Disclaimer :
Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling. But all of idea, of course belong to me :)
Pairing :
Draco Malfoy dan Hermione Granger
Genre :
Romance, Hurt/Comfort
Rated : T (teen)
Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts (after war)
Warning!
Saya sudah berusaha untuk tidak typo
(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf).
sepertinya agak OOC dan lain sebagainya ...
|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|
.
.
My Blood is Ferret
Chapter 17
(Sexy Ferret and the Promise)
.
.
.
"Malfoy, mau tidak mau itu merupakan satu-satunya cara yang bisa kita lakukan! Yah, kecuali kalau kau betah berwujud seperti ini!" Hermione menghempaskan tubuh rampingnya di atas sofa di ruang rekreasi asrama Ketua Murid, lalu kemudian memijat keningnya putus asa. Mereka baru saja kembali dari perpustakaan dinihari.
"Tapi Granger, aku bukan vampir!" Draco memekik frustrasi, masih dalam wujud musangnya.
"Kau pikir aku mau, hah? Bukan hanya kau yang harus meminum darah, Malfoy! Tapi aku juga!" Hermione tak lagi bisa untuk mengontrol suaranya agar tetap terdengar tenang.
"Kukira ada cara lain, Granger."
"Kalau tidak ada?" Hermione melirik sekilas ke arah musang berbulu putih bersih di sebelahnya.
"Kalau tidak ada, yah berterima kasihlah padaku. Setidaknya darahmu akan menjadi jauh lebih higienis dan steril karena bercampur dengan darahku nantinya," jawab Draco sekenanya. Hermione langsung memukulkan tongkat sihirnya tepat di atas kepala musang imut itu.
.
-OoOoO-
.
Malam nampak suram dengan garis-garis cakrawala yang menghitam pekat, seiring dengan bersembunyinya binar gemintang dibalik awan yang menebal dalam keheningan.
Kaki renik Hermione Granger tetap melangkah dengan mantap menyusuri koridor-koridor sepi di Hogwarts bersama seekor musang putih dalam gendongannya. Tak peduli konkatenasi dinding-dinding dingin kastil yang seakan menghisap seluruh aura kehangatan sekitarnya, menggantinya dengan aura kelam yang mencekam.
Yah, malam ini Hermione Granger akan kembali lagi ke perpustakaan untuk mencari cara lain agar Draco dapat kembali berwujud normal seperti sedia kala.
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kayu besar—pintu perpustakaan. Gadis itu menghela napas panjang sebelum mencabut tongkat dibalik jubahnya.
"Alohomora," ia menggumam pelan. Sedetik kemudian, pintu di hadapannya berderik terbuka dengan suara agak berkeriut—yah, pintu uzur.
Gadis itu menoleh sebentar, memastikan bahwa keadaan sekitarnya benar-benar aman. Mengingat betapa kolosalnya kastil ini, bukan tidak mungkin bagi siapa saja bisa menguntit setiap tindak-tanduknya.
"Tunggu apa lagi, Granger!" Hermione mengerling ke arah makhluk dalam gendongannya sesaat sebelum mengangguk dan melangkah masuk ke dalam perpustakaan yang gelap gulita—terasa jauh lebih mencekam di jam-jam seperti ini. Yah, kurang lebih sekarang pukul satu malam. Seolah seluruh rak buku dalam ruangan itu turut andil mengawasi gerak-geriknya. Dan fakta bahwa Hermione Granger adalah murid paling cemerlang dalam angkatannya bukanlah suatu jaminan bahwa bulu kuduknya tak ikut meremang dalam kondisi seperti ini.
"Lumos!" Ujung tongkatnya berpendar mengeluarkan cahaya. Hermione berjalan pelan menuju ruangan seksi terlarang.
'Srek ... Srek.'
Secepat kilat Hermione menoleh ke belakang. Gemerisik suara aneh berhasil tertangkap indera dengarnya. Tongkat mengacung waspada di tangannya.
"Ada apa, Granger?" Draco bertanya heran.
"Err, tidak. Tadi aku hanya mmh ... Oke, lupakan." Hermione menggeleng keras sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan di hadapannya.
.
-OoOoO-
.
"Granger, kurasa aku sudah menyerah. Mungkin memang itulah satu-satunya cara yang bisa kita lakukan." Terdengar helaan napas yang mengakhiri kalimat itu. "Kurasa sudah menjadi takdirku untuk menjadi Pangeran Slytherin Berdarah Camp—"
"Huusssttt!" Hermione meletakkan telunjuknya di bibir, mengisyaratkan agar Draco diam.
"Kenapa?" Hermione menjentikkan jemarinya ke udara.
"Hah! Masih ada cara lain, Malfoy!" Seru Hermione berseri. Di tangannya terdapat sebuah buku tebal tua bersampul kuning kenari. Ia kembali tersenyum lebar sebelum memutuskan untuk membuka lembar demi lembar halaman dalam buku tersebut. Maniknya berbinar antusias menelusuri deretan-deretan tulisan sekecil semut yang mulai ia baca perlahan. Namun beberapa saat berikutnya, terdengar helaan napas berat dari gadis hazel itu.
"Ada apa?" Draco bertanya penasaran, sementara Hermione hanya menatapnya putus asa.
"Oh, Malfoy. Kupikir kau benar." Hermione menggelengkan kepalanya.
"Aku tak suka basa-basi, Granger. Katakan saja."
"Cara yang satu ini mustahil untuk kita lakukan." Hermione menatap musang putih di hadapannya lekat-lekat. Sinar atensinya ikut meredup seolah-olah mewakili perasaannya yang sudah tak ada rasa semangat seperti sebelum-sebelumnya. "Sangat-sangat mustahil," ia kembali bergumam dengan volume suara yang nyaris tak dapat didengar.
"Tapi setidaknya kau harus memberitahuku, Granger. Ayolah, aku perlu tahu! Lagi pula, apa sih yang tak bisa dilakukan seorang Malfoy? Well, meskipun dalam wujud musang sekalipun!" Tutur Draco menuntut.
"Baiklah Malfoy, kalau itu maumu. Tapi ku sarankan agar tak terkejut ketika kau mendengarnya."
"Oke," jawab Draco singkat. "Cepatlah."
"Di buku ini tertulis bah—oh, Malfoy, kau yakin ingin mengetahuinya?" Hermione tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya sekali lagi.
"Bacakan, Granger." Hermione menghela napas sebentar, lalu berdeham sebelum mulai membacanya.
"Mantra 'Ferretlyfors' adalah salah satu mantra yang dikenal sebagai mantra dalam ilmu transfigurasi. Namun yang harus diketahui bahwa sebenarnya ini bukanlah mantra biasa sebagaimana mantra-mantra transfigurasi lainnya, dalam kata lain mantra ini termasuk sebuah mantra kutukan." Hermione menatap Draco dengan pandangan meminta maaf. Ia benar-benar ceroboh telah menggunakan sembarang mantra yang sama sekali belum ia tahu asal-usulnya. Well, itu pun dulu karena ia merapalkannya secara reflek. Salah Draco juga, 'kan?
"...Mantra ini menjadi sebuah kutukan karena didasarkan pada sejarah lampau yang terjadi sekitar tiga abad yang lalu—" Sementara buku yang tengah dibaca Hermione itu usianya sudah mencapai satu abad, itu artinya mantra tersebut menjadi mantra terkutuk sejak empat abad lalu. Hermione bisa merasakan bulu kuduknya yang kembali meremang.
"Langsung ke inti, Granger," potong Draco tak sabar. Sebenarnya, itu karena ia merasa agak ngeri jika harus mendengarkan kelanjutan dari sejarah mantra kutukan yang tengah dialaminya sekarang.
"Baik." Hermione kembali menghela napas. "Hanya ada dua cara yang dapat menghilangkan pengaruh dari kutukan ini." Ia kembali menatap Draco. "Tentu kau sudah tahu cara yang pertama. Jadi aku hanya akan membacakan cara yang kedua." Pandangannya kembali ke buku tersebut.
"Cara yang kedua adalah dengan saling mencintai, mengucapkan janji setia sebagai cinta sejati sehidup semati bersama orang yang merapalkan kutukan ini. Tidak peduli sesama jenis ataupun bukan. Apabila dilanggar atau salah satunya berkhianat, maka kutukan ini akan berujung petaka."
DUAAAR!
Draco tertegun mendengarnya. Memang cara yang satu ini tidak mengandung unsur yang mengerikan. Namun, permasalahannya adalah ...
Ah, kau pasti sudah mengetahuinya.
Hermione menggeleng putus asa, sementara Draco tak dapat berkata apa-apa lagi. Dan keheningan pun kembali menyelimuti atmosfir kegelapan yang mencekam di sekeliling mereka.
Dan satu lagi, mereka sama sekali tak menyadari bahwa sepasang sorot atensi tengah memperhatikan mereka dari balik rak-rak buku yang berjejer suram di sisi kanan ruangan sembari menyunggingkan sebuah seringai picik.
.
-OoOoO-
.
Hermione duduk termenung di birai jendela di ruang rekreasi asrama Ketua Murid. Pandangannya terfokus ke arah depan sementara pikirannya melanglang buana. Yah, Hermione tak menyangka bahwa kecerobohannya akan membawanya ke ujung permasalahan yang rumit seperti ini. Sekali lagi ia menghela napas—entah sudah yang keberapa kalinya.
Sebenarnya Hermione tahu bahwa cara yang kedua itu mungkin bisa dicoba. Karena jujur saja, Hermione seolah memiliki rasa terhadap Draco. Hanya saja harga dirinya jauh lebih tinggi ketimbang harus mengakuinya secara jujur dan terang-terangan. Tapi permasalahan sebenarnya ada pada Draco. Apa pemuda itu memiliki perasaan terhadap Hermione?
"Hei, Granger." Tiba-tiba sebuah suara menyentaknya dari lamunannya, membiarkan setitik kesadaran kembali menguasainya. Hermione hanya menoleh sebentar lantas tersenyum dan kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke arah depan.
"Err, apa kau memikirkan hal itu?" Hermione menoleh ke arah musang di sebelahnya dengan sorot mata ingin tahu atas apa yang dimaksudkan oleh Draco. "Tentang cara yang kedua itu," tambah Draco cepat, lantas Hermione mengangguk dengan gerakan mulut yang membentuk huruf 'o'.
"Kukira kita akan melakukan cara yang pertama saja, Malfoy. Bagaimana kalau malam ini? Yah, itu pun kalau kau tak keberatan apabila harus terkontaminasi dengan darah lumpurku ini." Hermione tertawa kering. Jujur saja Draco merasa begitu tak enak. Sekarang ia sama sekali sudah tak mempermasalahkan mengenai status darah lagi. Toh, darahnya dan darah Hermione sama-sama berwarna merah. Kekentalannya pun diyakini Draco sama. Lantas mengapa gadis singa ini masih berpendapat seperti itu?
"Memangnya ada apa dengan cara yang kedua, Granger?" Draco memberanikan diri. Sedetik setelah perkataan itu meluncur begitu saja, Hermione nampak diam membatu. Apa maksud dari Malfoy Junior ini? Hermione memandangnya sejenak dengan pandangan yang seolah menyiratkan 'Itu-tidak-mungkin-terjadi', lalu kemudian mulai beranjak berdiri dan meninggalkan Draco sendirian.
"Apakah tak ada celah di hatimu untukku, Granger?"
DEG!
Hermione menghentikan langkahnya di tengah jalan. Tadinya ia sudah berniat untuk menenangkan dirinya di dalam kamar saja. Karena kehadiran Draco justru semakin menyiksa perasaannya yang rupanya baru ia sadari beberapa waktu lalu itu.
"Apakah hatimu hanya dipenuhi oleh Weaselbee itu, eh? Apa kau tak pernah menganggapku ada, Granger?" Tanya Draco beruntun, namun seolah tengah bermonolog dengan dirinya sendiri.
Hermione tertegun mendengarnya. Ia sama sekali belum bergerak dari posisinya. Beberapa saat ia mengarahkan jemarinya ke pipinya, menamparnya dengan pelan.
'Ini bukan mimpi,' batinnya kemudian.
"Ta—tapi itu tak mungkin, Malfoy." Hermione menghela napas lelah. "Kita terlalu berbeda, bagai langit dan bumi," lanjut Hermione lirih.
Hening. Tak ada yang berinisiatif untuk mengisi keheningan yang melanda itu.
"Tapi bagaimana kalau aku memiliki rasa terhadapmu, Granger?" Draco tak bisa menahan dirinya untuk tak berkata demikian. Semakin hari dan semakin lama ia bersama dengan Hermione, membuat perasaannya semakin jelas dan absolut terhadap gadis berambut cokelat ikal itu.
"Bagaimana kalau selama ini diam-diam aku menyukaimu? Ah, tidak. Aku ... mencintaimu," ujar Draco lirih dan pelan. Namun indera dengar Hermione masih cukup tajam untuk menangkap semua perkataan Draco itu. "Take a look at me now, Granger."
Hermione masih tertegun, masih enggan beranjak dari posisinya.
"Baiklah. Setidaknya aku tahu bahwa perasaanku tak berbalas," ucap Draco dalam nada pedih yang sangat kentara. Hermione berbalik menatapnya, pandangannya berkaca-kaca. Dan detik selanjutnya sebulir kristal bening jatuh tanpa bisa dicegah lagi, menembus kelopak manik indah Hermione. Meruntuhkan seluruh pertahanannya yang kini tak lagi bersisa.
Kini giliran Draco yang tertegun. Hermione beringsut maju mendekati musang berbulu bersih itu lantas membungkuk dan menjadikan lututnya sebagai tumpuan.
"A ... Aku ..." Hermione tak mampu menyelesaikan perkataannya yang rasanya kini seolah tercekat di ujung kerongkongannya. Ia mengambil musang itu perlahan dan membawanya dalam posisi berdiri. Draco yang masih belum mengerti akan apa yang terjadi hanya diam membisu.
"Kau tahu, Malfoy? Kupikir perasaanku bertepuk sebelah tangan. Namun ..." Hermione tersenyum di sela-sela tangisnya. "Aku juga mencintaimu." Sebuah kalimat dengan tiga kata yang begitu sederhana namun sangat bermakna.
"Aku mencintaimu, Hermione," ujar Draco lirih. Memanggil Hermione dengan nama depannya. "Aku akan setia padamu sampai raga ini tak sanggup lagi membawaku pada indahnya kehidupan. Aku akan selalu bersamamu, sampai kapan pun."
"Aku juga. Aku mencintaimu, Draco. Sekarang dan selamanya." Hermione menunduk dan mencium musang itu dengan segenap perasaan yang ia punya. Segenap perasaan yang kini telah ia serahkan sepenuhnya kepada seseorang yang berhasil mengisi kekosongan serta kehampaan di dalam hatinya, mengisi setiap celah yang dulunya sempat menganga karena seseorang yang sama sekali bukan takdirnya.
Hermione menciumnya sangat lama. Air mata bahagia tak hentinya mengalir dari kelopak yang kini terpejam itu, merasakan seluruh perasaannya ikut terhanyut bersama emosi jiwanya. Melebur menjadi satu dengan titik kuasa hatinya. Titik terakhir yang hanya akan dipersembahkannya untuk Draco seorang.
Hermione belum sepenuhnya sadar ketika cahaya terang benderang kini menyelimuti ruang rekreasi asrama Ketua Murid. Cahaya putih yang seolah membawa keajaiban, sampai ia merasakan bibirnya menyentuh sesuatu yang lembut dan hangat. Dan ia merasa familiar dengan ini. Apakah ...
"Terima kasih, Hermione." Hermione membuka maniknya perlahan, menampilkan sepasang hazel yang berbinar bahagia dibalik kelopaknya. Ia tersenyum. Yah, gadis itu tersenyum menatap sesosok pemuda pirang di hadapannya.
"Draco, kau kembali!" Pekik Hermione. Dengan segenap tenaga yang masih ia punya, gadis itu melompat ke dalam pelukan hangat Draco Malfoy. Memeluk pemuda itu erat sekali seakan enggan untuk melepasnya, begitupun dengan Draco.
Namun sepertinya ada sesuatu yang aneh dan belum mereka sadari.
"Err, Hermione?" Ujar Draco pelan. Mereka masih berpelukan dengan erat.
"Ya?" Hermione masih enggan mendongakkan kepalanya. Perasaannya terasa nyaman berada dalam dada bidang Draco yang begitu menenangkan.
"Kau lupa sesuatu." Hermione mengerutkan keningnya bingung. Apa yang telah dilupakannya?
"Aku tak memakai pakaian selembar pun, honey ..."
WHAT?
Seolah baru tersadar akan keadaan Draco sekarang, Hermione langsut menjerit sekeras-kerasnya.
"Aaaaarrrrgggghhh!"
Yah, Draco sama sekali tak mengenakan pakaian selembar pun. Tak ada sehelai benang pun yang membalut tubuh sixpacknya sekarang.
Bukankah setelah berubah jadi musang beberapa waktu lalu, seluruh pakaiannya melorot begitu saja?
Ah, dasar musang seksi.
To Be Continued-
-OoOoO-
.
.
|Pojok Author|
Horeee! Akhirnya DraMione saling mengungkapkan perasaan mereka XD ... Hehe maaf yah guys, saya tahu chapter ini kependekan yah? Well, ini cuman sekitaran 2k ... Padahal tadinya saya banyak ide, tapi setelah bergulat dengan lapt, tiba-tiba semuanya menguap begitu saja. Yah, meskipun ceritanya memang seharusnya seperti ini hehe ...
Oke, guys ... Terima kasih banyak bagi kalian yang masih setia membaca serta mereview MBiF ini. Meskipun Loony gak bisa bales review kalian satu2, tapi ketahuilah semuanya Loony baca dengan rasa senang dan bahagia :D *jujur ini loh* ... Dan untuk BlueDiamond13, makasih banget loh pendapatnya :) Loony senang kok ada yang merhatiin ceritanya Loony hehe *hugBlue :D |ditendang. Dan untuk Naomi Averell yang udah ngasih review sepanjang sungai nil *ditimpuk ... Ah iya, beb ... Loony tahu kok kamu sibuk akhir2 ini makanya jarang nongol. Well, menjadi seorang anak kelas XII memang sulit, bentar lagi UN dan Loony juga sejujurnya sama dengan dirimu hehe ... Ayo semangat! :D
Dan untuk readers2 yg lain, Loony cuma bisa bilang 'I love u guys!' :D ... Keep RnR ya ;) Dan oh iya, kemarin lupa jawab nih salah satu review yg nanyain mantra 'Ferretlyfors'. Hehe, itu mantra karangan Loony kok asli, jgn dicari di kitab mantra standar ya XD~
P.S : Yuk Read and Review fict barunya Loony, pair DraMione oneshot! :D Judulnya 'Istriku Sayang' :D Ditunggu loh ;) ... The Ending (sequel The Letter) dan Dia Gadis Bejilbab Hijau juga update!
Oh ya, fict collab Loony dengan 'Veela Rosea'—The Royal Revenge juga update chap 2! RnR ya! ;) (akun kami 'Ms. Veeloony Rosea) XD~ ...
.
.
Salam,
Miss Loony.
