A/N :
Hey! Miss me? :) I'm back! … Big sorry to long too update T_T
Mmh, but now, MBiF chap 19 is up, guys! Hope u like it! ;)
.
.
.
.
.
|My Blood is Ferret|
.
.
Disclaimer :
Harry Potter © J.K Rowling
My Blood is Ferret © Ms. Loony Lovegood
(Tak ada keuntungan material apapun yg saya dapatkan dengan menulis fict ini, semata-mata hanya karena kesenangan dan kecintaan saya terhadap serial menakjubkan 'Harry Poter' beserta para tokoh-tokoh istimewanya!)
.
~DraMione fiction~
.
Rated : T
Romance, Hurt/Comfort
Warning!
Saya sudah berusaha untuk tidak typo
(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf)
.
|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|
.
.
Chapter 19 : Gadis di Tepi Danau
.
.
.
Draco menatap surat di tangannya lekat-lekat. Netranya memandang was-was berkeliling. Sebuah senyuman manis tersungging di bibir setipis sari apelnya, lantas dengan buru-buru ia menyelipkan surat tersebut ke dalam jubahnya lalu kemudian kembali menekuni makanannya dengan khidmat. Tanpa menyadari dua pasang sorot atensi yang tengah memperhatikan gerak-geriknya dari kejauhan dengan sebuah seringai tipis yang menempel erat di bibir satu sama lain.
.
-OoOoO-
.
Draco duduk terpekur di dalam Ruang Rekreasi Ketua Murid. Menunggu kalkulus detik mengarah ke pukul sebelas malam. Ia sudah tak cukup sabar untuk segera bertemu dengan sang Nona G a.k.a Granger a.k.a Hermione—well, setidaknya itu yang ada dalam benaknya sedari tadi hingga sekarang. Tapi benarkah spekulasinya itu? Hanya dentang genta sang penakhluk waktulah yang bisa memetakan segala persepsi kalibrasinya.
Selepas makan malam beberapa jam lalu, ia belum lagi bertemu dengan Hermione. Ia mengira bahwa mungkin gadis bermanik sewarna kemiri itu ada di asrama Gryffindor sembari melakukan hal yang serupa dengannya. Menunggu hingga pukul sebelas malam. Ah, delusi yang menarik.
Sorot argentnya kembali bergulir ke arah jam dinding yang terpatri alot di sisi dinding sebelah kanan ruangan. Pemuda pirang itu merengkuh wajahnya jemu, masih pukul 09.10 pm rupanya. Itu artinya ia masih harus menunggu selama kurang lebih dua jam lagi. Bayangkan, dua jam lagi! Well, waktu dua jam bagi orang yang tengah kasmaran berat tentu saja akan terasa sangat berbeda dengan orang yang suasana hatinya sedang 'biasa-biasa saja'. Yah, waktu dua jam untuk bertemu sang gadis pujaan hati rasanya bertahun-tahun lamanya bagi seorang Draco Malfoy. Bahkan ia kontan menyadari, bahwasanya ia baru merasakan hal yang semenggairahkan ini selama ia mengenal belantika percintaan. Rasanya … begitu berbeda di saat ia masih menjalin hubungan dengan Daphne ataupun gadis-gadis lainnya.
Yah, dan Draco tahu apa alasannya. Karena Hermione Granger memang bukanlah gadis biasa. Bukan gadis sembarangan yang terlampau mudah untuk ditakhlukkan. Yap, singka kata, Hermione is different and specially girl, not an ordinary girl. Well, it's 'bout Draco's mind!
Draco tak sepenuhnya sadar tatkala ia kembali melayangkan sorot fokusnya ke arah jam dinding yang rupa-rupanya sudah beranjak meninggalkan sekuplet detik yang sudah berkomposit menunjukkan pergeseran lima belas menit di belakang jarum panjang di angka dua beberapa menit yang lalu.
09.25 pm. Satu setengah jam lagi, batinnya menghibur. Tanpa banyak berpikir, pemuda bersorot kelabu itu lekas beranjak dari posisinya. Inisiatif personal mendadak terpetakan dalam kepala pirangnya. Ia melangkah menuju kamar mandi, setelah sebelumnya menggumamkan mantra Accio hingga handuk hijau zamrud ber-emblem M besar kini tersampir apik di bahu kanannya yang kokoh.
Dengan siulan kecil, ia segera melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi. Berendam air hangat sebentar dan mengharumkan tubuh tak ada salahnya, bukan?
Yah, Draco Malfoy ingin membuat seorang Hermione Jean Granger terpesona padanya. Untuk malam ini dan seterusnya.
.
-OoOoOo-
.
"Hermione! Aku menemukan ini di depan asrama!" Si pria berambut merah tiba-tiba menghambur masuk lewat lubang lukisan. Ia berkata dengan penuh bakaran semangat. Wajahnya berseri-seri tak wajar, tak biasanya. Sang gadis bluestocking mendongak, wajahnya sangat kontras menyiratkan pertanyaan 'ada apa?' Harry, Ginny, serta Neville Longbottom kontan ikut mengangkat kepala mereka. Fokus tawa Hermione pun lantas terhenti atas tingkah komikal Harry dan Neville beberapa menit sebelumnya. Alisnya terangkat sebelah, kepalanya dimiringkan tiga puluh lima derajat.
"Baca ini!" Ron Weasley menyerahkan satu amplop berwarna merah muda yang didominasi warna arure di bagian depannya. Hermione semakin bingung mendapati namanya tertera jelas di amplop itu. Dengan sejuta pergolakan rasa penasaran yang berkecamuk di dalam serebrumnya serta sekuplet dorongan kompulsif memaksa jari-jemarinya agar segera membuka amplop itu dan membaca isi suratnya.
Hi, Love …
Temui aku di tepi danau hitam,
pukul sebelas malam ini.
Ada hal yang ingin kusampaikan,
jangan sampai terlambat!
DM
"Cieee … Surat dari siapa, 'Mione?" celetuk Ginny dengan senyuman lebar super misterius yang terpampang jelas di wajah bonny-nya.
"Eh? Err, tidak! Bukan dari siapa-siapa," dusta Hermione dengan sedikit rona merah yang menjalari wajahnya, dan sesegera mungkin menyingkiran surat itu ke dalam sakunya. "Ah, sudah malam, ya? Sudah hampir pukul sebelas, eh? Hoaamm … Rasa-rasanya aku sudah mengantuk. Err, aku harus kembali, guys … Sampai jumpa besok." Hermione berdiri, hendak beranjak pergi.
"Bukankah tadi kau berkata ingin menghabiskan malam panjang di sini, Hermione?" Giliran Harry yang angkat bicara. Lagi-lagi Hermione menguap, bersandiwara.
"Ah, maafkan aku, teman-teman. Tapi kurasa aku berubah pikiran," tutur Hermione berusaha meyakinkan. "Err, kita bertemu lagi besok. Byeee …" Gadis cantik itupun segera berpamitan pergi, meninggalkan tiga kepala kosong dengan tanda tanya besar di dalamnya. Well, untuk kali ini sepertinya kepala Ron Weasley tak bisa dikatakan 'kosong'.
"Surat dari siapa?" Harry akhirnya berpaling ke arah sahabat berambut merahnya. Ron Weasley yang kontan dihujani sorot tajam dari tiga pasang atensi yang memandangnya penasaran, hanya mengedikkan bahu tak peduli seiring dengan senyuman lebar yang terkembang antusias di manik wajahnya.
.
-OoOoOo-
.
10.51 pm. Draco Malfoy bergegas meninggalkan asrama Ketua Murid. Kaki kokohnya membawa raganya melangkah ke luar kastil menuju danau hitam. Perutnya serasa bergejolak akan perasaan aneh entah apa yang rasa-rasanya mampu menembus ulu hatinya dan meremasnya bagaikan maut meremas kehidupan. Ah, sepertinya pikiran Draco terlalu hiperbola, ya? Benar, 'kan? Oh, ayolah … Katakan saja : ya!
Sementara itu di tempat lain, Hermione baru saja meninggalkan asrama Gryffindor setelah kenyang mendengar omelan-omelan si Nyonya Gemuk yang merasa terganggu ketika sedang berlatih vokal di tengah malam. Jujur saja, Hermione merasa bahwa bukan tak mungkin tak ada satupun clef yang cocok dengan suara si Nyonya Gemuk. Ah, tetapi yang terpenting sekarang bukanlah hal itu, melainkan pertemuannya dengan Draco beberapa menit lagi. Hermione melangkahkan kakinya mantap, menyongsong rasa 'merah jambu' yang kini melambung tinggi di dalam setiap jengkal paru-paru hingga ke palung hatinya.
.
-OoOoO-
.
"Hermione?" sapa Draco ragu-ragu.
Tujuh detik. Tak ada jawaban. Draco kembali melangkah mendekati sesosok gadis yang tengah berdiri apik di pinggiran danau hitam, memandang lurus ke arah hamparan kontinual kelam yang tersaji di kanvas liar wajah alam.
"Lumos," Draco berbisik pelan hingga ujung tongkat hawthorn-nya memancarkan setitik sinar yang tak begitu menyilaukan mata. Cahaya dari efek mantra lumos tersebut kini bak berdeformasi menjadi sosok kunang-kunang 'penasaran.'
"Hermione?" ulangnya sekali lagi tatkala jarak di antara mereka semakin menyempit. Hanya berkisar lima langkah lagi hingga Draco dapat melihat sosok itu dengan jelas.
Tiga langkah …
Draco merasa tak begitu yakin.
Dua langkah …
Siapa gadis ini sebenarnya? Benarkah dia Hermione? Gadis yang begitu diharapkan oleh Draco?
Selangkah la—
"Siapa kau?" Draco tetiba melontarkan pertanyaan yang dirasanya begitu kontradiktori dengan nuraninya. Ada semacam kontradiksi yang bergolak di relung pemuda bermanik kelabu itu perihal gadis yang tengah berdiri di hadapannya kini.
Hening. Hanya nyanyian jangkrik malam yang memenuhi emisi aura sang dewa kegelapan. Namun tak berselang lama, terdengar suara tawa pelan nan merdu namun bak seorang demoniak. Seolah-olah mampu membius seluruh jagat determinasi seorang Draco Malfoy mengenai delusinya akan sosok Hermione Granger.
"Aku? Miss 'G', tentu saja," ungkap gadis itu dengan nada mencemooh. Draco menyipitkan sorot netranya, mencoba fokus akan setiap konversasi sang 'gadis misterius' yang Draco yakini bahwa itu bukanlah sosok Hermione Granger, seperti yang ada dalam benaknya beberapa saat lalu.
"Jangan buang waktuku. Cepat katakan siapa kau dan apa yang kauinginkan dariku," Draco mendesis berbahaya dalam nada datar yang nyatanya masih mengesankan aura tajam mengintimidasi. Namun, gadis itu justru kembali tertawa. Yah, tertawa meremehkan lebih tepatnya. Sangat menyebalkan, bukan? Kalau saja sosok itu adalah lelaki, tentu saja Draco tak akan segan-segan merapal mantra-mantra mengerikan apa saja terhadapnya.
"Cepat katakan, siapa ka—" Kalimat Draco menggantung di atmosfer tatkala sosok misterius itu berpaling ke arahnya.
"Terima kasih untuk kedatangannya, Mr. Malfoy," ujar suara itu kalem. Seringai kemenangan tertempel jelas di bibir kecil mungilnya.
.
-OoOoOo-
.
Hermione memacu kaki reniknya dengan eskalasi penuh, menembus pekatnya kegelapan malam dalam keangkuhan sang dewa langit. Hingga tak terasa kini langkahnya telah membawanya menuju danau hitam. Manik hazelnya sontak berbinar secara eksepsional ketika retinanya menangkap sosok yang sedari tadi dicari-carinya. Sejumput rambut platina di seberang sana rupanya begitu kontras dengan suasana kelam di sekitar gadis bersurai ikal itu. Bak kunang-kunang argent yang berpendar dalam keremangan titik-titik khatulistiwa menjamah malam.
Gadis itu tersenyum lebar. Perasaannya bagai melambung hingga ke paru-paru demi segera menyuarakan nama si Rambut Platina.
"Dra—" Perkataannya kontan terputus tatkala netranya berhasil memfokuskan satu lagi sosok bayangan yang jatuh tepat dalam retinanya. Sosok gadis lain, eh? Siapa dia?
Hermione tak lagi dapat berucap. Sorot visualisasinya sudah cukup kenyang menyaksikan rentetan peristiwa yang berlalu begitu cepat dalam serebrum kepalanya, mengirimkan sinyal-sinyal kompulsif yang nyatanya semakin membuat gadis Gryffindor itu merasa bahwa Draco telah berlaku betrayal terhadapnya.
.
-OoOoO-
.
"Astoria?! Apa yang ka—" Ungkapan rasa tak percaya Draco Malfoy kembali lenyap ditelan sikap tak terduga sang Greengrass muda.
Yah, Astoria Greengrass, si 'Nona G'. Tak ada yang salah, bukan? Hanya saja, Draco yang terlampau cepat untuk berspekulasi bahwa 'Nona G' adalah 'Nona Pemilik Hatinya', sang Nona—cemerlang—Granger.
Kejadiannya begitu cepat, bahkan hingga gadis Greengrass itu tetiba melompat ke dalam pelukan pemuda bermanik kelabu di hadapannya—yang sama sekali tak punya persiapan apapun untuk mempertahankan diri hingga raganya hanya perlu menerima perlakuan kompulsi itu secara terkejut dengan iris mata yang melebar.
Ah, bukankah ular memang selalu bisa melilit korbannya tanpa harus berusah payah? Namun sayangnya, ular picik pun nyatanya bisa teritpu oleh ular yang pada sorot jelasnya lebih picik dan licik dari sekadar makna ular itu sendiri.
Draco Malfoy terjatuh dalam jerat sang dewi kulprit. Dan itu bukanlah berarti baik. Malapetaka, tepatnya.
Astoria memeluk Draco dengan erat dan mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir pemuda malang itu. Melumatnya dengan penuh nafsu dan gairah yang menggelora. Mencium bibir ranum setipis sari apel itu penuh-penuh, hingga siapapun orang yang menyaksikannya pasti berpikir apakah benar gadis yang beraksi brutal seperti itu adalah sosok si Greengrass muda, eh?
Ah, tentu saja. Apa yang tidak mungkin di perputaran dunia ini? Tak ada, bukan?
Draco berusaha meronta melepaskan diri dari cengkeraman sang gadis gila yang haus akan cinta delusi. Karena bagaimanapun caranya dan sekeras apapun usaha yang dilakukannya, Draco tetap tak akan berpaling barang sedetikpun dari sosok belahan sejatinya, Hermione Jean Granger seorang.
Jari-jemari Draco bergerak untuk mengambil tongkatnya yang jatuh tepat di atas tanah ketika Astoria menyerangnya beberapa menit lalu. Namun nihil, sia-sia. Gadis itu rupanya memang ular. Tak ada celah yang membiarkan Draco lepas barang sejenakpun.
"Petrificus Totalus," gumam sang gadis pelan. Draco berdiri tanpa rontaan selayaknya yang diusahakannya beberapa saat lalu. Maniknya hanya bisa melebar terkejut akan aksi gila selanjutnya dari gadis muda yang dianggapnya lugu dan polos ini. Yah, tadinya ia berpikiran demikian. Tapi itu semua berubah menjadi keping-keping korosi nurani secara mendadak. Yah, sebelum Astoria benar-benar menunjukkan topeng asli di balik kepicikan jiwanya yang terselubung kabut manis berbuah getir.
Astoria menekan kepala Draco untuk memperdalam ciuman mereka. Dan pada akhirnya ia mulai dengan 'french kiss' sepihaknya. Draco berusaha mati-matian untuk mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tapi tampaknya Astoria cukup ahli dalam hal ini, hingga dalam selang beberapa detik, kini lidahnya telah berhasil masuk menerobos pertahanan Draco. Melumat bibir pemuda itu dengan ganas, mengabsen satu per satu deretan gigi rapi Draco.
Setelah melihat sorot kepayahan dari manik wajah sang Pangeran Slytherin, si Putri Ular itupun menyeringai tipis dalam ciumannya. Sorot kelamnya terfokus pada sosok yang berdiri mematung menyaksikan dirinya dan Draco. Yah, sosok di balik bayang-bayang seleretan pepohonan di sekitar situ. Sosok yang kini perasaannya serasa remuk redam menangisi kejamnya sang krusial kenyataan. Astoria menarik tubuh Draco cukup kencang hingga kini pemuda itu bertukar posisi dengan gadis demon di hadapannya.
Dan demi Merlin! Keadaan terburuk pun terjadi. Gadis yang sedari secara terus-menerus berputar kontinual di dalam benaknya, kini harus menyaksikan dirinya ditelanjangi oleh jerat picik sang gadis bedebah yang telah merusak segalanya. Yah, segalanya. Draco yakin itu.
Kontan, sorot kelabu Draco terkejut bukan main tatkala pandangan mereka saling bersirobok dalam situasi dan kondisi yang sama sekali tak ada ekspediensinya. Pemuda itu berusaha keras untuk berkomunikasi isyarat melalu sorot matanya, namun sayang … Gadis itu telah terlanjur pergi. Berlari menembus pekatnya dewa malam dalam naungan langit kelam yang seakan turut berduka atas keremukan hati sang gadis.
Draco menatap lesu, pandangannya terpaku pada punggung sang belahan jiwa yang semakin pergi menjauh dari titik fokusnya. Pendarannya tak lagi mendominasi, sayup dan kuyu dalam bayang-bayang kelopaknya yang mulai mengatup penuh penyesalan.
Astoria melepaskan Draco dari pelukannya. Mencabut kutukan Ikat Tubuh Sempurna pada pemuda itu hingga akhirnya Draco jatuh bersimpuh lemah di atas tanah basah di tepian danau hitam. Bahkan tungkai kakinya yang terlampau kuat, kini seolah tak lagi mampu menopang sang empunya. Draco menunduk dalam diam. Ia merasa sudah teramat sangat kalah oleh keadaan.
"Terima kasih untuk malam ini, Mr. Malfoy," ujar suara tanpa bersalah itu. Draco mendongak, giginya bergemeletuk satu sama lain. "Sangat memuaskan," seringainya lagi. "Lain kali aku bahkan tak segan-segan untuk memaksamu melakukan hal yang lebih dari ini. Di kamarmu atau kamarku," ujar gadis itu dengan manik barefaced-nya. Menyunggingkan seringai sekali lagi, tertawa pelan penuh kemenangan, lantas pergi berlalu meninggalkan Draco dengan sejuta keterpurukan hatinya. Jiwa dan raganya menderita sekaligus.
.
-OoOoO-
.
"Hermione ... Hermione …. Buka pintunya! Kumohon, dengarkan penjelasanku dulu, Hermione …"
Hening, tak ada jawaban. Sekiranya Draco Malfoy sudah berada di depan pintu kamar Hermione semenjak tiga jam yang lalu. Namun sekali lagi, sang gadis hazel tampaknya tak berniat sedikitpun untuk membuka ataupun bahkan menyahut barang sekuplet kata saja. Nampaknya Hermione benar-benar telah membenci sosok Draco Malfoy akibat insiden beberapa jam lalu itu. Yah, kejadian getir bersama sosok gadis di tepi danau.
Pemuda pirang itu duduk bersandar di balik pintu kamar Hermione. Memijat pelipisnya asal, melepaskan segala penat yang menghiasi relung dan rongga serta celah-celah serebelum-nya. Ia menyesal. Sungguh menyesal. Dan teramat sangat menyesal. Mengapa dengan mudahnya ia percaya begitu saja? Percaya pada tulisan tangan yang hanya dengan satu jentikan tongkat dapat dimodifikasi sedemikian rupa? Oh, kau benar-benar brilian, Tuan Draco Malfoy! Pemuda itu membatin geram.
Semenjak malam ini, antipatinya terhadap sosok Astoria Greengrass sontak bertambah berpuluh-puluh kali lipat dibanding rasa antipatinya beberapa bulan lalu tepat di insiden pesta dansa. Yah, Draco berusaha membangkitkan autosugestinya agar tetap menaruh animus terhadap putri bungsu keluarga Greengrass yang tak tahu malu itu. Tak peduli dengan jasa keluarganya yang cukup banyak berpengaruh atas berjayanya kembali Malfoy Corporation dari lubang kebangkrutan pasca di bawah pimpinan sang Pangeran Pesek, Voldemort.
Draco harus bersabar. Menunggu waktu yang tepat untuk berbicara empat mata dengan Hermione. Yah, dia harus menemukan caranya. Cepat atau lambat. Karena ia belum siap kehilangan sosok Hermione yang nyatanya baru saja diraihnya dengan susah payah dan penuh dengan pergolakan nurani sebelumnya.
Draco akan terus mencoba. Yah, itu pasti!
.
-OoOoO-
.
Sepanjang hari ini Draco telah puluhan kali berusaha untuk menarik perhatian sang Putri Gryffindor agar gadis itu sudi menaruh atensi padanya dan mau mendengarkan serentetan penjelasan masuk akal yang sudah disiapkannya tanpa mengada-ada. Kalau perlu, Draco bersedia untuk membiarkan Hermione mejejali isi pikirannya lewat legilimensi. Yah, apapun. Asal Hermione kembali percaya padanya.
Pergantian jam pelajaran. Hermione berjalan menyusuri lorong kastil untuk menuju kelas Jampi-Jampi dan Guna-Guna, ah tidak. Mungkin kelas Mantra jauh lebih pantas. Gadis itu berjalan dengan setumpuk buku tebal dalam pelukannya serta tas selempang yang tersampir apik di bahu kanannya. Ia terlihat kewalahan dengan buku-buku seberat itu, yang pada faktanya sangat tak berkesinambungan dengan tubuh kecil ramping nan mungilnya. Namun bagi Hermione, hal itu bukanlah masalah besar. Ia seorang gadis bibliofil, bukan? Ah, tentu saja.
Akan tetapi di tengah-tengah perjalanannya menuju ke kelas Mantra, tetiba saja sebuah tangan kekar mencegat pergerakannya. Membekap mulutnya hingga gadis itu meronta-ronta minta dilepaskan. Semuanya berlalu begitu cepat hingga akhirnya Hermione menyadari bahwa ia telah dibawa ke salah satu ruangan yang menurutnya tak asing lagi. Ia mencoba mengingat-ingat sembari berusaha untuk menajamkan dan menyesuaikan visualisasinya dengan keadaan sekitar. A ha! Hermione tahu dia berada di mana sekarang. Err, di dalam sebuah lemari sapu, eh? Tapi, siapa yang 'menculiknya' hingga sampai ke tempat pengap ini?
"Ekhemm …" Serebrasi Hermione kontan buyar dan menguar begitu saja, tergantikan dengan rasa keterkejutan luar biasa. Hey! Siapa yang tidak terkejut kalau kau sedang asyik tenggelam dalam satu pikiran lantas diinterupsi oleh hal yang membuatmu sontak tak lagi berotasi pada atensi fokus?
Hermione membeliak tak percaya tatkala ia berbalik dan menemukan pemuda yang menjadi daftar orang pertama yang paling tak ingin dtemuinya untuk sementara waktu. Siapa lagi kalau bukan Draco Malfoy? Pemuda yang telah menghancurkan hati seorang Hermione Granger hingga berkeping-keping.
"Hermione …" Gadis itu sudah hendak beranjak keluar dari lemari penyimpanan sapu di saat pergelangan tangan mungilnya dicegat kembali oleh sosok Malfoy junior itu. Oh, percayalah, berada dalam lemari penyimpanan sapu yang pengap apalagi bersama orang yang untuk saat ini adalah sosok yang begitu kau benci, bukanlah suatu hal yang baik. Malapetaka, kau tahu.
Hermione berbalik, mendesis dengan wajah garang.
"Lepaskan aku, Malfoy! Aku tak ada urusan denganmu! Jadi biarkan aku keluar dari tempat minim oksigen ini!" cerocos Hermione menatap pemuda yang berdiri tegap di hadapannya. Pergelangan tangannya masih dicengkeram dengan erat oleh pemuda platina itu.
"Nama belakang lagi, eh?" tutur Draco dalam nada kecewa yang sangat kentara. Hermione menaikkan sebelah alisnya menantang.
"Menurutmu?" Draco menatapnya sendu yang sedetik mampu membuat Hermione sedikit melunak, Tap yah, sayang. Hanya sedetik. Selang detik berikutnya, Hermione kembali menjadi gadis dengan kepala batunya.
"Kumohon dengarkan aku dulu, 'Mione. Dengarlah penjelasanku dulu. Ini tak se—"
"Aku tak butuh penjelasan dari seorang betrayal sepertimu, Malfoy! Kau suadah melanggar janji kita, janji sakral berbuah petakamu!" sembur Hermione tampak habis sabar. Draco kembali menunduk dalam diam.
Hening. Tak satupun di antara mereka yang memecah tabir-tabir kesunyian, baik Draco maupun Hermione. Hanya deru napas saling beradu yang seolah menjadi komunikasi tak kasat mata di antara mereka.
"Maafkan aku, 'Mione," Draco mulai buka suara pada akhirnya. "Aku … Aku begitu bodoh hingga percaya pada surat tolol yang kukira berasal darimu itu!" Draco memandang Hermione dengan sorot frustrasi. Suaranya tak mampu lagi ia kontrol di akhir kalimatnya. Hermione seketika itu juga langsung menaruh atensi fokus pada sang pemuda platina. Matanya memicing.
"Surat?" cicit Hermione. Draco mengangguk pelan.
"Yah, surat atas nama 'G'. Dan … dan betapa bodohnya aku, sampai aku mengira bahwa itu adalah surat darimu dengan simbol 'G' yang berarti Granger," Draco menunduk. Sepertinya ia sudah nyaris kehabisan cara agar gadis di hadapannya itu mau percaya dengan penuturannya.
"Ta … tapi apa yang kaulakukan di tepi danau hitam semalam?! Jelas-jelas aku melihatmu tengah berciuman panas dengan little Greengrass!" Suara Hermione bergetar, berusaha menahan beban sembilu yang kembali serasa menghujam tepat di ulu hatinya.
"Aku bisa jelaskan itu, Mione ... Dia … dia memantraiku, sungguh! Aku berani bersumpah demi nama keluargaku kalau aku benar-benar dijebak oleh gadis keparat itu!" Tetiba saja, sorot Hermione sedikit melunak. Sepertinya sedikit demi sedikit serebrasi gadis itu mulai mencerna apa maksud Draco. Kesalahpahaman, eh? Yah, mungkin saja. Bukankah semalam ia juga mendapat surat? Bukan tak mungkin apabila hal itu memang sudah direncanakan oleh oknum yang tak suka dengan hubungan baru mereka.
Hening.
Terdengar hembusan napas panjang. "Malfoy, aku mau keluar. Tolong, lepaskan aku," pinta gadis bersorot karamel itu. Draco menatapnya tak percaya.
HAP!
Draco tetiba memeluk gadis di hadapannya dengan sangat erat. Seakan tak lagi ada untuk hari esok. Hermione sontak terkejut. Bingung hendak melakukan apa.
"Kumohon, percaya padaku, 'Mione. Aku mencintaimu, sungguh …" suara husky itu terdengar bersungguh-sungguh.
Tiga detik …
Lima detik …
Tujuh detik …
"Aku juga mencintaimu, Draco …" Hermione akhirnya luluh meski hatinya masih sedikit perih, ia membalas pelukan sang Malfoy junior itu sebelum akhirnya mereka berjalan bersama-sama menuju kelas Mantra. Yah, sangat kebetulan. Kelas Mantra Slytherin dan Gryffindor hari ini sejadwal.
Terlambat, eh? Detensi menunggu.
.
-OoOoOo-
.
Pintu ruangan berderit terbuka, menghasilkan interferensi bunyi yang cukup menyakitkan telinga. Yah, terang saja, pintu kayu ruangan itu sudah terlampau sangat tua dan lapuk. Usia seolah-olah telah menggerogoti kekokohannya.
"Maaf, Profesor. Kami … terlambat." Sontak seisi ruangan kelas menoleh ke arah sepasang Ketua Murid yang masih berdiri terpaku di ambang pintu. Profesor Flitwick turun dari mejanya, menghampiri dua sejoli itu dan menatapnya dari balik kacamata mungilnya.
"Terlambat tiga puluh dua menit sembilan detik, eh? Detensi di kantorku malam ini pukul sembilan. Silakan duduk."
Draco dan Hermione kontan menghela napas bersamaan lalu kemudian duduk bersebelahan di bangku paling belakang. Well, satu-satunya bangku yang tersisa di dalam ruangan. Harry, Ron, Neville, Ginny, Theo, Blaise, Pansy, dan beberapa anak lainnya menatap mereka ingin tahu.
"Baiklah, Anak-anak, mari kita lanjutkan. Mantra ini sudah digunakan semenjak beratus-ra…."
"Berhenti menggerutu, Draco. Cepat catat di perkamenmu," bisik Hermione pelan sembari mulai mencatat apa-apa yang dirasanya perlu untuk dicatat.
.
-OoOoOo-
.
Jam dinding berdentang sepuluh kali. Hermione dan Draco baru saja keluar dari ruangan Profesor Flitwick. Yah, mereka baru menyelesaikan detensi mereka; membantu Profesor Flitwick menyortir buku-buku mantra di dalam ruangannya. Well, memilah-milah buku usang nan berdebu di ruangan tersebut lantas membawa buku-buku yang dianggap perlu untuk ditempatkan di perpustakaan.
Hermione terlihat menepuk-nepuk jubahnya, berusaha untuk menghilangkan jejak-jejak debu yang sekiranya masih menempel di sekujur tubuhnya.
"Kau kenapa, Draco? Alergi debu, eh?" Hermione tersenyum tipis ketika manik hazelnya mendongak dan mendapati Draco yang tengah dalam ekspresi yang, err, aneh …
"Kau tunggu di sini dulu, Mione. Aku mau ke toilet dulu. Rasa-rasanya aku sudah tak tahan." Hermione melirik sekilas ke arah pemuda yang tengah menyimpan kedua belah tangannya samar-samar di atas Malfoy 'junior'nya. Gadis itu terkekeh pelan, menggeleng-gelengkan kepala.
"Hahaha … Silakan, Mr. Malfoooy," ujarnya dalam nada yang dibuat-buat, ia memutar bola matanya geli. Sementara itu Draco langsung menghambur pergi untuk memenuhi hasrat buang air kecilnya.
"Tunggu aku, love." Suara Draco menggema di sepanjang koridor seiering dengan piijakannya di lantai dingin kastil.
.
-OoOoOo-
.
Lima menit …
Sepuluh menit …
Lima belas menit …
Sembilan belas menit …
Dua pu—
Hermione mendengus kesal. Di mana musang pirang itu? Buang air kecil tentu saja tak akan selama ini, 'kan? Atau jangan-jangan … dia tersesat, eh? Oh, Bloody Baron akan tertawa berguling-guling jika benar hal ini terjadi.
Karena terlampau bosan menunggu, apalagi dirasanya tungkai kakinya juga sudah mulai pegal dan tak sanggup untuk menunggu lebih lama lagi daripada ini, maka Hermione memutuskan untuk berjalan menyusuri koridor dan ruangan-ruangan kosong untuk mencari sosok pirang yang dicarinya, Draco Malfoy. Ia sudah mulai panik. Mungkin saja terjadi sesuatu yang buruk, kan, pada pemuda itu?
Dengan berbagai pemikiran-pemikiran aneh yang mulai bergumul dalam serebrumnya, lantas Hermione melajukan kaki reniknya dengan tergesa-gesa. Tidak, tidak. Ia lebih kelihatan seperti menyeret langkahnya. Samar-samar, di ujung koridor yang menjadi persimpangan jalan menuju toilet dan asrama Gryffindor, indra dengar Hermione mulai menangkap suara-suara aneh dan, err, menjijikan?
"Ah, Draco … Uh, oh … Draco… Ayo, sayaaang … Ah … Nah, begitu …. Kau hebat … Ah, uh … Pelan-pelan …" Hermione mempercepat langkahnya. Ia tak mungkin salah dengar, suara itu menyuarakan nama Draco? Ada berapa Draco sih di Hogwarts? Gadis itu menarik napas dalam-dalam tatkala ia telah berdiri tepat di depan salah satu pintu ruang kelas kosong yang menarik fokus curiganya itu. Suara itu makin tedengar dengan jelas.
Dengan berbagai perasaan yang mulai bergolak di dadanya, perlahan jemari mungil gadis ikal itu mulai memutar knop pintu.
Satu ….
Dua …
Tiga …
Pintu menjeblak terbuka, menampilkan dua insan yang tengah—
"DRACO MALFOY?!" suara itu terdengar bak tercekat di ujung karotis si empunya.
Gadis itu tak ingin memercayai penglihatannya, meskipun sosok platina di hadapannya kini benar-benar adalah sosok Draco Lucius Malfoy! Yah, Draco yang itu. Draco yang baru beberapa hari ini menjadi pangeran di hatinya, Draco yang belakangan ini selalu memenuhi pikirannya, Draco yang akhir-akhir ini membuat hari-hari Hermione berwarna selepas rasa sakitnya terhadapa Ron. Yah, Draco yang tadi pagi baru saja mengatakan bahwa ia mencintainya, mencintai gadis Gryffindor itu dengan sungguh-sungguh! Tapi sekarang apa?!
Air mata menjadi saksi keperihan hati seorang Hermione Granger—lagi, untuk sosok yang berbeda—, penyihir cerdas berbakat yang sayangnya terluka karena cinta.
Cinta di saat luka menganga di palung hatinya kembali menguar lantaran hadirnya cinta yang baru. Cinta yang sepertinya mengalami degenerasi bahkan di saat auranya belum sempat mencapai kulminasi total.
Hermione Granger, si Malang …
.
.
.
To Be Continued
.
.
|Pojok Author|
.
Halo! :) Loony kembali, seseorang meridukan saya, mungkin? XD *dilempar bubuk floo* … Oke, terima kasih banyak buat kalian yang sampai sekarang (mungkin) masih menunggu fic ini berlanjut. Dan saya sangaaaat meminta maaf atas keterlambatan update yang 'cukup' keterlaluan, hehe … Saya benar-benar sibuk, guys … Bayangin aja, pergi ninggalin rumah sekitaran pukul tujuh pagi dan baliknya yah, sepantaran pukul lima sorean lah -_- kegiatan saya banyak banget akhir-akhir ini (dan sampai beberapa bulan ke depan sepertinya). Jadi, waktu saya benar-benar sempit buat nulis. Apalagi data-data fic saya hilang lantaran laptop yang satunya lagi rusak :( jadi ini baru punya waktu buat nulis ulang chap 19 di sela-sela aktivitas yang membludak. Dan well, sebenarnya saya gak pede nge-publish chap ini, saya rasa chap ini sangat tak menarik untuk dibaca :( dan kalau memang benar adanya, sekali lagi saya meminta maaf …
Sekali lagi saya ucapin terima kasih yang sebanyak-banyaknya bagi yang udah terus ngingetin agar fic ini segera dilanjut, baik lewat review, pm, jejaring sosial, dll *hugs* … (buat Winda, juga makasih sudah support buat terus lanjut :D) dan meskipun sekarang saya gak tahu apakah masih ada yang dengan setia nungguin cerita ini apa nggak, tapi ah, semoga yang masih nunggu (kalau ada) cukup suka dgn chap ini :)
Well, karena juga lama gak bersua, gak ada salahnya, kan, kalau Loony mau bales review2 di chap kemarin? Yah, karena Loony juga kangen sama kalian sih soalnya, hehe … Ok, let's check it out!
.
.
Shizyldrew :
Gimana? Gimana? Udah gak penasaran? Nih udah update, review lagi? :)
uchiha feltson :
Hi, uchiha! :) err, sibuk something, hehe. Yah, sibuk untuk sesuatu yang bisa nentuin masa depan saya dan hidup saya selanjutnya wkw *lebai. Ah, saya juga merindukanmu, Dear! *peluk2... Ini sudah update, review lagi? :)
Adellelicea :
Emang umur berapa, Dear? Wkwk, ini udah update, kok. Err, sepertinya chap ini juga masih tergolong aman XD. Review lagi? :)
Tsurugi De Lelouch :
Hi, sist! Ya, cinta masa muda yang menggelora, hehe … Sudah tahu, kan, suratnya dari siapa? Anyway review lagi? :)
Markoding Tumpahahe :
Ini Adis? -,- pen namenya pake nama rumah, ya? Markoding versi ayahnya Adis, wkwk … Ini udah lanjut, The Ending juga udah update tuh. Review lagi? :) *ps : udah jgn nagih2 ya, tuh udah saya lanjut TE nya XD.
Farah Zhafirah :
Maaf, Dear … kupikir kau sudah tahu kalau MBiF update chap 17 dan 18 lalu, hehe. Btw, makasih klo Farah nganggep Loony sbg author fav-nya XD *terharu. Ini udah dilanjut, Dear. Review lagi? :)
Guest :
Ini sudah lanjut, review lagi? :)
Guest :
Terima kasih sudah berkenan menunggu. Ini sudah update, tapi maaf gak kilat T_T … Review lagi? :)
Mega Malfoy :
Haha, benarkah? Yang jelas kamu gak gila kalau senyum sendiri, ketawa2 sendiri, atau diam anteng sendiri gara2 fict ini. Mungkin Loony yg gila? XD. Ini sudah lanjut, dan terima kasih sudah menjadi pembaca setia saya, ya, Dear. Review lagi? :)
BlueDiamond13 :
Hi, Blue! Lama gak jumpa, jadi kangen XD *digetok Blue. Ah, benarkah? Saya gak nelen KBBI kok, cuman bikin jus dari KBBI :D Ah, nggak, bercanda hehe. Well, bagaiamana konflik chap ini? Semoga gak begitu buruk, ya … Btw, review lagi? :)
yanchan :
iya, namanya juga surat misterius, sist, hehe … Dan tepat dugaan Anda, itu memang bukan Granger! But, jelas juga bukan Goyle -,- wkw … Ini sudah update, masih penasaran? Yuk, review lagi XD.
HallowRose :
Makasih sudah baca dari awal dan makasih karena udah suka gaya bercerita saya yang sangat pas-pasan ini, hehe … Ini sudah lanjut. Udah tahu, kan, suratnya dari siapa? Semoga udah gak penasaran. Review lag? :)
Naomi Averell :
Wah, chapter kemarin kependekan? Padahal nyaris 5k+ deh kalau gak salah .-. Yah, tepat sekali. Orang yang menguntit di perpustakaan sama dengan orang yang ngirim surat misterius itu (udah bisa nebak, kan, siapa?) Ini sudah update, sist … Review lagi? :)
gothicamylee :
awesome? Makasih, dear :) Ya, itu bukan Hermione yang ngajak Draco ._. Ini sudah update, review lagi? :)
LuluIslamah :
Yah, tepat sekali, Dear. 'G' emang Greengrass, not Granger. Ini sudah lanjut, okedeh, thx fav-nya, Dear … Review lagi? :)
Ladyusa :
Ah, gpp, Beb … DraMione-nya panas? *bantu nyalain kipas wkw … Yap! Itu memang bukan Hermione, tapi sayang sekali, tebakan Anda memang benar, it's Astoria! Hehe, review lagi? :)
dyfa kanari :
Ya, fict ini sudah di-post sejak Februari lalu. But, gk ada kata terlambat untuk RnR XD … Makasih ya, sudah suka. Makasih juga udah ngingetin buat terus update, nih chap 19nya. Semoga udah bisa tidur, ya. Udah gak usah terlalu dipikirin sampai gk nyenyak tidur, Dear *kan jadi gak enak nih hehe* Review lagi? :)
Yukii :
Hi, juga Yukii! Salam kenal balik :) err, sider? Well, gpp. Toh, sekarang udah nongol hehe … Makasih udah suka ceritanya :) Tapi saya rasa, kamu terlalu berlebihan. Tulisan saya biasa2 aja kok, masih jauh banget dari yang kamu bilang itu, hehe … Btw, siapa bilang review-nya gak mutu? Wah, ini mutu bgt klo boleh saya bilang, nambah smangat pula XD. Review lagi? :)
Dramionefans :
Keren? Thx :) Ini udah lanjut, review lagi? :)
Whilda Nilam :
Wkwk, panas dingin bacanya? Sampai segitunya XD *digetok. Makasih lho, ya …. Review lagi? :)
Guest :
Udah lanjut nih … Review lagi? :)
Princess Ravenclaw :
Maaf gak cepet lanjutnya, ya … Tapi makasih, lho, udah suka gaya bahasa saya yang sangat jauh dari standar ini. Btw, review lagi? :)
Guest :
Err, sibuk something, Dear :) Nanti juga tahu, kok … Hehe. Yah, saya udah kembali dari pertapaan(?) saya wkw, ah becanda. Btw, review lagi? :)
Karina Malfoy :
Loony gak ke mana-mana, kok, Dear … Hanya pergi sementara untuk kembali XD *digetok. Makasih sudah mau setia nunggu, nih udah update. Review lagi? :)
Permen Kaki :
Yah, HOT! XD … Heihei, di sini bukan tempat iklan permen lho, ya, hehe … Ini udah upate, review lagi? :)
Noname :
Gereget? Hehe … Ini sudah upate, udah tahu, kan, suratnya dari siapa? Semoga udah gak penasaran XD, review lagi? :)
Jihan :
Penggemar dan pembaca setia fict ini? Wah, makasih, Dear! :) Well, silent reader … Err, gpp deh. Kan sekarang udah nongol wkw. Makasih lho, ya … Tapi jujur, saya kurang pede dgn chap ini, bahasanya juga saya gak yakin masih dibilang bagus apa nggak versi kamu. Err, ini udah update! Review lagi? :)
Guest :
*ngasih air yang keselek … Ah, iya, gpp … Mungkin selama ini jadi sider karena ada alasannya? Hehe .. Ini udah update, lho … Review lagi? :)
Dyah :
Halo juga, Dear :) … Hehe, benarkah? Jadi terharu XD *digetok. Review kamu jelas dong nambah semangatnya saya, jadi jgn pernah beranggapan kalau reviewmu gak mutu. Ah, saya selalu menghargai setiap review yang masuk, kau tahu. Ini udah update, review lagi? :)
Guest :
Tadaaa! Nih, chap 19-nya, maaf udah nunggu lama T_T … But, mind to review again? :)
Hikari Rhechen :
Halo juga, Hikari! :) … Err, maafkan saya., tapi nyatanya Mione emang menderita gegara surat misterius itu T_T … Yah, semoga mereka cepat baikan. Well, review lagi? :)
DABEL-TRABEL :
Maafkan saya T_T ini udah lanjut, kok … Maaf banget kalau nunggunya udah sampai lumutan, ah, saya sadar, kok T_T … Err, karena ini udah update, so, review lagi? :)
Jeane Riddle :
Ohai! :) Thanks udah sudi baca dan suka ama fict ini meski baru baca 2 chapter, eh? Ayo baca sampai habis terus review lagi XD …
.
Well, makasih banyak atas reviewnya. Ketahuilah, Loony selalu menghargai setiap review yang masuk dan tentu saja itu bisa menjadi bakaran semangat biar Loony bisa update cepet lagi kayak dulu2 :)
Yah, meskipun Loony tahu, keterlambatan updatenya cukup keterlaluan plus chap-nya juga gak menarik maybe, err… Dan itu semua cukup kok buat Loony tahu diri dan merasa malu jika harus minta review dgn chap yg sangat kurang ini … Tapi, yang baik hati dan berkenan, err… mungkin gak masalah kali, ya, dengan memberikan sedikit review? *tutup muka* Err, biar Loony tetep semangat buat nulisnya dan bisa cepet update, hehe *senyum canggung. Well, thx deh, ya, kalau ada yg mau RnR chap ini ;)
Btw, Happy Idul Adha, selamat hari kurban! ^^
PS : "The Ending" chap 4 update! Review? :)
.
.
Salam,
MissLoony.
