Bagaimana jika sekarang kau yang datang kerumahku?" Mark menatap Donghyuck dengan mata berbinar. Ia pikir Donghyuck juga harus tahu tentang keluarganya, bagaimanpun juga mereka berdua adalah Soulmate yang akan menjadi pasangan hidup.
"E-eh?!" Donghyuck terkejut mendengar perkataan Mark yang sangat tiba-tiba seperti itu. Berkunjung ke rumah Mark adalah sesuatu yang hal yang tidak Donghyuck inginkan untuk dilakukan dalam waktu dekat ini, karna ia masih merasa belum memiliki keberanian yang cukup untuk melakukan hal itu.
"Ayolah.. Mau ya. " bujuk Mark.
Donghyuck tampak diam berpikir sesaat. Dia ingin menolak, tapi ia tidak boleh egois. Mark saja mau ia geret kerumahnya, seharusnya tidak masalah jika ia melakukan hal yang sama. Tapi ia masih takut.
Donghyuck masih terus berkutat dengan otak kecilnya, mencari cara dan menyusun kata-kata yang tepat untuk menolak secara halus ajakan Mark.
"Mau apa kalian?"
Mark dan Donghyuck langsung terlonjak kaget saat mendengar suara Mingyu yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Donghyuck sambil memicingkan matanya dan menatap ke arah mereka berdua dengan curiga.
"Hyung?! Kenapa masih disini?!" Tanya Donghyuck sambil mendorong tubuh Mingyu agar menjauh darinya.
"Aku dan Ayah tidak jadi main golf, Ayah malah di culik oleh paman Sehun untuk di ajak menggoda janda. " Jawab Mingyu sambil mengerucutkan bibirnya sebal, "Aku ingin ikut juga sebenarnya, tapi kata Ayah aku disuruh mengawasi kalian berdua saja dirumah. "
"Apa yang di awasi?! Kami ini bukan anak kecil lagi hyung! Sudah dewasa!" Balas Donghyuck.
Mingyu mengibaskan tangannya pelan mengabaikan perkataan adiknya, "Karna kalian sudah dewasa makannya aku mengawasi kalian. Nanti kalian melakukan 'hal-hal yang diinginkan' sebelum kalian menikah lagi, kan aku yang repot nanti. "
Semburat merah menahan malu muncul di pipi gembil Donghyuck, bisa-bisanya Hyungnya itu berprasangka buruk dan mengatakan hal-hal yang menjurus ke arah sana kepadanya di depan Mark seperti itu!
"Hyung!-"
Mark langsung menyentuh pundak Donghyuck saat melihat sang Soulmate akan kembali memekik membalas perkataan ngawur Mingyu, "Sudah, biarkan saja. "
Mark menghembuskan nafas kecewa. Gagal sudah rencananya.
Mingyu melirik ke arah Mark dan melihat Soulmate adiknya itu sedang memasang raut sebal sekaligus kecewa, "Kenapa kau berekspresi seperti itu? Tidak suka ya aku kembali?" Tanya Mingyu dengan nada sinis.
Mark yang di tanya mendadak seperti itu langsung gelagapan, "E-eh iya hyung- Eyy tidak! Maksudku bukan begitu!"
Donghyuck mencubit pinggang Mingyu dengan keras sampai membuat Mingyu menjerit kesakitan.
"Jangan membuat Soulmate-ku merasa tidak nyaman! Cari gara-gara ya kau denganku?!" Sembur Donghyuck jengkel.
"Kenapa kau jadi marah padaku?!" Balas Mingyu tidak terima.
Mark hanya memasang tampang kebingungan saat melihat sepasang adik-kakak itu kembali berdebat.
"Mark hyung, lebih baik kita pergi saja. " Donghyuck langsung menarik tangan kanan Mark agar pergi meninggalkan Mingyu, tapi Mingyu buru-buru mencekal tangan kiri Mark, sehingga posisinya terlihat seakan-akan Donghyuck dan Mingyu sedang memperebutkan Mark.
Mark tentu saja tidak bisa menyembunyikan raut keterjutannya saat kedua tangannya di cekal dengan erat oleh sepasang kakak-beradik itu. Ia menolekan kepalanya ke arah Donghyuck dan Mingyu bergantian dengan ekspresi bingung.
"Mau kemana kalian?" Tanya Mingyu sambil menaikkan sebelah alisnya penasaran.
Donghyuck yang melihat tangan Soulmate-nya di cekal seperti itu oleh hyungnya langsung mendelik marah ke arah Mingyu, "Apa-apaan sih hyung?! Lepaskan tidak!"
Bukannya menuruti perkataan adiknya, Mingyu malah semakin mempererat cekalannya pada tangan kiri Mark, membuat Mark meringis.
"Aku tanya, kalian mau kemana?"
"Mau kemana juga bukan urusanmu!" Balas Donghyuck ketus.
Mata Mingyu berkedut tak suka mendengar balasan sang adik yang menurutnya sangat judes dan menyebalkan untuk di dengar.
"Tentu saja urusanku!" Pekik Mingyu tidak mau kalah.
"Kenapa bisa begitu?!"
"Kau kan adikku!"
Mark menolehkan kepalanya ke-kiri dan ke-kanan secara bergantian. Ia menyimak perdebatan Mingyu dan Donghyuck dengan raut wajah semakin kebingungan dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, jadi dia memutuskan untuk diam dan menyimak saja.
"Lalu kenapa?!"
"Tentu saja aku harus ikut jika kalian ingin pergi!"
"Apa?!" Mark dan Donghyuck memekik bersamaan setelah mendengar perkataan Mingyu. Mark yang tadinya hanya diam saja reflek berteriak karna Mingyu mengatakan hal seperti itu.
"Enak saja! Tidak bisa! Aku akan kerumah Mark hyung, kau tidak boleh ikut!" Seru Donghyuck.
Mark menolehkan kepalanya terkejut mendengar apa yang Donghyuck katakan. Jadi anak itu mau datang kerumahnya? Astaga, Mark tiba-tiba ingin salto seketika.
"Nah, bagus! Hyung harus ikut kalau begitu!"
Donghyuck langsung kehilangan kata-katanya. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran kakak satu-satunya ini. Bisa-bisanya ia ingin ikut ke rumah Mark?! Sudah gila atau sudah tidak waras lagi sih?!
"Mana bisa begitu?! Tidak boleh!!!" Pekik Donghyuck semakin murka.
Mark meringis sendiri melihat Donghyuck yang beberapa menit yang lalu masih bisa tersenyum manis dan tersipu kini berubah menjadi garang dengan wajah memerah marah. Ia masih syok dengan duality dari Soulmate-nya ini.
"Sudahlah Hyuck, biarkan Mingyu hyung ikut. " ucap Mark sambil tersenyum tampan ke arah Donghyuck, berusaha menenangkan sang Soulmate yang tengah kesal setengah mati karna ulah kakaknya sendiri.
Mingyu tersenyum puas mendengar ucapan sang calon adik ipar, "Dengar itu." Ujar Mingyu sambil tertawa mengejek ke arah Donghyuck.
Donghyuck mengepalkan sebelah tangannya, ingin sekali ia rasanya menghajar kakaknya yang tengil itu hingga babak belur.
"Ya sudah, tunggu apalagi? Ayo pergi!" Mingyu segera berjalan keluar sambil menarik tangan Mark dan Donghyuck.
Donghyuck melambatkan jalannya dan menarik tubuh Mark agar mendekat padanya, "Maaf hyung" bisik Donghyuck pelan
Mark mengusak kepala Donghyuck pelan sambil tersenyum, "Tidak masalah. "
"Mark! Naik mobilmu ya! Mobilku tidak ada bensin!" Teriak Mingyu yang berjalan lebih dulu dan kini sudah berada di depan mobil Mark.
Mark menganggukan kepalanya kaku, sedangkan Donghyuck yang berada disebelahnya kembali meringis merasa tidak enak, "Hyung, maaf"
Mark menghembuskan nafas pelan lalu kembali tersenyum "Tidak masalah. "
smile even hurt ya mark :')
.
.
Mereka bertiga telah sampai di depan di rumah Mark. Mingyu langsung saja turun dari mobil Mark dengan wajah sumringah, berbeda dengan Donghyuck yang menekuk wajahnya kesal.
Mingyu menoel pipi adiknya itu pelan, "Hei, pasang wajah bahagia! Kita ini lagi dirumah calon mertuamu. "
Donghyuck mendengus mendengar perkataan hyungnya, "Sudah tahu ini rumah calon mertuaku, kenapa kau masih saja ikut?!" Balas Donghyuck sewot.
"Kan aku hyungmu!"
Mark memutar bola matanya malas kemudian menatap Mingyu dan Donghyuck secara bergantian merasa jengah dengan pedebatan mereka berdua yang sedari tadi tidak mau berhenti.
Telinga Mark sudah terasa panas karna sepanjang perjalanan Mingyu dan Donghyuck terus saja bertengkar dan berteriak di dalam mobil satu sama lain.
Dan hal yang mereka ributkan pun sebenarnya hanya hal remeh yang sangat tidak penting.
Donghyuck menarik ujung jaket Mark pelan, membuat Mark langsung menolehkan kepalanya ke arah Donghyuck, "Kenapa hm?"
Donghyuck menatap tangan Mark yang sudah bersiap mengetuk pintu dengan pandangan ragu, "Aku takut. " Ucap Donghyuck pelan.
Mark terkekeh geli melihat tingkah Donghyuck yang sudah kembali menjadi Donghyuck si pemalu. Mark mengacak-acak rambut Donghyuck gemas lalu mencubit pelan pipi gembilnya, "Tidak perlu takut, ada aku. "
Melihat interaksi adik dan Soulmate-nya yang terlihat seperti drama televisi yang sering ia dan ayahnya tonton membuat Mingyu memasang ekspresi jijik, "Tolong hargai aku disini ya, jangan bermesraan seperti itu! Membuat iri saja!" Dumal Mingyu.
Donghyuck mendelikkan matanya ke arah kakaknya, astaga bisa tidak sih orang satu itu diam? Membuat malu saja.
Mark menggaruk tengkuknya canggung, "Aku ketuk pintunya ya?"
"Kenapa tidak langsung masuk saja? Kan itu rumahmu!" Sahut Mingyu dengan nada yang sangat menyebalkan.
"Hyung!"
"Apa sih?! Kau itu marah-marah saja sedari tadi padaku!" Balas Mingyu.
Mark segera menahan tangan Donghyuck yang sudah bersiap-siap menghajar kakaknya, "Jangan anarkis. "
"Tapi manusia itu menyebalkan hyung!" Ucap Donghyuck sambil menatap jengkel ke arah Mingyu.
"Manusia menyebalkan ini adalah hyung-mu!"
"Iya aku tahu! Makannya aku semakin sebal saja!!"
"Apa kau bilang?!"
Mark menghembuskan nafasnya pelan lalu memutuskan untuk mengetuk pintu rumahnya yang tadi sempat tertunda karna perdebatan Mingyu dan Donghyuck.
Selang beberapa detik kemudian pintu itu pun terbuka, dan langsung membuat sepasang kakak-beradik yang sedang berdebat itu langsung terdiam seketika. Donghyuck beringsut mendekati Mark dan mencengram ujung jaket Mark.
"Oh sayang kau sudah pul- Heyyy siapa mereka?"
Sosok yang membukaan pintu tampak sedikit terkejut saat melihat ada dua orang asing yang datang bersama Mark.
Donghyuck semakin merasa gugup saat melihat orang itu memperhatikannya dengan seksama.
"Ibu, jangan memandanginya seperti itu!" Ujar Mark saat sosok yang ternyata adalah Ibu Mark itu terus menatap intens ke arah Soulmate-nya."
Mingyu juga ikut merasa gugup. Ia tidak tahu kenapa, tapi rasanya seperti ia yang akan menemui calon mertua, "Saya Soulmate-nya Mark tante"
Mark, Donghyuck dan Ibu Mark sontak menolehkan kepalanya ke arah Mingyu dengan pandangan kaget. Terutama Ibu Mark, ia terlihat sangat terkejut bukan main.
Mingyu yang baru sadar atas ucapannya barusan langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat, "Ehh tidak! Maksud saya, saya ini kakak dari Soulmate-nya Mark tante. "
Ibu Mark langsung menghembuskan nafas lega setelah mendengar perkataan pemuda tinggi di hadapannya. Hampir saja ia terkena serangan jantung saat melihat anaknya yang ia yakini adalah seorang dominan mendapatkan Soulmate seperti pemuda itu.
"Ibu tidak mau menyuruh kita untuk masuk?"
"Oh! Maafkan Ibu, mari masuk!"
Donghyuck dan Mingyu mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu dengan Mark dan Ibunya yang duduk di hadapan mereka.
"Kenapa kau tidak bilang jika kau sudah bertemu dengan Soulmate-mu!" Ibu Mark langsung memukul punggung Mark yang duduk di sebelahnya dengan kuat, "Coba sini Ibu lihat!"
Ibu Mark menarik tubuh Mark agar membungkuk supaya ia bisa melihat Tatoo Soulmate yang terdapat di tengkuk anaknya itu.
"Astaga Mark Lee, cantik sekali!"
Mark kembali menegakkan tubuhnya lalu tersenyum bangga ke arah Ibunya, "Tentu saja cantik. Soulmate-ku saja cantik sekali." Ucapnya lalu mengerlingkan sebelah matanya singkat ke arah Donghyuck.
Donghyuck langsung menundukkan wajahnya malu, sedangkan Mingyu yang berada di sebelah Donghyuck menahan mulutnya agar tidak berkomentar dengan umpatan saat melihat kelakuan Mark.
"Kau benar Mark. Hey manis, siapa namamu?"
Donghyuck mengangkat wajahnya yang merona dan menatap ke arah Ibu Mark dengan malu-malu, "Donghyuck tante. "
Ibu Mark memekik gemas saat melihat wajah Donghyuck.
"Ya Tuhan Mark! Dimana kau menemukan Soulmate semanis ini?!"
"Aku tidak manis tante. " Ucap Donghyuck dengan bibir mencebil lucu, "Aku tampan. "
"Astaga, Menggemaskan sekali!!" Ibu Mark langsung mengalihkan pandangannya dari Donghyuck menuju Mark, "Mark! Nikahi saja dia secepatnya!"
Mark, Donghyuck dan Mingyu langsung membelalakan matanya terkejut bukan maij mendengar perkataan Ibu Mark "HAH?!"
.
.
.
Omake:
Jeno berlari dengan sekuat tenaganya menuju kelapangan basket.
"Lucas!"
Jeno menerobos kerumunan mahasiswa dan mahasiwi yang tengah menonton. Ia langsung menghampiri Lucas yang sedang bersusah payah untuk bangkit berdiri dengan wajah penuh luka lebam.
"Cih, hanya segitu kemampuanmu?" Cibir Hendery yang melihat Lucas nyaris pingsan karna perbuatannya.
"Bajingan." Desis Lucas marah.
"Hentikan bodoh! Kau melukai Soulmate-mu juga!" Bentak Jeno saat melihat Lucas sudah siap menerjang Hendery lagi.
"Tidak masalah menjadi seorang bajingan, daripada menjadi seorang pengecut sepertimu. " Hendery melemparkan senyuman mengejek ke arah Lucas, "Selain mempunyai Ibu seorang jalang, kau juga sangat lemah ya. "
Lucas menggertakkan giginya marah saat mendengar perkataan Hendery yang kembali menghina Ibunya.
BUAGH!
Lucas yang baru saja ingin kembali melayangkan tinjunya terkejut karna melihat Jeno yang sudah maju lebih dahulu mengahajar wajah Hendery dengan tinjunya, "Berhenti berkata omong kosong sialan!" Desis Jeno.
Hendery tertawa terbahak-bahak sembari mengusap sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan dari karna ulah Jeno.
"Wah, Lucas, kau punya pelindung ternyata. "
"Tutup mulutmu sialan!" Geram Jeno murka.
Lucas merasa kepalanya berputar-putar, sedetik kemudian hanya kegelapan yang menderanya.
"Cih, kenapa kau membelanya? Anak jalang seperti itu tidak pantas di bela. "
"Memangnya kau siapa berani-beraninya mengatakan hal seperti itu?!" Balas Jeno.
"Jeno!!"
Jaemin berlari mengahampiri Jeno dengan nafas terengah-engah, "Renjun-" Ucapnya panik.
"Renjun kenapa?!" Balas Jeno ikut panik.
"Renjun tidak sadarkan diri!"
"Apa?!"
"Astaga! Tolong itu Lucas pingsan!" Terdengar jeritan salah satu mahasiswa yang memekik heboh sambil menunjuk-nujuk Lucas.
Jeno dan Jaemin segera menolehkan kepalanya ke arah Lucas dan terkejut saat melihatnya sudah tergeletak tak sadarkan diri.
"Astaga! Cepat bawa Lucas ke klini!" Seru Jeno panik, kemudian beberapa mahasiswa yang tadi berkerumun menonton langsung mengangkat tubuh Lucas dan membawanya ke klinik seperti suruhan Jeno.
Jeno mendesis geram lalu mengalihkan pandangannya ke arah Hendery yang nampak tersenyum senang melihat Lucas tidak sadarkan diri. "Kau akan mati di tangannku nanti" ancam Jeno.
"Aku menunggu. " Balas Hendery sambil tersenyum sinis.
Jeno langsung menarik tangan Jaemin agar segera menuju ke klinik.
Jaemin yang ditarik Jeno hanya diam mengikuti. Di dalam otak kecil nan mungilnya itu ia berpikir dengan keras atas semua kebetulan yang terjadi. Antar Renjun dan Lucas.
Kalau dugaannya benar, berarti...
.
.
.
.
Tbc
Huaaaaas ada yang nungguin book ini kah?
Wkwkw
As always aku mau ngucapin banyak terimakasih buat kalian yang udah revieww di book ini! Terima kasih banyak sayang-sayangkuuu
Maaf banget kalo ceritanya makin aburadul wkwkwk maaf banget. Mohon maklumi aku yang amatiran ini.
