Jaemin tidak bisa menutup mulutnya yang menganga kaget setelah mendengar cerita dari Donghyuck. "Kau-"

"Iya Jaem, aku mengajak Soulmate-ku bertemu hari ini." Potong Donghyuck cepat.

Jaemin menggeser duduknya agar semakin merapat dengan Donghyuck dan memukul lengannya dengan keras, "Kau kenapa sangat agresif sih?!."

Donghyuck mendelik kesal ke arah Jaemin yang se-enaknya saja memukulnya. "Bukannya agresif, aku hanya ingin cepat-cepat bertemu dengannya. Menyentuhnya lalu dia akan terbebas dari rasa sakit yang diakibatkan oleh diriku!."

"Kau akan bertemu dengan Soulmate-mu dimana? kapan?."

"Di perpustakaan, setelah jam makan siang." Balas Donghyuck singkat.

Jaemin melotot kaget mendengar perkataan Donghyuck barusan, "Di perpustakaan?. Kau bodoh atau bagaimana sih Lee Donghyuck!." Jaemin mencubit dengan keras lengan Donghyuck dan membuat Donghyuck memekik kesakitan, "Kenapa mencubitku sialan?! Soulmate-ku juga bisa merasakannya nanti!."

"Biarkan saja!. Lagipula kenapa harus bertemu di perpustakaan?! Perpustakaan itu tempat mengerikan, dimana para manusia normal tidak sudi menginjakkan kaki disana! -Hoo aku tahu! Yang kau maksud dengan menyentuh tadi berbuat seks kan?! Ya Tuhan! Tidak kusangka otakmu yang hanya sebesar separuh dari kepalan tangan bayi ternyata sangat kotor!."

Donghyuck mendelik tidak terima mendengar perkataan Jaemin, "Apa sih maksudmu! Aku mana mungkin melakukan hal itu!."

"Kau seharusnya jual mahal sedikit! Meskipun dia itu Soulmate-mu, kau jangan langsung menyerahkan diri seperti itu!." Racau Jaemin semakin tidak karuan.

"Ya Tuhan, bisakah aku me- refund mahluk bernama Na Jaemin ini? Dia sungguh tidak pantas hidup di dunia dengan pikirannya yang busuk itu!" Donghyuck mendongakkan kepalanya ke langit dan menadahkan tangannya seakan-akan tengah berdo'a.

Jaemin tidak menghiraukan perkataan Donghyuck, ia masih berkutat dengan pikiran-pikiran tidak berguna yang ada di kepalanya, "Bagaimana jika selama ini Soulmate-mu adalah lelaki hidung belang?!" Seru Jaemin heboh, "Atau lebih parahnya lagi dia adalah seorang germo mata duitan yang akan menjualmu di club-club!."

"Berhenti berkata omong kosong seperti itu Jaem!." Sungut Donghyuck kesal.

"Tunggu! Kau bilang kau akan bertemu dengan Soulmate-mu di perpustakaan kampus, itu berarti Soulmate-mu itu mahasiswa disini?!"

Donghyuck hanya menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin melihat Jaemin yang baru menyadari hal itu sedari tadi. "Otakmu itu harus segera di reparasi." Ucap Donghyuck.

Jaemin menghembuskan nafasnya pelan dan menampilkan raut lega, "Syukurlah, setidaknya dia bukan germo."

"Jika germo pun aku akan menyuruhnya menjualmu!." Ketus Donghyuck.

"Oh tidak bisa, Na Jaemin sudah hak milik dari Lee Jeno!." Ucap Jaemin sambil menunjukkan Tatoo bergambar merpati yang ada di tengkuknya.

Donghyuck mendecih kesal saat lagi-lagi Jaemin memamerkan Tatoo Soulmate-nya dengan Jeno kepadanya, membuat iri saja. "Tatoo Soulmate yang bagus." Cibir Donghyuck.

Jaemin tersenyum sinis kepada Donghyuck "Tentu saja. Aku bertaruh Tatoo-mu nanti akan bergambar ular cobra!."

"Sembarangan!."

"Atau bergambar Medusa!."

"Lihat saja ya nanti, jika Tatoo-ku muncul dan lebih cantik dari mu jangan sekali-kali kau mengatakan iri kepadaku!." Balas Donghyuck sengit.

Jaemin mengibaskan tangannya pelan tidak menanggapi perkataan Donghyuck, "Tidak. Sudah positif Tatoo-mu itu bergambar anjing penjaga neraka."

"Dasar sialan!." Umpat Donghyuck kesal.

"Na Jaemin!."

"Apa?!."

Donghyuck menghembuskan nafasnya pelan lalu menoyor kepala Jaemin dengan kuat. "Aku benci padamu!."

"Aku juga benci padamu!."

"Aku lebih benci padamu!."

"Aku benci kalian berdua."

Jaemin dan Donghyuck reflek menolehkan kepalanya kebelakang. Terlihat sesosok pemuda dengan wajah datar sedang menatap mereka jengah.

"Renjun?!." Pekik Jaemin dan Donghyuck bersamaan.

Renjun langsung menggeser paksa kedua sahabatnya itu lalu mendudukan dirinya diantara Jaemin dan Donghyuck, "Aku kembali dari China kemarin, tapi tidak ada satupun dari kalian yang datang menjemputku di Bandara!."Renjun menatap bergantian dua orang yang ada disebelah kiri dan kanan-nya dengan tatapan garang.

Jaemin tertawa sumbang melihat Renjun yang siap meledak, "Maafkan kami ya, si jomblo jelek satu itu meminta diriku untuk menemaninya ke Soulmate Center kemarin." Ucap Jaemin sambil menunjuk-nunjuk Donghyuck.

"Aku tidak jelek sialan!." Protes Donghyuck tidak terima.

Renjun mengerutkan dahinya bingung setelah mendengar perkataan Jaemin, "Ke Soulmate center? Kau kenapa kesana Hyuck?." Tanya Renjun dengan mata memicing tajam.

"Hanya konsultasi saja. " Balas Donghyuck.

"Kau tahu Njun, Donghyuck akan bertemu dengan Soulmate-nya nanti siang!." Seru Jaemin menggebu-gebu.

Renjun menganga kaget mendengar perkataan Jaemin, "Apa?! Benar Hyuck?!."

Donghyuck menutup telinganya yang berdengung sakit karna suara Renjun yang berteriak tepat di depan telinganya.

"Jika kau akan bertemu dengan Soulmate-mu lalu bagaimana denganku?!." Pekik Renjun heboh.

Jaemin sebagai satu-satunya orang yang sudah bertemu dengan Soulmate-nya diantara sahabat-sahabatnya itu tertawa dengan keras, "Hahahaha mampus kau Huang Renjun!."

Renjun mendelik marah kepada Jaemin yang tengah menertawainya dengan begitu bahagia. Ia lalu mengambil botol air mineralnya dan langsung memukuli Jaemin dengan membabi buta. "Berani-beraninya mahluk hina seperti dirimu menertawaiku! Rasakan ini!."

"Hentikan bodoh!." Jerit Jaemin.

Bukannya berhenti, Renjun malah semakin brutal memukuli Jaemin dengan botol air mineralnya, membuat Donghyuck yang hanya menjadi penonton meringis ngilu. Seakan-akan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Jaemin.

"Terima ini!." Jaemin mendorong tubuh Renjun dan langsung mencekiknya, membuat Renjun yang tidak siap langsung limbung ke belakang dan terjungkal. "Mati kau! Hahahahahaha" Ucap Jaemin sambil tertawa-tawa mengerikan.

"Na Jaemin sialan!!!!!!!." Teriak Renjun murka.

Donghyuck mendengus jengah melihat Renjun dan Jaemin yang kembali bertengkar setelah beberapa bulan tidak bertemu di karenakan Renjun yang harus kembali ke China. Tapi tidak heran, memang begini cara mereka berdua saling melepas rindu, yaitu dengan cara menyiksa satu sama lain. Dasar sahabat sial.

.

.

.

.

Mark melangkahkan kakinya dengan perasaan tidak karuan menuju perpustakaan. Jantungnya berkeja 2 kali lebih cepat dari pada biasanya, "Ya Tuhan, kau tenanglah sedikit!." Mark menggerutu kesal kepada jantungnya sendiri.

Mark memeriksa ponselnya dan manahan nafas kala melihat ada 1 notifikasi pesan dari nomer yang ia namai 'My Soulmate'.

From: My Soulmate

Aku sudah di perpustakaan. Kau dimana?

Mark melebarkan matanya kaget melihat isi pesan dari Soulmate-nya itu. Ia langsung buru-buru belari untuk segera sampai di perpustakaan.

To: My Soulmate

Aku juga sudah di perpustakaan.

Mark berjalan masuk ke perpustakaan dan menyusurinya sambil mengedarkan pandangannya ke sepenjuru perpustakaan.

From: My Soulmate

Apakah kau lelaki yang memakai kemeja hitam yang tengah berdiri linglung di dekat rak no. 4?

To: My Soulmate

Ah iya itu aku. Kau dimana?

Read/

Mark menunggu balasan dari Soulmate-nya dengan gelisah, ia terus memandangi ponselnya sampai tidak sadar ada seseorang yang berdiri di belakangnya dengan tangan yang menggantung ragu-ragu.

"Kenapa tidak dibalas sih." Gumam Mark pelan.

Orang itu semakin berdiri gelisah di belakang Mark, menimbang-nimbang apakah ia harus menepuk pundak itu agar Mark berbalik atau tidak.

Mark yang merasakan ada seseorang dibelakangnya langsung menolehkan wajahnya ke belakang, membuat orang yang sedari tadi berdiri dibelakang Mark dengan gelisah terlonjak kaget hingga tubuhnya menumbruk meja.

"AW!" Pekik Mark dan orang itu bersamaan.

"Kau?!." Mark menatap orang yang ada di depannya dengan pandangan terkejut bukan main. Di depannya kini berdiri pemuda manis yang salah memasuki kelas dan jatuh menabrak pintu beberapa hari yang lalu.

Pemuda itu membekap mulutnya sendiri tidak percaya dengan apa yang ia alami barusan.

"Daebak!." Seru pemuda itu dengan raut wajah takjub.

Mark tersenyum tipis sambil sedikit meringis kesakitan, ia mengusap-usap pinggangnya yang terasa sakit karna ulah Soulmate-nya itu.

"Kau benar-benar Soulmate-ku?!." Tanya pemuda manis itu dengan pandangan tidak percaya.

Mark menganggukan kepalanya sambil menggaruk tengkuknya canggung.

"Benarkah?! Ya Tuhan! Biarkan aku memastikannya lagi. "Ucap pemuda itu heboh. Dia langsung memukul kepalanya sendiri dengan kuat, membuat Mark memekik karna ikut merasakan sakitnya.

"Apa yang lakukan?!."

Pemuda itu kembali dibuat takjub karna melihat Mark ikut kesakitan seperti yang ia rasakan.

Mark yang melihat pemuda manis di depannya itu akan kembali memukul kepalanya sendiri langsung menarik tubuh pemuda itu ke dalam pelukannya, yang mana sukses membuat tubuh pemuda itu kaku karna terkejut.

Sesaat setelah Mark memeluk pemuda tersebut ia merasakan tengkuknya terasa terbakar dan nyeri. Begitu juga dengan pemuda itu.

"Tatoo Soulmate!." Mark memandang tidak percaya saat melihat tengkuk pemuda itu yang kini telah terhias oleh sebuah Tatoo bergambar Unicorn. Mark menyentuh pelan Tatoo di tengkuk pemuda itu dengan tangannya. Saat ujung jarinya dan Tatoo itu bersentuhan, tubuh Mark langsung terasa memanas dan jantungnya berpacu dengan gila.

Pemuda itu langsung mendorong tubuh Mark menjauh dan menyentuh tengkuknya sendiri yang terasa panas.

Mark tensenyum tipis melihat wajah Soulmate-nya itu yang tampak kebingungan, terlihat sangat menggemaskan. "Itu Tatoo Soulmate. Jika kau penasaran dengan bentuknya, kau bisa lihat di tengkukku nanti." Ucap Mark sambil terkikik geli.

"Mark Lee." Mark menjulurkan tangannya kedehadapan pemuda itu.

Pemuda itu menatap ragu tangan Mark yang ada di depannya beberapa saat, sebelum ia membalas uluran tangan tersebut, "Lee Donghyuck." Ucap pemuda itu sambil tersenyum manis.

.

.

.

Omake:

"Awww!." Seorang lelaki yang sedang asik menyantap sarapannya memekik kesakitan sambil memegangi pinggang dan bokongnya yang tiba-tiba saja terasa sakit.

"Lucas! Kau kenapa?."

Lelaki yang dipanggil Lucas itu mendesis jengkel sambil memegangi pingganya, "Soulmate sialan! Tidak kah dia tahu aku sedang makan!."

"Kenapa memangnya?."

"Dia habis terjungkal. Pinggang dan bokongku rasanya sakit sekali!." Keluh Lucas sambil memasang ekspresi akan menangis.

"Hahaha, sabar saja ya. Kau dan Mark memang di takdirkan mendapat Soulmate yang suka menyiksa diri sendiri."

"Sialan kau Lee Jeno!."

.

.

.

.

.

Tbc

Haloo! I'm back! Kecepetan ga sih alurnya? Huhuhu.

As always diriku ingin mengucapkan banyak terimakasih untuk kalian semua yang mau membaca cerita tidak jelas ini. Terimakasih juga untuk kalian yang sudah mau repot-repot me-review /uhuk/ Aku cuma mau bilang, Aku kangen Donghyuck TT