|My Blood is Ferret|
.
.
Disclaimer :
Harry Potter © J.K Rowling
My Blood is Ferret © Ms. Loony Lovegood
(Tak ada keuntungan material apapun yg saya dapatkan dengan menulis fict ini, semata-mata hanya karena kesenangan dan kecintaan saya terhadap serial menakjubkan 'Harry Potter' beserta para tokoh-tokoh istimewanya!)
.
~DraMione fiction~
.
Rated : T
Romance, Hurt/Comfort
Warning!
Saya sudah berusaha untuk tidak typo
(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf)
Paragraf yang di-italic, berarti flashback!
.
|Happy Reading Guysss... But don't like don't read... RnR please|
.
.
Chapter 20 : RETAK, Tak jodoh?
.
.
.
"Hermione?" Draco berbalik dengan tatapan tak percaya mendapati gadisnya berdiri kaku di ambang pintu tak jauh darinya. "A..aku bisa jelaskan semua ini. Ini sama sekali tak seperti yang kaukira, Hermione! Hermione, tunggu dulu! Hey! Aku, bisa jelaskan! Lepaskan aku, Jalang!" Draco memberontak kasar, menyentak seorang gadis dengan surai cokelat berkilau. Astoria.
"Tak ada lagi yang perlu kau jelaskan, Malfoy! Tak usah kauganggu hidupku lagi! Aku benci padamu!" Seiring dengan berakhirnya rentetan kalimat emosi yang meluncur bebas dari mulut sang Putri Gryffindor itu, ia pun melangkahkan kaki reniknya jauh, jauh, dan jauh dari gemaan suara-suara yang menyuarakan namanya di belakangnya.
Hatinya hancur, remuk, dan perih dalam waktu yang bersamaan. Buliran cairan bening sudah cukup memperjelas semuanya. Segalanya. Dan seluruhnya. Seluruh perasaan seorang Hermione Jean Granger.
Semuanya retak. Hancur, berkeping-keping. Tak bersisa.
Dan semenjak saat itu, gadis hazel itu telah memutuskan sesuatu yang dianggapnya benar. Membulatkan tekadnya sepenuh jiwa dan raganya, bahwa cinta tak benar-benar ada. Cinta hanyalah serentetan rasa benci yang tersamarkan oleh bayang-bayang delusi indahnya kebersamaan dalam suatu hubungan. Yah, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tak benar-benar mencintai pemuda pirang yang dengan seenak bokongnya telah mempermainkan perasaannya.
Hermione Jean Granger membenci sosok Draco Lucius Malfoy.
.
-OoOoO-
.
Hari demi hari berlalu. Draco merasa hidupnya kosong. Sama dengan keadaan asrama Ketua Murid, yang setiap harinya nyaris tak berpenghuni. Well, nyaris. Itu pun lantaran adanya sosok Draco Malfoy di dalamnya, hingga secara teknis keadaannya tak benar-benar kosong.
Pemuda bermanik kelabu tajam itu duduk terpekur di atas sofa hijau favoritnya. Memandang lurus ke arah perapian di hadapannya yang kelihatannya disepuh permata itu. Tapi Draco tak peduli, bahkan jika sampai perapian itu disepuh dengan berlian ataupun emas berkarat-karat sekalipun. Itu bukanlah sorot utamanya. Serebrasinya melanglang buana ke kejadian beberapa hari lalu. Err, atau sudah berminggu-minggu, eh? Yah, sepertinya memang begitu. Buktinya, tak lama lagi siswa-siswi Hogwarts tahun ke-7 akan segera melaksanakan N.E.W.T.. Dan bagian terburuknya adalah Hermione masih belum mau mendengarkannya di setiap kali ia berusaha untuk berbicara pada gadis singa itu.
Ia merasakan semuanya berubah semenjak malam 'nista' itu. Rupa-rupanya Hermione benar-benar serius akan ucapannya. Sudah berminggu-minggu ia berusaha keras untuk menjauhi Draco. Gadis itu hanya akan bicara jika benar-benar diperlukan, berada di asrama Ketua Murid ketika benar-benar butuh. Oh, percayalah, itu semua sungguh menyiksa batin seorang Draco Malfoy dan membuat pikiran pemuda bersurai platina itu kembali bergerilya ke kejadian malam itu.
.
.
"Draco Malfoy!" Terdengar sebuah suara menyuarakan nama sang Malfoy junior, pemuda itu pun lantas berbalik dan mendapati sesosok gadis mungil berambut hitam panjang tergerai dengan jubah berlambang luwak (Draco lebih senang menyebut 'luwak' ketimbang mengucapkan 'musang' yang pada nyatanya kembali mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun silam). Oh, gadis Hufflepuff rupanya. Tampaknya ia masih kelas satu atau dua, pikr Draco saat itu.
"Ada apa?" tanya Draco to the point, si gadis Hufflepuff tampak ragu sebelum ia kembali bercicit.
"Seseorang menunggumu di ruangan itu," katanya dengan nada pelan, menunjuk ke arah sebuah ruangan tak jauh dari situ. Draco mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Lalu …" Draco menggantung kalimatnya di udara. "Kenapa kau berkeliaran malam-malam begini? Aku bisa saja memberikanmu detensi, Nona Kecil," ujar pemuda bermanik kelabu itu, menekankan pada dua kata terakhirnya. Sontak gadis kecil mungil itu terlihat gelisah, buktinya sedari tadi ia memilin-milin ujung roknya.
"Ma..maafkan aku. Aku … aku hanya mencari kucing peliharaanku yang kabur dari asrama," jelasnya sembari menunduk. Draco terlihat berpikir sebentar sebelum kembali angkat bicara.
"Lalu, mana kucingmu?"
"A..aku belum menemukannya. Akan kucari kembali di esok hari."
"Well, saranku juga begitu. Karena kalau kau sampai kedapatan oleh prefek ataupun profesor, oh tidak … tidak. Kemungkinan terseramnya ada pada Filch." Draco bergidik ngeri, meskipun ia sama sekali tak takut terhadap penjaga tua Hogwarts itu sebenarnya.
"Ja…jadi, aku tak dapat detensi?" Gadis kecil itu mendongak, tampak sorot bahagia terpancar jelas dari manik bluish-nya.
"Anggap saja malam ini kau kumaafkan," ujar Draco tersenyum. "Tapi, tunggu dulu." Senyuman senang yang terpatri di bibir kecil mungil gadis itu kontan memudar, seolah-olah Draco berhasil mengabolisinya dengan sempurna. "Tadi kau bilang ada yang menungguku, 'kan?" Gadis itu mengangguk dan menggigit bibirnya, kelihatan menggemaskan sekali—ditambah dengan pipi tembemnya. "Oh, itu pasti Hermione. Aku sudah meninggalkannya berapa lama?" Draco bergumam pada dirinya sendiri. "Oke, terima kasih …."
"Chroum. Namaku, Isabel Chroum," potong gadis itu cepat.
"Ah, ya, maksudku terima kasih, Chroum." Draco kembali tersenyum. "Lekaslah kembali ke asramamu," titah Draco lagi sebelum gadis kecil itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
Pemuda bermanik kelabu itu dengan langkah-langkah panjangnya kini telah berada di sebuah ruangan kelas kosong yang dimaksudkan si gadis kecil Hufflepuff tadi.
'Kreeek ….'
Pintu kayu itu berderit terbuka. Draco menajamkan indra visualnya, menyapu seluruh ruangan dengan sorot argent-nya.
"Hermione? Di mana kau? Oh, jangan main petak umpet. Kau tak takut diculik Peeves, eh?" ujar Draco setengah terkekeh dengan lelucon garingnya sendiri, lantas ia kembali maju selangkah demi selangkah. Ujung tongkatnya berpendar mengeluarkan cahaya, mantra lumos-nya bekerja.
"Expelliarmus," bisik sebuah suara, nyaris-nyaris tak terdengar.
"Merlin! Sekarang apa lagi?" Draco berkata lamat-lamat. "Jangan mempermainkanku begini." Kini pria bersurai pirang itu mendengus sebal. "Kembalikan tongkatku, Hermione … atau—"
"Atau apa?" potong sebuah suara. "Lumos," tambahnya lagi.
"Ka—kau lagi? Apa yang kaulakukan di sini?!" Manik abu-abu itu sontak melebar terkejut mendapati sosok yang begitu tak diinginkannya kembali muncul di hadapannya sekarang.
"Merindukanku, Draco?" seringai gadis bersurai cokelat pekat itu, Astoria Greengrass.
"Oh, tidak lagi. Apa yang kau inginkan?!" sentak Draco, menatap tajam ke arah gadis yang kini memegang tongkatnya itu.
"Hanya ingin bermain-main sebentar. Apa tak boleh?" sahut suara itu dengan nada sedih yang dibuat-buat. Ia memain-mainkan sebuah tongkat hawthorn—tongkat Draco—di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang tongkatnya sendiri.
"Kembalikan tongkatku!" Astoria menaikkan sebelah alisnya.
"Ini?" Gadis itu tersenyum sekilas. "Tenang saja, Sayang … Aku akan mengembalikannya, tapi tidak sekarang." Ia mengangkat wajahnya, menatap langsung ke arah bola mata kelabu di hadapannya dengan refleksi picik yang terpantar jelas di manik wajahnya.
Dengan inisiatif personalnya, Draco kemudian berbalik arah. Memutuskan untuk sesegera mungkin keluar dari ruangan itu sebelum hal-hal yang tak diinginkannya kembali terjadi. Untuk kedua kalinya, dalam waktu yang nyaris bersamaan. Ah, tidak lucu, 'kan?
"Colloportus!"
'BRAK!' Pintu kayu itu tiba-tiba menutup dengan sendirinya. Well, itu memang mantra yang sangat sederhana. Tapi, apalah dayanya tanpa sebatang tongkat?
Draco menggeram tak terima. "Kaupikir dengan begini, aku bisa takhluk padamu, hah? Bermimpilah!" Astoria kembali menarik satu ujung bibirnya, membentuk sebuah seringai kecil.
"Bermimpi, eh? Kalau begitu, sebentar lagi aku akan mewujudkan mimpiku itu. Dan kau …" Astoria mengambil jeda sejenak. "Akan menjadi milikku …" Kini gadis Slytherin itu maju demi selangkah mendekati Draco dengan kedua tangannya yang masing-masing memegang tongkat.
"Apa yang kau lakukan?!" jerit Draco panik. Ia benar-benar tak mau kejadian kemarin malam kembali terulang.
"Kita akan bersenang-senang, Sayang …" seringainya lagi.
"Jangan berani-beraninya ka—"
"Imperio!" Draco membeliak terkejut. Ah, apa yang baru saja dilakukan si Lady Greengrass tak tahu diri ini? Hell! Untuk yang kedua kalinya, bagus sekali, Draco!
Kini Astoria semakin mendekati Draco, mendorong Draco hingga ke sudut ruangan. Tentu saja pemuda pirang itu kini tak dapat melakukan apa-apa. Yah, karena pikirannya telah dikendalikan sepenuhnya oleh gadis bermanik demon itu. Draco bak mayat hidup sekarang. Tubuhnya bergerak bukan atas dasar kordinasi otot-otot sarafnya. Hal yang begitu kontradiktori dengan hasratnya yang sebenarnya.
"Draco ….." sayup-sayup suara seorang gadis tertangkap begitu saja di cuping telinga sang Greengrass muda. Astoria pun kembali menyeringai, lantas mulai membuka tiga kancing teratas kemejanya sendiri. Tak hanya itu, ia pun melepas kaitan rambut yang sedari tadi mengikat surai cokelat pekatnya, mengacak-acaknya sedikit sehingga tampak kusut masai dan berantakan. Ia kembali mendengar suara langkah-langkah kecil yang semakin mendekat. Maka ia pun segera memerintahkan tubuh Draco agar memeluknya dengan erat, seakan-akan Draco benar-benar menginginkannya.
"Alohomora," gadis Ular itu menggumam pelan, melepaskan kuncian pada pintu kayu di ruangan itu hingga akhirnya ia semakin mendengar langkah-langkah kaki yang kian mendekat. Ia yakin benar bahwa itu pasti adalah sosok yang ditunggu-tunggunya, Hermione Granger. Gadis bersurai cokelat gelap itu pun lantas kembali melancarkan aksinya, mulai mengeluarkan desahan-desahan yang dapat dipastikan seratus persen bahwa bagi siapa-siapa saja yang mendengarnya, tentu akan berpikiran yang tidak-tidak.
Satu ….
Dua …
Tiga …
Pintu menjeblak terbuka, menampilkan dua insan yang tengah—
"DRACO MALFOY?!" suara itu terdengar bak tercekat di ujung karotid si empunya.
Astoria menggumamkan sebuah mantra yang pada akhirnya membuat Draco kemabli pada titik kesadarannya sebagai dirinya sendiri, seutuhnya.
"Hermione?" Draco segera berbalik penuh dengan rasa tak percaya terpeta jelas di manik wajahnya. "A..aku bisa jelaskan semua ini. Ini sama sekali tak seperti yang kaukira, Hermione! Hermione, tunggu dulu! Hey! Aku, bisa jelaskan! Lepaskan aku, Jalang!"
"Tak ada lagi yang perlu kau jelaskan, Malfoy! Tak usah kauganggu hidupku lagi! Aku benci padamu!"
.
.
'Tak ada lagi yang perlu kau jelaskan, Malfoy! Tak usah kauganggu hidupku lagi! Aku benci padamu!'
'Tak ada lagi yang perlu kau jelaskan, Malfoy!'
'Tak usah kauganggu hidupku lagi!'
'Aku benci padamu!'
'Aku benci padamu!'
'Aku benci padamu!'
'Aku benci padamu! Aku benci padamu! Aku benci padamu!'
Lontaran kalimat itu seolah-olah menjadi rekaman kaset rusak yang terus berputar-putar bak kanal yang tak ada titik akhirnya, tak berujung. Oh, sungguh sebuah konvolusi yang mau tak mau sangat memeras serebrum-nya.
"Aaaaaarggggghhh!" Ia manjambak rambut platinanya yang menawan itu, menumpahkan segala rasa kekesalan dan penyesalannya yang kian menggunung dan menjadi degenerasi tersendiri pada akhirnya.
Kurang lebih seminggu lagi sebelum N.E.W.T. berlangsung, dan bagian terburuknya adalah sampai sekarang ia tak kunjung menemukan titik terang atas kelanjutan hubungannya dengan Hermione Granger. Hubungan mereka kandas begitu saja, tanpa ada penjelasan ataupun kata-kata perpisahan. Hanya ada segurat elegi yang menyayat hati. Well, kita semua tahu bahwa Draco bukanlah seorang penyair. Tetapi tak ada yang lebih tepat untuk menggambarkan elevasi kekalutan dalam nuraninya selain mengibaratkannya bak elegi—ratapan syair. Oh, atau mungkin setelah ini, setelah ia lulus dari Hogwarts, ia akan beralih profesi menjadi seorang penyair patah hati seumur hidupnya? Kedengarannya cukup menarik.
Draco menggeleng keras, ini tak benar. Semua ini hanya salah paham semata. Tak sepantasnya ia berpikiran jauh seperti itu. Bagaimanapun caranya, ia akan terus berusaha mencari celah di hati seorang Hermone Granger, gadis yang begitu dicintainya sampai kapan pun.
.
-OoOoO-
.
Sesosok pemuda jangkung memacu kaki kokohnya dengan langkah-langkah panjang menyusuri koridor. Mata kelabunya terlihat berpendar berkilau di bawah sorot cahaya minim dari obor-obor di sepanjang koridor. Ia memutuskan untuk menunggu di sudut koridor sebelum belokan ke perpustakaan Hogwarts. Ia yakin betul bahwa sepertiga waktu Hermione dalam sehari, ia habiskan di dalam perpustakaan yang pengap oleh buku-buku tebal berdebu nan usang itu. Tak masalah sebenarnya. Tipikal Granger, bukan?
"Bye, Harry … Ron … Ginny …" samar-samar Draco dapat mendengar sebuah suara halus terdengar di ujung lorong. Jantungnya berdegup kencang, sepuluh kali lipat dari biasanya. Kini perutnya terasa seperti sebuah rumah peternakan bagi kupu-kupu, bergolak tak tenang bagai diaduk-aduk sesuatu, deg-degan, dan keraguan yang sangat dalam—sedikit takut Hermione akan menolaknya.
Tap … Tap … Tap … Langkah itu semakin mendekat. Draco mengambil napas dalam-dalam lantas menghembuskannya perlahan.
'Hap!' Dapat! Ia nyaris berlompa-lompat seperti Trevor–katak Neville, saking senangnya.
Kenyal bagai penuh lemak, terasa baksem, eh? Aneh. Apakah selama itukah ia tak pernah menyentuh Hermione lagi sehingga kini berat badan gadis itu naik tanpa Draco sadari?
"Draco Malfoy!"
Pemuda yang disapa lengkap sebagai sosok Draco Malfoy itu mendongak, menatap si empunya tangan yang kini dipegangnya erat-erat. Manik kelabunya nyaris melompat keluar, seperti Trevor yang sedang kabur meninggalkan Neville di kompartemen kereta di tahun pertamanya. Ah, alagi-lagi katak. Kenapa hari ini Draco selalu saja teringat dengan Trevor alias katak besar-licin-kenyal-menjijikan milik Neville, sih? Atau jangan-jangan … sekarang Draco memiliki kelainan ketertarikan terhadap hewan-hewan licin menjijikan, eh? Oh, kalau begitu siput akan menjadi saingan Trevor. Well, bagaimanapun siput jauh lebih licin dan menjijikan dengan lendir-lendir kotornya itu—iewwhh, meskipun katak tak kalah menjijikannya, sih. Oke, kedua hewan itu memang menjijikan, kok… Benar, bukan? Oh, ya, tapi kenapa pikiran Draco sampai sejauh itu?
"Oh, akhirnya kau sadar betapa aku selalu menunggu saat-saat seperti ini!" ujar suara itu kelewat riang.
Gadis itu. Gadis itu. Oh, dia bukanlah Hermione Granger. Dia Millicent Bulstrode! Demi kolor Merlin! Mengapa bisa gadis karung ini yang lewat sini?! Draco membatin kesal sekaligus sebal bercampur menjadi satu.
'Pantas saja daging semua! Kenyal lagi, ihh!' pikir Draco kemudian.
"Draco Malfoy, maukah kau jalan bersamaku?" sentak Millicent kelewat percaya diri.
Blah! Siapa yang mau jalan bersama dengan sebuntal karung besar yang kalau diperhatikan ternayata punya kepala kecil yang bertengger di atasnya?
"Lepaskan aku Bulstrode! Ini salah. Tak seharusnya aku menarikmu tadi. Ini jelas kesalahan teknis! Aku salah orang," tutur Draco yang kini berusaha mati-matian melepaskan cengkeraman seorang Millicent Buldoser, eh, maksudku Bulstrode yang ganti memegangi lengannya erat. Draco bersumpah saat itu ia merasakan lengannya berbunyi 'kruk'. Mungkin tulangnya bergeser meninggalkan tempatnya atau mungkin saja tulangnya sudah remuk di dalam sana. Ah, awas saja kalau sampai lengan perkasanya benar-benar lecet lantaran serangan karung beras buntel ini. Ia tak segan-segan akan menyihir Millicent menjadi boneka mini dengan kedua pipi pink merona plus potongan poni yang miring separuh, lalu memberikannya kepada Blaise Zabini yang secara diam-diam rupanya mengoleksi beberapa buah boneka di kamar tidurnya—boneka Barbie, kalau kau mau tahu. Jangan bilang siapa-siapa.
"Malfoy?" terdengar sebuah suara halus yang akhir-akhir ini begitu dirindukannya, sangat familiar. Bahkan tak butuh lama bagi Draco untuk mengidentifikasi suara siapakah gerangan. Well, tentu saja itu adalah suara si otak cemerlang, Hermione Granger! Draco menoleh secara reflek, mendapati Hermione yang tengah berdiri di tengah-tengah lorong, memandanginya dengan pandangan yang sulit didefinisikan. Oh, bagaimana bisa tadinya ia tak melihat si Bulstrode-Tak-Laku-Laku ini berada tak jauh dari Hermione? Dan bagian terfatalnya adalah ia salah menarik orang. Alih-alih menarik gadis kecil mungil cantik bertubuh ramping, ia justru menarik sebuntal karung beras dengan bonus kepala di atasnya. Draco sekali lagi merutuki dirinya sendiri.
Dengan segera pemuda Slytherin itu menyentak lengannya keras-keras, hingga membuat cegkeraman Millicent terlepas begitu saja. Wajah korpulen gadis itu tertekuk ke dalam, membuat lipatan-lipatan baru yang justru terlihat semakin menambah petak-petak timbunan lemak di wajahnya. Ia cemberut kecewa, tampak tak suka dengan kenyataan yang sebenarnya—bahwa rupanya Draco Malfoy salah orang! Gadis itu pun lantas menyeret kakinya dalam langkah-langkah malas yang terkesan disentak-sentakkan meninggalkan koridor sepi itu. Meninggalkan dua insan yang kini saling berdiri mematung, bertukar pandang—menyejajarkan atensi personal yang masing-masingnya seolah berusaha menyalurkan telepati satu sama lain.
"Hermione …" Satu kata yang akhirnya dapat keluar dari bibir tipis pucat Draco. Gadis yang disapanya dengan panggilan 'Hermione' itu untuk sejenak melayangkan sorot yang tak dapat terpetakan dengan kata-kata. Namun, tanpa disangka-sangka. Alih-alih membalas sapaan si pemuda pirang platina, gadis ikal itu justru berlari berlawanan arah dengan arah destinasinya sebelumnya. Jelas ia tak akan melanjutkan hasratnya untuk berkunjung ke perpustakaan. Well, setidaknya untuk saat ini.
"Arrrrgggghh!" Draco menarik rambut pirangnya kesal. Lagi-lagi ia kehilangan kesempatan. Oh, Merlin! Apakah sampai selamanya gadis yang begitu dicintainya itu akan membencinya? Kalau benar iya, Draco lebih memilih mati saja sebenarnya.
.
-OoOoO-
.
Draco sedang duduk diam di atas sofa hijaunya—aktivitas rutin yang dilakukannya ketika ia merasa kesepian di srama Ketua Murid. Tapi faktanya adalah, ia selalu kesepian di setiap harinya dan di setiap malamnya. Dengan kata lain, berarti duduk diam di sofa hijau sudah merupakan aktivitas sehari-harinya. Hermione benar-benar sudah tak pernah menginap di sana lagi setelah insiden itu—kau tahu apa—, terkecuali apabila Draco sedang ke asrama bawah tanahnya, Slytherin. Dan tahukah kau? Ini sungguh menyiksa batin pemuda itu. Ditambah lagi dengan kehadiran Astoria yang akhir-akhir ini selalu sok-sok ingin menemaninya. Bloody Hell! Draco tak akan pernah mau meminta gadis rumput hijau itu untuk menginap di Asrama Ketua Murid. Tidak akan! Camkan itu. Jika disuruh memilih, ia bahkan lebih rela jika harus menginap bersama segerombolan makhluk berdarah Troll-campuran babon. Well done, Draco. Makhluk apa lagi itu?
Pemuda itu menghela napas berat, kembali menyeruput wiski api di tangannya langsung dari botolnya. Di bawahnya pun sudah tergeletak sekitar tiga sampai lima botol wiski api yang isinya sudah tak ada, kering kerontang. Oh, jangan heran. Ini sudah menjadi kebiasaan tersendiri bagi seorang Draco Malfoy. Lagi pula sudah tak ada lagi gadis cerewet yang selalu mengkhawatirkannya, 'kan? Jadi untuk apa? Toh, dengan wiski api, setidaknya ia merasa beban konvolusinya sedikit-banyak berkurang—meskipun hanya mampu memberi efek dalam jangka waktu tertentu. Dan itu juga cukup untuk membuat ia tak begitu ingat bahwa malam ini adalah jadwal patrolinya bersama Hermione. Yang mana seharusnya ia mengambil kesempatan itu dengan baik, tapi apa? Ia malah bermabuk-mabukan seperti ini. Tak lagi ingat. Mungkin kepala pirangnya itu sudah cukup frustrasi dengan rentetan kronika yang terjadi padanya akhir-akhir ini.
Ia sudah akan meneguk wiski api dari botol ketujuh, sebelum ia mendengar sebuah ketukan cukup keras menggedor jendela besar di sudut ruangan. Well, meskipun ia sudah cukup—ralat—sangat mabuk, akan tetapi entah mengapa indra dengarnya masih cukup menyongsong fungsinya dengan baik. Ia pun berjalan sempoyongan menuju sumber suara, membuka jendelanya perlahan dengan wajah konyol yang terpampang jelas. Atensi keperakannya menemukan seekor burung hantu berwarna abu-abu yang dengan segera menyerobot masuk ke dalam ruangan setelah kaca jendela terbuka.
Draco berjalan linglung mendekati sosok hewan abu-abu yang tampak membawa sebuah surat di tungkai kakinya itu. Matanya memicing sesaat, meskipun saraf-saraf otaknya tak terasa seirama dengan apa yang ingin dilakukannya kini. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras, meletakkan botol wiski apinya di atas meja. Dengan segenap titik-titik kesadaran yang dimilikinya, ia pun segera beranjak ke kamar mandi untuk sekadar membasuh mukanya dengan banyak-banyak air sebelum ia benar-benar tenggelam total dalam ketidaksadaran a.k.a mabuk tak berujung! Burung hantu keluarga Malfoy yang kalau Draco tak salah ingat bernama Greys (well, dia mabuk) itu pun segera melesat keluar jendela setelah Draco membuka pengait surat di kakinya.
Kini pemuda itu—dengan segenap rasa sadar yang telah menguasai jiwanya—mengambil posisi duduk nyaman di atas sofa hijau favoritnya, lagi. Alisnya mengernyit tatkala ia benar-benar sudah sadar bahwa surat itu datangnya dari orangtuanya dan ditujukan padanya. Ada apa sebenarnya?
Dengan perlahan, jemari pucat itu segera membuka amplop surat. Segera saja netranya disambut dengan tulisan sambung berkait yang sudah teramat sangat dikenalnya dengan baik. Tulisan ibunya, Narcissa Malfoy. Oh, pasti ini adalah sesuatu yang cukup penting, mengingat ibunya sampai mengiriminya di tengah malam begini.
Dear,
Draco Malfoy
Nak, ada hal penting yang ingin Mum dan Dad bicarakan padamu. Dan sebenarnya, ini cukup menyentak kami pada awalnya. Baru-baru saja kami dikejutkan oleh sebuah surat dari Astoria, kau tahu? Anak gadis termuda keluarga Greengrass. Dan … dan … kami sempat tak percaya dengan apa yang dikatakannya dalam surat itu sebelum kami melihat langsung sendiri sebuah pensieve yang dikirim bersamaan dengan suratnya itu. Apa benar kau telah meniduri Astoria, Son? Oh, kami tak tahu harus berkata apa. Kami terkejut dan kecewa dalam waktu yang bersamaan.
Keluarganya juga telah banyak berjasa membantu keluarga kita yang nyaris bangkrut. Tak ada cara lain, sepertinya kau harus memutuskan hubunganmu dengan Nona Granger (yang sebenarnya adalah gadis yang menurut kami cocok untukmu) segera dan lalu kemudian menyiapkan pernikahanmu dengan Astoria selepas lulus dari Hogwarts. Dua minggu lagi kau akan N.E.W.T., 'kan? Oh, maafkan kami, Son. Tak ada lagi cara lain yang bisa kami lakukan selain ini. Kuharap kau bisa mengerti dan menerima keputusan ini. Kami meminta maaf kepadamu dan juga Nona Granger. Sama sekali kami tak berniat memisahkan kalian, tapi kenyataannya … Ah, maafkan kami, Son. Tentunya kau tak ingin membiarkan kami kehilangan muka di depan seluruh rakyat sihir, 'kan?
With loves,
Mum and Dad
P.S : Besok kami akan datang ke sana. Ini masalah serius, kalian akan segera menikah setelah hari kelulusan.
Draco terhenyak dari titik fokusnya, netranya membeliak tak percaya dengan surat yang dipegangnya itu. Ia mengerjap-ngerjapkan mata kelabunya beberapa kali, berharap bahwa semua ini hanya delusi. Berharap—meskipun kemungkinannya sangat minim—bahwa tulisan di perkamen itu dapat berubah dengan segera. Namun sampai berapa kali pun ia membaca dan menelisik isi suratnya, tetap saja tulisan tangan indah berkait itu tak akan berubah. Tetap seperti itu, membawa tamparan kenyataan pahit yang sesegera mungkin mengikat oksigen di sekitarnya, membuatnya sulit bernapas normal. Sesak, itu pasti.
Seakan dihantam godam dengan berton-ton beratnya, sejumput sorot kesadaran mulai menggerayangi kepala pirangnya. What the fucking hell?! Ini malam patrolinya bersama Hermione Granger! Oh, wiski sialan itu sudah memboikot serebrasinya rupanya. Maka dengan gerakan sigap, ia lantas menyambar jubahnya asal dan segera pergi meninggalkan asrama Ketua Murid.
Ia harus mencari Hermione. Pokoknya ia harus bertemu dengan gadis itu sekarang juga. Harus! Draco cukup yakin bahwa gadis itu adalah gadis yang konsisten, sekalipun harus berpatroli sendirian.
.
-OoOoO-
.
Sesosok pemuda dengan postur tubuh tinggi tegap, wajah pucat, dagu runcing, serta mata kelabu yang tajam terlihat sedang menyeret kakinya dalam langkah-langkah panjang, hanya ditemani siluet pekatnya sendiri tatkala ia melewati lorong-lorong gelap mencekam dengan pencahayaan minim. Setelah bermenit-menit lamanya ia berkeliling ke sana-ke mari, akhirnya sorot kelabunya berhasil menangkap sosok yang sejak tadi dicari-carinya. Sosok gadis mungil cantik dengan rambut ikal menjuntai hingga ke punggungnya. Oh, rupanya Hermione hanya menggerai rambutnya begitu saja.
"Hermione!" Draco berteriak nyaring, memecah kesunyian kastil yang memang terlampau sunyi itu untuk ukuran sekarang. Bahkan pemuda itu tak lagi peduli kalau-kalau suara baritonnya dapat membangunkan seluruh penghuni di seantero kastil Hogwarts. Ia berlari secepat yang ia bisa, mempersempit jarak di antara mereka.
Hermione berbalik, kontan saja binar cahaya bola mata karamelnya yang begitu kontras dengan aura kelam mencekam di sekitar lorong kastil itu, tepat menghujam ke titik atensi argent sang Pangeran Slytherin yang kini hanya diam menatapnya dengan pandangan kosong. Secara faktual, Heremione terkejut—tercengang, tentu saja. Gadis itu kontan menyipitkan matanya hingga setipis garis-garis benang.
"Aku perlu bicara denganmu!" ujar Draco to the point, sebelum kesempatannya benar-benar hilang ditelan asa. Napasnya tersengal-sengal, jelas bahwa ekshalasinya tak teratur—mengalami fluktuasi yang tak tentu.
"Aku belum siap berbicara denganmu, Malf—"
"Tolong panggil aku, Draco, 'Mione …. Bahkan mungkin untuk yang terakhir kalinya dalam hidupmu." Draco menunduk, sepintas lalu, Hermione dapat menangkap sorot kegetiran yang terpancar jelas dari bola mata abu-abu itu. Semacam torehan sedih? Dismal? Perasaan disilusi? Desolasi? Ah, entahlah. Terlalu banyak spekulasi yang mengali deras bak kanal heptagonal dalam serebelumnya. Yah, saluran bersegi tujuh. Saking banyaknya kemungkinan hal yang dipikirkannya kini.
Sedetik ia merasa luluh dan seakan benar-benar harus mendengarkan penjelasan pemuda di hadapannya ini, yang kalau boleh jujur masih sangat dicintainya. Tapi bagaimanapun, Draco telah menyakitinya. Melanggar janji sakralnya. Dan sebentar lagi, malapetaka akan datang—entah akan menimpa siapa terlebih dahulu di antara mereka. Dan kini Hermione sadar bahwa tak seharusnya dengan bodohnya ia mengucap janji sakral mantra terkutuk bersama seorang Draco Malfoy. Lihat, 'kan, sekarang? Pemuda itu melanggarnya. Pemuda itu mengundang malaptaka datang dalam hidup mereka berdua, cepat atau lambat. Dan seiring dengan pemikiran itulah akhirnya Hermione segera berbalik kembali dan memacu kaki reniknya cepat-cepat—nyaris berlari. Namun, sebuah tangan kekar berhasil menahan pergerakannya.
"Hermione … Tolong, untuk malam ini saja. Dengarkan aku, tolong." Draco menatapnya penuh rasa harap sekaligus putus asa jadi satu. Mata gadis di hadapannya itu kini berkaca-kaca, siap memproduksi cairan bening dari balik kelopaknya.
"Tak ada yang perlu dijelas—"
"AKU AKAN SEGERA MENIKAH, HERMIONE!" Draco memotong kalimat Hermione dengan satu tarikan suara serak yang kedengaran begitu frustrasi. Ia sudah tak tahan lagi, ia sudah tak mampu menahan gejolak perasaan ini seorang diri.
Hermione tercengang, menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Netra hazelnya membeliak sempurna, memperjelas dorongan-dorongan kristal bening yang sebentar lagi akan siap menerobos keluar.
"A—ap-apa?" Bukannya tak mendengar, hanya saja Hermione ingin memperjelas pendengarannya. Barangkali saja Wracksprut sedang mengelilingi otak cerdasnya hingga menghambat seluruh estimasi cemerlangnya. Oke, Hermione memang tak ingin berbicara dengan Draco untuk saat ini, tapi bukan berarti ia tengah merasakan gratifikasi merayapi setiap inci sudut-sudut hatinya tatkala mendengar berita yang paling tak bisa didengarnya dari seseorang yang hingga saat ini masih setia terpatri alot dalam relung hati terdalamnya, menancap hingga jauh ke dasar hatinya. Dia, pemuda itu, Draco Malfoy. Pemuda yang dalam sedetik mampu membuat seluruh sudut perasaan gadis itu porak-poranda, hancur tak berujung. Bagaimana tidak? Draco Lucius Malfoy akan segera menikah? Dan tentu saja tidak bersama dirinya, 'kan? 'Merlin! Kuatkan aku!' batin gadis itu.
"Aku akan menikah dengan Astoria setelah kelulusan kita dari Hogwarts," Draco berkata lamat-lamat, seolah-olah konkatenasi kata-kata yang diucapkannya itu begitu berat untuk diembannya. "Kumohon, maafkan aku, Hermione. Aku sungguh kehilangan arah sekarang. Setidaknya tolonglah untuk kembali ke Hermione-ku yang dulu, untuk malam ini. Setelahnya kau bebas melakukan apa pun. Aku tak akan mengganggumu, mungkin ini juga adalah permintaanku yang terakhir kalinya sebelum …" jeda, manik kelabu itu tampak mulai berair, "…sebelum aku menjadi milik wanita lain," lirihnya.
Tangis itu sudah benar-benar pecah sekarang, menghujam bumi dengan eskalasi emosi yang sepertinya sudah mencapai titik kulminasi seorang Hermione Granger. Kini egonya terkalahkan oleh nuraninya, perasaannya. Dengan segera ia menghamburkan tubuh mungilnya ke dalam pelukan pemuda pirang yang entah besok masih menjadi miliknya atau tidak lagi.
Saat terakhirnya untuk mengklaim Draco Malfoy mutlak miliknya, hanya malam ini, dan semuanya akan berubah setelah ini. Draco bukan lagi miliknya, pemuda itu tak lagi untuknya.
Ah, betapa ironinya takdir kehidupan. Kupikir, penyatuan Darah Murni dan Darah Lumpur bisa lebih baik lagi setelah penyatuan kedua asrama yang sebelumnya begitu tak pernah akur, sebuah keajaiban. Namun sayang, tak selamanya keajaiban akan berlangsung. Ada saatnya di mana kau harus menelan pil pahit bahwa kegetiran bisa saja menantimu di pengujung persimpangan.
Dan rupanya itulah jawaban dari akhir kisah mereka. Merlin rupa-rupanya tak mempertemukan keduanya dalam garis hidup yang sama, tak jodoh.
.
.
.
To Be Continued
.
.
|Pojok Author|
Terima kasih sudah membaca! :) Saya rasa, update-nya gak begitu lama, 'kan, ya? Hehe … Lagi ada waktu senggang, nih, buat nulis, meskipun tetep aja The Ending belum sempet … Tapi tenang aja, bakal terus diusahain, kok, secepatnya ;) Btw, maaf, ya, kalau chap ini jelek. Ngetik buru2 juga soalnya hehe.
Well, kasihan, ya … Ternyata DraMione kita gak jodoh? :( Bagaimana menurut kalian? Masih setia dengan chapter selanjutnya kah? Loony harap, sih, iya .. meski cukup sangsi ._.
Oh, ya, thanks buat semua yang udah review chap kemarin … Maaf, gak sempet bales satu-satu, tapi percaya, deh … Review2 kalian itulah, yang senantiasa menjadi penyemangat Loony sampai akhirnya update-nya gak selama yang lalu, hehe …. Jadi? Review lagi, ya! :)
P.S : Err, sering ada yang nanyain dan juga PM ke Loony, minta alamat akun jejaring sosial … Dan kebetulan, tiga twitter Loony juga udah di-non-aktifkan semuanya. Mmh, jadi gini aja, deh, ya … Yang beneran mau berkomunikasi sama Loony tanpa lewat akun FFn, mau tahu kelanjutan fict2 Loony atau hal lainnya, mungkin bisa searching di facebook sebuah fp yang namanya sama persis dgn pen name Loony di FFn ini (Ms. Loony Lovegood). Dan sebenarnya page itu udah Loony buat sekitar 20 Oktober lalu, tapi sama sekali belum Loony kasihtahu ke siapa2 sampai hari ini (bahkan Loony sendiri pun belum like fp itu, kok. Masih sepi kayak kuburan, karena Loony juga sangsi banget bakal ada yg nyariin Loony di dunia maya lainnya, hehe) … Jadi, terserah kalian. Mau like fp-nya apa nggak, no problem :) itu juga baru Loony umumin di sini, kok. Belum ada yg tahu juga selain kalian yang mungkin baca chap ini ;) page itu bisa dihapus juga, kok ^^
P.S.S : Yuk, Read and Review fict baru Loony (fict selingan buat MBiF dan TE) yang genrenya Romance-Humor. Hanya sebuah fict ringan, kok, biar Loony gak jenuh, hehe. So, mind to RnR? :)
.
.
Salam cinta,
MissLoony.
