Disclaimer :

Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling. But all of idea, of course belong to me :)

Pairing :

Draco Malfoy dan Hermione Granger

Genre :

Romance, Hurt/Comfort

Rated : T (teen)

Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts (after war)

Warning!

Saya sudah berusaha untuk tidak typo

(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf).

Bahasa yg mungkin masih jauh dari kata bagus(?), sepertinya agak OOC dan lain sebagainya ...

|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|

.

.

My Blood is Ferret

Chapter 16

(Musang Tampan dan Syarat Aneh)

.

.

.

Hermione berjalan hilir mudik di ruang rekreasi asrama ketua murid sembari mengelus dagunya gusar. Sesekali ia melenguh pelan. Ia benar-benar merasa bodoh telah mentransfigurasi Draco Malfoy menjadi seekor musang. Well, sebenarnya itu salah pemuda itu sendiri. Mengapa ia berani-beraninya memancing emosi Hermione yang nyatanya memang sudah di ambang batas?

Draco tak henti-hentinya berceloteh ria mengenai nasibnya yang katanya sungguh malang.

Beberapa kali indra dengar Hermione menangkap ocehan Draco yang justru makin membuatnya pusing tujuh keliling, seperti ; 'Oh, Granger benar-benar wanita sadis. Apa yang akan dikatakan oleh para fansgirlku nanti? Aku yakin mereka pasti akan memutilasinya dan mengambil rambutnya sebagai benda pajangan di Hogwarts. Ah, tapi kalau aku boleh jujur, jika ada nominasi nantinya, tentulah aku yang akan keluar sebagai pemenang Musang Tertampan Yang Pernah Ada. Iya 'kan, Granger? Ah, ata—"

"Bisakah kau diam, Malfoy?!" Hermione menyalak garang.

"Hey apa-apaan kau, keriting?! Kenapa kau yang marah-marah, eh? Seharusnya kan aku! Aku adalah pihak yang paling dirugikan atas kecerobohanmu itu! Huh, dasar semak tak berperasaan!" Cibir Draco kesal. Kepulan udara tipis keluar dari hidungnya. Well, apa itu artinya Draco sedang mendengus? Mmh, mungkin.

Hermione memutar bola mata karamelnya dengan sebal. Ia berjalan mendekat ke arah sofa hijau dimana seekor musang imut berbulu putih tengah berada di sana. Yah, lebih tepatnya ia berjalan ke arah Draco. Tanpa diguga-duga, dengan gemas Hermione mengangkat musang itu sama halnya saat ia menarik kerah baju Draco dari belakang beberapa waktu lalu—sebelum menjadi musang. Bedanya, kini yang ia pegang adalah ekor dari musang itu. Sehingga sekarang posisinya terbalik.

"Hey! Apa lagi yang kau lakukan padaku, berang-berang?! Tak cukup puaskah kau melihatku menderita seperti ini? Dan sekarang kau menggantungkanku dalam posisi terbalik seperti ini? Tak sadarkah kau bahwa aku ini Pangeran Slytherin?! Hell, ini penghinaan, Granger!Oh, tunggu saja sampai ayahku mendengar semua ini! Ayo, turunkan aku keriting!" Seru Draco meninggi.

Sedetik berikutnya, Hermione melepaskan ujung ekor musang itu, hingga hewan malang itu terpelanting keras di atas sofa. Draco kembali mengoceh dengan begitu cerewetnya. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Hermione wanita sekejam itu.

Hermione menghela napas berat sebelum mulai berkata, "Well, aku minta maaf. Aku ... Ah, aku hanya sedikit depresi," ujar Hermione memijat keningnya. Ia menghempaskan bokongnya di atas sofa, tepat di samping Draco yang kini berwujud musang.

"Sedikit depresi katamu? Hell, Granger! Lalu menurutmu aku ini apa?! Aku sungguh-sungguh sangat teramat sangat sekali dan benar-benar sangat depresi! Huh, kau wanita aneh! Aku heran, seharusnya aku yang bertingkah layaknya orang yang—"

"Kau musang sekarang, Malfoy," koreksi Hermione datar.

"—yang menderita depresi akut sampai-sampai aku bahkan melakukan pemborosan kata demi menggambarkan kekalutan hatiku melihat tubuhku seperti ini," terang Draco panjang lebar. Sama sekali tak terusik dengan koreksi Hermione tadi.

"Lalu sekarang apa?! Well, aku tahu kau ini adalah penyihir—uhuk—terpintar di seantero Hogwarts yah meskipun kepintaranmu tak beda jauh dariku"—Hermione mendelik tajam ke arahnya—"Tapi ayolah berpikir jernih, Granger. Cepat kembalikan wujudku sekarang!"

"_"

"Bumi memanggil, keriting!" Seru Draco sebal mendapati Hermione hanya diam membisu.

"Err, Malfoy ... Justru itu aku depresi seperti ini. Masalahnya, mantra transfigurasi musang itu baru aku praktikkan padamu dan—jangan menyela dulu," perintah Hermione seraya memajukan tangannya ke depan ketika Draco dalam wujud musang itu sudah bergerak-gerak gelisah seperti hendak berbicara. "Dan aku sama sekali belum menguasainya. Jadi ..." Hermione tak melanjutkan perkataannya.

"Jadi apa, Granger?" Sahut Draco datar, mulai merasakan hawa tak enak di atmosfir sekitarnya.

"Err, kau tahu apa yang aku maksud." Hermione memilin-milin ujung lingerie-nya dengan gelisah. Gadis bersurai coklat itu menunduk dalam. "Aku tidak tahu mantra penangkalnya, Malfoy," Hermione mendongak, bola matanya terlihat membesar dan berbinar kalut ketika mengatakan kalimatnya itu, sama halnya dengan tokoh-tokoh anime di dunia muggle.

Cih, apa dia pikir Draco akan memaafkannya apabila ia menampilkan ekspresi layaknya kelinci imut yang tengah kehilangan induknya? Jawabannya tidak.

"_"

"_"

"GRANGEEEEERRRRR!" Lagi-lagi sebuah gelegar suara yang membahana hingga Hermione harus menutup kedua telinganya rapat-rapat.

.

-OoOoO-

.

"Granger, tidakkah kau merasa bersalah? Kau akan meninggalkanku di ruang asrama ketua murid ini seorang diri?" Draco berkata tak percaya. Musang putih itu melompat turun dari meja di ruang rekreasi. Hari ini adalah Senin. Aktifitas Hogwarts kembali seperti sedia kala. Hermione sudah menulis surat bahwa Draco sakit, tak bisa mengikuti kelas. Ia menuliskan dalam suratnya bahwa ia merawat Draco di asrama mereka bukan di Hospital Wings.

"Ada Crookshanks, Malfoy," ujar Hermione malas. Ia sudah cukup bosan mendengar keluhan-keluhan musang cerewet itu. Apalagi semalam ia terpaksa mengizinkan Draco untuk tidur di atas kasurnya. Alasannya klasik ; kata Draco, hidupnya tak aman apabila harus tidur sendirian di dalam kamarnya yang super luas. Ia tak mau jika sampai ada hewan buas yang masuk lewat jendela dan memakannya dengan sadis. Hermione mendengus ketika mendengar alasannya ini. Tapi toh ia harus bagaimana? Ini kan juga karena keteledorannya sendiri. Bagaimanapun seorang Gryffindor selalu berani bertanggung jawab dan mengambil resiko sebagai konsekuensi atas apa yang telah dilakukannya.

Tapi masalahnya bukan itu sebenarnya. Masalahnya adalah Draco yang sepertinya berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan. Semalam ia tidur begitu dekat denga Hermione dan sesekali menggigit-gigiti piama gadis itu. Well, kali ini ia berkilah bahwa musang imut seperti diriinya butuh kehangatan. Bulu-bulunya tak cukup hangat untuk tubuhnya. Alibi yang konyol, Malfoy. Hermione mendengus ketika mengingatnya.

"Aku bukan hewan sepenuhnya, Granger! Kucing gemukmu itu sama sekali bukan sejenisku." Kepulan asap tipis lagi-lagi keluar dari hidungnya, sepertinya Draco baru saja mendengus.

"Kalau begitu, sekarang apa maumu, Tuan Muda Malfoy?" Hermione memberikan penekanan di tiga kata terakhirnya. Kali ini ia terima-terima saja ketika Draco secara terang-terangan menghina kucingnya. Ia sungguh tidak mood untuk berdebat saat ini.

"Tentu saja kau tak boleh meninggalkanku sendirian di sini. Kau harus membawaku kemana pun kau pergi!" Putus Draco secara sepihak. Hermione menghela napas panjang sebelum akhirnya berkata dengan nada malas.

"Baiklah, musang pirang."

.

-OoOoO-

.

"Wah, Mione, kau punya peliharaan baru? Musang, eh? Lucu sekali. Aku jadi teringat dengan Malfoy!" Ujar Ginny bersemangat tatkala Hermione memasuki aula besar dan duduk di meja panjang Gryffindor seraya membawa seekor musang berbulu putih bersih dalam gendongannya. Harry menatap Ginny datar.

"Oh Harry, tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja musang sudah begitu identik dengan Malfoy!" Ginny memasang senyum cerahnya, berusaha untuk menjelaskan maksud perkataannya pada Harry.

"Bloody Hell, Ginny! Kau bisa mengingat asrama Hufflepuff yang berlambang musang alih-alih luwak." Ron ikut berkomentar dan kembali fokus dengan tiga paha ayam di piringnya. Ginny hanya memamerkan cengirannya.

"Dari mana kau dapatkan musang itu?" Kali ini giliran Harry yang angkat bicara setelah menenggak jus labunya dalam piala.

"Err, ini ... Mmh ..." Hermione sibuk mencari alasan yang pas untuk musang misterius alias Draco yang kini digendongnya.

'Ayo Hermione, berpikirlah.'

"Ah ya! Ini memang musang milik Malfoy, bukan milikku." Hermione berusaha tersenyum santai, namun nyatanya lebih tampak seperti ringisan di wajahnya. Dua kepala merah serta satu kepala hitam memandangnya penuh minat dan penasaran. Kerutan di dahi ketiganya terlihat begitu jelas.

"Err, begini." Hermione berdeham sebentar sebelum melanjutkan perkataannya. "Malfoy memiliki ini beberapa hari lalu." Hermione menunjuk musang putih yang kini berlagak sok imut dalam gendongannya. "Dan sekarang dia lagi sakit. Makanya sebagai partner yang baik, aku memutuskan untuk menjagakan peliharaannya." Hermione tersenyum lebar. Harry, Ginny, dan Ron hanya melongo mendengarnya.

"Ada apa?" Hermione bertanya bingung setelah melihat reaksi ketiga sahabatnya yang sama sekali tak terdefinisikan. Ketiganya menggeleng serempak dan melanjutkan acara makan mereka dengan kikuk.

'Sepertinya ada yang tidak beres dengan pikiran mereka,' batin Hermione.

.

-OoOoO-

.

"Malfoy, tak ada jalan lain. Aku harus menyimpanmu di sini dulu. Aku akan kembali menjemputmu sekitar ... Mmh—" Hermione melirik jam tangannya sebentar, "setengah jam lagi. Aku tak mungkin membawamu masuk ke kelas Transfigurasi. Apa yang akan dikatakan Professor McGonagall?" Hermione berbisik tepat di salah satu koridor yang cukup sepi.

"Tega sekali kau, Granger! Pokoknya aku tidak terima, dan aku tidak mau! Betapa mengerikannya disimpan di dalam lemari sapu seorang diri dalam wujud seperti ini," rengit Draco sebal.

"Tapi tak ada jalan lain, Malfoy!" Bentak Hermione habis sabar.

"Ada," ujar Draco ringan. Hermione mengangkat sebelah alisnya heran.

"Katakan," perintahnya.

"Kau harus menyembunyikanku di dalam jubahmu. Ah tidak, atau kalau perlu kau harus menyembunyikanku di dalam seragammu agar tidak ketahuan," jelas Draco santai.

"_"

"_"

"Uhuk ... uhuk ... Jangan mencekikku, Granger! Kukira kau akan berlaku lembut padaku setelah aku menjadi seekor hewan tak berdaya seperti ini," ujar Draco dengan nada memelas yang dibuat-buat. Hermione serta merta menghentikan aksi cekik mencekiknya itu.

"Maaf," sahutnya sedikit tak rela.

"Jadi?"

"Apa?" Sembur Hermione galak.

"Kau pasti mengerti apa yang aku maksud, Granger," Draco memutar bola matanya dalam wujud musangnya. Hermione menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.

"Baiklah. Tapi kau harus berjanji untuk tidak macam-macam denganku," Hermione mewanti-wanti. "Karena bagaimanapun, kau bukanlah musang murni. Kau masih seorang Draco Malfoy menyebalkan dan suka mengambil kesempatan dalam kesempitan! Dan tentunya kau masih berjenis kelamin laki-laki!" Hermione menarik napas sekali lagi dan menghembuskannya perlahan.

"Kau musang albino pirang yang mesum!" Tutup gadis bermarga Granger itu sebelum akhirnya memasukkan Draco ke dalam jubahnya dengan berat hati. Draco bersorak penuh kemenangan, well yang tentunya hanya dalam hati.

Berdoalah agar Draco tak merayap masuk ke dalam seragamnya nanti.

.

-OoOoO-

.

"Merah muda yah hari ini?" Hermione menyentak kakinya keras dan menekuk wajahnya hingga beberapa lipatan.

"Granger, kau kenapa sih?" Hermione masih berjalan terburu-buru dengan langkah-langkah panjang tanpa memedulikan sahutan Draco yang kesekian kalinya.

"Kita tak bisa begini terus!" Jawab Hermione singkat.

"Apa maksudmu?"

"Malfoy, dengarkan aku. Aku tak mungkin akan membawamu ke setiap kelas pelajaran selama kau berwujud seperti ini. Aku tak rela apabila sepanjang hari kau terus mengintipi pakaian dalamku dengan alibi menyembunyikanmu dari orang-orang saat kelas pelajaran tengah berlangsung!" Hermione mendengus kesal.

Sudah dua hari ini ia selalu membawa Draco kemana-mana. Dan tentu saja ia merasa dirugikan dengan hal itu. Draco dengan seenak jidatnya bisa melihat setiap pakaian dalam bagian atas yang dikenakannya, setiap hari. Janggut Merlin!

"Bukankah itu menyenangkan, Granger? Diintipi oleh musang tampan sepertiku?" Goda Draco dalam nada jenaka. Serta merta Hermione menarik musang putih itu keluar dari jubahnya dengan cara memegangi ekornya secara terbalik.

"Dengar baik-baik, Malfoy. Kita harus menemukan cara untuk mengembalikanmu dalam wujud normalmu. Apa kau tak berpikir demikian, eh?" Rengut Hermione setengah galak.

"Tidak juga," ujar Draco santai. Jujur, ia mulai menikmati waktu-waktu di saat dirinya berwujud musang seperti ini. Dengan begitu ia bisa memiliki banyak kesempatan dengan Hermione Granger. Ah, entahlah. Draco sendiri bingung dengan apa yang dirasakannya. Yang jelas, ia merasa senang bila berada dekat-dekat dengan Hermione meskipun dalam wujud musang imut sekalipun.

"Kita harus mencari tahu caranya malam ini," putus Hermione dengan nada final yang sepertinya sudah tak bisa diganggu gugat lagi. Well, hati Draco sedikit mencelos. Rasanya ia ingin tetap berwujud musang seperti ini selama satu atau dua hari lagi.

Bukankah ini momen langka? Yah, tapi aneh juga sih mengingat Draco yang sebelumnya begitu anti terhadap musang setelah disihir oleh Professor Moody beberapa tahun silam.

"Kalau begitu kenapa tidak meminta bantuan Professor McGonagall saja?"

"Idiot! Kau pikir aku sebodoh itu? Dan membiarkan diriku menjalani detensi berat serta pemotongan poin asrama yang tentunya parah lantaran telah mentransfigurasi seorang murid karena tingkahnya yang kelewat mesum?!" Hermione meledak dalam satu tarikan napas.

"_"

Mesum?

"Err, baiklah. Terserahmu, Granger."

.

-OoOoO-

.

Puku 01.00 am. Hermione berjalan keluar asrama dengan seekor musang putih dalam gendongannya. Langkahnya tegas dan panjang-panjang. Ia mengenakan mantel berwarna hitam, begitu kontras dengan warna musang yang tengah bersamanya.

Yah, keputusannya sudah bulat. Malam ini ia harus mencari buku yang menjelaskan tentang segala tetek bengek mengenai ilmu Transfigurasi. Sebenarnya ia sudah mencarinya beberapa waktu lalu ke perpustakaan. Namun hasilnya nihil. Ia tak menemukan apa yang ia cari. Maka dari itu ia memutuskan untuk mengunjungi ruangan perpustakaan Seksi Terlarang. Pasti di sana ia akan menjumpai buku yang sangat dibutuhkannya sekarang. Dan konsekuensinya adalah ia harus berkunjung dinihari seperti ini lantaran tak mungkin untuk meminta izin kepada Professor McGonagall. Itu sama saja bunuh diri, 'kan?

"Pelan-pelan, Granger," protes Draco.

"Diamlah, ferret cerewet!"

CEKLEK ...

Hermione dengan hati-hati membuka pintu masuk perpustakaan setelah menggumamkan mantra Alohomora. Ia tak menyangka akan semudah ini membobol pintu perpustakaan dengan mantra dasar seperti itu.

Gadis bermanik hazel itu berjalan mengendap-endap menyusuri lorong-lorong perpustakaan yang sarat akan buku-buku tebal dan berdebu, membuatnya harus menutup hidung agar terhindar dari debu yang mulai mengantre masuk ke dalam kerongkongannya lalu kemudian akan masuk ke dalam paru-parunya.

Dengan langkah mantap, Hermione melangkahkan kaki reniknya menuju ke ruangan Seksi Terlarang. Atensinya was-was memandang arah sekitar. Setelah merasa cukup aman, ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan lumayan besar itu yang dipenuhi berbagai rak-rak buku yang menjulang tinggi hampir mencapai langit-langit perpustakaan.

Netra coklatnya berpendar tajam mengamati setiap rak yang dilewatinya. Dengan berbekal mantra 'Lumos' di ujung tongkatnya, Hermione mulai menyusuri rak demi rak sampai akhirnya maniknya berotasi fokus pada satu rak dengan tulisan 'Khusus Transfigurasi'. Dengan perasaan senang, Hermione mendekati rak buku itu.

Jemari lentiknya dengan lihai menyusuri buku demi buku yang berada di rak tersebut. Sejauh ini ia sudah memeriksa setidaknya tiga puluh tujuh buah buku. Dan nyatanya ia telah menghabiskan waktu selama kurang lebih dua jam lamanya. Sekarang jam sakunya telah menunjukkan pukul 03.07 am.

Hermione merasa sudah cukup lelah mencari buku yang dibutuhkannya, sementara Draco hanya membantunya membaca judul-judul buku di rak tersebut. Gadis itu sudah hampir putus asa dan memutuskan untuk kembali lagi besok sebelum maniknya berbinar cerah di bawah naungan alisnya yang cukup lebat tatkala Draco memanggilnya.

"Granger! Coba lihat ke sini. Apa kau tak mengira apa yang kita butuhkan ada dalam buku ini?" Hermione melangkah mendekat lalu berjongkok di samping Draco untuk melihat buku yang dimaksud Malfoy junior itu.

'Transfigurasi Tingkat Tinggi—Transfigurasi Hewan Apa Saja Yang Kau Butuhkan'. Hermione membaca judul buku itu sejanak. Well, judul buku yang cukup panjang. Namun ia tak peduli dengan itu, yang ia butuhkan sekarang adalah isinya, bukan justru memusingkan judulnya yang kepanjangan.

Dengan lincah, jemari lentik Hermione segera bergerakc cepat untuk membuka satu demi satu halaman misterius dalam buku bersampul merah darah itu. Netranya sibuk bergulir mencari tulisan mengenai transfigurasi musang dan ... Voila! Akhirnya ia menemukannya. Hermione berpaling ke arah Draco dan tersenyum lebar sebelum akhirnya fokus dalam deretan tulisan sekecil semut dalam buku itu.

Tak lama kemudian wajah gembira Hermione berubah drastis, membuat Draco mengernyit bingung melihatnya.

"Ada apa, Granger?" Tanya Draco penasaran.

"_"

"Granger?"

"Malfoy?" Bukannya menajawab, Hermione justru memanggil balik.

"Hn?"

"Kau serius ingin kembali ke wujud aslimu?" Hermione bertanya dengan air muka horror. Draco mendengus mendengarnya.

"Pertanyaan cerdas, Granger," sindir Draco kalem. "Tentu saja! Memangnya kenapa sih? Ah yah ... Kau masih betah yah aku terus-terusan berada di balik jubahmu?" Jiwa mesum Draco seolah bangkit kembali. Refleks Hermione memukul kepalanya dengan buku itu.

"Auuuww! Kau bisa membunuhku, Granger! Mentang-mentang sekarang aku berwujud musang imut-imut yang tak berdaya, jangan anggap itu sebagai suatu hal yang membuatmu bebas menganiayaku seenaknya!" Draco berkata panjang lebar.

"Malfoy, aku serius!"

"Hell, Granger! Kau pikir aku tidak serius untuk kembali ke wujudku semula, hah?! Lucu sekali," cibir Draco.

"Ta-tapi ..."

"Tapi apa?" Draco memotong tak sabar.

"Tapi syaratnya lumayan mengerikan, Draco. Aku tak yakin kau mau melakukannya." Hermione menatapnya dengan pandangan ngeri.

"Apapun akan aku lakukan agar aku bisa kembali ke wujudku semula, Granger," ujar Draco mantap. "Tenang saja," lanjutnya dengan nada ringan. Hermione meneguk ludahnya kasar.

"Tapi kita harus meminum darah satu sama lain apabila ingin mengembalikanmu ke wujud semula. Kau meminum darahku dan err, sebaliknya..."

-To Be Continued-

-OoOoO-

|Pojok Author|

Hello! Loony kembali :D *celingak-celinguk. Well, maafkan atas keburukan chapter ini yah. Loony jg minta maaf kalau ada typo. Jujur ini Loony baru nulis hari ini dan setelah selesai ketik, Loony langsung maen publish aja tanpa edit hehe *digetok readers.

Btw, terima kasih banyak kepada readers yang sudah berkenan mereview ataupun mem-fav di chapter yg lalu. Loony sangat senang dengan review-review kalian yang membuat Loony merasa termotivasi untuk kembali melanjutkan chapter ini :D *peluk satu-satu. Dan sekaligus Loony jg mau minta maaf karena tak sempat membalas review kalian, tp percayalah semuanya sudah Loony baca dgn perasaan senang. Sekali lagi terima kasih :)

At least, Loony butuh review! :D #doorrr! Hehe ...

.

.

|Pojok Promosi|

~ Bagi DraMione shipper yg Muslim, yuk RnR fict Loony yg judulnya 'Dia Gadis Berjilbab Hijau' :D

~ Yg suka pair ScoRose, yuk RnR fict Loony yg judulnya 'Semua Karena Daisy' :D

~ Dan terakhir bagi kalian yg ngerasa Potterheads sejatu, yuk RnR fict Loony yang spesial utk HarryDay dengan tema 'A 1000 Gifts for Harry' judulnya 'Thank You, Harry' :D

Oke, kalau begitu sampai jumpa di chapter selanjutnya. Review yang lumayan akan membuat Loony senang dan bersemangat lanjutinnya hehe ... :D

.

.

Salam,

Miss Loony.