Disclaimer :
Semua tokoh dalam fic ini adalah kepunyaan Bunda JK. Rowling. But all of idea, of course belong to me :)
Pairing :
Draco Malfoy dan Hermione Granger
Genre :
Romance, Hurt/Comfort
Rated : T (teen)
Timeline : Tahun ke tujuh Hogwarts (after war)
Warning!
Saya sudah berusaha untuk tidak typo
(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf).
sepertinya agak OOC dan lain sebagainya ...
|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|
.
.
"Err, Hermione?" Ujar Draco pelan. Mereka masih berpelukan dengan erat.
"Ya?" Hermione masih enggan mendongakkan kepalanya. Perasaannya terasa nyaman berada dalam dada bidang Draco yang begitu menenangkan.
"Kau lupa sesuatu." Hermione mengerutkan keningnya bingung. Apa yang telah dilupakannya?
"Aku tak memakai pakaian selembar pun, honey ..."
WHAT?
Seolah baru tersadar akan keadaan Draco sekarang, Hermione langsut menjerit sekeras-kerasnya.
"Aaaaarrrrgggghhh!"
.
.
My Blood is Ferret
Chapter 18
(Surat Misterius)
.
SPECIAL WARNING!
Dalam chap ini, ada sedikit adegan yang menjurus ke RATED T SEMI M!
(Well, hanya 'semi' sih emang). Tapi untuk amannya, saya menyarankan bagi kalian yang 'belum cukup umur' agar men-skip atau tutup mata aja deh ya pas scene yang dimaksud :p *plak (karena Loony mencoba utk jadi author yang bertanggung jawab terhadap readers yg pikirannya perlu dilindungi(?). Tapi ya itu semua kembali pada diri kalian masing2 kok :) hehe *digetok.
Well, enjoy! :D
.
.
.
Merona. Semerah bunga geranium, eh? Ah, hal itu selalu terjadi dan sepertinya sudah menjadi pelengkap wajib yang menghiasi wajah cantik Hermione acapkali ia mengingat kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu.
Hell! Seorang Draco Malfoy tanpa busana barang sehelai pun? Siapa yang tidak terpukau? Tapi yah, ini bukan masalah terpukau atau tidak terpukau sebenarnya. Tapi lebih kepada rasa malu seorang anak gadis ketika melihat hal yang seharusnya tak ia lihat.
Bagaimanapun, Hermione masih mengingat dengan jelas refleksi sosok Draco Malfoy yang polos—polos secara teknis—yang tak henti-hentinya berputar-putar bandel di dalam cerebelum kepalanya. Seakan-akan hanya hal itu yang menjadi pusat fokus yang membentuk titik tangkap daya ingatnya dan menguasai segala koordinasi otot-otot yang terhubung hingga ke otak kecil belakang kepalanya.
Yah, jujur saja Hermione masih menyimpan memori itu lekat-lekat, semacam pensieve yang akan selalu tersimpan rapi secara otomatis hingga membentuk kanal transparan dan selalu menjadi serebrasi terhangatnya. Merlin!
"Oi, Hermione!" Suara merdu Ginny Weasley mengalir begitu saja dan menembus gendang pendengaran Hermione yang titik kefokusannya sempat tersita selama beberapa saat lamanya. Gadis ikal cokelat mengembang itu seketika tersentak dari lamunannya tentang—
Oke, Hermione merasa malu sendiri apabila mendapati dirinya yang terus-terusan membayangkan sesosok pemuda pirang platina tanpa—
Oh, sudahlah. Lupakan. Hermione mengambil napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan. Sangat kentara bahwa ia berusaha keras untuk menghapus sesuatu—yang entah apa-dari jalan serebrasinya.
"Kwau kwenapa, shyih?" Ron bertanya dengan mulut penuh makanan. Di pangkuannya masih ada sekitar tiga kotak coklat kuali plus beberapa bungkus coklat kodok. Jangan heran kalau nantinya kalian mendengar kabar bahwa Ronald Weasley mengalami hal yang namanya 'sakit gigi'—penyakit muggle.
Hermione hanya menatap sahabat berambut merahnya itu sesaat, tanpa komentar sedikit pun yang terlontar—tak seperti biasanya. Entah kenapa rasanya ia sudah terlalu bosan dan lelah untuk sekadar menegur seorang Ron Weasley yang selalu saja berbicara dengan kondisi mulut penuh makanan. Mungkin itu sudah menjadi kodrat si pria jangkung berwajah bintik-bintik itu, pikirnya.
"Kulihat daritadi kerjaanmu hanya melamun saja." Harry memasukkan Kacang Segala Rasa berwarna hijau pekat ke dalam mulutnya. Namun tiba-tiba ...
"Euuww. Uhuk-uhuk ..."
"Kau kenapa, Harry?" Ginny bertanya panik ketika dilihatnya sang kekasih yang tetiba terbatuk-batuk memprihatinkan.
"Rasanya buruk," komentar Harry singkat kemudian kembali terbatuk. Hermione hanya bisa mengernyitkan hidungnya, sebagai bentuk prihatinnya terhadapa sahabat berambut hitam acak-acakannya itu.
"Akan kubantu, Harry!" Dengan sigap Ron segera menepuk-nepuk punggung Harry Potter dengan keras. Alhasil justru membuat pemuda yang dijuluki sebagai 'Anak-Yang Bertahan-Hidup' itu semakin terbatuk hebat. Ginny menepis tangan Ron yang disusul dengan delikan tajam dari balik manik cokelat cemerlangnya. Lantas ia menyodorkan segelas piala yang berisikan air putih, setelah membisikkan mantra 'Aguamenti.'
"Minumlah," ujarnya. Harry menerimanya dan langsung meneguknya tanpa ampun. Tetesan terakhir yang tersisa di sudut bibirnya dengan cepat Ginny bersihkan menggunakan saputangan berwarna krimsomnya.
"Sudah baikan?" Tanyanya lagi. Harry hanya mengangguk lemah.
"Well, lain kali kau harus berhati-hati dengan kacang yang berwarna hijau pekat, Harry. Aku pernah baca—entah di mana—kalau yang hijau pekat itu adalah dominasi antara rasa air liur naga dan ingus Troll. Euwwh." Hermione bergidik setelah menjelaskan hal itu. Kontan manik emerald Harry membulat sempurna dan kembali terbatuk-batuk.
"Kenapa tidak bilang?" Harry merengut sebal setelah selesai dengan 'acara' terbatuk-batuknya. Butuh beberapa piala air untuk menghilangkan rasa mualnya.
"Kau tidak tanya." Hermione mengangkat bahunya dengan wajah polos yang semakin membuat pemuda berkacamata itu ingin mencekik Ron Weasley yang duduk di sebelahnya di atas sofa marun di Ruang Rekreasi Gryffindor. Yah, Hermione sekarang sedang berkunjung ke sana, rindu berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.
Tapi ngomong-ngompng, kenapa harus Ron, Harry?
Karena dia adalah orang terdekat yang bisa diraihnya saat ini (tak mungkin ia melakukannya kepada Ginny, 'kan?) untuk menyalurkan segala animus non permanennya terhadap Hermione. Non permanen? Yup! Tentu saja iya. Tak mungkin ia menaruh dendam atas Hermione secara permanen, 'kan?
"Oh ya, Hermione. Kau belum menjawab pertanyaanku sedari tadi. Kau ini lagi memikirkan apa sih sampai-sampai aku harus memanggilmu berulang kali?" Ujar Ginny seraya mendekatkan dirinya kepada Harry. "Tidak mual lagi, 'kan?" Gadis Weasley itu mendongak dan mengusap pipi Harry perlahan. Yang ditanya hanya mengangguk mengiyakan.
"Ah, aku tidak sedang memikirkan apa-apa," sangkal Hermione. Namun sepertinya ia harus menelan pil pahit bulat-bulat ketika tanpa dirasa wajahnya kembali memanas dan bersemburat merah.
"Jangan membohongiku, 'Mione." Ginny memutar bola matanya lantas turun dari sofa marun dan ikut duduk bersama Hermione yang kini berada di sofa seberang Harry dan Ron.
"Err, aku tak bohong, Gin."—'Hanya sedikit sih,' batinnya menambahkan.
"Let me guess!" Ginny memain-mainkan jemari mungilnya di dagunya—sok berpikir keras. Dan sepersekian detik berikutnya ia menjentikkan jarinya ke udara dengan riang.
"Aha! I know!" Serunya kelewat semangat. "Kau sedang memikirkan Malfoy 'ya?" Gadis berambut merah lurus itu tersenyum lebar yang tanpa sadar justru membuat perut Hermione bagai terlilit-lilit tak nyaman.
Bingo! Siapa sangka kalau tebakan asal si gadis bungsu Weasley rupanya tepat sasaran, eh?
"Uhuk-uhuk ..." Hermione terbatuk kering mendengar terkaan Ginny yang ternyata memang benar adanya. Dua kepala merah serta satu kepala hitam serempak menatap Hermione kompak. Ginny kembali menyunggingkan senyum misteriusnya.
"Tepat sasaran, eh?" Hermione mendelik mendengarnya, berusaha melambai-lambaikan tangannya ke depan kamera—ah ralat—maksudku ke depan para sahabat-sahabatnya tatkala dilihatnya Ginny yang kembali menyunggingkan senyum ala Rita Skeeter-nya yang sepertinya haus akan gosip-gosip terpanas dan terheboh yang cetar membahana badai halilintar mengguncang kuburan si Voldy Moldy yang seluruh hidungnya ikut melebur bersama kepala jenong nan licinnya hingga membuat heboh penghuni nera—. Oke, cukup narsisnya.
"Ti..tidak. Siapa bilang?" Ujarnya ketus.
"Lantas kenapa kau sampai sewot begitu?" Ginny kembali melemparkan augmentasi yang semakin memperjelas perkiraannya. Yah, semacam augmentasi untuk memperkuat argumentasinya.
"Ah, di sini panas ya? Err, ini sudah malam. Sebaiknya aku kembali ke Ruang Rekreasi Ketua Murid," ucap Hermione mengalihkan lalu kemudian bangkit dari duduknya dan segera beranjak pergi dengan terburu-buru setelah mengucapkan kata 'bye'.
"Hey! Jangan lari! Kau berhutang penjelasan padaku, 'Mione!" Teriak Ginny membahana di Ruang Rekreasi itu, membuat beberapa murid lain menoleh ke arahnya. Sementara Harry hanya nyengir menyadari sahabat perempuannya itu mungkin memang benar tengah memikirkan Draco. Well, Harry sih tidak masalah. Asal Hermione bahagia, tentu dia juga akan ikut bahagia. Lagi pula, hubungannya dengan Draco Malfoy pasca perang Hogwarts dua tahun silam sudah berkembang cukup baik sekarang. Hanya Ron-lah yang masih belum bisa menerima Draco sepenuhnya. Yah, hanya pemuda dengan kesabaran sebesar sendok teh itulah yang sampai sekarang masih menaruh animus abadi terhadap Draco sepertinya.
'Bloody Hell!' Ron mengumpat dalam hati. Entah kenapa ia merasa bahwa Hermione harus dijauhkan dari Draco. Apalagi mengingat hubungannya dengan Romilda Vane yang kini tengah diambang kehancuran, membuatnya kembali merindukan sosok sang mantan yang tampaknya masih dicintainya, Hermione Granger.
.
-OoOoO-
.
Pintu lukisan berderit, menandakan seseorang tengah memasuki Ruang Rekreasi Ketua Murid. Sontak pemuda platina yang sedari tadi duduk santai di sofa favoritnya menoleh ke arah asal suara. Tangan kanannya memegang sebuah apel hijau segar yang kelihatannya baru saja digigit satu gigitan besar, sementara kaki panjangnya berselonjoran bebas di atas meja di depannya.
"Hi, Hermione!" Draco menyapa riang. Bukannya menjawab, Hermione justru hanya merona. Namun tak urung kaki reniknya membawanya melangkah mendekat ke arah pemuda Slytherin itu. Hermione menghempaskan bokongnya tepat di sebelah Draco disertai dengan helaan napas.
"Kenapa, sayang?" Draco menatap Hermione lakat-lekat sebelum kembali menggigit apel hijaunya. Ah ya, jangan heran. Sejak kejadian beberapa waktu lalu itu, kini hubungan mereka jauh lebih baik. Berpacaran? Mungkin saja. Memang sih ikatan itu belum terpatri jelas, tetapi Draco menganggap bahwa ungkapan perasaan mereka cukup membuktikan kalau mereka saling mencintai. Jadi? Ah, singkat kata sebut saja sekarang mereka adalah sepasang kekasih.
"Err tak apa-apa, hanya saja..." Hermione menjedakan kalimatnya, membuat Draco menaikkan sebelah alisnya, menunggu. Hermione menghela napas pelan. "Kurasa mereka—para sahabatku mulai curiga dengan hubungan kita, Draco."
"Lalu?" Draco kembali menggigit apelnya. Hermione memicingkan matanya.
"Ugh! Kau menyebalkan!" Rengut Hermione, melipat tangannya di dada. Draco hanya terkekeh lantas menyimpan apelnya di atas meja.
"Benarkah? Menyebalkan begini, tapi kau tetap suka, 'kan?" Draco menyeringai.
"Diamlah, Draco! Aku sedang serius tahu!"
"Oh, love. Kau pikir aku ini tidak serius, eh? Memangnya kalau mereka tahu kenapa?" Draco mengambil piala di atas meja dan menyesap pelan coklat panas yang ada di dalamnya. Entah sejak kapan Draco benar-benar niat untuk membuat coklat panas sendiri.
"Bukan begitu, Draco. Maksudku, err—maksudku aku belum merasa siap untuk memberitahu orang-orang perihal hubungan kita yang belum jelas ini," tutur Hermione. Ekspresi Draco berubah seketika.
"Kau masih meragukanku, 'Mione?" Ungkap pemuda bermanik kelabu itu seolah tak percaya. "Justru akan lebih bagus lagi jika orang-orang tahu tentang hubungan kita," tambahnya kemudian.
"Alasannya?" Hermione mengangkat sebelah alisnya, menuntut penjelasan lebih.
"Yah, dengan begitu, Pansy, kakak beradik Greengrass, dan gadis-gadis lainnya bisa berhenti mengejar-ngejarku," Draco terlihat berujar serius, Hermione memukul dada pemuda itu pelan.
"Heihei! Ada yang salah, eh?" Satu bantal sofa mendarat dengan mulus di atas wajah Draco.
"Kau kepedean tahu!" Hermione kemudian tertawa lepas disusul dengan suara tawa berat Draco setelahnya.
"Well, sebenarnya ada satu alasan yang kuat." Draco memain-mainkan rambut ikal Hermione. "Jangan menyelaku dulu, love." Draco kembali menambahkan saat dilihatnya bibir mungil Hermione kembali hendak terbuka. "Aku hanya tak ingin kau kembali menyukai si Weaselbee," ujarnya pelan. Hermione bangkit dari posisi bersandarnya di dada bidang Draco, duduk dengan tegak dan berhadapan langsung dengan pemuda tampan di hadapannya.
"Apa maksudmu?" Hermione bertanya bingung.
"Kau mengerti maksudku. Sepertinya si Weaselbee itu kembali menyukaimu setelah hubungannya dengan Vane nyaris berakhir."
"Nyaris berakhir?" Hermione memicingkan matanya penasaran sekaligus sedikit tertarik dengan arah pembicaraan ini.
"Yah, tak sengaja kudengar dari Pansy." Hermione terdiam sesaat. Otaknya berpikir keras. Bagaimanapun Ron Weasley adalah sahabat sekaligus pria yang pernah membuatnya patah hati. Lantas jika memang hal itu benar, mengapa baru sekarang Ron mulai menganggap keberadaan Hermione? Mengapa tidak dulu-dulu saja ketika Hermione masih menaruh hati padanya? Kenapa? Kenapa disaat Hermione sudah merasa nyaman dengan keberadaan Draco disisinya?
"Kau tak akan meninggalkanku kan, 'Mione?" Draco menggulirkan sorot kelabunya ke arah gadis mungil cantik di hadapannya yang sontak menyentak lamunan gadis itu.
"Ah, ya. Tentu saja, Draco." Hermione menyunggingkan senyum termanisnya. "Bukankah kita sudah berjanji, eh?" Kekehnya lagi—kembali mengingat janji 'sakral' yang telah mereka ucap bersama—, yang dibalas senyuman lebar dari sang Pangeran Slytherin.
"Hoaamm ... Aku mengantuk. Selamat malam, Draco." Gadis hazel itu beranjak berdiri dan mulai melangkah menaiki undakan tangga menuju kamarnya sebelum sebuah suara husky kembali menyita perhatiannya.
"Ah ya, 'Mione ..."
"Hm?" Ujar gadis itu seraya berbalik.
"Apa tak ada sesuatu untukku?" Hermione mengernyit bingung mendengar perkataan Draco. Sementara pemuda pirang itu hanya menunjuk-nunjuk pipinya dramatis sembari sesekali mengarahkan telunjuknya ke arah bibirnya.
Hermione tersenyum lantas menggelengkan kepalanya sebelum ia kembali beringsut maju ke arah Draco. Dengan sedikit membungkukkan badannya, gadis ikal itu mengecup pipi Draco singkat lantas turun ke bibir pemuda itu. Namun tak diduga-duga, tangan kekar yang sedari tadi diam kini sudah melingkar erat di pinggang Hermione, membuat gadis yang sebelumnya tak memiliki persiapan sedikit pun itu terpaksa jatuh terhuyung ke depan—menimpa tubuh Draco yang berada di bawahnya. Hermione sudah akan menarik dirinya ketika lagi-lagi tangan Draco bergerak cepat untuk mengunci pergerakannya. Mendorong pelan tengkuk Hermione untuk memperdalam ciuman mereka.
"Drac..coh—hmppt..." Hermione berusaha keras untuk berbicara disela-sela ciuman mereka. Namun seakan benar-benar tuli, pemuda platina itu justru semakin bersemangat menciumi Hermione. Ia menggigit pelan bibir bawah gadisnya itu, seakan-akan meminta izin untuk mendapatkan akses yang lebih. Desahan yang tak dapat dicegah Hermione dimanfaatkan Draco untuk menyusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut gadis singa itu. Mengabsen satu persatu deretan gigi kecil-kecil rapi milik Hermione, memainkan lidahnya dengan lidah gadis itu. Sebut saja ia tengah melakukan 'french kiss.'
"Ah ... Draco—hmmppt..." Lagi-lagi Hermione tak kuasa untuk menahan desahannya. Sementara Draco kini telah membalikkan posisinya hingga sekarang Hermione berada di bawahnya, sambil masih terus menciumi bibir mungil Hermione—yang sepertinya sudah mulai membengkak—dengan penuh semangat. Gadis itu meremas rambut pirang Draco tatkala bibir tipis—setipis sari apel—pemuda itu kini turun bergerilya ke leher putih mulusnya yang jenjang. Mengecupnya perlahan sambil sesekali menggigitnya pelan, membuat gadis itu kembali mendesah dan mengerang nikmat.
"Ah, uh ... Drac—hmmptt.." Belum sempat Hermione menyelesaikan kalimatnya, dengan secepat kilat, bibir tipis Draco kini kembali mengunci pergerakan bibirnya. Hermione kembali meremas rambut platina sang Pangeran Slytherin itu dengan mata terpejam dan kepala yang menengadah, hingga kembali mengekspos leher jenjangnya—yang rupanya sedikit memberi akses ke arah jubah Hermione. Well, sepertinya Draco Malfoy agak rindu dengan apa yang ada di balik sana, mengingat aktifitasnya selama ia menjadi musang beberapa waktu lalu.
"Tanpa pikir panjang, Draco kembali terfokus ke arah leher Hermione hingga turun ke ...
"Dra..coh ... jangan di sana," ucap Hermione parau. Sementara sebelah kakinya kini mulai terangkat sebelah dan melingkari pinggang kokoh Draco—tentu saja ini dilakukannya tanpa sadar. Yang mau tak mau ternyata berhasil membuat hormon pemuda Malfoy itu semakin membeludak dan sebentar lagi ...
Draco dengan tiba-tiba segera melepaskan ciuman panasnya dengan Hermione. Napasnya tersengal-sengal—begitupun dengan gadis yang masih berposisi di bawahnya itu. Peluh membanjiri sekujur tubuhnya, sementara Hermione terlihat lemas dan bibirnya memerah dan sedikit membengkak. Sementara di lehernya kini tercetak beberapa kissmark yang secara cuma-cuma diberikan oleh Draco.
"Kenapa?" Hermione mulai buka suara setelah berhasil mengatur napasnya kembali. Pertanyaan yang dilontarkan gadis itu lebih kepada 'mengapa Draco menghentikan aksi cium-menicumnya?'. Malfoy junior itu hanya menatapnya dengan pandangan yang seolah menyiratkan kata maaf.
"Aku hanya takut kalau nantinya aku sampai tak dapat mengontrol diri lagi dan ... ah, jika dilanjutkan, sepertinya aku tak bisa jamin bahwa kau akan melihat matahari esok pagi dengan kondisi masih virgin. Maafkan aku, 'Mione. Aku benar-benar tak bermaksud," jelas Draco panjang lebar, merasa bersalah atas apa yang baru saja dilakukannya. Hell! Bagaimana kalau tadi hal 'itu' sampai terjadi? Bagaimana kalau ia sampai lepas kendali dan ... dan ... ah, sudahlah.
Hermione merapikan jubahnya lantas mengambil tempat di sebelah Draco.
"Memangnya apa yang perlu kumaafkan? Aku tahu kau pria baik, Draco." Hermione tersenyum menenangkan. Pemuda platina itu menoleh dan seketika mendapati hazel yang berbinar cerah.
"Benarkah? Aku ... tapi ..."
"Huss, sudahlah. Aku mengerti. Siapa yang bisa menyalahkan hormon?" Untuk sejenak Hermione terkekeh pelan, membuat Draco bersemburat merah muda. "Lagi pula aku percaya bahwa kau adalah takdirku. Janji sudah mengikat kita berdua. Aku—"
"Sebentar lagi akan menjadi seorang Malfoy," potong Draco tiba-tiba. "Hermione Malfoy," tambahnya lagi. Pemuda itu tersenyum lebar. Hermione hanya memukul bahunya pelan.
"Draco ... Aku mengantuk ... Hoammm ..."
"Kalau begitu ..."
"Hey! Turunkan aku, Draco! Kau mau bawa aku ke mana?" Belum sempat Hermione berpikir banyak ketika tubuhnya terasa tak memijaki bumi—yang ternyata sudah diangkat ala bridal style oleh sang Pangeran Ular tersebut.
"Membawa sang Putri ke kamarnya, tentu saja." Draco menyeringai senang lantas menaiki anak tangga menuju kamar Hermione.
"Ta...tapi ... Apa maksudmu?" Hermione bertanya kebingungan, sedikit takut sebenarnya. Pikirannya jadi tak keruan. Mungkinkah ... Mungkinkah Draco akan ... Maniknya membeliak seketika.
"Oh, hentikanlah pikiran burukmu itu, sweetheart," ungkap Draco seolah tahu atas apa yang tengah mengalir deras di dalam otak cemerlang seorang Hermione Granger. Gadis manis itu hanya bisa bersemu merah mendapati sang tokoh utama dalam imajinasinya berhasil menebak isi pikirannya yang konyol dan begitu pervert. Mana mungkin 'kan Draco akan melakukan hal 'itu' padanya?
"Oh iya," tambah Draco lagi. Hermione menatapnya serius. Kini mereka tengah sampai di depan pintu kamar sang gadis Gryffindor itu. "Tapi, jangan tolak aku yang malam ini ingin tidur di kamarmu," ujar Draco mengerling nakal sembari kembali memamerkan seringai memesonanya. Hermione kontan membeliak terkejut sebagai respon reflek atas perkataan Draco barusan. Tapi baru hendak si gadis berang-berang tersebut melontarkan argumen tidak setujunya ketika kembali suara sensual berhasil menelusup masuk ke dalam indera dengarnya.
"Aku tak seburuk itu, my sweety otter," dengus pemuda itu cukup sebal. "Kau tetap tidur di ranjang berang-berangmu—Hermione mendelik mendengarnya—sementara aku akan tidur di sofa," lanjutnya lagi, terkesan serius.
Well, tak dimungkiri bahwa ucapan Draco itu cukup sukses untuk membuat Hermione sedikit lega. Yah, tinggal berdoa saja agar Si Pemuda Musang itu nantinya tak merangkak naik ke ranjang Si Berang-Berang Cantik.
Semoga.
.
-OoOoO-
.
"Oi, mate! Blaise Zabini menepuk bahu Draco cukup keras, hingga membuat sang empunya bahu reflek menoleh dengan pandangan menusuk tajam. Bagaimana tidak? Daging asap yang tengah dikunyahnya dengan hikmad nyaris melompat keluar dari tenggorokannya lantaran tepukan sinting si pemuda berkulit arang.
Dengan death glare yang seolah menyiratkan 'ada-apa-sih?' dari Draco, penyihir keturunan Italia itu dengan cepat segera mengeluarkan berbagai permintaan maafnya agar tak menyulut emosi jiwa sang Pangeran Slytherin. Sementara Theodore Nott yang hanya melirik kejadian itu lewat ekor matanya hanya bisa menahan senyum gelinya menyaksikan tampang konyol Blaise yang terlihat mulai menggigit-gigiti kuku jarinya—pertanda bahwa ia sedang sedikit gugup.
"Err, aku hanya mau bilang bahwa ini ada surat untukmu, Drake," ujar Blaise sedikit menciut seraya menyodorkan sebuah amplop berwarna carmine ke arah pemuda pirang yang saat ini tengah menghentikan aktifitas makannya untuk sesaat. Serta-merta semerbak harum vanilla yang menyengat menyeruak begitu saja, berebut masuk ke dalam indera penciuman sang musang tampan.
Dengan sebelah alis terangkat, tak urung ia menerima surat itu. Surat yang cantik untuk sekadar ukuran surat biasa, mengingat tak ada acara spesial apa pun yang akan berlangsung beberapa waktu kedepan.
Seakan tak ingin tenggelam dengan rasa penasaran yang menggerogoti jalan serebrasinya, jemari pucat panjang itu pun tak ragu-ragu untuk segera membuka amplop 'misterius' itu dan membaca surat yang berada di dalamnya. Untuk sesaat, Draco merasa terpukau. Tulisan tangannya begitu mirip dengan tulisan tangan seseorang yang amat ia kenal. Kecil dan rapi.
Dan aroma vanilla, eh? Sepertinya hal itu cukup menjadi sedikit afirmasi bagi kilatan penasaran sang Draco Malfoy yang tak lelahnya bergelayut menjumbai di dalam cerebrumnya. Dengan sedikit seringai tipis serta kerlingan kecil ke arah gadis singa yang tengah tersenyum manis ke arahnya di meja seberang, cukup untuk menambah semangatnya agar cepat-cepat membaca isi surat itu.
Dear M, (Draco sedikit mengernyit membacanya, namun sedetik berikutnya ia memamerkan senyum simpul menawannya—yang membuat heran Blaise dan Theo yang duduk di sebelahnya. M untuk Malfoy. Benar, 'kan? Draco meyakinkan dirinya sendiri dengan alasan yang dianggapnya logis, lantas ia kembali menelusuri rentetan huruf-huruf singkat dalam surat 'misterius' itu dengan perasaan senang yang penuh).
Dear M,
Temui aku di danau hitam.
Kita bertemu di sana pukul sebelas malam.
Jangan sampai terlambat.
From G.
ps : aku tak menyukai segala sesuatu yang tak 'on time.'
Draco tak bisa menahan bibirnya untuk tak mematri lengkungan senyum di garis wajahnya yang tegas.
'Well, tunggu aku Granger ...' batinnya senang.
-To Be Continued-
-OoOoO-
.
.
|Pojok Author|
Haloha! :) Loony kembali lagi dengan membawa sejuta cinta :D *dilempar bunga.
Oke, pertama-tama Loony ingin menyampaikan maaf yang sebesar-besarnya mengingat waktu update yang lumayan lama—well, dua minggu! Maaf ya T_T
Yang kedua adalah UCAPAN TERIMA KASIH TIADA TARA bagi pembaca setia MBiF (kalau ada sih) dan bagi kalian yang masih sudi menunggu kelanjutan cerita ini (well, Loony kembali gak yakin kalau ada yg nungguin sebenarnya). Terlebih lagi bagi kalian yg senantiasa nyempetin diri buat nge-review (fav/follow) fict dengan sejuta kekurangan ini *peluksatusatu. Sekali lagi, TERIMA KASIH! :D
Yang ketiga adalah ... Ah ya! Scene SEMI RATED M dalam chap ini! Oke, Loony tahu kok kalau sebenarnya scene itu gak hot (apalagi bagi kalian yg udah sering baca yg 'lebih' ya *ups) ... Tapi cuman sebagai wanti2 aja, biar bisa lindungin(?) pikiran pembaca kecil mungil yang pikirannya masih suci bersih :D hehe ... Tapi percayalah, Loony ini masih suci polos juga kok (first kissnya aja masih utuh wkw) yah kayak 'Luna Lovegood' gitu*plak (dilempar tomat) ... Semua adegan ciuman dan semacamnya dalam fict2nya Loony gak berdasar atas pengalaman pribadi kok, cuman karena kadang baca aja hehe *digetok (kan udah cukup umur :p). Dan sy rasa di negara barat juga hal ginian udah dianggap biasa, nah DraMione org barat, 'kan? :D *bletak.
Yang keempat adalah bagi para reader yg nanyain 'sampai chap berapa MBiF ini menemui titik akhirnya?' Well, sebelumnya Loony pernah bilang kan kalau fict ini mungkin akan berakhir dengan hanya belasan chapter? Tapi faktanya? Ah, maafkan saya T_T sepertinya agak lewat tuh ... Tapi tenang aja, segala alur termasuk ending MBiF ini sudah tersimpan rapi di kepala Loony termasuk fict pengganti MBiF juga udah akan digarap *bocoran. Jadi kalian cukup menunggu aja Loony punya waktu untuk nulis kelanjutan MBiF disela-sela aktifitas yg sangat padat *sumpah gak bohong.
Yang terakhir *readers bersorak senang ... Loony gak bisa janji utk update MBiF dgn kilat— mungkin—mengingat akhir2 ini Loony begitu sibuk hingga beberapa bulan kedepan. Yah, karena sebentar lagi akan ... Ah, sudahlah tak usah dibahas XD~ ... Untuk itu Loony sangat menghargai setiap review yg masuk. Percayalah, review akan membuat Loony semangat dan berusaha keras untuk mencuri2 waktu (waktu kok dicuri? *plak) untuk menulis disela-sela aktifitas Loony yg segudang. Minimal 15 review, Loony akan berusaha utk secepat mungkin bisa nulis kembali lanjutan chapter 19! :D
So, review yak! Sangat sayang loh, yg baca MBiF udah hampir 20.000an tp ternyata banyak yg mingkem hehe ... *hayoo ... yg mingkem keselek, 'kan baca ini? :D *digetok sider. Becanda ^^ ...
Oke, sampai jumpa di chap depan ya ;) (kalau umur panjang) dan maaf banget atas Author's Note yg terlampau panjang hehe ... Mohon doanya agar segala sesuatunya berjalan lancar ya, Aamiin :)
PS : Maaf ya ... The Ending belum bisa update. Tapi jangan khawatir, karena Loony usahakan updatenya gak akan begitu lama, kok! ;) Dan bagi yang berminat dan berkenan RnR fict barunya Loony yang didedikasikan utk HERMIONE DAY, silakan baca fict Loony yang judulnya Puber Kedua (pair DraMione). :)
.
.
Salam terkasih,
Miss Loony.
