KARNA ADA YANG MENGATAKAN SAYA MEREPOST FIC INI, SAYA INGIN MENGATAKAN SEKALI LAGI SAYA MEMBUAT FIC INI DENGAN PLOT DARI DRAMANYA SENDIRI DENGAN SEDIKIT PERUBAHAN DARI SAYA. JIKA ADA KESAMAAN YA MOHON MAAF SAYA. SAYA TAK PERNAH MELIHAT FIC NS SEPERTI INI SEBELUMNYA TAPI GAK TAHU DI FANDOM LAIN YA! SELAMA SAYA MEMBACA DI FANFICTION, SAYA CUMA BERPUTAR DI FANDOM NARUSAKU SAJA! SAYA TAK MAU MENYIA-NYIAKAN WAKTU SAYA UNTUK MEMMBACA FIC DARI PAIR YANG TELAH MENGHANCURKAN PAIR FAVORIT SAYA INI, JADI KALAU DI FANDOM SEBELAH ADA FIC MIRIP SEPERTI INI YA MANA ANE TAHU!

UDAH SELAMAT MEMBACA! [Perbaikan! saya salah upload!]


Naruto masuk ke helikopter dan meninggalkan Sakura, mereka saling menatap meskipun tak begitu jelas karna Naruto yang berada di dalam heli yang perlahan menjauh hingga tak terlihat lagi. Setelah kepergian Naruto, Sakura masih betah berada di atap dengan berbagai pertanyaan di kepala.

Dia bahkan tak menghiraukan kehadiran seorang pria dengan jubah dokternya tiba-tiba muncul dengan sebuah buku ditanganya, ia berdiri disebelah Sakura. Pria berambut perak itu celingak-celinguk mengikuti arah tatapan Sakura. "Kenapa? lihat Apa? tak ada apa-apa."

"Kakashi-Sensei... Pria yang hanya bertugas menggali, apa akan dijemput helikopter dan tertembak oleh senjata?" tanya Sakura pada pria bernama Kakashi itu.

"Di Konoha ini? tak ada peserta Wamil yang tertembak senjata begitu. Kami hanya sering 'tertembak' oleh air hujan dan juga salju. Bahkan setelah itu pula, kami harus membersihkan seragam kami sendiri hanya untuk 'tertembak' lagi."

"Begitu ya? Lalu, pria seperti apa dia hingga dia bisa terbang begitu?"

"Heee.. pria yang terbang? Maksudnya dia lenyap atau benar-benar terbang?" Tanya Kakashi sambil mengerakan tangannya seperti sayap burung. "Tapi dia pasti punya alasan tersendiri jika dia memang harus... err terbang."

Sakura tersenyum melihat lelucon senior sekaligus gurunya ini. Mengingatkannya pada lelucon Naruto selama ini.


"Aku adalah seorang prajurit. Prajurit harus mengikuti perintah..."

-NAMIKAZE NARUTO-

.

"Aku adalah seorang dokter. Aku percaya kehidupan itu suci, dan tak ada nilai atau ideologi yang dapat menggoyahkannya."

-HARUNO SAKURA-

.

.

.

.

DISCLAIMER: I DO NOT OWN NARUTO. All publicly recognizable Naruto characters, settings, etc. are the property of SJ and the mangaka. No money is being made from this work. No copyright infringement is intended. Big influence from DRAKOR/Korean Drama (2015-16): Descendant of The Sun. Starred By Song Joong-ki and Song Hye-kyo Almost total same-plot! I write this only for fun! FOR FUN!

.

.

.

.

Warning (s): AU SETTING CANON, ACTION-ROMANCE, Drama, OOC LUAR BIASA, TYPO & ALUR DENGAN KECEPATAN MOTO GP.

.

.

.

.

Naruto as Yoo Shin-jin

Sakura as Kang Mo-yeon

Shikamaru as Seo Dae-young

Ino as Yoon Myung-ju

.

.

.

.

BLACK FOX

Naruto (Alpha Fox) [Kapten]

Shikamaru (Buckman) [Sersan Mayor]

Neji (Shinigami) [Sersan Kepala]

Sai (Mr. innocent) [Sersan Kepala]

Kiba (Inu) [Sersan dua]

.

.

.

.


SOLDIER X DOCTOR

VVVVVVVVVV

VVVVVVVVV

VVVVVVVV

VVVVVVV

VVVVVV

VVVVV

VVVV

VVV

VV

V


[二]


Tim Black Fox berada di sebuah kamp. Pasukan Perdamaian ABB di perbatasan OTOYUKO: Oto, Yu, dan Konoha.

"Two A.N (ABB) workers, active in the valley of Death, have been kidnapped by Oto militants." Lalu pemimpin base itu menunjuk sebuah bangunan pada layar. "This is the building where the hostages are held. One of our teams will enter from the northeast, the other team will enter through the southeast."

Naruto dan anggotanya bersama dengan pasukan elit dari negara Kumo, Panther tengah berada di dalam ruangan. Mereka semua sedang mendengarkan strategi untuk menyelamatkan 2 anggota ABB yang di sandera.

"You have 90 minutes to complete this mission. From entering to hostage extraction. Understand?!"

"YES!" Seru kedua tim.


Kedua tim sedang berjalan mengendap-endap, tim khusus kumo berjalan ke lantai bawah, dan tim khusus Konoha berjalan ke lantai atas. Sesuai rencana Black fox akan menyisir bagian atas sementara Panther akan mengurus bagian bawah. Naruto san timnya pun mengecek satu persatu kamar dilantai atas semuanya kosong tak ada tanda-tanda musuh. Akhirnya Tim Black Fox memasuki pintu terakhir yang ada di lantai atas sebuah ruang penuh kardus, mereka masuk dengan lancar tanpa kendala hingga, dengan cerobohnya Kiba, anggota dari tim Naruto tidak melihat sebuah perangkap bom.

"BERHENTI!" Teriak Naruto. Sayanganya terlambat...

DHUAAR!

Tapi tak terjadi apa-apa setelah ledakan itu, tak ada korban. Karna ini memang hanyalah latihan mereka. Kiba kembali berdiri. Naruto hanya diam menahan emosi memandangnya.

"Misi gagal! Semua pasukan kita, MATI!"

"Tsk merepotkan! Itu ranjau ganda... Fokuskan diri mu CEROBOH!" Teriak Shikamaru.

Kiba langsung membungkuk meminta maaf. "Sumimasen!"

SUIIING!

TAPS!

Tiba-tiba pemimpin tim Panther yang baru sampai melempar pisau tepat di samping kepala Naruto dan menancap ke kardus sebelahnya.

"Hey man, what's the Fuckin' problem with your Black Fox hah?! Stupi! Idiot!" Tanya Bee pemimpin dari tim Kumo sambil melepaskan helm militernya. "What if you and your elite troops go home, and practice harder with your father, mother or grandparents!" Seluruh pasukan Kumo tertawa, para pasukan Konoha hanya dapat memandang benci.

Naruto hanya terdiam sejenak. "Hah... mana bisa kuterima hinaan bocah beruban itu, dattebayo!" Naruto pun tak terima dengan penghinaan itu lalu mengambil pisau yang dilempar oleh Bee tadi dan balas melempar pisau itu tepat melewati selangkangan ketua tim Panther itu. Ketua team Panther itu pun menoleh. Dia langsung marah dan melepas rompi anti pelurunya. Naruto juga melakukan hal yang sama sambil berjalan menuju Bee. Para tentara lain hanya melihat saja tanpa melerai mereka yang hendak bertarung.

Bee langsung memberi tinjuan pada Naruto, namun dengan cerdik Naruto membungkuk dan meraih perut Bee lalu mendorongnya hingga jatuh membentur susunan kardus. Naruto langsung menghadiahi Bee dengan tiga pukulan.

DUAGH! BUAGH! BUAGH!

Namun setelahnya memanfaatkan kelengahan Naruto, Bee langsung meninju rahang Naruto membuatnya langsung terkapar.

Bee bangkit berdiri dan langsung menendang perut Naruto namun berhasil ditahan oleh Naruto. Tak ingin membuang kesempatan, Bee langsung menyerang lagi dengan mencoba menginjak kepala Naruto, namun dengan baik Naruto menghindarinya.

Bee kembali mencoba menendang wajah Naruto namun lagi dan lagi kali ini Naruto juga sigap menahan serangnya dan langsung memanfaatkanya untuk menendang kaki Bee yang menjadi tumpuan hal itu membuat pria berbadan besar itu terpelanting ke lantai. Pria Kumo itu kembali bangkit dan menyiapkan pukulan tapi kembali dengan cepat Naruto malah kembali memanfaatkkan kelegahan Bee dengan menendang muka Bee membuatnya terpelanting jauh.

"Wake up, Captain!Take the chair" Teriak seorang anggota Panther sambil menunjuk sebuah kursi lipat. Bee bangkit dengan sudah payah dan mengambil kursi itu.

Dengan cepat dia langsung berlari dan berusaha membanting kursi itu pada Naruto. Dengan reflek yang baik Naruto berhasil menghindarinya. Seranga kedua kembali datang kali ini Naruto langsung berguling menghindari serang itu. Kesal tak berhasil mengenai Naruto, Bee langsung melemparkan kursi itu asal ke arah Naruto yang kembali dihindari dengan baik. Mereka kembali bertarung dengan tangan kosong.

"Mereka akan saling membunuh diri mereka sendiri!" Teriak Kiba cemas dia hendak memisahkan namun langsung ditahan Shikamaru.

"Pilihannya hanya ada terbunuh atau membunuh. Saat dua Pasukan Khusus bertemu dalam operasi gabungan, kedua tim itu harus bertarung untuk melihat apakah tim yang lain dapat dipercaya. Ini bukan lagi latihan, tapi pertempuran yang sebenarnya. Kau tak akan bisa menghentikannya. Tapi jika kau berniat memisahkanya silahkan" ucap Shikamaru sambil terus memperhatikan pertarungan Naruto dan Bee.

Kedua prajurit itu menghentikan kegiatan mereka sebentar hanya untuk saling memandang dengan bengis. Lalu mereka bergerak secara bersama. Bee berusaha memberi serang berupa tendangan dengan sedikit gaya berputar dan dengan sigap Naruto menghindarinya. Lalu dia memberi Jab dari sisi kiri dan kanan namun Naruto menangkisnya dengan kedua tangannya.

Memanfaatkan ruang kosong Naruto langsung menghantamkan pukulan pada rusuk kiri Bee berlanjut ke rusuk kanan. Dan terakhir ke bagian dada namun tepat saat itu juga, secara bersamaan Bee berhasil menendang dada Naruto. Hal itu membuat keduanya terpelanting ke arah belakang masing-masing.

"Ughh!" Naruto meringis kesakitan menahan sesak di dadanya. Dia masih terkapar ketika Bee sudah berdiri.

Saat hendak menyerang Naruto Bee lengah, Naruto menendang tulang kering Bee membuatnya terpaksa berlutut, dan disaat itu Naruto dengan cepat menendang sisi kepala Bee tapi untungnya Bee sigap menangkisnya dengan lengan yang. Namun Dia tetap saja terpelanting. Meski dari segi ukuran dia lebih besar tapi dari segi kekuatan dan kecerdikan, pria pirang itu tampaknya lebih unggul. Tak heran bila ABB selalu memohon pada Konoha untuk mengirim mereka setiap ada masalah.

Mereka kembali berdiri, namun sifat curang sepertinya memang sudah menjadi ciri dari Bee. Dia mengambil sebuah sekop dan menebaskannya pada Naruto. Namun dengan cekatan Naruto meraihnya dan membuangnya. Dengan cepat dia langsung menendang tulang kering Bee sekali lagi. Memanfaatkan kaki Bee yang tertekuk dia langsung menaikinya dan melilit leher Bee hingga membuatnya berputar-putar dan terjatuh. Kaki Naruto melilit tangan berotot Bee, lalu dia menarik tangan Bee. Namun dengan cepat juga Bee melepaskan diri dari cengkeraman Naruto.

Mereka melanjutkan pertarungan dengan setengah berdiri. Kali ini Naruto berhasil memberi pukulan dahsyat ke wajah Bee dan berhasil membuat kepala Bee terhuyung.

Naruto berdiri diikuti oleh Bee yang juga berusaha berdiri dengan susah payah. Melihat Bee masih keasakitan, Naruto pun hendak memberi pukulan dengan elbownya...

PRIIIT!

Mereka terpaksa memisahkan diri setelah para pasukan PM menodongkan senjatanya pada mereka. Pememipin base itu langsung mendekati tempat kejadian itu lalu berkacak pinggang.

"Captain Team Panther Force, Gyuki!" Ucap Penanggung jawab base.

"Yes Sir!" Balas Bee. Wajahnya Bee tampak hancur babak belur.

"Captain Team Black Fox, Alpha Fox!"

"Yes sir!" Jawab Naruto. Wajah Naruto tak ada bedanya dengan wajah Bee.

"What the fuck are you doing, hah? This is an important mission that requires good teamwork! If you can't work together, you better pack your clothes and fly to your country without respect! Understood?"

Naruto dan Bee saling menoleh dan menatap satu sama lain. "Yes, sir!"


SOLDIER X DOCTOR


Sakura tengah merapikan diri di toilet bersama temannya, ia akan melakukan interview.

"Dulu saat pertama kali interview, aku tak gugup sama sekali tapi sekarang aku.. lihatlah betapa gugupnya aku. Aku bahkan tak mengerti pertanyaannya. Bagaimana ini?" Dokter merah muda itu merasa khawatir dengan interviewnya.

"Jangan khawatir. Kau pasti akan lulus, kau tak mungkin gagal 3 kali." balas Tenten.

"Masa? Memang sih kepala rumah sakit bilang, nilai analisaku lah yang tertinggi tadi."

Seorang wanita pirang cantik nan seksi memasuki toilet, sepertinya ia juga dokter. Sakura langsung berubah masam menyadarinya.

"Wow... Shion. Apa kau mau pergi berkencan buta hari ini?" tanya teman Sakura, Tenten pada orang yang baru masuk itu.

"Aku baru saja interview tadi. Aku masuk setelah dia." Jawab Shion percaya diri tepatnya sombong.

Tenten menatap nya tak percaya. "Ooooh!"

"Apa-apaan itu?!" Gumam sakura jengkel.

"Bagaimana interview-mu? Pertanyaannya sedikit, ya?" tanya Shion pada Sakura.

"Oh jadi pertanyaanmu sedikit ya? Makanya kau menanyaiku begitu? Mereka pasti khawatir kau tak akan bisa menjawab banyak pertanyaan." balas Sakura ketus.

"Ataukah memang mereka tahu aku tak memerlukan pertanyaan? Aku permisi duluan, aku ada operasi nanti." Shion lalu pergi dari toilet.

"Dia interview untuk posisi profesor, 'kan? Ujian spesialis bedahnya saja sudah gagal 3 kali." Kata Tenten.

"Yang benar sudah 4 kali. Ya bagaimana lagi, mungkin murni karena permainan orang dalam." Kata Sakura berjalan memasuki salah satu bilik toilet.


Shion masuk ke ruang operasi. Semua orang menatap heran dengan kehadiran Shion di ruang operasi. "Mari dimulai."

Sakura memandang dengan kesal. "Kau bahkan tak bisa mengingat ruang operasimu, ya? Ini ruang operasi prof. Orochimaru—"

"Dia ada urusan. Aku akan menggantikan prof. Orochimaru hari ini dan kau.. adalah asisten ku." Ucap Shion dengan sombong.

Semua yang berada dalam ruang operasi memandang dengan tatapan terkejut.

"Tunggu apa lagi? Nafasnya 16. EKG bagus. Mari kita mulai"

Mereka mulai operasi..

"Ku dengar kau merangkum tesis prof. Orochimaru, ya?" Tanya Shion pada Sakura yang tepat berada di seberang meja operasi.

"Katanya kau membelikan dia jam tangan, kan?" Tanya Sakura sambil terus mengerjakan tugasnya. "Shizune-nee, Right angle!"

"Kau selalu berusaha mencoba menyanjungnya."

Sakura melirik Shion dengan menahan emosi. "Dia pasti sudah tersanjung pada mu yang sudah memberinya jam tangan mahal."

Tenten hanya diam menatap bergantian kedua dokter yang sedang 'berperang' itu.

TIT!

"Apa yang kau lakukan, bodoh? Barusan kau memegang apa hah?" Tanya Sakura pada Shion dengan marah ketika menyadari kelalaian Shion.


Sementara itu diwaktu yang bersamaan ditempat lain...

Naruto bersama timnya dan tim Panther sedang berusaha menyelamatkan dua anggota ABB yang diculik. Naruto berhasil melumpuhkan satu militan Oto yang berjaga.

Kemudian mereka berjalan menyusuri bangunan itu. Naruto langsung menyadari adanya benda misterius diatas sebuah tembok bangunan target dan memberi tanda pada Neji untuk memeriksanya.

Neji meraih kain penutup dan melihat sebuah bom terpasang rapi di dinding itu. Lalu dia melihat ke beberapa kabel berwarna merah, putih, dan biru. Dan siap mematikan bom.

"Ini Tension pnumotorax." Ucap Sakura. "Kita harus dekompresi. Jarum 14 gauge!" Pinta Sakura.

"Disini aku ahli bedanya. Biar aku yang lakukan!" Tegas Shion pada Sakura.

Sakura memandang dengan dengan kesal. "Kalau begitu kerjakan Segera!"

"Um..." Lalu Shion menoleh ke Lee. "Berikan aku jarum 14 Gauge!"

Saat Shion yang melakukannya, pada tusukan pertama dia kembali membuat kesalahan lagi hingga darah pasien ituitu munc ke arah Sakura dan mengenai maskernya.

CROOT!

Shizune yang melihatnya langsung melotot melihat hal itu.

"Tsk kau ini kenapa hah?" Pekik Sakura pada Shion. "28 French CTD."

"28 French." Ulang Shion ketakutan.

Kembali lagi ke tim Naruto yang berada dalam zona perang..

Anggota team dari Panther berjalan memasuki sebuah pintu. Mereka berhenti ketika hendak memasuki pintu kedua.

Bee mengecek keadaan ruangan itu, saat dirasa aman dia lalu memberi kode bergerak pada anggotanya. Namun sayangnya saat empat langkah memasuki ruangan itu, ternyata lantai ruang itu sudah didesain dengan sebuah lubang yang tutupi papan dengan jaring dibawah nya.

"Trap! Watch out!" Teriak Bee.

TRUTUS! TRUTUS!

Mereka langsung menerima serangan dari musuh. Mereka mengambil posisi aman dan berbalik menyerang.

TRUT! TRUTUS!

Naruto dan anggotanya yang berada di lantai bawah pun berusaha menghindar dari tembakan lawan dan menyerang juga untuk membantu tim Bee.

Tembak menembak terjadi antar ketiga kubu. Militan berada di segala sudut sementara bagian atas ada tim Panther dan Black Fox memback-up dari bawah terjadi saling menembak antara ketiganya Kumo dan Konoha melawan pasukan Oto.

Naruto dan Shikamaru saling menatap. Ini adalah kesempatan emas bagi mereka, mereka bisa memanfaatkan Militan yang tengah bertempur dengan Tim Bee untuk menyelamatkan sandera terlebih dahulu. Naruto langsung melemparkan bom asap ke arah sisa lawan yang berada dilantai bawah, dan berhasil membutakan musuh. Mereka langsung memanfaatkanya dengan menyelinap menuju ruangan target. Sementara Tim Bee masih terus bertempur dengan Militan lainnya.

Di ruang operasi Sakura benar-benar berjuang untuk menyelamatkan nyawa pasien sedangkan Naruto berjuang dengan misinya untuk menyelamatkan dua anggota ABB yang diculik dengan mencabut nyawa lawan.

Mereka berhasil memasuki ruang penyekapan. Kedua sandera didudukan didepan sebuah bendara berlambang nada itu. Salah satu militan bersiap dengan katanya dan hendak menebas leher sandera...

TRUTUS! TRUT! TRUT!

Dua tentara militan tak bisa melakukanya lagi saat keduanya sudah tewas seketika saat menerima tembakan dari Tim Naruto.

Ahirnya tim Black Fox berhasil masuk lebih dulu dan menyelamatkan anggota ABB mendahului tim Panther yang akhirnya tiba. Awalnya kedua tim saling menodongkan senjata. Kedua tim lalu menurunkan senjatanya setelah mengetahui diri mereka masing-masing.

TRUTUS! TRUT!

Kapten Pasukan Panther dan rekannya hendak menghampiri mereka tapi dihalangi oleh Naruto dengan menembak ke arah lantai, beberapa centimeter dari kaki Bee.

Kapten Pasukan Panther beserta timnya pun langsung menodongkan senjata mereka kembali.

Naruto memberi kode dan menunjuk letak masalah sebenarnya dengan cara menunjukkan kedua jari ke arah matanya dan kemudian ke arah tali dari bom C4.

Kapten Pasukan Panther itu mengerti bahwa Naruto hanya ingin menyelamatkannya. Dia pun langsung memerintahkan pasukannya untuk menurunkan senjata.

Kiba dan Sai langsung melepaskan tali pengikat para sandera.

"The mission successful! The hostage is safe! Ready for extraction." Lapor Naruto. Naruto kemudian mendesah lega ketika mengakhiri misi itu. Dia lalu menatap Bee dengan seringai remeh. "Are you sure, your team doesn't need training from your grandmother, dattebayo? You are too slow!"

"Bastard!"


Di ruang operasi..

Sakura dan yang lainya berhasil melakukan operasi jantung dan tekanan darah pasien sudah normal.

"Nadi dan tekanan darahnya sudah normal." Ucap dokter Tenten sambil tersenyum.

"Hah.. untungnya kita sudah menanganinya.." ucap Sakura, lalu wanita pingkish itu melirik Shion. "kau harus menyelesaikannya."

"Akan ku selesai kan!" Balas Shion.

Mereka semua akhirnya keluar dari ruang operasi. Termasuk Sakura yang keluar dengan kesal dia menghentak-hentakan kakinya sambil berjalan menuju tempat pembuangan. Emosinya yang sejak tadi ditahannya pun meledak. Dia mulai membuka masker, sarung tangan dan baju operasinya dengan kasar. Lalu membuang semuanya dengan kesal ke tempat sampah.

"Kalau tak berbakat ya latihan sana!" Semburnya entah pada siapa. "Atau setidaknya sadar diri kalau memang bodoh!"

Tenten yang baru keluar dari ruanganruangan, hanya meringis melihat kekesalan Sakura.

".. Kenapa dia harus makan lebih banyak dari yang bisa dia lakukan sih?" Ucap Sakura lalu mendesah menenangkan segala emosinya.

"Ya si nona sok memimpin itu benar-benar mengacaukan segalanya." Ucap Tenten. Lalu dia memijat bahu Sakura. "Untung ada Dokter Haruno Sakura ini." Ucap Tenten menepuk bahu Sakura. "Ya Sakura-Chan... Kau benar-benar sudah berkerja keras hari ini."

"Hm Arigato." Ucap Sakura pelan. "Kalian juga." Lalu sakura menoleh nakal ke arah wanita berambut khas cina. Dia kemudian membungkuk dan memegang perut rata wanita itu. "Ya, kalian! Kau juga kerja sangat keras tadi.." Sakura memberi jeda. "Ngomong-ngomong, ibumu ini kenapa sih? Apa dia mau jadi single parent selamanya?"

"Hei siapa bilang hah?" Bantan Tenten. "Lihat ini" dia merogoh kantong pakaiannya meraih sebuah cincin.

Sakura terdiam sebentar. "Heeee senang sekali sekarang rasanya ya? Ckckck wanita kasmaran ini... jadi begitu ya kau sudah resmi menjadi tunangan mahkluk hijau itu?"

"Ya kami akan pakai couple ring." Ujar Tenten sambil menjulurkan lidahnya pada Sakura.

"Ckck.."

"Ah Lee-kun.." seru Tenten saat melihat Lee tengah berjalan kearah mereka.

Lee langsung berubah pucat. "Ah h-hai Tenten-Chan.. ah operasinya berjalan lancar kan?! Kau pasti mengerahkan seluruh semangat masa muda mu kan?" Tanya Lee.

makura menaikan satu alisnya. "Wah kalian ini konyol sekali ya? Lee, bisa-bisanya kau menanyai hal yang juga kau kerjakan!" Ucap Sakura pada Lee.

Lee hanya meringis. Kemudian mendekati Sakura. "Senpai, katanya kau ingin berbicara pada ku."

"Hah?" Sakura kembali menaikan alisnya kali ini lebih tinggi dari sebelumnya.

Lee berusaha memberi kode pada Sakura agar paham situasi daruratnya. Sakura akhirnya memahaminya.

"Ah Tenten-Chan bisa bantu aku? Pergilah sebentar keruangan ku." Pinta Sakura. "Aku perlu bantuan mu untuk menulis laporan Operasi. Nanti aku menyusul. Aku pinjam calon suami brengsek mu ini oke?"

"Tap—"

"Sudah! Sana! Sana! hus! hus!" Ucap Sakura sambil mengusir Tenten layaknya bebek.

"Baiklah.. sampai nanti Lee-kun."

"Dah, Tenten-Chan! Tenten-Chan Nanti aku akan menemui mu oke!" Ucap Lee. Dia masih terus melambaikan tangannya hingga Tenten menghilang dari pandangan.

"Hei! Mahkluk hijau yang di sana! Kali ini apa lagi masalah mu hah?" Dengan cepat Sakura menyemprot pria itu.

"Ak-aku kehilangan C-cincin ku. Mungkin masih ada di jubah operasi tadi..." Dia mulai mengorek tempat pembuangan bekas operasi tadi.

"Tsk Kau ini memalukan sekali, Rock Lee!" Ujar Sakura melipatkan tangannya di dada.

"Aduh jangan sampai tertanam ke dalam tubuh pasien operasi tadi!"

Sakura langsung membolakan matanya terkejut. "APA? Kau mau ku bunuh ya—"

"AAAAAAA DEMI GUY-SENSEI! yokatta, ketemu!" Ucapnya langsung melegakan Sakura yang sempat jantungan. "Benarkan masih ada di saku jubah operasi rupanya."

Sakura lalu memutarkan matanya kesal. Dia memberi kode Lee untuk berdiri tegap. "Berdiri kau!" Dan Lee mengikuti perintah Sakura, pria itu pun meneguk ludahnya ketika merasakan aura hitam yang sangat pekat disekitarnya.

KRETAK!

"Kau! Rapatkan gigi mu itu! Biar kupatahkan satu persatu!" Ucap Sakura bersiap dengan pukulannya. "SHANAA—EH KEMARI KAU PENCINTA HIJAU SIALAN!"

Ya pukulan itu tak pernah mengenai target setelah Lee berlari menghindari Sakura.

"Terima kasih Sakura-senpai! Tapi aku sedang tak berniat melihat semangat masa muda mu." Ucap Lee Sambil berlari.

"Tsk."


Sakura sedang menikmati waktu santainya di ruangannya bersama Shizune. Baginya ruangan ini adalah rumah keduanya atau bahkan bisa dibilang rumah aslinya, mengingat hampir setiap hari dia tidur di ruangannya itu dan meninggalkan apartemennya yang kosong. Sebagai penanggung jawab UGD memang memaksanya harus tetap standby di tempat itu.

"Aku heran, mereka menempel terus saat jam kerja dan saat istirahat mereka berdua juga berkumpul dengan kita." ucap Sakura. "Bagaiman bisa dia hamil begitu?"

Shizune berpikir sejenak, kemudian ia merona ketika melihat beberapa gambar imajinasi di otaknya. "Tapi rumah sakit ini sangat besar kan? Meraka m-munkin—ah l-lupakan."

"Heuu Shizune-nee, kau benar-benar punya pikiran mesum ya? Kau ini sama mesumnya dengan Kakashi-sensei ya?"

"Sakura! Jangan samakan aku dengan mahluk itu!" Shizune kemudian mengambil kue kering buatanya dan menyodorkannya ke mulut Sakura. "Ini makan!"

Sakura langsung memakannya. "Waaa seperti biasa kue buatan Neechan selalu enak!"

"Arigato!" Ucap Shizune. Lalu dia melihat Sakura yang tengah mendesah. "Ngomong-ngomong, Jadi bagaimana kabar pria yang waktu itu? Sudah menelpon?"

Sakura menggeleng lemas. "Belum." Jawabnya. Dia kemudian mengeser kursinya merapat ke komputer. "Kurasa dia bukan tipe yang sering menelpon wanita."

"Sebenarnya apa maksud ucapan mu kemarin?" Tanya Shizune bingung. "Mari kita lihat! Pria yang bertugas menggali memiliki luka tembak, dan dijemput oleh helikopter hmm... benar-benar misterius—ah misterius? j-jangan dia mata-mata?"

Sakura lalu menyanggah dagunya menatap layar monitor komputer. "Mungkin." Ujarnya masih sambil tersenyum bahagia menatap layar komputer.

Shizune langsung penasaran. Apa yang berhasil membuat dokternya ini jadi terlihat gembira setelah sebelumnya malas-malasan dan terus mengomel. "Sakura, kau sedang melihat apa sampai seperti itu?"

Sakura semakin tersenyum. "Foto pria itu." Sambil melihat ke layar komputer yang menampilkan hasil foto Rontgen. Mengetahui tatapan 'kau gila' dari Shizune, dia langsung menjelaskan. "Cuma foto ini yang ku punya darinya."

Shizune hanya diam tak bisa merespon. "Hahh.. aku penasaran, pria itu memakai apa sehingga kau yang selalu serius ini bisa jadi seperti ini?"

"Ya, Aku juga tak tahu." Sakura masih terus memandang hasil Rontgen itu. Dia bahkan mulai mengelus-elus layar komputer itu dengan jari telunjuknya. Membuat Shizune semakin megerutkan kening.

"Sakura sudah gila!" Gumam Shizune pelan sambil mengeleng-geleng.


Tiga hari setelah kepergian Naruto, layar tv rumah sakit menayangkan berita menyatakan bahwa dua anggota ABB telah diselamatkan.

"... menurut kabar, keduanya berhasil selamat, setelah tim gabungan pasukan Khusus Konoha dan Kumo berhasil memukul mundur militan Oto—Ah sebentar.." reporter itu menoleh kesebelasannya, ketika seorang prajurit Konoha dengan tudung dan masker yang menutupi sebagian wajahnya melewatinya. Reporter itu mengejar tentara itu, namun prajurit itu langsung mengenakan kacamata hitamnya dan terus berjalan. "Saat ini saya akan berusaha mewawancarai seorang pemimpin pasukan Khusus dari negara kita, Konoha. Permisi, apa kau Kapten pasukan Konoha? Aku hanya ingin menanyaimu sedikit, bagaimana kronologi terjadinya penyelamatan ini?"

Tentara itu diam sejenak tanpa menoleh, dia lalu pergi. "Tak ada yang bisa kukatakan pada mu!"

Sakura yang tengah berjalan di rumah sakit terhenti ketika mendengar suara yang familiar itu. Dia melirik TV itu sebentar, lalu memilih mengabaikannya, mungkin dia hanya tak sabar saja menanti pria itu sehingga suaranya muncul secara ttiba-tiba. Saat dia kembali berjalan, dia pun melihat Lee yang tengah berbincang dengan seorang petugas piket, menyadari kehadiran Sakura, Lee langsung mengikuti dan menyamakan langkah mereka.

"Sakura-senpai semangat masa muda mu terlihat sangat membara, sudah makan belum? Lihat ini aku sedang menggertak gigi ku karena semuanya masih ada." Sambil mengertakan giginya, entah apa maksudnya. Tapi yang Sakura tahu, monster hijau itu pasti ingin membuatnya kesal.

Sakura tak berniat membalas Lee. "Hentikan. Aku tak ingin menghancurkan mood baik ku. Aku bebas tugas hari ini. Jangan sedikit pun dari kalian menelepon atau menghubungi ku dulu! Aku tak akan membalasnya."

Lee berhenti memandangi punggung wanita itu. "Ada apa memangnya?"

Sakura menoleh sebentar sambil tersenyum, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya. "Aku ada kencan hari ini."

Lee lalu memandang bingung Sakura yang saat ini benar-benar kacau. Lihat lah penampilan wanita itu, dia masih memakai sebuah kardingan abu-abu yang Lee ingat, dipakai wanita itu semalam dan sekarang dia mau kencan dengan penampilan begitu? Lee tak habis pikir. "Senpai, kau tidak pergi dengan penampilan begitu kan? Jangan merusak semangat masa muda teman kencan mu dengan penampilan mu lho!"

Sakura hanya melambaikan tangan tanpa menoleh sedikit pun. Sakura keluar dari rumah sakit dan saat keluar dia menghirup udara sore lalu melakukan sedikit streching tanpa menyadari didepannya sudah ada Naruto. Naruto yang bersandar pada mobilnya tersenyum sendiri melihat tingkah Sakura.

"Ah!" Pekik Sakura saat menyadari bahwa ada Naruto. Ia pun merasa malu dan menutupi wajahnya yang kusut.

"Bagaimana kabarmu?" Naruto berjalan menghampiri Sakura namun dia menaikan satu alisnya ketika Sakura terus menghindarinya.

"Kenapa kau cepat sekali datangnya? Janjinya kan 2 jam lagi. Apa jamku yang salah?" tanya Sakura yang masih menutupi wajahnya.

"Aku tidak sabar untuk hari ini, jadi aku memang sengaja datang lebih awal. Rasanya aku senang sekali, ada wanita cantik yang bisa ku tunggu hari ini, dattebayo!"

"Tapi, kau tak bisa datang 2 jam lebih awal dari rencana!" balas Sakura.

"Sudahlah itu semua karena sifat tak sabar ku untuk menemui mu... Tapi ngomong-ngomong, umm kenapa kau tak mau melihatku? Dan kenapa kau menutup wajah mu seperti itu, dattebayo?" Naruto pun berusaha melihat wajah Sakura, sementara Sakura terus menghindar. "Hei, hei! Saku— Aish kau ini... kenapa kau terus menghindar?"

"Karena aku malu, Baka! Aku tak pakai make up, penampilanku juga kacau. Aku mau pulang, terus mandi dan ganti baju."

"Tsk jangan berlebihan Sakura-chan. Tak perlu mandi dan ber-make pun kau itu sudah cantik sekarang, dattebayo!"

"Benarkah? serius?" tanya Sakura, Naruto hanya menganggukkan kepalanya. "Apa karena inner beauty-ku ini? Jadi, aku tak perlu mandi kan?"

Naruto meringis mendengar pertanyaan terakhir. "Aa aku baru ingat, pernah membaca sebuah artikel yang membahas 'Mandi itu sangat dianjurkan untuk kencan pertama' lebih baik kau masuk ke mobil ku, aku akan mengantarmu pulang, agar kau bisa mendapatkan penyegaran badan mu terlebih dahulu, dattebayo!"

"Huh kau pasti tidak mau aku tak mandi kan?" bibir wanita itu pun langsung manyun. Sakura pun berjalan menuju mobil Naruto. " Huh dasar! Bilang saja lalu aku ini jelek!'

Naruto hanya tersenyum singkat melihat Sakura yang tengah ngambek.


Mereka berdua akhirnya sampai di apartemen Sakura yang tak terlalu jauh dari Rumah Sakit.

"Masuklah Apartemen ku ini bersih kok." Ucap Sakura mempersilahkan Naruto memasuki rumahnya.

Naruto memandang Sakura aneh. "Apa-apaan itu? Biasanya orang akan mempersilahkan tamunya masuk dan mengatakan: Maaf rumah ku agak berantakan."

Sakura nyengir. "Habisnya aku tak sempat untuk membuatnya berantakan."

"Dasar sok sibuk!" ucap Naruto. Sakura hanya menjulurkan lidahnya mengejek. Naruto tertawa kecil lalu memasuki apartemen Sakura. Apartemen itu sederhana tapi sangat nyaman, ya cukuplah untuk menjadi tempat berlindung seorang wanita single.

"Baiklah Naruto-kun~ tunggu sebentar, aku cuma keramas saja." Ucap Sakura. "Tapi... Umm aku lapar sekali, sejak tadi aku belum makan apa-apa. Mau pesan makanan? Sekalian saja kita makan disini." Tanyanya dengan ragu.

Naruto memandang Sakura dengan sedikit kecewa. "Yah sebenarnya aku ingin mentraktir mu makan enak diluar, dattebayo!"

"Tak masalah, kau masih bisa mentraktirku disini, aku akan tetap senang kok... karena aku makan ditemani oleh pria tampan." Ucap Sakura sambil merona. Naruto sendiri, hanya dapat tersenyum canggung. Sakura bergegas ke kamar mandi. "A-aku punya beberapa brosur di kulkas. Tolong pesankan ya."

Naruto melirik kulkas Sakura sebentar. "Kau mau makan apa?"

"Makanan kesukaan mu saja, terserah!" Ucap Sakura dari dalam kamar mandi.

"Heee.. kemarin-kemarin dia memarahiku memakan ramen, sekarang dia malah ingin makan ramen." Gumam Naruto pelan sambil menggeleng-gelengkan. "Dia sangat aneh... dan juga sangat cantik, dattebayo!"

Naruto meraih ponselnya untuk memesan makanan yang ada di brosur, setelah memilih beberapa brosur yang membuatnya tertarik. Setelah memesan makanan, Naruto melihat-lihat foto-foto Sakura yang tertempel di kulkas, ia mengambil satu foto dan melihatnya, foto yang diambil sepertinya saat Sakura berulang tahun, difoto itu juga wanita itu dikelilingi oleh teman-temannya di rumah saki. Lalu tanpa sengaja ia melihat ada surat pemberitahuan:

'Pemberitahuan hari ini akan ada pemutusan air sementara'

Naruto melirik pintu kamar mandi Sakura sebentar.

Sementara Sakura yang berada di kamar mandi, benar-benar seperti yang dia katakan dia hanya keramas saja seperti yang dia katakan. Dia mengambil conditioner dari sebuah keranjang lalu menggunkan conditioner pada rambutnya namun sialnya, sebelum sempat membersihkan rambutnya dengan air, tiba-tiba air dari keran kamar mandinya mati.

"A-apa-apaan ini?" Dia menekan keran air namun tak mengeluarkan setetes air pun. "Kenapa ini? Tsk ayolah... aku bahkan belum membilas rambut ku ini, Kami-sama." Sakura mulai cemas karena tak bisa membilas rambutnya. Dia berpikir sejelas kemudian mengambil handuk dan mengelap rambutnya dengan handuk itu dan menutupi kepalanya. Setelah dirasa beres dia pun keluar... "Haaaa... Segarnya bila sudah mandi." Ucapnya berpura-pura. Lalu dia berdiri didepan Naruto yang tengah duduk di pantry memegang buku resep namun tak membacanya karena terus menatapnya. "Apa sudah memesan?"

Naruto masih menatap dan melihat ke arah rambut pink Sakura dengan tatapan aneh.

"Kenapa menatap ku seperti itu?" Tanya Sakura mulai gugup.

"Rambut mu... apa sudah kau bilas?" Tanya Naruto. Lalu dia mengambil surat pemberitahuan tadi dan menunjukannya pada Sakura. "Katanya disini sih air bakal dimatikan mulai... jam 4 sore, dattebayo."

Sakura terdiam saja menahan malu tak mau menanggapinya, dia berbalik dengan cepat dan membuka kulkasnya mengambil dua botol air setelahnya ia berlari cepat kembali ke kamar mandi.

Naruto tersenyum jahil. "Air itu kan dingin sekali. Kau tak mau aku menghangatkannya dulu, dattebayo?"

"Tidak perlu dan diam di sana!" Pekik Sakura sambil masuk ke kamar mandi.

Naruto tertawa keras lalu tersenyum kemudian. "Ya dia memang aneh, dattebayo!"

Beberapa air dingin kemudian...

Sakura sudah selesai dengan urusan penyegaran tubuhnya. Mereka tengah menikmati makanan pesanan mereka tiba.

SLURP!

Setelah menyantap ramennya Naruto kembali memandang Sakura dengan senyum rubahnya. "Aku penasaran..."

Sakura memandangnya dengan kesal. "Diam! Jangan penasaran!"

Naruto tersenyum. "Memangnya kau tahu kenapa aku penasaran? "

"Dari ekspresi mu saja sudah terlihat kalau kau ingin mengejekku lagi."

"Ekspresi apanya? Inilah yang namanya ekspresi berkarisma, dattebayo!"

Mendengarnya Sakura hanya tersenyum melihat tingkat percaya diri Naruto, lalu ia menyalakan lilin di lemari sebelahnya. "Memangnya kau penasaran kenapa?"

"Aku hanya ingin bertanya... Apa... Apa kau selalu memikirkanku?"

"Tentu saja. Kau sendiri bagaimana, Namikaze Naruto?" jawab Sakura sambil bertanya.

"Aku selalu memikirkanmu. Aku kan pria sejati." ucapnya sambil menepuk-nepuk dada.

Sakura tersenyum malu. "Terima kasih, untuk tak membahas tentang insiden rambutku tadi. Oh ya kita bisa minum cappuccino dingin di bioskop saja nanti."

"Setuju! Setelah melihat mu keramas dengan air es, aku juga jadi mau minum... air dingin sekarang." Kini ia jadi tertarik menyinggung Sakura, ketika wanita itu sendiri yang mulai membahasnya.

"NARUTO!" Pekik Sakura kesal.


Mereka berdua saat ini sedang berada di bioskop, mereka duduk sambil meminum capuccino menunggu film ditayangkan.

"Kau tahu apa saat yang menyenangkan dari menonton di bioskop?" tanya Sakura pada Naruto. Naruto menoleh sejenak. "Saat sebelum lampunya dipadamkan."

Naruto tersenyum sebentar kemudian mendekat ke kuping Sakura "Dan ini adalah saat yang paling menyenangkan dalam hidupku. Aku duduk bersama wanita cantik saat lampu itu akan dipadamkan, dattebayo!" Bisik Naruto merayunya.

"M-mesum! Bukannya aku ini... 'Orang tua' bagimu?"

"Oh iya! Aku mungkin salah liat karena lampu di sini redup sekali." Jawabnya. Sakura hanya mendecih meresponnya. "Oh, kau baru saja menghardik ku tentang prinsip ku kan?"

"Iya, terus? Dulu kubilang aku termasuk golongan 'Wabuta cantik' kau malah menanyaiku dengan remeh! Berarti aku ini 'Orang tua' bagimu."

Naruto memperbaikai posisi duduknya menyamping. "Sebenarnya berapa umurmu? Ini curang! Kau pasti tahu umurku dari catatan kesehatanku."

"Aku ya? Umm... ini semua kan karena 'Niichan' tadi menggoda ku duluan sih."

"Ooooh, begitu, ya? Jadi aku ini 'Niichan'mu ternyata." ucapnya sambil mengaduk capuccinonya.

Sakura tersenyum remeh. "Tidak, kok. Aku ini Neechan mu baka! Aku lebih tua darimu."

"Tidak mungkin. Coba mana tanda pengenal mu. Aku takut kau bahkan masih dibawah umur untuk berpacaran." Ucap Naruto tak percaya pada wanita pink itu. Sakura hanya tertawa mendengar ucapan kesal Naruto, mereka tersenyum bersama.

DRRT! DRRT!

Ponsel Naruto berdering. Pria itu langsung meraih ponselnya melihat siapa yang mengganggu. Tepat setelah itu senyumannya langsung menghilang. Dia kemudian mengangkatnya.

"Sonkei!" Ucap Naruto. Sakura yang masih tertawa langsung menoleh. "Kapten Namikaze Naruto siap melapor!" Naruto lalu memperbaiki posisi duduknya, menjauh dari Sakura. "Ya, hai.. hai.. Sonkei!"

"Ada apa?" Tanya Sakura.

Naruto menoleh dengan tatapan bersalah. "Umm... Kurasa aku harus pergi."

"Sekarang?"

"Ya... gomen ne, Sakura-chan." Ucapnya kembali menoleh menatap Sakura dengan sangat bersalah.

"Apa aku ditinggalkan lagi?"

Naruto mendesah pelan. "Sakura-Chan, a-aku.. aku sungguh menyesal. Kita bisa nonton lain kali saja. Kita bisa pulang sekarang aku akan mengantarmu."

"Tidak, tidak apa-apa. Aku bisa menonton sendiri, kau bisa pergi."

Naruto lantas mengelengkan kepala. "Jangan begitu, ayo biar ku antar."

"Tidak apa-apa, kau bisa pergi." ucap Sakura mulai kesal.

Naruto terdiam memandangi Sakura dengan perasaan bersalah. Wanita itu tampak sangat kecewa dan itu sangat menyakitkan bagi Naruto terlebih dia lah yang membuat wanita itu kecewa.

"Aku akan meneleponmu nanti." Naruto lalu pergi meninggalkannya.

Sakura hanya diam menatap lurus ke layar bioskop dengan kosong.

DRRT! DRRT!

Tak berselang lama setelah Naruto pergi, Sakura sendiri juga mendapat telepon.

"Senpai, ini aku, aku tidak ingin mengganggu tapi..."


RS Konoha..

Sakura berlari dari halaman depan RS Konoha, menuju pintu utama dengan raut eskpresi sedih, marah, dan kecewa. Kebetulan Kakashi, Lee dan Shizune yang berada di loby melihatnya berlari terburu-buru dengan tatapan iba.

"Kau yang menghubunginya?" Tanya Kakashi pada Lee sambil menghentikan acara membacakan buku maksiatnya.

Lee mengangguk-angguk kepala dengan sedih melihat punggung Sakura. "Mereka kejam sekali ya... Padahal sudah jelas dunia mengatakan bahwa dia yang terpilih—"

"Tidak... Sudah jelas dunia yang kau maksud.. menunjuk Shion. Tapi kali ini dia pasti akan lebih tertindas oleh temannya ketimbang oleh senpai-nya. Sakura pasti mengomel." Kakashi memotong ucapan Lee.

"Hidup Sakura sepertinya hanya untuk ruang operasi." Kata Shizune menatap sedih punggung Sakura yang menjauh.

"Dan itulah yang lebih menyedihkan. Dia harusnya tak hidup seperti itu. Keluarga Shion itu adalah salah satu pemegang saham terbesar di K.I Group. Sakura tak kan mungkin terpilih." Kata Kakashi.

"Kenapa mereka tak adil sekali? Seorang dokter yang mengisi tempat itu kan harus memiliki kemampuan." Lee merasa kesal karena Sakura diperlakukan tak adil.

"Siapa bilang? Kemampuan bukanlah tujuan utama. Dokter itu berbicara tentang kekayaan setelah itu barulah kemampuan." Jelas Kakashi.

"Jadi, kau setuju dengan keputusan ini, hah?" tanya Shizune pada Kakashi dengan kesal.

"Aku kan hanya bicara realita saja." katanya sambil membaca kembali buku maksiatnya.


"Anda bilang, saya yang akan mendapatkan posisi itu. Anda bilang, saya akan berhasil kali ini. Saya sudah interview sebanyak 3 kali. Interview pertama, saya gagal karena saya masih muda. Yang kedua, karena anda harus membantu salah satu dokter senior yang membantu disertasi anda." protes Sakura ketika sampai ke ruangan kepala Rumah Sakit.

"Apa? Apa aku yang memutuskan kelulusanmu?" balas Orochimaru.

Sakura terdiam sejenak untuk menenangkan diri. "Ya, aku tahu aku tak bisa menuntut apa-apa. Aku tahu, koneksi adalah bagian penting dalam kompetisi ini. Tapi, siapa yang akan lulus selanjutnya? Menantu Menteri? Keponakan Direktur rumah sakit? Apa tidak bisa sekali saja, koneksi itu tidak berlaku?"

"Sepertinya kau tak percaya diri untuk mengulang interview-mu untuk keempat kalinya, dokter Haruno."

"Ketua—"

TOK! TOK!

Suara ketukan pada pintu sukses menghentikan perdebatan mereka. Pintu ruangan itu dibuka dan menampakan sosok wanita berambut pirang pucat dengan mata lavendernya.

"Wah Professor Shion. Kami sudah selesai berbicara." Orochimaru lalu berdiri dan memakai jasnya. Sakura hanya terdiam memandang Shion dengan terkejut karena mendengar bagaimana Orochimaru memanggil Shion. "Serahkan saja materi siaran mu pada dokter Haruno... Dan datanglah ke ruangan prof. Tsunade kita jalan bersama dengan Professor Tsunade dengan mobilnya, untuk merayakan keberhasilan beliau yang ditunjuk sebagai menteri kesehatan."

"Ya aku akan menyusul kesana." Ucap Shion dengan suara lembut yang membuat Sakura jijik.

"Ketua!" Saat Sakura hendak mengejar Orochimaru, Shion langsung menghalangi Sakura.

"Hei!" Serunya sambil menghalangi Sakura dengan sebuah buku materi siaran. "Kau harus menggantikan ku siaran besok. Para Professor mau merayakan keberhasilan Tsunade-sama."

Sakura lalu menatap tajam Shion. "Kau memintaku menggantikanmu?

"Iya. Aku adalah profesor sekarang, kau harus mendengarku. Karena ini adalah live, jangan sampai ada yang salah, ya. Kau harus menghafal kata demi kata. Rumah sakit membayar banyak untuk broadcast ini." ucapnya sambil menyerah materi siaran itu ke tangan Sakura.

Dengan kesal Sakura membanting materi itu ke lantai. "Bagaimana jika aku tak mau?"

"Kau akan tahu akibatnya nanti."

"Jadwal makan malammu dan syutingnya tidak bersamaan, kenapa kau harus digantikan?"

"Aku mau berpesta sepanjang malam. Ini juga pesta untuk merayakan keberhasilanku menjadi profesor. Aku tak bisa bangun pagi besok." Jawab Shion angkuh.

"Kau memang licik! Apa kau ini tak punya malu? Tak tahu malu?" ucapnya sambil berkacak pinggang.

"Mungkin saja, sih. Meskipun memalukan, setidaknya aku sudah menjadi profesor. Tapi, kau juga pasti merasa malu karena tak bisa menjadi apa-apa, Kan?"

"Bocah sinting ini ya.."

"Apa kau bilang?!"

"Kau dengar aku baik-baik, sinting. Aku akan merasa kasihan pada pasien mu nanti."

Shion lantas melempar tasnya. Dan langsung menjambak rambut merah muda Sakura dengan brutal. "Jangan main-main dengan ku!"

Sakura meringis menahan rasa sakit di kepalanya. "Uggh... itu karena kau sama sekali tak punya rasa malu! Lepas... Kan tangan kotor mu nenek sihir!"

"Grr aku jadi semakin kesal pada mu!" Ucap Shion sambil semakin menjadi-jadi menjambak rambut Sakura. Dengan kesal Sakura pun membalas menjambak rambut pirang Shion. "Ittai! Beraninya kau!"

Jadilah mereka saling menjambak satu sama lain.

"Kyaaa lepaskan sialan!"

"Kau duluan yang lepaskan!"

"Lepaskan!" Pekik Shion kesakitan. "Akan ku gunakan segala macam cara untuk menghentikan mu menjadi seorang Professor—Kyaa!"

"Dasar sinting! Lepaskan saja tangan kotor mu!"

"Kau duluan yang lepaskan!"

"Akan ku bunuh kau sekarang! SHANNNAROOOO!"

Lee, Kakashi dan Shizune memasuki ruangan itu dan melihat pertengkaran kedua wanita itu dengan sangat terkejut, mereka langsung mencoba melerainya.

"Lepaskan Sialan!"

"Kau dulu!"

Dengan cepat Lee menarik tubuh Sakura, sedangkan Shizune menarik tubuh Shion, sementara Kakashi melerai mereka dari tengah.

"Kenapa malah bertengkar di ruangan ketua hah!" teriak Kakashi. Keduanya masih terus berusaha saling menjambak. "Hentikan sekarang! HEI! KALIAN BERDUA HENTIKAN!" Kakashi lalu berkacak pinggang melihat keduanya. Keduanya akhirnya terpisah dan menghentikan pertarungan mereka. Sakura hanya menunduk, sedangkan Shion berdiri angkuh setelah merapikan dirinya.

"Kenapa sih aku ini? Aku pasti sudah gila..." Ucap Sakura kemudian memutuskan pergi dari ruangan itu setelah membawa materi siaran.

"Hei Sakura!" Panggil Kakashi.

"Sudah biarkan dia pergi. Dia perlu menenangkan diri." Ujar Shizune.

Sakura sendiri berlari hingga akhirnya sampai di jembatan antar gedung lalu dia duduk di salah satu jendela. Dia menatap langit sejenak lalu mendesah sebentar. Dia kemudian hanya dapat menangis..

"Hiks..." kemudian dia membuka buku materi yang diberi Shion tadi dan membacanya sambil terus menangis.

Kecewa. Sedih. Marah. Menjadi satu itulah perasaan Sakura saat ini. Ini benar-benar hari terburuknya padahal awalanya hari ini berjalan dengan baik. Lihat saja, pertama, Naruto meninggalkannya lagi saat mereka berkencan, setelahnya dia mendapat kabar bahwa dia telah gagal menjadi Professor. Dan yang paling membuatnya stress bukan main adalah ketika dia mengetahui bahwa yang terpilih menjadi Professor malah seorang Shion, yang pada kenyataannya pada operasi sebelumnya telah mengacaukan semuanya. Dia benar-benar kecewa bukan main dan merasa diperlakukan tak adil, padahal dia sudah memberi yang terbaik untuk rumah sakit ini namun. Hanya kepahitanlah balasan yang didapatnya.

"... U-untuk... Hiks... Pasien yang diduga Aritmia.. hiks..." Hapalnya sambil menyekat air matanya yang membanjiri pipinya. Lalu dia menarik napasnya dalam-dalam. "Untuk pasien yang diduga Aritmia.. EKG 10ml harusnya—hiks... Susah sekali menghapalnya sih... Hiks..."

Dia lalu kembali menangis dan membanting materi itu ke dinding beberapa kali. Kemudian kembali berusaha untuk tenang. "Untuk pasien yang diduga Aritmia... Aritmia.. Hiks... Hiks... Tuhan.. hiks..."


Keesokan harinya...

Naruto bersama timnya memasuki kamar setelah selesai menjalankan tugas. Mereka melepas semua perlengkapan perang mereka, dan bersiap membersihkan diri mereka yang penuh lumpur.

Naruto tak sengaja melihat boneka Kurama-nya terjatuh, dia berjalan mendekati meja utama ruangan itu, dan memperbaiki posisi Kurama.

Pria pirang itu menoleh ke anggotanya. "Hahh... Kerja bagus hari ini!"

"Anda juga berkerja keras!" Ucap para anggotanya serentak.

"Periksa seluruh peralatan kalian sebelum istirahat!" Perintah Shikamaru pada anggota lainya.

"Hai!"

SREKK!

Pintu kamar mereka kembali di buka seorang berpangkat Kapten. Lalu seorang pria berusia 60an dengan pangkat bintang tiga memasuki kamar itu.

Naruto yang menyadarinya langsung membariskan anggotanya.

"Sonkei!"

"Tak apa!" Ucap Inoichi, nama jenderal bintang tiga itu.

"Istirahat ditempat!"

"Seperti biasa, performa kalian sangat bagus dalam mengantikan maupun membackup tim Ne." Lalu dia memandang satu persatu kelima anggota tim khusus itu. "Apa ada yang terluka?"

"Tidak ada!" Jawab Naruto. "Semuanya kembali tanpa terluka."

Inoichi lalu mengangguk bangga. "Arigato. Akhir-akhir ini kalian banyak melakukan operasi di dalam mau pun di luar negeri. Jadi sudah ku putuskan untuk mengirim tim Black Fox... Berlibur selama 8 bulan."

Kelima pria itu menoleh dengan terkejut, mereka semua minus Kiba, paham apa maksud liburan disini..

"Izin bertanya. Kemana?" Tanya Naruto.

Inoichi lalu memandang Naruto. "Ke pangkalan Akuma... Kalian punya waktu dua minggu untuk bertemu keluarga..." dia pun memberi jeda sambil memandang wajah Shikamaru. "Dan... Pacar kalian."

Shikamaru hanya diam.

"Baik berkemas dan nikmati waktu kalian sebaik mungkin! Bubar!" Ucap Inoichi lalu berbalik.

"Sonkei!" Mereka pun memberi hormat pada jenderal bintang tiga itu.

Naruto terlihat sangat kecewa dengan 'liburanya' itu. Dia jadi tak bisa menemui dokter Sakuranya selama 8 bulan lamanya.

"Haaaa... Liburan apanya!" Keluh Sai tersenyum palsu.

"Liburan ke mana? 8 bulan? Ke Akuma? Aku tak tahu ada kota bernama Akuma? Apa tempat wisata?" Tanya Kiba.

"Akuma itu adalah markas utama militer Konoha di Ame. Dan liburan itu kata lain dari pengerahan di tempat ini." Jawab Neji. Sambil membuka rompi anti pelurunya. "Kita tak akan memakai baret hitam ini lagi selama 8 bulan kedepan karena kita akan memakai baret pasukan ABB. Jadi tak kan ada misi dadakan yang mengganggu lagi!"

Kiba langsung tersenyum. "YOSHAAA! Itu artinya kita akan tinggal menetap di luar negeri selama 8 bulan." Teriak Kiba girang sambil menerima tos dari Sai.

Ya setidaknya mereka tak mendapat tugas dadakan seperti sebelumnya. Meskipun harus bertugas ke luar negeri selama 8 bulan. Namun ekspresi kesenangan sama sekali tak tampak diwajahnya Naruto mau pun Shikamaru.


Setelah membersihkan diri Naruto langsung pergi ke rumah sakit karena sejak tadi Sakura tak mengangkat teleponnya. Kemudian di loby rumah sakit dia melihat Shizune.

"Ano.. apa Dokter Sakura sedang ada operasi, ya?" Tanya Naruto pada Shizune. "Sejak tadi ku telpon dia tak menjawab."

Shizune tersenyum lalu melirik ke layar elektronik. "Dokter Sakura? Umm sekarang... Disana."

"Aritmia..."

"Sedang siaran langsung." Tambah Shizune, Naruto menoleh ke layar elektronik itu.

"Aritmia bisa dikategorikan berbeda-beda. Kadang cenderung meningkat sesuai usia." Naruto berjalan mendekati layar elektronik itu.

"Bagaimana penanganan Aritmia yang tersedia saat ini?" Tanya pembawa acara.

"Saat mendiagnosis dan menangani Aritmia, kita bisa menggunakan EPS, yang merupakan metode baru." Naruto terus fokus menontonnya. "Efek sampingnya bisa diminimalisir."

Naruto tersenyum melihat bagaimana tak ada sedikitpun rasa gugup pada Sakura. "Begitu. Umm... Anda bilang ini adalah pertama kalinya tampil di TV, tapi anda tak terlihat gugup. Dan saya lihat anda bisa menjelaskannya dengan baik."

Sakura tersenyum merona mendapat pujian. "Jika tak ada meja ini, kalian pasti bisa melihat kaki ku gemetaran luar biasa."

"Hahahaha.."

Naruto tertawa mendengar penjelasan Sakura yang menurutnya sangat lucu. "Hee sudah pandai bercanda ya?"


Naruto berada di depan apartemen Sakura, ia sejak tadi menunggu wanita itu. Dia pun melihat mobil Sakura memasuki tempat parkir apartemen itu dan melihat Sakura turun dari mobil. Naruto langsung menghampirinya. Tapi, tak ada satupun yang memulai percakapan. Mereka hanya saling menatap dengan tatapan mereka yang terlihat sangat kaku.

Beberapa saat kemudian..

Mereka berdua sudah berada di sebuah kafe. Duduk di dekat jendela saling berhadapan.

Tak ada yang memulai pembicaraan, keduanya masih terus memilih berdiam.

"Untuk kemarin, sekali lagu aku minta maaf.. aku meninggalkan mu seperti itu." Naruto lah yang pertama memecahkan suasana kaku mereka.

Sakura sama sekali tak memandang Naruto, dia memilih memandang keluar jendela. "Yang mau ku dengar.. penjelasan mu, bukan permohonan maaf mu." Ucapnya. "Kali ini kau pergi kemana? Apa dijemput helikopter lagi?"

Naruto hanya meringis mendengarnya. "Tidak, aku tak pergi jauh..." Naruto lalu mendesah. "Aku dilarang... Untuk cerita panjang lebar."

Sakura lalu tersenyum paksa sejenak dan akhirnya menatap Naruto kosong. "Begitu, ya. Ne... Kau bukan mata-mata, 'kan?" Tanya Sakura. "Hariku sungguh berat hari ini. Tapi, sekarang dan mungkin setelah ini... aku hanya akan selalu memikirkanmu. Ke mana pria yang kusuka ini pergi? Apa yang sedang dia lakukan? Tapi, bahkan setelah kita bertemu. Kau tak bisa... mengatakan apa-apa, karena kau dilarang hanya karena peraturan."

Naruto hanya menunduk. "Gomen."

"Sebenarnya apa kau ini Pasukan Khusus?"

"Semacam itulah."

"Kau bilang, kau cuma melakukan pekerjaan buruh seperti menggali, di unit mu. Tapi, kau punya luka tembak... itu artinya kau pernah tertembak. Jadi, apa kau juga melakukan penembakan juga? Itu artinya... Kau bisa membunuh... ataupun terbunuh. Itu adalah pekerjaanmu, 'kan? Apa kau hanya akan melawan orang-orang yang jahat?"

Naruto tak berniat menjawab karena tahu Sakura masih belum menyelesaikan ucapannya.

"Aku menghabiskan 12 jam sehari untuk berjuang menyelamatkan orang. Itulah yang aku lakukan. Aku bertarung untuk menyelamatkan kehidupan seseorang. Tapi, yang kau lakukan itu... adalah melindungi kehidupan orang lain melalui kematian orang lain juga."

Naruto mengangguk kaku. Dia masih terdiam sampai akhirnya mendesah lalu menatap dalam emerald Sakura. "Aku adalah seorang prajurit. Prajurit harus mengikuti perintah..." Ucapnya memberi jeda. "Terkadang apa yang ku anggap baik itu, tak dianggap baik oleh orang lain. Meskipun begitu, aku harus tetap menjalankan misi. Sejauh ini...aku sudah kehilangan 3 rekan ku selama menjalankan misi." Ucap Naruto dia pun mengingat kejadian para rekannya yang mati dalam misi bersamanya. "Dan alasan kami melakukannya...karena itu adalah kewajiban dan harus diselesaikan. Aku dan juga keluargaku. Kau dan juga keluargamu. Dan semua orang yang kita sayangi. Aku percaya bahwa aku bertempur untuk perdamaian dan kebebasan tanah air kita."

Sakura masih terus memandang dengan tatapan kosong. "Aku adalah seorang dokter. Aku percaya kehidupan itu suci, dan tak ada nilai atau ideologi yang dapat menggoyahkannya."

Naruto mengangguk pelan. "Begitu, ya."

Sakura menggigit bibirnya. "Maaf, sepertinya... sepertinya h-hubungan ini tak berjalan sesuai harapan ku." Kata Sakura dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan tangis.

"Aku mengerti." balas Naruto dengan senyuman pahitnya, karena telah gagal mendapatkan wanita impiannya.

Sakura lalu bangkit berdiri. "Aku harus pergi."

"Senang bisa mengenalmu... Jaga dirimu baik-baik." Kata Naruto. Dengan berat hati ia menyetujui keputusan Sakura.

Sakura lalu pergi, Naruto hanya duduk diam di mejanya tak berniat mengejarnya. Karena itu juga tak terlalu berguna dia tak akan bisa mengubah apa-apa mengingat ia juga akan tugas ke luar negeri selama 8 tahun.

"Haa... Jadi begini rasanya patah hati? Hahahaha..." Ucap Naruto sambil tertawa pelan. "Sakit sekali..."


Naruto berada di kamar mandi, saat ini dia sedang menikmati shower kamar mandi itu lalu ia melihat cermin dan mulai mengelap cermin yang berembun itu dengan tangannya dan diam memandangi dirinya sendiri. Terlihat sangat kusut dan masih terus memikirkan kejadian yang baru saja terjadi.

Lalu pintu toilet terbuka dan menampakan Shikamaru yang memasuki toilet tersebut.

"Kau sudah pulang?" tanya Naruto sambil menoleh melihat Shikamaru.

"Kau sendiri? Bagaimana kencan mu dengan dokter itu?"

Naruto tak berniat menjawab dia langsung menanyakan hal lain pada Shikamaru. "Apa kau mau menemui Ino? Kalian tak akan ketemu selama 8 bulan lho."

Shikamaru menoleh. "Kau sendiri, belum menjawab pertanyaan ku, kau sudah menemui dokter itu?"

Naruto menggeleng menanggapi pertanyaan itu. "Berikan pisau cukurnya."

"Sersan Sai bilang... wanita Amegakure itu cantik-cantik; Seperti seorang artis. Dan juga seperti seorang penyanyi, mereka memang beruntung sekali berdekatan dengan Uzushio dan Kumo." ucap Shikamaru menghibur Naruto. Dia tahu komandannya ini sedang bersedih karena tercetak jelas di wajahnya.

Naruto menoleh lalu tertawa pelan, Shikamaru hanya tersenyum. Ya nasib percintaan mereka sepertinya sama, sama-sama sial.


SOLDIER X DOCTOR


8 bulan kemudian...

Pos Gedo Mazou, Amegakure.

Pasukan tentara sedang melatih fisik mereka dengan berlari bersama dibawah terik matahari dibawah pimpinan pria berambut pirang. Mereka berlari bersama sambil bernyanyi dengan semangat.

"~Pria Tampan~ Ada di mana-mana... Tapi, akulah pria sejati yang sesungguhnya. Pria yang sangat hebat. Kami tak pernah kalah. Dengan penuh kebanggan Dan juga cinta~ Akulah pria sejati yang sesungguhnya. Pria yang sangat hebat~"

Lalu sorenya, para tentara sedang melakukan tugas mencari ranjau sekitaran desa. Ya setelah mengalami masa perang saudara dan kematian Hanzou, seorang diktator haus kekuasaan, Ame yang sempat terpecah menjadi Ame Selatan dan Utara akhirnya bersatu dan memasuki masa perbaikan. Namun tetap saja warga dari Ame masih saja hidup sengsara, hidup kekurangan makanan dan gizi yang buruk. Meskipun begitu anak-anak yatim piatu Ame tetap menikmati kedamaian mereka. Mereka berenang dipantai, berlarian, dan bahkan menaiki sebuah tank yang sudah tak berfungsi lagi. Oleh karena itu pihak Aliansi Bangsa-bangsa sendiri meminta baik itu negara super power semisal Konoha dan Kumo, maupun negara maju lainya untuk mengirim tentara mereka menjaga kondisi Ame saat ini dan terus menyisir bekas pertempuran untuk mencari senjata berbahaya seperti ranjau aktif yang tertanam agar tak membahayakan pada anak kecil.

Selain itu mereka juga merekrut volunteer untuk menjadi relawan ke negara yang baru memasuki era perdamaian ini. Dengan banyaknya bantuan Negara itu mulai bangkit meskipun masih banyak desa dan tempat yang hancur setelah mengalami pertempuran.

Naruto sendiri saat ini sedang tidur di mobil sendiri menikmati angin sore khas dari Ame. Dia dulu pernah ditugaskan disini untuk misi penyelamatan tentara Kumo yang di sandera pihak Hanzou. Saat itu Udara di Ame benar-benar berbeda dari saat ini. Dulu kesudut kemanapun ia pergi Ame, hanya memberinya aroma mesiu dan juga bau busuk bangkai para tentara yang berperang. Dan saat ini ia begitu menikmati suasana hingga tak sadar telah tertidur dengan baret biru muda menutupi wajahnya melupakan para anggotanya yang sibuk mencari ranjau aktif.

BAM!

Naruto tersentak mendengar pukulan keras itu. Dia mencari asal suara itu dan mendapati Shikamaru lah pelakunya.

"Tsk merepotkan, kau sedang tidur siang di jam segini? Disaat kami sedang berkerja?" Tanya pria Nara itu. "Sungguh pemimpin yang bijak!"

"Hei! Aku hanya sedang merasa bangga bahwa kita adalah pasukan penjaga perdamaian, tau aku malah tertidur, dattebayo!" ucap Naruto memandang langit.

"Haah... Kau mau es kopi? Supaya otak mu tak terlelap lagi." Tawar Shikamaru menyodorkan botol militernya.

Naruto lalu mengambil sebotol air mineral. "Sore-sore seperti ini lebih baik meminum air mineral biasa."

"Ya kau tak tahu bagaimana capeknya kami. Kau kan cuma tidur dari tadi! Aneh rasanya kau berubah menjadi diriku sekarang. Tidur sambil menatap langit." ucap Shikamaru, Naruto hanya menunjukan cengirannya.

"Untuk pria yang tersakiti." Ucap mereka sambil membenturkan botol mereka sebelum meminum minuman mereka masing-masing.

ZST

Walkie talkie milik Naruto kemudian berbunyi: "Shinigami disini.. kami menemukan sebuah bom, saya ulangi, sebuah bom."

Mereka berdua bergegas menghampiri lokasi penemuan itu. Mereka berdiri jauh dari area itu namun masih bisa melihat sebuah rudal berukuran bola kaki.

"Ini misil 82mm." Ucap seorang tentara dengan baju Anti bomnya.

"Itu buatan Suna, digunakan oleh Ame Utara saat mereka bersekutu dan membantu Ame Utara di perang saudara Ame." Tambah Shikamaru.

"Sepertinya masih aktif." ucap Naruto.

"Ya kita harus hati-hati. Radius ledakannya sangat luas."

Naruto menoleh dan melihat para anak-anak yang tengah berkumpul menonton mereka dari jarak yang cukup jauh.

"Kami sudah melakukan persiapan. Apa yang harus kita lakukan? Jika kita melaporkannya, Kita akan diminta mundur sampai pasukan Kumo datang ke sini... Jika kita biarkan mungkin akan meledak, karna aku sudah sedikit membongkarnya." Tanya Neji sambil memantu bom dihadapannya.

"Sersan Kepala Hyuga Neji. Kau ingat mottoku?" tanya Naruto.

Neji terdiam sebentar, "Santai saja, karena semuanya akan baik-baik saja. Tak usah stres."

"Dan Sersan Kepala Sai. Seperti apa stres itu?" tanya Naruto kali ini pada Sai.

"Satu, mengirim memorandum (Surat Peringatan/Laporan). Dua, mengirim memorandum. Tiga, mengirim memorandum." ucap Sai.

"Wah... Betul-betul! Hahahaha... Itu bikin stres." Kiba mengangguk-angguk kepala.

"Tentara Kumo memang ikut mempunyai tugas untuk perdamaian dunia. Tapi ini adalah tugas kita juga, bukan? Komandan yang akan bertanggung jawab penuh. Dan komandannya adalah aku, dattebayo!" tegas Naruto tersenyum bangga.


Pangkalan Akuma, Amegakure.

Komandan kompi Gedo Mazou, Naruto dan wakilnya Shikamaru sedang berada di ruangan milik petinggi pangkalan Akuma, Letkol Yamato.

BRAKK!

"Siapa itu? Atas perintah SIAPA hah?!" Teriak seorang pria sambil menahan emosi. "Hanya karna kalian ada di lokasi bukan berarti kalian bisa mengabaikan instruksi pusat, seperti layaknya gonggongan anjing. Bukannya sudah kubilang untuk menyerahkan setiap bom yang kalian temui pada Kumo bila menemukan EOD, tugas kalian hanya menandai setiap penemuan! SIAPA? Siapa diantara kalian yang telah menimbulkan kekacauan ini?"

Naruto lalu melirik pada Shikamaru. "Wakil Komandan... Dia tidak menghentikanku." Jawab Naruto pada atasannya. Naruto lalu memandang kesal Shikamaru. "Kenapa kau tak menghentikanku hah? Bukannya kau tahu, betapa cintanya aku 'menulis' memorandum? Aku selalu melakukan kesalahan hanya untuk itu! Dasar..."

Sedangkan Shikamaru hanya mendesah pelan sejenak, hanya memilih diam. Sementara Yamato, petinggi kontingen pasukan perdamaian Konoha hanya memandang aneh Naruto.

"Sepertinya memorandum sedang dalam proses. Kenapa? Karena... Wakil Komandanku ini jago sekali menulis surat. Kau adalah si Jiraya mesum itu. Master penulis Shikamaru... Jadi kau yang akan menulis memorandum kita!" ucap Naruto ngelantur kemana-mana.

"Bajingan Kalian...berdiri yang TEGAP!" perintah atasannya. Mereka berdua pun langsung berdiri tegap.


Beberapa memorandum kemudian...

Pada akhirnya Naruto dan Shikamaru mendapat hukuman, bukan hanya menulis laporan setebal kamus mereka juga mendapat hukuman tambahan berupa hukuman berlari dengan seragam lengkap dengan tas perang yang beratnya minta ampun. Mereka terus menyanyikan lagu mereka sambil berlari.

"Mereka datang!" Ucap Kiba berlari kedalam barak. Para tentara itu kemudian keluar dari barak untuk melihat.

"Bersiap!" Teriak Neji.

Saat Naruto dan Shikamaru sampai dan melewati barak. tentara-tentara lain berbaris dan hendak akan mengikuti mereka berdua...

... tapi ternyata mereka malah berbaris untuk masuk ke dalam barak, dengan tertawa lepas. "HAHAHAHAHAHA."

Naruto menoleh sebentar dan memilih mengabaikan ulah jail anak buahnya. 'Awas saja nanti kalian, dattebayo!' Geramnya dalam hati. Naruto menoleh sebentar ke Shikamaru. "Dari pada menulis laporan, bukankah lebih baik seperti ini, menggunakan tubuh kita untuk bergerak?" Ucap Naruto sambil menyenggol Shikamaru.

Shikamaru lalu berhenti berlari. "Tsk merepotkan, kau serius mau digebuki ya?"

Naruto tertawa pelan lalu kembali berlari. "~Kita bersatu dengan tujuan untuk melawan.. kami akan melakukan tugas kami dan menjaga bangsa kami~"

Shikamaru hanya memandang kesal kemudian ikut berlari mengikutinya.


Sakura kembali mengisi acara di stasiun TV. Dia pun tersenyum.

"... Dia elegan seperti biasanya. Kali ini kita akan membahas pembahasan yang sangat menarik." Ucap salah satu pembawa acara.

"Cara terbaik untuk menghindarinya... Adalah diperiksa secara rutin?" Tanya Pembawa acara lainya.

"Ya... Saat anda melakukan check-up, mintalah USG karetid." Jawab Sakura masih sambil tersenyum.

Beberapa saat kemudian...

Setelah menyelesaikan syutingnya ia kemudian kembali ke pekerjaan utamanya di rumah sakit. Banyak poster fotonya disana. Saat ia berjalan pun beberapa orang memfoto dirinya layaknya seorang artis dia hanya tersenyum melihatnya.

Sakura tiba di ruangannya, seorang suster langsung memberitahu mengenai para pasien VIPnya.

"Presdir Tobirama Group untuk pertama kalinya makan bubur. Beliau sudah merasa baikan." ucap suster itu. "... Dan pemilik Hi Elektronik kembali lagi ke rumah sakit."

"Lagi?" Tanya Sakura sambil mengenakan jas dokternya. "Kenapa? Kita sudah memulangkannya kemarin."

"Istri sahnya pulang ke rumah dan mengusirnya." Jawab suster itu meringis.

"Yang benar saja? Banyak orang yang sudah mengira kita membuka hotel... Ayo kita temui para VIP malang kita itu." Ucap Sakura.

"Hai!"

Ia lalu memeriksa pasien VIPnya bersama susternya. Mereka memeriksa serorang pasien VIP pria yang mengenakan kaca mata berusia kira-kira 50 tahunan.

"Pengacara ku sedang menyelamatkan hak paten." Ucap pasien itu sambil berjalan. Lalu mendudukan diri di sopa yang ada di kamar VIP-nya dan mulai mengetik di laptop miliknya. "Semua stress itu mendatangkan malapetaka bagi tubuhku. Tapi yang paling parah... Pacar baru ku... Muda, Cantik, Seksi tapi sangat menyebalkan aww tsk aku tak tahan."

Sakura hanya tersenyum mendengar curhatan pasien itu. "Kalau begitu kencanlah dengan yang lebih tua."

Lalu pria itu memandang Sakura tak percaya. "Kau bercanda? Kau kira pria sejati nyari duit untuk wanita keriput dan tak memiliki tubuh seksi?"

Sakura hanya memutar matanya bosan lalu pergi ke kamar pasien lainya tak menghiraukan pasien mesum tadi.

"Mana yang ku minta waktu itu?" Tanya seorang pria berambut penuh uban.

"Oh..." Meminta selembar kertas dari susternya. "Ini cucu anda Presdir!"

Pria itu menerimanya. Lalu memandang kertas itu. "Dia ya? Kalau begitu tes yang ini." Ucapnya menyerahkan kantung bening berisi beberapa helaian rambut.

"Oh baik!" Ucap Sakura lalu menerimanya.

Setelah selesai dengan aktivitasnya, saat ini adalah jam istirahat. Ia keluar dari rumah sakit dan masuk ke sebuah kafe tak jauh dari rumah sakit kemudian memesan beberapa makanan.

"... Dan semuanya dibungkus."

"Ada sayuran yang mungkin anda tak suka?" Tanya pelayan itu pada Sakura setelah mendengar pesanan Sakura.

"Tidak, tidak, tambahkan saja semuanya."

Pelayan itu lalu tersenyum. "Tapi ngomong-ngomong, anda lebih cantik daripada saat di TV." Puji pelayan itu. Sakura hanya tersenyum dengan pipi memerah mendengar pujian pelayan itu. "Rotinya mau dihangatkan?"

"Ya, terimakasih."

Setelah menerima pesanannya ia pun kembali ke rumah sakit dan berniat berkumpul dengan teman-temannya seperti Kakashi, Matsuri dan Moegi yang kebetulan berada di loby UGD RS Konoha.

"Hei, hei, hei! Lihatlah siapa ini? Yang dulu biasanya hanya kelihatan di UGD... dari area VIP yang hampir tak pernah datang ke sini, Professor Haruno Sakura." ucap Kakashi sambil tersenyum Bangga di balik maskernya.

"Haha.. sensei, kau berlebih, Umm... Pasti banyak yang harus dikerjakan karena ku kan? Anggap ini sebagai sogokkannya. Ku tambah Zaitun di rotimu, Mougi." Kata Sakura sambil memberikan roti yang dibelinya.

"Waa..." Ucap Kakashi melihat makanan dari Sakura dengan antusias.

"Arigato." Ucap Moegi.

"Bumi memang selalu berputar. Kau tak pernah kemana-mana saat kau jadi ahli bedah, tapi lihatlah, sekarang kau menukar pisau bedah dengan sebuah mic...Kau adalah dokter idola, wajah dari RS Konoha ini. Title-mu bahkan lebih panjang dan bahkan mengalahkan Senseimu ini." Puji Kakashi.

"Aku juga terkejut. Tapi, siapa yang tahu bahwa hidupku bisa berubah lagi dalam sekejap." Kata Sakura tersenyum.

Senyumnya hilang ketika dia melihat Shion datang dan berdiri disebelah Kakashi dan wanita pirang itu memandangnya sebentar sebelum akhirnya memalingkan muka ke arah lain, sepertinya ia iri terhadap pencapaian Sakura selama 8 bulan belakang.

"Aku memeriksa website program-mu. Dan ada yang menulis komentar: 'Sakura-sama, kau secantik host-nya' itu kau yang menulisnya, kan?" tanya Kakashi menyipitkan matanya.

Sakura memandang Kakashi dengan kesal. "Tentu saja bukan aku, sensei!"

"Mau kau yang nulis atau bukan, kau tidak penasaran siapa yang menulis komen itu? ID-nya 'Gukguk Hata ke' kalau tak salah."

"Gukguk Hata ke?" Ulang Sakura dengan bingung. Lalu dia tersadar pria di depannya itu memiliki banyak anjing, ditambah 'Hata Ke' itu kan Hatake nama belakangnya. "Aaa Kakashi-sensei? Jadi, kau yang menulisnya? Kau ini ada-ada saja. Sudahlah Sensei, makan yang banyak, ya. Cha!"

Kakashi tertawa lalu mengangguk, mengambil roti miliknya dan memakannya di dalam bajunya. Sakura hanya memutar matanya bosan melihat kebiasaan aneh Kakashi yang tak pernah mengizinkan orang lain untuk melihat wajahnya.

"Kau harusnya malu. Aku bertaruh, Kau pasti memberitahu semua orang bahwa kau ini seorang dokter." ucap Shion ketus.

Kakashi lalu keluar dari bajunya dan menengok ke belakang, Sakura juga melihat ke Shion dengan kesal.

"Kau lihat apa hah?" tanya Shion.

"Kau. Kau bahkan bukanlah seorang dokter. Kau hanya putri manja ayahmu." Jawab Sakura.

"Hei, Yang namanya dokter itu ya ada di ruang operasi. Bukannya di ruang make up dan tampil dilayar TV."

"Kau juga tak masuk ruang operasi, bodoh. Aku tak ke ruang operasi karena aku terlalu sibuk, sementara kau, karna kau tidak berguna."

"Diam kau. Kau hanyalah penggantiku saja." Shion yang merasa kesal langsung menghampirinya. Sedangkan Kakashi berada di tengah mereka mendengarkan mereka bertengkar sambil mengendus aroma rotinya.

"Aku mengantikanmu sekali dan kau langsung tersingkir." Balas Sakura.

"Apa kau pikir kau ini ratu yang menguasai dunia?"

"Memangnya siapa yang bisa menguasai dunia? Aku hanya mengambil kembali posisi ku yang kau rebut sebelumnya. Jadi, berhentilah mencemaskan ku dan kerjakan kerjaanmu saja." lalu Sakura tersenyum dan menoleh ke teman-temannya. "Aku pergi dulu ya!"

"Ya itu bagus! Dadah!" Ucap Kakashi sambil melambaikan tangannya, hal yang sama juga dilakukan yang lain.

Shion hendak menghentikannya tapi ia dengan sigap dihalangi oleh Kakashi. "Hei, hei, hei, Sudahlah, sudah!"

Lalu Shion cemberut. "Menyebalkan sekali."


Sakura lalu pergi ke atap rumah sakit, dia berdiri tepat di helipad dan hanya diam memandang suasan sore kota Konohagakure, ia teringat kenangan pahit dengan Naruto saat bersamanya di atap.


FLASHBACK ON


"Luka itu pasti akan sembuh. Kita akan menonton film bersama akhir pekannini. Aku sudah tak punya waktu, aku butuh jawabanmu. Ya atau tidak?" kata-kata Naruto waktu di atap bersamanya.


FLASHBACK OFF


Lalu dia kembali mengingat kenangan manis saat mereka berdua saat makan bersama di apartemennya.


FLASHBACK ON


"Apa kau selalu memikirkanku?" tanya Naruto saat ia makan bersamanya.

"Tentu saja. Kau sendiri, Namikaze Naruto?" Sakura menyalakan lilin.

"Aku juga selalu memikirkanmu. Aku kan pria sejati mu, dattebayo!" sambil menepuk dadanya bangga.

"Aku ingin kencan pertama kita menjadi kencan yang romantis. Aku akan menaruhnya di sini." Sakura menggeser lilinnya sedikit.

"Hei bukannya harus diletakan di atas meja, dattebayo?" Naruto ingin memindahkannya tapi dihalangi oleh Sakura.

"Tidak. Wanita itu harus menyiapkan pencahayaan. Cahaya api ini akan membuatku terlihat lebih cantik. Jangan bergerak. Aku sudah memperkirakan sudut pandangmu sebelum aku memasangnya." Lalu Sakura menyadari sesuatu yang ada di dahi Naruto. "Apa kau terluka lagi? Kenapa ini? kali ini apa karena kau menggali lagi?"

Naruto lalu terdiam dan menaruh sumpitnya. Kemudian dia menggunakan tangannya sebagai penahan kepalanya layaknya posisi Sakura. "Seberapa tinggi kemungkinanya... Apa mungkin jika melakukan pekerjaan itu bisa melukai wajah?"

"Jadi aku salah?"

"Aku melakukan pekerjaan berat." Jawab Naruto. Sakura hanya tersenyum sambil memainkan rambut merah mudanya. "Apa kau sebegitu sibuknya hingga tak punya waktu keramas?"

"Pada dasarnya aku tinggal di ruang operasi." Wanita itu menegakkan tubuhnya. Lalu ia tersenyum riang. "Aku sangat seksi saat memakai pakaian bedah, lho. Memang kau hanya akan melihat bagian ini saia sih." Ucapnya sambil menutup mulut, hidung dan dahinya. "Tapi aku masih akan terlihat cantik."

Sudut bibir Naruto naik keatas. "Haa aku sungguh ingin punya pacar seperti orang itu, dattebayo! Sepertinya dia tak di sini, ya?"

"Arrgh Kau ini!" ucap Sakura sambil memukul bahu Naruto.

Naruto hanya tertawa sambil memandangi wajah kesal Sakura.


FLASHBACK OFF


Sakura menunduk sedih.

"Haah... Aku tak punya waktu untuk tampil seksi lagi." dia lalu melangkah pergi.


SOLDIER X DOCTOR


Naruto sedang berjalan-jalan santai namun terhenti ketika ia melihat seorang prajurit tengah menggali dengan tak bersemangat.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Naruto menghampiri prajurit itu

Prajurit itu menoleh dia langsung tersentak dan memberi hormat. "Sonkei! Aku sedang menggali selokan, Kapten."

"Memangnya aku nanya karena tak tahu?"

Prajurit itu hanya diam. Naruto kemudian membuka seragamnya.

"Kemarikan!"

Prajurit itu langsung memberikan sekop itu pada Naruto.

"Tak akan selesai kalau kau seperti itu! Lihat ini baik-baik!" Dia kemudian mengambil posisi hendak menggali. "Pegang gagagnya seperti ini dan kerahkan tenaga di punggung mu dan juga bahu mu, Begini—Agh!" Sekop itu akhirnya patah menjadi dua bagian.

Prajurit itu menahan tawanya. "Pfft... itulah kenapa aku pelan-pelan saat mengali tadi."

Naruto memutar matanya lalu melihat luka di tangannya.

"Wah kau berdarah!" Ucap prajurit itu cepat meraih tangan Naruto.

Naruto teringat tentang Sakura. "Jadi, aku benaran bisa terluka walaupun hanya menggali begini, dattebayo." Gumamnya pelan.

"Wah, kapten. Kau butuh pertolongan pertama." Ucap prajurit itu sambil menulis kalimat di tangan Naruto.

Naruto terdiam mengerutkan kening melihat kerjaan prajurit tak tahu sopan santun itu lalu dia memandangi wajah prajurit itu, rasanya seperti pernah bertemu sebelumnya. "Apa itu?" Tanya Naruto, dia lalu melihat tulisan ditangannya:

'Terluka akibat menggali selokan'

"Siap gerak!" Perintah Naruto saat dia sadar. "Istirahat ditempat gerak! Tegak gerak!" Naruto lalu tertawa tak percaya. "Wah.. kau?! Wah wah!"

Shikamaru yang juga sedang berjalan-jalan melihat dua orang itu, lalu mendekati mereka berdua. "Ada apa? Hei kenapa tangan mu?"

Naruto menoleh ke arah Shikamaru sambil menunjuk prajurit tadi. "Kau pasti bercanda! Kenapa kau membawa bocah tengik ini kemari hah? Apa guna bocah ini?"

"Sonkei! Kopral Dua Sarutobi Konohamaru!"

Shikamaru lalu memandang Konohamaru, nama prajurit itu. Ya setelah pulih dari sakitnya Konohamaru mengikuti tes tamtama prajurit Konoha dan lulus. Dan di sinilah dia sekarang.

"Ya aku suka dia, dia mengingatkan ku tentang diriku dulu. Dia baru saja datang ke sini." Ucap Shikamaru. "Kau butuh apa?" Tanyanya pada Konohamaru.

"Aa aku butuh. Wine dan Whipped cream."

"Baiklah... Sekarang adalah ulang tahun Sersan Kiba. Bocah ini mau membuat steak!" Ucap Shikamaru pada Naruto. "Dia adalah koki yang hebat."

Konohamaru tersenyum ketika mendengar pujian Shikamaru.

"Oh, hari ini ya?" Naruto mengangguk. "Kalau begitu kau urus wine dan aku akan menemanimu mencarinya." Ucap Naruto pada Shikamaru. "Dan kau! Akan menerima akibatnya karena telah berani melakukan ini pada tanganku!"

"Hai!"


Naruto dan Shikamaru akhirnya berada di bar, seorang pelayan menghampiri mereka dan merangkul mereka.

"I have prepared your whipped cream. Wait a minute, honey." Ucap pelayan seksi itu.

"Yeah no problem!" Balas Naruto.

"Sure!" Tambah Shikamaru.

Pelayan itu pergi, ia berjalan sambil memandang mereka dan mengedipkan matanya nakal.

"Dan karena inilah aku memaksa ikut ke sini." kata Naruto masih terus memandangi pelayan tadi.

"Tsk merepotkan, aku yang dia rayu, selama ini dia seperti itu pada ku. Jadi, jangan salah paham." Kata Shikamaru juga masih memandangi pelayan itu.

Seorang wanita berambut merah dengan penampilan tomboy memasuki bar itu lalu berdiri disebelah Naruto.

"Vy pidhotuvaly moye zamovlennya? (Kau sudah menyiapkan pesananku?)." Tanya wanita itu dengan menggunakan bahasa Ame.

Pelayan itu menangguk lalu memberikan sebuah pistol, barang pesanan wanita itu.

Naruto dan Shikamaru terkejut melihat pistol itu.

"Vy povynni buty oberezhni z yoho vykorystannyam. (kau harus berhati-hati menggunakannya)" ucap pelayan itu memperingatinya.

Wanita itu lalu tersenyum dan mengelus pistolnya sambil memperbaiki letak kacamatanya. "Tse dosytʹ vazhko. yak yoho vykorystovuvaty? (Ini lumayan berat. Bagaimana cara pakainya?) Apa begini! Prajurit Konoha?" Secara tiba-tiba wanita itu menodongkan pistol itu ke arah Naruto dan Shikamaru yang terus memandangi nya sejak tadi.

"Gila! Aish!" Hal itu langsung membuat keduanya terkejut dan membuat minuman mereka tumpah membasahi baju mereka.

"Apa kalian takut? Kelihatanya senjata ini berfungsi dengan bagus." Kata perempuan itu.

Naruto memandang sebentar lalu langsung merebut pistol itu dan menodongkan balik ke perempuan itu. Dia lalu mendesah. "Apa kau dari Konoha?" tanya Naruto pada perempuan tersebut.

"Berbahasa Konoha belum tentu orang Konoha. Kembalikan padaku!" ucap perempuan itu sambil mencoba mengambil kembali pisolnya tapi tidak berhasil.

"Pistol itu tak seperti anjing, dia tak mengenali pemiliknya aslinya. Jika aku menarik pelatuknya, maka kau akan tertembak." lalu dengan cepat Naruto membongkar pistol itu dan menyusun bagian bagian-bagian pistol dengan rapi di atas meja. "Untuk apa kau membelinya, padahal kau tak bisa menggunakannya?"

"Aku tak membelinya untuk membunuh seseorang. Aku membelinya untuk melindungi diri. Dasar brengsek." Ia mengambil pistolnya yang sudah dibongkar itu. "Urus urusan mu sendiri!" Lalu dia pergi meninggalkan bar itu sambil mengomel tak jelas.

"Apa kita biarkan saja dia pergi dengan pistol itu?" tanya Shikamaru.

"Sudahlah, itu kan haknya." jawab Naruto.

"Who is she? Not a tourist, but a new face?" tanya Naruto pada pelayan itu.

"There are only two things we don't sell here. Women and information. This is your whipe cream." ujar pelayan itu.


"Amegakure? Dimana itu?" Tanya Moegi sambil membaca formulir pendaftaran relawan Ame.

"Itu adalah ibukota negara Ame yang baru setelah bersatu, sebuah negara baru yang berada di antara negara Kumo dan Suna... RS Konoha tengah membangun pembangkit listrik yang ramah lingkungan di sana." Jawab Shizune sambil mengaduk makanan.

Saat ini Sakura, Shizune, Kakashi, Lee, dan Moegi sedang berkumpul di kantin menikmati jam istirahat.

"Katanya pembangunan itu secara sukarela." Tambah Kakashi. "Tapi aku yakin tanpa uang dan koneksi semuanya akan berakhir." Sakura tersenyum mendengarnya. "Kalau dipikir-pikir, aku salah satunya. Aku tidak punya uang, koneksi, keberuntungan, atau bakat. Menyebalkan!"

"Tapi kau punya hati. Kau juga UMM sedikit tampan sedikit ya!" ucap Shizune pada Kakashi.

"Whoaaaa!" Goda para generasi lebih muda pada kedua orang yang lebih tua itu.

"Benarkah?" tanya Kakashi merona namun sudah jelas tak akan terlihat.

"Lupakan!" ucap Shizune memalingkan wajahnya.

"Dengan semangat masa muda ku yang membara sudah ku putuskan, aku yang akan pergi menjadi relawan di sana. Tenten-Chan juga sudah mengijinkaku. Aku ingin mengumpulkan uang yang banyak, kudengar setelah kepulangan dari sana pihak rumah sakit akan memberi bonus yang berlimpah pada para relawan yang pergi." Kata Lee.

"Ini orang! Mau kemana kau saat Tenten sedang bersiap untuk kelahiran anak kalian hah?" ucap Sakura sambil memukul Lee.

"Ckckckck jika dia sungguhan mencintaimu, dia pasti akan melarangmu." Kata Kakashi memandang kasihan pada Lee.

"kau bohong sensei itu tak mungkin! Aku tak bisa pergi setelah anak kami lahir, jadi dia menginjinkanku sekarang."

"Astaga! Kenapa bocah ini berusaha menjadi bocah kaya? Kenapa kau tak jadi Bill Gates saja sana?" kata Sakura. Lee hanya tersenyum dengan penuh semangat dengan mata yang berubah menjadi dolar.

Lalu, seorang pria berambut perak berjas rapi menghampiri mereka. "Professor Haruno!"

Mereka semua menoleh lalu berdiri ketika mengetahui siapa yang menghampiri mereka.

"Siapkan waktu untuk malam ini... Dan makanlah bersama ku." Ucap pria itu sambil berjalan pergi.

Mereka semua terdiam memandangi kepergian pria itu.

"Apa Ketua Kabuto baru saja mengajakku kencan?" tanya Sakura sedikit malu.

"Astaga!" pekik Moegi.

"Iya, bagaimana ini?" ucap Sakura menutupi wajahnya.

Kakashi lalu menjentikkan jarinya, mereka semua saling mendekat. "Jadi, apa yang dibutuhkan rising star, Haruno Sakura sekarang?" tanya Kakashi.

"Fan club?" tanya Lee.

"Kau ini! Kita sedang tak membahas masalah fans! Ini pasti tentang masalah Pernikahan politik, bodoh. Dia membutuhkan pernikahan politik." Kata Kakashi.

"Whoa Hal itu membuatku terlihat seperti orang penting saja." ucap Sakura.

"Aku tidak setuju. Ketua itu adalah seorang duda. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik, Senpai." Lee lalu duduk.

"Apa maksudmu Ketua tidak lebih baik? Apa teman kita ini masih muda? Apa keluarganya kaya? Duda itu adalah kekuatan dan bukannya kelemahan. Dia akan sangat berguna untukmu. Bukannya begitu?" tanya Kakashi pada Sakura.

Lee mengerang dia tak setuju dengan. Itu, sejujurnya dia lebih suka melihat Sakura bersama pria pirang yang sempat sering bermain ke Rumah Sakit itu. Menurut Lee, pria itu memiliki Karisma dan semangat masa muda yang luar biasa berbeda dengan kabuto yang seorang duda dan mirip seperti ketua sebelumnya, Orochimaru.

"Apa sekarang aku harus mulai bergerak naik?" kata Sakura.


Malam harinya...

Sakura dan Kabuto berada di hotel, Sakura tampak masih berdiri di dekat pintu dengan heran.

"Kenapa diam saja? Ayo masuk dan duduklah." Ajak kepala rumah sakit, Kabuto. Pria itu lalu berjalan ke dalam dan membuka jasnya.

"Apa kita akan makan di sini?" tanya Sakura.

Kabuto berbalik menghampiri Sakura. "Ya, kita akan makan di sini."

"Bukannya kita mau ke sky lounge?"

"Di sini kan ada sky (langit) dan juga lounge (kursi). Semuanya ada, kau butuh sesuatu lagi?" tanya Kabuto.

"Manner? Atau mungkin akan terdengar konyol, tapi... aku ingin yang sedikit Mello?"

Kabuto menyeringai sambil menjilati bibirnya. "Apa yang kau suka seperti itu?"

"Dan apa ini yang kau suka, Ketua? Maksud ku kau mengajak seorang wanita, yang hanya bawahan mu, makan berdua di dalam kamar hotel?"

"Suldahlah lupakan! Kau pasti tahu, aku ini tidak sabaran, kan? Aku akan memesan makanan, kau bisa mandi sambil menunggunya. Tapi jika kau mau.. kita berdua bisa mandi bersama." ucapnya mulai membuka kemejanya.

Sakura mulai terlihat kesal, lalu ia berjalan menuju Kabuto dengan senyum manisnya.

"Jadi kau mau mandi bersama? Keputusan yang bagus. Kemarilah kita akan menikmati waktu berdua." Kata Kabuto sambil merentangkan tanganya.

Tapi, Sakura malah hendak memukul Kabuto dengan tasnya.

Kabuto reflek menutupi kepalanya. "Hei! Mau apa kau?" Lalu Kabuto memperbaiki kacamatanya. "Kau mau memukul ku?

"Ya!"

PLAK!

"Brengsek!"


Keesokannya..

"Serius, kau memukul Ketua? " tanya Tenten terkejut.

"Aku bahkan hampir membunuhnya." Sakura mendesah. "Apa menurutmu, dia akan memecatku? Aku kan ambasador mereka." Kata Sakura sambil menyanggah kepalanya cemas.

"Dan dia adalah Ketua."

"Aaaa benar juga." Lalu Sakura menjatuhkan kepalanya ke meja frustasi. "Aku harus ikut rapat dengannya. Bagaimana aku bisa menemuinya?"

Tenten berpikir sejenak sambil mengelus perut gembungnya. "Kau harus menatapnya tajam... Seperti ini." Dia pn mencoba menata tajam Sakura. "Tatap dia dengan tatapan pembunuh. Tatapan seperti itu sangatlah menyakitkan apa lagi dari mu." Saran Tenten.

"Bagaimana jika dia pingsan setelah aku menatapnya? atau dia malah makin menyukai ku! Itu yang kutakutkan."

Tenten hanya mengedikan bahunya. "Itu deritamu!"


"Selanjutnya..." Kabuto memperbaiki letak kacamatanya lalu bersandar pada podium di depan para dokter. "Tentang tim relawan Ame. Aku kepikiran mengirim beberapa relawan, dan aku mau mengirim ahli terbaik kesana." Ucapnya menatap Sakura. Sakura sendiri berusaha mengabaikannya. "Aku sudah memutuskan... untuk mengirim bintang rumah sakit kita, Haruno Sakura."

Mata Sakura langsung melebar mendengarnya. Kakashi, Lee, dan Tenten langsung menoleh ke Sakura.

"Kau sebagai ketua regu sukarelawan Ame. Mungkin bukan hotel, tapi kami baru saja membangun fasilitas yang bersih untuk tim. Aku yakin kau mau, Professor Haruno."

Sakura hendak protes, tapi mulutnya bahkan tak bisa mengeluarkan suara sedikit pun.

PLOK! PLOK!

Kabuto menyeringai lalu bertepuk tangan diikuti para peserta rapat lainya.

Kakashi lalu mendekat ke Lee. "Lihat! Hidup ini penuh kejutan." Lee hanya menganggukkan kepalanya.

Sakura tak bisa berkata apapun saat itu dan memilih mendesah berat. Inilah yang ditakutinya.


Sebuah helikopter menurunkan kontainer putih berlambang simbol tambah merah.

Naruto bersandar pada dinding bangunan. Tampak dia terus menghela napas.

Shikamaru yang datang menghampirinya menoleh melihat kontainer itu lalu kembali melihat daftar relawan medis yang dikirimkan ke Ame. Dia lalu terkejut.

"Kau sudah melihat daftar relawan medis?" tanya Shikamaru pada Naruto.

Naruto mengangguk. "Sudah."

"Bukannya Ketua mereka adalah si dokter itu?"

"Ya."

"Apa dia tahu kau ada di sini?"

"Sepertinya tidak."

"Sepertinya, kalian memang ditakdirkan untuk bersama." Shikamaru menyipitkan matanya.

"Ataukah takdir yang kau maksud itu sedang salah alamat." Kata Naruto.

"Merepotkan, sudah ayo kita melihat medicube itu!"


SOLDIER X DOCTOR


Bandara Internasional Ame, Amegakure, Ame.

Tim relawan medis tiba di negara Ame, di sana terlihat ada Sakura, Moegi, Shizune, Lee, Kakashi dan beberapa orang laniya. Mereka semua terlihat kepanasan berada di luar, mengingat bandara itu sudah hancur dan tak ada satu pohon pun untuk tempat berteduh jadilah mereka berdiri pinggir lintasan terbang tepat dibawah panasnya terik matahari. Sakura mengenakan penutup kepala dengan syal-nya.

"Aughh, kenapa kau ajak aku ke sini?" Tanya Kakashi pada Sakura.

Sakura memilih tak merespon. "ABB harusnya mengirim helikopter dan orang ke sini, jadi tahan sebentar lagi ya."

"Kami akan menunggu. Tapi terlalu panas menunggu ditempat ini." Balas Kakashi.

"Hidup memang penuh kejutan." Ucap Shizune pada Kakashi.

TLILIT! TLITIT!

Tiba-tiba ponsel Kakashi berbunyi. "Ya.. sepertinya begitu..." Ucapnya pada Shizune lalu mengangkat ponselnya. "Moshi-moshi.. siapa lagi ini? Hah ketua?" Sakura lantas menoleh tak suka mendengarnya. "Ketua Kabuto siapa? Ooooh Yakusuki Kabuto—eh?!" Seakan tersadar dia lalu melihat layar ponselnya. Dia meringis, sepertinya akibat dehidrasi membuatnya tak fokus. "Hahaha... Ya ada apa Kabuto-dono? Maaf ponsel ku agak aneh hahahaha..."

Shizune hanya memutar matanya bosan.

"Ya. Kami baru saja tiba di Bandara Internasional Ame. Ya akan saya serahkan pada ketua Sakura." Lalu Kakashi mendekati Sakura. "Kenapa kau tak angkat teleponnya sih? Nih!"

Sakura mendesah pelan menerima ponsel Kakashi. "Ini aku Haruno Sakura!"

"Kau kepanasan, kan? Kau masih bisa berubah pikiran. Aku punya sejuta alasan untuk menarikmu kembali ke Konoha." Tawaran Kabuto pada Wanita pink itu.

"Tidak, terima kasih. Aku jadi tak begitu menghormatimu saat kau mengajakku ke hotel, tapi, aku tak menyangka kau akan serendah ini, Ketua." Semua orang langsung terkejut dan bertanya-tanya. "Aku sudah berani mengatakan ini, karena aku juga sudah mendapatkan koneksi VIP selama jadi idola. Segera setelah semua ini selesai aku akan melemparkan surat pengunduran diriku ke wajah mu, tunggu saja! Mungkin sudah waktunya aku membuka klinik sendiri. Setelah tugas ini selesai, aku akan mengundurkan diri, kau mengerti?!" Ucap Sakura sambil berteriak. Semua anggota tim pun mendengarnya. Dia lalu menoleh kebelakang. "Kalian mendengarnya, ya? Inilah alasan kenapa aku di sini." ucap Sakura pada timnya. "Aaa lihatlah itu heli kita!"

Mereka semua menoleh kebelakang dan melihat sebuah helikopter Kargo yang akan menjemput mereka sudah datang, helikopter itu lewat di atas mereka sampai membuat syal-nya Sakura terbang terbawa angin. Sakura sendiri terdiam mengikuti arah Heli itu dia teringat kejadian ketika Naruto meninggalkannya di atap rumah sakit, ketika melihat heli itu.

Setelah ia tersadar syal-nya terbang terbawa angin dia lalu mengejarnya dan hendak mengambilnya. Saat Sakara mau mengambilnya syal-nya itu terbang kembali ke belakang.

Setelah heli itu mendarat, mereka bisa melihat ada lima tentara turun dari Helikopter dan berjalan menuju tim medis.

Naruto, salah satu prajurit itu mengenakan kacamata hitam dan berjalan paling belakang lalu ia menyusul anggotanya dan mendahului mereka untuk berjalan paling depan.

Sakura hanya terdiam gugup ketika menyadarinya, cobaan apa lagi ini? Naruto berjalan terus, ketika hampir sampai didepan Sakura yang masih terus memandangnya, Naruto tak menghiraukannya dan memilih berjalan melewatinya. Ia tidak menyapa Sakura dan seperti tidak mengenal bahkan seperti tak melihat seseorang di situ. Sakura sendiri merasa kecewa namun dia hanya tetap diam. Sakura pun menghadap ke belakang dan terus melihatnya.

'Sambil berlalu... Aku berpapasan dengannya untuk sesaat.' batin Naruto.

.

.

.

.

.

TBC


darkvincent: Descendant of The Sun!

panda-yo: YAP! Ini adalah fic dengan plot dari Descendant of The Sun!

KidsNo TERROR13: Siip!

Hikari Chiyo: You welcome!

qwertyhawkeye: Atasan dan bawahan. PLAKK PLAKK

hikanee: Oke!

Ranindri: Seperti yang saya katakan diatas ya! Fic ini saya buat sendiri dengan plot aslinya dan sedikit perubahan dari saya sendiri. Bukan asil repost.

Pembaca: Siipp!

Uzu: Siap! terimakasih saranya akan saya usahakan sebaik mungkin..

lalisa kw: Ya! pemeran utama prianya.. err saya gak ingat namanya joongki jokie si juki saya gak terlalu ingat nama nama korea PLAK.. pokoknya dia juga lagi buat drakor baru dengan karakter asli yang dimainkan Oleh Ino di fic ini, siapa namanya ya? won won kim gitulah PLAALKK!

Guest: Kalau memang tak punya akun, setidaknya kasih nama dong, agar saya mudah membalasnya. tapi saya akan mengucapkan terimakisih untuk guest yang telah mengingatkan kesalahan saya dalam menulis judulnya hahahaha... sory buat typonya.

Dan untuk FLAME? Jika kalian tak merasa rugi menghabiskan kuota kalian untuk menghina fic ini ya itu hak kalian, saya tak larang... Toh yang rugi kan kalian sendiri.

Gimana chapt ini? Ngeri ya? dichap ini Narusaku untuk pertama kalinya kencan walaupun gagal juga. Dan di chap ini juga mereka akhirnya nyerah dengan hubungan mereka. Sementara untuk ShikaIno, sabar ya chapt depan mareka akan kembali. hehehe..

Ohh ya mengenai kata "Sonkei" itu artinya hormat, itu hanya pengganti dari "Loyalitas" yang sering pasukan korea ucapkan. maaf yaa saya gak tahu nulis bahasa koreanya, karna saya tak pandai bahasa korea. Oh ya ngomong-ngomong tentang bahasa, bahasa Ame itu sebenarnya bahasa Ukraina ya!

Udah itu ae..

Terimakasih sudah ngeFav follow and ripiu!

Sampai jumpa dichapter berikutnya! SONKEI!


REVIEW

VVVVVVVVVV

VVVVVVVVV

VVVVVVVV

VVVVVVV

VVVVVV

VVVVV

VVVV

VVV

VV

V