Warn! Typos!

.

.

.

.

.

Mingyu mengerutkan dahinya keheranan saat melihat Donghyuck -sang adik sudah berada di dapur pagi-pagi sekali sambil bersenandung riang.

Mingyu berjalan mendekati sang adik yang sedang asik menggulung kimbab, "Apa yang sedang kau lakukan?." Tanya Mingyu dengan raut wajah penasaran.

Donghyuck menolehkan pandangannya menatap kakak laki-lakinya yang baru saja bangun tidur itu dengan senyuman yang sangat merekah. "Kakak sudah bangun? Mau aku buatkan kopi?." Tawar Donghyuck dengan senyumannya yang semakin melebar.

Mata Mingyu memicing saat melihat tingkah adiknya yang tiba-tiba sangat baik kepadanya seperti ini, "Kau habis diberi uang oleh Ayah ya?." Tuduh Mingyu sambil menatap Donghyuck curiga.

Donghyuck mendelik mendengar perkataan kakaknya, "Enak saja. Tidak!." Balas Donghyuck.

"Lalu kenapa kau sangat ceria dan bertingkah aneh pagi ini. Pasti ada sesuatu kan? Ayo cerita padaku!."

"Hyung jangan kaget ya. " Bisik Donghyuck pelan.

Mingyu langsung menganggukan kepalanya meng-iya-kan, "Cepat katakan!."

Donghyuck menundukan kepalanya lalu menunjukkan tengkuknya kepada Mingyu, "Tadaaaa!!!." Seru Donghyuck.

Mingyu melotot tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Di tengkuk adiknya sudah ada Tato Soulmate! "TIDAKKKK!!!."

Donghyuck langsung membalikkan tubuhnya saat mendengar teriakan kakaknya yang begitu keras, "Kenapa berteriak hyung?!."

Mingyu menggelengkan kepalanya berulang kali sambil bergumam, "Tidak, ini tidak boleh terjadi! Donghyuck kau tidak boleh bertemu dengan Soulmate-mu!!! Ayah!!!!." Teriakan Mingyu semakin heboh membuat Donghyuck buru-buru membekap mulut kakaknya itu.

Kemudian terdengar suara orang menuruni anak tangga dengan sangat terburu-buru. Mingyu langsung menyingkirkan tangan Donghyuck yang membekap mulutnya, "Ayah!!!." Seru Mingyu saat orang itu -Ayahnya mendekatinya dan Donghyuck sambil memasang wajah panik.

"Mingyu! Kenapa berteriak pagi-pagi?!." Tanya Jongin -sang Ayah.

"Donghyuck Ayah!!. " Seru Mingyu.

"Iya, Donghyuck kenapa?!."

Donghyuck semakin dibuat kebingungan dengan tingkah kakaknya itu,kenapa kakaknya sangat heboh sampai berteriak seperti itu?!.

"Donghyuck sudah bertemu dengan Soulmate-nya!." Pekik Mingyu sambil menatap panik ke arah Ayahnya.

Jongin tampak terdiam sesaat mencerna apa yang anak sulungnya katakan barusan. Setelah pikirannya ter -Connect Jongin langsung melebarkan matanya dan langsung menarik badan Donghyuck agar mendekat padanya.

Jongin menganga tidak percaya saat melihat anak bungsunya itu sudah memiliki Tato Soulmate.

"Ini bencana Ayah!." Pekik Mingyu.

Jongin menggelengkan kepalanya dengan kuat, "Tidak boleh! Kau tidak boleh bertemu dengan Soulmate-mu secepat ini! Tidak boleh!!." Seru Jongin histeris.

"Kenapa memangnya?!." Tanya Donghyuck kebingungan. Ia tidak mengerti kenapa Ayah dan kakaknya bersikap seperti ini saat mengetahui ia dan Soulmate-nya telah bertemu. Bukankah mereka seharusnya merasa senang?.

"Bagaimana mungkin kami bisa hidup tanpamu?!." Seru Jongin sambil menangkup pipi Donghyuck, "Siapa yang akan mengurus kami nanti?!."

Donghyuck benar-benar kehilangan kata-kata setelah mengetahui alasan kenapa Ayah dan kakaknya bersikap seperti itu. Ia tahu kalau hanya dirinyalah yang bisa mengurus Ayah dan kakaknya seperti apa yang ibunya lakukan, dulu. Tapi, tidak seharusnya mereka berdua bertingkah seperti itu!.

"Astaga! Aku tidak akan kemana-mana!." Ucap Donghyuck sambil mendengus sebal.

"Tapi kau sudah bertemu dengan Soulmate-mu!." Balas Mingyu.

"Memangnya kenapa?! Aku tidak akan langsung menikah dengannya! Astaga aku bisa gila. "

Jongin beringsut memeluk putra bungsunya dengan erat, entah kenapa ia merasa sedih sekaligus senang. Sedih karna anaknya sudah menemukan belahan jiwanya dan itu berarti ia akan segera pergi dari rumah ini. Dan senang karna anaknya sudah menemukan Soulmate-nya sebelum Soulmate-nya itu telah tiada. Seperti Mingyu.

Mingyu menatap adik dan Ayahnya yang sedang berpelukan erat dengan mata berkaca-kaca. Jika ia melihat Tatoo Soulmate hatinya akan kembali merasakan sakit. Ia merasa kembali diingatkan dengan peristiwa paling menyeramkan di hidupnya. Yaitu kehilangan belahan jiwanya bahkan sebelum mereka berdua sempat bertemu, dan Mingyu pun harus merasakan apa itu yang dinamakan kematian.

Donghyuck menatap kakaknya dengan raut sedih, ia melepaskan pelukannya dengan Ayahnya lalu berjalan mendekati Mingyu. "Jangan sedih. " Ucap Donghyuck sambil memeluk kakaknya dengan erat.

"Selamat. " Bisik Mingyu pelan didalam dekapan Donghyuck.

Donghyuck menganggukan kepalanya pelan.

"Jadi siapa dia?." Tanya Mingyu dengan mata memicing tajam setelah Donghyuck melepaskan pelukannya.

"Eh?"

"Soulmate-mu! Siapa dia?!." Sahut Ayahnya tidak sabar.

"Dia seniorku. Di Universitas. " Cicit Donghyuck pelan.

Jongin dan Mingyu mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. "Bagaimana wajahnya?. Lebih tampan dari Ayah dan hyung mu?."

Donghyuck mendengus mendengar pertanyaan Ayahnya yang menurutnya sangatlah tidak bermutu, "Jelas lebih tampan Ayah dan kakak. " Balas Donghyuck sambil memutar bola matanya malas.

Jongin dan Mingyu tersenyum puas setelah mendengar jawaban dari Donghyuck bahwa Soulmate-nya tidak lebih tampan dari mereka berdua. "Bagus kalau begitu kami merestui. "

"Apa-apaan itu!." Cibir Donghyuck.

"Nanti suruh dia kemari. " Ucap Jongin santai sambil mendudukan dirinya di kursi meja makan.

"Kenapa?!." Pekik Donghyuck.

"Kenapa apanya?! Jelas saja kau harus mengenalkan Soulmate-mu kepada kami berdua. " Sahut Mingyu yang langsung diangguki oleh Jongin.

"Tapi-"

"Tidak ada tapi-tapian, suruh dia kemari nanti. " Potong Jongin.

Donghyuck mencebikkan bibirnya sebal. Jika begini ia harus benar-benar membawa Mark ke rumahnya. Tapi bagaimana cara mengatakannya?! Ia tidak berani!.

.

.

.

.

.

Renjun dan Jaemin berjalan beriringan menuju kelas mereka sambil bersendung ria.

Tiba-tiba Renjun memepetkan tubuhnya kepada Jaemin lalu berbisik pelan,

"Hei Jaem, tadi malam Soulmate-ku mengirimiku pesan. "

"Benarkah? Apa katanya? Dia mengajakmu bertemu?." Tanya Jaemin antusias.

Renjun menggelengkan kepalanya, "Tidak, tapi dia memarahiku tahu!."

"Kau berbuat ulah ya?." Tanya Jaemin sambil memicingkan matanya.

"Aku? Tidak!. " Jawab Renjun sambil tertawa sumbang.

Jaemin mendecih melihat ekspresi wajah Renjun, "Aku tahu dirimu luar-dalam, depan-belakang. Sudah dapat dipastikan kau menjahilinya lagi kan?."

"Aku tidak menjahilinya! Aku hanya melakukan kebiasaanku saja. " Elak Renjun.

"Kebiasaanmu itu tidak ada yang nomal asal kau tahu. Kebiasaan yang mana?."

"Mencubiti diriku sendiri setiap malam. " Balas Renjun dengan nada polos.

Jaemin hanya menggelengkan kepalanya prihatin mendengar perkataan Renjun, ia sangat merasa kasihan dengan orang yang menjadi Soulmate dari sahabatnya itu. "Kau memang benar-benar titisan setan. " Gumam Jaemin sambil berjalan mendahului Renjun.

"Hei, tunggu aku!." Seru Renjun saat melihat Jaemin sudah berjalan mendahuluinya. Ia langsung berlari dan tidak menyadari jika dompetnya terjatuh.

Seorang pemuda berpakaian seragam klub basket yang kebetulan tengah berjalan menuju ke ruang ganti melihat hal itu dan langsung mengambil dompet Renjun yang terjatuh.

"Hei! Dompetmu!." Seru pemuda berseragam klub basket, berusaha memanggil Renjun yang telah berlari jauh mengejar Jaemin.

Pemuda itu menghela nafas malas saat melihat Renjun sudah menghilang dari pandangannya.

Ia memutuskan untuk membuka dompet itu untuk mencari identitas pemiliknya, "Huang Renjun ya, " Gumam pemuda itu sambil memegang kartu mahasiswa yang ada di dalam dompet itu.

"Hey Lucas! Kenapa malah diam disitu! Ayo cepat ke ruang ganti sialan!. "

Pemuda yang dipanggil Lucas tersebut terlonjak kaget saat mendengar teriakkan dari temannya.

"Iya sebentar Mark! Kau tidak perlu mengumpati begitu!." Sungut Lucas sebal. Ia langsung berlari mengejar Mark dengan dompet yang ia temukan tadi di genggamannya.

.

.

.

.

.

Mark dan Donghyuck bertemu setelah jam kuliah mereka berdua selesai seperti apa yang mereka sepakati kemarin. Mereka berdua duduk di bangku taman dengan pohon rindang yang berada dibelakangnya.

Donghyuck mencuri pandang ke arah Mark yang sedang memejamkan matanya menikmati semilir angin. "Aneh bukan?. " Ucap Mark tiba-tiba.

Donghyuck mengerutkan dahinya kebingunangan mendengar perkataan Mark, "Apa yang aneh?." Tanya Donghyuck.

"Diriku. " Balas Mark sambil sedikit tersenyum kecil.

"Maksudmu?."

Mark menoleh sekilas ke arah Donghyuck, lalu berkata, "Saat aku tidak bersamamu banyak hal yang ingin aku katakan. Tapi, saat sudah bersama aku lupa semua dengan apa yang ingin aku katakan." Mark kembali memejamkan matanya menikmati semilir angin yang menerpa wajah tampannya, "Ahh bahkan aku lupa membawa kacamata hitam. " Tambahnya.

Donghyuck hanya meringis saja mendengar perkataan Mark. Sejujurnya dia tidak tahu apa yang dikatakan Mark barusan itu memujinya atau bagaimana.

"Oh iya Mark hyung, "

Mark menolehkan kepalanya menatap Donghyuck yang sedang memilin jarinya sendiri ragu. "Apa?."

"Err- itu.. "

Mark menaikan sebelah alisnya menunggu apa yang akan Donghyuck katakan.

"Kau bisa mampir sebentar kerumahku setelah ini?." Tanya Donghyuck pelan.

Mark langsung tersedak ludahnya sendiri, terkejut dengan apa yang Donghyuck ucapkan barusan. "A-apa?."

Donghyuck menundukan kepalanya canggung, dia benar-benar tidak enak hati meminta Mark untuk datang kerumahnya. Tapi itu permintaan Ayah dan hyungnya. Ia tidak bisa menolak.

"Ayah dan hyungku ingin berkenalan denganmu. " Cicit Donghyuck pelan.

Mark terkejut mendengar apa yang baru saja Donghyuck katakan. Ayah dan kakak Donghyuck ingin bertemu dengannya?! Astaga ia ingin berteriak sekarang rasanya!.

"Harus nanti ya?." Tanya Mark.

Donghyuck menganggukan kepalanya kaku, "Kumohon. "

Mark mengusak pelan kepala Donghyuck lalu tersenyum. "Baiklah. Cepat atau lambat aku memang harus mengenalkan diriku kepada Ayah dan Kakakmu bukan?. " Ucap Mark sambil tersenyum.

Donghyuck yang merasakan jantungnya kembali ribut memalingkan wajahnya ke arah lain. Astaga! Terkutuklah Mark Lee dengan mulut manis dan wajah tampannya itu.

"Uhmm.. Donghyuck?." Panggil Mark pelan.

Donghyuck menolehkan wajahnya ke arah Mark, "Iya?."

"Sebenarnya aku ingin bertanya hal ini padamu dari kemarin... Kita ini-" Mark tampak ragu-ragu untuk melanjutkan perkataannya, ia melirik Donghyuck yang menatapnya dengan kedua mata indahnya, membuat Mark semakin gugup, "-kita ini apa sebenarnya?."

Donghyuck mengernyit heran mendengar pertanyaan Mark yang tidak jelas itu, "Kita? Kita kan Soulmate. " Jawab Donghyuck.

Mark menggelengkan kepalanya, ia meringis saat mengetahui Donghyuck ternyata tidak paham akan maksudnya. "Tidak bukan itu yang ku maksud. "

"Lalu?."

Mark terdiam sejenak, tangannya bergerak untuk meraih tangan Donghyuck supaya bisa ia genggam, "Kau mau tidak jadi kekasihku?." Tanya Mark tiba-tiba.

"Kita berdua memang Soulmate yang ditakdirkan untuk bersama, tapi sejatinya kita adalah dua orang yang tidak saling mengenal bukan? Tapi Donghyuck, aku rasa aku sudah mencintaimu. Bagaimana ini?."

Donghyuck menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Jantungnya serasa berhenti berdetak untuk sejenak saat mendengar kata-kata dari Mark.

"Aku memang sempat kesal padamu, awalnya. Itu karna kau selalu melukai dirimu sendiri, membuatku khawatir. " Lanjut Mark sambil sedikit terkekeh. "Tapi setelah bertemu denganmu beberapa hari yang lalu, aku merasa kau langsung merebut tempat dihatiku. "

Donghyuck tidak bisa berkata-kata untuk sekedar membalas perkataan Mark. Ia terlalu terkejut bahkan untuk berkedip.

"Donghyuck, jadi kekasih ku ya?."

Ya Tuhan, Donghyuck mau mati saja rasanya.

Donghyuck menganggukan kepalanya lalu tersenyum manis. Mark yang melihat itu langsung ikut tersenyum lebar.

"Aku menyukaimu. " Bisik Mark pelan, ia langsung mendekatkan wajahnya dengan wajah Donghyuck.

Donghyuck menegang, matanya mengerjab beberapa kali melihat betapa dekatnya wajah Mark dengan wajahnya.

Mark meraih tengkuk Donghyuck kemudian menempelkan bibirnya dengan bibir Donghyuck. Hanya menempel saja, tapi hal itu sanggup membuat jantung Donghyuck luruh lantah.

Mark menjauhkan wajahnya dan menarik tubuh Donghyuck kedalam pelukannya, "Perjalanan kita baru dimulai. "

Donghyuck tidak bisa menahan senyumnya. Ia tidak menyangka Mark akan memperlakukannya seperti ini. Sangat tidak terduga.

Mark melepaskan pelukannya lalu menatap Donghyuck sambil tersenyum, "Jadi, kita kerumahmu sekarang saja bagaimana?."

Donghyuck menganggukan kepalanya lalu membalas senyuman Mark, "Ayo!." Jawab Donghyuck bersemangat.

Mark tekekeh gemas melihat tingkah Donghyuck. Astaga, ia merasa berdosa karna telah mengumpati anak semanis Donghyuck dulu.

Donghyuck dan Mark bangkit dari kursi taman lalu beranjak pergi ke rumah Donghyuck sambil bergandengan tangan.

Semoga saja Ayah dan Kakak Donghyuck tidak membuat Mark yang sedang bahagia ini kesusahan. Semoga saja.

.

.

.

.

.

Tbc

Halooo adakah yang nungguin book ini? Ga ada ya? Kalau ga ada gakpapa aku tuh :(

As always aku mau ngucapin buat kalian yang udah mau review huhuhu thank u so muchh!!

Aku jadi semakin semangat buat lanjutnyaa.

See u next chaps!

Moment casren dan nomin menunggu.