Setelah kelasnya usai, Mark dan Jeno berusaha mencari keberadaan pemuda yang mereka berdua yakini adalah Soulmate Mark. Sebenarnya hanya Mark saja yang ingin mencari, tapi Mark turut serta menggeret Jeno untuk menemaninya berjalan keliling Universitas sambil mengamati wajah setiap orang yang berpapasan dengannya. Kegiatan yang sangat sia-sia, pikir Jeno.
"Mark! Kau ingat tidak sih wajah pemuda itu?!" Tanya Jeno kesal. Dia lelah mengikuti Mark yang berjalan berkeliling Universitas yang begitu luasnya untuk menemukan sosok pemuda yang bahkan rupanya saja Jeno tidak tahu.
"Aku ingat! dia sangat manis, rambutnya berwarna coklat, dan kulitnya bewarna seperti madu." Balas Mark sambil memasang ekspresi sama lelahnya dengan Jeno.
"Terdengar sangat luar biasa dan tidak masuk akal di telingaku." Jeno mendudukan dirinya di kursi caferia dan memandang Mark dengan pandangan malasnya.
Mark mendecih, "Aku serius sialan! Dia itu sangat manis! Memangnya kau tadi tidak melihatnya? Dia sempat mengobrol denganku!."
Jeno menggelengkan kepalanya "Tidak, aku tadi sedang berbalas pesan dengan hyungku. Jadi aku tidak memperhatikan kau mengobrol dengan siapa!."
"Tapi aneh Jen" ucap Mark sambil ikut mendudukan dirinya di kursi cafetaria, membuat Jeno mengerutkan dahinya "Aneh kenapa?"
"Kan aku sudah bertemu dengannya, kenapa aku masih merasakan apa yang dia rasakan?"
Mendengar pertanyaan Mark yang menurutnya sangat bodoh sekaligus menyebalkan itu membuat Jeno reflek memukul kepala Mark dengan kuat, membuat Mark memekik tidak terima. "Kenapa memukulku sialan?!"
"Tentu saja bodoh! sekarang aku tanya padamu, memangnya kau sudah bersentuhan dengannya?"
Mark menggeleng.
"Nah, jelas saja kau masih merasakan apa yang dia rasakan. Kau harus menyentuhnya dulu! Kenapa sih perihal seperti itu saja kau tidak tahu?!"
"Ah, benar juga"
"Mark, kau tidak pernah ya mencoba menghubungi Soulmate-mu?"
"Bagaimana caranya?! Nomer ponselnya saja aku tidak punya!"
Jeno menghembuskan nafas pelan, berusaha mengendalikan emosinya. "Maksudku begini anak cerdas, Men-hu-bu-ngi Soul-mate-mu" ucap Jeno sambil menulis sembarang kata di lengannya menggunakan jari.
Mark mengeryit heran "Apa maksudmu?"
Jeno mengusap wajahnya kasar, sedari tadi ia sangat tergoda untuk membabak-beluri wajah sahabatnya satu ini, tapi ia tidak mungkin melakukannya karna seseorang yang tidak bersalah di luar sana bisa ikut merasakan sakitnya, Jeno tidak se-jahat itu ya.
"Kau menulis pesan di lenganmu Mark! Dan kau ajak Soulmate-mu bertemu!"
Mark mendecih mendengar perkataan Jeno. Dia itu sangat tidak mempercayai hal-hal yang seperti itu. Keberadaan Soulmate saja masih sulit dia percayai, apalagi menulis pesan di lenganmu sendiri dan tulisanmu itu akan muncul di lengan Soulmate-mu yang entah berada dimana? Omong kosong macam apa itu.
"Kau mau aku melakukan hal yang tidak berguna seperti itu? Cih, mimpi saja sana" ucap Mark sambil mendengus keras.
"Lalu kau pikir berjalan tidak tahu arah tujuan berkeliling Universitas seperti sekarang hal yang berguna hah?!" Sembur Jeno murka.
"Dengarkan aku Mark, kau harus menemukan Soulmate-mu secepatnya!"
"Iya-iya! Ini juga aku sedang usaha tahu!"
"Usaha apa?!!!"
"Kenapa kau marah-marah sih Jen?!"
"Aku tidak marah sialan! Aku kesal!!!"
Mark mengibaskan tangannya pelan "Sudah, biarkan saja. Kalau jodoh pasti dia akan datang sendiri padaku"
Mata Jeno berkedut jengkel mendengar ucapan Mark barusan. Hidungnya kembang kempis, dan wajahnya memerah menahan emosi.
Mark melihat wajah Jeno yang terlihat sangat dongkol itu dengan raut keheranan "Hei, hei, kenapa wajahmu itu? jelek sekali." Ucap Mark se-enak jidat, masih tidak tahu situasi.
"Arghhhh!!!!" Jeno berteriak dengan kencang sambil menggebrak meja, membuat Mark dan beberapa pengunjung cafetaria terlonjak kaget.
"Kau!" Jeno menunjuk Mark dengan telunjuknya "Aku tahu bodoh gratis, tapi jangan kau borong semua!" ucap Jeno emosi.
"Soulmate-mu itu otomatis jodohmu sialan! dia tidak akan menghampirimu seperti pengamen jalanan!."
Mark menarik tangan Jeno supaya kembali duduk "Kau membuat malu sialan!." Sungut Mark kepada Jeno.
Jeno memukul-mukul pelan tengkuknya yang terasa kebas. Ia rasa ia terkena darah tinggi gara-gara menghadapi sahabatnya yang keras kepala, bodoh, dan sangat menjengkelkan ini.
"Tapi ya Jen-"
"Ssstt! Jangan bicara lagi, semakin kau membuka mulut sialanmu aku menjadi semakin kesal saja." Potong Jeno sambil menempelkan telunjuknya di bibir Mark.
"Iss! Biarkan aku bicara!."
Jeno tidak menanggapi perkataan Mark, ia malah mengambil ponselnya dari dalam jaketnya dan menelpon seseorang. Mark yang diabaikan pun hanya bisa memberengut sambil memandang Jeno dengan pandangan jengkel.
"Halo sayang, kau sudah pulang?." Tanya Jeno pada seseorang yang berada di sebrang telpon.
"Oh, kau menemani Donghyuck ke Soulmate Center. Kenapa bocah itu?."
"Ah, dia benar-benar harus segera menemukan Soulmate-nya sama seperti Mark, kau tahu Mark kan sayang?"
"Iya, sahabatku yang mempunyai raut seram dan alis camar yang menukik kalau sedang serius." Jeno terkekeh mendengar ucapannya sendiri, sedangkan Mark -sang objek pembicaraan semakin menekuk dalam wajahnya.
"Iya, salam untuk sahabatmu itu ya. Sampai jumpa sayang!."
"Cih, sok romantis sekali." Cibir Mark dengan raut masam.
"Biarkan saja. Jika kau ingin seperti ini, tunggu saja jodohmu itu menghampirimu ya!." Jeno membalas cibiran Mark dengan sedikit menyindirnya, membuat Mark mendelik tidak terima.
"Tapi omong-omong Jen, aku tadi mendengar kau dan Jaemin membahas tentang Soulmate center? Kenapa"
"Kenapa kau penasaran?." Tanya Jeno ketus.
"Kau benar-benar sangat sensitif ya hari ini." Dengus Mark kesal.
Jeno hanya mengendikan bahunya tanda tak perduli lalu bangkit dari tempat duduknya.
"Heh, kau mau kemana Jen?"
"Mau pulang lah! Buat apa aku disini berdua-an denganmu huh?! seperti orang pacaran saja." Jeno menoleh ke arah Mark sekilas lalu berjalan meninggalkan Mark yang tengah memasang wajah sebal dan mengacungkan jari tengah padanya.
"Ah Soulmate-ku, kumohon jangan membuat aku pusing begini." Keluh Mark lalu ikut beranjak pergi meninggalkan cafetaria.
.
.
.
"Kau yakin Hyuck mau masuk kedalam?." Tanya Jaemin untuk ke-sekian kalinya.
"Tentu saja." Balas Donghyuck santai.
Jaemin memasang ekspresi ngeri saat Donghyuck ikut menggeretnya masuk ke dalam gedung Soulmate Center. Bukan karna apa, ia hanya merasa tidak nyaman. Soulmate Center itu tempat yang dibuat khusus untuk menyelamatkan orang-orang yang Soulmate-nya meninggal dunia sebelum mereka berdua sempat bertemu.
Secara teknis, orang yang kehilangan Soulmate-nya sebelum mereka bertemu akan ikut merasakan kematian. Sehingga, jika tidak cepat ditangani maka orang tersebut akan ikut mati.
"Aku merasa merinding. Terlalu banyak aura kesedihan dan kesuraman disini." Jaemin semakin merapatkan badannya dengan Donghyuck yang berjalan disampingnya.
"Jangan berlebihan, aku disini hanya ingin konsultasi saja" ucap Donghyuck sambil sedikit terkekeh.
Mereka berdua terus berjalan memasuki gedung Soulmate Center.
"Nah, ini ruangannya. Kau mau ikut kedalam atau menunggu di luar?"
Jaemin memandang dengan ngeri pintu ruangan didepannya, ia masih merasa tidak nyaman berada di sini, walaupun hanya menghantar sahabatnya itu untuk konsultasi.
"Tidak, aku menunggu disini saja. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku ya, hati-hati jangan sampai kau terluka." Ucap Jaemin dengan nada memperingati.
Donghyuck menganggukkan kepalanya, "Tentu saja. Jangan khawatir."
"Ah, rasanya seperti melepas anak sendiri untuk pergi ke sekolah. " Ucap Jaemin sambil menatap punggung Donghyuck yang telah memasuki pintu ruangan yang bertuliskan 'ruang konsultasi' dengan pandangan tidak rela.
.
.
.
"Oh, Lee Donghyuck ya?" Donghyuck menganggukan kepalanya canggung. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa takut setelah bertemu dengan Dokter yang akan mendengarkan keluhannya ini.
"Silahkan duduk." Ucap Dokter itu ramah.
"Jadi, kau ingin berkonsultasi tentang apa?." Tanya Dokter itu sesaat setelah Donghyuck mendudukan dirinya di kursi.
"Oh maafkan aku, perkenalkan dulu namaku Doyoung"
Donghyuck menerima uluran tangan Dokter itu untuk berjabat tangan dan kembali tersenyum canggung.
"Sebenarnya aku ingin bertanya." Ucap Donghyuck.
Dokter yang bernama Doyoung itu terus memperhatikan Donghyuck dengan seksama membuat Donghyuck kembali merasa tidak nyaman.
"Silahkan, tanyakan apa yang ingin kau tanyakan. Itu alasanmu berada disini bukan?."
"Bisakah-" Donghyuck mendadak ragu untuk mengajukan pertanyaannya. Ia hanya tersenyum canggung sambil menatap Doyoung yang menampilkan ekspresi tidak sabar sekaligus penasaran.
"Ayolah, katakan saja."
"Bisa tidak, Soulmate-mu tidak lagi merasakan apa yang kamu rasakan meski kalian belum bertemu dan saling bersentuhan?."
Doyoung mengernyit keheranan mendengar pertanyaan dari Donghyuck.
"Kenapa? Soulmate-mu membuatmu repot?."
"Tidak, dia tidak pernah membuatku repot. Hanya saja.."
"Aku yang selalu membuatnya repot." Cicit Donghyuck pelan.
Doyoung tampak berfikir sejenak kemudian memandang Donghyuck dengan serius.
"Kau pernah mengirimkan pesan kepada Soulmate-mu?"
Donghyuck menggeleng, jujur ia tidak berani mengirimkan pesan kepada Soulmate-nya. Ia takut Soulmate-nya itu akan mengamuk dan memaki-maki dirinya karna selalu membuatnya susah.
"Aku tidak berani."
"Kau harus mengirimkannya pesan agar kau bisa bertemu secepatnya dengan Soulmate-mu. "
"Aku-"
"Kau harus melakukannya!, Jika kau tidak ingin membuat Soulmate-mu merasakan apa yang kamu rasakan, maka kau harus segera bersentuhan dengannya. Hanya itu satu-satunya cara."
Donghyuck menganggukan kepalanya mengerti, "Baiklah, akan kucoba."
Doyoung tersenyum dengan lebar mendengar perkataan Donghyuck. Dia sudah sering menangani orang yang mempunyai masalah sama sama seperti yang Donghyuck alami, jadi tentu saja ia bisa mengatasinya dengan mudah.
"Baiklah, semoga berhasil Donghyuck!"
.
.
.
.
Mark berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia bimbang, apakah ia harus mengimkan Soulmate-nya pesan atau tidak. Ia juga merasa sedikit khawatir pada Soulmate-nya itu, karna sedari pagi hingga sekarang ia belum merasakan Soulmate-nya itu memakan sesuatu.
"Dia baik-baik saja kan?" Tanya Mark pada dirinya sendiri.
Mark mengacak-ngacak rambutnya merasa frustasi, "Baiklah, apa salahnya di coba."
Mark mengambil sebuah spidol berwarna hitam, kemudian mendudukan dirinya di atas ranjang.
"Hmm.. Apa yang harus ku tulis?"
Mark mulai menuliskan sesuatu di tangannya, dan begitu selesai tulisan itu langsung lenyap entah kemana. "Daebak!." Seru Mark tidak percaya.
"Tulisannya benar-benar hilang!, Ini spidol biasa kan?." Ucap Mark sambil meneliti kembali spidol yang ada ditangannya.
Mark kembali dibuat menganga tidak percaya saat melihat sederet kalimat muncul di tangannya. 'Aku baik-baik saja. Maaf telah banyak merepotkanmu'
"Ini benar-benar berkerja!"
Setelah tulisan dilengannya kembali lenyap Mark buru-buru menuliskan sesuatu lagi di tangannya.
Mark menunggu balasan dari Soulmate-nya dengan tidak sabar. Ia benar-benar tidak menyangka jika hal yang ia anggap hanya omong kosong ternyata dapat bekerja dengan sangat baik seperti ini.
'Terimakasih. Uhm.. boleh aku tahu namamu?'
Mark membekap mulutnya sendiri tidak percaya saat membaca kalimat yang muncul di lengannya. Soulmate-nya baru saja menanyakan namanya!
"Yatuhan bagaimana ini?!." Seru Mark panik.
Taeyong yang baru saja ingin mengajak adiknya untuk turun makan malam mengernyit heran saat melihat sang adik berguling-guling tidak jelas di atas ranjangnya.
"Hey, kau kenapa?."
"Hyung!!" Mark menunjukkan lengannya yang terdapat sederet kalimat dari Soulmate-nya kepada Taeyong.
Taeyong membelalakan matanya dan langsung mendekat, "Yatuhan! Kau berbalas pesan dengan Soulmate-mu?!" Tanya Taeyong tidak percaya. "Cepat! balas pesannya! Jangan buat dia menunggu bodoh!."
Mark gelagapan seketika, dia tidak tahu apa yang harus ia tulis di lengannya.
Taeyong yang melihat sang adik hanya diam langsung merebut spidol dan menarik lengan Mark. Mark membelalakan kaget dan memekik tidak terima saat melihat apa yang Taeyong tulis di tangannya.
"Hyung!!"
"Bagus, dengan begini bisa dipastikan kau akan segera bertemu dengan Soulmate-mu." Ucap Taeyong sambil tersenyum bangga.
"Tapi-"
Ting!
"Apa kubilang, cepat periksa ponselmu."
Mark menatap ponselnya dengan pandangan horor. Dia tidak tahu harus mengutuk atau berterima kasih kepada Taeyong.
.
.
.
.
.
tbc
Maaf jika tidak sesuai ekspetasi TT
Special thanks buat penyemangatku dalam menulis 57kg, Zeroo082, Selai Semangka, Markunta, Chenhighnotes, Fa0107, Vauexovaunct, GYUSATAN.
TERIMAKASIH SUDAH MAU REVIEW...
SEE YOU NEXT CHAP *
