubuh mungil rampingnya. Dan memperlihatkan dalaman yang tengah ia kenakan sekarang—yang tentu saja akan semakin memudahkan Draco untuk memandangi hal-hal terlarang lainnya selain wajah marah Hermione, bukan?
Hermione kembali mengernyitkan dahinya, lengkap dengan picingan mata yang semakin menyipit hingga segaris. "Apa yang kau perhatikan, Malfoy?!" Gertak Hermione lagi. Namun seolah belum tersadar atas bentakan mematikan itu, atensi argent Draco masih saja terfokus pada satu titik pada gadis di hadapannya itu. Tanpa sadar, Draco menjilati bibir bagian bawahnya sendiri. Well, Draco tak bisa sepenuhnya disalahkan bukan dalam kasus dengan keadaan seperti saat ini? Yah, karena jawabannya cukup klise. Hormon lelaki, eh? Ah, ya kau tak bisa melupakan hal yang satu itu.
Hermione menggeram rendah di tempatnya, tangannya mengepal erat-erat. "Shit, Malfoy! Apa yang kau perhatikan?!" Draco dengan segera seolah kembali tertarik ke bumi, kembali ke dunia nyata yang berotasi dan mau tak mau menarik kembali atensi fokusnya. Draco terlihat gelagapan dan buru-buru mengusap bibirnya. Salivanya bahkan sudah hampir menetes dengan sangat tidak elitnya.
"Err, aku—aku ... Ah, Granger. Aku hanya," Draco tak melanjutkan perkataanya, otak cerdasnya sepenuhnya sibuk memikirkan rangkaian kata emendasi yang benar-benar tepat untuk bisa ia gunakan sebagai usaha penyelamatan diri. Jemari-jemari pucatnya saling memilin-milin satu sama lain di depan dada. Yah, Draco nampak konyol untuk saat ini.
"Hanya apa, pirang?" Hermione bertanya tak sabaran. Sekarang kedua tangannya terlipat di depan dada. Sebelah alisnya terangkat tinggi-tinggi, menunggu jawaban sang pemuda Slytherin bersurai platina yang –entah bagaimana dan mengapa bisa— sukses tertangkap menyusup ke dalam kamar hangatnya. Dan hell, bahkan dalam selimutnya! Hermione mengetuk-ngetuk lantai dingin kamarnya yang berbalut karpet berwarna krimsom dengan kaki kanannya.
"Ayo cepat katakan sebelum akau berubah pikiran!" Hermione kembali angkat suara dengan nada mengancam yang mendominasi. Sementara itu wajah blanch Draco semakin kentara saja di bawah terpaan sinar mentari pagi yang mulai menelusup masuk dari celah-celah ventilasi di kamar Hermione.
"Ah, aku bisa menjelaskan semuanya, Granger. Tapi kurasa tidak sekarang. Aku mau mandi dulu, keadaanku emm—" Draco berpikir sejenak –kacau," katanya pada akhirnya. Terlihat sekali bahwa wajah tampannya menyimpan kegusaran yang luar biasa besar dan kalimatnya barusan hanyalah sekadar alibi belaka. Hermione makin mengetuk-ngetukkan kakinya dengan keras. Wajahnya minim ekspresi.
"Mmh, Granger. Kurasa aku punya urusan, aku—aku keluar dulu," kata Draco sembari menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sama sekali tak gatal. Ia tersenyum canggung ke arah Hermione yang sama sekali tak menampakkan tanda-tanda akan membalas senyumannya. Baru Draco berbalik dan berjalan selangkah, namun langkahnya sudah terhenti tepat tiga detik setelahnya. Hermione menarik kerah kemejanya dari belakang. Draco memutar lehernya dengan sedikit kikuk.
"Well, Granger. Setidaknya ak—aku mandi dulu jika kau ingin aku temani disini. Err, atau kau ingin bermain bersamaku, eh?" Hermione menggeram rendah di tempatnya.
"Coba ulangi perkataanmu, Malfoy love?" Ujar Hermione dengan nada manis yang dibuat-buat.
"Err, setidaknya kau membiarkanku mandi dulu, Granger. Dan setelahnya, puaskanlah dirimu jika kau memang mau bermain denganku." Draco mengedipkan matanya dengan penuh jenaka. Hermione semakin erat mencengkeram kerah kemejanya.
"Aku tidak sepertimu! Aku bukan gadis mesum!"
"Hey-hey tunggu dulu! Apa sih maksudmu? Aku hanya mengajakmu bermain dalam konteks yang sebenarnya, Granger! Well, bermain Truth or Dare mungkin, main mobil-mobilan, atau boneka? Oh atu bermain kuda-kudaan, eh?" Cerocos Draco. Hermione mendelik mendengar akhir kalimat Draco. Tentu saja otak Ferret itu hanya berpura-pura polos, padahal nyatanya ia adalah seekor ferret yang sungguh mesum!
"Auuww! Kau menyakitiku, semak! Aku sulit bernapas!" Draco mengerang pelan ketika kerah bajunya terasa melilit lehernya dengan sesak.
"Dasar Ferret menyebalkan! Bisa-bisanya kau masih memasang wajah barefaced-mu, hah?"
"Granger, kau sadis!" Komentar Draco di sela-sela sesaknya.
"Karena kau yang duluan, Malfoy! Dasar mesum! Bisa-bisanya kau masuk dalam kamarku dan menyelinap di balik selimutku?" Hermione menggigit bibir bawahnya sendiri saking kesalnya.
"Well, Granger. Itu salahmu sendiri. Aku tak tahu mengapa kau bisa tidak sadar ketika aku mengendap-endap masuk ke dalam kamarmu," bela sang Malfoy junior itu. Hermione makin erat mencengkeram kerah kemeja Draco, hingga menyebabkan sang empunya menjadi terbatuk-batuk.
Sebenarnya bisa saja Draco lepas dengan mudah dan melakukan perlawanan, tapi mengingat bahwa dirinya memang patut divonis bersalah dalam kasus ini, maka ia mengurungkan niatnya.
"Hell, Granger! Aku benar-benar akan mati! Uhuk ... uhuk ..." Hermione melemahkan cengkeramannya menjadi beberapa level ke bawah, sedikit iba. Well, hanya sedikit.
"Err, maaf," tutur Hermione sedetik melunak. Namun di sepersekian detik berikutnya ia kembali garang layaknya singa betina yang mengamuk dan siap menghabisi mangsanya kapan saja.
"Ah, kau tak bisa membuatku melunak begitu saja, ferret pirang!"
"Aku sama sekali tak berusaha untuk membuatmu lunak," ujar Draco santai dengan innocent face-nya. Hermione kembali menarik kerah kemejanya dengan satu tarikan kencang. Alhasil Draco kembali terbatuk-batuk sesak.
"Kau parah, Granger!" Draco melenguh.
"Singa memang selalu bersikap parah apabila seekor ular berjenis musang berani-beraninya mengganggu ketenangannya!" Desis Hermione berbahaya.
"Ular berjenis musang, eh?" Masih sempat-sempatnya Draco terkekeh mendengar celotehan serius dari sang singa betina, Hermione Granger.
"Uhuk ... uhuk ... Ampun, Granger! Kau benar-benar wanita sadis!" Hermione akhirnya melepaskan cengkeramannya dari kemeja sang Pangeran Sytherin itu. Draco dengan segera mengusap-usap leher dan dadanya yang terasa sesak. Posisinya setengah berbungkuk sekarang. Tangan kanannya bertumpu pada satu lututnya, sementara tangan kirinya kini bergerak untuk menyingkirkan peluh yang sedari tadi mengucur di keningnya dan err ... membuat rambut platinanya sedikit lepek. Napasnya masih tersengal-sengal dan sesekali masih terabtuk-batuk.
Draco berbalik badan. Manik kelabunya dengan perlahan menatap ke dalam manik hazel yang tengah memandangnya penuh kilatan amarah.
"Aku ... aku," Draco merasa ragu dengan ucapannya. Hermione hanya mengangkat alisnya tinggi-tinggi.
"Aku ... aku minta maaf, Granger," kata Draco pada akhirnya. Hermione tersenyum tipis di seberangnya. Namun bukan senyuman tulus bersahabat atau semacamnya. Lebih kepada senyuman mengintimidasi.
"Atas semua yang kau lakukan, eh?" Hermione mencibir. Draco mengangguk kaku.
"Katakan, Malfoy! Apa saja yang sudah kau dapatkan dariku, eh?" Kini giliran Draco yang mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Belum paham atas alur cerita yang dibahas Hermione.
"Maksudmu?" Draco bertanya polos. Hermione menggeram rendah. "Aku tak mengerti," ujarnya lagi, persis seperti nada polos seorang bocah berusia lima tahun!
"Ugghh! Kupikir kau ini ferret yang cerdas, nyatanya tidak," cibir Hermione. Mengikuti kata-kata Draco beberapa saat yang lalu tentang opininya mengenai berang-berang yang dikiranya cerdas.
"Kau mengikutiku," protes Draco tenang.
"Apa hakmu?" Hermione mendelik ke arahnya. "Oh, ayolah, Malfoy. Cepat katakan semua perbuatan barbar yang telah kau lakukan padaku!" Gertak Hermione.
"Oh, come on, Granger! Sungguh aku tak mengerti." Kerutan-kerutan di kening Draco menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak mengerti sama sekali akan arah pembicaraan ini.
"Kau masuk dalam kamarku, kau menyelinap dalam selimut hangatku, dan ..." Hermione terlihat menimbang-nimbang perkataannya.
"Dan apa?"
"Tadi kau melihatku berganti baju, 'kan? Bahkan aku yakin seyakin-yakinnya orang yang benar-benar yakin bahwa kaulah yang menggantikan gaunku dengan piama semalam!"
"Err, tidak.. Maksudku ya. Well, hanya sedikit." Hermione mendelik tajam ke arahnya. "Err, bukan ... bukan ..." Draco melambai-lambaikan kedua telapak tangannya ke depan dengan panik. "Tidak seperti apa yang kau pikirkan, Granger. Aku bukanlah pria mesum seperti yang ada dalam otak berang-berangmu itu!" Hermione kembali mendelik mendengarnya. Dengan langkah mantap, Hermione mengambil tongkatnya diatas nakas. Draco melotot melihatnya.
"Whoa, Granger, santailah sedikit. Aku tahu dari sikap maskulinmu selama ini, kau tentu adalah gadis hebat yang penuh dengan kelembutan," bujuk Draco dengan nada-nada manis alih-alih rayuan. Namun sepertinya ia salah ucap. Hermione semakin memegang tongkatnya dengan erat setelah mendengar Draco berbicara perihal dirinya yang maskulin.
'Mati aku, tamatlah riwayatku!' Draco membatin panik.
Dengan langkah pelan namun tegas, Hermione beringsut maju selangkah demi selangkah mendekati Draco. Sementara pria pirang itu melakukan hal yang berkebalikan. Ia perlahan-lahan mundur secara teratur ke belakang, selangkah demi selangkah pula. Hingga pada akhirnya langkahnya harus terhenti oleh sebuah tembok. Punggungnya terantuk dengan sangat tidak elitnya. Ia merutuk dalam hati. Sementara Hermione tersenyum aneh di hadapannya. Manik kelabu Draco jelas memancarkan kepanikan luar biasa.
"Mau kemana eh, ferret sayang?" Katanya dengan nada yang menggoda. Andai saja Hemione mengatakan itu dalam keadaan normal dalam konteks yang sebenarnya, tentu dengan senang hati akan disambut hal serupa oleh Draco. Namun kasusnya berbeda, perkataan Hermione barusan lebih ke artian yang mengintimidasi.
Draco mencoba tersenyum, namun sialnya ia nyatanya lebih kepada meringis dibanding tersenyum seperti yang ia maksudkan. Draco menoleh ke kiri, ia melihat celah pintu kamar Hermione yang terbuka sedikit—karena kedatangan Crookshanks tadi yang nyatanya justru menjadi awal kesengsaraan baginya.
Ia meneguk ludahnya dengan kasar sebelum memutuskan untuk mengambil langkah seribu menuju pintu itu dan menghambur keluar dari sana. Hermione menggeram kesal di tempatnya. Ia tak bisa tinggal diam, maka gadis bermanik hazel itu pun ikut meluncur keluar dari kamarnya. Mengejar Draco dengan tongkat teracung di tangan, siap mengutuk kapan saja ia ada kesempatan.
"Ferret sialan! Jangan berani-beraninya kau melarikan diri!" Hermione berteriak nyaring. Ia kini sedang menuruni anak tangga menuju ruang rekreasi asrama ketua murid. Percayalah, andai saja letak asrama mereka tak berada di menara yang cukup tinggi, yakin seratus persen, sleuruh penghuni Hogwarts tentu akan menutup telinga mereka rapat-rapat.
Draco masih terus berlari tanpa perlindungan sedikitpun—dengan tangan kosong. Hell! Tongkat sihirnya bahkan masih tergeletak manis di atas nakas dalam kamarnya. Draco terus berlari di sekitar ruang rekreasi ketua murid dengan Hermione yang mengejar di belakangnya. Akibat terus menoleh ke belakang dengan perasaan was-was, akhirnya Draco terjerembab jatuh tersandung karpet di ruangan itu. Pria berdarah murni itu terjungkal dengan sangat tidak elitnya dengan bokong yang mendarat terlebih dahulu, kakinya terbuka lebar kedepan. Ia meringis kesakitan sementara Hermione tertawa puas di tempatnya berdiri.
"Hahahahahah, Ferret tersandung karpet! Lucu sekali! Hahahha. Ascendio!" Hermione merapalkan mantra untuk membangkitkan Draco dari posisi jatuhnya. Sang Pangeran Slytherin itu dengan segera menyenderkan punggungya di sofa hijau di belakangnya sambil mengelus-elus sayang bokong tercintanya.
Namun tak disangka, beberapa detik selanjutnya Draco ternyata kembali berlari menghindari Hermione–yang nyatanya justru semakin membuat gadis ikal itu merasa kesal tak karuan.
"Ugghh! Dasar Ferret tak tahu berterima kasih!" Ia kembali mengejar Draco hingga pada akhirnya terjadilah acara kejar-kejaran dalam ruangan itu. Jika dilihat-lihat, tingkah mereka begitu konyol. Layaknya sepasang bocah kecil berumur sembilan tahun.
"Avis!" Burung-burung pun berterbangan keluar dari tongkat Hermione.
"Aww! Granger, kau benar-benar sadis!" Erang Draco sembari berusaha mengelak dari serangan kawanan burung-burung yang mengejarnya dan tak henti-hentinya mencoba mematuk sesuatu dari tubuhnya.
"Kau sudah mengatakan itu berkali-kali, Malfoy!" Ujar Hermione terlihat habis sabar. Merasa tak cukup puas dengan penderitaan Draco, Hermione kembali merapalkan mantra.
"Tarantallegra! Rictusempra!" Dua mantra sekaligus yang diluncurkan Hermione. Draco tertawa terbahak-bahak ditempatnya seiring dengan gerakan kakinya yang bergerak gesit layaknya orang yang sedang melakukan dansa dengan tempo cepat.
"Hahahahhaha ... Uh, kumohon ... Hahhahhahah ... Hentikan ini, haahhahahha, Gra ... haha, Granger!" Dengan susah payah Draco mencoba menyelesaikan ucapannya di sela-sela tawanya. Hermione tersenyum menang.
"Well, karena aku sedang berbaik hati. Jadi ... akan ku hentikan." Hermione mengacungkan tongkatnya ke depan dan mengucapkan sebuah mantra yang pada akhirnya berhasil membuat Draco untuk berhenti tertawa.
Pemuda Slytherin itu berusaha keras mengatur napasnya yang tersengal-sengal akibat terlalu banyak tertawa. Ia memegangi perutnya yang mulai terasa sakit.
"Hosh ... Hosh ... Kau tega, Granger," ujar Draco. Hermione memutar bola matanya bosan. "Tapi tidak apa sih, setidaknya aku tak melewatkan sesuatu yang menarik." Draco secara sempat-sempatnya tersenyum nakal memandangi Hermione. Seringai lebar kembali tercetak di wajah tampannya.
'Dalam kondisi berkeringat sekalipun dengan peluh yang err ... justru menambah keseksiannya, ia tetap saja tampan,' pikir Hermione tanpa benar-benar sadar sepenuhnya. Di detik berikutnya, Hermione sudah kembali sadar dan menggeleng-gelengkan kepalanya. 'Tidak ... tidak, pikiranku pasti salah!' Sangkalnya lagi. Ia kembali mengacungkan tongkatnya tepat di depan cuping hidung Draco dengan perasaan waspada.
"Apa maksudmu, pirang?" Tanyanya garang.
"Well, pada saat kau berlari seperti tadi. Umm, kau terlihat err, seksi," Draco menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tak gatal. Hermione makin menyipitkan matanya tidak mengerti.
"Jangan bertele-tele, Malfoy!" Sembur Hermione lagi.
"Oke, dalam keadaan berlari seperti tadi err, membuatmu seksi luar biasa, Granger. Apa lagi kau hanya dibalut dengan lingerie tipis itu." Draco mengerling dan mengedikkan dagunya ke arah lingerie Hermione yang sangat jelas memperlihatkan pakaian dalam yang dipakainya lengkap dengan lekuk-lekuk tubuhnya.
Dengan segera gadis singa itu mengikuti arah pandang Draco. Matanya membeliak terkejut. Ia benar-benar lupa dengan lingerie yang tengah dikenakannya.
Berlari kesana kemari dengan ... pakaian setipis ini? Shit!
Hermione diam seribu bahasa. Giginya bergemulutuk kesal.. Tongkatnya di genggamnya erat-erat, hingga akhirnya kepalanya mendongak perlahan dengan tatapan mata yang begitu tajam. Draco yang menyadari sirine bahaya, dengan segera mengambil ancang-ancang untuk berlari, tapi sayang. Terlambat.
"Ferretlyfors!" Raung Hermione dikuasai amarah. Untuk beberapa detik ruangan itu menjadi terang benderang menyilaukan mata hingga Hermione bahkan menggunakan telapak tangannya untuk melindungi penglihatannya.
"Meong," Crookshanks muncul di ruangan itu dengan meongan kebingungannya.
"_"
"_"
"Meong." Crookshanks berjalan mendekat sembari mengibas-ngibaskan ekornya semangat melihat objek di hadapan Hermione.
Sementara gadis ikal itu hanya bisa membatu di tempatnya, tanpa tahu harus melakukan apa. Tongkatnya terjatuh dari genggamannya, kini kedua tangannya beralih fungsi—ia gunakan untuk menutup mulutnya yang menganga tak percaya akan apa yang baru saja dilakukannya.
"Meong ..." Crookshanks menghampiri makhluk di hadapan Hermione dan memandangnya dengan pandangan berbinar.
"_"
"_"
"Draco," Hermione bergumam pelan menyaksikan seekor musang imut berbulu putih bersih di hadapannya.
"GRANGEEERRR!"
Wow! Musang itu bisa berbicara!
Well, setidaknya hanya wujud musang tanpa embel-embel kodok menjijikan.
-To Be Continued-
-OoOoO-
|Pojok Author|
.
.
Ah, sudah sepekan lagi ternyata~
My Bloos is Ferret aka MBiF kembali update XD ...
Ada yang nungguin kagak? u,u Err, sepertinya gak ada yah? ._. *ngumpet.
Btw, terima kasih banyak..nyak..nyak kepada kalian-kalian yg masih terus setia mengapresiasi MBiF ini n_n (baik itu dalam bentuk review, fav, ataupun sekadar follow—setidaknya followers masih meninggalkan jejak dibanding silent readers -.-) ... Saya mohon maaf karena mungkin chap ini kurang memuaskan :( dan pada chap ini pula Loony tidak sempat untuk membalas review kalian, padahal Loony hobi banget balesin review ._.
Well guys, sedikit cerita nih dari Loony. Jujur saja akhir-akhir ini entah kenapa saya kurang bersemangat. Bahkan untuk menulis fict sekalipun (padahal berbagai macam ide dan imajinasi berseliweran dalam cerebelum di kepala saya loh). Dan awalnya saya sempat berpikir untuk HIATUS! Sepertinya gak ada yang keberatan juga kan? .-.
Oleh karena itu saya benar-benar butuh REVIEW dari kalian! Kali-kali aja bisa bikin saya kembali semangat seperti sedia kala dan membuat sy nggak jadi HIATUS XD~ ... Yg silent readers, sekali-kali reviewlah semangatin author u,u ... Review di bulan puasa dapet pahala loh XD *ditimpuk.
So, review please? :)
P.S : "The Ending"—sequel "The Letter" sudah update chapter 2 n_n ...
RnR juga yah :D don't be a silent readers :p
.
.
.
Salam,
Miss Loony.
