"Jawab aku, Sakura!"

Sakura hanya diam tak tahu mau mengatakan apa. Suara dari monitor kesehatan pasien terus berbunyi semakin cepat dan itu menambah pusing kepala Sakura, membuatnya sulit berpikir jernih apalagi saat ini sebuah pistol tengah mengarah ke kepalanya. Pistol yang kapan saja bisa memuntahkan sebuah peluru yang dapat melubangi kepalanya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam. "Aku bisa mengoperasikannya!"

Naruto mengangguk kemudian memutuskan kontak komunikasinya pada markas pusat dan melepaskan headsetnya. Pria Namikaze itu diam sejenak menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya, sekedar memantapkan apa yang akan dilakukannya sekarang. Setelah itu Naruto langsung mengeluarkan pistolnya dan menodongkan pada pengawal VIP. "Kalau begitu selamatkan dia!"

Melihat yang dilakukan pemimpinnya. Kiba, Sai, Neji, dan Shikamaru langsung menodongkan senjata mereka pada keseluruhan pengawal VIP itu. Hal yang sama juga dilakukan oleh para pengawal itu. Terjadilah mereka saling menodongkan senjata. Membuat Sakura dan timnya terdiam terkejut.

Sakura meneguhkan ludahnya sebelum menoleh ke arah timnya. "Kita pindahkan ranjang pasien ke ruang operasi!"

"Stop it!" Teriak pengawal Uzushio. "I'll tell you for the last time!"

Naruto masih menodongkan pistol-nya, dia menatap tajam mata pengawal itu. "Black Fox! Ini bukan misi resmi, ini adalah misi dari ku sebagai pemimpin tim... Saat ini keselamatan tim medis dan pasien akan menjadi prioritas kita. Jika kalian ingin mundur... silahkan! Aku bisa mengerti... Tapi jika kalian masih mau mendengarkan perintahku... berbaris dan halangi mereka, jangan biarkan mereka menghentikan Tim medis!" Anggota Naruto terdiam sebentar saling memandang, sebelum akhirnya mantap berbaris dan membuat barikade didepan tim medis. Naruto tersenyum tipis melihat kepercayaan dan kesetiaan timnya pada dirinya. "Mulai saat ini... Kalian diizinkan untuk menembak siapapun yang mengancam keselamatan mereka!"

"Listen, Captain. You really know what you're doing right now?!"

"Just do your job! Doctor will still save the patient. And I will protect her and her team... what I must protect." Balas Naruto. Naruto melirik Sakura.

Sakura menganggukan kepalanya sebelum menoleh ke timnya. "Baiklah... Kita pindahkan pasien sekarang!"

Sakura dan tim medisnya pun bergerak mendorong ranjang VIP dan membawanya ke ruang operasi. Sedangkan berjalan Tim Naruto mendekati para pengawal itu. Mereka saling menodongkan pistol ke kepala mereka masing-masing Dengan tatapan sangat dingin. Naruto dan timnya pun memaksa mundur para pengawal itu agar tim medis bisa melewati mereka.

Saat mendorong ranjang itu, Sakura menyempatkan diri untuk melihat Naruto. Dan inilah ekspresi Naruto yang pertama kali dilihatnya. Pria rubah yang selalu memberinya cengiran, senyuman hangat, pemilik candaan yang super lucu saat ini menunjukan ekspresi yang benar-benar membuat Sakura ketakutan dan cemas. Sebuah eskpresi dingin yang sangat menusuk.


"Aku adalah seorang prajurit. Prajurit harus mengikuti perintah..."

-NAMIKAZE NARUTO-

.

"Aku adalah seorang dokter. Aku percaya kehidupan itu suci, dan tak ada nilai atau ideologi yang dapat menggoyahkannya."

-HARUNO SAKURA-

.

.

.

.

DISCLAIMER: I DO NOT OWN NARUTO. All publicly recognizable Naruto characters, settings, etc. are the property of SJ and the mangaka. No money is being made from this work. No copyright infringement is intended. Big influence from DRAKOR/Korean Drama (2015-16): Descendant of The Sun. Starred By Song Joong-ki and Song Hye-kyo Almost total same-plot! I write this only for fun! FOR FUN!

.

.

.

.

Warning (s): AU SETTING CANON, ACTION-ROMANCE, Drama, OOC LUAR BIASA, TYPO & ALUR DENGAN KECEPATAN MOTO GP.

.

.

.

.

Naruto as Yoo Shin-jin

Sakura as Kang Mo-yeon

Shikamaru as Seo Dae-young

Ino as Yoon Myung-ju

.

.

.

.

BLACK FOX

Naruto (Alpha Fox) [Kapten]

Shikamaru (Buckman) [Sersan Mayor]

Neji (Shinigami) [Sersan Kepala]

Sai (Mr. innocent) [Sersan Kepala]

Kiba (Inu) [Sersan dua]

.

.

.

.


SOLDIER X DOCTOR

VVVVVVVVVV

VVVVVVVVV

VVVVVVVV

VVVVVVV

VVVVVV

VVVVV

VVVV

VVV

VV

V


[四]


"VIP dibawa masuk ke dalam ruang operasi dengan aman. Tim yang ada disana bersitegang dengan pasukan pengawal keamanan Kaisar Haizaki. Mereka bahkan saling menodongkan pistol mereka."

Seorang wanita berambut pirang melirik sebentar pria itu. "Secara medis, apa yang dilakukan para dokter adalah keputusan yang tepat!"

Orang-orang di konoha seperti Inoichi, Menteri pertahanan, Danzou, Mentri luar negeri, Homura, Menteri kesehatan, Tsunade dan pihak dari rumah sakit yang bertanggung jawab atas relawan, Kabuto. Mereka semua saling berdebat dalam ruangan itu.

"Ini bukan soal penilaian medis! Kalau sampai kenapa-kenapa, hubungan antara negara kita dan sekutu kita, Uzushio untuk pertama Kalinya dalam sejarah akan memburuk!" Tegas Homura.

"Bukan hanya itu saja, itu juga akan membuat hubungan kita dengan negara-negara poros tengah menjadi semakin memburuk." Tambah Danzou.

Tsunade tersenyum sebentar. "Danzou-san, Homura-san, Kalian tak perlu khawatir, dia berada di tangan yang tepat! Aku bahkan berani bertaruh nyawa untuk dokter itu!"

.

.

Di ruang operasi, Sakura dan timnya sudah siap untuk memulai operasi.

"Baiklah, kita akan memulai operasinya." untuk kesekian kalinya Sakura menarik nafasnya. "Pisau bedah!"

Shizune langsung memberikan sebuah pisau bedah pada Sakura.

Sementara diluar para pasukan militer Konoha dan Pengawal pribadi Haizaki masih saling menodongkan pistol.

"HEI KAU GILA YA? HENTIKAN SEKARANG JUGA!"

Tak ada satupun dari tim Naruto yang mau membalas kontak dari markas pusat itu.

"NAMIKAZE NARUTO! NARA SHIKAMARU! KENAPA KALIAN TIDAK MENJAWAB PERTANYAAN KU, HAH?! BAJINGAN KALIAN!"


Yamato membanting radionya keras ke atas meja ketika mendengar sebuah alarm dilantunkan di seluruh pangkalan. Dia berjalan mundar-mundir dengan marah.

Seorang perajut berpangkat kapten pun memasuki tendanya. "Sonkei! Pasukan Polisi Militer sudah siap. Level situasi bertambah menjadi level sat—"

"Kau pikir aku tidak dengar alarmnya, HAH BANGSAT?!" teriak Yamato kesal. "Siapkan saja MOBIL!"

"H-hai! Sonkei!"

Yamato kembali berjalan menuju radio. Dia menarik napasnya menahan segala rasa emosi. "Hei, pasukan bodoh. PM akan menuju tempat kalian, FPCON level 1 telah diluncurkan karena sikap bebal kalian. Perang akan pecah jika terjadi hal yang buruk terhadap VIP. Jika ada yang mendengarku sekarang, kalian harus memberitahu Namikaze Naruto sialan itu untuk segera menghentikan operasi dan menyerahkan VIP ke dokternya. Jika tidak, aku akan menembak kepala kalian semua karena telah membangkang, BANGSAT!"


Kakashi melirik Sakura khawatir. "Sakura... sekali kau goreskan pisau itu, tak ada jalan kembali untuk kita semua. Kalau kau berubah pikiran, nasib kita semua akan selama—"

"Lihatlah! Ini sayatan sukostal besar, kan?" tunjuk Sakura pada sebuah bekas goresan di kulit VIP mengabaikan peringatan Kakashi.

"Tapi... tak ada catatan operasi di chart-nya... kenapa bisa ada bekas operasi?" tanya Kakashi.

"Haah... Makanya, mulai sekarang buang chart itu. Kau tak bisa percaya apapun dari benda itu, kau harus mengecek langsung dengan mata kepalamu sendiri untuk mengetahuinya." Jelas Sakura.

Kakashi mengusap dahinya yang dipenuhi keringat. "Aku tahu. Makanya operasi ini sangatlah berbahaya. Sakura, Ini berbahaya untuk karir kita, juga untuk pasien sendiri."

"Justu akan lebih berbahaya bila pasien tak dilakukan operasi secepatnya. Pasien ini akan mati bila aku lepas tangan hanya karena takut aku kehilangan karir ku. Sebagai dokter kita tak memiliki pilihan." Sakura mulai menempelkan pisau itu ke kulit VIP. "Aku buka abdomennya."

JLEB!

Darah mulai mengalir keluar dari luka yang digoreskan oleh Sakura dengan pisau bedahnya. Mereka semua tahu, detik itu juga mereka tak bisa mundur lagi.

Sedangkan tim Naruto dan tim keamanan Haizaki masih menodongkan senjata mereka.

Pemimpin pasukan pengawal melirik satu persatu pasukan Naruto. "Do you know? 2.5 billion people from a balkan country... you just endangered the heart of peace."

"Don't pretend to be stupid! The doctor just operated on the patient ... who needed an operation to save his life." Balas Naruto.

Kembali ke ruangan operasi.

"Sesuai dugaan. Dia memang ada riwayat operasi." Ucap Kakashi sambil berkerja.

"Ada adhesi diantara organ. Kita angkat itu dulu... Langkah yang kita ambil harus benar-benar tepat! Berikan aku Bovie!" Ucap Sakura.

TIT! TIT! TIT!

Saat Sakura dan tim medisnya mengoperasi Kaisar Haizaki itu, tiba-tiba tekanan darah pasien menurun dan terjadi pendarahan yang parah.

"Tekanan darahnya menurun, terlalu banyak pendarahan." Ucap Shizune.

"Remas kantong darahnya!" perintah Sakura. Perawatnya pun langsung menekan kantong darah seperti yang diperintahkan.

"Tekanan darahnya masih menurun."

"Aduh bagaimana ini? Kita semua akan mati bila pasien ini mati." Ungkap Lee tak seperti biasanya yang akan penuh dengan semangat. "Sial, padahal sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah."

Kembali pada ketegangan dua pasukan yang berada diluar ruangan operasi.

"If something dangerous happens to him, you will bear all the consequences!" peringatan dari pemimpin pasukan pengawal itu.

"That won't happen. We leave it to God. Do you believe in God?" Ucap Naruto, pria itu kemudian melirik jendela ruang operasi, dimana dia bisa melihat Sakura Kakashi, dan anggota tim lainnya sedang sibuk menjalankan operasi.

Kembali ke operasi, Kakashi dan Sakura masih terus berusaha untuk menghilangkan adhesi pasien.

"Tidak bisa. Kita tak akan menghabiskan pasokan darah lagi untuk ini. Kita urus saja adhesinya nanti, dan hentikan pendarahan—" ujar Kakashi sambil berkerja sesekali dia melirik Sakura.

"Tetap remas kantong darahnya!" perintah Sakura lagi mengabaikan Kakashi. "Kita punya cukup darah untuknya disini. Kita urus adhesinya pertama lalu hentikan pendarahannya. Kita lakukan sesuai rencana awal."

"Tapi Sakura—"

"Berhenti merengek Sensei! Bawakan aku RBC 10 bungkus." Potong Sakura. Lee dengan cepat pergi untuk mencari apa yang diperintahkan Sakura. "Kita lakukan lagi."

Semua yang ada didalam ruangan itu pun melirik Sakura dengan khawatir.

"Kita akan hilangkan adhesinya."

Lee keluar dari ruangan operasi untuk mengerjakan perintah Sakura. Kedua pasukan itu serentak melirik Lee. Membuat Lee meneguk ludahnya sendiri merasakan aura dingin dari kedua belah pihak, ia berlari kembali untuk mengambil RBC.

ZST!

Tim Naruto kembali menerima kontak dari pusat. "Bagaimana situasinya?"

"Dia masih dalam operasi." Shikamaru kemudian akhirnya menjawab pertanyaan itu.

Tepat saat itu pemimpin tim pengawal itu dan tim Naruto bisa mendengar suara helikopter mendekati mereka.

"Sepertinya dokter Uzushio telah tiba." Ujar Shikamaru. Mereka semua melihat keluar jendela.

Diluar terlihat sebuah helikopter mendarat didekat medicube. Tampak didalam ad dua orang yang tengah duduk dengan raut cemas.

Sementara di ruang operasi. Tim Sakura berhasil, Aneurisma pasien sudah diangkat dan tekanan darahnya juga mulai kembali stabil.

"Selesai! Kita mengatasi aneurisma-nya." Ucap Kakashi bersyukur.

"Tekanan darahnya juga sudah stabil." Tambah Shizune sambil melirik monitor.

Sakura melihat ke arah Naruto yang masih saling menodongkan pistol dengan pasukan Uzushio yang berada diluar ruang operasi, dan secara kebetulan Naruto juga menoleh melihatnya. Sejenak, mereka berdua saling mengadu iris mata mereka.

Sakura kemudian memilih melirik timnya lagi. "Bagus. mari kita jahit pembuluh darahnya. Setelah itu kita akan menunggu hasil operasi-nya." Ucap Sakura. Kakashi mengangguk lega tak ada bedanya dengan Lee.


SOLDIER X DOCTOR


Sejam kemudian..

Setelah prosesi operasi, Kaisar Haizaki masih belum sadar, dan masih diperiksa oleh dokter Uzushio, sekedar mengecek. Setelah selesai memeriksanya, dokter itu membenarkan selimut pasien penting-nya itu.

"It looks like the operation is running smoothly." Kata dokter itu pada Sakura.

"Yeah, he will have a surgery. But, the result will be much better if I see the original medical record."

"But... the patient must be aware first, then this operation can be called a successful operation... Y'know? If I were you, i would be very worried." Ucap dokter Uzushio itu geram.

"And If I shut up and just keep worrying and don't do anything, you will only see... Just his body now." Balas Sakura.

"But, chances are small, he can still die!" Dokter Uzushio itu kemudian pergi meninggalkan Sakura, Lee, dan Kakashi.

"Aku juga tahu itu, bodoh!" pekik Sakura kesal, tentunya setelah memastikan dokter Uzushio itu benar-benar pergi. Ia mendudukan dirinya, bersila di atas lantai. "Aaa lelah sekali..."

Kakashi melirik Sakura. "Kau tak apa?" Pria bermasker itu juga ikut duduk bersila disampingnya wanita bubble gum itu, diikuti oleh Lee yang hanya berjongkok. "Ckckck... Kasihan sekali, aku siap berjaga disini. Kau pergi istirahatlah."

"Aku tak apa-apa." Wanita itu mengangkat kepalanya. "Aku hanya lapar... Lee, makan saja terlebih dahulu sana, kita akan bertukar shift nanti."

"Yakin?" Tanya Lee. Sakura hanya mengangguk. "Baiklah. Tapi... bagaimana kalau dia meninggal ya?"

Mereka terdiam sejenak membayangkan kemungkinan yang terjadi bila pasien meninggal. Dan mereka berharap itu tak akan pernah terjadi.

"Akan ada laporan keteledoran dari tim medis yang bertanggung jawab... haaah... Dan karir kedokteran kita akan dicabut lalu kita mungkin dipenjara." Ucap Kakashi yang sebenarnya malas membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk.


"Nyonya Tsunade, Apakah bisa ada masalah dalam tahap pemulihan?" tanya Inoichi pada Tsunade.

"Ya, meski operasinya berjalan lancar, pada pasca operasi kita harus—"

Ucapan Tsunade pun dipotong oleh Danzou. "Nyonya Tsunade! Anda tak perlu menjelaskannya lagi. Kita hanya perlu menunggu hasilnya." Danzou melirik Inoichi. "Kita menghindari hal terburuk seperti konflik bersenjata, tapi kita masih perlu alasan untuk tanggapan diplomatik... Kita harus ambil langkah disipliner pada orang yang bertanggung jawab!"

Homura menganggukan-anggukan kepala. "Aku setuju!"

Inoichi hanya mendesah pelan mendengarnya. Habislah nasib prajurit kebanggaannya itu. Dia mengambil telepon yang ada di meja.

"Ini aku! Hubungkan aku langsung pada Black Fox!"


Kedua pasukan, Tim Naruto dan Pengawal Kaisar Uzushio masih berdiri berhadapan bedanya mereka semua sudah tak lagi menodongkan senjata mereka.

ZST!

"Sersan Mayor Nara Shikamaru bisa dengar aku? Aku komandan Pasukan Khusus!" ucap seseorang yang langsung mereka kenali sebagai pemimpin mereka. Ini artinya mereka tak lagi melakukan kontak dengan komandan satuan perdamaian di Ame, melainkan langsung ke markas pusat yang berada di Konoha.

"Sonkei! Sersan Mayor Nara Shikamaru!" Shikamaru melirik Naruto sebentar.

"Kapten Namikaze Naruto... akan dicopot dari jabatannya karena tidak mematuhi perintah, dan dimasukan dalam tahanan."

Semua prajurit Konoha mendengarnya kecuali Naruto tentunya, yang sebelumnya sudah memutuskan alat komunikasi-nya. Tapi, Naruto sendiri langsung tahu hanya dengan melihat ekspresi para pasukannya.

"Aku tahu, sebagai atasan, Aku bangga atas tindakan kalian. Kalian sudah bekerja keras tapi perintah tetap tidak berubah! Urus dengan baik!"

Semuanya memandang Naruto dengan tatap sedih. Naruto sendiri hanya menghela nafasnya memandang ekspresi anggotanya kemudian tersenyum paksa. Naruto mengambil pistol-nya, melepaskan selongsong pistol dan menyerahkan pada Shikamaru. Dia juga melepas rompi anti pelurunya dan memberikannya pada Kiba yang langsung mengambilnya dengan sedih.

"Kapten Namikaze Naruto, anda dibebas tugaskan dari jabatan anda, karena pembangkangan dan akan ditahan untuk waktu yang tak ditentukan." Ucap Shikamaru. Naruto menunduk sebentar, kemudian kembali tersenyum. Inilah resiko dari tindakannya, dia harus menerimanya. Pria blonde itu menoleh ke arah pemimpin pasukan Uzushio.

"I'm not running away, I've ... received my punishment." Ucap Naruto pada pemimpin pasukan pengawal pribadi kaisar Uzushio. Pemimpin pasukan pengawal pribadi kaisar Uzushio itu hanya mengangguk. Naruto melirik Shikamaru. "Selanjutnya, tolong urus semuanya."

Shikamaru hanya memandang sedih Naruto.


Shizune, Moegi, Matsuri dan Lee sedang menyiapkan makan malam berupa ramen, tapi mereka merasa terganggu karena sejak tadi diawasi oleh seorang pria besar, orang dari pasukan Uzushio.

"Apa paman itu akan terus mengawasi kita?" bisik Lee pada Shizune, Matsuri dan Moegi.

"Kurasa dia melihat kita bukan bukan gara-gara ramen." Jawab Shizune yang tengah menyeduh ramen instan miliknya, sambil sesekali melirik pengawal itu.

Lee terdiam memperhatikan Moegi yang sedang menghitung sesuatu dengan jarinya. "Hei kau semangat sekali sampai menghitung begitu. Apa kau sebegitu laparnya, sampai tak sabar menunggu ramen mu matang?"

"Bukan begitu. Aku hanya menghitung jumlah kasa-nya. Jangan-jangan ada kasa yang tertinggal di dalam tubuhnya, kan?" ucap Moegi langsung membuat Shizune melotot.

"Aduh, kenapa bilang begitu? Kau membuat semangat masa muda ku jadi tak membara lagi." pekij Lee terkejut. "Kurasa Sakura-senpai dan Kakashi-sensei tak akan membuat kesalahan seperti itu."

Shizune merinding mendengarnya. "Apa kita harus menghitung ulang lagi ya? tadinya ada berapa?"

Shizune dan Moegi sama-sama menghitung kembali kain kasa yang mereka pakai untuk operasi, Mougi takut masih berada di dalam tubuh pasien. Lee pun mulai mengkhawatirkan itu.

"Apa maksudmu, Neechan?! Jangan membuatku takut."


Gudang persediaan dijaga ketat oleh dua tentara perdamaian Konoha dan Polisi Militer. Shikamaru dan Naruto sudah berada di gudang itu.

"Atas perintah, kau akan ditahan diruang pasokan ini" ucap Shikamaru pada Naruto.

"Kuso! Padahal aku berharap ditahan di ruang penyimpanan makanan, dattebayo!" dia menepuk beberapa kardus di ruangan itu.

BRAKK!

Secara mengejutkan Yamato datang dan membanting pintu.

"Sonkei!" ucap Naruto dan Shikamaru cepat.

"Shikamaru, keluarlah!" perintah Yamato.

"Hai! Sonkei!" Setelah memberi hormat pria nanas itu pun pergi meninggalkan dua pria itu.

Yamato melempar helm perangnya ke atas kardus, dan secara cepat langsung menendang keras tulang kering Naruto. Naruto sendiri hanya diam berdiri tegak menahan sakit tanpa ekspresi apapun. "Hei, rubah sinting! Lihatlah sekarang, kau ditahan dan pasukanmu menjadi kacau."

"Maaf!"

"Kenapa kau meminta maaf setelah tindakan yang kau lakukan? Apa kau tahu berapa banyak orang yang hampir diberhentikan?"

"Aku tak akan melawan."

"Ya, kau memang tak harus melawan, prajurit IDIOT!" Geram Yamato. "Kau hampir saja mendapat promosi jika saja kau tidak ceroboh begini. Kau menghancurkan karir militer mu sendiri."

Naruto menatap yamato. "Aku tak menyesal. Akulah yang membuat perintah dalam tim. Aku yang akan bertanggung jawab penuh."

Yamato mendekatkan wajahnya. "Ya, kau memang harus bertanggung jawab atas kesalahanmu, sialan!"

Di luar gudang itu, sambil berlari, Sakura datang dengan wajah tak bisa diartikan. Dia langsung berlari ke tempat itu ketika mendengar beberapa prajurit berbisik tentang komandan mereka yang akan ditahan di ruang pasokan.

"Mana Kapten Naruto?" tanya Sakura pada Shikamaru yang masih berada diluar gudang itu.

"Dia ditahan... Dengan, kau tak bisa menemuinya."

Sakura menggeleng. "Tolonglah, 5 menit saja."

Yamato keluar dari gudang itu.

"Shikamaru, tunjukkan padaku dokter sinting yang namanya Haruno Sakura. Bawa dia kemari!" perintah Yamato tak menyadari kehadiran wanita pingkish dibelakang Shikamaru.

"Saat VIP sadar dia—" niat Shikamaru untuk menolong Sakura terpotong oleh orang yang ingin ditolongnya sendiri.

"Aku!" Yamato langsung melirik Sakura. "Haruno Sakura!"

Yamato menatap sebentar kemudian mengangguk. "Kau! Kau ikuti aku!"

Sakura hanya diam sambil mengikuti kemana perginya Yamato. Setelah berjalan beberapa saat rupanya pria itu mengajaknya pergi menuju medicube. Pria itu berbalik ke arah Sakura. "Apa VIP masih belum sadar?"

"Kami sedang menunggu sekarang." Jawab Sakura.

"Aku juga bisa bilang begitu. Bagaimana jika dia tak pernah sadar? Kau mau bilang apa?"

"Operasi dilakukan berdasarkan diagnosis dan juga atas dasar rasionalitas." Jawab Sakura setelah terdiam beberapa saat.

Yamato yang mendengar sontak tersenyum remeh. "Kau percaya diri sekali. Bahkan jika kau dipecat, kau masih bisa membuka klinik, 'kan? Karena kau dokter yang terkenal." Sakura menundukkan kepalanya tak senang dengan ucapan dari Yamato barusan. "Tapi, kau tahu tidak? kau telah menghancurkan karir Naruto." Sakura mengangkat kepalanya kembali mendengar Nama pria rubah itu. "Karir 10 tahun militernya hilang sia-sia, jika beruntung dia tak diberhentikan sebagai gantinya dia tak akan pernah naik jabatan lagi, dia hanya akan menjadi kapten hingga pensiun. Namun jika VIP tidak sadar, dia harus membusuk di penjara dan jelas akan dicopot dari militer. Itu semua karena keputusan medis rasionalmu yang mengabaikan kepentingan diplomatik." Yamato mendesah berat, menarik napasnya sejenak. "VIP harus sadar kembali! Bagaimana pun caranya. Setidaknya ayahnya tak akan sia-sia melatih Naruto selama ini untuk menjadikannya Jenderal suatu saat nanti. Aku mohon padamu untuk itu."

Yamato langsung pergi meninggalkan Sakura yang masih berdiri diam ditempatnya. Sakura menatap batu kerikil dikakinya dengan kosong.

TES!

Air matanya yang sejak tadi ditahannya, akhirnya terjun ke kerikil yang sejak tadi ditatapnya. Dia sukses melakukan operasi, tapi disisi lain dia telah menghancurkan seorang pria yang sangat berarti baginya. Karir militer pria itu sudah hancur sekarang. Satu tetes liqued kembali melintas mulus melalui pipinya. Dengan cepat dia mengusapnya, namun seakan tak mendengar perintahnya, air matanya terus membasahi pipinya.


Setelah mengecek kondisi VIP, Yamato memasuki mobilnya dan bersiap kembali ke pangkalan pusat. Dia diantar oleh Shikamaru dan Neji sampai mobilnya.

"Saya akan melaporkan situasi, bila VIP sudah sadarkan dir—"

"Tak perlu! Urusanku denganmu disini sudah selesai, jadi segeralah ke bandara. Pemulangan mu masih berlaku." Potong Yamato tanpa melirik.

"Benar! Tapi saat ini saya, sebagai wakil komandan—"

"Kalau kau keberatan harusnya kau hentikan dia dari tadi!" teriak Yamato geram. "Kau juga mau dihukum karena membangkang?" Yamato melirik Neji. "Sersan Kepala Hyuga Neji, kau komandan kompi ini untuk sementara! Dan kau Shikamaru, pulanglah ke Konoha, paham?!"

"Hai! Saya mengerti!"

"Kalian semua dengar ya! Kalau kalian di introgasi di Konoha. Naruto rela bertanggung jawab penuh atas semua ini! ingat itu! jalan!" Mobil mereka pergi meninggalkan kompi itu.

"Sonkei!" Shikamaru terdiam sejenak memandangi langit malam sebelum berjalan mendekati ruang pasokan kembali dan masuk ke gudang itu.

"Kau sudah mau pergi?" tanya Naruto pada Shikamaru ketika pria nanas itu masuk. Dia melihat Naruto tengah bersandar pada sebuah kardus.

"Kau bisa mendengarnya? Haah... ya, jadwal pemberangkatan ku jam 9 malam." Jawab Shikamaru.

"Apa kau tak mau tinggal di sini? Kenapa kau tak melawan?"

"Tsk Merepotkan, aku pergi bukan karena aku mau tapi ini adalah perintah. Maaf, karena aku harus meninggalkanmu begini. Aku akan melakukan laporan pada mu." Shikamaru hendak memakai baretnya namun ditahan oleh Naruto.

"Tidak usah. Aku sudah dipecat, kenapa harus melapor? aku bukan lagi atasanmu. Tak usah melapor." Kata Naruto.

Shikamaru menatapnya dalam diam. "Hari ini...semua perintah dari atasanku adalah benar. Dan hari ini, semua perintah dari atasanku... adalah perintah yang terhormat. Aku selalu bangga bisa memiliki atasan seperti mu! Sampai jumpa di Konoha, Kapten. Aku menanti mu di sana."

"Aku akan meneraktir minum sake nanti. Selama 72 jam lamanya kita habiskan untuk minum-minum." Kata Naruto dan mereka berdua tersenyum bersama. Shikamaru lantas memberi laporan dan Naruto menerimanya. Setelah usai dengan laporannya dia pamit pergi dan meninggalkan Naruto sendiri.


Shikamaru berjalan memasuki ruangan pasien VIP dimana diruang itu, ada Sakura yang tengah duduk sambil melamun. Ketika menyadari kehadiran pria nanas itu, dia langsung berdiri.

"Jam 20:50. Kau punya waktu 10 menit untuk menemuinya." Mendengarnya Sakura lantas tersenyum kecil dan berlari keluar dari medicube. Meninggalkan Shikamaru yang menatapnya dengan heran.

Sakura akhirnya sampai ditempat Naruto ditahan. Dia meminta ijin pada petugas PM, namun petugas PM itu hanya memberinya izin berbicara dari luar. Ya setidaknya, dia masih bisa bicara pada Naruto. Dia berjalan mendekati pintu gudang namun hanya berdiri diam didepan pintu itu untuk beberapa saat.

"Ano... Ini aku, Sakura."

Naruto yang sedang duduk melamun diatas kardus langsung mendekati pintu dan mendudukan diri ke lantai sambil bersender di dekat pintu. "Dokter Sakura? Senang bisa mendengar suaramu. Kau kemari untuk mengunjungi ku?"

Sakura yang di luar juga jongkok dan bersender didinding yang sama dengan Naruto tapi berbeda sisi. "Gomen..."

"Dokter Sakura, untuk apa kau minta maaf? Kau tak melakukan kesalahan apapun."

"Pasien itu... masih belum sadar. Aku takut dia tak akan sadar seterusnya." ucap Sakura menundukkan kepalanya.

Naruto mendesah pelan. "Apa kau tak sadar jika kau ini sedang khawatir pada pria lain, hah? Jangan jadi wanita yang genit... Mulai sekarang, dokter Sakura hanya boleh khawatir pada 1 pria saja, dan itu aku, dattebayo!" Dalam diamnya wajah Sakura sempat memerah mendengar ucapan Naruto. "Aku akhirnya sadar... bahwa apa yang kau katakan dulu itu adalah benar."

Mata Sakura mulai berkaca-kaca. "Yang mana?"

Naruto tersenyum. "Bahwa kau terlihat seksi saat di ruang operasi, datteb—"

"—Tapi kenapa kau melakukan ini? Harusnya tak jadi seperti ini. K-kau adalah Kapten dari tim mu, kau tak harus melanggar perintah." Potong Sakura.

"Bukannya sudah kubilang pada mu? Aku akan melindungi wanita cantik, anak-anak dan orang tua. Itu adalah prinsipku. Wanita cantik dan juga orang tua, hari ini 2 poin itu yang harus kulindungi. Aku tak mungkin diam saja." Ucap Naruto. Sakura mulai bergetar mendengarnya air matanya banhkan hendak menumpahkan diri. "Kau tahu... Kau berani sekali hari ini. Kau tahu itu, kan?"

Dan akhirnya Air mata yang sejak tadi berusaha ditahan Sakura tumpah dan membasahi pipinya sekali lag. Ia pun memeluk kedua lututnya sambil menangis. "Hiks... Hiks..."

"Apa kau lagi menangis?" tanya Naruto pada Sakura saat mendengar suara isakan.

Sakura mengangkat wajahnya, berusaha menenangkan diri, kemudian dia bertanya dengan suara bergetar. "K-kau.. baik-baik saja di dalam sana? Apa... Hiks... kau b-butuh sesuatu?"

"C4 atau RDX." Jawab Naruto.

"A-apa itu?"

"Bahan peledak! Aku memang menikmati ini tadi, tapi, entah kenapa rasanya sekarang aku sangat ingin keluar... karena seseorang, dattebayo!"

"Uuh.. hiks.. D-dan kau... Bisa-bisanya bercanda disaat begini?"

Naruto tersenyum. "Tidak boleh, ya? Aku merasa, aku selalu saja ingin membuat lelucon ketika bersama mu..."

Sakura lalu mendesah melihat jam tangannya. "Waktu ku sudah habis." Sakura meraih sesuatu di kantongnya, sebuah obat nyamuk bakar kemudian menyodorkannya melalui lubang yang ada di pintu. "Ini, Mungkin ini yang sangat kau perlukan saat ini."

Naruto mengambil obat nyamuk itu, dia memandang obat nyamuk itu.

Sakura berdiri dari tempatnya. "Aku pergi dulu."

"Arigato. Ini yang sangat ku perlukan saat ini." Ucapnya sambil memandang obat nyamuk pemberian Sakura, kemudian matanya melirik ke rak yang berada di depannya. Rak penuh tumpukan kardus obat nyamuk.

Sakura mulai berjalan meninggalkan ruang tahanan dadakan itu dengan sedih. Saat dia berjalan hampir jauh dia berhenti dan menoleh ke arah gudang itu sebentar. Setelahnya ia mendesah berat dan kembali melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti.


Sementara di medicube. Anak yang keracunan timah hitam sudah sembuh, ia sudah bisa beraktivitas seperti buasa,. Dan saat ini, ia berjalan memasuki ruang rawat kaisar yang masih belum sadarkan diri, dia melewati satu penjaga yang tertidur, di dalam juga ada Kakashi dan dokter Uzushio yang juga sama-sama tertidur sambil duduk, juga pemimpin pasukan pengawal pribadi kaisar yang masih terjaga. Ia terus mengawasi apa yang akan dilakukan anak itu.

Anak itu mendekat ke kaisar yang masih belum siuman dan bocah itu menempelkan tangannya ke kening kaisar kemudian ke keningnya sendiri. "Vin bilʹshe ne khvoryy. (Dia tidak Sakit lagi!)"

Pengawal yang tertidur diluar ternyata ketika mendengar suara setengah teriak anak itu. Pengawal itu masuk dan menarik paksa anak itu untuk keluar. "Hey! What are you doing here, kid? Get out of here!"

Sakura yang kebetulan masuk juga melihat kejadian itu. "Hey! He's just a kid! Don't be rude to a child!"

"What do I care about that? I have to protect Lord Haizaki!"

Pimpinan pengawal yang sejak tadi diam, berdiri tak jauh dari ranjang, mengamati kaisar-nya sangat fokus hingga melihat ada sedikit pergerakan di mata Haizaki. Ia berjalan mendekati Haizaki untuk melihat lebih jelas. "Lord, can you see me?"

Dokter Uzushio itu langsung memeriksanya dan menunjukan jarinya. "Lord, look at my finger." Ucapnya sambil menggerakkan jarinya ke kanan dan ke kiri. Mereka akhirnya bisa melihat Haizaki mengikuti dengan pelan. Kakashi yang melihatnya langsung tersenyum lega dibalik maskernya begitu juga dengan Sakura.


SOLDIER X DOCTOR


"Aku selamat juga, beruntung dia sudah sadar!" ucap Kakashi sambil menjatuhkan kepalanya ke atas meja. "Lega sekali, rasanya. Kukira hidupku yang menderita selama 42 tahun ini akan bertambah memburuk."

"Baru kali ini, aku melihat seorang pasien menyelamatkan seorang dokter." Ejek Shizune.

"Aku juga bersyukur sekali." Ucap Lee. "Keluarga Tenten memang keluarga yang mampu, tapi tetap saja itu tak bisa menyelamatkan ku jika beliau meninggal."

"Yaa, keluarga Tenten-nee haruslah seorang penjabat dan punya pengaruh terhadap dunia, untuk bisa menyelamatkan Lee-nii." Tambah Mougi.

"Apapun itu... Ini adalah kedua kalinya kaki ku gemetaran di ruang operasi." Ucap Kakashi sambil meneguk air mineral milik Shizune.

"Memangnya, Kapan yang pertama Sensei?" tanya Lee.

Kakashi menunjuk Shizune. "Waktu aku mengoperasi ibunya. Aku takut sekali terjadi apa-apa."

Lee dan Mougi pun mengangguk. Sementara Shizune hanya diam memandang Kakashi.

Seorang relawan lain datang ke tempat mereka. "Kita harus kumpul. Mereka akan membawa pasien!"

Mereka serentak melirik ke lapangan kompi itu dan sudah berdiri pasukan Naruto yang dipimpin Neji, beserta relawan lainya sedang melihat helikopter yang sudah lepas landas.

"Perhatian! Sonkei!" perintah Neji yang langsung dilakukan oleh prajurit lainnya.

Sakura dan Pemimpin pengawal yang berada di helikopter saling memandang, pengawal itu mengangguk berterimakasih pada Sakura. Sakura membalasnya dengan tersenyum.

"Istirahat!" setelah mengistirahatkan pasukannya, Neji langsung meraih ponselnya yang sejak tadi berdering. "Ah... moshi-moshi.. ada apa? Oh VIP baru meninggalkan kompi... Operasinya sukses dan mereka tampak sangat senang." Ucap Neji menelpon Shikamaru yang berada di markas pasukan perdamaian Konoha di Amegakure. Disebelahnya Konohamaru berusaha mendengar suara pria nanas itu. "Semuanya membaik."

"Yokatta!"

"Kau tak usah khawatir. Cukup pulanglah dengan selamat!" ucap Neji, dia melirik Konohamaru yang ikut menempelkan kupingnya ke ponsel Neji. "Ada anak kecil yang merengek disebelah ku, jadi akan ku pasang loudspeaker."

Setelah Neji menganti mode suara, Konohamaru langsung merengek. "Aku, Kopral Dua Konohamaru. Kenapa kau kejam sekali? Kau pergi tanpa memberitahuku."

"Tsk merepotkan, aku harus bagaimana lagi? Lagipula aku sudah manaruh kamus di lokermu. Kau harus belajar untuk ujian susulan. Sersan Kepala Hyuga Neji. Awasi dia terus, jangan biarkan dia tak belajar." Jawab Shikamaru.

"Baik, aku akan menaruh satu mata ku padanya."

"Sonkei! Semoga beruntung di Konoha!" teriak Konohamaru.

"Ya, belajarlah sungguh-sungguh, jika kau lulus ujian ini itu akan mempermudah mu untuk dipromosikan sebagai Sersan." Balas Shikamaru.


"... sudah ya!" Shikamaru menyimpan ponsel setelah selesai menelpon Neji. Dia berjalan melewati beberapa pesawat milik Konoha yang sedang parkir. Saat hendak melewati pesawat terakhir, akhirnya dia terdiam membeku ketika melihat seorang wanita blonde yang baru saja turun dari pesawat itu dengan senyuman lebarnya.

Dilain sisi Ino keluar dari pesawat dengan sangat senang, sejak dari Konoha dia sudah berekspektasi tinggi untuk menemui Shikamaru, namun tubuhnya terdiam ketika melihat sosok yang ingin dijumpainya muncul disana tengah berdiri diam dengan tas besar, yang dia yakini berisi pakaian pria itu. Ino berjalan mendekati Shikamaru.

"Kaulah alasanku datang kemari, seharusnya kau tidak disini. Kau mau kemana? Apa mau kabur lagi?" tanya Ino. Shikamaru masih diam tak menjawab. "Ku tanya apa kau mau kabur lagi?!"

Shikamaru meletakan tasnya. "Sersan Mayor Nara Shikamaru. Saya diperintahkan untuk kembali ke—"

PLAK!

Laporan Shikamaru tak pernah diselesaikan karena sudah terpotong oleh tamparan yang cukup keras dari Ino.

Shikamaru hanya terdiam sesaat, kemudian kembali berdiri tegak. "Saya diperintahkan untuk kembali ke Konoha! Laporan selesai!"

Ino sontak memukul-mukul dada Shikamaru sambil menangis. "Apa itu strategi mundur mu? Kau hanya pergi liburan, 'kan? M-minta aku... minta aku untuk menunggumu. Katakan, bahwa kau akan kembali lagi."

Saat Ino berhenti memukulnya, Shikamaru menundukkan wajahnya untuk melihat Ino. "Disini banyak sekali nyamuk, usahakan kau selalu memakai seragam mu meski itu panas." Setelah mengucapkan itu Shikamaru mengambil tasnya dan hendak meninggalkan Ino.

GREPH!

Saat Shikamaru hendak meninggalkan Ino untuk pergi, tangan Ino langsung meraih tangan Shikamaru. Namun setelahnya, dia hanya bisa terkejut saat Shikamaru tanpa diduga olehnya langsung menarik tubuhnya kedalam pelukan pria itu. Menerima perlakuan itu, Ino pun meneteskan air mata. Sudah lama dia tak merasakan kehangatan tubuh pria pemalas ini.

"Apa... a-apa artinya ini? Hiks... Apa mau mu?"

Shikamaru menutup matanya menikmati pelukan mereka meskipun hanya pelukan sepihak darinya. "Pokoknya jaga diri mu baik-baik." Pria nanas itu melepaskan pelukannya lalu memberi hormat pada Ino. "Sonkei!" Shikamaru langsung berbalik meninggalkan Ino yang masih menangis.

"Kenapa kau memelukku? S-shika... hiks... K-kenapa kau menyentuhku? Kau harus bertanggung jawab atas tindakanmu itu. Kau sendiri yang bilang, kau akan sedih jika melihatku menderita. Kau sangat baik pada orang lain. Tapi, kenapa tidak denganku? Shika... hiks... Shikaaa!" teriak Ino. Meskipun mendengar Shikamaru sama sekali tak menghentikan jalan. Dia terus berjalan pergi meninggalkan Ino yang masih berteriak bercampur tangis.

Ino terus menangis meneriaki nama Shikamaru. Sampai akhirnya dia diam beberapa dengan mata yang masih terlihat mengeluarkan air mata, dia kembali mengingat awal kebersamaan mereka.


FLASHBACK ON


"Hei, apa kau... Sangat mencintainya?" tanya Ino pada Shikamaru. Saat ini mereka berada di sebuah aula yang sedang menyelenggarakan pernikahan.

"Jeez, merepotkan. Kenapa pula kau penasaran begitu?"

Ino mengelus dagunya. "Ada berbagai macam tingkat balas dendam terhadap mantan. Pasti ada alasannya kenapa kau mau balas dendam."

Shikamaru melirik Ino sejenak sambil menikmati cocktail miliknya. "Aku pernah berjanji untuk membuatnya bahagia."

"Tunggu! Kau berjanji membuatnya bahagia? Tapi kenapa kau mau menghancurkan pernikahannya? Kau lucu sekali.. Hahaha... dia tak akan bahagia jika pernikahannyaa jadi kacau, 'kan? Tak ada satupun pengantin di dunia ini akan bahagia, jika pernikahannya hancur apalagi karena mantanya."

"Bodoh kau! Jadi kau benar-benar berpikir aku akan mengacaukan pernikahannya ini? Kau tak akan bahagia jika kau masih memiliki perasaan pada seseorang yang akan menikah, aku hanya ingin mengakhiri semua ini..." Shikamaru terdiam ketika melihat mantannya yang masih mengenakan gaun putih khas pernikahan, mantannya itu berdiri tak jauh dari tempat mereka dengan senyuman bahagia.

"Jadi, kau tak di sini untuk balas dendam? Apa kau ingin memberikan dia support?" tanya Ino tapi tak mendapat respon dari pria itu.

Shikamaru langsung meninggalkan Ino dan pergi mendekati pengantin wanita itu. Ino melirik pengantin wanita itu, sudah pastilah dia mantan pria nanas itu. Ketika

Shikamaru sampai, pengantin wanita itu terkejut melihat kedatangannya. Bibirnya yang sejak tadi tersenyum bahagia langsung menghilang. "Kenapa kau disini?"

"Ingin memastikan apa kau menikahi pria baik-baik." Jawab Shikamaru. "Aku tadi sempat melihatnya."

"Kau... Kau tidak menyapanya, kan?" tanya wanita itu.

"Mungkin setelah menemuimu aku akan melakukannya." Ucap Shikamaru dengan tatapan kosong.

"Shika! Jangan pernah—" ucapan wanita itu terhenti ketika melihat Ino masuk dan langsung memeluk mesra tangan Shikamaru.

"Wah cantik kau sekali... pantas saja Shika-kun pernah jatuh hati padamu. Um selamat untuk pernikahan mu." Ucap Ino tersenyum. Wanita itu hanya menatap terkejut Ino.

Wanita itu melirik Shikamaru. "S-siapa... Dia?"

"Kurasa aku perlu menyapamu secara langsung. Terimakasih kasih telah melepaskan pria hebat ini untuk ku. Aku pacarnya Sersan Kepala Nara Shikamaru." Ucapnya sambil menjatuhkan kepalanya di bahu Shikamaru. "Mungkin akan terlihat aneh kalau kita saling menyebut dengan 'si mantan' dan 'si pacar Shikamaru' saat ini. Kau bisa memanggilku, Dokter Ino saja ya! Aku ini seorang dokter."

"Apa... Apa dia pacar mu, Shika? Be-benarkah?" tanya wanita itu pada Shikamaru.

"Aku tak suka basa-basi, langsung saja..." ucap Shikamaru sambil melepaskan pelukan Ino kemudian menggenggam tangan Ino. Tak hanya mantannya itu yang terkejut tapi Ino sendiri juga terkejut. "Kurasa aku tak merindukanmu lagi... Ya itu semua berkat dia. Aku sangat bahagia saat ini. Jadi... Kau pun harus bahagia. Selamat atas pernikahan mu ini. Aku tulus mengatakannya."

Ino terdiam menatap tatapan kosong Shikamaru yang penuh dengan kesakitan. Pria ini pandai sekali menutupi kesedihannya. Tapi Ino sendiri justru sangat tahu perasaan sedih teramat dalam yang berhasil ditutupi pria itu. Hal itu juga langsung membuat Ino bisa merasakan apa yang dirasakan pria itu.


Setelah pernikahan itu berlangsung, Shikamaru dan Ino memilih untuk pergi ke restoran dekat dari tempat pernikahan itu berlangsung. Ino menuangkan sake pada gelas milik Shikamaru yang masih diam dengan tatapan kosongnya.

"Hei, kau menyesal?" tanya Ino tak tahan lagi melihat tatapan pria itu sejak tadi.

"Tidak. Justru aku sangat lega." Jawab Shikamaru meneguk habis sake yang baru dituangkan Ino.

Ino terdiam menatap Shikamaru. "Tapi justru aku yang malah menyesal."

Shikamaru akhirnya balas menatap Ino. "Apa maksudmu?"

Wanita blonde itu tersenyum. "Entahlah. Pokoknya aku merasa agak aneh." Dia kembali menuangkan sake itu ke gelas Shikamaru. "Tapi sudahlah, karena sudah terlanjur, aku sudah melakukan bagian ku, kau jangan lupa untuk mengatakan pada Naruto kalau kita pacaran."

"Tak perlu khawatir."


[Musim panas...]


Tuk!

Setelah meneguk sake, secara bersama pria dan wanita itu meletakan gelas sake itu ke atas meja.

"Kubilang, aku tak akan menikahi Naruto. Tapi kapan aku pernah bilang kalau aku dan kau tidur bersama hah? Sebenarnya apa maksudmu?!" tanya Ini kesal pada Shikamaru.

"Aku janji mengatakan: 'aku adalah pacar Letnan Ino', hanya satu kalimat itu yang ku katakan. Itulah kesepakatan kita sejak awal bukan?" Jawab Shikamaru melirik Ino kemudian dia memotong Yakiniku miliknya.

"Tapi kenapa banyak yang menggosipkan bahwa kita tidur bersama hah?!"

Shikamaru kembali melirik Ino. "Tsk Merepotkan, Itu karna imajinasi tentara sangat luar biasa."

Ino menegakan tubuhnya sambil melipatkan lengannya di dada. "Sersan kepala Shikamaru. Kau pikir ini lucu?"

"Ya sebenarnya aku tak merasa ini tak lucu." Ucapnya tersenyum tipis kemudian meneguk sake kembali.

"Kau!" pekik Ino kesal. "Bagiku ini SANGAT TIDAK LUCU!"


[Musim Dingin...]


Masih di kafe yang sama mereka berdua menikmati malam Natal dengan berbincang seputar pekerjaan dan berdebat tentang gosip hangat di militer tentang hubungan panas mereka.

"... Apa ini tentang orang lain? Kenapa orang mengira: jika kita pacaran, berarti kita akan tidur bersama?" Ucap Ino dengan heran.

Shikamaru hanya mendesah. "Begitulah para pria. Jangan khawatir. Kalau kau cemas soal kita yang tidur ber—" ucapannya pun terpotong setelah mendapat deathglare dari Ino. "Err maksudku tidur biasa."

Ino menunjuk Shikamaru tepat dimuka pria itu membuat pria itu sedikit mundur. "Tidur bersama?"

"Lupakan! Salah sebut!"

"M-E-S-U-M! Kenapa pria selalu memiliki pikiran mesum hah? Karena semua gosip ini aku jadi selalu ingin tahu seperti apa rasanya tidur bers—" Ino mengehentikan ucapannya sendiri. Wajahnya memerah ketika membayangkan tidur bersama Shikamaru. 'KYAAA!' dia langsung keluar restoran itu. "LUPAKAN!"


[Musim Semi...]


Mereka berdua baru saja selesai berbincang ria di dalam restoran sembari menikmati hidangan dan sake yang disediakan restoran. Perbincangan mereka pun tak ada bedanya dengan yang sudah-sudah, mereka masih terus mendebatkan soal gosip hubungan mereka.

"Dalam situasi begini, sebenarnya aku punya jalan keluarnya." Ucap Shikamaru mengikuti Ino.

Ino menoleh sejenak. "Apa itu?"

"Mari mengubah gosip itu menjadi kenyataan." Ucap Shikamaru sambil berjalan mendahului Ino, agar wanita itu tak melihat rona merah di pipinya.

Ino terdiam mendengar ucapan pria itu. "Kenyataan?" saat dia sadar, dia langsung memukul bahu Shikamaru dengan tas selempangnya. "HENTAI! Kau pikir aku ini wanita apaan?" Shikamaru bahkan terpaksa menahan tubuhnya yang hampir terjatuh ketika terlalu semangat memukulnya.

"Hei hati-hati—Ittai! Ino!"

BUGH!

BUGH!

"Diam kau! Aku akan membunuhmu karna sudah berpikir yang bukan-bukan! Kau tahu siapa aku hah?!" ucapnya sambil terus memukul Shikamaru.

BUGH!

BUGH!

"Ittai—M-maaf Ino—ittai..." dia pun berlari untuk menghindari gebukan Ino.

"KEMARI KAU, RUSA MESUUUUM!"


FLASHBACK OFF


Inoichi memasuki ruangannya setelah ajudannya membuka pintu.

"Letnan Yamanaka Ino baru saja tiba di Pangkalan Akuma. Sementara Sersan Mayor Nara Shikamaru sudah berangkat pukul 13.30 tadi." Lapor Ajudan Inoichi.

"Hn."

Telililit!

Telepon yang ada di meja Inoichi berdering, dengan cepat dia langsung mengambilnya.

"Dari Red House. Mengirim permintaan Video call."

"Sambungkan!" perintah Inoichi. Dia kemudian membuka laptopnya dan menerima video call. "Ada apa, Danzou-San?"

"Baru saja kami mendapat pesan. Mengenai operasi VIP Perserikatan Poros tengah. Intinya, mereka meminta operasi 'dihapuskan'. Serta kunjungan di medicube itu tak pernah terjadi. Dan mereka juga tak ingin ada record yang tertinggal bagaimana pun caranya. Dan kami sedang melakukan yang terbaik untuk menyetujui hal ini. Mengenai Kapten Naruto, entah dia dihukum atau dipuji, kami akan menghormati keputusan anda."

Inoichi mengangguk. "Saya mengerti." Dia mematikan sambungan, dan menoleh ke ajudannya. "Apa Naruto masih ditahan?"

"Masih, pak!" jawab Ajudannya.

"Aku ingin semua dokumen tentang operasi itu dihapus, dan bebaskan Naruto! Tapi proses lanjutannya, bawa dia ke komite disiplin." Perintah Inoichi.

Ajudan berpangkat kapten itu mengerutkan keningnya. "Komite disiplin? Bukankah seharusnya, Naruto-senpai, diberi penghargaan?."

Inoichi tak menjawab dia kembali meraih telepon. "Sambungkan ke Divisi Pangkalan Akuma!"


SOLDIER X DOCTOR


Setelah mendapat perintah pembebasan, Naruto akhirnya dibebaskan, dan saat ini dia berada diruang makan disambut dengan berbagai olahan tahu yang dimasak oleh Konohamaru.

Naruto melirik seluruh hidangan di meja dengan dahi berkerut. "Aku tak tahu ada banyak kacang kedelai di Ame... Kalian semua menyetujui hal ini hah?"

"Ini semua untuk kapten yang telah menghabiskan malam selama 2 hari di dalam tahanan, dan juga perayaan setelah kapten dibebaskan." Ucap Konohamaru. "Aku sudah menyiapkan tahu goreng disini, tahu panggang disini, tahu rebus disini, dan juga ramen kreasi tahu di hadapan kapten, khusus ramen tahu, aku buat bentuk tahunya berbentuk rubah."

Naruto melirik tajam Konohamaru. "Dibebaskan katamu? apa maksudmu?"

Konohamaru melihatnya bingung. "Err bukanya begitu? Aa kalau begitu... kemunculan kembali kapten?" semua yang ada diruang makan itu hanya dapat menahan tawa.

"Kemunculan? Yang benar itu Kehadiran, bodoh!" ucapnya sambil memukul-mukul perut Konohamaru. "Kapten sudah hadir!"

"Aah benar! Kehadiran Kapten setelah ditahan." ucap Kiba sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Dan hal itu membuat Naruto menoleh tajam kearahnya.

"Ada apa dengan dengannya?!"

"Aku akan mengajarinya dengan baik." Ucap Neji menyelamatkan Kiba. Neji mengambil cangkir dan menuangkan kopi kedalamnya kemudian menyodorkannya pada Naruto. "Aa sudah, ini untuk mu."

"Bersyukurlah kalian, karena Sersan Neji telah menyelamatkan kalian!" Naruto menyesap kopi pemberian Neji. Dia berdiri setelah menyesap kopinya. "Dengarkan, semuanya! Aku akan sampaikan beberapa kata. Kalian semua sudah melakukan yang terbaik, meski dalam siaga darurat dan kepulangan wakil komandan. Walaupun sudah ada pesta err.. pesta serba tahu hari ini, aku akan tetap mentraktir kalian barbeque di akhir pekan nanti." Para prajurit yang mendengar langsung girang bukan main. "Jadi untuk sekarang nikmati dulu tahu kalian, dengar?!"

"Hai! Arigato gozaimasu!" teriak para prajurit, mereka pun mulai menikmati hidangan tahu itu. Naruto menyuruh Konohamaru untuk memotong tahu goreng berbentuk berbentuk rubah besar dan menyuruhnya memakan terlebih dahulu. Kegiatan mereka makan bersama terhenti ketika seorang wanita berambut merah muda datang keruangan itu sambil berlari, mereka yang ada diruang makan itu langsung menoleh kearah wanita pingkish itu, tak terkecuali Naruto yang masih menepuk-nepuk kepala Konohamaru yang masih memakan tahu-nya.

Sementara sang wanita hanya terdiam malu ketika mendapati tatapan bingung seisi ruangan. Dia berbalik hendak pergi...

"Kenapa kau pergi?" tanya Naruto bingung. "Bukanya kau mau menemuiku?"

Sakura kembali berbalik menatap Naruto. "Ah.. um nanti saja, aku tak ingin mengganggu acara kalian. Silakan lanjutkan."

"Tunggu! Sebaiknya kita bicara sekarang." Ucap Naruto. Pria itu berjalan keluar ruangan makan, diikuti oleh Sakura. Mereka berjalan dan berhenti di sebuah reruntuhan rumah yang ada di area kompi itu.

Mereka berdua hanya berdiri diam begitu lama ditempat itu sambil melihat kearah lain untuk melepaskan suasana canggung.

"Kupikir, kau hanya berakting jadi dokter saja." Ucap Naruto memecahkan suasana canggung mereka. "Tapi kemarin... kau sudah menyelamatkannya."

"Bukannya itu yang kau inginkan?" tanya Sakura.

"Dan kau menurutinya? Bukannya sebelumnya kau bilang, tim medis bisa mengurus semuanya sendiri, bahwa kaulah Komandan untuk tim medis."

"Sepertinya, kau ini tipe yang pendendam, ya?"

Naruto tersenyum. "Dan sepertinya dr. Sakura jadi wanita kalem sejak malam itu."

Mereka kembali terdiam, namun kali ini Sakura lah yang pertama memulai percakapan. "Kau bilang jika memang ingin berterima kasih, cukup bersyukur saja. Aku bersyukur kau mau mempercayaiku."

Naruto mengangguk. "Kau tak takut?"

Sakura tersenyum manis. Wanita itu menunjukan jarinya. "Terus terang, aku sedikit takut... Kau sendiri?"

"Aku sudah terbiasa dengan situasi yang seperti itu. Bahkan aku pernah mengalami hal yang lebih buruk." Sakura hanya mengangguk merespon ucapan Naruto. "Dan dokter Sakura... Aku ingin mengatakan sesuatu tapi gagal terus. aku tidak serius saat mengatakan... 'beberapa dokter hanya muncul di TV saja.' Aku harap, kau tak memasukannya ke hati, dattebayo!"

Sakura kembali mengganguk. "Ya, tapi yang kau bilang itu benarnya juga, kok."

"Begitu ya? Hei tapi, yang lebih tidak benar adalah... saat dokter tetap mengoperasi pasiennya meskipun dia sedang ditodongkan senjata, dattebayo!"

Sakura tertawa pelan mendengarnya, itu adalah pengalaman pertamanya ditodong senjata. "Ya sudah... kalau kau anggap begitu. Mungkin kau benar juga. Tapi, kurasa mereka tidak seirius mau menembakku, 'kan?"

Naruto tak merespon, dia memilih diam saja dan wajahnya terlihat serius, membuat Sakura mulai ketakutan.

"B-baiklah... sebaiknya j-jangan dijawab!" ucap Sakura sambil menutupi telinganya. Senyuman Naruto kembali, ketika melihat tingkah manis Sakura.

"Kapten!" seru Kiba menunjuk kearah pimpinan tim keamanan Haizaki, pria itu mempersilahkan memasuki mobil mereka. Naruto dan Sakura saling memandang sejenak, lalu mengangguk.


Naruto dan Sakura ternyata dibawa ke sebuah hotel yang cukup jauh dari kompi, tempat Haizaki menginap.

"Kudengar keputusan kalian berdua, telah menyelamatkan hidupku. Berkat kalian, aku jadi memiliki waktu yang lebih panjang untuk bekerja di dunia yang keras ini. Untuk itu aku berterimakasih pada kalian." Ucap seorang penerjemah, menerjemahkan ucapan Haizaki sebelumnya.

Sakura dan Naruto hanya dapat tersenyum. "Karena anda memiliki jantung kronis, stres akan menjadi sangat berbahaya untuk anda. Untuk sementara ini, anda beristirahatlah yang cukup, dan usahakan abaikan dulu isu-isu dunia saat ini."

Wanita penerjemah itu langsung menerjemahkan kata-kata Sakura pada Haizaki. Haizaki hanya tersenyum mendengarnya. Kaisar itu berbicara diikuti Sanga penerjemah yang menerjemahkan Ucapnya agar Naruto dan Sakura mengerti.

"Beliau bilang, seperti biasa, dokter di dunia ini selalu sangat cerewet." Ucap penerjemah itu, Sakura hanya tersenyum kaku mendengarnya sementara Naruto terkekeh.

"Memulai sebuah perang itu sangat mudah. Kita hanya perlu sebuah kata-kata saja sebagai senjata, dan perang pun bisa pecah. Tapi membuat sebuah perdamaian lah yang selalu menjadi masalah kita bersama, kata-kata saja tak cukup." Ucap Naruto, Sakura melirik Naruto, Haizaki masih terus mendengar terjemahan dari penerjemahnya. "Saya mendengar semua tentang anda dari teman saya yang kebetulan adalah prajurit pasukan khusus Uzushio, dan sejak saat itu saya melihat anda sebagai salah satu idola saya, tokoh perdamaian yang sangat hebat. Cara penyampaian anda tentang perdamaian anda selama ini sangat luar biasa. Oleh karena itu, suatu kehormatan bagi saya sendiri, untuk ikut dalam menjaga proses operasi anda. Meskipun itu akan mengorbankan karir saya."

Haizaki mengangguk-anggukan kepalanya sembari tersenyum lebar, mendengar ucapan Naruto yang sudah diterjemahkan ke bahasa Uzushio. Dia kembali meresponnya.

"Beliau bilang; sesuai dugaan ku, aku selalu suka dengan pemikiran tentara dari pada pemikiran dokter. Kau sangat mirip dengan Nagato. Kalian berdua memiliki pandangan hebat tentang perdamaian." Naruto hanya terdiam ketika mendengar nama Nagato. Penerjemah itu menoleh ke Sakura. "Tapi aku akan berusaha mengikuti nasihat dokter. Sekali lagi aku sangat berterimakasih."

"Suatu kehormatan juga bagi saya bisa memimpin operasi anda, seorang yang sangat hebat." Balas Sakura sambil tersenyum.

"Beliau sudah menyiapkan hadiah kecil sebagai rasa terimakasihnya pada kalian." Ucap penerjemah itu

Haizaki melirik pengawalnya. Pengawalnya itu merogoh kantong jasnya, mengeluarkan sebuah kartu berwarna emas dan memberikannya pada Sakura.

Sakura memandangi kartu itu dengan bingung. Kartu, yang dia ketahui adalah sebuah kartu nama. Di kartu itu juga ada berbagai lambang negara dari perserikatan poros tengah.

"It's not just any business card, Y'know? The card will save you in various situations in this central axis union." Jelas pengawal itu ketika melihat eskpresi kebingungan Sakura.

"Ohh..." ucap Sakura mengangguk paham. Wanita itu melirik Naruto. "Kalau ingin memberikan ini pada kami, bolehkah saya meminta satu lagi? Kami ini kan berdua. Dan ini bisa saja rusak, kan? Lagipula saya ini orang yang pelit."

Penerjemah itu langsung menerjemahkannya pada Haizaki.

"Hahahahaha..."

Sakura hanya meringis mendengar tawa dari pemimpin Uzushio itu.


Setelah mereka menerima tawaran makan siang bersama. Mereka berdua memutuskan untuk undur diri dan akan diantar kembali oleh pengawal dari Uzushio. Dan pada akhirnya juga, Sakura berhasil mendapatkan 2 kartu seperti yang dia minta, tapi ia masih ragu, kartu itu gunanya seperti apa.

Sakura mengangkat kedua kartu itu dengan bingung mau melakukan apa dengannya. "Apa kartu ini semacam free pass?"

Naruto mengambil salah satu kartu dari tangan Sakura. "Beri aku satu, biar aku bisa mengeceknya, dattebayo!" Sakura hanya mengangguk mengiyakan.

Naruto berjalan mendekati pemimpin pasukan pengawal Uzushio. Dia menunjukan kartu itu pada pengawal. "I want to take this car alone, with her! Just for today."


Sesuai permintaan Naruto, pengawal itu pun memberikan mereka mobil itu, untuk dibawa selama sehari. Dan hal itulah yang membuat Sakura cemberut sejak tadi.

"Kenapa kau menggunakan kartu itu hanya untuk menyewa mobil ini hah? Kalau kau ingin mengendarai mobil ini, kau bisa mendatangi perusahan rentalnya. Tak perlu memintanya dari mereka! Kau gila, ya?" Sembur Sakura tak tahan menahan emosi lagi. Emosinya bertambah ketika Naruto hanya menunjukan cengirannya tanpa dosa. "Aku tak menyangka kau akan senaif ini. Apa kau tak punya tujuan hidup yang lebih baik? Di sini kan tambang minyak. Kita bisa saja memiliki ladang minyak dari sini. Apa kau tahu berapa harga minyak itu? Kita sudah menyelamatkannya. Dia siap memberikan apapun. Kau malah menyia-nyiakan kartu itu untuk memakai mobil rental ini."

"Kenapa sih kau kesal sekali? Kurasa ini adalah kepustakan bijak dari ku!"

"Bijak? Bijak kepala mu!" pekik Sakura memukul pelan bahu Naruto.

Naruto mendesah. "Dengar, jika mereka yang menyetir, kita akan menghabiskan 2 jam setengah dalam perjalanan ke pangkalan seperti tadi. Tapi, jika aku yang menyetir dengan kecepatan seperti ini, kita bisa sampai hanya dalam waktu 30 menit. Dan sisa 2 jam lainnya, aku ingin berkencan dengan mu, dattebayo!"

Sakura mengelengkan kepalanya tak percaya. "Ah gila, gila, GILANYA! Kau memakai kartu itu hanya untuk kencan." Ucap Sakura, dia menoleh ke Naruto yang sedang bersenandung mendengar lagu dari mobil itu. "Tapi... Kapan aku pernah setuju berkencan dengan mu, hah?"

Naruto menoleh singkat. "Aku tak perlu persetujuan darimu untuk kencan. Jadi ayo kita ke sesuatu tempat untuk kencan kita, dattebayo!"

"Kau harus bertanya dulu, Baka! Baka-baka-baka! NARUTO NO BAKA!" Protes Sakura dengan pipi memerah.


Saat mereka sudah berada disebuah kafe, tepat disebuah patio yang berhadapan langsung dengan pemandangan deretan pengunungan Gedo Mazou. Hanya ada percakapan sepihak dari Sakura yang mengisi kencan mereka di kafe itu. Lebih tepatnya, kencan itu diisi dengan omelan dari Sakura yang masih sangat kesal karena masalah kartu yang dipakai dengan sia-sia. Sementara Naruto hanya memilih diam memandang pemandangan, sambil sesekali melirik wanita cerewet itu.

"Argh... Sayang sekali kartu itu terpakai dengan sia-sia." Pekik Sakura kesal dia menyimpan kartu itu sambil mendeathglare Naruto. "Ini adalah milikku, jadi awas kalau kau berani menyentuhnya! Kira-kira akan kupakai untuk apa ya? Haruskah kubuka kelinik di Uzushio—Aaaa harusnya aku tadi meminta foto bersama, Sakura no Baka! kalau aku memajang foto itu diklinik ku nanti, itu bisa menjadi jalan pintas untuk menyukseskan klinik ku, kan? Aku bahkan bisa dapat banyak uang dengan mudah."

Naruto mengerutkan keningnya mendengar kata-kata terakhir wanita musim semi itu. "Sebenarnya, kenapa kau mau jadi dokter?"

"Simple. Karna aku pintar!" jawab Sakura ketus. "Terutama di Biologi dan Matematika."

Naruto mengangguk. "Ya sangat terlihat."

"Kupikir gaji seorang dokter itu sangat besar. Aku percaya kalau; hidup mengejar uang lebih baik daripada hidup dikejar-kejar oleh utang. Terlepas dari yang orang bilang, aku dibayar atas perkejaan yang kulakukan. Masuk diakal bila aku ingin membuka klinik di pusat Konoha yang elit itu." Dia menyadari tatapan Naruto. "Kau boleh menyebutku wanita penggila uang."

"Dokter Sakura, kenapa kau selalu bersikap seperti orang yang jahat?"

"Aku memang menjadi dokter untuk bisa mendapat uang banyak. Begitu banyak yang terjadi saat kau pergi." Mereka berdua saling menatap. "Dan aku telah banyak berubah semenjak itu. Tapi... bagiku kau tak berubah sama sekali."

"Hei! Itu penghinaan! Tsk kau ini! Kau tak lihat? Aku jadi semakin tampan sekarang, dattebayo!"

Sakura tersenyum mendengarnya. "Ya, itu... Umm benar... t-api maksudku leluconmu tak berubah... selalu berhasil membuat ku tertawa"

"Tapi liat dirimu, hmm senyummu semakin indah saja, dattebayo." Puji Naruto menatap mata green forest Sakura dalam. Mereka berdua hanyut dalam tatapan mereka masing-masing cukup lama, hingga suara dering ponsel Naruto mengancurkannya. "Sebentar... Ya ini aku... ABB?" Sakura mulai merasa Dejavu. Dia mulai khawatir ketika melihat mimik muka Naruto berubah menjadi sangat bersedih. Setelah selesai dengan ponselnya, pria itu melirik Sakura dengan tatapan bersalah. "Maaf—"

"Lagi? Kau harus pergi lagi sekarang ya?" Potong Sakura.

"Ya... Kau bisa pulang dengan mobil it—"

"Akhir kencan kita selalu sama... di Konoha dan bahkan juga disini." Ucap Sakura kosong setelah kembali merasakan kejadian yang sama dengan 8 bulan yang lalu. "Kau mau kemana sekarang? Apa rahasia lagi? Apakah itu adalah tempat yang tak bisa kudatangi?"

"Kau tak dilarang datang kesana, tapi menurutku tak ada gunanya membawa mu kesana. Kau akan rugi jika pergi bersama ku."

Sakura menatap Naruto kecewa. "Kenapa kau selalu bisa memaksa ku untuk berkencan tanpa persetujuan dariku, sementara aku, aku bahkan tidak bisa hanya untuk mengetahui kemana kau pergi? kau selalu ingin untung pada hubungan kita?"

"Karena pekerjaanku ini, aku selalu mendapatkan kerugian yang menghancurkan hubungan ini. Jadi ketika aku memiliki waktu bersama mu aku harus memanfaatkankanya tanpa persetujuan darimu." Jawab Naruto cepat.

Sakura menunduk. "Bagaimana... Bagaimana jika.. aku bilang... aku tetap ingin ikut bersamamu?"

"Sakura..." Naruto terdiam beberapa saat ketika melihat tatapan memohon wanita itu. Akhirnya dia hanya menganggukkan kepalanya pasrah, membuat wanita yang dihadapannya kembali tersenyum.


SOLDIER X DOCTOR


Naruto ternyata dipanggil untuk menghadiri upacara pemulangan jenazah dua prajurit dan satu relawan yang tewas, dua prajurit dari negara Uzushio dan sattu relawan dari Kiri. Sakura yang tak memiliki kepentingan, tak mendapat ijin masuk dan terpaksa melihat dari luar pagar bandara. Mungkin ini yang dimaksud Naruto, rugi bila kau mengikutiku.

Sakura tak sendiri disitu, tak jauh dari tempatnya berdiri, juga ada seorang pria berambut oranye dengan berbagai tindik diwajah juga ikut menonton upacara dari luar.

Naruto yang berada didalam berjalan dengan sangat sedih sesekali dia mengusap air matanya yang mengalir di pipi ketika melihat foto jenazah itu. Pria yang dikenalnya sebagai temannya saat ia bergabung dalam pasukan elit ABB, yang hanya diisi oleh prajurit-prajurit terbaik dengan pangkat perwira, pria berambut merah itu adalah temannya yang berasal dari Uzushio, Mayor Uzumaki Nagato.

Naruto meletakan setangkai lili di depan foto Nagato. Kemudian dia melihat jejeran foto, dan terfokus pada salah satu foto yang diambil saat dirinya bersama dengan tim elit ABB itu.


FLASHBACK ON


Tiga orang prajurit berpose di sebelah Helikopter. Naruto duduk di pintu heli, seorang pria berambut oranye duduk di sebelah kanannya, dikirinya, seorang pria berambut merah tengah mengangkat senjata. Ketiganya berpose dengan masih mengenakan masker.

"This mission is a success because of you, Lt. Naruto!"

Naruto tersenyum dibalik maskernya. "Ah, you're exaggerating, Major Nagato. after all, you also work well, dattebayo! "

BUGH!

Bahu Naruto dipukul oleh pria berambut oranye disebelah kanannya. "You are too humble, huh? Just try to be a little arrogant."

"Never mind, hey, we better take and picture once again without wearing a mask. this could be the last memory of this team, dattebayo!"

"Yeah, I agree!" Jawab temannya berambut oranye.

"Yes alright." Nagato hanya menganggukan kepala sembari memberi kode pada seorang prajurit untuk mengambil satu foto lagi.

Naruto yang berada ditengah dengan cepat merangkul kedua pria Uzushio itu. "Ichi… ni… san!"

"Rāmeeeen!" ucap ketiganya sambil saling merangkul.

CKREEK!

"HAHAHAHAHAHAHA..."


FLASHBACK OFF


Pria berambut oranye yang berdiri tak jauh dari tempat Sakura hanya menatap kosong peti milik Nagato. Dia kemudian menaiki mobilnya namun menyuruh supirnya untuk menunggu sebentar lagi.

Sementara Sakura hanya menatap bingung uapacara itu karena dia tak tahu sama sekali dengan dua tentara itu, namun yang pasti dia sangat terkejut ketika melihat Naruto meneteskan air mata saat di depan salah satu peti. Pastilah salah satunya adalah kenalan Naruto. Setelah menaruh bunga, Naruto sendiri berjalan mendekati seorang pria berambut raven dengan setelan jas yang membuatnya terlihat gagah. Sakura tak kenal orang itu. Tapi sepertinya wajahnya tak asing. Wanita itu menundukkan kepalanya kembali mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Ini adalah kali pertamanya melihat Naruto menangis, dan hal itu sungguh membuatnya ingin segera menghibur pria rubah itu. Sedih sangat tak cocok untuk Naruto.

Didalam mobil pria berambut oranye tadi, pria itu masih menatap upacara itu dengan kosong. "Lets go! Work is waiting." Perintahnya pada supirnya. Mobil yang membawa pria oranye itu pergi melewati Sakura.

Sakura hanya melirik sebentar pada saat mobil itu menghalanginya untuk melihat Naruto, setelah kepergian mobil itu sakura kembali menatap Naruto yang mulai berbincang-bincang dengan pria berjas tadi.


SOLDIER X DOCTOR


Naruto dan Sakura sampai di barak. Mereka turun dari mobil tapi Naruto sepertinya terlihat masih sangat sedih.

"Ini adalah hari yang panjang. Beristirahatlah."ucap Naruto, pria itu hendak berbalik namun dihentikan oleh Sakura.

"Apa... Umm apa dia temanmu?" Tanya Sakura dengan hati-hati. "Maksudku, jenazah—Um tentara yang akan dipulangkan tadi?"

"Kenapa kau ragu-ragu bertanya? Kau pasti sudah penasaran sejak tadi, kan?" Ucap Naruto. "Ya, Dia adalah rekanku. Kau ingat saat kaisar Uzushio mengatakan Nagato? Dialah jenazah itu." Mata Sakura langsung membulat. "Kami melakukan tiga misi gabungan, waktu itu kami dikenal dunia sebagai tim super elit."

"Tapi, apa yang terjadi?"

"Apa yang terjadi? Inilah yang terjadi saat kami mencoba untuk membela perdamaian."

Sakura menatap Naruto cemas. "Itu berarti... Itu berarti... kalau begitu, k-kau... kau juga bisa saja—"

"Kalau begitu, tak usah bicarakan ini lagi!" ucap Naruto sedikit membentak, namun akhirnya pria itu tersadar ketika melihat mata Sakura yang mulai berkaca-kaca. " Tuh lihatkan? Sudah kubilang padamu rugi jika kau mengikuti ku. Kau sudah lihat kan bagaimana pekerjaan ini akan membuat rugi siapapun yang memiliki pekerjaan ini. Sudahlah, lebih baik kau beristirahat, Selamat malam."

Naruto berjalan meninggalkan Sakura. Dia menaiki tangga yang menuju ke kamarnya, saat ia di depan pintu kamarnya dan akan membuka pintu, ia terdiam untuk beberapa saat dan akhirnya tak jadi membukanya. Ia malah memilih duduk pada anak tangga, memandangi langit malam yang kelabu. kemudian dia melihat ke arah baret biru muda berlambang ABB ditanganya. Dia mengelus simbol tiga garis yang adalah simbol dari pangkatnya itu dengan sedih.


Keesokan paginya...

Sakura keluar dari markas kompi Gedou Mazou, dia datang kesitu bermaksud hendak mencari si kapten blonde, namun yang dia lihat, hanyalah meja kerja yang kosong. Sebelumnya dia juga sudah mencarinya ke ruang makan dan ke kamar pria itu, namun hasilnya nihil. kemudian saat ia keluar dari markas tadi ia melihat para tentara yang sedang berlari seperti biasanya, dibawah pimpinan Neji.

"Neji-san!" panggil Sakura.

Neji yang sedang berlari langsung mendengus menghentikan langkah larinya. Pria itu mendekat ke tempat Sakura.

"Umm... Ano... Aku belum lihat, Kapten Naruto pagi ini. Apa dia sedang pergi?" tanya Sakura.

"Dia diperintahkan ke komite disiplin."

"Komite disiplin? Tapi kenapa? Kukira Semuanya sudah berakhir" Tanya Sakura terkejut. Bukankah semuanya sudah berjalan dengan baik. Haizaki sudah sehat, malah seharusnya Naruto layak mendapat penghargaan. Tapi apa ini? Apa ini yang didapat Naruto setelah menyelamatkan nyawa seorang Kaisar? Dunia ini kejam sekali.

Neji berkacak pinggang. "Bagimu semuanya terasa sudah berakhir tapi sepertinya bagi Kapten, belum. Kami, prajurit, akan dipenjara bila kami melanggar perintah. Dan kau lah yang bersikeras melakukan operasi yang dilarang itu, apa kau tahu itu?" ucap Neji dengan membentak pada akhir ucapannya.

Sakura hanya menundukkan kepalanya mendengar amarah dari Neji.


Pangkalan Akuma, Amegakure, Ame.

Naruto saat ini sedang berada disebuah ruang yang biasa dia datangi ketika ada perlu dengan sang pemilik ruangan sementara itu, Yamato. Tapi kali ini dia bersama tiga atasannya yang berasal dari Komite disiplin dari satuan Polisi Militer. Naruto datang ketempat itu dengan mengenakan setelan formal, Jas militer dengan banyak ditempeli oleh penghargaan dari berbagai negara.

"... Sekali lagi, aku tak bisa memberimu tindak disiplin, pada apa yang kau lakukan. Tapi komite disiplin juga berpendapat pembangkangan tidak dapat diabaikan. Maka dari itu, hukuman mu bukan karena masalah operasi, tapi karna tak mematuhi perintah, tentang bom yang kalian temukan tanggal 16 Mei. Kau akan dihukum pemotongan gaji selama 3 bulan! Namikaze Naruto, kau keberatan?"

"Tidak!"

"Dan sebagai hukuman tambahan, kau tidak lagi masuk dalam kandidat promosi skuadron selama tiga tahun ini! Namikaze Naruto Kau keberatan?" tanya pemimpin sidang itu lagi.

"Tidak!"

Pemimpin sidang itu mengangguk, "Baiklah, itu saja."

"Sonkei!"


Naruto keluar dan berjalan pergi tanpa adanya semangat seperti biasanya, jelas dia tak semangat. Siapa yang akan semangat ketika mendapat hukuman berat? Dan saat ia melewati mobil ia tak menyadari kaki seseorang yang sengaja membuat Naruto tersandung dan hampir menghantam tanah tapi untungnya dia memiliki refleks yang bagus. Naruto dengan cepat berdiri untuk melihat siapa orang yang berani-beraninya mengerjainya.

"Kau sedang memikirkan apa? Kenapa kau berjalan dengan tak fokus, Sampai bisa kukerjaain begitu?" tanya Wanita pirang itu tanpa dosa.

"Ino? Aargh... Kenapa kau mengerjai ku hah?" geram Naruto kesal sambil memasang pose hendak mencongkel mata Ino, sementara wanita itu hanya terkekeh. Pria itu menarik napasnya menahan setiap emosi. "Kapan kau sampai?"

"Kemarin. Sepertinya kau sudah melakukan kesalahan, ya?"

"Tak usah terlalu perhatian padaku." Jawab Naruto. "Hei, kau harusnya buka klinik yang mewah saja di Konoha. Kenapa kau mau capek-capek ke sini?"

"Ya ampun kau ini." Ino menepuk bahunya sendiri. "Aku kan juga punya cita-cita. Aku pasti akan mendapatkan bintang itu. Dan sepertinya, aku yang akan mendapatkan bintang duluan, Senpai. Sebentar lagi aku ini akan menjadi atasanmu!"

"Mau mau atasan ku, mau kau seorang jenderal... bagiku kau cuma wanita cengeng!" Naruto tersenyum remeh mendengarnya. Naruto menyeringai, mengeluarkan kartu as-nya untuk membalas perlakuan Ino. "Sepertinya, kau sudah tahu Shikamaru sudah pulang."

Sukses! Ino terdiam mendengar nama pria Nara itu. Namun tampaknya Ino bisa mengendalikan emosinya kembali.

"Aku bertemu dengannya di bandara."

"Hm, benar juga." Ucap Naruto sambil menepuk bahu Ino dan memeluk iba Ino sejenak. "Apa bandaranya tidak hancur karena tangisan mu?" busuknya saat memeluk Ino.

Ino langsung mendorong Naruto, dan memandangnya dengan garang. "Senpai, kau sebenarnya memihak siapa, sih? Aku atau Shikamaru?"

"Memangnya kalian siapa? Hingga aku harus memihak pada kalian berdua... aku akan selalu memihak pada negaraku saja!" Jawab Naruto sambil tersenyum angkuh, tapi senyuman angkuhnya hilang ketika ia melihat Sakura sedang bertanya pada seorang perwira berpangkat Mayor. Kemudian wanita itu berlari dengan khawatir menuju ke ruangan tenda Yamato yang menjadi tempat sidang Naruto sebelumnya.

Ino ikut menoleh untuk melihat objek yang berhasil mengalihkan perhatian Naruto, dia mengerutkan keningnya. "Eh, sepertinya wanita tadi itu tak asing."

"Itulah yang kupikirkan, aku pergi dulu!" Naruto berlari menuju ruangan Yamato. Sedangkan Ino hanya melihat dengan bingung.

Saat berada didekat tenda Naruto bisa mendengar suara Sakura yang memohon.

"Ini semua gara-gara ku. Mana bisa aku diam saja! Kenapa Naruto harus menanggungnya semuanya? Dia tak bersalah!" protes Sakura pada Yamato.

"Dia bersalah!" bentak Yamato. "Dia tak mematuhi perintah sebagai prajurit." Pria berpangkat Letkol itu mendesah pelan. "Maksudku, kau itu dokter dan kau menyelamatkan pasien mu. Disitulah masalahnya. Hukum militer dan medis itu sangat berbeda!"

"Aku disana, jadi aku bisa bersaksi! Aku akan bertanggung jawab atas apa yang kulakukan." Ucap Sakura setengah berteriak.

BRAKK

"Beraninya kau!" Yamati yang sudah kesal memukul keras mejanya. Dia berdiri dari tempat duduknya. "Maaf dokter, di sini bukan pengadilan. Apa kau tidak tahu tindakan disipliner? Gaji Naruto dipotong selama 3 bulan dan dia dikeluarkan dari kandidat kuat untuk mendapatkan promosi selama tiga tahun. Apa kau bisa bertanggung jawab atas itu?"

Sakura terdiam tak menjawab, matanya membulat terkejut dan mulai berkaca-kaca mendengar hukuman yang diberikan pada Naruto.

Tepat setelah itu Naruto memasuki ruangan Yamato, mereka berdua sempat saling menatap.

"Sonkei!" ucap Naruto menghormat pada Yamato. Yamato kemudian berkacak pinggang melihat Naruto.

"Maafkan aku." Ucap Naruto pada Yamato. Pria rubah itu menarik tangan Sakura pergi dari ruangan itu. "Ayo pergi!"


Setelah pergi dari pangkalan militer Konoha, Naruto menghentikan mobilnya di atas sebuah tebing. Dia kemudian keluar dari mobil dengan membanting keras pintu mobil tak berdosa itu. Pria itu kemudian berjalan meninggalkan Sakura.

Melihat hal itu dengan cepat Sakura ikut keluar dan mengejar Naruto. "Tunggu. Kau mau kemana?"

Naruto berbalik. "Kenapa kau melakukan hal yang tak berguna?"

"Hal... yang... tak berguna?" Ulang Sakura. "Aku baru saja mengacaukan kehidupan seseorang-"

"Itu bukan karena kau. Apa kau pikir aku melakukannya hanya untuk menyelamatkan seorang wanita seperti mu?" Sakura terdiam mendengar ucapan marah dari Naruto. Naruto menarik napasnya lalu membuangnya untuk menghilangkan emosinya. "Apa kau ingat... luka tembak saat kita pertama kali bertemu dulu? Salah satu satu senpaiku pernah berkata padaku, pada hari pertamaku sebagai Kapten Pasukan Khusus. "Tentara akan selalu hidup dengan menggunakan kain kafannya. Saat kau mati di negeri antah berantah demi kepentingan Bangsamu, tempat kematianmu itu akan menjadi kuburanmu. Dan seragammu akan menjadi kain kafanmu. Kau harus ingat itu selama kau memakai seragammu itu. Jika kau menanamkan prinsip itu, kau akan mati secara terhormat, di mana dan kapan pun itu." Dan aku berhutang nyawa pada senpai ku." Ucap Naruto dengan sangat sedih mengingat hari suramnya. "Dan saat itulah aku mendapatkan luka tembak itu. Seberapa kecil atau besarnya keputusanku itu, Termasuk kehormatan rekan, kejayaan dan juga kawajiban. Hal itu berlaku untuk situasi kemarin juga. Aku telah membuat keputusan atas dasar prinsip itu.. dan aku tak menyesali keputusanku. Tapi, prinsip itu tak bisa menutupi..." Naruto terdiam sejenak sambil meremas baretnya. "Kenyataan kalau aku sudah melanggar hukum militer. Masalah dalam militer akan ditangani oleh kami sendiri... Itu artinya, dalam hal ini dokter Sakura... Jangan sedikit pun kau ikut campur!"

Mata Sakura kembali berkaca-kaca mendengar segala luapan emosi Naruto. "Maaf... karena kekhawatiranku...telah mengganggumu. Aku minta maaf sekali lagi." Ia kemudian masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Naruto sendiri di Tebing itu.

"Hiks..." Di dalam mobil, Sakura mengendarai mobil yang dibawanya dari kompi sambil terus menangis menangis. Sesekali matanya juga melirik ke arah sepion untuk melihat Naruto.

Naruto sendiri pada akhirnya mendesah berat, ketika kepergian wanita itu. Dia kemudian memutuskan berjalan kaki. Ponselnya kemudian berdering.

"Wah kau dimana? Apa perjalananmu lancar?" tanya Naruto pada penelpon, sesekali kakinya menendang batu krikil pada jalan. "Aku? Aku lagi dijalan sekarang."

"Dimana? Dibarak?"

"Ie, di jalan. Jalanan berkerikil."

"Jadi kau mau kembali ke barak?"

"Ie, sudah dibilang aku lagi dijalan, jalan sesungguhnya, dattebayo!"

"Tsk merepotkan, kau yang ngelantur seperti ini jauh lebih merepotkan! Terserah kau sajalah... Apa kau sudah bertemu dengan Ino?"

"Apa peduliku padanya? Aku baru saja kehilangan promosi dan gajiku juga akan dipotong." Ucap Naruto kesal.

"Tentu saja kau pantas mendapatkannya. Mau berapa banyak lagi kau kerepotan hanya karena seorang wanita itu?"

Naruto tertawa remeh. "Aku tak melakukannya karena wanita itu! Aku mengambil keputusan sebagai prajurit yang melindungi orang—"

"Ya, dan orangnya cantik."

"Wah benar-benar rusa malas ini ya? Kau menelpon ku hanya untuk membuat hari ku semakin memburuk ya?" Tanya Naruto sambil menendang krikil jalanan, membayangkan krikil itu adalah kepala Shikamaru.

"Tidak juga sih, tapi melihat kondisimu ini sekalian saja kubilang begitu... Jadi... Kau sudah bertemu dengan Ino?"

"Sersan Mayor Nara Shikamaru! Kau tahu betapa mahalnya telepon internasional?" Naruto lalu melirik ponselnya. "Mau berapa banyak lagi kau kerepotan hanya karena seorang wanita hah?" Tanya Naruto membalas pertanyaan Shikamaru sebelumnya. Kemudian dia langsung mematikan telepon itu. Dia kemudian melirik langit yang mulai menggelap. Mana mungkin dia berjalan kaki, kan? "Haah..."


Naruto sampai di barak dengan selamat setelah menelpon salah satu anggotanya untuk menjemputnya.

"Sonkei!" ucap Prajurit yang menjemputnya.

Naruto menoleh. "Hm, Arigato! Kau sudah berkerja keras, berkat kerja keras mu aku jadi tak perlu berkerja lebih keras untuk sampai ke barak ini."

"Hai!"

Naruto berjalan masuk ke dalam dapur kompi, kemudian mengingat kembali ucapnya Shikamaru: Pergilah ke dapur dan buka lemari disebelah oven. Promosimu dicabut dan gajimu dikurangi. Sepertinya... kau membutuhkan minuman.

Naruto kemudian memeriksa lemari yang dimaksud Shikamaru. Didalam dia melihat beberapa cup ramen dan sebotol wine. Naruto mengambil botol wine itu tersenyum mengingat sifat perhatian bawahan sekaligus sahabatnya itu. Kemudian dia melirik ke jendela. Diluar ternyata sudah hujan. Beruntung dia sampai tepat waktu.

Dan tepat saat itu juga, entah takdir atau bukan. Sakura juga masuk ke dapur. Mereka berdua sama-sama terkejut. Kemudian Sakura hendak berbalik."

"Mau... Apa kau?" tanya Naruto sebelum Sakura pergi.

"Aku mau minum!"

"Terus kenapa kau pergi? Minum saja dulu."

Sakura melirik sebentar Naruto kemudian membuang pandangannya ke luar jendela. "Sepertinya kau sedang ingin sendirian."

"Tidak, itu tidak benar! Aku ingin kau menemaniku." Kontan saja Sakura langsung menatap Naruto. "Aku sudah tak pusing lagi sekarang. Kemarilah."

Sakura mendekat, ia berdiri di dekat Naruto sambil bersandar pada lemari.

"Apa kau mau minum air biasa atau wine?" tanya Naruto sambil menyodorkan botol wine ke Sakura yang langsung diambil wanita itu. Naruto kemudian mengambil gelas dan memberikannya pada Sakura yang tengah meminumnya langsung dari botol membuat Naruto terdiam menatapnya. Setelahnya Sakura memberikan botol itu ke Naruto. "Heuh... Prajurit yang bertugas tak diijinkan untuk minum alkohol, dattebayo!"

"Jadi, untuk apa kau mengeluarkan ini?" tanya Sakura menyipitkan matanya.

"Aku memang tadi berniat minum, Tapi, gagal karena ada saksi berwarna pink yang akan melihatku." Jawab Naruto.

Sakura tersenyum menahan tawa mendengar jawaban Naruto. Jadi dirinya adalah pengganggu niat buruk pria itu ya? Kemudian Sakura teringat kejadian tadi sore. "Tadi itu, maaf bertindak egois meninggalkanmu tanpa memikirkan perasaan mu yang sedang kacau."

"Hei, aku baru mau minta maaf padamu, dattebayo!" balas Naruto ceoat. "Ah... Anggap saja kita sudah saling memaafkan."

Sakura menatap Naruto kosong. Membuat pria itu menatapnya canggung. "Mana bisa! Kau bahkan belum meminta maaf." Melihat wajah kaku Naruto, Sakura kemudian terkekeh karna telah berhasil mengerjai pria rubah itu. "Kenapa kau? takut lagi? Bukankah kita sudah baikan? Haha... Takut aku pergi meninggalkan mu lagi? Oh ya bagaimana kau sampai kesini?"

"Ckckck kenapa semua orang berniat mengerjai ku satu hari ya? Haaah... aku berlari. Hanya aku yang bisa sampai di sini dengan cepat sambil berlari." Ucap Naruto angkuh. Naruto kemudian berjalan menghadapai ke Sakura lalu menyandarkan badannya pada tiang.

Sakura menyipitkan matanya. "Sepertinya tidak... Tadi aku melihatmu turun dari mobil."

Naruto melirik Sakura, terkejut. Dia hanya bisa mendesah pasrah ketika kebohongannya ketahuan. "Ketahuan, ya. Hey! kenapa kau bertanya lagi?"

Sakura tersenyum mendengar pertanyaan Naruto. "Aku hanya ingin mendengar leluconmu lagi." Naruto menolehkan mukanya kearah lain menutupi pipi merahnya yang cukup jelas terlihat oleh Sakura. Sakura kemudian melirik jas militer Naruto. "Sebenarnya ada yang ingin kukatakan sejak kita bertemu tadi... Um... K-kau terlihat s-sangat t-tampan dengan jas militer mu. Sejak dulu aku tahu pasti, kau akan terlihat sangat gagah saat mengenakan jas militer mu. Hahh... Tapi niat ku yang ingin memujimu itu ku tahan, karna tak pantas bagiku untuk memuji dirimu yang baru saja mendapatkan hukuman berat."

Naruto semakin merona mendengar pujian Sakura. Kemudian dia tersadar sesuatu. "Hei tunggu! Dulu, bagaimana kau bisa tahu aku akan terlihat gagah dengan jas ini? Memangnya kau pernah melihatku memakai ini di Konoha?"

"Apanya yang bagaimana? Wanita itu punya imajinasi yang sangat tinggi ketika melihat seragam militer."

Naruto menganggukan kepalanya. "Karena itulah aku suka jadi prajurit, dattebayo! Ada banyak wanita yang akan terpesona padaku."

Sakura kembali tertawa mendengar lelucon pria itu kemudian dia kembali meminum wine itu lagi langsung dari botolnya.,

"Sepertinya enak sekali ya?" Tanya Naruto melihat Sakura sedang meminum wine itu.

Sakura mengangguk. "Lumayan. Kau mau?"

Naruto tak menjawab, karena dia sibuk mengingat kembali kejadian mereka saat dia bioskop. "Aku selalu ingin menonton film dan minum-minum bersamamu."

"Itu bisa saja menjadi kencan yang sempurna lho."

Naruto kemudian menatap Sakura. "Kau jadi menonton film waktu itu?"

"Tidak."

"Kenapa...Kenapa kau tak menontonya?"

"Karena... aku ingin menontonnya dengan seseorang, jadi aku tak ingin mengetahui jalan cerita film itu. Tapi kalau kupikir-pikir, aku harus menghindari film itu jika aku kencan bersama dengan pria lain nantinya... aku tak boleh nonton film yang bagus." Senyuman Naruto menghilang ketika mendengar kata pria lain. "Aku selalu melihat artikel tentang film itu... Dan artikel itu akhirnya... mengingatkanku padamu karena film itu menggambarkan Namikaze Naruto bagiku." Dia kembali meminum wine itu. Sementara Naruto terdiam membisu. Diam menikmati indahnya iris hijau wanita itu.

Sakura yang mendapat tatapan itu langsung gugup seketika. Dia pun berusaha mengalihkan suasana dengan bercanda. "Aah k-kau pasti sangat ingin minum ini, kan? Nih!" tawar Sakura menggerakkan botol wine sambil tersenyum kikuk karena pria itu masih terus menatapnya dengan tatapan yang selalu berhasil membuat hatinya melumer.

"Aku tahu cara lain untuk meminumnya." Ucap Naruto membuat Sakura bingung. Naruto berjalan menghampiri Sakura.

Namun Naruto tak mengambil botol wine itu, pria itu malah langsung merengkuh tubuh mungil Sakura kedalam pelukannya dan membenturkan bibirnya pada bibir Sakura...

.

.

.

.

.

.

TBC


Aneurisma: kelainan pembuluh darah otak.

Abdomen: istilah yang digunakan untuk menyebut bagian dari tubuh yang berada di antara thorax atau dada... Bagian perutlah.

RBC: Red blood cell atau sel darah merah.

RDX: Punya daya ledakan dahsyat. Jika kalian ingat bom Bali, itulah ledakan dari bom RDX

C-4: Yang saya tahu adalah pencampuran antar TNT + RDX + satu lagi saya lupa, jadi daya ledaknya ya pasti lebih mengerikan dari RDX. Dan C4 ini sangat rawan getaran, rawan cahaya, dan rawan gelap. Bom ini kerap digunakan militer untuk tugas-tugas penghancuran dan hanya dipakai oleh pasukan khusus saja.

Oh iya, mengenai A.N/ABB atau Perserikatan poros tengah. A.N (Alliance of Nations) atau ABB adalah penggabungan antara Aliansi Shinobi dan Perserikatan bangsa-bangsa. Dan untuk perserikatan poros tengah atau Center Axis Union itu saya buat sebagai pengganti dari Liga Arab pada drama aslinya. Sementara Kaisar Uzushio, Haizaki (OC) pengganti dari Presiden Mubarat. Untuk negara-negara dari PPT atau CAU ini, ya sebut saja Ame, Taki, Kusa, Uzushio ya dari anime Naruto sih yang ane liat tuh semua desakan desa konflik. Dan untuk Oto sendiri adalah pengganti dari Afganistan yang menjadi salah satu negara antagonis dalam dramanya dan dalam anime, seperti yang kita tahu, oto adalah salah satu desa antagonis.

Oh ya, tentang jadwal fic ini. Fic ini update setiap hari Minggu ya! Itu juga kalau tak ada halangan *PLAK* Tapi sejauh ini semuanya masih lancar, saya masih bisa ngerjain tanpa mengganggu dunia nyata saya.

Terimakasih sudah ngeFav follow and ripiu! Udah itu aja bye! PLAKK

Sampai jumpa dichapter berikutnya! SONKEI!


REVIEW

VVVVVVVVVV

VVVVVVVVV

VVVVVVVV

VVVVVVV

VVVVVV

VVVVV

VVVV

VVV

VV

V