A/N : So long to update, Guys? I'm sorry … I'm very busy in my real life, seriously …

Btw, big thanks for the all of reviewers and readers … This is a chapter 21, hope u like it! :) Keep read and review! Love u all …

.

.

.

|My Blood is Ferret|

.

.

Disclaimer :

Harry Potter © J.K. Rowling

My Blood is Ferret © Ms. Loony Lovegood

(Tak ada keuntungan material apapun yg saya dapatkan dengan menulis fict ini, semata-mata hanya karena kesenangan dan kecintaan saya terhadap serial menakjubkan 'Harry Potter' beserta para tokoh-tokoh istimewanya!)

.

Rated : T

Romance, Hurt/Comfort

Warning!

Saya sudah berusaha untuk tidak typo

(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf)

.

|Happy Reading, Guysss... But, don't like? don't read! RnR please|

.

.

Chapter 21 : Our Last Moment, Forget Me? (Gadis Misterius)

.

.

.

Segurat terik cahaya samar mentari pagi berhasil menerobos masuk dari celah-celah daun jendela kamar yang rupanya tak terkunci, hingga tak heran jika mengundang gulatan hawa dingin. Namun sepertinya sesosok—ah, ralat, maksudku dua sosok manusia di dalam ruangan itu sama sekali tak merasakan tanda-tanda hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang belakang itu.

Sepasang hazel terbuka pelan, menampilkan sorotan kilau bening yang berpendar samar di bawah kelopak netranya. Pusing. Yah, itulah hal yang kali pertamanya dirasakan oleh seorang Hermione Granger—salah satu sosok di dalam ruangan itu.

Gadis Gryffindor itu mencoba untuk mengerjap-ngerjapkan matanya selama beberapa saat hingga akhirnya manik cokelat madunya itu menemukan titik fokus menuju retinanya dalam bentuk siluet-siluet samar yang membungkus visualisasinya. Otaknya segera saja berjumpalitan memikirkan hal-hal yang masih bisa diingatnya. Dan tiba-tiba maniknya berpendar terkejut dalam kekalutan setengah mati.

'Merlin! Benarkah kejadian semalam itu?' innernya mencoba untuk menerobos jawaban dari kepala jeniusnya. Menggedor-gedor saraf-saraf yang menghubungkan serebrasinya menuju kanal kewarasannya.

Terdorong rasa tak percaya, maka dengan perlahan gadis itu pun menggulirkan manik karamelnya ke sisi sebelah kirinya. Ia sempat tak memercayai penglihatannya, ia menganggap bahwa sorot visualnya tak lagi berotasi ke satu titik fokus yang ideal. Matanya membohonginya! Yah, setidaknya itu yang ia pikirkan sebelum kelopak di seberangnya terbuka pelan dan menampilkan sepasang sorot kelabu menenangkan. Tersenyum tipis—ah, mungkin lebih tepat jika kukatakan 'menyeringai' tipis, sosok pemuda dengan surai platina acak-acakan di pagi hari itu lantas membuka bibir setipis sari apelnya, mengeluarkan suara bariton serak yang terdengar … err, seksi?

"Morning, Love …"

"Aaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrgggggggggghhhhhh!" Semua bantal tak berdosa segera menjadi korban keterkejutan gadis itu.

Dan jeritan histeris pun seketika membahana di asrama ketua murid, tepatnya di dalam kamar sang Putri Gryffindor kita, Hermione Jean Granger. Burung-burung kecil yang tadinya hinggap damai di sekitar menara ketua murid segera bubar berterbangan.

.

.

-OoOoO-

.

.

Gadis itu duduk termenung di ruang rekreasi asrama ketua murid yang super kolosal. Coba bayangkan, sudah kolosal, pakai kata 'super' pula, ckck …. Ah, kembali ke topik.

Gadis itu terlihat gelisah, sangat gelisah. Bahkan raut wajahnya tak lebih dari bayang-bayang zombie yang cukup pias untuk ukuran orang sehat. Ia merenung, berharap pikiran jernih dapat menyeruak di dalam kanal serebrasinya.

"Oh, ayolah, Hermione … Aku serius, aku tak berbuat macam-macam padamu semalam. Aku … aku … aku hanya ingin tidur sekamar denganmu sebelum …" Pemuda pirang platina bermanik kelabu itu tak melanjutkan perkataannya. Hembusan napas berat terdengar setelahnya.

"Ya, aku percaya padamu, Draco …" ungkap Hermione lamat-lamat, memandang kosong ke arah perapian yang mengobarkan seleretan api hangat dari sana. "Anggap saja …" Gadis itu memejamkan matanya perlahan, seakan mencoba meresapi setiap guliran kalkulus detik yang mulai beranjak pergi meninggalkannya, ia menarik napas sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Itu adalah momen terakhir bagi kita. Cobalah untuk melupakanku, Draco, dan …" Pemuda berwajah runcing di seberangnya seperti hendak memprotes, sebelum jari-jemari Hermione terangkat ke udara—pertanda menyuruhnya untuk diam. "Aku juga akan berusaha untuk melupakanmu," lanjutnya dengan suara nyaris berbisik, sedikit bergetar dan serasa tercekat di ujung karotidnya. Ia membuka matanya, menampilkan sepasang permata hazel yang kelihatannya telah kehilangan pendaran sinarnya. Ia memandang Draco lekat-lekat, sama dengan yang tengah dilakukan pemuda itu sekarang. Pandangan mereka bersirobok, bertemu dalam satu dimensi afirmasi bahwa di dalam relung terdalam mereka, otokrasi cinta masih menjulang kokoh di palung hati keduanya. Sampai kapan pun. Sekarang, selalu, dan selamanya.

.

.

-OoOoO-

.

.

"Hermione … Kau tak apa-apa?" Ginny yang duduk di sebelahnya bertanya penuh dengan atensi khawatir khas seorang sahabat karib. Hermione hanya menoleh ke arahnya lantas tersenyum tipis. Sangat tipis.

"I'm okay, Gin …" sahut Hermione mencoba tegar, well, meskipun perih di hatinya kini bak tersulut luka menganga yang teramat pilu.

Ron Weasley yang duduk di seberangnya telihat aneh, ia tak begitu menaruh fokus pada irisan paha-paha ayam di atas piringnya. Ia hanya menatap kosong ke arah onggokan daging-daging tak berdosa di hadapannya itu tanpa minat untuk menyentuhnya seujung kuku pun. Tak seperti biasanya. Ini jelas sangat bukan khas seorang Ronald Billius Weasley.

"Tumben kau kalem soal makanan, Ron," komentar Harry singkat dengan wajah tanpa dosa sebelum menyeruput jus labunya. Ron hanya meliriknya sekilas dengan wajah tak berminat sama sekali untuk menjawab ataupun menyela argumentasi sahabat berkacamata bundar dengan rambut hitam acak-acakannya itu.

"Jangan ganggu dia, Harry. Dia sedang patah hati sepertinya." Ginny mengangkat bahunya acuh lantas melirik sekilas ke arah sosok gadis murung yang tengah duduk tak jauh dari mereka, Romilda Vane. Sedari tadi gadis itu hanya terlihat mengaduk-aduk makanannya tanpa selera. Entahlah.

"Well, benar kata Ginny. Jangan ganggu orang yang baru putus," celetuk Neville Longbottom tiba-tiba dari balik bahu Harry. Pemuda berwajah bulat yang tengah duduk di sebelah Harry Potter itu membekap mulutnya sendiri, tak sengaja berkata demikian—keceplosan.

"Uhuk … uhuk!" Harry tersedak tar karamel kesukaannya, makanan penutupnya. Ginny dengan tergesa segera menyodorkan sepiala jus labu ke arah kekasihnya itu.

"Kau putus dengannya, Ron?" tanya Harry setelah mengelap sisa-sisa tar karamel di sudut bibirnya. "Kenapa tak cerita?!" desaknya kemudian. Manik emerald-nya terlihat menuntut, meminta jawaban lebih dari sang pemuda bersurai merah itu.

Ron tak menanggapi perkataan Harry sama sekali. Justru sebaliknya, tanpa disangka-sangka pemuda berhidung panjang dengan bintik-bintik di wajahnya itu malah melenggang pergi meninggalkan aula besar dengan manik wajah yang tak dapat dipetakan. Sementara Harry, Hermione, Ginny, serta Neville hanya bisa saling melempar pandang penuh tanda tanya satu sama lain.

"Sepertinya aku salah bicara." Neville menyeruput jus piala di hadapannya dengan kaku.

.

.

-OoOoO-

.

.

Derap langkah tergesa terdengar menggema di sepanjang koridor sepi. Langkahnya tegas dan mantap sebelum netra arure-nya berhasil menangkap fokus yang semenjak tadi dicari-carinya. Dengan segera ia berjalan menghampiri sosok itu dan crap ….!

"Lepaskan aku!" bentak seorang gadis yang lengannya kini tengah dicengkeram erat oleh sang pemuda bermanik biru terang di hadapannya.

"Tak akan kulepaskan sebelum kau membebaskanku dari semua masalah ini!" Sang pemuda berambut krimsom itu balas membentak dengan rahang kaku yang seolah menyimpan berbagai golakan emosi.

"Apa maumu, Weasley?!"

"Mauku, hah?" Ron Weasley tersenyum skeptis. "Aku mau kau bertanggung jawab atas semua ini, little Greengrass!" kecamnya dengan nada suara yang sepertinya naik beberapa oktaf.

"Beraninya kau memanggilku seperti itu!" Sorot cokelat pekat sang gadis dengan nama belakang Greengrass itu berpendar penuh gulatan kemarahan.

"Tentu saja aku berani!" cibir putra bungsu pasangan Molly Weasley dan Arthur Weasley itu. Kontan Astoria Greengrass menyipitkan matanya tak suka dengan lontaran kata demi kata sang pemuda Gryffindor di hadapannya.

"Apa masalahmu, hah? Bukannya awalnya kau setuju-setuju saja dengan semua ini? Lalu mengapa sekarang kau justru menyalahkanku?!" sentak putri bungsu keluarga Greengrass itu, seolah sudah tahu akan ke mana arah pembicaraan ini akan mengalir seraya menarik keras tangannya hingga lepas dari cengkeraman seorang Ronald Billius Weasley yang tengah dikuasai amarah.

"Ya! Ku akui, memang salahku lah karena telah menyetujui ide konyolmu itu! Dan sekarang, aku menyesal! Aku sadar, kalaupun nantinya Hermione akan kembali padaku, tapi satu hal, hatinya tak akan lagi pernah sama," cecar Ron dalam nada bergetar yang terlampau kentara di setiap ritme suara baritonnya. Napasnya memburu seiring dengan perubahan air mukanya.

Astoria Greengrass tertawa hambar sembari bersidekap angkuh sebagai bentuk astigmatisme-nya terhadap perkataan pemuda jangkung di hadapannya.

"Aku tak menanggung itu, Weasley … Aku tak peduli terhadap rasa bersalahmu. Aku tak peduli dengan penyesalanmu, karena itu bukan masalahku. Yang terpenting sekarang adalah sebentar lagi, setelah perayaan kelulusan siswa tahun ke-7, aku dan Draco Malfoy akan melaksanakan pertunangan termewah di seantero kota London yang tentu saja kau dan para Weasley yang lain tak akan kuundang! Dan oh iya, setelah itu kami akan segera menikah setelah aku lulus dari Hogwarts." Gadis picik itu menarik sudut bibirnya penuh euforia arogan yang terpatri jelas di setiap lengkungnya, membentuk sebuah seringai kemenangan dari sana. Ron hanya bisa mengepalkan tangannya sebagai wujud amarahnya yang kini tengah meluap-luap nyaris tumpah di dalam kepala merahnya. Ia menggertakkan giginya penuh emosi seiring dengan semakin menjauhnya punggung sang gadis demon itu berlalu.

"Aaarrgggh!" Ia meninju dinding dingin kastil yang tak berdosa hingga menyebabkan darah segar segera mengucur deras dari sela-sela jari-jemarinya. Bahkan ia sampai tak menyadari kehadiran sepasang atensi yang tengah membeliak terkejut bercampur sorot penasaran menjadi satu sekaligus lantaran tak sengaja mencuri dengar pembicaraannya bersama Astoria Greengrass beberapa menit lalu.

.

.

-OoOoO-

.

.

Pemuda dengan permata kelabu perak itu memandang hampa pada hamparan langit-langit kamarnya yang bernuansa Slytherin, rumahnya selama tujuh—ah, tidak, maksudku delapan tahun terakhir ini. Dua tangannya ia letakkan di belakang kepalanya. Pikirannya melanglang buana tak tentu arah seperti hari-hari dan malam-malam sebelumnya. Ia kembali terhanyut pada rutinitas fundamental-nya selama beberapa waktu belakangan ini. Well, sulit tidur dan memejamkan matanya dengan tenang sudah seperti menjadi ritual tersendiri baginya.

Akhir-akhir ini Draco merasa sangat frustrasi dengan berbagai rentetan kronika yang menerjang kejam kehidupannya, meluluhlantahkan semuanya. Ia merutuki sang Dewi Fortuna yang sepertinya tak memihak kepadanya. Apa salahnya sehingga semua ini harus terjadi menimpanya? Tak bisakah ia merasakan manisnya hidup pasca kilasan pahit yang telah membelenggunya selama beberapa tahun ini? Apakah memang sudah takdirnya yang selalu harus berpasrah dan bersandar pada ironi kenyataan yang harus ditelannya bulat-bulat tanpa usaha?

Well, jauh di relung terdalamnya, sebenarnya Draco merasa bahwa semua ini bisa ia atasi tanpa harus mengorbankan cintanya kepada Hermione, cinta mereka berdua lebih tepatnya. Meskipun ia masih sangat jelas mengingat ucapan-ucapan petuah kedua orang tuanya—Lucius dan Narcissa—yang mengunjunginya tempo hari lalu untuk membujuknya menerima perjodohan laknatnya dengan Astoria Greengrass.

Tetapi sekali lagi, ini adalah hidupnya. Hidup seorang Draco Malfoy. Ia tak ingin terus-terusan hidup dalam bayang-bayang topeng devosi terhadap tradisi keluarga atau apalah istilahnya. Walaupun sebenarnya orang tuanya melakukan ini semua bukanlah sebagai bentuk tradisi keluarga semata, melainkan lebih kepada rasa segan dan santun terhadap keluarga Greengrass yang telah cukup banyak mendongkrak keadaan finansial keluarga Malfoy yang nyaris ambruk di ambang kebangkrutan.

Beberapa hari lagi N.E.W.T. akan dilangsungkan, dan itu artinya waktunya semakin sempit untuk memikirkan berbagai macam jalan keluar atas masalah ruwetnya ini. Kepala pirangnya sudah lelah menemukan titik terang yang mesti ditempuhnya. Ia pusing memikirkan hidupnya yang begitu enigmatik tak berujung ini. Lagi pula masalahnya tak hanya sekadar sampai di situ. Bagaimana dengan kutukan 'Ferretlyfors' itu? Malapetaka apa gerangan yang akan menimpa mereka? Oh, percayalah segala pikiran yang super-duper ruwet kini tengah berfluktuasi di dalam kanal serebrasi seorang Draco Malfoy. Menyeruak satu per satu tanpa tahu yang mana yang patut diselesaikan sang empunya terlebih dahulu.

"Mungkin sebentar lagi aku akan terkena encephalitis, penyakit muggle yang pernah diceritakan Hermione dulu. Oh, Hermione … Mengapa kisah kita harus serumit ini?" Draco menggumam gamang, sementara matanya menerawang jauh ke depan. Well, meskipun hanya bermonolog, tapi toh, tetap saja ia melakukannya. Oke, inilah saat kedua dalam hidupnya di mana ia benar-benar merasa kalut dan bermuram durja. Yang pertama tentu saja bisa kalian tebak sendiri, di saat tahun ke-enamnya, di mana ia mendapat tugas berat untuk membunuh kepala sekolahnya sendiri, Albus Dumbledore—meskipun nuraninya menjerit-jerit tak ingin dan pada akhirnya terpaksa diambil alih oleh Severus Snape, kepala asramanya sekaligus ayah baptisnya sendiri.

Semua pikiran memusingkan itu begitu menyita fokusnya, sampai sayup-semayup suara lembut seolah berhasil masuk dan menelusup dalam indra dengarnya ….

"Draco …." Draco tak mengerti dan tak tahu-menahu dari mana asal datangnya suara merdu nan manis itu mengusik kekalutan hatinya. Yang jelas, suara itu sedikit berhasil mengangkat setidaknya beberapa beban yang melayang-layang dalam pikirannya.

Kejadiannya begitu cepat hingga Draco pun tak menyadari bahwa sosok gadis itu kini sudah menjulang anggun di ambang pintu kamarnya, bahkan ia sendiri pun tak sadar kapan ia membuka pintu kamarnya itu. Well, lupakan itu dulu. Yang terpenting sekarang adalah siapa sosok itu? Jujur saja, Draco tak bisa menampik rasa penasaran yang kini tengah bergumul padat memenuhi setiap sudut-sudut isi kepala dan juga rongga-rongga hatinya.

Anehnya, ia tak dapat melihat wajah sosok gadis itu dengan jelas. Seakan-akan wajahnya memang ter-blur dengan sempurna. Tapi … mengapa bisa? Pertanyaan itulah yang pertama kali mencuat dalam serebrum-nya.

One step closer

Sosok sang gadis misterius itu kini telah berdiri apik di sebelah ranjangnya. Tetapi pikiran Draco seolah mengalami korosi, dan ia juga merasakan lidahnya mendadak berubah kelu dengan tak jelasnya. Apa yang terjadi?

Belum sempat pemuda platina itu mengeluarkan sepatah, dua patah kata, gadis itu kembali menyelanya lagi-lagi dengan suara merdunya yang bagi Draco cukup familiar di gendang telinganya. Cuping kupingnya menegak pertanda berusaha keras untuk menyimak.

"Aku merindukanmu, Draco …" desah suara itu lagi, yang mau tak mau—Draco benci mengakuinya—seolah mampu memompa deras oplah darah dalam nadinya. Hatinya berdesir nyaman, tentram, dan terasa damai. Woa! Hebat sekali gadis ini, bahkan baru suaranya saja sudah bisa membuat Draco seperti ini, bagaimana kalau sampai …

Kejadiannya begitu cepat tatkala sang gadis misterius itu tetiba menunduk dan menciumi bibir Draco dengan pelan, lembut, tapi penuh gairah. Aroma vanilla musk kontan menyeruak ke dalam indra penciuman sang Malfoy muda itu, dan sekali lagi membuatnya merasa tentram dan bak melayang-layang ke langit ketujuh. Segala pikirannya mendadak buyar dan berterbangan entah ke mana, ia tak bisa menemukan kepingan-kepingannya atau bahkan arahnya saja ia tak tahu.

Ah, sementara hatinya berusaha keras untuk menampik semua ini, bahwa yang dilakukannya sekarang adalah hal yang salah. Ia tak mungkin mengkhianati Hermione. Tapi sial, nuraninya secara terang-terangan justru melakukan kontradiksi terhadap estimasinya itu. Ia berani bersumpah, ia tak dapat berpikir jernih sekarang selagi gadis –entah-siapa-ini— masih terus-terusan menciuminya penuh gairah seperti ini.

Merasa gagal mempertahankan determinasinya, akhirnya Draco Malfoy pun bertindak pasrah. Sungguh ia tak lagi dapat menolak segala pesona memabukkan sosok gadis misterius itu. Serebelum-nya pun seolah-olah mengirim sinyal afirmatif menuju saraf-sarafnya. Tak lagi peduli akan pembelotan yang tengah dilakukan sang empunya kini.

Perlahan tapi pasti ciuman lembut dari sang gadis misterius itu lama kelamaan berubah menjadi ciuman panas dengan sedikit bumbu nafsu di dalamnya. Mau tak mau, hal itu turut sukses membuat seorang Draco Malfoy ikut terangsang dan akhirnya mulai ikut andil dan mendominasi ciuman mereka. French kiss pun mulai dilakukan oleh gadis itu. Menjilati bibir tipis bagian bawah Draco, menggigitnya sedikit pertanda meminta akses lebih dari sang empunya. Draco mengerang pelan, membuat sang gadis tak melewatkan kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya di dalam mulut Draco. Mencari-cari lidah sang pemuda bersorot argent itu lantas mulai mengabsen satu per satu barisan gigi-gigi putih nan rapi Draco.

Sang Malfoy muda itu melenguh pelan, merasakan mulai ada yang tak beres dengan 'Malfoy Junior-nya'. Karena sudah tak tahan lagi, akhirnya pemuda itu secepat kilat memutar balikkan posisinya hingga kini gadis misterius itu sudah berada tepat di bawahnya, sementara ia sendiri berada di atas gadis itu masih dengan posisi bibir saling menempel erat.

Lantaran pasokan udara yang kian menipis, akhirnya Draco menghentikan pagutannya untuk sementara. Sibakan rambut cokelat beraroma strawberry kontan menyeruak masuk dan hanyut dalam eskapisme-nya. Warna dan aroma yang begitu dikenalnya dan bahkan bisa dibilang telah dihafalnya di luar kepala. Tapi sekali lagi, saat ini ia tak dapat berpikir jernih hingga akhirnya ia merasa bahwa dirinya tak patut memusingkan hal itu sekarang meskipun dorongan rasa penasaran tetap saja memenuhi serebrum-nya. Tap apa mau dikata. Toh, pikirannya sudah terlanjur galat.

"Nggghh, Draco …" desah gadis itu lagi, membuat darah pemuda yang disapa dengan nama 'Draco' itu kembali berdesir damai. Tanpa banyak komentar lagi, Draco kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir mungil nan ranum gadis itu. Melumatnya perlahan hingga akhirnya turun menuju leher sang gadis, menggigitnya pelan hingga sebuah kissmark berhasil tercetak jelas di sana.

"Draa…coohh …" lenguh gadis itu lagi, membuat Draco seakan kehilangan logikanya hingga akhirnya ciumannya berlanjut ke bagian-bagian terlarang tubuh gadis itu, bahkan mereka pun melakukan 'itu'. Dan pada akhirnya …

"Ah, Draco …" Desahan-desahan merdu pun mengalun sepanjang malam itu. Kamar dengan dominasi warna hijau—khas Slytherin menjadi saksi bisu keduanya.

.

.

-OoOoO-

.

.

Perlahan tapi pasti, kedua kelopak itu kini mulai membuka pelan, menampilkan sepasang sorot kelabu yang berpendar sayu di baliknya. Draco mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali hingga akhirnya retinanya berhasil menangkap fokus keadaan sekitarnya.

Tak ada yang berubah dengan ruangan kamarnya. Sama seperti semalam terakhir kali ia memindai langit-langit kamarnya sesaat sebelum ia kedatangan sosok gadis misterius di ambang pintunya yang kemudian …

bercinta dengannya …

Oh, tidak … Apa yang telah dilakukannya? Apakah semalam ia telah mengkhianati Hermione dengan bercinta bersama gadis lain? Ia menoleh ke sisi sebelah kirinya. Kosong, nihil. Tak ada siapa-siapa. Ke mana gadis misterius itu? Tidak mungkin, 'kan, kalau sosok gadis itu adalah hantu Hogwarts?

Oh, betapa tak lucunya jika sampai beredar kabar di Hogwarts bahwa seorang Draco Malfoy telah melepas keperjakaannya bersama seroang hantu wanita yang tak jelas asal-usulnya. Dan bagian terburuknya adalah ia pun cukup menikmatinya! Oke, bukan sekadar 'cukup', tapi sangat! Janggut Merlin! Well, jangan salah, meskipun cassanova begitu, Draco itu masih perjaka, lho! Serius.

Jari-jemari pucatnya bergerak memegangi keniningnya yang serasa berdenyut-denyut menyakitkan. Kepalanya terasa sangat berat dan teramat pusing, dan … Ia merasa ada yang aneh dengan selangkangannya. Batinnya gelisah, maka tak menunggu lama, ia pun segera menepis selimut berwarna hijau zamrud yang menutupi tubuhnya. Matanya dengan cepat bergulir ke bawah, ke arah 'sesuatu' yang megganjal perasaannya itu.

Menepuk keningnya pelan seraya berujar dungu, "Merlin! Aku mimpi basah!" pekiknya tertahan seraya membekap mulutnya sendiri lengkap dengan raut konyol yang terpampang di wajahnya. Draco menarik napas panjang sebelum beranjak ke kamar mandi setelah merapalkan mantra 'Scourgify' pada sepreinya yang agak clammy itu.

.

.

-OoOoO-

.

.

"Kau kenapa, mate?" sapa Blaise Zabini, sahabat karib Draco yang berdarah Italia.

"Hoi, mate! Bumi memanggil!" sentak Theodore Nott tiba-tiba, yang kontan saja membuyarkan pusat konsentrasi seorang Draco Malfoy.

"Tidak! Cuma teringat mimpi basah semalam!" ceplos Draco tanpa sadar dengan suara yang cukup keras untuk sekadar mengalir lewat cuping telinga masing-masing siswa-siswi Hogwarts yang tengah menikmati sarapan mereka di aula besar.

'Krik … Krik … Krik …'

Sontak semua mata tertuju pada Draco Malfoy seorang.

Percayalah, hal pertama kali yang akan dikatakan oleh orang yang sedang terkejut adalah 70 % dari hal yang paling dipikirkannya ketika itu.

Oh, tidak. Bahkan mungkin para profesor pun dapat mendengar jelas ceplosan pekikan memalukan seorang Draco Malfoy! Buktinya sekarang profesor McGonagall terlihat tengah berusaha menyembunyikan senyumannya—oh, atau mungkin lebih cocok disebut kikikan, eh?—di balik mangkuk sup bawang yang mengepul panas di hadapannya.

Semburat merah muda perlahan mulai menjalari wajah pucat Draco. Woa! Seorang Draco Malfoy bersemu, eh? Ah, bagaimana tidak? Setelah pekikan memalukannya beberapa waktu lalu itu, kini seluruh pasang mata terlihat masih terkejut dan memandang ingin tahu ke arahnya. Terlebih lagi para gadis. Mereka sibuk berdiskusi dan bergosip dengan teman semejanya mengenai 'siapa gadis beruntung dalam mimpi basah seorang Draco Malfoy itu?' atau seperti ini 'Wow, bagaimana, ya, kira-kira mimpinya?'

Dan semua bisik-bisik itu cukup sukses membuat Draco melemparkan deathglare secara cuma-cuma terhadap dua makhluk tak berotak yang telah membuatnya keceplosan mengatakan hal memalukan itu, yang kini justru saling cekikikan di tempatnya. Draco Malfoy yang duduk di antara keduanya dengan segera menyentil bibir tebal Blaise Zabini dan menjewer kuping Theodore Nott dengan kesal, membuat kedua pemuda berkulit gelap dan putih itu saling meringis kesakitan.

Jika Theo sibuk mengusap-usap telinganya yang kini memerah, lain lagi halnya dengan Blaise yang justru sibuk mengolesi minyak zaitun yang selalu dibawanya ke mana-mana dalam jubahnya di atas bibir tebalnya. Ibunya bilang, minyak zaitun baik untuk kecantikan. Dan Blaise Zabini menganggap bibir tebalnya itu adalah bibir seksi menggairahkan, yang tentu saja masuk dalam salah satu daftar 'kecantikan' versi seorang Blaise Zabini. Oh, atau mungkin daftar ketampanan lebih cocok, eh?—Well, itu pun kalau Blaise menganggap dirinya lelaki tulen.

.

.

-OoOoO-

.

.

"Hermione, tunggu!" Hermione menegang di tempatnya berdiri. Buku-buku yang berada di pelukannya kini ia dekap semakin erat tatkala mendengar suara husky yang sudah teramat sangat dikenalnya itu. Akhir-akhir ini ia memang kembali mencoba untuk menjaga jarak dari Draco Malfoy dengan cara menghabiskan lebih banyak waktunya dengan duduk berjam-jam di dalam perpustakaan sembari membaca buku-buku tebal dengan alibi bahwa dua hari lagi mereka akan N.E.W.T.. Tetapi sebenarnya itu lebih kepada bentuk penghidarannya terhadap Draco.

Hermione Granger adalah gadis bluestocking yang teramat jenius untuk ukuran penyihir seusianya. Jadi seharusnya ia tak perlu terlalu mendekam diri seperti itu, 'kan?

Meskipun sebenarnya hatinya menolak keras, tapi toh, gadis itu tetap berbalik dengan berpura-pura menyetel wajah tegarnya meskipun hatinya sebenarnya merasakan perih tak berujung.

"Ya, Mister Malfoy?" ujarnya beberapa saat ketika Draco sudah menjulang tegap di hadapannya. Sengaja menekankan suaranya di dua kata terakhirnya.

"Oh, kumohon, cukup panggil aku Draco saja, Mione …" Draco mendengus sebal dengan raut setengah memelas.

"Oh, baiklah. Apa ada yang bisa saya bantu?" Hermione mengulum senyum tipis, ia beranggapan bahwa dengan bersikap seperti itu setidaknya bisa membuat Draco cukup 'jauh' darinya.

"A … Aku … Aku hanya ingin memberimu ini," sahut Draco seraya menyodorkan sebuah undangan mewah berwarna hijau dengan berbagai hiasan rumit khas seorang Slytherin kepada gadis curly di hadapannya.

Gadis Gryffindor itu menyipitkan matanya pertanda bingung. Undangan apa? Dengan segala pikiran yang berkecamuk dalam otaknya, tak urung jemari mungilnya meraup undangan itu dari tangan Draco. Tangannya terlihat bergetar tatkala bola mata karamelnya mulai memindai tulisan tegak bersambung rapi nan indah di sampul luar undangan itu.

Undangan pertunangan? Yang benar saja? Setega itukah Draco sampai mengundangnya ke pesta pertunangannya dengan Astoria Greengrass? Tak mengertikah pemuda itu jika dia seolah-olah telah menancapkan belati perak yang menghunus tepat di jantung Hermione? Tak tahukah pemuda itu bahwa rasa sakit kontan menjalari setiap inci permukaan hatinya, membuat gadis itu kesulitan mengikat oksigen di sekitarnya? Keterlaluan. Benar-bena keterlaluan.

Hermione tak lagi sanggup membendung perasaan dismal yang bergumul memenuhi setiap celah hatinya. Ia tak sanggup menelan pil disilusi ini secara bulat-bulat. Hingga akhirnya mau tak mau pertahanan yang sedari tadi dijaga ketat olehnya kini meluruh bersama sesak yang membuncah dadanya. Hermione Jean Granger kembali menangis. Menangisi takdir dan jalan hidup yang begitu ironi terhadapnya.

Ah, seorang Hermione Granger menangis di hadapan seorang Draco Malfoy? Untuk situasi sekarang, itu cukup memalukan, kau tahu. Menangisi calon suami orang lain langsung di hadapannya sungguh memalukan. Tapi mau bagaimana lagi? Salahkan buliran air mata yang dengan seenaknya keluar menerobos pelupuk baja Hermione.

"Hey, Dear … Mengapa menangis?" tanya sebuah suara dengan tak berperasaannya.

'Ia baru saja mengundangku ke acara pertunangannya dengan wanita lain lalu kemudian bertanya dengan polosnya tentang apa yang membuatku menangis?! Hell!' Hermione membatin kesal. Lalu kemudian mendongak menatap netra kelabu di hadapannya. Hermione benci mengakuinya, tapi … Ia sangat menyukai tatapan itu, tatapan menenangkan seorang Draco Malfoy.

"Kumohon Draco, jangan ganggu aku lagi. Lupakan aku," ucap Hermione bergetar.

"Hey! Kau berkata apa, sih? Kau belum membacanya, 'kan?"

Demi kolor Merlin, Hermione benar-benar merasa ingin mencekik pemuda pirang menyebalkan itu. Dari sampulnya saja sudah sukses membuat Hermione meluruhkan air mata, dan sekarang pemuda itu memintanya untuk membaca isinya? Bodoh kau, Malfoy!

Dengan segenap perasaan yang membuncah, Hermione dengan secuil ketegarannya yang masih tersisa mencoba membuka undangan itu dan mulai membaca isinya. Tak perlu waktu lama, hanya butuh waktu tiga detik bagi Hermione untuk membeliakkan manik hazelnya dengan tak percaya.

"Draco Lucius Malfoy dan Hermione Jean Granger?!" pekik Hermione tanpa bisa ia cegah. Pemuda di hadapannya hanya menyeringai tipis, sebelum kembali berujar.

"Bagaimana menurutmu? Undangannya bagus, 'kan?"

"Ta … tapi ….. Ba…bagaimana dengan Astoria?" Raut wajah Draco langsung berubah drastis menjadi datar tak berekspresi.

.

.

.

To Be Continued

.

.

|Pojok Author|

Terima kasih bagi yang masih setia menunggu hingga sekarang dan membaca kelanjutan fict ini. Tanpa kalian, mungkin saya gak akan bakal update2 sampai sekarang. Terima kasih juga bagi yang terus-terusan mengingatkan saya, u rock, Guys! :D

Dan saya mohon maaf apabila chapter ini jauh dari harapan kalian dan bahasa serta penyampaiannya semakin buruk. Bahkan saking sibuknya di RL, saya sampai nyaris lupa gimana caranya 'menulis', padahal semua ide dan plot sudah tersusun jelas dan rapi dalam kepala saya.

Oh, iya, mengenai chapter ini, saya juga sebenarnya gak tahu gimana mimpi basah itu terjadi sama cowok. Cuman yang saya inget, dulu guru bio saya pernah bilang kalau seorang cowok yang mimpi basah itu biasanya gak bisa ngeliat sosok gadis di dalam mimpinya dengan jelas, kayak di-blur gitu mukanya, hehe ….

Btw, awalnya Loony berniat untuk meng-update fict MBiF ini sekaligus dengan The Ending chap 5 dan Cintaku Tak Lekang oleh Tompel chap 2, tapi apa daya … Ternyata minggu ini Loony disibukkan dengan berbagai kegiatan baksos, seminar, dan juga kepanitiaan try out buat anak sekolahan yang bentar lagi UN (dan tentu saja semua pembahasannya harus matang biar adik2 yg masih SMP bisa lulus dengan nilai baik XD!), jadi, yaahh … Saya benar-benar gak punya banyak waktu buat nulis fict … Gomen T_T *bungkuk2 …

Sekali lagi terima kasih banyak bagi semua reviewers dan readers… Loony cinta kalian xD! Btw, review lagi, ya? Biar Loony tetep semangat nulis kelanjutan fict ini :) See u …

P.S. : Akhir-akhr ini FFn lagi 'cukup bermasalah'. Sebagian operator dan jaringan sudah nge-blok ffn, sehingga lumayan banyak author yang agak kesusahan buat buka situs ffn (bahkan ada yang gak bisa2 buka), dan untuk itu, Loony juga mewanti2 kalian, siapa tahu Loony juga kena blokir dan gak bisa lagi buka situs ffn :( …

Well, terus gimana dong dengan cerita-cerita Loony yang masih going on?

Nah, untuk mengantisipasi dan sekadar jaga2, Loony cuma mau bilang sama kalian (pembaca setia fict Loony kalau ada, sih *sangsi juga sebenernya) kalau ntar Loony udah gak update2 lagi karena mungkin udah kena blokir (tapi semoga, sih, jangan sampai, ya -_-), nah, kalian tetep masih bisa baca kelanjutan fict-fictnya Loony via facebook!

Check here Ms. Loony Lovegood … Searching aja! ;)

.

.

Salam,

Miss Loony.