Warn! Typos!

.

.

.

.

.

Donghyuck meringis tak enak melihat Mark terlihat sangat gugup karna dipelototi oleh Ayah dan kakaknya.

"Jadi kau Soulmate dari anakku yang manis dan lucu ini?." Tanya Jongin sambil memicingkan matanya tajam.

Mark mengangguk kaku lalu menganggukan kepalanya patah-patah.

Mingyu menolehkan kepalanya ke arah Donghyuck lalu menatapnya dengan garang, "Kau berbohong padaku dan Ayah!." Seru Mingyu.

Donghyuck mengerutkan dahinya tak mengerti maksud dari perkataan kakaknya itu. "Menipumu bagaimana hyung? Lihat! Aku membawanya kemari seperti permintaan Ayah!." Sembur Donghyuck kesal.

Mark menganga tidak menyangka melihat sisi garang Donghyuck. Ia pikir Donghyuck adalah seseorang yang manis, lemah lembut, menggemaskan, dan bertutur kata halus. Tapi ternyata Donghyuck tidak seperti itu kepada kakaknya.

"Kau bilang dia tidak tampan!!. " Balas Mingyu.

Donghyuck membelalakan matanya mendengar perkataan kakaknya itu, "Hyung! Kapan aku berkata seperti itu!." Donghyuck melirik ke arah Mark dan meringis tak enak saat melihat Mark tengah menatapnya dengan raut kebingungan.

"A-aku tidak pernah mengatakan Soulmate-ku tidak tampan!."

Jongin tidak menanggapi perdebatan antara para putranya, ia terus menatap Mark yang tengah duduk di hadapannya gugup.

"Siapa namamu?." Tanya Jongin dengan nada dingin, yang membuat Mark serta putra-putranya langsung berjengit kaget.

Mark menengguk ludahnya kasar mendengar nada suara dari *ekhem calon mertuanya itu, "Mark Lee paman. " Jawab Mark sambil mencoba tersenyum.

Jongin menganggukan kepalanya singkat, "Kau tampan juga ya, tapi tetap lebih tampan diriku dan Mingyu." Komentar Jongin sambil tersenyum bangga.

"Apa sebelumnya kau sudah mengenal anakku?." Tanya Jongin lagi.

Mark menggelengkan kepalanya, "Tidak, kami saling kenal setelah bertemu. "

Jongin mendecih mendengar perkataan Mark, "Cih, tidak menarik. Tidak ada dramanya. "

"Ayah! Kenapa berbicara seperti itu sih?!." Protes Donghyuck jengkel. Ia tidak tahu kenapa Ayahnya mengatakan hal-hal yang sangat tidak bermutu dan mengesalkan sedari tadi. Jika tahu akan begini lebih baik dia tidak membawa Mark ke rumahnya. Membuat malu saja!.

"Ah maafkan saya paman. " Mark tidak tahu harus merespon bagaimana dengan perkataan Jongin barusan, jadi ia hanya bisa mengatakan maaf.

"Berapa umurmu?." Kali ini Mingyu yang bertanya.

"20 tahun. " Jawab Mark.

"Kau satu Universitas dengan Donghyuck? Fakultas apa?."

"Iya, saya satu Universitas dengan Donghyuck, dan saya mahasiswa fakultas kedokteran. " Jawab Mark sopan.

Mingyu memasang raut tak suka setelah mendengar jawaban dari Mark. Tampan, muda, dan mahasiswa kedokteran. Mingyu benci itu, Soulmate adiknya terlihat sangat sempurna.

"Kau pasti ingin terlihat keren kan?." Cibir Mingyu.

Donghyuck langsung mencubit pinggang kakaknya dengan kuat setelah mendengar perkataannya yang sangat menyebalkan itu, "Hyung! Apa-apaan sih!."

Mark menggelengkan kepalanya, "Tidak, bukan begitu-"

"Mark hyung jangan kau dengarkan perkataan orang gila ini!." Potong Donghyuck cepat.

"Kau mengatai hyungmu sendiri gila?!." Pekik Mingyu tidak percaya.

"Iya! Dasar orang gila!." Balas Donghyuck.

"Kurang ajar. " Mingyu langsung memiting leher Donghyuck sehingga membuat Donghyuck memekik murka.

Jongin menghela nafas lelah melihat kelakuan dua putranya yang sangat liar jika berada di tempat yang sama. Sedangkan Mark memasang wajah syok melihat tingkah Donghyuck yang tidak ada manis-manisnya sama sekali jika dirumah.

Jongin bangkit dari tempat duduknya lalu memberikan isyarat kepada Mark agar mengikutinya.

Mark yang tengah dilanda kebingungan hanya bisa menganggukan kepalanya lalu ikut beranjak dan mengikuti Jongin.

Jongin mengajak Mark duduk di halaman belakang, "Disini lebih tenang. " Ucap Jongin.

Mark memandang taman kecil yang dipenuhi dengan bermacam bunga-bunga dengan senyuman senang, "Tenang sekali disini paman. " Balas Mark.

Jongin menoleh sekilas ke arah Mark lalu tersenyum kecil. "Kau tahu, Donghyuck-ku yang merawat semua bunga-bunga itu. "

"Benarkah paman?." Tanya Mark dengan raut tidak percaya.

Jongin menganggukkan kepalanya, wajahnya menghadap ke depan dan matanya menerawang jauh, membuat Mark yang duduk disebelahnya mengerutkan dahinya keheranan.

"Donghyuck, dia adalah anak-ku yang sangat aku sayangi. " Ucap Jongin tiba-tiba.

Badan Mark membeku mendengar perkataan Jongin, Mark dapat mendengar nada sendu yang terdapat di kata-katanya barusan.

"Dia sangat manis, baik hati, menggemaskan, dan selalu membawa aura positif untuk semua orang. "

"Dia juga ceroboh. " Gumam Mark pelan, tapi Jongin masih dapat mendengarnya dengan jelas.

Jongin tergelak mendengar gumaman Mark, "Kau benar. Dia sangat ceroboh. Kau pasti sangat menderita selama ini kan?."

Mark menganggukan kepalanya ragu-ragu, "Sedikit. "

"Walaupun dia terkadang memang sangat menjengkelkan, tapi aku tidak pernah merasa marah padanya. "

Mark hanya diam mendengarkan semua perkataan Jongin.

"Dia harus kehilangan sosok Ibu di umur 10 tahun."

Mark terkejut mendengar perkataan Jongin, ia tidak menyangka jika ternyata Donghyuck sudah tidak memiliki seorang Ibu.

"Dia ingin terlihat kuat, padahal dia tidak. Dia tidak pernah menangis di depanku ataupun kakaknya. Tapi dia selalu menangis sendirian ditengah malam. "

"Dia berusaha keras menjadi sosok Ibu. Dia bangun di pagi buta untuk menyiapkan kami berdua sarapan. Dia merawat kami berdua dengan sangat baik dan penuh kasih sayang. " Jongin menghapus setitik air mata yang jatuh di pipinya. "Dia tidak pernah mengeluh sama sekali. "

Perasaan Mark terasa sedih mendengar perkataan Jongin tentang Donghyuck. Ia tidak menyangka jika dibalik sosok Donghyuck yang ceria, manis dan menggemaskan ternyata dia harus menjalani hidup yang menyesakkan.

"Aku ingat, dia pernah sekali menangis dengan sangat kuat. Waktu itu Mingyu harus di bawa ke Soulmate Center, " Jongin menjeda perkataannya, ia merasa sangat sesak jika mengingat keadaan Mingyu waktu itu, "Mingyu kehilangan Soulmate-nya sebelum mereka berdua sempat bersentuhan. "

Mark membelalakkan matanya tidak percaya. Kakak Donghyuck sudah tidak memiliki Soulmate?!.

"Donghyuck menangis dengan sangat kuat di depan ruangan rawat Mingyu. Dia takut Mingyu tidak bisa bangun lagi. "

Mark tidak bisa berkata-kata saat mendengar semua cerita Jongin.

"Donghyuck mempunyai hati yang besar dan rapuh. Mark, maukah kau berjanji untuk selalu menjaga Donghyuck?." Ucap Jongin sambil menatap Mark dengan tajam.

Mark langsung menganggukkan kepalanya yakin. "Tentu saja paman!."

"Aku percaya kau laki-laki yang baik. Soulmate tidak akan pernah salah. "

"Terimakasih telah percaya padaku paman. Meskipun aku dan Donghyuck baru saja bertemu, aku akan berjanji untuk menjaganya. Bagaimanapun juga dia adalah bagian dari jiwaku yang lain. "

Jongin tersenyum puas mendengarkan perkataan Mark. Ia bersyukur karna Donghyuck mendapatkan Soulmate yang baik dan terlihat dapat dipercaya dan dipegang janjinya.

"Ayah! Mark hyung! Aku mencari kalian kemana-mana!."

Jongin dan Mark langsung menolehkan kepalanya kebelakang dan melihat Donghyuck berjalan mendekati mereka berdua dengan raut wajah kesal. Jangan lupakan Mingyu yang mengintili di belakangnya dengan segaris luka cakar merah yang terlukis apik di wajahnya.

Donghyuck memicingkan matanya saat melihat wajah Ayahnya yang terlihat seperti habis menangis.

"Ayah? Kau menangis?." Tanya Donghyuck kepada Ayahnya.

Jongin segera menggelengkan kepalanya dengan keras, "Tidak! Kenapa Ayah harus menangis!."

Mingyu menatap Mark dengan tajam lalu berkata, "Hey, kau mengatakan pada Ayahku jika kau akan membawa pergi Donghyuck ya!." Tuduh Mingyu.

"Hyung!." Donghyuck kembali memukul lengan Mingyu dengan kuat membuat Mingyu memekik marah, "Sakit!!!."

Donghyuck menatap Mark dengan pandangan tak enak. Ia merasa malu sendiri saja kepada Mark. "Hyung.. " Cicit Donghyuck.

Mark yang melihat raut tak nyaman Donghyuck segera tersenyum, "Tidak apa-apa. " Ucap Mark.

"Lihat itu! Sok tampan sekali!." Cibir Mingyu.

Mark sebenarnya agak kesal dengan kakak dari Soulmate-nya yang sedari tadi bersikap salty padanya. Tapi Mark mencoba untuk sabar, bagaimanapun juga Mingyu adalah calon kakak iparnya.

"Mingyu sudah, lebih baik kita pergi bermain golf, lagi pula Ayah sudah selesai berbicara dengan Mark." Ucap Jongin sambil melirik sekilas ke arah Mark.

Mingyu langsung memasang tampang bahagia dengan senyum lebar saat mendengar ucapan Ayahnya. "Ayo! Minggu lalu kita gagal bermain golf gara-gara Ayah lembur. "

"Kami berdua pergi dulu ya, kalian nikmati saja waktu berdua. " Ucap Jongin sambil tertawa.

"Nikmati waktu berdua sebelum orang ketiga datang merusaknya. " Ucap Mingyu sambil mendengus malas.

"Hyung!." Pekik Donghyuck. Astaga hyungnya satu ini kenapa sih dari tadi.

"Ternyata kau galak juga ya. " Ucap Mark sambil terkekeh.

Donghyuck yang baru saja ingin melempar kakaknya yang melenggang pergi dengan bantal kursi langsung mengurungkan niatnya. "Aku tidak galak. " Donghyuck langsung menaruh kembali bantal kursi ke-tempat semula dan menundukkan kepalanya.

Mark tersenyum geli melihat Donghyuck yang sudah bertingkah menjadi Donghyuck si manis dan pemalu seperti biasanya. Mark tidak tahan untuk tidak mencubit gemas pipi gembil Donghyuck, "Ya Tuhan, kau menggemaskan sekali. " Ucap Mark sambil mencubit pelan pipi Donghyuck.

Donghyuck yang pada dasarnya sangat membenci apabila pipinya di cubit pun langsung mendelik kesal ke arah Mark, "Jangan lakukan itu!." Pekik Donghyuck jengkel.

Mark kembali tertawa melihat ekspresi kesal Donghyuck. "Tidak heran jika Ayah dan hyungmu sangat menyayangimu. " Ucap Mark sambil mengusak pelan rambut Donghyuck, "Bagaimana ini? Aku semakin jatuh cinta kepadamu. Kita menikah saja bagaimana?."

Donghyuck reflek membulatkan matanya dan menatap Mark dengan pandangan kaget, "Hyung!."

"Hahaha, aku bercanda. " Balas Mark sambil tertawa.

Donghyuck mengerucutkan bibirnya lalu memukul pelan lengan Mark, "Kau membuatku terkejut. "

"Tapi hyung, apa yang kau bicarakan dengan Ayah tadi?." Tanya Donghyuck dengan raut penasaran.

"Bukan apa-apa. Dia hanya mengatakan kau itu anak yang nakal. " Jawab Mark.

"Yak!."

"Hahaha, tidak. Ayahmu hanya memintaku untuk menjagamu saja. "

"Benarkah?."

Mark menganggukan kepalanya, "Iya. "

"Lalu kau menjawab apa?."

"Tentu saja aku mau!."

Donghyuck merasa pipinya kembali memanas saat mendengar perkataan Mark.

Mark yang melihat Donghyuck menundukkan kepalanya malu pun tertawa kegemasan. "Berhenti bersikap menggemaskan Hyuck. Aku sudah tidak tahan. " Ucap Mark sambil menarik kedua pipi Donghyuck dengan kuat.

Donghyuck memekik marah atas perbuatan Mark itu, "Hyung!."

Mark melepaskan tarikannya pada pipi Donghyuck lalu merengkuh tubuh Donghyuck ke dalam pelukannya, "Terimakasih. "

Donghyuck menaikkan sebelah alisnya di dalam pelukan Mark kebingungan, "Untuk?."

"Sudah menjadi Soulmate-ku."

Donghyuck mencubit pelan pinggang Mark, "Dasar gombal. "

Mark melepaskan pelukannya lalu menatap Donghyuck dengan pandangan yang Donghyuck sendiri tidak tahu apa artinya. "Ayahmu dan hyungmu kalau bermain golf lama atau tidak?." Tanya Mark tiba-tiba.

"Biasanya mereka akan pulang larut malam. " Jawab Donghyuck.

Mark langsung tersenyum lebar mendengar perkataan Donghyuck, "Bagus!. Bagaimana jika sekarang kau yang datang ke rumahku?."

"E-eh!!.

.

.

.

.

.

.

Omake:

Renjun memutar bola matanya jengah melihat dua orang di hadapannya tengah bermesraan seperti dunia hanya milik mereka berdua.

"Jeno, jangan kecup-kecup ih! Malu dilihat orang!."

"Biarkan saja. " Balas Jeno sambil mencuri satu kecupan di pipi Jaemin.

Renjun langsung memasang wajah jijik melihatnya, "Dasar pasangan tidak bermoral. " Ucap Renjun sambil mendengus kesal.

Jaemin menatap Renjun dengan sinis lalu mengibaskan tangannya pelan, "Jika iri bilang saja."

Jeno mencubit gemas hidung Jaemin, "Tidak boleh berkata seperti itu kepada Renjun. "

"Habisnya dia menyebalkan!." Ucap Jaemin dengan nada yang dibuat-buat.

"Arghh!!." Tiba-tiba saja Renjun memekik kesakitan sambil memegangi perutnya.

"Renjun! Kau kenapa?!." Jaemin langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Renjun yang tengah kesakitan.

Renjun kembali berteriak kesakitan saat ia merasa ulu hatinya di tinju oleh seseorang.

"Arggh!!!." Erang Renjun semakin kesakitan.

Jaemin luar biasa panik melihat Renjun menahan sakit sampai mengeluarkan air mata, begitu juga dengan Jeno. Ia langsung mencoba menghubungi pertugas kesehatan yang disiapkan khusus di Universitasnya, ia yakin Renjun kesakitan karna Soulmate-nya.

"Jeno!!."

Jeno langsung menolehkan kepalanya saat mendengar seseorang berteriak memanggilnya. "Kenapa?!."

Orang itu mendekati Jeno dengan nafas ter-engah-engah, sepertinya ia habis berlari kencang.

"Lucas-" Ucap orang itu.

Jeno langsung membulatkan matanya kaget, perasaannya langsung tidak enak, "Lucas berkelahi dengan Hendery di lapangan basket!."

.

.

.

.

.

.

tbc

Hellowwww aku kembali lagiiii... masih adakah yang menunggu book ini? wkwkwk kalau ada terimakasih banyak yaa!!

as always aku mau ngucapin terimalasih buat kalian semua yang udah mau review. makasih banget TT

oh iya! aku juga ada di wp kok, username wpku :Brillantefullsun_