Warn! Typos!

.

.

.

.

Jongin mengerutkan dahinya kebingungan. Pasalnya, se-kembalinya ia dari menggoda janda bersama Sehun ia melihat kedua anaknya itu tengah tidur terlentang bersisihan dilantai di depan televisi.

"Heh! Kalian kenapa?" Jongin menendang-nendang kaki Mingyu dan Donghyuck bergantian.

"Bencana Ayah. " ucap Mingyu dengan pandangan lurus menatap langit-langit rumahnya.

"Kenapa sih?" Tanya Jongin semakin penasaran. Ia ikut membaringkan tubuhnya menyelip diantara Donghyuck dan Mingyu, "Geser sedikit. "

"Apa-apaan sih Ayah?! Sempit!" Dumal Donghyuck yang badannya di geser paksa oleh Jongin.

"Ya makannya Ayah suruh geser!"

Mingyu menghela nafas jengah, ia lupa ingin mengatakan apa tadi gara-gara mendengar Ayah dan adiknya memekik satu sama lain.

"Ahh aku ingat!"

Jongin dan Donghyuck langsung menolehkan kepalanya ke arah Mingyu dengan raut wajah bertanya-tanya.

"Apa?" Jongin merapatkan tubuhnya sehingga menempel kepada Mingyu, membuat sang anak memasang raut tak suka. "Ayah jangan dekat-dekat!" Ujar Mingyu sambil mendorong-dorong tubuh Ayahnya menjauh.

"Hyung jangan dorong Ayah ke arahku!" Protes Donghyuck tidak terima karna tubuh sang Ayah jadi menempel kepadanya.

"Lalu harus ku dorong kemana?!" Balas Mingyu.

"Ya jangan ke arahku! Ayah sana!" Donghyuck mendorong tubuh Jongin sehingga kembali menempel pada Mingyu. Membuat Mingyu sontak mendudukan dirinya dan menjerit murka.

"Donghyuck!!"

"Apa?!" Donghyuck ikut mendudukkan dirinya dan balas berteriak kepada Mingyu.

Jongin yang masih terlentang hanya menatap ke dua anakanya yang duduk di sisi kiri dan kanannya dengan pandangan tersakiti. "Kalian jijik pada Ayah?" Tanya Jongin dramatis.

Donghyuck mendengus kesal kemudian kembali membaringkan tubuhnya di samping sang Ayah.

"Ayah, aku mau tanya. " ucap Donghyuck tiba-tiba.

"Apa?" Balas Jongin.

"Jangan tanya-tanya dulu! Biarkan aku saja yang bicara. " Mingyu menyela perkataan Donghyuck saat mendengar sang adik akan mengatakan hal yang sebenarnya ia ingin katakan tadi.

"Yasudah makannya cepat katakan hyung!"

"Kalian membuat Ayah pusing dari tadi! Cepat katakan!" Gerutu Jongin kesal. Ia merasa anak-anaknya ini sedang mempermainkannya.

"Begini Ayah, " Mingyu memasang raut wajah seserius mungkin sambil menatap Ayah dan adiknya yang sedang berbaring terlentang di hadapannya. "Menurut Ayah, bagaimana jika Donghyuck menikah?"

Jongin tampak diam berpikir sesaat dengan raut wajah datar sedangkan Donghyuck langsung menggeser tubuhnya menjauh dari sang Ayah mengantisipasi.

"Apa kau bilang? Coba ulangi lagi. " pinta Jongin.

Mingyu mendengus lalu mengulang pertanyaannya lagi sesuai permintaan sang Ayah. "Bagaimana jika Donghyuck menikah? "

Donghyuck terus menggeser tubuhnya semakin menjauh dari Ayahnya. Ia tiba-tiba merasa Ayahnya akan-

"APA?!!!!!" Jongin langsung bangkit berdiri dan memandang Mingyu tidak percaya.

Mingyu mengerjabkan matanya beberapa kali karna terkejut melihat sang Ayah tiba-tiba saja berdiri lalu menjerit seperti itu.

"Kau bercanda Gyu?! Dia-" Jongin menunjuk Donghyuck yang berbaring tengkurap menyembunyikan wajahnya, "Anakku yang mungil itu akan menikah?! Yang benar saja!"

"Aku sudah besar Ayah!" Protes Donghyuck.

"Diam!"

Donghyuck mendecih kesal kemudian bangkit berdiri dan mendudukan dirinya di samping Mingyu.

"Aku sudah dewasa Ayah. Aku sudah 19 tahun! Aku sudah punya Soulmate! Aku suda-"

"Kau sangat ceroboh! Kau takut kegelapan, kau masih senang bermain dengan boneka anjing buntung milik Mingyu, kau masih suka menjahili tetangga, kau masih suka meringik tidak jelas, kau juga suka sekali merajuk, kau-"

"Ayah!" Potong Donghyuck cepat.

"Apa?! Itu yang namanya sudah dewasa?! " balas Jongin sambil mendelik.

"Ayah duduk dulu. Tenang dulu. " Mingyu menarik tangan Ayahnya agar segera duduk.

Jongin menarik nafas pelan dan menghembuskannya pelan. Ia lalu mendudukkan dirinya di hadapan Mingyu dan Donghyuck.

"Kenapa bertanya tiba-tiba seperti itu sih?! Buat kaget saja. " gerutu Jongin, "Seperti Donghyuck akan menikah saja. "

"Donghyuck memang akan menikah Yah, " celetuk Mingyu.

"Apa kau bilang?!" Jongin kembali memekik heboh, membuat Donghyuck dengan sigap membekap mulut sang Ayah supaya diam.

"Ayah bisa tidak sih tidak berteriak seperti itu?!" Desis Donghyuck emosi.

Jongin melepaskan bekapan Donghyuck dari mulutnya kemudian menatap kedua putranya itu tajam.

"Apa yang terjadi sebenarnya, katakan pada Ayah!"

Mingyu menengguk ludahnya kasar, kenapa ia yang takut sekarang, kan adiknya yang akan menikah!

"Tadi... Aku dan Donghyuck baru saja dari rumah Mark. "

"Terus?!"

Donghyuck mencengkram paha kakaknya dengan kuat karna merasa ngeri dengan raut wajah Ayahnya yang terlihat sangat marah dengan hidung yang kembang kempis.

"Ibunya Mark-"

"Ibunya kenapa?! Cantik?!" Potong Jongin.

Donghyuck mendelik kesal kearah Ayahnya lalu mencubit pinggangnya dengan kuat, "Apa sih?! Jangan main asal potong orang bicara Yah!"

"Ibunya Mark, meminta Donghyuck dan Mark agar segera menikah. "

"Apa?! Kenapa bisa begitu?!"

"Memangnya aku tidak boleh menikah ya Yah?" Tanya Donghyuck

"Tentu saja tidak!" Balas Jongin cepat.

"Kenapa?!"

"Kau akan mati dan tua bersama kami!" Sahut Mingyu asal.

"Mana bisa begitu!" Pekik Donghyuck tidak habis pikir.

"Tentu saja bisa!" Balas Jongin, "Lagipupa jika kau dan Mark menikah, maka Mark harus tinggal disini. Atau Ayah dan hyungmu akan mengintilimu selamanya."

Donghyuck memijat pangkal hidungnya frustasi. Ia tidak menyangka jika Ayah dan kakaknya sangatlah se-posesif itu padanya.

"Sudah, jangan bahas pernikahan lagi. Membuat sensi saja." Ucap Jongin kemudian berjalan mengambil air mineral dari dalam lemari pendingin.

"Dan kau Donghyuck, " Jongin menunjuk Donghyuck menggunakan telunjuknya sambil menatapnya tajam, "Jangan menemui Mark dulu. Ingat itu!" Perintah Jongin mutlak lalu berjalan pergi meninggalkan kedua anaknya.

Donghyuck baru mau saja protes tapi Mingyu segera memegang pundaknya dan menggelengkan kepalanya pelan, "Biar hyung yang urus"

Donghyuck menganggukan kepalanya singkat kemudian mencoba tersenyum, "Terimakasih hyung. "

.

.

.

Lucas dibaringkan tepat di samping ranjang Renjun yang tengah tidak sadarkan diri juga. Jaemin tidak bisa berhenti menangis melihat keadaan sahabatnya yang bermulut jahat itu dalam kondisi seperti ini.

Jeno yang berada disebelah Jaemin langsung merengkuh sang Soulmate mencoba menenangkan.

Tiba-tiba saja terdengar pintu klinik terbuka dengan keras. "Apa yang terjadi?!"

"Kun hyung?" Ucap Jaemin saat melihat orang yang masuk tadi adalah Dokter yang dikirim dari Soulmate Center yang ternyata adalah sahabat sepupunya.

"Jaemin?"

"Kun hyung huaaaaa" Jaemin langsung melepaskan diri dari pelukan Jeno dan menghambur ke dalam pelukan Kun.

"Selamatkan Renjunku hyung!!" Tangis Jaemin.

"Hei jangan menangis, biarkan hyung memeriksa temanmu dulu ya. "

Jeno langsung menarik tubuh Jaemin agar menjauh dari Kun supaya Kun bisa segera memeriksa keadaan Renjun dan Lucas.

"Apa dia habis berkelahi?" Tanya Kun sambil menunjuk ke arah Lucas.

Jeno menganggukan kepalanya meng-iya-kan.

"Lalu dia kenapa?" Tanya Kun lagi sambil menunjuk ke arah Renjun.

"Tidak tahu. Tiba-tiba saja dia berteriak ke sakitan seperti sedang dipukuli, kemudian ia tidak sadarkan diri begitu saja!" Jelas Jaemin sambil terisak.

"Astaga. " Kun segera mengeluarkan alat medis khusus yang ia bawa dari Soulmate Center, ia yakin Renjun seperti ini karna Soulmate-nya.

Kun meraih tangan Renjun lalu menuliskan sebuah kalimat di atasnya. Sesaat kemudian kalimat itu menghilang.

"Oh my god! " pekik Jeno tiba-tiba.

Jaemin dan Kun langsung menolehkan kepalanya ke arah Jeno yang kini tengah membekap mulutnya tidak percaya.

"Kenapa sayang?!" Tanya Jaemin penasaran.

"Itu-" Jeno menunjuk lengan Lucas dengan telunjuknya, "Apa itu kalimat yang dokter Kun tulis ditangan Renjun?"

Kun dan Jaemin langsung mengalihkan pandangannya ke arah tangan Lucas yang terdapat sebuah kalimat berpendar di atasnya.

"Daebak" ucap Jaemin sambil menganga tidak percaya. Sama dengan Jaemin, Kun membelalakkan matanya terkejut melihat tulisan yang muncul di tangan Lucas.

'Siapapun dirimu, jika kau melihat pesan ini, kumohon agar segera ke ruang kesehatan di Universitas Neo Culture Technology. Soulmate-mu membutuhkanmu.'

"Itu... Kalimat yang aku tulis di tangan Renjun. "

.

.

.

Omake:

Mingyu berjalan menghampiri Ayahnya yang tengah duduk sendirian di taman belakang sambil memandangi taman bunga.

"Ayah. " panggil Mingyu pelan.

Jongin menolehkan kepalanya dan langsung menyeka air matanya saat melihat sang anak mendekatinya.

Mingyu mendudukan dirinya di sebelah Ayahnya dan memandang sang Ayah dengan raut wajah panik.

"Ayah menangis?!"

"Tidak!"

"Bohong!"

"Ayah tidak menangis! Ayah hanya-" Jongin menjeda sejenak kalimatnya lalu menghembuskan nafasnya pelan, "Ayah hanya sedang mengobrol dengan Ibumu.. "

Dada Mingyu langsung mencelos pedih mendengar perkataan Ayahnya dengan nada sedih dan sarat akan kerinduan.

"Ayah hanya ingin memberitahu Ibumu, jika Donghyuck akan segera pergi dari rumah ini. " Jongin terus menatap taman bunga se-peninggalan sang Istri. Ia rindu istrinya.

"Donghyuck tidak akan kemana-mana Ayah. " ucap Mingyu.

Jongin tersenyum kemudian menghela nafas pelan, "Dia akan ikut bersama Soulmate-nya. Meskipun Ayah tahu hal itu akan terjadi tapi tetap saja Ayah belum siap. "

"Ayah yakin Ibumu akan merasa hal sama seperti Ayah. "

Mingyu menggenggam tangan sang Ayah, "Ayah masih punya aku. Aku akan menempeli Ayah sampai tua. Ayah tenang saja, aku tidak akan pernah meninggalkan Ayah. " ucap Mingyu dengan mata berkaca-kaca.

Jongin tertawa kecil mendengar perkataan anak sulungnya yang terdengar sangat mengerikan di telinganya, "Tapi kau tidak menggemaskan seperti Donghyuck."

Mingyu mengerucutkan bibirnya sebal, "Aku juga bisa menggemaskan! "

Jongin mengusak pelan kepala Mingyu dengan sayang, "Kau tidak boleh menggemaskan. Kau harus terlihat keren seperti Ayah. "

Mingyu mendecih, "Seperti Ayah keren saja. " cibir Mingyu durhaka.

Jongin yang semula mengusak sayang kepala Mingyu kemudian berubah menjadi jambakan kuat, "Enak saja!"

"Sakit Ayah!" Pekik Mingyu kesakitan.

"Kau ini, merusak suasana saja. "

"Ayah sih berkata hal-hal yang mengundang hujatan. " balas Mingyu sambil mengusap-usap pelan kepalanya.

"Ayah masih merasa bermimpi. " ucap Jongin tiba-tiba. "Kau dan Donghyuck sebesar ini."

"Tentu saja! Ayah saja sudah tua" balas Mingyu yang langsung dihadiahi delikan kesal dari Jongin.

"Kau ini dari tadi merusak suasana saja. Pergi sana!" Sungut Jongin kesal.

Mingyu tertawa melihat sang Ayah memberungut kesal karna ulahnya. Lalu setelahnya Mingyu langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi serius.

"Ayah, tentang larangan Ayah yang Donghyuck tidak boleh dulu bertemu dengan Mark, apakah Ayah tidak keterlaluan? " ucap Mingyu.

Jongin hanya diam tidak menjawab pertanyaan sang anak.

"Maksudku Yah, memisahkan sepasang Soulmate bukankah hal yang buruk?"

"Ayah tahu, Ayah hanya masih belum siap Gyu. "

"Aku tahu, tapi Ayah juga akan membuat Donghyuck sedih jika melarang Donghyuck untuk bertemu Soulmatenya? Ayah ingin Donghyuck sedih?"

Jongin sontak menggelengkan kepalanya dengan kencang, "Tentu saja tidak!"

"Tapi larangan Ayah menyakitinya... "

Jongin menghembuskan nafas pelan, "Kau benar. Ayah malah menyakitinya. "

"Aku punya ide Ayah. Ide ini akan membuat Donghyuck tetap berada di sisi kita lebih lama tanpa menyakitinya. " ucap Mingyu sambil menaik-turunkan kedua alisnya.

Jongin mengerutkan dahinya bingung, "Apa?"

Mingyu menyuruh Sang Ayah agar mendekat kepadanya lalu membisikan sesuatu di telinganya.

"Bagaimana?" Tanya Mingyu dengan senyuman bangga.

Jongin menganggukan kepalanya, "Boleh juga. "

"Bagus!" Seru Mingyu puas. Dengan begini, kedua pihak tidak akan tersakiti.

.

.

.

Omake II:

"Aku serius sayang! Soulmate Mark sangatlah manis!"

Mark, Taeyong dan Ayahnya hanya memutar bola mata malas dan melanjutkan makan malam mereka, mengabaikan pekikan sang Ibu yang masih kegemasan dengan Donghyuck.

"Mark! Kau harus segera mengajaknya menikah. Atau kau mau Ayah dan Ibu yang melamarnya langsung?"

Mark langsung tersedak makanan yang ia makan setelah mendengar perkataan dari sang Ibu.

"Ibu!" Ucap Mark sambil mendelik kesal.

"Sayang, Mark belum boleh menikah. Taeyong saja belum menikah. " ujar Ayah Mark.

Taeyong menganggukan kepalanya setuju dengan perkataan sang Ayah, "Tentu saja! Aku tidak mau Mark menikah lebih dulu di banding aku."

Ibu Mark mengibaskan tangannya pelan, "Kau bisa menikah bulan depan, lalu Mark akan menyusul sebulan kemudian."

"Ibu?!!!" Pekik Mark dan Taeyong bersamaan.

"Apa?!" Balas sang Ibu sambil melotot.

"Pokoknya Ibu tidak mau tahu. Kalian berdua harus segera menikah." Ucap Sang Ibu final.

Mark dan Taeyong langsung menatap Ayahnya meminta pertolongan.

Sang Ayah yang di tatap oleh kedua putranya dengan raut wajah tak berdaya hanya bisa mendesah pelan, "Sudah, turuti saja apa kata Ibumu. "

Sang Ibu tertawa puas melihat ke-tiga pria dihadapannya menurut padanya.

"Bagus! Astaga! Akhirnya aku akan mempunya menantu!!" Pekik sang Ibu kegirangan.

Mark mengela nafas pelan. Bukannya ia tidak senang jika menikah Donghyuck, tentu saja ia sangat senang. Tapi ia tidak yakin apa Donghyuck akan merasakan hal yang sama seperti dirinya. Masih teringat dengan jelas di ingatan Mark bagaimana ekspresi kaget Donghyuck saat mendengar perkataan Ibunya yang menyuruhnya agar segera menikahi bocah itu. Ia takut Donghyuck tidak suka, ditambah ia dan Donghyuck belum terlalu lama mengenal satu sama lain, ia semakin khawatir saja. Mark yakin emosi dan tenaganya akan terkuras habis karna hal ini.

.

.

.

.

tbc

Halooooo i'm back!!!

Ada yang menunggu book ini? Absen dong wkwkwkkww

As always aku mau mengucapkan beribu-ribu terimakasih buat kalian yang udah mau review Mwahhhh

p. s sebenernya tuh chaps ini udah aku pub di wp kemaren, mau Up di sini lupaaaaa TT mian :'(

See you next chaps! Have a nice day!!