Naruto berjalan melewati Sakura, ia berhenti tepat di dekat syal milik Sakura tapi ia belum menyadarinya matanya masih fokus mengarah pada para relawan.
Merasa kenal dengan prajurit berambut pirang itu, Moegi mendekati Shizune. "B-bukannya dia kakak prajurit yang waktu itu..." bisik Moegi pada Shizune.
"Sepertinya sih, iya..." jawab Shizune mengangguk setuju, sambil sesekali memperhatikan Sakura.
"Tanpa basa-basi, Saya yang akan bertanggung jawab atas keamanan kalian selama tinggal di Ame, terutama saat berada di kompi Gedou Mazou. Ya, saya adalah komandan kompi divisi Gedou Mazou, Kapten Namikaze Naruto. Senang bertemu kalian, dattebayo!" Naruto memperkenalkan dirinya pada tim medis. Sakura akhirnya menundukkan kepala setelah memastikan lebih jelas siapa pria itu.
"Senang bertemu kalian juga." ucap para tim relawan itu sambil membungkuk.
"Dari sini ke Gedou Mazou, kita akan melakukan perjalanan dengan menggunakan heli CH47 yang ada disana." Kata Shikamaru. Kiba dan Sai menghampiri para relawan dan menyerahkan tas militer pada mereka. "Kalian hanya boleh diijinkan menggunakan ransel militer selama penerbangan."
"Hah?"
"Yang benar saja?"
"Yaaa, sialnya."
"Apa-apaan? Yang benar saja? Bagaimana barang kami yang lainnya?" Keluh para relawan sambil melihat tas militer mereka. Naruto tak menjawab dia hanya menundukkan kepala ketika menyadari sesuatu didekat kakinya, dia kemudian mengambilnya.
"Tenang saja, sisanya, barang kalian akan diangkut melalui jalur darat. Dan akan sampai besok malam. Baik, itu saja. Kita akan berangkat 10 menit lagi pada jam 13:30 waktu setempat."
Naruto berbalik ke arah Sakura saat Sakura juga kembali menatapnya. Naruto mulai melangkah mendekati dokter merah muda itu. Pria itu langsung menyerahkan syal itu pada Sakura tanpa berkata-kata, dan Sakura pun menerimanya hanya bisa terdiam. Mereka hanya saling menatap dalam diam.
"Aku adalah seorang prajurit. Prajurit harus mengikuti perintah..."
-NAMIKAZE NARUTO-
.
"Aku adalah seorang dokter. Aku percaya kehidupan itu suci, dan tak ada nilai atau ideologi yang dapat menggoyahkannya."
-HARUNO SAKURA-
.
.
.
.
DISCLAIMER: I DO NOT OWN NARUTO. All publicly recognizable Naruto characters, settings, etc. are the property of SJ and the mangaka. No money is being made from this work. No copyright infringement is intended. Big influence from DRAKOR/Korean Drama (2015-16): Descendant of The Sun. Starred By Song Joong-ki and Song Hye-kyo Almost total same-plot! I write this only for fun! FOR FUN!
.
.
.
.
Warning (s): AU SETTING CANON, ACTION-ROMANCE, Drama, OOC LUAR BIASA, TYPO & ALUR DENGAN KECEPATAN MOTO GP.
.
.
.
.
Naruto as Yoo Shin-jin
Sakura as Kang Mo-yeon
Shikamaru as Seo Dae-young
Ino as Yoon Myung-ju
.
.
.
.
BLACK FOX
Naruto (Alpha Fox) [Kapten]
Shikamaru (Buckman) [Sersan Mayor]
Neji (Shinigami) [Sersan Kepala]
Sai (Mr. innocent) [Sersan Kepala]
Kiba (Inu) [Sersan dua]
.
.
.
.
SOLDIER X DOCTOR
VVVVVVVVVV
VVVVVVVVV
VVVVVVVV
VVVVVVV
VVVVVV
VVVVV
VVVV
VVV
VV
V
[三]
Kompi divisi Gedou Mazou, Ame.
Tiba di Gedou Mazou, mereka langsung disambut hangat oleh para tentara dengan nyanyian.
"~Padapadapam~ 1. 2. 3. Padapadapam~Padapadapam~" para prajurit itu bernyanyi sambil bertepuk dengan sedikit tarian menyambut kedatangan para relawan. Para relawan pun tersenyum melihat mereka. "~pa papam papam~ Yeaaaay!"
Konohamaru maju untuk mengalungkan kalung bunga pada Sakura. Namun sepertinya Sakura tak mengenal dirinya entah karena penampilan berbedanya atau karena masih melamun sejak kejadian tadi. "Selamat Datang." Para prajurit lain juga mengalungi para relawan dengan sebuah kalung bunga, Konohamaru kemudian mengalungi Shizune setelah selesai dia mendekati Kakashi, pria bermasker itu langsung menunduk hendak menerima kalung bunga dari Konohamaru, namun Konohamaru malah melewatinya dan mengalungi Moegi yang tepat dibelakangnya, membuat Kakashi terpaksa berpura-pura sedang melihat sepatunya, menutupi rasa malunya.
Lee hanya terkekeh melihatnya. Sedangkan Kakashi kembali menegakan badannya. "Kenapa kau tertawa? Aku terlihat aneh?"
"Tidak kau terlihat sangat membara." Ucap Lee. "Ah, itu medicube-nya. Kurasa kita tinggal disana."
"Mana mungkin kita semua tinggal disitu! Kita akan tidur diluar layaknya para prajurit disini. Haah... aku tak mau tidur di luar, diumurku yang sudah kepala empat begini."
"Hei ayolah Sensei, itu pasti sangat seru, rasanya seperti berkemah. Yoshaaaa!" Ucap Lee bersemangat.
Kakashi hanya memandang malas. Dia pun mulai menyanyikan lagu Karangannya sendiri. "~Anak ini, siapa sebenarnya ibu yang melahirkannya? Bisa-bisanya membesarkan anak seperti ini~"
Merasa enak dengan nyanyian Kakashi, Lee malah berjoget dan tak menyadari bahwa lagu itu sedang mengejeknya. "YEAY GOYANGKAN BOKONGMU HUU YEAY!"
"Aish..." ucap Kakashi sweetdrop.
Beberapa saat kemudian...
Sakura dan Moegi berada di tenda yang sama, sebuah tenda yang cukup luas yang disediakan pihak rumah sakit sebelumnya. Mereka berdua saat ini sedang menyusun barang yang mereka bisa bawa dengan helikopter saja karena barang-barang yang lainnya belum sampai, masih akan menyusul.
"Yaa barangnya masih belum sampai, jadi tak banyak yang akan ku rapikan." Ucap Moegi.
"Baguslah, aku juga sangat capek jadi untuk sekarang tak terlalu banyak pekerjaan." Balas Sakura. Dia pun mulai melipat baju dan menaruhnya di lemari yang disediakan didalam tenda yang cukup besar itu.
"Tapi rasanya aku senang sekali hari ini karena untuk pertama kalinya aku bisa menaiki sebuah heli."
Sakura tertawa mendengarnya sebelum akhirnya sebuah seringai jahil muncul. "Kau senang karena naik helinya atau karena melihat para prajurit yang tampan-tampan? Aku yakin pasti ada satu di antara mereka yang telah mencuri perhatian mu kan?"
"Neechan!" pekik Moegi malu sementara Sakura tertawa lepas, karena berhasil menggoda perawat muda itu. "Lagipula bagaimana dengan neechan? Bukanya kapten itu, pria yang sering neechan jumpai waktu itu?"
Tawa Sakura langsung terhenti ketika Moegi mengatakan tentang Naruto. Sakura menarik napas. "Sudahlah lebih baik lanjutkan susun menyusun baju mu, agar kita bisa—"
"Permisi! Tok! Tok! Tok! Boleh aku masuk?" Seorang prajurit memasuki tenda mereka, lalu berdiri gagah didepan kedua wanita itu. "Bagaimana kabar kalian? Rasanya lama sekali tak bertemu."
Keduanya terdiam dan memandang aneh prajurit yang sok kenal sok dekat itu.
"Kalian tidak ingat padaku? Ah wajar sih." Kedua wanita itu masih diam menatapnya bingung. Lalu prajurit itu melakukan gerakan pincang. "Aku yang kabur... dari UGD—"
"WHOA!" Pekik Sakura saat menyadari. "Aaa pencopet itu! Oooh whoaaaa Sugoi!"
Moegi sendiri terkejut melihat Konohamaru, prajurit itu. Penampilan pemuda itu benar-benar berbeda. "S-sugoi!"
"Hehehe.. Kopral Sarutobi Konohamaru! Itulah aku hehehe.."
"Kenapa kau bisa disini?" Tanya Moegi. "Aku kaget sekali."
"Coba kau loncat!" Perintah Sakura.
"L-loncat?"
"Bukanya pergelangan kaki mu dulu terkilir, kan? Aku hanya mau tahu apa sudah sembuh benar?"
Konohamaru mengangguk dan langsung meloncat-loncat tempat "Tenang, kaki ku sudah sembuh berkat mu, buktinya, aku lulus ujian fisik tingkat pertama."
Moegi menyipitkan matanya curiga pada Konohamaru. "Kau tidak nyopet lagi, kan?"
"Kopral Sarutobi Konohamaru. Tentara pasukan militer Konoha menjunjung tinggi kehormatan dan kesetiaan serta persatuan." Jawab Konohamaru sambil memegang dadanya. "Tak mungkin seorang prajurit seperti ku sudi untuk kembali pada kehidupan kelam ku itu!"
Keduanya langsung salut. "Whoooa!"
KRIET!
KRIET!
Kakashi dan Shizune berada di tenda lainya, saat ini Kakashi sedang berpikir keras diatas ranjang militer milik Shizune sambil memantulkan bokongnya pada ranjang tak berdosa itu... Sedangkan Shizune masih sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam lemari.
KRIET!
"Sudahlah hentikan. Tempat tidurnya bisa rusak." Kata Shizune masih berkutat dengan pakaiannya.
"Kau saja yang berhenti." balas Kakashi.
"Berhenti apanya maksudmu hah?"
"Tak usah masukkan itu ke lemari lagi, sekarang kita harus kabur." ucapnya masih meloncat di ranjang. "Apa kau tahu berapa macam penyakit endemik yang ada di sini?"
"Berapa banyak?"
"Tsk justru aku bertanya karena aku tak tahu. Makanya, kita harus pergi sebelum penyakit itu menular pada kita." Kata Kakashi memegang tangan wanita paru baya itu menghentikan kegiatanya.
"Sana! kenapa kau belagak begini ditendaku ini?" ucap Shizune menyingkirkan tangan pria itu dan kesal.
"Kau tak dengar pembicaraan Sakura dengan Ketua tadi? Kerjaan ini sebenarnya adalah 'Hukuman', bukannya 'Sukarelawan'. Kenapa pula kita harus ikut dihukum juga?" keluh Kakashi.
"Kau tahu? Mengenalmu selama 35 tahun, sama saja dengan menghukumku."
"Apa kau serius menganggapku ini hukuman mu?"
"Apa kau ini jackpot bagiku Huh?" tanya Shizune remeh.
Kakashi mendecih kesal dan memantulkan badannya lagi ke ranjang dengan semakin cepat dan keras membuat ranjang itu berderit. "Aku akan merusak tempat tidurmu. Kau akan tidur di tempat tidur yang rusak."
KRIET!
KRIET!
"Jangan kekanak-kanakan begitu."
CKREK!
CKREK!
Lee saat ini sedang brrjalan-jalan sambil memfoto pemandangan sekitar dan selfie dengan penuh semangat, sepertinya dari semua relawan hanya dia yang memiliki stamina lebih, mengingat para relawan yang lain memilih untuk mengistirahatkan diri. Namun kegiatanya terhenti ketika dia terkejut dengan kehadiran Neji didepan kameranya dan tak sengaja memfotonya.
CKREK!
"Waa!"
"Perlihatkan Kameranya!" Perintah Neji. Pria itu mengambil kamera itu dan melihat fotonya yang candid. Setelah selesai memeriksa dia pun menyerahkan kameranya pada Lee. "Cepat hapus foto itu!"
"Kenapa? Kau tak suka berfoto? Ayolah ini hanya dokumentasi ku untuk tunanganku." Ucap Lee hendak memfoto lagi.
"Tidak! Kami tidak diizinkan berfoto." Dengus Neji sambil menghalangi kamera.
"Kenapa begitu?"
"Aku tak bisa memberitahu alasannya, itu peraturan—"
"Mereka memang begitu. Mereka sangat misterius. Mereka memang tak bisa mengatakan apa-apa. Itulah peraturannya." potong Sakura yang sudah berjalan mendekati mereka. Neji lalu memutuskan untuk undur diri, ketika kedatangan wanita itu.
"Waaa bagaimana kau bisa tahu itu, senpai?" tanya Lee.
Ekspresi Sakura langsung berubah sedih dan tak berniat menjawab. Dia lebih memilih untuk pergi meninggalkan Lee yang masih bertanya-tanya.
Wanita musim semi itu terus berjalan hingga sampai didepan markas utama kompi Gedou Mazou. Dia berhentilah sejenak ketika ia merasa tak nyaman saat berjalan seperti ada sesuatu yang menganggu di dalam sepatunya. Dia memutuskan untuk melepas sepatunya dan mencari benda pengganggu itu, ternyata beberapa batu kerikil menyelundup masuk kedalam sepatu kets merah marunnya, dia langsung membalikkan sepatunya untuk mengeluarkan kerikil-kerikil sialan itu.
Wanita itu terdiam menahan napas ketika dia melihat Naruto yang sedang mengangkat paket cukup besar. Wanita itu hendak menyapa tapi urung setelah melihat pria itu hanya berjalan tanpa sedikitpun menoleh kearahnya yang sebenarnya cukup dekat dari tempat pria itu mengambil kardus. Sepertinya pria itu masih mengabaikannya.
"Dia tidak lihat apa? Atau dia memang sengaja mengabaikan ku sih?" Desis Sakura sebal.
Sedangkan Naruto setelah masuk dia langsung bersandar di dinding dan terus melihat Wanita pemilik mata Zamrud itu dari pantulan cermin. Dia bisa melihat Sakura sedang melihat ke arah pintu markas yang baru dia masuki. Kemudian ia melihat wanita itu memakai kembali sepatunya, dan pergi berlalu dengan mata yang masih menatap markas itu. Naruto hanya mendesah pelan, dia lanjutkan berjalan memasuki ruangannya. Dan menaruh kardus itu di atas meja Shikamaru yang sedang sibuk mengetik.
Shikamaru melirik sebentar, lalu memilih kembali berkutat pada komputernya.
"Kau tak mau membukanya?" Tanya Naruto melipat tangannya di dada sambil mendudukan bokongnya pada bagian kosong meja Shikamaru.
"Nanti saja!"
"Hmm tak bisa seperti itu. Bagaimana kalau isinya yakiniku? nanti bisa basi lho!"
"Tsk merepotkan, itu lebih terlihat seperti bom rakitan ketimbang yang kau sebut tadi."
"Aish dasar kau ini..." Ucap Naruto. "Bukalah sekarang! Jangan ketakutan begitu hanya karena sering melihat kardus berisi bom, jadilah rusa jantan sejati."
Shikamaru mendesah dan menghentikan pekerjaannya untuk menuruti permintaan komandan rubahnya yang merepotkan itu. Ia mulai membukanya dan mengeluarkan satu per satu isi kardus itu. "Sekotak Ramen instan?" Ucap Shikamaru.
Mendengar kata ramen Naruto langsung mendekati Shikamaru. "Ramen?" Ucap Naruto sambil melihat beberapa kardus kecil berisi ramen.
"Untuk Sersan Kepala Neji." Ucap Shikamaru sambil menunjuk sebuah kertas
Naruto mengambil kardus ramen kedua. "Yang ini untuk Sersan Kepala Sai."
Shikamaru memegang sebuah kaset drama. "DVD drama romantis untuk Sersan dua Kiba." Dia terdiam saat melihat benda terakhir didalam kardus. Sebuah amplop dengan corak sangat kawai.
Naruto juga melihatnya ketika Shikamaru mengambilnya. "Apa kau dan dia sudah putus? Tapi apa ini? Kok dia masih mengirim mu amplop itu dan peduli tentang mu. Aish, Ino memang benar-benar ya!" Naruto mengambil termos air panas untuk menyeduh satu cap ramen curiannya.
"Itulah yang membuatku tidak enak." ucap Shikamaru sambil membaca suratnya. Pria Nara itu kemudian mengambil cup ramen itu sebelum disentuh lebih jauh lagi oleh Naruto, membuat kaptennya itu menggerang.
"Jadi kiriman ramen spesial untukku mana?" tanya Naruto berharap masih ada ramen lain yang dikirim Ino khusus untuknya, mantan adik kelasnya yang seksi itu pasti mengerti kesukaannya.
Shikamaru hanya memberikannya kardus paket yang sudah kosong itu...
"Waa! Sulit dipercaya, serius ni?" Tanya Naruto kesal. "Haaa... sudahlah disini juga masih ada persediaan ramen. Oh ya, kau juga tak dapat kiriman dan cuma dapat surat?"
"Kiriman untukku? Sedang dalam perjalanan." Shikamaru melipat suratnya.
"Dia mau datang ke sini?"
Konohagakure, Konoha.
Dua orang berseragam militer sedang melakukan kegiatan formal di ruangan dengan nama pemilik Letnan Jenderal Yamanaka Inoichi. Komandan divisi Pasukan Khusus Angkatan Darat.
"Sonkei! Pemberian laporan. Letnan Yamanaka Ino. Diperintahkan untuk menjadi... bagian dari tim medis pangkalan Akuma, pada tanggal 21 Mei 2015. Laporan selesai, Sonkei!" Ucap wanita berambut pirang kemudian memberi hormat. Sedangkan sang jenderal hanya diam menatapnya. "Saya akan menjaga diri di sana dengan baik."
"Jadi kau masih ngotot mau pergi ke sana juga?" Tanya pria pirang berusia kira-kira 60 puluh tahun.
"Ya. Saya sudah tak sabar untuk pergi ke sana."
"Seperti yang sudah kubilang, aku lebih menyukai Kapten Naruto. Dia memiliki peluang besar untuk menjadi Jenderal. Aku ingin dia menjadi menantuku..." Ucap pria itu. "Tapi Kau malah selalu menyulitkan Sersan Shikamaru."
"Anda tak bisa melibatkan urusan pribadi dalam mengerjakan tugas militer. Apa anda ingin kehilangan prajurit terbaik lagi?"
"Siapa maksudmu? Shikamaru mundur dari hubungan kalian karena dia tahu maksudku yang sebenarnya. Dan aku tak pernah kehilangan prajurit ku selain karena gugur dalam tugas."
"Dia memutuskan untuk mundur bukan karena perintah darimu, ayah. Dia melakukannya karena dia adalah prajurit sejati yang selalu mematuhi perintah atasan. Karena itulah... aku mencintainya. Dan... Karena itu juga aku tidak bisa melepaskannya." Tegas Ino. Inoichi menggertakan giginya menahan marah. "Jika kau menghentikanku lagi, Letnan Yamanaka Ino dan putrimu, Yamanaka Ino. Kau akan kehilangan keduanya. Itu saja, Laporan saya selesai."
Wanita itu langsung memutar badannya dan pergi meninggalkan sang jenderal yang hanya menatap kepergian wanita itu. Setelah kepergian Ino, Inoichi mengambil telepon ruangannya.
"Ini aku! Hubungkan aku pada Yamato!"
"Serius? Mantan pacar mu dan bocah tengil waktu itu, keduanya ada di sana juga?"
Sakura tengah berjalan-jalan mengitari seluruh penjuru Kompi itu sambil menelpon Sahabatnya, Tenten. "Ya, mereka ditugaskan disini... Dan tadi saat di bandara aku sangat gugup sekali ketika tahu dia ada di sin.i"
"Ya pastinya kau gugup!" Balas Tenten dari seberang telepon. "Ini pasti takdir. Maksudku, kau bertemu dengannya lagi dibelahan dunia lain. Aaa pasti kau girang sekali melihatnya kan? Apa dia tambah tampan? Apa dia membuat mu menyesal memutuskannya?"
Sakura mendesah. "Yyohh girang bagaimana? Dia bahkan tak melirik sampai saat ini... Tenten? Eh halo? Tenten?" tak mendapat jawaban dia memutuskan untuk melihat ponselnya. No signal.
TUT!
"Aish aku memang benar-benar sedang di daerah terpencil."
Sakura kembali melanjutkan perjalanannya sampai ke sudut pagar pembatas kompi. Dari situ ia bisa melihat anak-anak penduduk disana, dia bisa melihat beberapa anak mengenakan pakaian bertuliskan tulisan Konoha. Ya, mungkin pemberian dari para relawan atau tentara dari Konoha, pikirnya. Kemudian ia memutuskan memfotonya untuk dokumentasi dirinya sendiri, kan lumayan untuk menjadi pajangan kliniknya kelak.
CKREK
Saat sedang asik memfoto para anak-anak korban perang itu ia tak sengaja melihat seorang anak yang tengah menjilati sesuatu.
"Hei! Kotor, itu kotor!" Ucapnya sambil memberikan kode dengan melambaikan tangannya, melarang namun anak itu malah berpikir dia tengah menyapa mereka. Sakura akhirnya berusaha memanjat pagar pembatas tanpa menyadari adanya tulisan dilarang melewatinya. Ia berlari mendekati anak itu dan menyerahkan sebungkus permen loli. "Ini, jilat ini saja ya... Kau tak mengerti? Ji-lat ini sa-ja. Yap itu dia! Bagus!"
Namun hal itu, membuat anak-anak lainnya langsung mengerumuni Sakura. "Khochu, khochu, khochu, my tezh khochemo! (Mau, mau, mau, kami juga mau!)"
Sakura pada akhirnya kebingungan merespon, karena ia tidak memiliki permen lagi.
"Jangan ngasih kalau tak mempunyai makanan yang banyak, dattebayo!" Ucap seseorang sambil berkacak pinggang. Lalu orang itu melompati pagar pembatas dengan mudah.
Untuk pertama kalinya setelah bertemu, pria itu, pria pirang cepak kesukaanya dulu akhirnya mengucapkan sesuatu padanya. Dia pun hanya diam menunggu pria itu datang mendekatinya. Setelah berada didekatnya pria itu berkacak pinggang, para anak-anak itu langsung menajuhi Sakura.
"Ceroboh sekali! Kau bahkan melompati pagar ini, aho!" ucap Naruto.
"Kau juga melompatinya, Baka!" balas Sakura ketus.
"Aishh lihatlah kau bahkan tak menunjukkan penyesalanmu." Naruto menoleh ke anak-anak itu. "Piznishe pidemo v bazovyy laher, tam bude vechirka. Poprositʹ tam prodovolʹstvo. Vy znayete, serzhant Kiba, chy ne tak? (Pergilah ke basecamp, nanti akan ada pesta di sana. Mintalah makanan disana. Kalian tahu Sersan Kiba, 'kan?)" ucap Naruto pada anak-anak itu dengan bahasa Ame. Para anak-anak itu pun kompak langsung pergi berlari.
"Arigato Naruto-senchō!" ucap para anak itu serentak dengan menggunakan bahasa konoha sambil terus berlari riang.
"Kau.. kau bilang apa tadi?" tanya Sakura takjub pada Naruto yang mengetahui bahasa negara ini.
"Kubilang: aku akan menguliti kalian jika kalian tak pergi."
"Jangan bohong baka!"
"Terserah kalau tak percaya!" ucap Naruto melirik Sakura.
"Lebih baik aku pergi saja!" ucap Sakura sebal. Dia berjalan mengikuti arah para anak-anak itu pergi...
CTREK!
"Eh?" Tapi belum jauh melangkah ia berhenti saat dia merasa seperti baru saja menginjak sesuatu.
Naruto yang juga mendengar suara itu langsung membulatkan matanya. Dia menoleh cepat dan melihat Sakura hendak mengangkat kakinya. "Jangan bergerak!" Sakura terdiam ketika mendengar perintah Naruto, dia menoleh bingung ke arah Naruto. Pria itu mendekatinya sambil memegang bibirnya berpikir kemudian menunjuk kakinya. "Kau.. kau baru saja.. menginjak ranjau darat."
"Ra-ranjau darat?"
Naruto berjongkok memperhatikan kaki Sakura. "Ya tepat di kaki kanan mu ini. Jangan sedikitpun bergerak!"
"Be-benarkah? Benarkah a-aku menginjak ranjau? Lalu bagaimana nasib ku? A-apa... apa aku akan mati?" Ucap Sakura ketakutan.
Naruto mendongak ke atas melihat Sakura dengan sedih. Lalu pria berusia kira-kira 30 tahunan itu mendesah berat. "Aku sudah berada di militer selama 10 tahun, tapi, tak ada yang hidup... setelah menginjak ranjau. Kalau pun hidup mungkin kau harus merelakan kaki mu hancur atau setengah badan mu, mulai dari kaki hingga pinggang mu yang hancur, dengan kata lain kau tetap akan mati."
"J-jangan bercanda lagi! Kau ini kan tentara. L-akukan sesuatu! Lakukan sesuatu, Naruto, Onegai! K-kau kan Pasukan Khusus. P-pasukan Khusus yang ada di film Macgyver selalu bisa menjinakkan ranjau dengan pisau-nya." pekik Sakura dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Naruto mengelengkan kepala berat. "Aku sudah hidup di dunia ini selama 28 tahun, dan aku hanya tahu satu pria yang bisa menjinakkan ranjau... dengan menggunakan pisau."
"Nah, k-kau pernah lihat, 'kan?. Siapa pria itu?"
"Pria yang kau tonton di film FIKSI itu... maaf." Ucap Naruto, dia mulai mundur menjauhi Sakura.
"Hei! R-rubah brengsek! Mau kemana kau! A-apa begitu pria sejati?!"
Naruto berhenti lalu berkacak pinggang. "Hanya aku yang bisa menolongmu sekarang. Dan kau memanggilku apa tadi?"
"Kau berniat meninggalkanku tadi, a-aku harus bagaimana lagi? Apa aku akan mati di sini? K-kumohon selamatkan aku, N-naruto!"
Naruto menggeleng. "Tidak."
"Apa? Apa aku bisa selamat?"
Naruto mengangguk. "Pindahkan kakimu." Naruto berjalan mendekatinya lagi dan berdiri didepannya kemudian meletakkan kakinya tepat disebelah kaki Sakura. Dengan cepat dia langsung menggeser kaki Sakura, menggantikan Sakura untuk menginjak Ranjau itu. Tubuh mereka pun berhimpitan tapi Sakura tak sempat untuk merasakan kehangatan tubuh pria itu karena dirinya sedang dipenuhi rasa ketakutan.
"Pergilah! Aku yang akan mengantikan mu menginjaknya." Kata Naruto tersenyum teduh. Pria itu juga menepuk kepala merah mudanya pelan.
"T-tunggu. Mengantikan bagaimana maksudmu? Apa ranjaunya tak akan meledak?"
"Ranjaunya akan meledak. Akulah yang akan mati di sini, kau bisa melanjutkan hidupmu lagi."
"Na-naruto t-tidak bisa, jangan bercanda... Hiks.. K-kenapa kau yang menggantikanku mati di sini? C-cepat cari orang yang bisa menjinakkannya... Hiks... P-pasti... ada caranya. J-jangan menyerah hanya karena... Hiks... kau tak tahu cara menjinakkanya. Pergilah cari bantuan! Tinggalkan aku... hiks... Naruto!" Ucap Sakura dengan panik dia juga mulai menggeser-geser kaki nya agar tetap menginjak ranjau itu, ia kemudian mendorong Naruto. Naruto yang hendak terjatuh secara refleks memeluk tubuh mungil Sakura membuat keduanya jatuh.
BUGH!
Sakura di atas dengan wajah yang menempel di dada Naruto, Sedangkan Naruto berada dibawah. Naruto hanya tersenyum, dengan tenang dia malah menggunakan tangannya sebagai bantal.
Sakura membuka satu matanya. Tak terjadi apa-apa. Dia menatap Naruto "Apa ini? T-tak terjadi apa-apa?"
Naruto menarik napasnya. "Bagaimana kabar mu?"
Sakura mengangkat wajahnya. "Apa? Kau menipu ku?" Naruto hanya memberi senyuman. Wanita Pink tampak menatapnya kecewa lalu berdiri dengan cepat dengan wajah memerah. "K-kau menipuku! Kau tipu diri ku.. hiks." Ucapnya menangis sambil memukul dada Naruto. "... Hiks k-kenapa kau lakukan itu pada ku... Hiks..."
Naruto memperbaiki posisinya. "Hei, kau baik-baik saja? Aku kan hanya—" belum selesai bicara Sakura langsung memotongnya.
"SUDAH. JANGAN BERBICARA PADAKU LAGI! JANGAN MENGIKUTI KU! AKU BENCI PADA MU!" Teriak Sakura sambil berjalan cepat, pergi meninggalkan Naruto yang memandangnya dengan tatapan bersalah.
"Sepertinya aku sudah kelewatan." Pria itu bangkit dan mengejar wanita bubble gum itu.
Sementara di basecamp Konohamaru tengah sibuk membalikan daging yang sedang dipanggang di pemanggang. Mereka dan para relawan berkumpul untuk menyiapkan makan malam bersama. Merasa daging sudah matang, Konohamaru menyuapi Kiba daging yang baru matang itu untuk menanyai rasanya. Kiba langsung mengunyahnya dengan lahap sambil menunjukan dua jempolnya.
Sementara yang lain masih sibuk bercanda di meja tempat mereka berkumpul. Rasanya mereka seperti piknik itulah rasa para relawan yang baru datang itu.
"Hei senpai! Sini. Ini seru dan enak sekali lho!" Panggil Lee ketika melihat Sakura yang berjalan dengan mata memerah melewati tempat mereka.
Sakura tak peduli. "Sisakan saja buat ku!"
"Sisain apa? Daging?" Tanya Lee bingung.
Sakura tak menjawab dia terus berjalan dan melewati Shikamaru yang tengah membawa beberapa gelas hanya memandang wanita itu bingung. Setelah menaruh gelas-gelas itu dimeja, Shikamaru memegang tali pinggangnya ketika melihat Naruto. "Ada masalah apa?"
Naruto yang juga baru sampai langsung berhenti. "Aku membuatnya menangis."
Shikamaru memandangnya tak percaya. "Secepat itu?"
"Aku sendiri juga kaget, dattebayo!"
Naruto berjalan menyusul Sakura yang sedang menimbah air dengan penimbah otomatis, lalu membasahi wajahnya. SaatSaat wanita hendak pergi, Dia langsung meraih tangannya.
"Tunggu!"
Sakura langsung menyentak tangannya keras dan kembali berjalan.
"Maafkan aku!" Ucapnya sambil berjalan mundur untuk melihat wajah Sakura sambil terus mengikuti Sakura. "Aku terbiasa bercanda begitu pada teman-teman ku, maaf atas kebodohan ku. Aku sudah keterlaluan." Sakura akhirnya menghentikan langkahnya. "Aku sangat menyesal."
"Baiklah. Ku maafkan!" Sakura hendak pergi lagi tapi terhenti ketika Naruto menghormat...
Wanita itu menolehkan kepala memandang bingung Naruto sampai akhirnya mendengar lagu kebangsaan Konoha.
Para tentara lain juga melakukan hal yang sama. Hal itu membuat para relawan bingung dan berdiri dari tempat duduk mereka, ketika menyadari situasi mereka ikut melakukan penghormatan dengan memegang dada kanan mereka.
Melihat Sakura yang tak berbalik dan memberi hormat, Naruto langsung membalikkannya menghadap ke direksi yang sedang dilihatnya. Sakura bisa melihat dua orang prajurit tengah menurunkan bendera Konoha dari atap rumah yang sekarang disulap menjadi markas kompi Gedou Mazou. Naruto kembali hormat ke bendera dan Sakura akhirnya meletakkan satu tangannya di dadanya.
"Senang rasanya... Bertemu dengan mu lagi, Sakura-Chan." ucap Naruto masih menghormat ke arah bendera.
Sakura hanya diam dengan pipi yang memerah. Sudah lama dia tak mendengar panggilan itu dari pria ini. Dia merasakan kesenangan luar biasa namun dia memilih diam menikmati suasana sore yang diiringi oleh musik dari lagu kebangsaan Konoha, yang akan selalu membuatnya merinding bangga.
"Hitung mulai!"
Para prajurit sedang duduk tegap di atas ranjangnya sambil mulai menghitung satu persatu.
"7!"
"8!"
"9!"
"Hitungan selesai! Hadir: sembilan, tak hadir: kosong! Laporan selesai!"
Naruto sedang melakukan apel malam dan pengecekan di barak prajurit untuk melihat kerapian tempat tidur dan memeriksa kehadiran para prajurit.
"Istirahat kan!"
"Istirahat ditempat!"
Mereka semua melemaskan posisi duduk mereka. Naruto mulai berjalan dan mengelus kepala Konohamaru yang kebetulan duduk di dekatnya.
"Kopral Sarutobi Konohamaru!" Ucap Konohamaru ketika Naruto mengelus kepalanya. Kapten itu terus berjalan melihat kerapian prajurit lainya.
Sedangkan Di tenda tempat tim medis...
Para relawan pria sedang memasang kelambu agar tak mendapat gigitan nyamuk, dibantu oleh Neji dan Sai. Lee yang terlalu bersemangat tak sengaja terjatuh kelantai dengan wajah yang mendarat terlebih dahulu. Melihatnya para relawan lainya langsung tertawa.
"Hei hati-hati!" Ucap Neji kemudian dia membungkuk mengulurkan tangan. "Kau baik-baik saja?"
Dengan semangat Lee menerima uluran tangan pria itu dan berdiri. "Ya tak apa-apa! Aku masih sehat karena semangat masa muda ku yang membara."
Sedangkan di tenda Sakura...
Sakura sedang berada di tendanya tak bisa tidur. Dia terus memikirkan kejadian tadi antara senang dan kesal. Baginya hari ini benar-benar hari yang cukup memalukan baginya. Lama memikirkannya tanpa sadar dia tertidur setelah memandangi lilin di meja dekat ranjangnya.
Kompi itu cukup tenang malam itu, para prajurit yang mendapat jadwal jaga terus berkeliling menjaganya area aman itu. Ada yang berjalan-jalan dibawah, ada juga yang memantau dari atas menara, dan ada prajurit yang lebih sial, prajurit yang sedang menjaga gerbang kompi sambil berdiri semalaman suntuk hanya ditemani senjatanya.
Paginya
"~dibawah langit biru~bunga bermekaran di mana-mana..." Para prajurit pun sibuk memulai aktivitas mereka dengan berlari pagi. Rutinitas yang biasa dilakukan militer dari negara manapun. Lari itu adalah salah satu kebutuhan bagi para prajurit, mereka bahkan sudah menganggapnya sebagai sarapan. Jika sekali tak berlari rasanya, mereka bisa merasakan tubuh mereka kaku.
Shizune membasuh muka, sedangkan Moegi dan Sakura bersandar di pagar asik melihat para tentara yang sedang Berlari tanpa mengenakan baju hanya mengenakan celana tentara, membuat kedua wanita itu bisa melihat jelas tubuh atletis para prajurit.
"Kita bisa melihat pemandangan ini tiap pagi, kan?" tanya Moegi dengan pipi memerah.
"Jika mereka latihan begini pada malam hari juga, aku mungkin akan menetap saja di sini." balas Sakura, pipi wanita itu juga tak ada bedanya dengan Mougi.
"Jika kalian mau pindah ke sini aku akan memberitahu pemilik rumah sakit nanti." Kata Shizune, yang ikut bergabung.
"~Hanya dua tahun pengabdian~dan akan segera berakhir~"
Mereka masih asik memandangi hingga akhirnya Naruto berdiri tepat didepan Sakura dengan raut wajah kesal.
"Apa mereka terlalu berisik?" Tanya Naruto berkacak pinggang.
"Maaf tapi bisakah kau minggir sedikit? Hus.. hus.."
Naruto menoleh melihat barisan para prajurit yang hendak melewati tempat mereka. "Apa jadwal untuk tim medis hari ini?"
"Pagi atau sore—Kyaaa... Otot mereka kekar sekali..." Pekik Sakura tak jadi merespon Naruto.
Naruto kesal bukan main. "Lari di tempat!" Para prajurit itu langsung mengikuti perintah. "Hentikan!"
"HAI!"
"Lari pagi kalian selesai! Segera kembali ke barak!"
"HAI! ARIGATO!"
"Balik kanan langkah tegak maju jalan!" Para prajurit itu pun berjalan menuju barak mereka.
Naruto kembali menoleh ke arah tiga wanita tadi. "Pagi dan sore! Apa jadwal mu hari ini!"
Sakura masih memandang mengikuti arah pergi para prajurit tadi sampai akhirnya wajah Naruto menghalanginya. Sakura langsung mendelik tak suka. Sementara yang mendapat delikan sebal hanya tersenyum.
Para relawan mulai melakukan aktivitas mereka di hari kerja pertama mereka, hampir semua berkumpul di medicube untuk memulai pekerjaan dengan memeriksa dan mengambil sampel darah dari para prajurit.
Kakashi dan para dokter lainya sedang menyiapkan alat-alat untuk mengambil sampel darah. Kemudian para prajurit pun memasuki ruangan itu dengan bingung, mereka mulai memberikan formulir mereka pada para dokter. Kakashi tersenyum saat melihat beberapa prajurit mendatanginya dan memberikan formulir...
Seorang dokter merah muda mengenakan rompi relawan hijau memasuki ruangan itu ditemani perawatnya yang berambut cokelat. Sejenak seluruh prajurit terdiam memandangi keduanya, dengan reflek cepat seluruh prajurit mengambil kembali formulir mereka dan mengikut kedua wanita itu.
Kakashi yang hendak berdiri untuk menyambut langsung mendesah pasrah. "Aish... benar-benar ya? Nih!" Menyerahkan buku jadwalnya pada seorang perawat dengan masam.
"Hei!"
"Apa-apaan ini hah?"
"Kenapa harus semuanya kemari hah?" Ucap para prajurit saling berdesak-desakan berusaha menjadi yang pertama memberi sampel darah mereka.
Sakura hanya menggelengkan kepala melihat tingkah para prajurit itu. Dia lalu menyeringai. " Aku mengambil darah dengan cara yang sangat menyakitkan lho!"
Seorang prajurit langsung menyodorkan lengannya. "Wah aku malah suka dengan rasa sakit, dokter."
Sakura hanya tersenyum menanggapinya. Naruto juga memasuki ruangan itu, dengan bingung dia melihat beberapa dokter mendesah pasrah karena tak memiliki pasien dan melihat para prajuritnya yang berkumpul di sudut ruangan,dia berdehem. "Ada apa ini?"
"Ada—Kapten? Sonkei!" Sontak seluruh prajurit memberi hormat padanya.
"Oh..." pria berkumis rubah itu berbalik ketika menyadari sumber masalah, dan memutuskan mendekati Kakashi. Kakashi sendiri tersenyum senang setidaknya dia bisa melayani seorang kapten pikirnya...
"Tunggu!" Seru Sakura. Naruto berhenti dan berbalik. "Komandannya harus yang pertama, sini!"
Naruto terdiam kemudian hanya mengedikan bahu dan berjalan mendekati meja Sakura.
"Wanita itu benar-benar ya..." Kakashi mendesis masam.
"Tahan ya! Ini sedikit sakit." Ucap Sakura sambil mencari urat nadi Naruto. Sakura menusuk pelan jarumnya tapi jarum itu tak menancap sama sekali ke kulit Naruto.
"Aww!"
"Eh? Aneh... mana pembuluh darahnya?"
Naruto memandang Sakura sejenak dan hanya memutar matanya bosan. "Seorang petugas selalu membawa pistol. Dan itu ada isinya lho."
Sakura mendongak. "Masa? Kalau begitu tembak saja aku." Tantang Sakura. Dia kembali menusuk jarumnya. "Apa ini ya?"
"Awa—ittai!"
Wanita kembali mendongak. "Bahkan aku belum menusuknya lho!"
"Kau tak menusuk, tapi kau mencubit kulit ku!"
Moegi yang berada disebelah Sakura menahan tawanya. Sementara para prajurit lainya tertawa jahil melihat Naruto yang dikerjai oleh dokter pink itu. Sampai akhirnya mereka berdiri tegak ketika mendapat tatapan membunuh Naruto.
Naruto mencondongkan badannya lalu berbisik. "Jika kau masih dendam dengan candaanku yang kemarin—"
"Ooo Aku tak akan dendam hanya karena masalah sepele seperti itu." kembali menjahili Naruto. "Apa di sini, ya?"
"Uratku ada di sini." Naruto langsung mendorong tangan Sakura dan menancapkan jarum itu, sekarang malah Sakura yang kaget bukan main.
"Kyaaa!"
Naruto diam sejenak sebelum akhirnya mengelus tangan Sakura sebentar. "Sekarang ambil tabungnya."
Dengan wajah memerah dia langsung mengerjakannya. "B-baiklah.."
Naruto hanya tersenyum. Sekarang dia berhasil membuat wanita itu tak berkutik.
"Wah Tazuna-San!" Sapa para prajurit ketika melihat seroang pria tua memasuki ruangan itu.
Naruto yang sudah selesai langsung berdiri menghampirinya. "Aaa paman Tazuna."
Sakura hanya diam memandang pria tua itu.
"Yap kapten.. aku kemari mau berterima kasih karena telah mau membawa medicube dengan heli kalian. Berkat itu kami bisa memiliki layanan kesehatan lebih cepat, sehingga kami bisa prima dalam membangun pembangkit listrik. Terimakasih untuk itu."
"Aa kau berlebihan paman, itu bukan masalah besar bagiku. Ah kita bisa memakan Ramen sama-sama lagi minggu ini."
"Ya, ya, tentu—"
BRTT! BRTT!
Mereka semua langsung tersentak ketika mendengar sebuah alarm. Dengan cepat Naruto langsung mengambil walkie talkie miliknya.
"Di sini Kapten, zona utama, laporan!"
"Zona utama aman, kami hanya melihat sebuah kecelakaan truk di jalur pegunungan radius 1 kilometer dari zona aman."
Tazuna mendekat merasa ada yang tak beres. "Jalur pegunungan? Itu... itu mungkin salah satu truk dari Kami!"
Naruto dengan cepat keluar dan pergi menggunakan mobil bersama anggota lainnya menuju ke TKP. Tak perlu waktu yang lama untuk sampai ke TKP. Sampai di sana Naruto bisa melihat sebuah truk terguling di jurang itu.
"Izin melaporkan markas pusat, Ada satu truk yang terguling ke jurang... Aa baik kami akan periksa." Mereka kemudian mendekati truk berlambang ABB itu.
Mereka melihat ada korban dengan kondisi yang sangat parah Shikamaru langsung mengecek korban itu, dia menoleh untuk memberitahu jika orang itu telah meninggal. Naruto mendekat dan memandangi intens korban itu dengan teliti. Lalu Shikamaru berjalan memutari truk untuk memeriksa sisi lainya dan melihat korban yang masih hidup pria berambut nanas itu langsung menodongkan senjatanya.
"Hands up!"
"D-Don't shoot! I-i-i'm a social w-worker Alliance of Nations (ABB), A.N." ucapnya sambil menunjukan lambang ABB di kaosnya.
Shikamaru mengangguk mengerti kemudian mendekati korban itu untuk memeriksanya.
"I'm hurt, I need treatment. I will take the medicine in the car." Dia menoleh melihat ke dalam mobil tapi kunci mobil sudah tidak ada dan sudah berada di tangan Naruto. Pria itu hanya menggerang pasrah.
Naruto memberikan kunci itu ke Shikamaru dengan melemparnya. Ia lalu pergi ke belakang truk untuk memeriksa isi truk.
Melihat tak ada yang mengawasinya orang yang mengaku anggota ABB itu berusaha mengambil pistol yang berada di dashboard mobil...
BUGH!
Belum sempat menodongkan pistol itu Naruto sudah menendang tangannya hingga pistol itu terlempar. Dengan cepat dia menyikut wajah orang itu hingga terkapar kesakitan.
"Ughh"
Shikamaru segera menuju ke tempat mereka dan menodongkan senjatanya. Naruto mengambil pistol yang terjatuh itu dan mengeluarkan selongsong senjata.
"Hei kenapa kau memukulnya? Mereka adalah pekerja sosial ABB!" tanya rekannya.
"ABB? ABB tak diizinkan untuk membawa pistol seperti buatan Suna ini. Tapi, mereka berdua malah membawa senjata dan juga memiliki tato yang aneh." Shikamaru membuka baju orang itu dan menemukan tato berlambang riak air berwarna ungu. "Pakaian mereka juga tak seperti milik ABB, apa menurutmu mereka ABB?" jawab Naruto. Naruto lalu memeriksa isi truk dan isinya ada banyak senjata.
"Siapa mereka?" Tanya Shikamaru mengikuti Naruto.
"Entahlah, buka kotak itu!"
Shikamaru menganggukkan kepala dan memberi kode pada anggota lainya untuk bersiaga. Dia langsung membukanya, didalam dia bisa melihat beberapa kaos namun setelah merogoh kedalam dia menemukan banyak sekali senjata jenis AK 47 dan pistol lainya.
"Tadi dia berniat mengambil ini kan?" Tanya Shikamaru pada Naruto yang sedang duduk di pintu truk itu.
"Yaa... Sial baginya karena telah berjumpa dengan ku."
Beberapa saat kemudian...
Naruto menyerahkan orang yang mengaku ABB itu ke polisi Ame.
"We have contacted A.N. Their identity and membership card are fake..." Jelas Naruto pada seorang polisi dari Ame yang memiliki badan gempal.
"We really appreciate all your help, Captain. thanks." Polisi itu memberi hormat pada Naruto.
"You welcome!" Naruto membalasnya.
Mereka kemudian melihat polisi itu dan dua anggotanya memasukan orang mencurigakan tadi kedalam mobil polisi, dan pergi meninggalkan tim pasukan perdamaian Konoha.
"Kita harus melaporkan insiden ini ke markas pusat." Kata Shikamaru.
"Laporan ini mungkin akan sedikit menyusahkan... sudahlah ayo!" Kata Naruto sambil naik ke jeepnya.
Naruto dan Shikamaru sudah sampai kembali ke kompi.
"Sonkei!" Hormat para prajurit ketika melewati mereka.
Sakura yang sedang membasuh wajah menyadari mereka langsung berlari mendekati dua pria itu.
"Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" tanya Sakura. "Apa sebenarnya yang terjadi?"
"Hanya kecelakaan lalu lintas saja. Bagaimana dengan tim medis lainya? Kalian pasti bingung." Naruto menjawabnya.
"Kami sudah terbiasa dengan situasi darurat."
"Baguslah... Hm... aku harus melanjutkan tugasku." Dia menoleh ke Shikamaru. "Aku mau pergi ke markas pusat dulu." ucap Naruto berjalan menuju mobil SUV Hitam.
"Hai!"
"Apa kau bisa memberitahuku apa password Wi-Fi kalian?" tanya Sakura pada Shikamaru.
"Password wi-fi?" Shikamaru menyeringai tipis. "Maaf, untuk alasan keamanan, warga sipil tak diperbolehkan untuk mengakses internet."
Naruto yang hendak memasuki mobil langsung terdiam dan berbalik. 'Peraturan dari mana pula itu?'
"Begitu, ya. Bagaimana ini? Aku ingin melakukan sesuatu yang sangat penting." ucap Sakura menunduk kecewa.
"Di pusat kota ada sebuah kafe yang menyediakan internet. Dan Kapten kami akan melewati kota itu. Dia akan mengantarmu, bukannya begitu, Kapten?" ucap Shikamaru sambil mengedipkan matanya pada Naruto. Mendengar hal itu Naruto kembali mendekat mereka berdua.
"Tadi pagi kau sarapan makanan basi atau apa, sih?" tanya Naruto pada Shikamaru.
"Tak perlu khawatir, Cap. Semoga kencan kalian menyenangkan, Sonkei!" Setelah mengatakannya Shikamaru pergi meninggalkan keduanya yang memerah.
"Aish... Rusa itu!" Naruto menoleh ke Sakura. "Baiklah, Ayo akan ku ajak kau ke pusat."
Sakura mengangguk dan mengikuti Naruto memasuki mobil berwarna hitam itu.
Selama perjalan mereka melewati jalan dengan pemandangan yang cukup memanjakan mata. Mereka berjalan melewati jalan yang berada diatas tebing yang menghadap kelautan berwarna biru cerah. Naruto terus fokus mengendarai mobilnya sementara Sakura sendiri saat ini sedang menelpon seseorang.
"Ya aku bisa tanda tangan kontraknya sekarang... hmm aku lagi di luar negeri sekarang, tapi bisa ku transfer uang sewa tempatnya lewat E-bank. Aa baik.. nanti ku kabari lagi. Arigato!"
Naruto mengerutkan keningnya mendengar percakapan Sakura namun dia memilih diam. Setelah lama diam akhirnya dia tak kuat menahan rasa penasarannya lagi.
"Kau.. mau pindah apartemen?" Tanya Naruto masih fokus mengemudikan mobil.
"Tidak, aku mau membuka klinik sendiri."
Naruto mengerutkan keningnya. "Whoaa... Hmm apa... karena skandal mu dan ketua rumah sakit bernama... Ka... Ka-to bu? ketua mu lah pokoknya!"
Sakura menoleh terkejut. "B-bagaimana kau bisa tahu?"
"Jika kau tak ada, timmu akan bergosip tentang skandal itu, dan aku mau tak mau akhirnya ikut mendengar gosip itu." Naruto menoleh ke Sakura sebentar. "Sepertinya Ketua itu bukan pria baik-baik."
"Hei, jika bukan karena dia, aku tak akan ada di sini."
"Tsk kenapa kau harus pacaran dengan pria seperti itu? Aku mundur bukan supaya kau memacari pria macam dia."
"Kami tidak—aaargh ceritanya sangat panjang. Dan cerita itu tak pantas dibicarakan." Malas melanjutkan pembicaraan yang sangat ingin dihindarinya, Sakura memilih membuka jendela dan menikmati suasana laut lepas yang sangat indah. Meskipun baru mengalami peperangan negara ini menyembunyikan semua keindahan yang begitu luar biasa. Saat melewati tikungan berikutnya tanya tak sengaja melihat sebuah pamflet dengan gambar lukisan pantai yang sangat indah, tempat yang bagus.
"Pantai rin.. ne.."
"Rinnegan!"
"Umm... Ada dimana itu?" Tanya Sakura pada Naruto tanpa menoleh.
"Itu jauh sekali." Ucap Naruto ketus kembali memfokuskan diri mengemudikan mobilnya.
"Aku tak menanyai mu tentang seberapa jauh-dekatnya tempat itu!" Ucap Sakura, ia kembali menoleh memandangi Naruto dan mengerutkan kening melihat ekspresi kesal pria itu. "Tapi.. apa kau sedang terganggu dengan ku?"
"Masa?"
"Kau terlihat kesal!"
"Sok tahu!"
Sakura lantas mendesah dan menoleh ke arah lainya. Mereka akhirnya tiba di sebuah kota di atas pegunungan. Rumah rumah berderet dan tersusun rapi dari atas gunung hingga ke kaki gunung cukup padat tapi tak terlihat Kumuh jutsru malah terlihat sangat menakjubkan.
"Ini adalah kota yang paling dekat dengan kompi kita. Ingat jalannya. Kau mungkin harus ke sini tanpa kutemani nanti." Kata Naruto.
"Baiklah."
Naruto menghentikan mobilnya. Sakura mendongak melihat kota itu dari jendela.
PUK!
"Bentar!" Dengan cepat Naruto meraih dahi Sakura dan mendorongnya kembali ke jok mobil. "Kau cuma butuh internet, kan?"
Sakura terdiam dengan posisi kepala masih ditahan Naruto, dia mendelik dan menipis tangan Naruto ketika sadar seratus persen. Naruto hanya tertawa melihatnya kemudian turun dari mobil diikuti Sakura. Dia berjalan menuju sebuah toko perlengkapan mesin sambil terus diekori Sakura. Mereka memasuki toko itu, ketika didalam Sakura berpikir toko itu lebih mirip seperti sebuah rumah. Lihat saja penanak nasi dan kulkas itu, kenapa toko yang menjual peralatan bengkel harus menaruh dua benda itu di toko.
"Ini bukan kafe-nya tapi internet disini lebih cepat." Naruto lalu menekan bel. "Halo? Apa ada orang?"
Seorang wanita berambut merah datang menghampiri mereka dengan sebuah keranjang. "Oh, gun-kun yang sombong itu rupanya."
Naruto terkejut melihat wanita itu. "Kau? Apa kau pemilik barunya? Bukanya ini toko Sasuke?"
Wanita itu menoleh. "Apa? Dia bilang ini tokonya? Ini adalah toko milik kami bersama!"
Sakura hanya memandang heran keduanya.
"Kalau gitu Sasuke–aa kudengar dia masih dilarang memasuki Konoha?"
"Peduli amat sama si bego itu. Mau diizinkan masuk juga aku tak peduli." Ucap wanita itu. Kemudian wanita itu menyadari kehadiran Sakura diapun mendekati wanita pink itu membuat Sakura sontak mundur. "Tapi siapa neechan ini? Apa dia salah satu dokter yang baru datang dari Konoha? Benarkan, aku bisa mencium bau etanol darinya."
Sakura yang masih terkejut, merapikan poninya dan berbisik pada Naruto. "Siapa dia?"
"Dia awalnya seorang Perawat Bantuan Darurat, Peacemaker. Dan sepertinya dia bekerja part time di sini."
"Oh, jadi kau tak bisa menghasilkan banyak uang dari pekerjaan yang bermakna itu, ya?" tanya Sakura pada wanita itu.
"Aku memang hanya ingin bersenang-senang. Aku tak butuh uang." Wanita berkaca mata itu menoleh ke Naruto lagi. "Ngomong-ngomong, Gun-kun, apa kau ini paranormal? Bagaimana kau bisa tahu pekerjaanku?" tanya wanita itu pada Naruto.
"Sasuke yang memberitahuku. Dia banyak cerita tentang istrinya yang orang Konoha."
"Istri? Istri apanya? Mana Sudi aku menikahi pria sialan itu!" Ucap wanita itu memerah. "Kami hanya rekan kerja saja. Kalian perlu apa di sini? Aku memiliki semuanya kecuali si brengsek itu."
"Apa kami bisa menggunakan Wi-Fi-mu?" tanya Naruto.
"Ohh Wi-Fi. Coba kita lihat ada dimana 'fi'nya.." dia lalu pergi meninggalkan mereka
"Kau yakin di sini ada Wi-Fi?" bisik Sakura.
"Apa yang tak ada disini? Bahkan jika kau jeli, kau bisa menemukan rudal di sini." Sakura lantas celingak-celinguk mencari benda yang dimaksud Naruto. "Urus urusanmu dan tunggu aku di sini, nanti kujemput 1 jam lagi." Sambung Naruto. "Apa aku bisa menitip dokter ini dengan mu di sini?" tanya Naruto pada wanita berkacamata itu. Wanita itu hanya diam. Naruto menoleh ke Sakura lagi. "Jangan bertengkar, oke? Dia punya pistol." Bisik Naruto pada Sakura.
Sakura terlihat sedikit takut ketika Naruto keluar. "Matte—"
"Jangan takut!" Ucap Wanita bermata merah itu sambil menghalangi Sakura. "Aku yakin router-nya ada di suatu tempat. Aku akan mencarinya agar kau nyaman berinternet dengan kecepatan tinggi."
Sakura hanya tersenyum kaku dan mengangguk pelan.
Pangkalan Akuma, Amegakure, Ame.
"Pada pukul 9 tadi pagi, kami menemukan 1 korban tewas dan satunya lagi terluka... Dan kami menduga mereka adalah adalah kelompok Black Market. Kami sudah menyerahkan mereka ke polisi setempat. Laporan selesai." Naruto melaporkan kejdian tadi.
"Aku sudah menerima laporan ini. Sepertinya mereka bukan pedagang Black Market yang biasanya. Tak ada yang tahu seberapa kuatnya koneksi mereka." Ucap pria berambut cokelat. "Aku tahu, kau dan Black Fox-mu sangatlah berani, Tapi, mereka juga tak kalah nekat dan juga tak takut hukum, bisa kubilang dinegara ini mereka sangat kebal hukum. Kalian cukup melaporkan situasi saat ada pergerakan mencurigakan."
Di suatu tempat..
Orang yang mengaku anggota ABB sudah diserahkan ke pihak polisi, tapi ternyata dia tak dibawa ke kantor polisi. Mereka malah menyerahkan orang itu pada seorang pria berambut oranye jabrik dengan wajah penuh tindik.
Pria berambut oranye itu mengambil pistol yang ada di kotak bertuliskan ABB. Dan mendengarkan apa yang akan dikatakan polisi korup itu.
"There is no need to pretend to be an A.N member to cross the border again. They already know now, and have even sent Konoha's famous sadistic elite troops to patrol the border."
Pria bertindik itu mulai mengokang pistol dan menodongkan pistolnya ke arah polisi itu,
"H-hey, take it easy, if everything gets worse, there is so much I can do for you." Ucap polisi itu sambil memerintahkan anggotanya untuk membukakan borgol bawahan pria oranye itu.
"Well.." Pria misterius itu menggaruk dahinya yang gatal dengan moncong pistol. "You know... I also have a lot of higher connections. So do you think I need a clown like you? Yes, maybe I need to." pria itu melemparkan uang ke arah polisi itu dengan cepat polisi itu mengambilnya...
DOOR!
"Aargh!"
Kedua bawahan polisi itu langsung terkejut melihat nasib naas pimpinan mereka.
"Congratulations. You just got a promotion..." Kedua polisi itu berdiri dengan takut. "Don't forget your gift." ucap pria itu menunjuk uang yang dia lemparkan.
"Mereka menyelundupkan senjata api. Mereka dikenal dengan nama 'Edo Tensei'. Dan tato yang kau katakan itu adalah simbol kelompok mereka. Untuk saat ini cara terbaik adalah untuk menjaga jarak dari mereka." Kata Yamato. Pria itu bangkit dan mendekati Naruto. "Hei, kau pasti tahu. Tugas kita di sini sudah hampir selesai. Saat kita kembali ke Konoha, kau dan aku sama-sama akan mendapat promosi kilat. Yang kumaksudkan adalah, kita harus menghindari sedikit masalah."
"Hai!"
"Tulis ulang laporan ini."
Mendengar kata laporan langsung membuat lemas Naruto. "Hai..."
"Ah ya bawa ini. Akan ada pemulangan darurat dari kompi mu." Yamato menyerahkan sebuah surat.
Naruto mengambil selembar kertas itu dan terkejut ketika membacanya. "Untuk Sersan Mayor Nara Shikamaru?"
"Dia akan kembali lebih cepat ke Konoha, dan perintah ini diarahkan langsung oleh Komandan pasukan khusus."
Sementara dikompi...
"Baik... Kau bisa pergi."
Neji terdiam sejenak lalu memberi hormat pada Shikamaru dan membiarkan pria nanas itu sendiri.
Shikamaru sudah mendapatkan surat perpindahan tugas dirinya dari Neji. Dia pun membacanya dengan raut yang tak bisa diartikan.
Shikamaru tahu kenapa semua ini terjadi. Pastilah ayah Ino yang telah melakukanya, jenderal itu tak senang sedikitpun dengan hubungannya bersama Ino. Dia kembali mengingat pembicaraan dengan ayah Ino.
FLASHBACK ON
"Bersiap!"
Para tentara sedang makan langsung berhenti. Dan seorang jenderal bintang tiga memasuk ke ruang makan itu.
"Perhatian! Sonkei!"
Jenderal itu langsung balas hormat para prajuritnya yang duduk tegap di meja mereka masing-masing.
"Pasukan tiga dan lima siap melaksanakan makan siang, laporan selesai! Istirahat ditempat!"
Jenderal bernama Inoichi itu mulai berjalan. "Kalian sudah melakukan pelatihan dengan baik. Aku kemari... ya, hanya untuk makan siang. Jangan hiraukan aku dan nikmatilah makanan kalian."
"Hai!"
Ia berjalan menuju meja dimana tempat Shikamaru duduk bersama Neji dan Sai. Para tentara di meja lain sudah memulai memakan makanan mereka. Berbeda dengan meja Shikamaru yang menunggu jenderal itu memulainya. Jenderal itu melepaskan baretnya dan langsung memakan makanannya diikuti oleh Neji dan Sai. Sementara Shikamaru yang berada dihadapan Inoichi tetap duduk tegak tak memakan makanannya. Inoichi terus memakan makanannya hingga para prajurit lainya meninggalkan mereka berdua sendiri.
"Sersan Kepala Nara Shikamaru." panggil Inoichi.
"Siap! Sersan Kepala Nara Shikamaru." Jawab Shikamaru.
"Kudengar kau... pacaran dengan putriku."
"Hai, benar, Pak."
"Kurasa kau akan langsung paham. Aku khawatir tentang masa depan putri ku. Jadi, aku harap kau juga memikirkan tentang masa depannya. Ini adalah caraku yang paling bijaksana untuk memperingati mu."
"Apa ini perintah?" Tanya Shikamaru.
"Aku juga berharap bahwa permintaanku ini tak akan menjadi perintah. Tapi, tak apa jika kau menganggapnya sebagai perintah. Apakah kehormatan seragam kita akan terjaga, itu semua ada ditangamu." Kata Inoichi. "Aku suka dengan kemampuan mu... Tapi untuk menjadi menantu ku, kau tak memasuki kriteria ku."
Shikamaru hanya diam memandang kosong Inoichi.
FLASHBACK OFF
Setelah membacanya Shikamaru langsung memberesi pakaiannya, saat memberesi barang-barangnya ia tak sengaja melihat surat dari Ino, dan memutuskan untuk kembali membacanya.
'Sersan Mayor Nara Shikamaru, hadiahmu akan mengahampirimu. Aku selalu merindukanmu. Siapkan saja pelukan hangat untuk ku ya! Sonkei!'
Naruto dan Sakura sudah berada di mobil untuk kembali pulang ke kompi.
"Kau sudah mengirim uangnya?" tanya Naruto pada Wanita pemilik jade disebelahnya.
"Ya, terima kasih. Tapi... Apa telah terjadi sesuatu?"
Naruto menarik napasnya sejenak. "Rekanku telah diperintahkan kembali ke Konoha. Sersan-"
"Sersan Mayor?"
Naruto melirik Sakura sebentar. "Kau sudah banyak belajar, ya?"
Sakura tersenyum bangga. "Apa kau sedih karena iri dia akan... duluan pulang ataukah kau sedih karena kau akan sendirian?"
"Aku hanya kesal dengan perintah tak adil ini." ujar Naruto dengan alis bertaut.
"Bukannya kau harus mengikuti perintah?"
"Tapi, perintah ini..." Menghentikan ucapannya. "... Bukan diberikan oleh seorang Komandan tapi oleh seorang ayah."
"Maksdumu?"
"Kurasa kau sudah tahu Kisah 'Cinta Shikaino yang terhalang pangkat' kan?
"Hahaha... aku pernah mendengarnya sih. Itu seperti Melodrama yang dibintangi ayah Ino... sepertinya masih proses screening ya?" canda Sakura. "Aku jadi penasaran, bagaimana Ino dan Sersan Shikamaru bisa bertemu?"
"Hmm... Kami diperintahkan untuk berjalan sejauh 1 mil. Dan pada waktu itu Letnan Ino... adalah ketua dari tim medis."
FLASHBACK ON
"FIGHTING!"
"FIGHTING!"
Para tentara berjalan melawan arus sungai yang deras. Sebenarnya berjalan melawan arus sungai adalah pekerjaan mudah dan sudah menjadi rutinitas bagi mereka, tapi kali ini, ntah kesurupan setan apa, pelatih mereka menyuruh mereka berjalan dengan pelengkapan mereka yang sangat berat. Mau tak mau mereka harus mengerjakanya dengan semangat, karena jika tak mau ya hukuman yang lebih menyeramkan sudah menanti mereka yang tak mau melkukny.
BYURR!
Seorang prajurit junior yang sejak tadi sudah kelihatan tak kuat lagi, akhirnya langsung terjatuh ke sungai.
"Aku akan membawa perlengkapan mu sekarang... kalau kau menyerah akan ku bunuh kau dengan cara paling sadis! Berdiri!" Ucap Shikamaru, Ia membantu prajurit junior itu berdiri mengantarnya ke tempat medis lalu mengambil tas prajurit itu dan membawanya.
"Hai! A-arigato, senpai!"
"Naiklah!"
Saat dia hendak berjalan lagi, dia langsung dihalangi seorang wanita berambut pirang.
"Kau sudah 3 kali ke sini, 'kan?" tanya Wanita itu pada Shikamaru.
"Ya, apa urusanmu?"
"Lepaskan sepatumu. Semangat dan kepedulianmu pada rekanmu memang hebat. Tapi, jika begini terus kau akan mengalami cedera." Setelah berkata seperti itu Wanita itu menyingkirkan tas Shikamaru yang menutupi namanya. "Sersan Kepala Shikamaru."
"Aku tak akan menyerah meskipun aku cedera nantinya." Ucapnya kembali melanjutkan perjalanan namun langsung dihentikan oleh wanita pirang itu lagi.
"Kau semangat begini hanya untuk mendapat izin liburan seminggu agar kau bisa merusak pernikahan mantanmu. Aku benar, 'kan?"
"Memang benar."
Sontak mata wanita itu membulat. "Eh? Benar?"
FLASHBACK OFF
"Benarkah?"
Naruto mengerem mobilnya saat sampai disebuah pelabuhan kecil.
"Benar! Ayo! Keluar dari mobil." ucap Naruto.
"Kenapa kita berhenti di sini?"
"Kita akan pergi ke pantai yang kau lihat tadi. Kita tak akan bisa ke sana saat sibuk nanti." Naruto keluar dari mobil diikuti oleh Sakura.
"Bukannya kata mu tempat itu sangat jauh."
"Ya, justru karena tempatnya jauhlah. Makanya aku ingin kesana... Aku ingin lebih lama berduaan dengan mu. Ikut aku." Kata Naruto.
Sakura tetap diam tidak mengikutinya. Merasa tak diikuti Sakura, Naruto pun berbalik melihat wanita itu seolah masih belum puas mendengar ceritanya.
"Shika berhasil pergi ke pernikahan mantannya itu bersama Ino. Jika kau ingin mengetahui kisah selanjutnya, ikut aku." ucapnya lalu kembali berjalan.
"Mereka pergi bersama? Kenapa Ino malah pergi bersamanya?" kata Sakura sambil mengikuti Naruto.
FLASHBACK ON
Shikamaru masuk ke mobilnya dengan mengenakan jas hitam yang membuatnya sangat menawan. Tepat saat ia masuk, seorang wanita berambut pirang secara diam-diam masuk ke mobilnya juga, ia duduk di belakang masih mengenakan seragam tentaranya.
"Merepotkan." Shikamaru menoleh kebelakang dengan malas. "Ada perlu apa kau kemari?"
"Selamat atas kesempatan untuk merusak pernikahan mantanmu itu. Nah, kebetulan aku sedang tak bertugas hari ini. Kau pasti merasa beruntung, 'kan?"
"Aku bertanya, untuk apa kau ke sini? Apa pertanyaan ku sulit untuk kau jawab... Letnan Yamanaka Ino?"
"Apa jawabanku juga sulit dimengerti? Jika kau Ingin merusak pernikahannya, wanita itu malah akan sangat senang telah memutuskanmu. Tapi, jika kau mengajakku, dia akan menyesal sepanjang malam. Itulah maksudku."
Shikamaru tampak berpikir sejenak. "Hm... aku benci mengakuinya tapi itu ide yang bagus."
"Tapi, dengan satu syarat." Ucap Ino. Shikamaru menatapnya. "Pertama tolong miringkan spion tengahnya."
Shikamaru mengerutkan keningnya, lalu ia melihat Ino mulai melucuti seragamnya. Dengan cepat dia berbalik dan melakukan perintah Ino.
FLASHBACK OFF
Naruto dan Sakura berjalan bersama di pinggir pelabuhan. Pelabuhan yang cukup sepi, hanya terlihat sedikit kapal yang parkir disana. Mungkin para pemilik kapal sedang pergi untuk menangkap ikan.
"Sudah kuduga. Dia memang sangat ahlinya untuk menjadi perusak hubungan orang lain." Sakura lalu menoleh ke Naruto. "Tapi, apa kau belum ada disitu?"
"Ya, mulai di sinilah, aku memainkan peranku, sebenarnya hanya namaku sih, dattebayo!"
FLASHBACK ON
Ino sudah selesai mengganti pakaiannya, sekarang ia sudah mengunakan sebuah gaun one piece berwana putih-kream selutut.
"Pria yang dibanggakan ayah ku sebagai calon menantunya adalah komandan mu. Kudengar dia adalah Senpai-ku dari Akademi Militer Konoha. Kalau tak salah, namanya... Namikaze Naruto atau siapalah.."
"Dia? Dia sudah tiba di sini sejak 2 hari yang lalu melakukan tugas ke Ame."
"Waah... Dia cepat juga." Ino berpindah dari belakang ke depan. "Oh ya, kau bisa beritahu dia, bahwa kau adalah pacarku?!"
"Kau tak suka Letnan Naruto? Kenapa? Dia cukup populer dikalangan prajurit wanita."
"Justru karena itu! Aku tak suka penampilannya... Penampilannya terlalu dandy (bergaya). Sudah itu dibalik prestasinya dia memiliki banyak sekali kebodohan dan sifat kekanak-kanakan. Kau setuju?" jawab Ino.
"Baiklah aku setuju tentang hal itu. Aku suka dengan alasanmu itu juga."
"Kau suka dengan gaunku ini? Aku sengaja pilih gaun berwarna putih. Kau pasti akan terpesona saat aku menguraikan rambutku dan memakai hig heels. Aku akan tampil lebih cantik dari pengantin wanitanya." ucap Ino mulai melepaskan kuncirannya. Shikamaru hanya terdiam terpana melihat wanita itu. "Bagaimana penampilanku?"
"Jadi, konsepmu yang sekarang..."
"Kau bisa nilai langsung, 'kan?" tanya Ino dengan tersenyum manis.
"... adalah konsep hantu?"
Senyumnya langsung pudar seketika. Tapi dia kembali tersenyum dan mengerakan tangannya layaknya sayap. "Konsepku adalah malaikat."
Shikamaru hanya diam dengan satu alisnya yang terangkat ke atas. Merasa tak mendapat respon dari Shikamaru, Ino pun merasa malu.
"Lupakan! Ayo berangkat!"
Mereka pun memasang selfbelt mereka.
FLASHBACK OFF
"Jadi... Orang yang diidamkan ayahnya Ino adalah... kau?" Tanya Sakura.
Naruto mengangguk. "Ya. Tunggu disini!" Pria itu pergi menemui seorang pria asing dan menerima kunci perahu sewaannya yang dilemparkan padanya kemudian mereka berdua saling tos dan Naruto langsung menaiki perahu itu. "Ayo!"
Sakura berjalan mendekati kapal tapi tak menerima uluran tangan Naruto dia masih terus menatapnya penasaran. "Tunggu sebentar. Jadi Ino, Sersan Mayor Shikamaru dan kau berada dalam lingkaran cinta segitiga?"
"Kau menganggap seperti itu? Kalau begitu ku jawab, ya mungkin! Pegang tanganku." Naruto mengulurkan tangannya membantu wanita merah mudah itu naik ke perahu.
"Apa... sampai sekarang masih begitu?" tanya Sakura ragu.
Naruto menatap mata jade Sakura. "Ya, masih, dattebayo."
"Jadi, apa yang kau pikirkan sekarang?"
Naruto menegakkan tubuhnya lagi. "Tsk, Kenapa kau menanyakan itu dengan ekspresi patah hati? Ku kira kau tak menyukaiku lagi?" Naruto dengan cepat menarik Sakura paksa ke atas perahu.
Sakura langsung tersentak saat itu. Badan kedua saling berhimpitan. "A-aku kan hanya mau bertanya. L-lagipula siapa yang patah hati?" Ucap wanita itu terbata-bata. "Aku hanya mau bertanya, jika kau tak mau jawab ya sudah aku tak peduli apa yang kau pikirkan sekarang."
Naruto mendekatkan wajahnya pada Sakura, menatap mata wanita cantik itu dalam. "Tapi, sepertinya kau sangat kecewa mendengarnya, dattebayo!"
Naruto menarik Sakura dan menyuruhnya untuk duduk. Sakura sendiri tak bisa mengontrol detak jantungnya dan membuat dia tak bisa berpikir jernih untuk menepis apa yang dilakukan Naruto padanya tadi.
Mereka naik perahu berdua saja. Naruto mulai menghidupkan mesin perahu, dan Sakura masih terus menatapnya dengan malu ditempat duduk. Dia memperhatikan setiap apa yang dilakukan pria itu. 8 bulan berlalu pria berkumis rubah itu malah semakin tampan, padahal pekerjaannya adalah pekerjaan yang sangat berat, seorang prajurit. Mata ocean blue-nya sekarang semakin menawan dan tajam saja, membuatnya sulit bernafas ketika mata mereka bertautan. Kharismanya juga benar-benar membuatnya terpana, dulu dia sama sekali tak tahu bagaimana Naruto ditempat kerjanya. Tapi setelah hampir sehari disini dia bisa tahu pria ini benar-benar hebat, bahkan para anak-anak korban perang saja langsung mengikuti perintahnya.
'Sepertinya aku jatuh cinta lagi pada pria rubah ini, dan ini... semakin dalam.'
"Pegangan yang kuat kalau tak mau terbang." Naruto pun mulai menjalankan perahu itu dan meninggalkan pelabuhan kecil tadi. Mereka terus melintasi lautan nan indah itu, negara ini memang memiliki sejuta pesona, lihatlah bukit-bukit yang mengadap ke lautan lepas itu, rasanya bukit itu seperti hendak meyeburkan diri ke lautan biru itu. Dari situ mereka juga bisa melihat jelas kota bertingkat yang baru dikunjungi mereka tadi, luar biasa itulah yang dipikirkan Sakura. Mereka melewati beberapa pulau terpencil yang cukup indah dan memiliki pantai yang luar biasa. Belum sampai saja pemandangannya sudah luar biasa begini. Suasananya pun cukup indah sesekali para nelayan lewat dari arah berlawanan, mereka langsung menyapa Naruto ketika mengetahuinya.
"Sepertinya kau mudah sekali membangun koneksi ya?" Tanya Sakura setelah memperhatikan beberapa nelayan yang lewat, semuanya mengenal Naruto. "Padahal aku butuh 3 kali kegagalan untuk mencapai... pencapaian ku saat ini. Dan ujung-ujungnya aku malah dikirim ketempat ini."
Naruto yang masih sibuk mengendarai perahu menoleh sebentar. Dia lalu tersenyum remeh. "Tampaknya kau tak ingin disini?"
"B-bukan begitu!" Jawab Sakura sambil menggelengkan kepala cepat. "Hanya saja-"
"Hanya saja kau tak siap meninggalkan pekerjaaan dokter artis mu yang ada di Konoha?" Potong Naruto cepat. Pria itu tertawa keras melihat wajah sebal Sakura.
"B-bukan begitu, rubah bodoh! Kenapa kau merusak suasana hah?" Wanita itu membuang muka kearah lain. Sementara Naruto masih terus tertawa.
"Kenapa? Suasana ini romantis?" Tanya Naruto menyeringai dan hal itu langsung membuat wajah Sakura memerah semerah rambut ibunya, Kushina. "Kau tahu, jika mau suasana yang lebih romantis, kita bisa menyetir perahu ini bersama. Kau didepan..." Seringai Naruto semakin melebar. "Dan... Aku dibelakang menikmati—"
"BAKA HENTAI!"
"Hahaha.."
Dua jam sudah mereka melintasi lautan, hingga akhirnya mendekati ke sebuah pantai tersembunyi. Pantai itu dikelilingi oleh tebing curam yang sangat tinggi dari kanan dan kirinya, seolah sedang membentuk sebuah bulan. Pasir pantainya berwarna putih dari sisi kanan dan berubah menjadi berwarna merah mudah dari sisi berlawanan, dan pantai itu pun sangat bersih sepertinya sangat jarang ada yang mengunjungi. Dari jauh Sakura juga bisa melihat sebuah tank amfibi yang sudah berkarat namun tetap tak merusak keindahan pantai itu. Sakura sendiri menebak tank itu mungkin hasil dari perang yang melanda negara ini.
Mereka sampai di pantai yang sangat indah itu. Naruto turun dari perahu dan mengikatkan perahunya di tepi pantai. Ia kembali mendekati perahu dan dengan tersenyum dia mengulurkan tangannya hendak membantu Sakura turun tapi Sakura malah memilih turun sendiri. Senyuman Naruto langsung berubah menjadi wajah masam karena diabaikan oleh wanita itu. Wanita ini memiliki sifat pendendam rupanya. Sakura berjalan ke sekitar pantai melihat bangkai tank yang dilihatnya tadi.
"Tempat ini indah sekali. Tapi, kenapa ini bisa ada di sini?" tanya Sakura menyentuh tank itu.
"Kita bisa kembali ke sini lagi nanti, dattebayo!" Naruto lalu mengambilkan batu bulat berwarna putih yang berada di pasir pantai itu. "Penduduk setempat di sini percaya... Kau akan bisa kembali ke pantai ini jika kau membawa pulang batu dari sini... Ini untukmu." Ia meraih tangan Sakura dan menyerahkan batu itu ke Sakura dan langsung diterima Sakura.
Sakura menyipitkan matanya. "Kau ngarang lagi, 'kan?" Dia pun menimang-nimang batu itu ditanganya. "Jika itu benar, pasti sudah tak ada batu yang tersisa di sini, Baka! Pasti sudah banyak diambil orang."
"Apa pekerjaan menjadi seorang dokter membuat mu tak bisa mempercayainya? Orang yang kembali lagi ke sini harus menaruh batu kembali ke tempatnya, dattebayo!" jawab Naruto kesal. "Inilah kenapa aku terkadang benci seorang dokter, mereka selalu berpikir logis tanpa mau mempercayai adanya keajaiban!"
"Oooh.. Begitu ya, berarti kau membenci ku?"
"Kau? Pengecualian!"
"Baiklah, baiklah, Kepercayaan itu kedengarannya cukup indah, tank ini juga menakjubkan. Apa aku bisa naik ke sana?" Naruto menaik-turunkan kepalanya, keduanya berjalan mendekati tank itu.
Naruto melompat dengan mudah menaiki tank dan mengulurkan tangannya pada Sakura, dan kali ini Sakura menerima bantuannya itu. Mereka berdiri di atas tank itu. Karena kondisi tank yang sudah rapuh. Naruto terus menggenggam tangan Sakura.
"Waaah... akhirnya aku menaiki tank! Umm... Tapi kenapa tank ini bisa ada di sini?" tanya Sakura sambil berjongkok.
"Tank ini mungkin sudah terkena sihir. Inilah akhir dari semuanya jika sudah tersihir oleh hal yang indah." jawab Naruto ikut berjongkok.
"Apa... kau pernah terkena sihir juga?"
Naruto mengangguk sambil menatap mata Sakura dalam. "Pernah. Dan kau tahu dengan baik, aku tersihir oleh apa... bagaimana dengan mu, apa kau juga pernah tersihir?"
Sakura menahan napasnya ketika menatap mata tajam Naruto. "Pernah... dan k-kau juga tahu karena apa!"
Mereka berdua saling memandang satu sama lain. Detak jantung keduanya saling berterung, siapa yang paling kencang.
"Setelah kuingat-ingat, aku belum mendengar jawabanmu. Bagaimana kabarmu? Apa kau... masih tetap seksi saat berada di ruang operasi, dattebayo?" tanya Naruto pada Sakura.
Sakura menunduk. "Seperti yang kau bilang. Aku tak ke sini sepenuh hati untuk menjadi relawan medis. Seseorang yang lebih berkuasa telah mencoba menyerangku. Dia marah dan mengirimku ke sini. Dan aku juga tidak..." Sakura pun memberi jeda. "... Melakukan operasi lagi, karena aku adalah seorang dokter selebriti. Aku adalah wanita yang sibuk."
"Begitu, rupanya."
Mereka saling menoleh ke arah lain dan memilih menghindari kontak mata. Bisa bahaya bila masih terus saling menatap seperti tadi.
Kakashi selesai memasak nasi goreng, ia kemudian menghidangkannya pada teman-temannya dengan tetap menggunakan wajan penggorengan. "Yosh!"
"Waaa!"
Kakashi mulai mengaduk telur setengah matang yang ada diatasnya nasi goreng itu. "Kalau berada ditempat seperti ini, kita harus memakan ini." Mereka semua meneguk ludahnya melihat masakan Kakashi itu. Kakashi mulai mencicipi makanannya sendiri dari dalam baju. Dia terdiam sebentar setelah merasakannya. "Bagus sekali. rasanya sempurna. Yosh! angkat sendok kalian!" Mereka pun mengangkat sendok mereka. "Tancap gas!" mereka pun hendak menyerbu nasi goreng itu.
"Hentikan!" Mereka semua terdiam dan memandang Lee. "Karena aku akan menjadi seorang ayah! Aku duluan yang makan." Lalu mulai mengambil sesendok.
"Ckckck, si pengeran kita yang satu ini! Kalau sudah urusan begini saja dia mau menunjukan semangat masa mudanya!" Kata Kakashi. Lee hanya tersenyum dan mengambil telur sangat banyak. "Hei! tapi jangan kau ambil semua telurnya juga!" Dengan tidak terima lalu Kakashi mengambil lagi dari piring Lee dan tapi tak menaruhnya kembali ke wajan melainkan langsung memakannya dengan cara yang sama seperti saat mencicipi. "Yum! Yum!"
"Sensei! Bisa-bisanya kau seperti itu pada ku!" Pekik Lee kesal. "Ah, aku tak mau makan, aku sudah kehilangan semangat masa muda untuk makan."
"Ya sudah!"
Sambil menelepon Lee mendudukkan dirinya di atas dinding batu.
"Mereka menyebut dirinya dokter, tapi malah makan dalam satu wadah? Itu sama sekali tak higienis... Jadi aku memilih tak makan... Apa? Siapa yang ngambek? Aku juga bisa buat makanan seperti itu... tenang aku ini memiliki semangat masa muda yang membara aku sanggup—GYAAAA!" Pekik Lee yang terkejut saat ada sebuah sentuhan pada punggungnya. Dengan cepat ia menoleh untuk mencari pelakunya dan melihat seorang bocah kumuh tengah menatapnya. "Aa Tenten-chan, nanti ku telpon lagi... Tidak, tidak nanti akan kujelaskan..." Dia pun mematikan sambungan telepon dan melihat baju hijau kesayangannya yang terkena noda hitam. Lee berkacak pinggang melihat anak itu. "Hei nak! Ya ampun."
"Dayte meni yizhu, vin skazav, shcho ya mozhu otrymaty yizhu tut, yakshcho ya poproshu pro tse. vchora ya ne pryyikhav syudy prosyty pro tse. (Beri aku makan, katanya aku bisa dapat makanan disini, kalau aku datang meminta. Kemarin aku tak datang kemari memintanya)" ucap anak itu sambil mendekati Lee.
"Diam di situ!" Perintah Lee. "Umm... Hear! You can't touch people's clothes with your dirty hands like that."
Anak itu tak merespon dia malah menutup mulutnya secara tiba-tiba seperti hendak menahan muntah. Hingga akhirnya anak itu jatuh pingsan.
"H-hei! Ada apa dengan mu?" Lee langsung melompat dan memeriksa bocah itu. Dia bisa melihat bocah itu mengeluarkan busa dari mulutnya, dengan cepat dia mengangkat anak itu dan membawanya ke dalam medicube.
Tepat saat itu Naruto dan Sakura baru saja tiba ke kompi itu, terheran melihat apa yang dikerjakan Lee.
Anak itu akhirnya diperiksa oleh Sakura disana juga masih ada Lee dan Naruto yang juga betah menemani mereka.
"Apa dia tiba-tiba muntah dan pingsan?" tanya Sakura masih sibuk memeriksa anak itu.
"Ya, sepertinya dia mengalami kekurangan gizi... Umm... Napasnya tampak normal."
"Sepertinya bukan gejala pneumonia. Tapi gejala ini juga terlalu berbahaya untuk penderita gizi buruk." Sakura mulai menekan pelan hulu hati bocah itu, dan akhirnya bocah itu langsung meringis kesakitan dalam tidurnya. "Dia mengalami nyeri di antara hati dan perutnya."
"Ano... Apa mungkin dia keracunan timah hitam?" kata Naruto sambil menyandarkan diri pada ranjang pada ranjang.
"Gejala keracunan timah hitam tak muncul secepat ini." Jawab Lee sambil berpikir keras.
Sakura jadi teringat pada anak yang dia jumpai kemarin. "Apa dia tengah menjilati sesuatu?" tanya Sakura pada Lee.
Lee melipat tangannya, mengelus dagu. "Ya, dia menjilati jari-jarinya saat dia meminta sesuatu padaku. Tapi, aku tak bisa mengerti bahasanya."
Sakura jadi makin yakin, dia kembali mengingat-ingat anak yang ia beri makan, anak itu menjilat sesuatu seperti besi atau semacamnya. "Kita perlu untuk melakukan detoksifikasi. Berikan dia IV dengan beberapa nutrisi dan vitamin C, serta EDTA." ucap Sakura. Naruto langsung menoleh mengetahui pendapatnya benar.
"Jadi, apa dia menderita keracunan timah hitam?" tanya Lee.
"Dia menderita anemia karena kekurangan gizi. Tapi, saat racun itu memasuki tubuhnya, sel darah merahnya menyerap karena mengira racun itu adalah nutrisi. Dan karena itu racunnya menyebar lebih cepat... Itulah kenapa gejalanya cepat muncul seperti ini." jelas Sakura merasa kasihan, dia mengelus kepala sang bocah.
"Kapten, kau memang luar biasa. Aku tak salah menilai bahwa kau benar-benar memiliki semangat masa muda yang membara." Kata Lee pada Naruto sambil mengancungi kedua jempol dengan semangat. Kemudia, Lee pergi mengambil apa yang diminta Sakura. "Aku ambil obatnya, dulu."
"Baiklah aku apel malam dulu.. beritahu aku jika dia sudah sadar. Aku bisa bahasa Ame dan dapat membantu kalian berkomunikasi dengannya." ucap Naruto, pria itu hendak berbalik pergi namun terhenti...
"Terima kasih atas niat mu untuk membantu." Ucap Sakura berdiri dan menoleh ke Naruto. "Tapi, kau adalah komandan tim mu, dan disini akulah komandan tim medis, aku sendiri yang akan mengurusnya—"
"Daripada berterimakasih, lebih baik kau bersyukur saja."
"Apa maksudmu?"
"Kau bilang hidup itu suci, dan tak ada yang lebih berharga daripada kehidupan... Hari ini aku bisa merasa, kau sudah berubah dan dari apa yang kulihat barusan kau yang sekarang sudah tak sepeka dirimu yang dulu, kau yang dulu akan langsung tahu apa yang sedang dialami pasien mu hanya dengan melihat saja. Dulu kedua matamu hijau mu akan sangat berbinar ketika melihat seseorang yang terluka atau sakit. Sepertinya menjadi selebriti benar-benar telah menghancurkan insting dokter mu... ya?" ujar Naruto pada Sakura. Hal itu membuat Sakura terdiam sejenak.
"Kasus anemia karena kekurangan gizi, dan keracunan timah hitam sangat jarang ditemukan di Konoha. Jadi—"
"Bagi warga Ame, kasus ini sudah seperti kasus penyakit flu di Konoha sana, mereka tak terlalu memusingkannya. Akan lebih bagus jika dokter dengan pengalaman terbaik yang datang ke sini, ketimbang mereka terus berbicara omong kosong diruangan ber-AC."
"Memang harusnya begitu... Tapi tak semua dokter di dunia ini... sama seperti Albert Schweitzer."
"Benar, aku sangat setuju. Karena beberapa dokter, mereka... hanya memilih muncul di layar TV saja dengan semua pembahasan omong kosong mereka, bukannya melakukan tindakan langsung yang dapat berguna bagi semua orang. Aku permisi dulu." Naruto pergi meninggalkan Sakura yang masih terdiam ditempatnya mendengar ucapan Naruto yang sangat menamparnya.
Saat di markas kompi Naruto menaik tangga dan berjalan dengan muka sedih entah itu ia menyesal dengan perkataannya yang sangat kasar pada Sakura atau mungkin ia masih merasa Sakura tidak seperti dulu. Dia pun tak tahu, yang jelas dia merasa buruk saat ini. Tepat saat itu bel peringatan berbunyi. Dia bisa melihat Shikamaru keluar dari ruang kantor.
"FPCON (Force Protection Condition) tingkat dua telah dikeluarkan untuk semua area medicube." Lapor Shikamaru
Naruto hanya diam dengan raut terkejut.
Para tentara bergegas mengambil senjata dan mengisi peluru. Mereka berlari keluar menuju ke medicube dan menjaga daerah itu.
Kakashi dan Lee yang berada di depan mediacube sedang duduk bersama pun heran.
"Kenapa mereka? Apa perangnya sudah dimulai?" tanya Kakashi pada Lee.
"Wah kalau begitu, aku akan menyelamatkan musuh juga dengan semangat masa muda yang membara, karena itulah sumpah dokter." ucap Lee semangat.
Kakashi hanya menatap Lee heran dan memilih melanjutkan membaca buku mesumnya.
"Semua tim medis harus berkumpul!" Ucap Konohamaru yang melihat kedua mahkluk aneh itu masih saja santai dengan peringatan yang sudah dibunyikan.
Naruto dan anggotanya sibuk diruangan kantor. Naruto saat ini sedang menerima telepon dari atasannya, Yamato.
"Operasinya di area rumah sakit lapangan medicube kami?" Tanya Naruto.
"Pasien VIP sedang di kirim ke tempat kalian, jadi persiapkan seluruh kebutuhannya."
"Akan kami persiapkan! Sonkei!"
"Pasiennya adalah Kaisar Haizaki dari perserikatan poros tengah, beliau baru saja berkunjung ke beberapa negara poros tengah, seperti; Kusa, Taki, Ishi, dan, Tani." Jelas sorang pria berjas pada petinggi Konoha. "Beliau adalah keturunan ketiga dalam keluarga kekaisaran Uzushio. Beliau juga dikenal dengan keterampilannya di bidang politik. Beliau lah salah satu yang berhasil mencetuskan perjanjian damai negara poros tengah."
Danzou, Menteri Pertahanan Konoha terus memperhatikan beberapa artikel mengenai Haizaki itu sambil mendengar penjelasan sekertarisnya.
"Beliau juga kandidat terkuat yang akan memenangkan Nobel perdamaian, dan beliau juga merupakan target utama kelompok militan Oto yang masih tak menyetujui perjanjian damai itu."
Sementara di kantor Inoichi, pria itu sibuk melihat dokumentasi dan foto-foto milik Haizaki ketika dulu berkunjung ke Konoha.
Dia mengambil telepon. "Siapkan mobil, aku mau ke Red House!"
Pria itu pun berdiri dan memakai baretnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan kantornya.
Semua tim medis telah berkumpul didepan medicube, Naruto datang dan memberikan catatan medis pasien VIP pada Sakura yang hanya diam dengan suasana kaku. TakTak ada bedanya dengan Naruto. "Ini rekam medis VIP..."
"Hm..." Sakura mengambil catatan itu dengan kasar, ia melihat catatan medisnya tapi banyak yang disensor.
"Apa-apaan ini?" Tanya Kakashi sambil heran dengan rekam medis itu. "Apa gunanya rekam medis ini, jika hampir semuanya disensor begini?"
"Terlalu banyak data palsu dalam catatan medis VIP ini." ucap Sakura.
"Kenapa ada data palsu dalam catatan medis pasien?" tanya Lee dengan kesal. "Siapa dokter sinting yang berani melakukannya?"
"Aku mungkin salah satu dokter yang seperti itu. Pasien yang miskin akan membutuhkan dokter seperti Albert Schweitzer." Naruto memandang Sakura dengan tatapan bersalah. "Dan bagi pasien VIP akan membutuhkan dokter khusus yang bisa memalsukan rekam medis, aku cukup sering melakukan ini pada pasien VIP ku. Bagi seorang VIP, catatan medis sama saja dengan kelemahan mereka. Karena itulah catatan seorang yang memiliki kuasa bersifat rahasia." Kata Sakura tanpa melirik sedikitpun Naruto, Naruto sendiri hanya diam dan Shikamaru pun juga diam mendengarnya, meskipun ada nada menyinggung dalam ucapan dokter pingkish itu.
Tepat saat itu mereka bisa mendengar suara sirine dan melihat kedatangan dua mobil yang membawa pasien datang. Dengan cepat pasien itu dibawa masuk ke dalam Medicube.
"Bagaimana kondisinya VIP?" tanya Yamato melalui alat komunikasi.
"Semuanya baik-baik saja. Mereka sedang memeriksanya." Lapor Naruto memberitahunya.
"Oke. Red House sudah mengetahuinya, jadi pastikan kau melaporkan semuanya."
"Hai!"
"Tekanan darahnya 175/110, denyutnya 100, dan detak jantungnya 70."
Sakura dan yang lainnya sedang memeriksa pasien. Disana ada Naruto, anggota timnya dan juga para pengawal pasien VIP itu.
"Tekanan darahnya tinggi, denyut nadinya sangat cepat dan tak teratur." Ucap Lee melihat kondisi VIP.
"Sepertinya hipoglikemia, dalam chart-nya dia menderita diabetes mungkin masalah insulin." Ucap Kakashi mendiagnosis.
"Pokoknya kita harus urus ini dulu." Sakura menoleh pada Shizune. "Tolong D50W (Dextrose ini Water) untuk infus-nya."
"Hai!"
"Wait!" seorang pengawal kaisar itu menghentikan pergerakan mereka semua. Kemudian pengawal itu memberikan sebuah botol cairan. "This is a recipe from Lord Haizaki's personal doctor!"
Sakura menerimanya dan membaca obat itu. "Nitro-glycerine?"
Naruto hanya diam memperhatikan dia sama sekali tak mengerti dan tak tahu menahu tentang obat itu.
"Kenapa dia butuh obat vasorelaksan?" tanya Lee. "Bukankah itu efek samping dari insulin?"
"Bukankah sudah kubilang jangan percaya rekam medisnya. Gejala dan diagnosis nya berubah dengan mudah. Dia tidak menderita darah tinggi akibat hipoglikemia justru dia mengalami hipoglikemia karena hatinya." Jelas Sakura sambil memberikan obat itu pada Shizune. "Berikan dia ini!"
"Hai!"
Pihak dari pengawal kaisar itu masih terus mengawasi jalannya pemeriksaan. Sama halnya dengan pihak Naruto yang terus memperhatikan apa yang dilakukan Tim Sakura. Shizune melakukan apa yang diperintahkan Sakura. Dia menyutikkan kedalam selang infus.
TIT! TIT! TIT! TIT!
Setelah Shizune menyuntikkan obatnya tekanan darah pasien VIP itu langsung menurun secara drastis drastis. Hal ini membuat semuanya terkejut.
"Tekanan darahnya menurun terlalu cepat, percepat infusnya!" ucap Sakura. Dia langsung membuka kemeja VIP itu pada bagian perut dan menekannya. "Apa ini? Dia mengalami distensi abdomen."
ZST!
Naruto pun menerimanya sambungan dari markas pusat. "Naruto! ada apa? laporkan situasi!"
Naruto berjalan mendekati Sakura. "Bagaimana Kondisinya?"
"Dia mengalami distensi abdomen dan tekanan darahnya menurun. Mungkinkah hemoperitoneum?" Sakura kembali menekan sekali lagi perut VIP dan dalam tidurnya VIP meringis menahan sakit. "Ya! Dia menderita hemoperitoneum (Pendarahan dalam rongga tubuh). Mereka menyembunyikan sesuatu." Dia menoleh cepat ke Naruto. "Naruto, kami perlu mengoperasinya..." Ucapnya. Dia menoleh melihat timnya yang lain. "Kita akan melakukan operasi, siapkan ruangan operasi"
"Hai!" mereka semua pun menganggukan kepala setuju.
"Stop!" Mereka semua kembali terdiam dan menoleh ke pimpinan pengawal VIP. "I can't let you do that! I will not let you operate on him! The Emperor's doctor will come here in an hour!"
Sakura hanya terkejut mendengar keputusan itu. "What do you mean? He can die in an hour! If I don't operate him now ... maybe only 20 minutes... for him to die." protes Sakura pada pengawal itu.
"I can't allow... any person to operate on Lord Haizaki."
"You don't hear ?! He will die if I don't operate in 20 minutes! "
Pengawal itu menodongkan pistolnya pada Sakura. Semuanya dituangkan itu terkejut melihatnya. "Hands up!"
Tentara dari Konoha juga hendak menodongkan senjata mereka, namun ditahan oleh Naruto.
"Only the emperor doctor could operate Lord Haizaki!" tegas pengawal itu.
Mereka yang mendengar terdiam dan membuat ruangan itu hening dan hanya terdengar suara dari monitor. Naruto secara diam-diam memegang pistolnya juga.
TIT! TIT! TIT! TIT!
"Semuanya mundur!" ucap Sakura pada timnya. "Fine! I will not try to change the rules. But, as soon as I raise my hand up, he will die." Tekanan darah pasien semakin menurun.
TIT! TIT! TIT! TIT!
"Tekanan darah menurun bertambah cepat!"
ZST!
Naruto kembali menerima kontak pusat lagi. "Dengar baik-baik. Hidupnya bukanlah hal yang penting sekarang. Tapi, siapa yang akan bertanggung jawab atas insiden ini? Biarkan saja orang Uzushio itu yang memutuskan semuanya. Jika kaisar meninggal, kita bisa melemparkan masalah ini pada dokter yang ada disana, bahwa dia tak becus menangani pasien." Naruto mulai mengerutkan keningnya mendengar perintah itu. Perintah kotor macam apa itu? Dia tak mungkin membiarkan Sakura difitnah dan harus bertanggung jawab untuk hal seperti itu. "Kita, para pasukan tak akan bertanggung jawab atas insiden ini. Dengar baik-baik Naruto! Ini adalah perintah!"
Naruto memandang Shikamaru. Seakan memahami isi kepala Naruto, Shikamaru menganggukkan kepala. "Sakura, kau bisa... Menyelamatkannya?" tanya Naruto pada Sakura tanpa menoleh.
"A-apa?" tanya Sakura terkejut. Wanita itu berpikir sejenak sambil melirik pistol yang mengarah kearahnya. "A-aku bisa tahu jawabannya saat mengoperasinya, t-ta-tapi d-dia sepertinya mengalami—"
"Aku tak peduli permasalahannya!" tegas Naruto menoleh pada Sakura. "Aku tak ingin mendengar penjelasan mu saat ini! Katakan saja kau bisa menyelamatkannya atau tidak... Sebagai seorang dokter?"
ZST!
Naruto kembali menerima kontak. "Hei Naruto! Sedang apa kau?!"
Tapi Naruto sama sekali tak menjawab kontak itu. "Jawab aku, Sakura!"
Sakura hanya diam tak tahu mau mengatakan apa. Suara dari monitor kesehatan pasien terus berbunyi semakin cepat dan itu menambah pusing kepala Sakura, membuatnya sulit berpikir jernih apalagi saat ini sebuah pistol tengah mengarah ke kepalanya. Pistol yang kapan saja bisa memuntahkan sebuah peluru yang dapat melubangi kepalanya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam. "Aku bisa mengoperasikannya!"
Naruto mengangguk kemudian memutuskan kontak komunikasinya pada markas pusat dan melepaskan headsetnya. Pria Namikaze itu diam sejenak menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya, sekedar memantapkan apa yang akan dilakukannya sekarang. Setelah itu Naruto langsung mengeluarkan pistolnya dan menodongkan pada pengawal VIP. "Kalau begitu selamatkan dia!"
Melihat yang dilakukan pemimpinnya. Kiba, Sai, Neji, dan Shikamaru langsung menodongkan senjata mereka pada keseluruhan pengawal VIP itu. Hal yang sama juga dilakukan oleh para pengawal itu. Terjadilah mereka saling menodongkan senjata. Membuat Sakura dan timnya terdiam terkejut.
.
.
.
.
.
.
TBC
Terimakasih sudah ngeFav follow and ripiu! Udah itu aja bye! PLAKK
Sampai jumpa dichapter berikutnya! SONKEI!
REVIEW
VVVVVVVVVV
VVVVVVVVV
VVVVVVVV
VVVVVVV
VVVVVV
VVVVV
VVVV
VVV
VV
V
