Just Information! Saya masih belum bisa update chapter 6 karna kehidupan nyata yang lagi ribet-ribetnya. Jadi saya mohon maaf!
Sakura yang mendapat tatapan itu langsung gugup seketika. Dia pun berusaha mengalihkansuasana dengan bercanda. "Aah k-kau pasti sangat ingin minum ini, kan? Nih!" tawar Sakura menggerakkan botol wine sambil tersenyum kikuk karena pria itu masih terus menatapnya dengan tatapan yang selalu berhasil membuat hatinya melumer.
"Aku tahu cara lain untuk meminumnya." Ucap Naruto membuat Sakura bingung. Naruto berjalan menghampiri Sakura dan...
Namun dia tak mengambil botol wine itu, dia langsung merengkuh tubuh mungil Sakura kedalam pelukannya dan membenturkan bibirnya pada bibir Sakura.
CUP
Mata Sakura membulat saat ciuman pertamanya telah dicuri oleh Naruto. Namun, tubuhnya seakan tak mau mendengarkan perintah dari otaknya dan perlahan dirinya pun hanyut kedalam ciuman itu. Dia menutup matanya dan mulai membalas ciuman Naruto, namun tak terlalu mendominasi. Tanganya yang sedang menyodorkan botol anggur perlahan-lahan turun ke bawah.
Ciuman mereka berlangsung cukup lama, hingga Naruto memisahkan ciuman mereka. Pria itu mengambil botol wine yang masih ditangan Sakura, dan meletakannya di meja. Sementara Sakura menundukan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah pada kedua pipinya yang sudah sangat pekat.
Mata Naruto masih belum lepas dari Sakura, namun wanita itu masih terus menunduk membuat Naruto mengerutkan keningnya. Naruto meraih dagu wanita itu, membuat green forest dan ocean blue tertaut kembali. Perlahan Naruto kembali mendekatkan wajahnya hendak melanjutkan ciuman mereka, tapi tanpa dia duga, Sakura secara cepat menggeser kepalanya ke samping, menghindari ciuman kedua mereka.
Naruto terdiam sejenak menatap sakura yang tampak gelisah, dia kemudian menjauh wajahnya dan melepaskan pelukan.
"O-oyasuminasai..." ucap Sakura sambil berusaha menghindari tatapan Naruto. Dia meraih botol wine itu. "K-kau s-sudah memberikan ini padaku... J-ja-jadi aku akan membawanya."
Naruto masih terdiam menatap kepergian Sakura, tak berniat sedikit pun untuk mengejar ataupun menghentikan wanita itu.
"Aku adalah seorang prajurit. Prajurit harus mengikuti perintah..."
-NAMIKAZE NARUTO-
.
"Aku adalah seorang dokter. Aku percaya kehidupan itu suci, dan tak ada nilai atau ideologi yang dapat menggoyahkannya."
-HARUNO SAKURA-
.
.
.
.
DISCLAIMER: I DO NOT OWN NARUTO. All publicly recognizable Naruto characters, settings, etc. are the property of SJ and the mangaka. No money is being made from this work. No copyright infringement is intended. Big influence from DRAKOR/Korean Drama (2015-16): Descendant of The Sun. Starred By Song Joong-ki and Song Hye-kyo Almost total same-plot! I write this only for fun! FOR FUN!
.
.
.
.
Warning (s): AU SETTING CANON, ACTION-ROMANCE, Drama, OOC LUAR BIASA, TYPO & ALUR DENGAN KECEPATAN MOTO GP.
.
.
.
.
Naruto as Yoo Shin-jin
Sakura as Kang Mo-yeon
Shikamaru as Seo Dae-young
Ino as Yoon Myung-ju
.
.
.
.
BLACK FOX
Naruto (Alpha Fox) [Kapten]
Shikamaru (Buckman) [Sersan Mayor]
Neji (Shinigami) [Sersan Kepala]
Sai (Mr. innocent) [Sersan Kepala]
Kiba (Inu) [Sersan dua]
.
.
.
.
SOLDIER X DOCTOR
VVVVVVVVVV
VVVVVVVVV
VVVVVVVV
VVVVVVV
VVVVVV
VVVVV
VVVV
VVV
VV
V
[五]
Waktu sudah menunjukkan pukul 01:45, tapi Sakura masih terjaga didalam tendanya, dia duduk di atas kasur sambil mengelus bibir botol wine yang dia bawa tadi. Saat ini ia tidak bisa tidur, pikiranya masih terus melayang-lanyang mengingat kejadian yang baru saja terjadi antara dia dan Naruto. Itu adalah ciuman pertamanya dan ciuman itu dia dapatkan dari pria yang selalu membuat jantungnya berdebar. Namun, mengingat tentang hubungan mereka yang rumit membuatnya tak tahu harus bahagia atau sedih. Dia sudah tahu, bahwa dia mencintai Naruto sejak pertama bertemu, tapi dia sangat tak menyukai pekerjaan Naruto. Sakura tak tahu, apakah dia bisa menerima perkerjaan Naruto yang selalu merugikan hubungan mereka atau tidak. Tapi yang jelas saat ini dia merasa sangat bingung.
Sakura kembali mengingat perkataan Naruto sepulangnya dari upacara pemulangan jenazah sahabatnya. Ketika Naruto membentaknya untuk pertama kalinya.
FLASHBACK ON
"Ya, dia adalah rekanku. Kau ingat saat kaisar Uzushio mengatakan nama Nagato? Dialah jenazah itu." Mata Sakura langsung membulat. "Kami melakukan tiga misi gabungan, waktu itu kami dikenal dunia sebagai tim super elit."
"Tapi, apa yang terjadi?"
"Apa yang terjadi? Lucu kau bertanya... Inilah yang terjadi saat kami mencoba untuk membela perdamaian."
Sakura menatap Naruto cemas. "Itu berarti... Itu berarti... kalau begitu, k-kau... kau juga bisa saja—"
"—Kalau begitu, tak usah bicarakan ini lagi!"
FLASHBACK OFF
Naruto yang sudah berada dikamarnya juga masih tak bisa tidur. Pria itu kemudian bangkit dan mulai melepas setelan jas militer-nya yang masih dia pakai sejak tadi. Ia menghembuskan nafas berat, ketika mengingat semua kejadian yang terjadi padanya dalam satu hari ini.
SOLDIER X DOCTOR
TAP!
TAP!
Di jam yang sama. Wanita berambut merah terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara langkah kaki seseorang yang masuk ke rumahnya. Dengan cepat ia mengambil dan memakai kacamatanya kemudian berdiri setelah meraih pistol yang berada dalam laci meja tidur. Wanita itu berjalan sambil menodongkan pistolnya dan akhirnya bisa melihat bayangan seorang pria tengah berdiri di depan tirai.
"Drop the gun!" Ucap orang itu.
Mata wanita itu membulat ketika mendengar suara orang itu, suara yang sudah beberapa bulan ini tak pernah didengarnya lagi. Dengan cepat ia menyibak tirai, dan benar, sosok yang dikenalnya berdiri dibalik tirai. Pria berambut raven dengan mata onyx kelam-nya tengah menatap dirinya dengan lembut.
"Apa kau tak menyebabkan masalah selama aku tak ada?" tanya pria itu.
Wanita itu manutkan alisnya kesal dengan mata berkaca-kaca, "Kenapa tidak kau lihat sendiri hah? Tak bisakah kau memberitahuku kapan kau harus pergi dan kembali?
"Oke.." Pria itu mencopot jas. "Aku 3 bulan di Kusa, 1 bulan di perbatasan Oto-Ame bersama Suigetsu—"
"—Sasuke-kun!" Wanita itu menyela, ia memukul-mukul dada pria bernama Sasuke itu dengan pistol yang masih di tangan. "Kau pergi tanpa pamit, dan kau mengatakan kau baru saja pergi ketempat yang sangat berbahaya."
"H-hei Karin, sekarang berada didekatmu jauh lebih berbahaya. Tak ada yang lebih berbahaya dari pada saat bersama calon istri yang menodongku dengan pistol."
Wanita bernama Karin itu akhirnya berhenti memukul Sasuke, ia kembali menyimpan pistolnya. Selesai menyimpan pistol itu wanita itu langsung memeluk Sasuke yang langsung dibalas oleh Sasuke. "Lalu... Kau pulang bersama Hiu sialan itu?"
Sasuke terdiam mendengar nama panggilan 'sayang' dari karin untuk Suigetsu. "Suigetsu... Dia sudah tenang dirumah barunya.."
"Rumah baru?" tanya Karin.
Sasuke tak menjawab dan hanya diam saja. Matanya terus menatap ke foto di dinding. Foto dirinya, Karin, dan Suigetsu yang berpose saling merangkul.
Karin merasa aneh dengan tatapan kosong penuh kesedihan dari Sasuke, dia kemudian mengikuti arah tatapan Sasuke, dan akhirnya ia bisa menerima maksud dari Sasuke, lalu wanita itu beralih ke jas Hitam Sasuke, matanya kembali berkaca-kaca menahan air mata.
"Pembangkit energi Surya tidak membahayakan lingkungan dan aman bagi tanaman. Pembangunan dalam rangka perdamaian, dimulai setelah perang di Ame selesai. Di Solar Power Sector, KI Group. Kita berusaha memenangkan segi konstruksi dari kekuatan tanaman." jelas wakil manager konstruksi, Tazuna pada tim medis.
Saat ini Sakura dan timnya sedang berada di tempat pembangunan pembangkit listrik yang berada di ditengah-tengah padang lembah Gedo mazou. Dengan luasnya berhektar-hektar semuanya penuh diisi oleh alat-alat penyerap energi surya. Pada tengah tempat itu sendiri berdiri sebuah tower yang menjulang tinggi. Membuat semua relawan medis terkagum-kagum melihatnya. Tak bisa mereka sangka rumah sakit mereka punya dana untuk membuat pembangunan mahal ini disini.
"Ohayou, Tazuna-kaicho!" Sapa para pekerja.
"Ohh ohayou!"
"Anda tahu, saat keluar dan melihat papan-papan berbahasa Konoha, entah mengapa aku merasa terharu." Ucap Kakashi takjub melihat ada tulisan banyak tulisan kanji konoha dari ujung ke ujung proyek itu.
"Hahahaha... Orang Konoha kalau sudah keluar negeri, semuanya jadi cinta tanah air." Ucap Tazuna.
"Sugoi!" Sakura takjub melihat menara yang menjulang tinggi itu. "Rasanya aku ingin menaiki itu."
Tazuna menoleh untuk melihat objek apa yang dimaksud Sakura. Dia hanya tersenyum ketika melihat menara itu. "Baguskan?"
"Wakil manajer?"
"Ah apa mau mu—ah y-ya ada apa?" Ucap Tazuna terkejut ketika menyadari kehadiran sang atasan. "Ah kenalkan. Ini adalah kepala manajer."
Pria pendek berkacamata hitam bulat berjalan mendekati mereka dan menyerahkan kartu namanya pada Sakura. "Aku bukan dari KI group... Aku adalah kepala manajer Ame Electric Power Corporation, Mr. G."
"Gato?" Ucap Sakura membaca tulisan pada kartu nama itu.
"Shibasaki G-A-T-O-U. Itu nama lengkap ku! Lebih baik kau panggIl saja dengan Mr. G!"
Tazuna tertawa. "Kami sendiri memilih memanggilnya dengan gaya yang lebih Konoha, manajer Jii. kalian juga bisa memakai nama panggilan itu kalau kalian mau hahahaha.."
Tazuna terdiam menelan ludahnya ketika mendapat tatapan menusuk dari Gatou. "Harus berapa kali lagi, aku menyuruhmu memanggil nama ku dengan benar?" Tanya Gatou.
"S-sumimasen!" Tazuna menunduk meminta maaf.
Gatou menoleh kembali pada tim relawan medis. "Dengar, aku bukanlah seorang pekerja konstruksi. Itu terlalu rendah dari level ku saat ini. Aku adalah pengelolah seluruh proyek Ame Electric Power Corporation, dengan kata lain akulah yang bertanggung jawab di tempat ini... Aku dikenal sebagai manajer yang ramah dan tak pelit. Banyak klien ku yang sengat puas dengan kinerja ku Bla.. Bla... Bla.."
Mereka semua menatap pria itu dengan rasa bosan. Malas mendengar kesombongan pria berkacamata hitam bulat itu, seluruh anggota relawan berbalik berjalan meninggalkan Tazuna dan Gatou.
"... Dan aku ini juga adalah Penanggung jawab monumen patung wajah presiden kono—hei kenapa kalian meninggalkan ku? Aku belum selesai bicara!" tanya Mr. G pada Tazuna. Tazuna hanya diam menundukan kepala.
Saat berada ditenda relawan medis di proyek itu, Sakura mendapat telfon dari Lee. "Senpai! Aku punya kabar baik dan kabar buruk."
Sakura berpikir sejenak. "Baiklah, yang baik dulu."
"Hmm kau tahu anak kecil yang menderita keracunan timbal? Akhirnya aku tahu namanya... Bureki desu!"
Sakura tersenyum mendengar kabar baik itu. "Umm nama yang aneh... Kabar buruknya?"
"Bureki hilang!"
"APA?!"
"Kapan terakhir kau melihatnya?"
"Jam 9. Aku memeriksa infusnya lalu pergi hendak mengambil cemilan untuknya." Jawab Moegi menundukan kepala.
"Ini! Bureki meninggalkan ini." Lee menyodorkan selembar kertas dengan gambar rumah, pepohonan dengan sebuah patung yang tak jelas bentuknya, dan jalan simpang tiga. "Sepertinya dia pulang ke rumahnya... Apa harus ku cari?"
"Memangnya kau bisa mencarinya hah? Tempat ini dikelilingi oleh pengunungan dan hutan belantara. Apa kau bisa?" Semprot Sakura yang sudah sangat kesal dengan kecerobohan Lee dan Moegi.
"K-kita kan bisa minta bantuan dari Naruto-Senchō."
Mata sakura melotot mendengar nama pria itu. Sejak tadi pagi dia berusaha menghindari segala hal tentang pria itu bahkan hanya mendengar namanya saja sudah membuat pikiranya melayang kembali pada kejadi semalam. "Jangan coba-coba! Jangan sampai dia mengetahui hal ini, dengar!"
"Ano.. Sakura-senpai, sebenernya... Dia sudah mendengarnya sejak tadi."
"Apa?! Bagaimana bisa kau begitu ceroboh hah?"
"Ya itu karena dia menyuruhku tetap diam dan sudah berdiri dibelakangmu sejak tadi."
Sakura terdiam ketika Lee memberitahunya tentang kehadiran pria yang sejak tadi pagi dihindarinya. Potongan gambar-gambar kejadian semalam pun terus berputar di kepalanya membuat degup jantungnya berdetak lebih kencang. Wajahnya bahkan sudah memerah total. Dia langsung membuang wajahnya memerahnya ke arah lain saat Naruto berdiri disebelahnya. Berusaha menutupi wajah memerahnya.
"Oke... Keterangan kalian sangat membantu. Mari kita lihat lagi gambarnya." Ucap Naruto menerima gambar buatan Bureki.
"Itu yang digambar Bureki."
Naruto menatap dengan terliti setiap sudut gambar tak menghiraukan Sakura yang sejak tadi terdiam gelisah dengan kehadirannya. "Dia menggambar peta?"
"Mungkin, kau tahu dimana ini?" Tanya Lee.
"Ini pepohonan Zetsu... dan ini adalah patung kuno yang katanya pengunci para bijuu di era ninja, patung Gedo Mazou..." Naruto melirik Lee dan terdiam sejenak. "Dokter Lee, Bureki itu... sebuah desa, ya, desa ini, dattebayo!"
Lee hanya meringis malu, ketika mengetahui kebenaran 'Bureki'. "Jadi... Bureki itu nama desa... Ya?"
"Kalau begitu kau belum mengetahui namanya! kau bahkan tak bisa menemukan namanya, bagaimana bisa kau mencarinya? Rapatkan saja mulut mu agar aku tak bisa merontokkan semua gigi mu mahkluk hijau sialan!" Geram Sakura sambil mengangkat tinjunya. Wanita itu kikuk ketika menyadari Naruto sedang menatapnya, dengan cepat dia kembali memunggungi Naruto.
"Gomen senpai. K-kalau begitu, aku akan berusaha mencarinya, biar aku yang mencarinya." Ucap Lee pada Sakura dengan mulut yang tertutup rapat. "Apa desa itu jauh dari sini?"
"Hmm... Anak-anak disini sering datang kemari untuk memeinta makanan ringan... Mereka bercerita pada ku, mereka memerlukan 6 jam untuk sampai ketempat ini."
"Apa boleh buat... Kau yang menggantikan ku melakukan check-up medis untuk para pekerja bersama dengan Kakashi-sensei hari ini! Aku sendiri yang mencarinya."
Lee terkejut. "Kau pergi sendirian?"
"Tenang saja, mana mungkin aku pergi sendirian. Orang ini pasti akan mengikuti ku." Ucap Sakura melirik Naruto melalui ekor matanya sebentar. Sakura menarik napasnya lalu menguatkan diri untuk menatap Naruto. "Kau bisa membantu ku?"
Naruto memutar-mutar handuk kecil yang yang dibawanya. "Hmm... kita akan pergi sepuluh menit lagi, dattebayo!"
Sakura duduk dengan risih didalam mobil. Bagaimana tidak risih, mobil yang dia tumpangi sedang dikemudikan oleh pengemudi yang lebih fokus menatapnya, ditambah sang pengemudi adalah orang yang ingin dia hindari. Wajahnya sudah memerah ketika dirinya terus diperhatikan oleh Naruto.
"L-lihatlah kedepan, Baka! kita bisa kecelakaan nanti."
Naruto kembali memfokuskan diri pada jalan. Mereka berdua hanya diam sejak pergi dari kompi. Dan ucapan Sakuralah awal dari pembicaraan mereka di dalam mobil.
"Ini satu-satunya jalan untuk menuju ke desa itu. Mungkin kita akan menemukan dia di jalan."
"Baguslah." Jawab Sakura singkat.
Naruto terdiam merasakan kekakuan pada hubungan mereka saat ini. "Apa kau tidur nyenyak semalam?"
"B-bagaimana bisa aku tidur nyenyak, ketika seorang pria idiot telah mencuri ciuman pertama ku..."
Naruto melirik Sakura sebentar. "Tentang semalam—"
"—Aku mencoba untuk tak membicarakannya. Apa kau tak lihat?"
"Kenapa kau menghindarinya?" Tanya Naruto menoleh.
"Karena aku bingung! Aku akan terus menghindarinya sampai aku yakin pada diriku sendiri."
Naruto kembali memfokuskan diri menyetir. "Tak apa kau menghindariku atau marah padaku tapi aku tak ingin kau merasa buruk dengan semalam. Aku akhirnya melakukannya setelah ratusan kali meragukannya."
Sakura menoleh menatap Naruto. Tepat saat itu, mereka sudah sampai di sebuah padang rumput dan disana ada banyak domba peliharaan warga. Dan mereka bisa melihat anak yang sedang mereka cari tengah bermain diantara domba itu.
"Itu dia!" Ujar Naruto. Pria itu menekan klakson untuk membuat anak itu menyadari kehadiran mereka.
TIN!
TIN!
Dan anak itu langsung menoleh dan tersenyum ketika melihat mereka berdua. Dia melambaikan tanganya untuk menyapa mereka.
Sakura selesai menggambarkan bulan dan matahari pada selembar kertas dengan menggunakan pena milik Naruto yang dia pinjam. Kemudian dia menujuk matahari dan juga menunjuk beberapa botol obat. "Satu kali pada pagi hari!" Ucap Sakura, ditambah dengan bahasa tubuh. Dia kembali menujuk gambar bulan. "Malam juga satu kali."
Ibu dari anak itu menganggukkan kepala menjawab ucapan dari Sakura. "Dyakuyu, dyakuyu vam. (Terimakasih, terimakasih banyak)"
Sakura tersenyum dan menoleh ke arah Naruto yang sedang duduk di jendela. "Apa dia mengucapkan terimakasih?"
"Dia tak mungkin mengucapkan: 'pergi sana!', kan?" Jawab Naruto membuat Sakura menatapnya kesal. "Lagipula, kenapa kau harus merepotkan diri mu begitu? Aku kan bisa membantu mu menerjemahkannya!"
"Sudah ku bilang urusan medis biarlah aku yang mengurus tugas mu hanya menemaniku!" dengus Sakura. Wanita itu melirik keluar jendela ketika melihat para anak-anak tengah bermain di bawah sebuah pohon yang memiliki akar yang kokoh yang keluar dari tanah sebagai tempat dudukan mereka. Dia melihat salah satu anak yang dia jumpai tengah menjilat sesuatu saat pertama kali tiba disini. Dia menujuk kearah anak itu, membuat Naruto mengikuti arah yang ditunjuk Sakura. "Mereka anak-anak yang menjilati besi waktu itu, kan?"
Anak-anak itu pun menyadari jika mereka sedang diperhatikan oleh Naruto dan Sakura. Mereka melambaikan tangan mereka untuk meyapa keduanya.
"Hmm... Ingatan mu bagus juga, dattebayo!"
"Begitulah, aku tak bisa melupakan sesuatu dengan mudah." ungkap Sakura sambil membalas melambaikan tangan pada anak-anak itu.
"Melupakan apa?"
"Semuanya, jadi aku tak ingin kau melakukan atau mengatakan sesuatu yang mengesankan bagiku."
Ino terkejut dan terheran-heran saat melihat berbagai macam perlengkapan yang ada di atas meja. Seperti; jam tangan, kacamata, pena, dan lainnya. "Whoa! Apa biasanya kita akan mendapatkan pasokan yang mewah seperti ini saat ditugaskan?"
Yamato menghentikan kegiatannya pada komputernya. "Ada banyak pasukan dari berbagai negara yang datang kesini... Dan beberapa perusahaan berkelas dari Konoha, tak ingin membiarkan pasukan Konoha datang kesini dengan lesu. Jadi mereka mengirimkannya untuk meningkatkan semangat para prajurit."
"Hmm baiklah."
"Jadi... Ayahmu apa kabarnya?"
Ino berpikir sejenak. "Beliau baik-baik saja."
Yamato menganggukan kan kepala dan melipatkan tanganya ke dada sembari menyadarkan tubuh pada kursi. "Kau tahu? Aku ini sangatlah dekat dengan beliau. Dan aku terkejut mengetahui kau datang kesini, tak disangka kita bertemu lagi di luar negeri begini hahahaha..."
"O-oh begitu ya.." Ino pura-pura mengerti. Dia merogoh katongnya ketika merasakan ponselnya bergetar. "Ah aku permisi sebentar. Ini telepon penting."
"Oke oke jawab saja. Apa dari Komandan?"
Dengan cepat Ino berdiri. "Telfon ini lebih penting dari itu. Sonkei!" Yamato hanya mengangguk. "Halo? Ini aku. Laporkan!" Ucapnya sambil berjalan keluar dari tenda.
Konoha Special Force Headquarter, Konohagakure, Konoha.
"Dia makan malam jam 7 malam. Nge-gym jam 8 malam. Kembali ke barak jam 9 malam dan mengomeli siswa pendidikan pasukan khusus." ucap seorang prajurit staf kantor dari pasukan khusus sambil membaca selembar kertas pada papan ujian. "Jam 9:30 dia pergi ke—" Prajurit itu memutar kursinya kebelakang dan melihat seorang pria nanas tengan menatapanya dengan tangan terlipat di dada. Secara cepat dia langsung bersembunyi dibawah meja.
"Lalu apa?"
"J-jam 09:40, saat ini, aku menarik perhatiannya!" Bisik prajurit itu gugup dan bertambah gugup ketika mendengar suara langkah kaki semakin mendekat.
"Benarkah? Aku iri sekali pada mu! Lalu?"
Prajurit itu menelan ludahnya ketika semakin mendengar suara langkah kaki yang mendekati posisinya bersembunyinya. "Dia berjalan menuju ke arahku. Satu langkah, dua langkah. Apa yang harus aku lakukan?" Dia bangkit berdiri ketika pria itu sudah berdiri didepan mejanya, dengan cepat prajurit itu membalik papan ujian yang dia baca tadi dan tersenyum kikuk. "Jadi apa yang harus ku lakukan?"
"Apa yang aku inginkan kau lakukan?" Tanya pria itu pada prajurit tadi. "Tutup telfonnya!"
Tentara itu menurunkan ponselnya. "T-tapi aku memintan perintah dari Letnan Ino... B-bukan d-dari Sersan Mayor Shikamaru."
"Apa hal pertama yang harus dilakukan jika kau tertangkap musuhmu?"
"M-menyerah?"
"Lakukan apapun yang 'musuhmu' perintahkan.. kau sudah disuruh apa saja olehnya?!"
"Akhirnya aku mendengar suaranya hari ini... Baiklah sudah ya!"
"H-hai! A-arigato! Sonkei!" Ucap prajurit itu terbata-bata. Pria itu menelan ludahnya menatap Naruto. "G-gomen."
"Kotetsu..."
"Sersan satu kotetsu!"
"Mau lari keliling lapangan atau memasak ramen untuk ku?"
Kotetsu berpikir sejenak, kemudian tersenyum lebar. "Tentu saja membuatkan mu ramen! Ramen spesial."
Shikamaru tersenyum mendengarnya. "Kalau begitu peras keringatmu untuk kuahnya. Lari!"
Senyuman diwajah kotetsu langsung hilang mendengarnya. "K-kalau begitu aku 'mandi' dulu." Kotetsu mulai berlari namun terhenti di pintu. "Oh ya, ada surat untuk mu. Di atas meja. Sonkei!" Ucapnya sebelum kembali melanjutkan hukumannya.
Setelah selesai urusan di Bureki, Naruto dan Sakura memutuskan mampir sejenak ke kafe di kota untuk makan siang. Sakura sejak tadi menyipitkan mata melihat seorang pelayan yang dari tadi tampil genit didekat Naruto. Sementara pria itu hanya terdiam kikuk mendapati tatapan dari Sakura yang melihat perlakuan genit yang memang sudah sering dia dan Shikamaru dapatkan dari pelayan itu jika mampir ke kafe ini.
Pelayan itu mengelus kumis rubah Naruto tak menghiraukan kehadiran Sakura yang duduk diseberang meja. "Some fresh wine just arrived. If you want it..." Pelayan itu medekatkan bibirnya pada telinga Naruto. "You know how to get it... Naruto-sencho..." Bisik pelayan itu sebelum pergi meninggalkan keduanya.
Setelah pelayan seksi itu pergi, Sakura menatap tajam Naruto membuat Naruto menelan ludahnya. "Kau memang pria yang hebat dalam memilih kafe. Sepertinya kau juga sudah sering kemari ya, kan?"
"Sersan mayor Shikamaru adalah pelanggan tetap disini! Aku memang pernah kemari menemaninya tapi dibandingkan tempat ini aku lebih suka ke pos pertukaran! Ketimbang makanan disini aku lebih suka makanan instan militer, dattebayo!" Ucap Naruto gugup.
"Benarkah? Sudahlah, tapi terimakasih untuk bantuan mu hari ini... Untuk itu, ini aku yang traktir." Ucap Sakura masih dengan anda sebal.
Naruto hanya menganggukkan kepala. "Baiklah!"
Sakura berpikir sejenak sambil melihat Naruto yang hendak memulai memakan makanan mereka. "Hmm karena aku yang traktir, bolehkan aku yang mengajukan pertanyaan padamu?"
Naruto mengehentikan kegiatannya, menatap Sakura sebentar dan yanya menganggukan kepanya lagi.
"Aku penasaran sekali, kenapa kau mau jadi seorang prajurit? Jangan ngomongin soal fantasi wanita ketika melihat seragam militer!"
Naruto terdiam sejenak menatap Sakura. "Seseorang harus menjadi prajurit." Jawabnya sambil kembali melanjutkan kegiatan makanya. "Sepertinya kau tak suka dengan pekerjaan ku. Itu sebabnya kau bingung dan ragu sekarang."
Sakura menatap Naruto. "Ku pikir kau sangat patriotik sampai mempertaruhkan nyawa demi negara."
"Patriotik bagaimana maksudmu?"
"Kau mencintai negara dan setia pada negara dan rakyatnya." Jawab Sakura cepat.
"Kenapa kau harus menjadi prajurit untuk melakukan hal itu?" Naruto kembali bertanya. Sakura terdiam kehabisan kata-kata. "Aku tidak yakin dengan pemikiran dokter Sakura soal patriotisme, tapi keyakinanku untuk melindungi anak-anak, wanita cantik, dan orang tua serta keberanian yang merasuki diriku seperti pada anak SMA yang merokok di sekolahan, keyakinan yang takkan berubah meski di depan pistol, kau tegakkan kehormatan bangsa mu seperti itu menurutku itulah patriotisme." Naruto menaruh kembali alat makanya. "Aku juga punya satu pertanyaan, bagaimana jika aku bukan seorang prajurit, melainkan lelaki biasa yang kaya raya? Apa akan lebih mudah untukmu?"
Sakura tersenyum mendengarnya. "Tidak, itu terlalu biasa untukku."
"Begitu? Sudah kuduga... Seharusnya aku bilang lelaki ganteng yang kaya raya."
Sakura tersenyum lagi mendengar lelucon dari Naruto yang selalu bisa membuatnya tertawa. Mereka berdua memilih menghabiskan makanan mereka tanpa banyak berbicara lagi. Saat mereka selesai, Sakura menyuruh Naruto keluar terlebih dahulu dan meninggalkan dirinya yang mau membayar terlebih dahulu. Naruto hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari kafe itu.
Saat dia sudah berada diluar dari kafe itu. Tak jauh dari kafe itu, Naruto melihat orang yang dulu ia tangkap saat kecelakaan truk di pegunungan sudah bebas berkeliaran. Orang itu juga melihat dan mengenali Naruto kemudian mengangkat botol birnya, menawari bir yang ia bawa sambil menyeringai.
Saat itu juga Sakura yang sudah selesai membayar keluar. "Ayo, aku sudah selesai membayar." Naruto masih diam sambil terus menatap pria tadi, membuat Sakura bingung dan hendak menoleh melihat objek tatapan Naruto sejak tadi.
Namun dengan cepat bahunya ditahan oleh Naruto. "Dokter Sakura, hmm... Kau ingat toko waktu itu kan?"
"Kau mau memastikannya?" Tanya Sakura, wanita itu melirik ke salah satu toko yang tak terlalu jauh dari tempat mereka. "Hmm baiklah, disana, dipojok sebelah sana, seberang jalan."
Naruto tersenyum singkat. "Benar. Kau bisa kesana sendirian kan?"
Sakura mengerutkan keningnya. "Ada masalah ya? Aku tak bisa lama-lama disini, nanti sore aku ada tugas jaga."
"Kalau begitu pinjam mobil dan pulanglah! Akan ku telpon Sasuke."
Wanita musim semi itu berpikir sejenak. "Boleh tanya ada masalah apa?"
Naruto menarik napasnya. "Aku mendapat panggilan dari pangkalan. Terimakasih untuk traktiran mu ini."
"Apa soal keamanan? Apa kau akan di omelin lagi oleh pria kayu itu?"
Naruto tertawa pelan. "Ya aku akan dimarahi, tapi jika aku berbuat masalah."
Sakura mengangguk mengerti. "Ah begitu ya.."
Naruto kembali menatap pria tadi, sebelum akhirnya kembali fokus pada Sakura. "Baiklah pulanglah."
Sakura hanya menganggukan kepalanya dan berjalan pergi menuju ke toko milik Sasuke.
Setelah kepergian Sakura, Naruto langsung mengeluarkan pistolnya dan berjalan mendekati pria tadi yang masih berdiri ditempatnya bersama temannya. Pria blonde itu mengokang pistol dan langsung menodongkan pistol itu pada pria tadi. "I think we've met before, hah?"
Pria berambut perak itu menyeringai. "Hahaha... It looks like you're not too surprised. How can peacekeepers threaten civilians not armed with a gun?"
"Not true!"
DOR!
JSSSTT!
Sakura berjalan memasuki toko perlengkapan yang sebelumnya dia datangi. "Sumimasen? Karin-san?" Tak ada yang menyebutnya. "Apa ada orang—Kyaaa! S-siapa kau? K-kau mengagetkan ku!"
Seorang pria raven dengan poni menutupi mata kirinya, keluar dari bawah mobil. "Dokter Sakura?" Tanya pria itu. Pria itu mulai bangkit bediri. "Kapten dobe sudah mengirimku pesan."
"K-kapten dobe?"
"Naruto."
"Ah ya, ngomong-ngomong. Aku dokter Haruno Sakura." Ucap Sakura sambil menundukan kepalanya memperkenalkan diri.
Pria itu juga melakukan hal yang serupa. "Dokter Uchiha Sasuke."
"Jadi kau yang bernama Sasuke?"
"Hn."
Sakura tersenyum menatap Sasuke. "Wah, Karin-san benar, kau ini benar-benar dingin ya?"
Sasuke hanya memutar bola matanya mendengar ucapan Sakura. Sepertinya karin telah banya bercerita tentang hal buruk dirinya pada wanita ini.
"Tapi tak masalah, selama kau bukan penjahat." Ucap Sakura melihat Sasuke yang kembali memereteli mesin mobil. "Tapi kau benar-benar seorang dokter?"
"Hn."
"Sekarang aku mulai tak suka dengan sifat mu."
Sasuke menghentikan kegiatanya lagi. "Memangnya apa untungnya bagi ku, bila kau suka dengan sifat ku?" Sasuke terdiam ketika mendapati tatapan menuntut dari Sakura. "Terkadang aku merawat orang, hewan, dan barang-barang rusak... Kau perlu mobil bukan?"
Sakura menganggukan kepalanya dan hendak mengambil kunci mobil dari tangan Sasuke. "Ya, kurasa kau sudah tahu dari Naru—"
DOOOOR!
Sakura menunduk ketika mendengar suara bunyi tembakan dan matanya langsung membulat ketika merasa bahwa tembakan itu berasal dari kafe tempat dirinya dan Naruto singgahi tadi. "Naruto..."
Peluru itu sukses menembus kulit ban mobil yang tepat berada disebelah kedua pria itu, membuat ban itu langsung kempes. Membuat keduanya terdiam kaget, namun dengan cepat keduanya langsung menodongkan senjata mereka ke arah Naruto.
"Let's see, not civilians, not unarmed. What are you? Police?" Tanya Naruto krmbali menodongkan pistol miliknya. "I know you have a connection with the cops here, but why do you have to appear around me?" Naruto langsung menodongkan pistolnya pada segerombolan pasukan bersenjata yang baru saja tiba mendekati mereka, yang Naruto tahu, mereka pastilah rekan pria itu. Namun yang membuat Naruto membulatkan matanya adalah ketika dia melihat seorang pria berambut oranye dengan kacamata hitam.
"Hidan! How many times... do I have to say?" Ucap pria berambut oranye berjalan dari belakang pasukan. Pria itu mengambil pistol salah satu pasukan dan menidongkanya ke kepala pria bernama Hidan itu. "Aim from behind if you want to kill a man!" Pria oranye itu menurunkan senjatanya dan menatap Naruto dari balik kacamata hitamnya. "Cops? They always side with people who have money. always, anywhere."
Naruto diam masih terdiam dengan kedua bola mata yang membulat tekejut. Tak dapat mempercayai apa yang dia lihat saat ini.
"Long time no see... Lieutenant." Ucap pria oranye itu sambil melepaskan kacamata hitamnya dan menatap pangkat Naruto. "Oh.. I think you're Captain now."
Tangan Naruto bergetar ketika melihat lebih jelas wajah pria oranye itu. Meski sekarang dipenuhi banyak tindik, dia masih bisa mengenali sosok pria itu. "C-captain... Yahiko?"
Pria yang disebut Naruto itu hanya tersenyum tipis. "Yeah, Yahiko... but now I am better known as Pain."
"Geng Edo Tensei?" Tanya Sasuke pada seseorang dari seberang telfon. "Hn, beritahu aku kalau ada apa-apa..." Sasuke melirik kearah Sakura yang tengah mentatapnya dengan tatapan bertanya. "Itu ulah geng lokal. Ini kunci mobilnya."
Sakura menerima kunci itu. "Apa ada yang terluka?"
"Tidak, mereka pasti sudah menelepon jika ada yang terluka. Apa kau mau teh?" Ucap Sasuke menawarkan teh pada Sakura, Sakura hanya mengangguk. Pria itu mengambil gelas untuk Sakura lalu menuangkan teh ke dalam gelas itu dan menyodorkannya pada Sakura.
"Arigato." Sakura duduk disalah satu ban yang ada di toko itu sambil meminum teh miliknya. "Aku penasaran, bagaimana kau bisa kenal dekat dengan Kapten Naruto?"
Sasuke terdiam berpikir sejenak. "Kami selalu bertemu di upacara Pemakaman, pemulangan jenazah... Di Kusa, Oto, dan terakhir disini, Ame."
Sakura terdiam mendengar jawaban Sasuke. Sekarang dia ingat Sasuke lah pria yang Naruto jumpai saat menghadiri upacara pemulangan jenazah prajurit Uzushio. Wanita itu menarik napasnya sejenak. "Aku agak enggan menanyakan ini pada mu, tapi mungkin ini dapat membantu ku... Mungkinkah kau tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh Kapten Naruto?"
Sasuke hanya terdiam tak menjawab. Dia sudah berjanji pada Naruto untuk merahasiakan segala sesuatu tentang Naruto. Tapi melihat tatapan memohon wanita ini membuat jadi sulit untuk tak bicara.
Tangan Naruto masih bergetar ketika melihat Yahiko. Sang atasan sekaligus senpai baginya saat dulu bertugas bersama. Dia kembali teringat pada pengalaman kelam mereka berdua dulu...
FLASHBACK ON
Naruto mengangkat kepalanya menahan rasa sakit. Saat ini dirinya tengah di gantung secara terbalik oleh pasukan musuh, militan Ame utara. "No...ugh...mor 021010. Pasukan... Ugh... Khusus Konoha... Letnanh Nami...hahh.. kaze Naruto—UGHH!" Naruto hanya meringis ketika mendapat tendangan pada perutnya.
BYUR!
Naruto kembali merasakan kesakitan ketika disiram oleh air panas oleh seorang prajurit musuh "In international language! What a A.N radio code?"
"Ughh... Hhah... Hhaa.. nomor... 021010. Pasukan... Ugh... Khusus Kono—"
BUAAGH!
Pemimpin dari pasukan musuh itu berjalan mendekati Naruto kemudian berjongkok menatap wajah Naruto yang penuh dengan luka dan lebam. "For the last time, what a A.N radio code?" Tanyanya.
Naruto menatap pemimpin militan itu dan menyeringai lebar. Kemudian dengan cepat Naruto meludahi wajah pemimpin itu. "Go HELL!"
Pemimpin pasukan itu membasuh wajahnya yang terkena ludah Naruto. "Alright!" Pemimpin pasukan itu mengarahkan pisaunya pada leher Naruto...
TRUKTUK! TRUK! TRUK!
Namun belum sempat menggorok leher Naruto, para bawahannya langsung terkapar setelah menerima serangan dadakan. Dia reflek menundukan kepalanya menghindari tembakan dan berusaha kabur dari tempat itu, namun sial baginya saat hendak kabur dia sudah disambut oleh pasukan gabungan Konoha.
Shikamaru masuk kedalam ruangan tempat Naruto ditahan dan menatap Naruto dengan sangat lega, melihat sahabat sekaligus atasannya masih hiduo. Dia langsung melepaskan Naruto dari tepatnya di ikat.
"Orang kita aman, kami akan kembali." Ucap prajurit berambut perak.
"Kolonelhh...ughh Jiraya, masih.. masih ada satu tahanan lagi. Kapten Yahiko dari pasukan khusus Uzushio.. hahh... Dia ada di dalam ruang emergensi tambang ini." Ucap Naruto yang sedang dibantu berjalan oleh Shikamaru.
Shikamaru yang tengah memapah Naruto, langsung mendengus. "Tsk merepotkan, tak ada waktu lagi! Neji gagal menjinakan bom waktu yang ada ditempat ini dan bom itu akan meledak dalam 30 menit!"
"Itu cukup hahh... Asalkan... Kitah bergegas."
"Tapi tetap saja—"
"Buckman!" Potong Jiraya sambil menatap Naruto sebentar. "Kita akan selamatkan Kapten Yahiko." Jiraya menatap pasukan lainnya. "Kalian jaga area luar tambang, selama kami berada didalam. Mengerti!"
"Hai!"
20 menit kemudian...
DOOOR!
TRUKTUKS! TRUKS!
"Arghh!"
Black Fox berhasil mengahabisi para pasukan musuh yang tengah berjaga di tempat Yahiko disekap. Mereka berjalan mendekati sebuah pintu baja.
TUK!
"Ini tidak bisa! Baja ini terlalu tebal, bahkan jika kita memasang C-4 pun tak akan hancur." Ucap Neji mengetuk pintu baja itu merasakan ketebalan pintu.
Mereka semua mulai kehabisan ide saat itu juga, tak menyadari Naruto yang tengah memanjat atap ruangan itu
"Lihat ini!" Mereka semua menoleh ke atas dan melihat Naruto yang sudah berada di atas ruang penyekapan Yahiko. Pria itu menhentakan kakinya. "Shinigami! Kau bisa pasang disini!" Dengan cepat mereka semua naik ke atas ruangan itu. "Aku ingin kau memasang melingkar!"
"Hai!" Neji melakukan sesuai arahan dari Naruto. Dia mulai memasang bom dengan kekuatan ledakan yang tak terlalu luas tapi dapat menghancurkan sebuah tembok. "Done!"
Mereka semua mulai bersiap-siap ditengah lingkaran bom itu. "Sesuai aba-aba ku!" 1... 2... 3! Now!"
DRRRRRRRRT DHUAAAR!
BRUKK
Bom itu mulai merontoki tembok itu dan tembok yang mereka pijak itu langsung hancur dan runtuh kedalam ruangan itu dan mereka langsung melihat ada enam musuh dan salah satunya tengah menggunakan tubuh Yahiko sebagai tameng.
TRUKTUKS! TRUKS!
Dengan cepat mereka menembaki semua pasukan itu. Naruto membidik kepala musuh yang tengah memegang Yahiko...
TRURUTRUTUKS!
Tentara musuh itu langsung terkapar dengan kepala yang sudah hancur akibat menerima tembakan beruntun dari Naruto.
"CLEAR!"
Naruto berlari mendekati Yahiko dan mrlepaskan ikatan tanganya. "Captain!"
Yahiko susah payah membuka matanya menatap Naruto. "Naruto... Thanks!"
"No problem! We have to move fast!" Ucap naruto sambil memapah tubuh Yahiko.
"Baiklah kita harus keluar dari sini—"
DHUAAAR!
DHUAAAR!
"Apa-apaan itu?" Tanya Jiraya.
Neji melihat jamnya, dan langsung terkejut. "Kita kehabisan waktu, LARI!" Triak Neji. Merrka sontak langsung berlari cepat untuk keluar dari tambang itu. Naruto berlari dengan menggendong tubuh Yahiko dengan susah payah.
DHUAAAR!
BRUUUK!
Tambang itu mulai runtuh seiring dengan berbagai ledakan bom yang mengahncurkan tambang itu. Naruto bahkan hampir tejatuh jika tak ada Shikamaru yang menahan tubuhnya, pria nanas itu langsung bantu memapah Yahiko dan berlari dengan cepat.
DRRRT!
DRRRT!
DHUAAAAAAAAAAAAR!
BRUKK!
"Hahhh... Hhaahh." Naruto langsung menjatuhkan badanya ke tanah ketika berhasil keluar dari tambang itu. Begitu juga Shikamaru dan Yahiko yang juga sangat kelelahan.
Dan saat itu juga mereka melihat sebuah helikopter yang akan menjemput tiba. "Ayo pergi dari sini!" Ucap Jiraya sambil menjulurkan tangannya pada Naruto.
Mereka berjalan mendekati heli itu Naruto berjalan dibantu oleh jiraya sementara Yahiko tengah ditanduh oleh tentara lainya. Saat sampai di heli itu mereka menaikan Yahiko terlebih dahulu.
"Semuanya sudah masuk!" Teriak Naruto pada Jiraya yang tengah dalam posisi siaga.
Pria paruh baya itu bangkit dan mendekati Naruto sambil tersenyum bangga. "Kalau begitu kita kembali, bocah!" Dia berjalan mendekati Naruto hendak memeluk tubuh Naruto...
DOOOOR!
... Mata Naruto langsung melotot saat menahan tubuh Jiraya yang sudah lemas dalam pelukannya. Mereka semua terdiam melihat kejadian itu hingga Sai membidik dengan senjata jarak jauhnya ke arah jendela pada lantai empat salah satu gedung pertambangan sebelum akhirnya menembak tepat dikepala sniper musuh.
"Ero... jii.." air mata Naruto menagalir dan membasahi seragam milik Jiraya yang sudah menghembuskan Napasnya. naruto menangis dalam diam sambil terus memeluk tubuh Jiraya.
FLASHBACK OFF
Naruto kembali menatap mata Yahiko yang saat ini masih tersenyum ramah padanya. Naruto mengelengkan kepalanya tak percaya. "W-why are you—"
"Yeah, as you can see, I change jobs. I don't want to wear the fucking stupid uniform, you are wearing right now again." Potong Yahiko. "Y'know? Isn't that stupid work harming our lives. We fight only for a peace whose end will give us the same fate as Nagato."
Naruto mengertakan giginya menahan marah.
Nagato mendekatkan wajahnya, "Right now, my job has a lot in common with working to protect that damn peace. Shooting weapons—DOOOOR! Killing people. But this work, it makes a lot of money! You know? Money can control the world."
"What happened to you, hah? Your name is still very legendary in Uzushio's special forces."
Yahiko tertawa mendengarnya. "You're always so funny, Naruto. Does my legendary name make a lot of money? Listen carefully, captain. There are many armed militants in this 'neighborhood' and they are not afraid, there are no rules, there is no honor. They also dont have a country that must be served. They are free in here!" Yahiko menepuk bahu Naruto. "This is the last warning! Take care of your own business, and I take care of my own business... Until now, you were too empathetic! You can't be arrogant like me. if you still have that damn empathy, you won't get anything but death."
Naruto menganggukkan kepalanya sambil menatap tajam Yahiko. "Kau benar, harusnya aku tak menentang kehendak Tuhan. Aku tak perlu menukarkan nyawa Erojii hanya untuk orang seperti mu!"
Yahiko mengerutkan keningnya mendengar Naruto yang berbicara dengan bahasa Konoha. "Are you hiding behind your language?"
"For god's sake, piss off! Don't dare to approach me or you will suffer the consequences." Ucap Naruto sebelum berjalan meninggalkan Yahiko dan pasukannya. Yahiko sendiri hanya tersenyum remeh menatap kepergian Naruto.
Sakura termenung memikirkan apa yang diungkapkan Sasuke. Dia sudah mendengar semua tentang Naruto dari Sasuke, dan ia sangat syok mendengarnya.
"Apa masih ada yang ingin kau tanyakan." Tanya Sasuke sambil terus menukangin mobil.
"Tidak, itu sudah cukup."
Sasuke mengehentikan kegiatannya dan melirik Sakura melalu ekor matanya. "Cukup untuk apa? Untuk mengerti? Atau malah akan tetap menjauh?"
Sakura hanya diam tak menjawab pertanyaan Sasuke. Jujur saja dia masih tetao ragu untuk melanjutkan hubungannya dengan Naruto.
Sasuke juga diam menatap sakura yang masih bingung. Dia menarik napasnya. "Selama aku bersahabat dengan Naruto... Yang ku tahu, dia selalu mendapatkan kesialan dari pekerjaannya ini... Ku harap kau juga tak menjadi kesialan baginya."
Sakura sudah berada dalam perjalan kembali ke kompi, ia sedang menyetir sendiri dengan mobil milik Sasuke. Lalu mengambil ponsel dan menekan nama: Alpha Fox. Namun karena hal itu, Ia lengah sedikit dan tak melihat ada sebuah truk yang berjalan berlawanan arah dijalanan yang sempit itu. Dengan cepat Sakura langsung membanting setir untuk menghindari truk itu.
TON! TON!
CKIIIIIT!
BRAKK!
Karena jalanan berdebu ditambah habis dilewati truck, Sakura jadi tak bisa melihat dengan jelas kalau di depannya sudah ada sebuah tikungan. Ia tetap lurus dan akhirnya mobilnya menabrak pagar pembatas jalan dan terus jalan menuju jurang. Beruntungnya mobilnya berhenti tepat di bibir jurang karna sebuah batu yang menahan mobil itu, dengan setengah bagian mobil sudah bergantung diudara.
Sakura gemetar, ia menangis menatap ke depan. nyawanya diujung benar-benar tanduk sekarang.
"Oh,, b-agaimana ini... hiks... hiks...bagaimana?" Ucap Sakura dengan sesenggukan karena menangis.
"Moshi-moshi? Kau sudah pulang?"
Sakura melihat ponselnya yang sudah terjatuh ke lantai mobil. "K-kapten N-naruto?"
"Kau pasti masih dijalan. Kau sudah sampai dimana? Aku sudah selesai dan baru mau balik."
Sakura berusaha meraih ponselnya yang berada dilantai mobil namun hal itu membuat mobil sedikit bergerak mengarah ke bawah...
Dengan cepat Sakura meraih ponselnya dan membenarkan posisinya. "KYAA! TOLONG AKU! TOLONG AKU! NARUTO!"
"S-sakura? Kenapa kau? Apa yang terjadi? Beritahu aku!"
"M-mobil ku... Mobilku hampir jatuh ke laut!" Ucap Sakura.
"Dengar baik-baik!"
"Y-ya!"
"Tunggu sebentar. Aku akan kesana dengan cepat.—TUT!"
"Naruto? Naruto! J-jangan dimatikan... Hiks.." dia kemudian membunyikan klakson mobil berkali-kali, "TOLONG AKU! TOLONG!"
Sakura menundukkan kepalanya pasrah, dia sudah lelah berteriak-teriak minta tolong. Tapi tak ada satu orang oun yang menolongnya mengingat tempat kecelakaannya itu sangat sepi. Sakura menghidupkab record ponselnya dan merekam pesan untuk Ibunya.. "Jadi... ibu, Hiduplah dengan uang asuransi... Hiks... Maaf untuk mengatakan semua kata-kata kasar dan selalu melawan mu selama ini hiks... Aku mencintaimu, ibu... Hiks... Uuuh... Hiks... Dan... Tenten..." Sakura berhenti sebentar untuk menangis, "Gedung yang sudah aku sewa untuk membuka klinik. Aku minta kau... untuk mengambil kembali uang depositnya. Dan tolong sampaikan salam perpisahanku untuk semuanya. aku berharap kau... Hiks... Uuhh.." ia kembali terhenti ketika tak sanggu mengucapkan kata-kata. "Kenapa aku harus mati seperti ini?" Sakura masih terus menangis. "KYAAAAH!"
Tiba-tiba mobilnya terdorong lagi ke depan. Sakura berpegangan kuat-kuat pada setir mobil dan menekan pedal rem.
CKLEK!
Pintu belakang mobil terbuka dan menampak sosok Naruto yang langsung masuk ke mobil.
Sakura menoleh ke Naruto. "Naruto!"
"Jangan banyak bergerak! Buka jendelanya."
Sakura melakukan sesuai yang di perintahkan Naruto. Dengan cepat Naruto pindah ke kursi depan.
"Kyaa! Kenapa kau malah duduk didepan... Itu akan menambah beban dan memiringkan mobil ini semakin kebawah! Kita akan jatuh!" Pekik Sakura panik.
Naruto memperbaiki posisi kursi Sakura menjadi terlentang. "Berbaringlah! Batu itu tidak akan mampu menahan mobil ini lebih lama. Aku akan menjatuhkan mobil ini."
"Apa? Tidak mau."
"Lihat aku."
"Aku tak bisa melakukan ini Huh.. huh.."
Naruto meraih bahu Sakura. "LIHAT AKU, SAKURA!" Naruto memaksa Sakura untuk melihat ke arahnya. Naruto meraih tangan Sakura. "Lihat kedalam mataku. Kau bisa mempercayaiku. Pegang erat tanganku. Tutup matamu. Aku akan mengeluarkanmu dari sini. Aku berjanji."
"Tidak mau!"
"Lepaskan remnya!"
"Tidak mau, tidak mau! Serius aku tidak mau!"
TIIIIIIIIIIIIN!
"KYAAA!"
Dengan kesal Naruto memukul klakson dan membuat Sakura terkejut dan berteriak sambil menutup mata. Otomatis kakinya melepaskan pedal rem. Akibat pukulan keras Naruto ditambah benturan batu pada mobil membuat air bag mobil itu menggembung untuk memberi perlindungan. Naruto melepas rem tangan dan mobil itu meluncur jatuh ke jurang dan masuk ke dalam laut.
BYUUUUUUUUUUR!
Naruto berusaha melepasakan sabuk pengaman dirinya lalu melepaskan sabuk pengaman milik Sakura. Dengan cepat dia membuka pintu dan membawa Sakura ke permukaan laut dan membawanya ke tepi pantai. Saat sampai ditepi pantai, Naruto langsung membaringkan Sakura yang sudah tak sadarkan diri diatas pasir. Naruto menekan dada Sakura kemudian memberikan napasnya buatan untuk Sakura. Naruto terus melakukan CPR untuk Sakura, hingga akhirnya Sakura memuntahkan air yang mengganggu pernapasan Sakura.
"Uhuk.. uhuuk.."
"Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Naruto membantu Sakura untuk duduk. Dia juga menepuk-nepuk punggung Sakura untuk membantunya mengeluarkan air laut yang mausk ke dalam paru-parunya. "Batuklah... Apa ada yang sakit?"
"Uhuuk... Kau bodoh ya? Kau hampir membunuh kita berdua—uhuuk.. dasar rubah sinting!" Sakura mulai memukuli dada Naruto berkali-kali membuat Naruto meringis kesakitan namun hanya diam tak menghindarinya. "Bisa-bisanya kau menjatuhkan kita ke laut seperi itu... Sinting! Idiot! Goblok! Gila, kau!" Naruto hanya tersenyum menatap Sakura yang masih syok. Wanita itu tampak memegang urat nadinya. "Uhuk.. jantungku berdebar cepat sekali, bagaiman ini? Uuhuuuuhh aargh..."
Naruto masih tersenyum saat menepuk-nepuk kepala pink Sakura. "Ngomong-ngomong, aku baik-baik saja. Kau bisa memukul ku jika itu bisa menenangkan jantung mu... Ayo!"
Naruto hendak menangkat tubuh Sakura namun langsung ditahan wanita itu. "Tunggu... Aku tak bisa bangun! Aku ini masih syok membuat kakiku begetar hingga tak dapat berdiri. Uhuuu... Kau tau betapa takutnya aku? Aku ini bukan prajurit seperti mu! Uhhhuu ku pikir aku akan mati tadi hhhaaa... Hhhaaaa..."
"Aku takkan membiarkan mu mati." Ucap Naruto sambil menepuk punggung Sakura. "Jika aku mau kau mati, aku tak akan mau membuang waktu ku untuk terjun ke laut seperti tadi. Kau bisa bayangkan bila kau terjun sendirian dari atas sana kan? Ada aku saja kau tak sadarkan diri." Sakura menepis tangan Naruto.
"Berhentilah bercanda! Aku sedang tak berselera mendengar leluconmu!"
Naruto hanya menggelengkan melihat Sakura sambil tersenyum. Dia kembali menepuk-nepuk punggung Sakura untuk menenangkan wanita itu.
Mereka berdua akhirnya sampai ke kompi kembali. Naruto keluar dari mobil dengan kaos militernya yang basah kuyup, membuat para prajurit lainya melihatnya dengan bertanya-tanya.
"Sonkei!"
Naruto mengangguk menerima hormat dari prajuritnya. Dia langsung menatap arah tatapan prajuritnya yang sedang menatap intense Sakura yang baru saja turun dari mobil sambil menggigil, rupanya karna kemeja putih yang ia kenakan basah membuat kemeja itu menjadi transparan dan memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Naruto dengan cepat berjalan medekati Sakura dan memakaikan seragamnya pada Sakura untuk menutupi tubuh Sakura. "Pakailah... baju mu tembus pandang, tuh!"
Sontak saja mata Sakura langsung melotot dan menutup tubuhnya dengan seragam Naruto itu. Wajahnya sudah merah total menahan malu. "Baka! K-kenapa baru ngasih sekarang?"
"Karena aku ingin melihat semuanya tadi, dan aku tak ingin yang lain melihatnya juga. Istirahatlah." Ucap Naruto tanpa dosa membuat wajah Sakura semakin memerah, dia menepuk bahu Sakura sebelum berjalan meninggalkan Sakura.
"Hei! HEI! RUBAH MESUM! HEI! NARUTOOOOOO!" Teriak Sakura kesal
Naruto tak menghiraukan teriakan kesal Sakura, dia terus berjalan sambil melambaikan tangan tanpa menoleh.
Sakura menghentak-hentakan kakinya dengan kesal. Kenapa dia bisa tak sadar bila bajunya tembus pandang begini? Itu benar-benar membuat malu dirinya, apalagi hal itu terjadi didepan rubah mesum itu.
Gatou berjalan memasuki sebuah rumah mewah bergaya klasik, selama berjalan dia terheran-heran melihat tak adanya penjaga rumah bersenjata yang biasanya akan menyambutnya. Dia berjalan mendekati ruang kerja pemilik rumah itu dan terkejut melihat semua penjaga bersenjata itu tengah berada didalam.
Gatou menatap sang pemimpin pasukan yang sedang duduk di meja kerja bosnya. "Yahiko? Where is the boss?" Yahiko berdiri dari tempat duduknya dan mengankat Kepala seorang pria. Hal itu langsung membuat Gatou terkejut bukan main melihatnya. "What is this?" Selanjutnya dia hanya terdiam saat Hidan menodongkan pistolnya ke kepanya.
Yahiko melempar kepala itu kek kaki Gatou membuat pria itu ketakutan sekaligu jijik. Kemudian Yahiko berjalan mendekati Gatou. "This house has a new owner. But the agreement remains the same."
Gatou menelan ludahnya. "I-i don't care. As long as I get my money." Ucapnya sambil menunjukan sebuah kantung kecil dan menyerahkannya pada Yahiko. "Here."
Gatou melirik kepala itu dan kembali merasa jijik hingga harus menahan muntah. Yahiko mengeluarkan isi kantong yang diberi Gatou padanya. Kantong yang ternyata berisi banyak berlian.
"Just because all of the men in Konoha have taken military service, they feel like my brother." Ucap Yahiko mengecek keaslian berlian-berlian itu kemudian pria bertindik itu mengeluarkan seikat uang dan memberikannya pada Gatou. "Next shipment within a week!"
Gatou langsung tersenyum lebar melihat uang itu. Dia meraih uang itu dari Yahiko. "Subsequent deliveries take 10 days."
Yahiko menganggukan kepalanya mengerti namu Gatou kembali terkejut saat pria itu menodongkan tanganya layakanya sebuah pistol. "A week!"
Gatou hanya bergetar ketakutan sesaat. "Y-yes!"
Tazuna tampak berjalan dengan kesal sambil menyeret seorang pemuda keluar dari tempat persembunyian tidur siangnya.
"Ittai!"
"Tsk bocah nakal! Aku sudah hapal tempat persembunyian buat tidur siang mu." Ucap Tazuna sambil berjalan menjewer telingan pemuda itu.
"Aku lebih senang dibayar kecil ketimbang harus lembur—Ittai!"
Tazuna berhenti dan mentap pemuda itu sambil menguatkan jewerannya. "Kau pikir kau siapa? Pemilik perusahaan? Kalau kau ingin mengatur jam kerja sendiri, pergi dan buat perusahaan sendiri."
Pemuda itu mengelus telinganya yang sudah dilepaskan oleh Tazuna. "Lihatlah nanti. Begitu aku menjadi orang kaya, aku tak mau menganggap mu sebagai kakek ku lagi!
Tazuna tanpak kesal dan menggertak pemuda itu. Pembicaraan mereka berdua terhenti ketika sekrang pekerja lokal menghentikan mereka.
"Cepat! Cepat! Ma... Najer... datang.. uuh sudah kesana uh eh ke.. si ke da, pria gendut—Hmmpl" pekerja lokal itu berusah berbicara dengan bahasa Konoha tapi keduanya tanpak tak mengeti, pemuda itu melihat seorang pria yang dia krnal sebagai atasan dan langsung menutup mulut pekerja lokal itu. Tazuna tampak masih mencerna kata-kata pria ame itu hingga akhirnya melihat Gatou sedang berjalan mendekati mereka.
"Aah Kepala manajer tercinta kita." Ucap Tanzuna memaksan melihat kedatangan Gatou. "Kenapa anda harus repot-repot kemari... Ah terimakasih telah mau memeriksa bahan secara langsung."
Gatou tak menjawab dan hanya terus berjalan dengan wajah seriusnya. Tazuna tanpa heran ketika melihat tak adanya supir yang biasanya mengatar bosnya itu. "Anda datang sendiri? Kemana supir anda?"
Gatou berhenti berjalan menoleh sejenaj melihat Tazuna. "Dia berhenti dari perusahaan. Tak usah khawatirkan dia. Kembali bekerja. Deadline sudah semakin dekat." Jawab Gatou sebelum langsung masuk kedalam.
Pemuda tadi terkejut melihat ada bercak merah di kaos kaki milik Gatou. "Darah?"
Sakura sedang berada di dapur kompi, duduk didekat perapian, menunggui seragam Naruto kering sekaligus menghangatkan tubuh. Sejak tadi dia terus melamun teringat dengan suara tembakan saat di kota tadi. Dia tersadar ketika Naruto menghampirinya dengan dua gelas kopi Instan.
"Aku hanya bisa membuat kopi instan, tak apa kan?" Tanya Naruto.
Sakura mengambil kopi yang tawarkan Naruto sambil menatap kesal pria itu. "Baka Hentai!"
"Auh, masalah tadi? pakaian dalammu tadi? hitamkan?"
"Biru gelap." Koreksi Sakura kesal, namun dia tersadar dengan ucapanya sendiri dan menahan malu.
"Kau pikir aku tak tahu?"
Sakura kembali menatap Naruto kesal. "Jika kau tak jadi tentara, kau bisa jadi pria macam apa?"
Naruto melirik Sakura. "Apa itu pertanyaan?"
"Itu monolog!" Jawab Sakura cepat. "Oh ya, beri tahu saja bila kau butuh obat penenang, aku akan membuat resep untuk mu. Aku tahu kau sangat syok tadi." Sakura membuang wajahnya ke arah lain. "Berbeda dengan ku yang biasa-biasa saja."
"Ckck yang benar saja..." Ucap Naruto mengelengkan kepala menatap wanita tak tahu malu itu. "Aku tahu kau pasti sedang mengkhawatirkan ku kan?"
"Tentu saja. Aku berhutang nyawa padamu."
Naruto mengangguk. "Kau hanya perhatian pada pria yang menyelamatkan nyawa mu kan?"
Sakura tak menjawab. "Tapi di tebing tadi... Apa kau tahu bahwa kau... mempertaruhkan hidupmu untuk menyelamatkanku?"
"Kau yang memintaku untuk menyelamatkanmu."
Sakura kembali teringat pembicaraan mereka tentang prajurit Ryan dulu. "Tentang... menyelamatkan Prajurit Ryan. Kau tidak bercanda, 'kan? Jadi... Kau yang menyelamatkannya?"
Naruto terdiam tak menjawab dia kembali teringat saat orang yang sudah dianggapnya sebagai guru sekaligus kakek tertembak tepat di depan matanya.
FLASHBACK ON
"Ero-jii... Bertahanlah! Bertahanlah!" Ucap Naruto masih memeluk tubuh tanpa nyawa Jiraya sangat erat. "Ero...jii!"
Shikamaru datang menepuk punggung Naruto. "Naruto, kolonel sudah... Beristirahat dengan tenang. Kita harus kembali sebelum para militan menyerbu tempat ini."
FLASHBACK OFF
Naruto terdiam mengingat kembali pertemuannya dengan Yahiko tadi. "Aku... Menyelamatkannya. Tapi hari ini... Untuk pertama kalinya... aku menyesal telah menyelamatkannya."
"Saat... aku pergi tadi. Kau berbohong pada ku, kan?" Sakura sudah sadar kalau tadi Naruto bohong padanya karena Naruto begitu capat datang menyelamatkannya, jadi tak mungkin pria itu pergi ke pangkalan. "Sekarang aku sadar kau begitu cepat menyelamatkan ku... setelah mampir ke pangkalan." Dan dia tahu, tembakan yang ia dengar di toko, ia yakin kalau itu adalah tembakan dari Naruto. "Mau ke pangkalan, kau bohong kan? Bunyi tembakan yang kudengar di toko, itu kau bukan?"
Naruto meletakan gelas kopinya dinatas meja. "Pasti terlalu banyak yang terlintas dipikiran mu. Tak bisakah kau percaya saja padaku?"
"Dasar sinting! Kau sungguh membuatku gila. Karena kau seperti ini, aku menjadi semakin bingung." Ucap Sakura. Saat dia hendak kembali menyambung kata-katanya, tiba-tiba listrik padam.
"Hahh... Pemadaman. Listrik disini tak begitu stabil. Dalam setengah menit akan menyala lagi."
"Oh." Sakura menundukkan kepalanya sebelum kembali menatap Naruto.
Naruto juga menatap Sakura. "Hei, aku akan berteriak bila kau macam-macam padaku."
Sontak saja Sakura langsung tertawa mendengarnya. "Sudah menyelamatkan ku hari ini... Terimakasih untuk itu ya—"
"Tetap saja, awas jika kau berani macam-macam padaku." Sambung Naruto.
Sakura kembali tersenyum, "Baiklah, mana mungkin aku macam-macam padamu... Yang ada kau yang macam-macam! Baka!" Tepat saat itu juga lampu kembali menyala. Sakura masih terus menatap Naruto, membuat pria itu heran.
"Ada apa? kau terus melihatku seperti itu?"
Sakura mengerutkan keningnya, bingung. "Memangnya kenapa dengan tatapanku?"
"Melihat ku seperti itu sampai membuatku jadi tersipu malu." Jawab Naruto.
Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau pasti punya banyak pengalaman dengan wanita... Didekat pria humoris akan selalu ada wanita cantik."
"Didekat pria humoris seperti ku... Bukankah kau hanya melihat pria suram saja?" Tanya Naruto pada Sakura. "Ku perhatikan sejak tiba di sini kau terus memelototin otot mereka tiap berlari."
Sakura mengangguk girang. "Begitulah hidupku belakang ini... Benar-benar hidup yang indah."
"Tsk... Apa ini balasan setelah aku menyelamatkanmu?" Tanya Naruto geram.
Sakura kembali teringat dengan mobil milik Sasuke yabg terjebur ke laut tadi. "Ah tapi mobilnya bagaimana? Kita perlu menghubungi mereka, kan?"
"Susah ku hubungi!" Jawab Naruto ketus. "Dan akan ku betulkan mobilnya besok pagi!"
Sakura hanya tersenyum melihat Naruto yang tengah kesal padanya. Pria ini benar-benar tak suka bila dia memuji pria lain.
SOLDIER X DOCTOR
Keesokan harinya, sebuah mobil derek tampak sedang menyeret sebuah mobil berwarna merah penuh dengan rumput laut, mobil itu dibawa ke toko milik Sasuke.
Sakura yang kikuk mencoba manatap wajah Sasuke yang tampak hanya diam menatap kosong mobilnya. Membuat Sakura jadi semakin gugup. Sasuke mulai berjalan mendekati mobil merah itu dan mengeceknya.
Sakura melirik Naruto. "Kau bisa saja menyelamatkan ku... Kenapa harus menenggelamkan mobilnya sih?" Naruto menatapnya dengan tatapan 'kau bercanda?' membuat Sakura menundukkan kepalanya. "Ah, tak seharusnya aku mengatakan itu pada orang yang menyelamatkan ku. Gomen..." Sakura menatap Sasuke yang terlihat menghela napasnya dengan berat. Dia kembali menatap Naruto. "Aku akan bertanggung jawab, aku akan memperbaiki mobil itu dengan tabungan ku sendiri."
Naruto menatap Sasuke juga. "Percayalah pada Teme. Tak ada barang yang tak bisa diperbaiki oleh tangannya."
"Serius?"
Naruto mengangguk menjawab pertanyaan Sakura.
TANG!
BRAKK!
"HAH!" Pekik Sakura terkejut. Dia melihat kesumber suara dan melihat bamper depan mobil itu sudah terjatuh ke tanah. Sasuke tanpak berjongkok lemas depan mobil itu, dia semakin terpuruk saat pintu mobilnya juga ikutan copot.
"Oh.. Oh.." pekik Sakura yang semakin takut. Ia bersembunyi dibelakang Naruto.
Sasuke membuka sebuah kotak penuh dengan walkie-talkie sesuai permintaan Naruto. "Ini yang kau minta, dobe."
Sakura mengambil satu walkie-talkie dan melihatnya dengan bingung. "Untuk apa kau minta benda ini? Kau kan sudah punya benda ini!"
Naruto mendesah pelan. "Ditempat Ini, benda ini lebih bagus ketimbang ponsel... Dan aku akan sangat cemas bila ponsel mu terputus seperti kemarin."
Sakura menatap Naruto mengerti kemudian menoleh menatap Sasuke. "Terimakasih, tapi berapa yang harus kami bayar?"
"Untuk benda ini?" Tanya Sasuke kembali.
"Bukan, untuk mobilnya."
Sasuke kembali terdiam dengan tatapan kosongnya sebelum mendesah berat untuk kesekian kalinya. "Aku akan memperbaiki mobil itu sendiri."
Sakura menatap Sasuke tak percaya. "Benarkah kau bisa memperbaiki mobil?"
"Tapi, kondisi mobilnya tak akan seperti sebelumnya. Warnanya mungkin tak akan sama juga. Tapi, aku bisa memperbaikinya." Sasuke kembali mendesah. "Hahh... Padahal kemarin aku mengisinya dengan bensin kualitas yang tinggi."
"Yang semangat, ya!" Ucap Naruto sambil berdiri, Naruto mengambil satu walkie-talkie dan menatap Sakura, lalu menyerahkan walkie-talkie itu pada Sasuke. "Karena mungkin walkie-talkie ini juga tak akan selamat, berikan salam perpisahanmu pada benda ini, dattebayo!" Ujar Naruto.
Sasuke hanya memutar matanya malas membalas ucapan Naruto. Sementara Sakura tampak kesal dengan lelucon Naruto yang menyindir dirinya yang bisa merusak benda apapun.
Mereka kembali ke kompi, dimana saat ini mereka berdua tengah berada di ruangan Naruto. Pria itu tengah mengajari Sakura menggunakan walkie-talkie.
"Saluran 7 untuk tim medis dan saluran 3 untuk tim Black Fox. Jangan oernah buka salura 3 dengar, kecuali jika ada Emergensi." Sakura terus menganggukan kepalanya mengerti. "Cara pakainya, kau harus tekan tombol disini dan tunggu sebentar." Naruto mengambil walkie-talkie lainnya dan memberikan pada Sakura untuk mengetes. "Ini, aku, Alpha Fox, memanggil tim medis, over! Begitu."
Sakura menatap benda itu. "Alpha Fox itu nickname?"
"Itu Call-sign! Kau sudah putuskan namamu?" Tanya Naruto balik.
"Belum. Aku akan..."
Pria itu tertawa ketika memikirkan nama panggilan buatanya untuk Sakura. "Sebenarnya karena rambut mu yang pink itu terlihat seperti bunga Sakura aku jadi ingin memanggil mu dengan call-sign 'Sakura' tapi ya... Namamu kan Sakura, dattebayo!"
Sakura tersenyum geli mendengar ucapan Naruto. Dia kembali berpikir untuk mencari Nama samaran.
"Bagaimana jika kawaii?" Saran Naruto
Wanita itu langsung tertawa sambil menatap Naruto tak percaya. "Yang benar saja. Apa menurutmu aku kawaii?"
"Sedikit, sih."
"Jadi maksudmu, aku ini hanya sedikit manis saja hah?" Tanya Sakura kesal.
"Ya, sedikit."
"Apa? Aiish yang benar saja. Dasar."
Dan mereka berdua tertawa-tawa tak jelas. Tak menyadari kehadiran seorang wanita berambut pirang tengah melihat keduanya sambil tersenyum. Wanita itu mengetuk pintu keras untuk membuat keduanya sadar dengan kehadirannya. "Apa aku bisa mengganggu lovey-dovey kalian sebentar?" tanya wanita itu.
Sakura tampak hanya diam tak peduli. Naruto mulai berdiri menatap Wanita itu heran. "Ino? Untuk apa kau ke sini? Bukannya kau ditugaskan di Amegakure?"
Ino berjalan mendekati keduanya sambil melirik Sakura yang pura-pura sibuk dengan walkie-talkienya. "Aku kemari untuk menikah dengan senpai!"
Sakura langsung menatap Ino terkejut lalu menatap ke arah Naruto.
"Jangan bercanda! Ngomong apa kau?" Tanya Naruto.
"Apa candaanku itu membuatmu gugup? WUA ckck.."
Naruto melirik Sakuran yang menekukan wajahnya.
Ino berdiri tegak. "Saya ingin laporan: Letnan Yamanaka Ino, diperintahkan untuk bergabung dengan medicube kompi gedo mazou. Mulai tanggal 28 mei! Laporan selesai. Sonkei!" Ino memberikan hormat pada Naruto.
Naruto kembali melirik Sakura kali ini wanuta itu juga tengah menatapnya. Naruto membalas hormat Ino. Pria itu menyipitkan matanya mentap Ino. "Sepertinya kau telah menyalahgunakan kekuasaanmu untuk bisa pindah ke sini."
Ino hanya tersenyum girang. "Hidupku juga tidak mudah karena telah mengalami ketidakadilan."
Naruto hanya terkekeh mendengar curhatan Wanita itu.
Merasa dicuekin. Sakura mulai bangkit dari tempat duduk. "Kalau begitu kutinggal kalian berdua untuk mengobrol." Dia berjalan dengan membawa kotak walkie-talkie. Namun belum jauh melangkah, Ino menghentikannya.
"Setidaknya kau menyapaku." Ino menoleh menatap Sakura. "Mari kita selesaikan ini semua. Yang lalu biarlah berlalu." Ucapnya sambil menyodorkan tangannya.
Sakura hanya tersenyum dan mengangkat kotak walkie-talkie, "Tangan ku sedang sibuk... Dan seperti kata orang tua: jangan sekali-kalinya kau melupakan masa lalu." Kemudia ia langsung berjalan keluar.
Naruto hanya tersenyum menahan tawanya melihat kejadian itu. Dia berjalan dan berhenti didepan Ino. "Aku penasaran dari dulu... Ada apa denganmu dan dokter Sakura?"
Ino menatap Naruto curiga. "Apa kau kebetulan bertemu dengan Haruno Sakura disini hmm... Atau kau melihatnya dan kalian balikan disini, pura-pura semua ini hanya kebetulan?"
Naruto tersenyum remeh. "Apa kau pikir, aku ini dirimu? Dan lagi kenapa kau memanggil dokter Sakura dengan namanya saja. Dia itu lebih tua darimu, dia adalah neechan sekaligus senpaimu!"
"Kau membela siapa sekarang?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, apa hubungan kalian?"
"Jangan kira kalau kau yang kami ributkan! Dan jangan juga menganggap pertemuan kalian ini adalah takdir, aku tak ingin dia menjadi kakak iparku." Ucap Ino mengelengkan kepalanya.
"Kakak ipar apanya? Bukankah kau ke sini untuk menikah denganku?"
"Kau benar juga. Terserah deh mau bilang apa." Balas Ino kesal.
Dan apa yang dilakukan Sakura setelah keluar. Ternyata ia sedang nguping menggunakan stetoskopnya dan menempelkannya pada pintu.
"Apa pintunya sakit?" Tanya seseorang sambil ikut menempelkan stetoskop miliknya juga.
"HAH!" pekik Sakura kaget melihat Lee yang sudah bergabung dengannya menguping. "Sssst." Sakura menarik tangan Lee menjauh dari ruangan Naruto.
Naruto baru saja selesai menelpon komandan pasukan khusus, lalu pria itu datang dengan dua gelas berisi teh dan memberikanya pada Ino segelas.
"Komandan mengatakan untuk baik-baik pada mu." Ucap Naruto sambil duduk di kursi kerjanya.
"Jadi kau akan memperlakukan ku dengan baik?"
"Tujuanku adalah membuat mu kesulitan saat kau memutuskan untuk datang kemari." Ucap Naruto.
Ino langsung menatap Naruto kesal. "Kita bahkan sudah lama tak bertemu... Senpai, katanya pemulangan mu dipercepat karena upacara pelepasan ayahmu." Naruto menganggukkan kepalanya. "Apa komandan melakukan nepotisme?"
"Nepotisme? Benar-benar wanita ini... Ini perhatian terhadap prajuritnya!"
Ino pura-pura mengerti. "Komandan pasti sangat mencintai mantunya. Mungkin kau benaran jadi mantunya saja."
Naruto meletakan gelasnya. "Kalau begitu, kau seharusnya lebih baik padaku. Jika bukan karena tugasku, kita pasti sudah dinikahkan."
"Apa kita memang harus menikah, ya? Ya mungkin aku ingin menikah benaran dengan mu." Ucap Ino pura-pura tersenyum malu-malu.
Naruto menatapnya dengan kesal. "Apa kau mengancamku?" Naruto mendekatkan wajahnya pada wajah Ino membuat wanita itu sedikit gugup. "Maaf-maaf nih, aku sama sekali tak menyukai mu!" Naruto menajuhkan wajahnya dan kembali meminum tehnya. "Oh, sudah telfon Sersan Mayor Shikamaru?"
Ino tertawa remeh. "Menurutmu? Dia tak akan mengangkat panggilan dengan nama ku."
"Ooh dia tak akan mengangkat panggilan mu?" Naruto meraih ponselnya dan menekan nama Shikamaru. "Dia terus mengangkat panggilan ku." Ino menatap Naruto terkejut. "Bahkan dia yang terus-menerus menelpon ku dan membuatku kesal... Ah, Sersan Shikamaru —"
"—Diangkat?!" Potong Ino yang kaget sekaligus iri.
"Kenapa tidak kau jawab? Rusa sialan!" Naruto mematikan ponselnya, dia menatap Ino. "Tidak diangkat. Kau mau tinggalkan pesan pada ku?"
Konoha Special Force Headquarter, Konohagakure, Konoha.
"Kuberi kalian waktu satu menit! Pakai semua peluru, tembaklah sasaran dengan tepat! Mulai!"
TRUKTUKS!
PTANG!
Pasukan khusus itu mulai berjalan mendekati sasaran sambil terus menembaki senjata mereka. Mereka menganti senjata Laras panjang mereka dengan pistol mereka saat pelurunya habis.
Sementara Shikamaru tampak memperhatikan para prajurit juniornya yang tengah berlatih menembak, ia berjalan dengan santai di antara sasaran tembak yang sedang menerima tembakan dari pasukan yang dilatihnya.
"Ada tiga perintah mutlak. Perintah mutlak serangan... yaitu, serangan untuk tetap maju. Perintah pertahanan... yaitu gerakan pantang mundur." Ucap Shikamaru. "Dan perintah STAND BY! Kau punya 3 peluru yang tersisa..." Lalu ia berdiri tepat di depan sasaran. Tentara yang bertugas menembak sasaran dibelakang Shikamaru itu berhenti. Shikamaru menatap prajurit itu dari balik kacamatanya.
DOR!
DOR!
DOR!
Prajurit itu lalu menembakkan tiga puluru dan peluru terakhirnya dan hampir saja mengenai lengan Shikamaru, untung cuma melintas di bajunya, sampai bajunya robek.
Shikamaru berjalan dan memberikan tanda untuk berkumpul. Para prajurit itu berjalan mendekati Shikamaru. "Pada perintah mutlak stand by... jangan membuat gerakan apapun. Itu adalah perintah. Perintah adalah nyawa untuk tentara. Dan itu adalah kawajiban Pasukan Khusus."
"Sonkei!" Seorang prajurit datang menghampiri Shikamaru. "Komandan mencari anda."
Shikamaru terdiam sejenak. "Baiklah itu saja untuk hari ini, Bubar!"
"Hai!"
Inoichi tanpak membaca beberapa lembar dokumen. "Apa ada kandidat yang layak untuk bergabung dengan Black Fox?"
"Saya akan membuat laporan 5 minggu lagi setelah pendidikannya selesai."
Inoichi mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Kau adalah instruktur legendaris. Jadi, pilihlah pasukan yang bisa menjadi Ketua tim yang baik..." Inoichi memberi jeda. "Naruto akan kesulitan kali ini. Dia akan ditarik dari misi luar negerinya. Dia juga akan dikeluarkan dari pasukan Khusus. Aku akan memberinya posisi di Kementerian Pertahanan, supaya dia memiliki pengalaman politik dan pemerintahan dan juga menjalin beberapa koneksi. Kau harus menyiapkan semuanya."
"Baik... Saya mengerti." Jawab Shikamaru singkat.
Inoichi menghentikan kegiatannya dan menatap pria itu. "Ino berpikir, perintah pemulangan mu itu tak masuk akal... Bagaimana menurutmu?"
"Saya setuju dengan Letnan Ino." Jawab Shikamaru cepat.
Inoichi tanpak menahan ekspresi kesal. "Coba saja selidiki, kau bisa melaporkan perbuatan ku bila kau mau."
"Tidak akan!" Balas Shikamaru singkat. "Saya telah kalah dalam pertarungan ini."
"Begitu?"
Shikamaru menatap Inoichi. "Anda memiliki senjata ditangan anda yang tak bisa saya lawan. Ini tulus... Anda sungguh sangat peduli dengan masa depan Letnan Ino dan sungguh tak dapat menerima saya. oleh sebab itu... Saya sependapat dengan anda. Dan karena itulah saya telah kalah dalam pertarungan ini. Saya akan mengalah demi Letnan Ino." Ucap Shikamaru dengan mata memerah.
Inoichi hanya diam menatap ekspresi Shikamaru.
Setelah selesai dari ruangan komandannya. Shikamaru berjalan di lorong kantor pasukan khusus itu sambil mengingat kembali surat pemberian Ino yang dia dapat dari Kotetsu:
Hatiku berkata, bahwa kau tidak akan pernah membaca suratku ini. Jika kau membaca surat ini, itu berarti kita berpisah lagi. Dan itu artinya, ayahku telah memerintahkanmu untuk pergi lagi. Maafkan aku. Aku memang wanita yang selalu merepotkan pria manapun, terutama dirimu. Tapi, aku akan selalu duduk di sini dan bertanya, bagaimana kabarmu? Walaupun, kau tak akan bisa menjawab pertanyaanku itu. Jarak kita mungkin sangat jauh sekarang. Maaf... Karena aku tidak bisa melepaskanmu meskipun aku tahu apa yang menghalangi kita. Maaf, karena aku masih ingin memelukmu dengan sepenuh hati. Tapi, aku masih menyesal... tak menggenggam tanganmu erat... dan tak memelukmu dengan erat. Maaf... karena aku masih mencintaimu. Aku berharap kau tak tidak akan membaca surat ini. Karena itu artinya, kita akan bersama-sama di Ame. Jadi, bagaimana ya nantinya? Apa kita bisa bertemu? Atau... kita akan berpisah lagi?
Shikamaru terdiam mengenang kemesraan dirinya dengan Ino saat sebelum peringatan dari Ayah Ino datang. Dia meraih ponselnya dan melihat beberapa foto mereka berdua yang tampak seperti pasangan serasi. Foto yang diambil saat kencan terakhir mereka. Di foto itu dia sedang duduk di dalam kafe sambil memposekan diri memcium Ino yang baru tiba dan tengah berdiri di luar jendela kafe sambil berekspresi heran melihat ke kamera. Shikamaru tahu, dulu Ino pasti bingung melihat tingkahnya yang sangat tak aneh itu. Tapi kalo dipikir-pikir, didunia ini hanya ada dua orang yang bisa membuatnya bertingkah aneh, pertama sahabat sekaligus atasannya, Naruto dan kedua adalah Yamanaka Ino sendiri.
Tepat saat asik melihat foto-fotonya bersama Ino, ia menerima panggilan dengan nama wanita itu. Namun hanya membiarkanya tak berniat mengangkatnya.
Merasa tak akan dijawab Shikamaru, Ino mengakhiri telfonnya. Dia menatap langit Ame yang tampak sangat cerah.
"Sumimasen.."
Ino menoleh kebelakang dan mrlihat seorang lelaki berambut bob. Dengan jubah dokternya menutupi pakaian hijau ketatnya. Membuat Ino heran.
"Anda dokter tentara baru, bukan?" Tanya Lee.
Ino berjalan mendekati Lee. "Kau anak magang RS. Konoha?"
Lee langsung tertawa dengan semangat. "Hahaha karena semangat masa muda ku... Aku jadi terlihat masih muda, kan? Aku ini residen tahun pertama! Tapi maaf, aku mau tanya... Karena sebentar lagi aku akan WaMil. Apa... Dokter tentara juga memegang senjata?"
"Dokter tentara itu prajurit juga."
"Oh" Lee mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bagaimana kalu perang pecah? Apa kita tidak mengobati musuh?"
Ino bersabar mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang pria aneh itu lontarkan. "Dokter tentara itu dokter juga!"
"Waw.. itu benar-benar menggambarkan semangat masa muda. Keren sekali!" Lee mendeklarasikan sambil tersenyum lebar.
Ino memiringkan kepalanya heran. "Apa kau sedang merayuku?"
Senyuman Lee langsung hilang. "Apa? Hahaha Kau salah paham. Aku hanya berpikir bahwa pekerjaanmu itu sangat keren. Dan juga..." Lee terdiam sejenak "kau tak begitu cantik."
"Kau bilang aku tak cantik?" Tanya Ino tak percaya.
"Wah~ hebat sekali. Akhirnya ada yang sependapat dengan ku. Matamu itu sangat jeli, dokter Lee." Dia menepuk-nepuk bokong Lee girang. "Kita harus rapat."
"Baiklah!" Balas Lee dengan semangat.
Ino menatap malas keduanya. "Aku tahu, pekerja dari RS. Konoha itu bakalan terlihat aneh seperti ini. Apa-apaan tadi itu?"
"Kau sedang bertanya atau mau mengajak berkelahi?" Tanya Sakura.
"Aku hanya bertanya, kok. Karena kau hanya di sini selama sebulan, tapi kalian malah membawa semua peralatan medis kalian hanya untuk bisa sok-sok berfoto saat memeriksa pasien.?" Ucap Ino berusaha memancing emosi Sakura. Dia melirik medicube yang tak jauh dari tempat mereka. "Apa kau juga menyusun kotak bento itu dengan barang-barang mewah?"
"Terima kasih telah menyebut bendan milik kami mewah, tapi—"
"Aku menyebut benda itu 'Kotak bento'."
Lee tampak menatap kedua wanita itu bergantian, melihat pertengkaran keduanya.
"Itu namanya.. Medicube, yang merupakan perlengkapan lapangan medis terbaik. Alasan kenapa kami membawanya bukan hanya demi sebulan di sini tapi kami juga ingin menyumbangkannya pada ABB setelah kami pulang. Apa itu mengganggumu, Nn. Yamanaka?"
Ini terdiam mendengar ucapn Sakura yang juga mulai membuatnya kesal. "Kau ini nanya apa nyari ribut? Baiklah kalau begitu, aku sedang sibuk." Ucapnya meninggalkan keduanya.
"Wanita sialan!" Ucap Sakura cukup keras. Lee hanya diam menatap Sakura yang tanpak kesal.
"Dia pasti mendengarnya." Ucap Lee pada Sakura.
"Dengar ya! Justru aku ingin dia mendengarnya. Lihat dia pura-pura tak mendengar apa-apa." Kedua melihat Ino yang berjalan mendrkati Medicube. "Aku menang. Ayo kita rapat!"
Lee tanpak tak yakin. "Yakin kau yang menang? Dalam aspek apa kau menang, senpai?"
"Tolong tambah persediaan Bioflor dan Entrue di apotek!" Printah Sakura yang tengah mengadakan rapat dengan anggota medis lainya. "Dan untuk tugas jaga malam ini dokter kaka—"
TUK!
Kakashi mengetuk meja sambil berdiri. Dia milai menatap para anggota medis lainnya. "Apa ada yang bisa menggantikan ku? Yaa sudah kuduga tidak ada... Baikalah akan kukerjakan." Ucap Kakashi malas.
Sakura tersenyum melihat tingkah Kakashi. "Baiklah, hari ini cukup sampai disini, apa ada pertanyaan lagi?"
Semuanya tanpak saling menatap satu sama lain, hingga akhirnya Moegi mengangkat tangannya. "Ah aku! Kenapa kita rapat dikantor kompi, bukan di Medicube?"
Sakura menunjuk keatas. "Apa ada yang bisa melepaskan benda itu dan menaruh ke Medicube?"
Semuanya terdiam dan menatap ke atas, melihat sebuah kipas angin. "Tidak ada!" Ucap mereka semua serentak.
Naruto keluar dari ruangannya dan tersenyum melihat kearah para relawan. Dia berjalan menuruni tangga.
ZST!
Walkie-talkie milik Sakura berbunyi. "Mrs. Tonton memanggil Kawaii, over!"
Sakura tersenyum mengambil walkie-talkienya. "Ini sangat menyenangkan bukan? Kawaii disini, over!"
"Apa menu makan siang hari ini? Over!"
"Nanti kuperiksa dulu, over!"
"Aku akan mengasih tau menunya pada mu..." Sakura menjatuhkan walkie-talkienya, kaget ketika mendengar suara Naruto. Para anggota medis hanya tersenyum menggoda melihatnya. "'Kawaii', Bagaimana kalau kita bicara sebentar, over!"
Kakashi mulai berdiri merapikan barang-barang miliknya. "Selamat tinggal, Kawaii!" Para anggota lainnya juga ikut merapikan barang-barang mereka dan berjalan meninggalkan Naruto dan Sakura.
Sakura tampak memerah menahan malu, sebelum akhirnya menoleh ke arah Naruto dengan kesal. "Apa yang mau kau bicarakan? Memangnya kau boleh bicara dengan ku?"
"Kenapa tidak?"
"Karena tunangan mu Kurasa tak akan senang!" Ucap Sakura ketus, wanita ktu bangkit berdiri dan hendak berjalan meninggalkan Naruto.
"Mau kemana? Aku harus bicara denganmu!"
"Tak ada yang perlu kudengar dari mu!"
Naruto hanya berdiri diam ditempatnya tak berniat mengejar wanita itu. Dia mendesah pelan. Ini semua karena wanita pirang sialan itu.
"Hei kau tahu tidak?" Tanya Kakashi pada Shizune, sambil terus bersama-sama mendorong sebuah lemari obat.
"Apa?"
"Kapten Naruto dan Sakura, sepertinya memang ada sesuatu diantara mereka kan?"
Shizune mulai menyusun obat-obatan. "Memangnya kenapa?"
Kakashi juga mulai membantu Shizune dengan memberinya obat yang akan disusun. "Ya sama halnya seperti kita ini."
Shizune masih terus menyusun obat tanpa menoleh kearah Kakashi. "Memangnya apa yang terjadi diantara kita? Cuma ada kesialan dan penyesalan."
"Kesialan dan penyesalan?" Tanya Kakashi, pria itu menghentikan kerjaanya. Pria itu menjatuhkan semua susunan obat yang sudah disusun rapi oleh Shizune. "Baiklah kalau aku ini memang kesialan bagimu... Rasakan." Ucapnya sebelum berjalan meninggalkan Shizune.
Shizune hanya diam menatap kerjaan Kakashi yang membuatnya kesal belum lagi berkat ulah Kakashi, obat lainya juga ikut terjatuh dan menambah pekerjaannya. "Manusia sawah sialan!"
Sasuke masih terus sibuk mencoba memperbaiki mobilnya, ditemani oleh karin yang sedang berdiri bersandar sambil memegang pintu mobil. Sambil tersenyum girang dengan pipi merona memperhatikan Wajah tampan Sasuke yang dipenuhi keringat yang membuatnya terlihat sangat seksi.
"Kau kelihatan sangat seksi... Tapi aku lebih suka melihat mu memegang pisau bedah. Kau jauh lebih seksi ketika memegang pisau bedah daripada peralatan bengkel itu." Ucap Karin pada Sasuke.
Sasuke menyeringai mendengarnya dia menoleh ke arah Karin. "Hanya wanita Konoha yang bilang begitu... tapi wanita luar yang kutemui, lebih suka pria yang memegang pelaratan bengkel seperti ini." Ucapnya sebelum mrmasuki mobil.
Karin tampak sangat kesal. "Berani-beraninya kau menemui wanita luar itu dibelakang ku! Pria brengsek!"
Sasuke mulai menghidupkan mobil yang dia perbaiki. Beberapa kali coba mobil itu tak bisa hidup hingga dipercobaan terakhir mobil itu akhirnya menyala. Membuat karin tersenyum girang diluar.
Sasuke mengeluarkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Pintunya! Kemarikan."
Karin menganggukan kepalanya dan berusaha membawa pintu mobil yang sangat berat itu.
Naruto mulai merapikan pakaiannya krdalam tas. Ya, dia sddang mengemasi pakaiannya untuk bersiap kembali ke Konoha. Namun dia sama sekali tak merasa gembira sedikit pun, hingga akhirnya dia mendengar suara walkie-talkienya berbunyi dan mendengar suara Lee dan kakashi yang tengah bermain perang-perangan.
ZST!
"Ini si Hansamuna, hansamuna. Komandan jawab komandan, over!"
ZST!
"Roger, ini komandan, ada apa?"
ZST!
Lee menunduk dan merapikan helm militer yang dikenakannya. "Ada seseorang pria terkapar! Kita butuh lebih banyak morfin!"
ZST!
Kakashi berjalan memasuki ruang rawat inap Medicube. "Tenanglah dan tahan sebentar!" Dia berjalan sambil bersembunyi dibalik tembok. "Akan kuberikan sebelum terlambat."
ZST!
"Baiklah aku akan bertahan sampai akhir!" Balas Lee.
ZST!
Kakashi berlari dengan membawa beberapa pereda nyeri dan sampai ditempat Lee berada. "Ini dia—"
BUAGH!
"AARRRRG!" Kakashi meringis kesakitan ketika menerima pukulan pada punggungnya yang diberi oleh Shizune yang juga baru datang.
ZST!
Shizune meraih walkie-talkie miliknya. "CLEAR!"
ZST!
Naruto hanya menggelengkan kepalanya mendengar sifat kekanak-kanakan Kakashi dan Lee yang sedang bermain perang-perangan dengan walkie-talkie yang dia beri.
ZST!
"Ini... Hha.. haa. Aku... Masuklah kawaiii! Kami perlu pasukan untuk menambah semangat pasukan kita, oooooooveeeer—arrrghhh!"
ZST!
Senyuman Naruto hilang ketika melihat batu yang dia ambil dari pantai Rinnegan beberapa waktu yang lalu.
ZST!
"Kawaii disini, kau akan mrndapatkanya, over!" Pemilik call-sign 'kawaii' tampak berdehem. "Aku penyanyi cantik yang baru saja menyelesaikan tour antar benua!"
Naruto meraih batu itu dan melihatnya, kemudian mendudukkan diri pada kasurnya mendengar 'kawaii' yang mulai menyanyikan sebuah lagu.
"~dibawah langit biru... terbentang gunung dan sungai... matahari terbit sekali lagi... di lahan baru yang makmur ini kau Dan aku menyerahkan masa muda kita untuk negeri ini... bila ini jalan untuk kebebasan dan kedamaian... kami akan dengan senang hati menyerahkan masa muda kami kami akan memberikan hidup kamiiiii~"
Naruto menimang-nimang batu itu sambil mendengarkan lagu yang dinyanyikan Sakura denga wajah yang tak bisa diartikan.
Esoknya, Naruto masih menjalani tugasnya disisa masa tugasnya. Dia terus mengawasi anggotanya yang sedang menyisir lokasi untuk mencari bahan peledak maupun ranjau darat.
Dia menatap satu persatu wajah dsrri para prajuritnya, dan termenung. Dia pasti akan sangat merindukan suasana ditempat ini saat tiba di konoha.
Para anggota tim medis dan prajurit sedang mengadakan makan bersama. Sakura datang belakangan dan terheran melihat adanya sebuah kue tar.
"Waah kenapa ada kue?"
Konohamaru meraih kursi. "Silahkan duduk disini. Kami baru saja berencana memanggilmu dokter."
Sakura masih menatap bingung kue itu. "Ini perayaan untuk siapa? Ah, aku tahu siapa yang ulang tahun?"
"Ini pesta perpisahan untuk Kapten kami." Ucap Neji sambil menatap Sakura, menunggu reaksi wanita itu.
Sakura mengangguk mengerti. "Oh kapten kalian berarti..." Sakura tersadar dan langsung menatap Neji. "Maksud mu kapten Naruto?"
"Ya! Tugasnya berakhir besok, jadi dia akan pulang."
Malamnya, Sakura tampak mondar-mandir dengan kesal, karena Naruto tak mengatakan apa-apa padanya. Lalu ia duduk dan mengutak-atik walkie-talkienya. Ia memasang saluran 3, saluran untuk Tim Black Fox. Yang sudsh dilarang Naruto.
ZST!
"Ganti shift jam 20:30 untuk gudang amunisi, shift diambil alih!"
ZST!
"Dimengerti!"
ZST!
"Naruto-Baka! kau sebenarnya pria macam apa sih? Bagaimana bisa... kenapa kau tak pernah memberitahuku?" Ucap Sakura tanpa meyadari tengah menekan tombol walkie-talkie.
ZST!
"Alpha Fox, Copy!"
ZST!
"HAH!" Pekik Sakura kaget dan menjatuhkan walkie-talkienya, mendengar suara Naruto.
ZST!
"Kalau ada yang melihat Haruno Sakura, laporkan padaku!"
ZST!
Sakura meraih walkie-talkie itu kembali dengan gugup. "Aku disini, kenapa?"
ZST!
"Dr. Sakura? Kenapa kau mendengarkan saluran tim militer? Apa kau seorang mata-mata? Kita harus bertemu. "Disini" itu dimana?"
ZST!
Sakura tampak menahan malu karena kelalaiannya itu. Ia pun memberitahu Naruto diamana dia berada dan tak berselang lama dia bisa melihat pria itu sudah tiba dan menatapnya.
"Besok aku pulang. Katanya kau sudah tahu."
"Benar. Tepatnya aku yang terakhir tahu dari seluruh orang di kompi ini.
Naruto menatap Sakura. "Kemarin sore aku mau memberitahu mu, tapi kau malah bilang tak ada yang perlu kau dengar dari ku dan malah pergi meninggalkan ku, kau ingat?" tanya Naruto.
"Kau harusnya mengejarku. Jika kau memang bisa menyelamatkan Prajurit Ryan, kau pasti bisa hanya untuk mengerjarku."
Naruto menggelengkan kepalanya. "Entahlah, aku hanya tak ingin mengganggu dokter Sakura yang marah padaku. Bukan begitu?"
"Kau salah!" Ucap Sakura dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan tangis.
"Apa pikiran dokter Sakura masih belum jernih?" Tanya Naruto, mereka berdua terdiam cukup lama. Naruto mengangguk ketika tak mendapat jawaban dari Sakura. "Begitu rupanya. Aku mengerti. Izinkan aku bertanya sekali lagi..." Naruto menarik napasnya. "Mungkin ini terakhir kalinya kita akan bertemu. Ini tentang ciuman itu.—"
"—Tak perlu membahasnya lagi sampai aku—" potong Sakura
"—Lalu, aku harus bagaimana? Haruskah aku minta maaf atau... mengakui perasaanku padamu?" Naruto juga balas memotong ucapan Sakura.
Sakura hanya terdiam menatap mata Naruto yang sudah memerah. Bingung ingin mengatakan apa, dia sendiri masih belum siap dengan hubungan mereka berdua yang sangat sulit ini tapi disisi lain dia masih ingin terus bersama dengan pria ini. Mereka diam masih saling menatap satu sama lain dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan...
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Updatesoonplease (nama yang aneh haha): terimakasih udah meriview. Soal wordnya kepanjangan, ya sekita 10-12 word per chap, ya ane sih sempat mau memendekan wordnya sehingga chap dari ff ini bisa banyak... Tapi berdasarkan pengalaman saya sebagai reader saya selalu suka dengan autho yang membuat fic dengan word yang panjangnya minta ampun, walau pun updatenya lama saya akan tetap puas. Iya-iya kalo gak ada halangan saya akan update setiap hari minggu.
Stable. Wind. Roll: hahaha... Saya sih gak terlalu suka lagu korea *kagakngerti* saya biasanya dengerin lagu-lagu JKT48 atau AKB48 *PLAK* buat nulis fic ini.
Narutolovers: iya ini udah update ya!
Uzu: ini udah update, silahkan baca.
Aji namikaze: sip!
Evil plankton: Yokai!
Saya mau bahas tentang Prajurit Ryan atau Private Ryan, yang suka nonton film perang pasti tau siapa sih prajurit Ryan. Anggap aja filmnya itu bukan film dari amerika di fic ini ya! Begitu juga dengan karakter bill gate yang juga pernah ada di fic ini. Dan untuk flashback Naruto itu saya ambil dari gabungan plot asli dots dan dari game "Call of duty 4: Modern Warfare 3". Di game yang diselamatkan sih bukan rekan sesama prajurit tapi presiden dari rusia, silahkan mainkan gamenya supaya lebih tau ya.
Tq for your Fav, Fol, and Review!
Udah itu aja untuk kali ini, Minashi-NoBaka ini pami dulu. Sampai jumpa minggu depan!
REVIEW
VVVVVVVVVV
VVVVVVVVV
VVVVVVVV
VVVVVVV
VVVVVV
VVVVV
VVVV
VVV
VV
V
