"Hey, dear … Mengapa menangis?" tanya sebuah suara dengan tak berperasaannya.
'Ia baru saja mengundangku ke acara pertunangannya dengan wanita lain lalu kemudian bertanya dengan polosnya tentang apa yang membuatku menangis?! Hell!' Hermione membatin kesal. Lalu kemudian mendongak menatap netra kelabu di hadapannya. Hermione benci mengakuinya, tapi … Ia sangat menyukai tatapan itu, tatapan menenangkan seorang Draco Malfoy.
"Kumohon Draco, jangan ganggu aku lagi. Lupakan aku," ucap Hermione bergetar.
"Hey! Kau berkata apa, sih? Kau belum membacanya, 'kan?"
Demi kolor Merlin, Hermione benar-benar merasa ingin mencekik pemuda pirang menyebalkan itu. Dari sampulnya saja sudah sukses membuat Hermione meluruhkan air mata, dan sekarang pemuda itu memintanya untuk membaca isinya? Bodoh kau, Malfoy!
Dengan segenap perasaan yang membuncah, Hermione dengan secuil ketegarannya yang masih tersisa mencoba membuka undangan itu dan mulai membaca isinya. Tak perlu waktu lama, hanya butuh waktu tiga detik bagi Hermione untuk membeliakkan manik hazelnya dengan tak percaya.
"Draco Lucius Malfoy dan Hermione Jean Granger?!" pekik Hermione tanpa bisa ia cegah. Pemuda di hadapannya hanya menyeringai tipis, sebelum kembali berujar.
"Bagaimana menurutmu? Undangannya bagus, 'kan?"
"Ta … tapi ….. Ba…bagaimana dengan Astoria?" Raut wajah Draco langsung berubah drastis menjadi datar tak berekspresi.
.
.
.
My Blood is Ferret
.
.
Disclaimer :
Harry Potter © J.K. Rowling
My Blood is Ferret © Ms. Loony Lovegood
(Tak ada keuntungan material apapun yg saya dapatkan dengan menulis fict ini, semata-mata hanya karena kesenangan dan kecintaan saya terhadap serial menakjubkan 'Harry Potter' beserta para tokoh-tokoh istimewanya!)
.
Rated : T
Romance, Hurt/Comfort
Warning!
Saya sudah berusaha untuk tidak typo
(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf)
.
|Happy Reading, Guysss... But,don't like? don't read! RnR please|
.
.
Chapter 22 : Perdamaian
.
.
.
"Draco Malfoy! Apa yang kau lakukan?!" geram seorag gadis bersurai cokelat ikal, netranya melotot garang ke arah sosok pemuda pirang yang sedang asyik mengerjakan sesuatu—entah apa. Sebelah alis pemuda itu terangkat sebelum kembali menekuri aktivitasnya.
"Jangan berlebihan, dear. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan," responsnya acuh tak acuh. "Jelek, jelek. Lumayan, jelek, mmh luma—"
"Tapi kau bahkan belum mendengar tanggapanku!"
"Aku tahu, bahkan sebelum kau mengatakannya." Ia masih tetap pada aktivitas awalnya, menjentikkan tongkatnya beberapa kali ke arah sebuah kertas berwarna hijau dengan sedikit sentuhan perak di beberapa bagiannya. Ia melakukannya berulang-ulang hingga harus membuat Hermione memutar kedua bola matanya berkali-kali pula.
"Tapi ini masalah serius, Draco ... Merlin! Kau tak bisa seenaknya berpikir seperti itu! Ini tidak hanya menyangkut masalah kita, tapi juga menyangkut banyak orang!" Hermione mengerang putus asa, sesekali meremas rambutnya sendiri.
"_"
"_"
"Oh, aku tak tahu apa yang akan dikatakan Harry, Ron, Ginny, dan semua sahabat-sahabatku jika aku memberitahunya mengenai ini!" Gadis itu masih setia berceloteh sambil memijat kepalanya frustrasi, lalu berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir di ruang rekreasi Ketua Murid. Mengetuk-ngetukkan jari telunjuk dan jari tengahnya di atas dagu lancipnya.
"_"
"_"
Merasa tak mendapatkan tanggapan yang diinginkannya, akhirnya Hermione menoleh ke arah pemuda pucat yang masih sibuk menjentikkan tongkatnya tanpa peduli dengan setiap ocehan yang dikeluarkannya sambil terus bergumam 'jelek, lumayan, cukup bagus, jelek …' dan begitu seterusnya. Darah gadis itu seolah mendidih, mengalir penuh emosi hingga ke ubun-ubunnya. Giginya bergemeletuk menahan amarah, sebelum akhirnya suara serak sarat kekesalan berhasil keluar melalui pita suaranya.
"Aku berbicara padamu, Mister Malfoy!" Hermione menekankan suaranya di dua kata terakhirnya, membuat sang pewaris tunggal keluarga Malfoy itu mendongak menatap sepasang permata karamel yang sedang mengawasinya tajam. Draco dapat melihat dengan jelas gadis itu menarik napas kesal dari sela-sela geliginya. Ia menghela napas pelan, lantas kembali berujar dengan santai.
"Ya, aku tahu." Hermione makin melotot tajam ke arah Malfoy junior itu. 'Hanya begitu? Huh! Dasar Musang menyebalkan!'
"Hah? Hanya seperti itu tanggapanmu?! Tak ada yang lain?" Pertanyaan—oh, ataukah lebih tepat dikatakan sebagai pernyataan, eh?—itu justru semakin membuat sebelah alis Draco terangkat tinggi diiringi dengan seringai tipis yang mulai mencuat dari bibir seksinya.
"Ah, menunggu yang lain rupanya?" seringainya makin melebar. Ketimbang menjawab, Draco sebenarnya lebih memilih untuk bertanya balik, meskipun ia tahu bahwa sama sekali tak dibutuhkan jawaban atas pertanyaan ambigunya barusan.
"Kau menyebalkan, Draco!" sembur Hermione seraya melipat tangannya di dada, alisnya berkerut-kerut kesal di bawah pendaran sinar hazelnya yang memicing tak suka.
"Well, terima kasih."
"Itu bukan pujian, Musang!"
"Tapi kuanggap begitu."
"Draco! Aku sedang berbicara serius!" Pemuda yang diteriaki dengan nama Draco itu pun segera bangkit berdiri dari sofanya lantas berjalan penuh kharisma mendekati Hermione. Gadis itu nampak terperangah sebentar sebelum akhirnya ia kembali mengapung dalam kanal kewarasan dan mulai menutup mulutnya yang sedikit terbuka dengan gerakan kikuk.
Jari-jemari pucat pemuda blonde itu dengan lihai bermain di wajah Hermione yang mulai berkeringat, menyisipkan sehelai anak rambut yang jatuh berantakan di bingkai wajah gadisnya itu. Well, meskipun Draco sudah tak terhitung bertingkah seperti ini, namun tetap saja hal itu selalu berhasil membuat Hermione diam tak berkutik dan pada akhirnya hanya akan berakhir dengan pipi merona cantik serta debur jantung yang tak karuan. Oh, jangan lupakan soal lutut yang mulai melemas bak jelly.
"Kaupikir aku tak serius, my little Otter?" bisik Draco sensual tepat di belakang cuping telinga Hermione. Desah napasnya yang begitu intim dan hangat seolah mampu mengirimkan sinyal-sinyal listrik yang mau tak mau benar-benar mampu menggelitik pertahanan yang sedari tadi telah dibangun mati-matian oleh gadis Gryffindor itu.
Hermione's PoV
Hell! Inilah alasan mengapa aku membenci dan secara bersamaan juga sangat mencintai seorang Draco-Menyebalkan-Malfoy! Aku tak tahu bagaimana tepatnya ia selalu bisa membuat wajahku memerah, membuat jantungku menggedor-gedor tak tahu malu seolah akan meluncur keluar dari tempatnya begitu saja—well, meskipun aku yakin seribu persen bahwa hal itu tak mungkin terjadi. Tapi, oh, percayalah kurasa aku tak berlebihan dalam mengungkap hal ini, sebagaimana otot-otot lututku yang seakan berkonspirasi—melemas bak jelly di luar tatakan tatkala pemuda pirang itu berada di dekatku.
Ah, aku tak ingat kalau Draco telah memberikan Amortentia padaku—err, atau mungkin karena ia memang tak pernah mencekokiku dengan ramuan nista itu, eh? Tapi kurasa getaran hebat yang selalu berdenyar di sudut-sudut hatiku ini lebih dahsyat ketimbang euforia cinta dari efek Amortentia. Oh, Godric! Bahkan aku tak ingat sejak kapan aku menjadi segenit ini! Uh, oke. Coret dua kata terakhir. Genit? Hell, itu terdengar menjijikan! Err, baiklah, mungkin akan lebih baik apabila kita ganti dengan, mmh, ah … baiklah terserah kalian saja, tapi mari kita lupakan hal itu dulu.
Saat ini ada hal penting yang jauh lebih penting dari hal sepenting apapun di dunia ini. Ini berkaitan dengan rencana gila seorang Draco Lucius Malfoy! Yah, aku tak main-main mengenai kata 'gila' di sini. Karena nyatanya rencananya memang benar-benar gila luar biasa! Bahkan aku yang seorang gadis normal yang super-duper jenius pun merasa telah ikut menjadi gila karenanya.
Oh, kalian mau tahu apa rencananya? Kusarankan agar kalian mencengkeram jantung satu sama lain—tidak, tidak, maksudku jantung kalian masing-masing. Aku pun tak tahu seberapa banyak fangirl Draco di luar sana yang akan patah hati karena rencana ini. Tapi percaya atau tidak, inilah fakta yang terjadi.
Hah, baiklah … Draco Malfoy baru saja memproklamirkan rencana penuh risikonya padaku. Demi janggut Godric! Dia berencana ingin kawin lari bersamaku! Sekali lagi, KAWIN LARI! Well, tapi yang kumaksud di sini bukanlah berlarian ria di saat kami sedang 'kawin'. Merlin, itu menjijikan! Tapi kurasa kalian cukup cerdas dan sangat cerdas malah untuk mengartikan ini. Mmh, maksudku—ah, ya … Kalian mengerti maksudku. Pernikahan tanpa restu orang tua.
Dan semenjak tadi yang ia lakukan hanya sibuk menyihir undangan pernikahan yang cocok untuk kami nantinya—itu katanya—sambil sesekali bergumam 'jelek, jelek, lumayan, blablabla... Dia gila! Bahkan aku belum mengemukakan pendapatku dan dia dengan seenak jidatnya mengatakan hal itu? Demi rambut merah para Weasley! Sejujurnya aku tak mau menjadi buronan seumur hidup karena telah membawa lari seorang pewaris terakhir keluarga Malfoy. Tapi secara teknis, aku memang tak mungkin melakukan hal itu. Aku masih sayang nyawaku, tentu saja.
Oh, tidak, tidak … Apa yang dia lakukan sekarang?!
"Kaupikir aku tak serius, my little Otter?" bisiknya sensual tepat di belakang cuping telingaku. Desah napasnya yang begitu intim dan hangat seolah mampu mengirimkan sinyal-sinyal listrik yang mau tak mau benar-benar mampu menggelitik pertahanan yang sedari tadi telah kubangun mati-matian.
Oh, bukankah sudah kukatakan sebelumnya bahwa entah bagaimana ia selalu bisa membuatku tersipu, berdebar, dan melemas begitu saja? Ya, aku sudah mengatakannya. Dan kini tak ada yang tak lebih bodoh ketika aku pasrah—diam tak berkutik tatkala bibir tipis merah mudanya beralih menyusuri pipiku dan berakhir tepat di atas bibirku!
Percayalah, ia selalu tahu cara terampuh untuk membuatku bungkam tanpa banyak melakukan perlawanan.
.
-OoOoO-
.
.
Ah, tak henti-hentinya aku menghela napas lega untuk hari ini. Belakangan ini aku memang sangat banyak menghabiskan waktuku untuk memeras segala energi yang kupunya dalam otakku. Yah, semata-mata karena ujian N.E.W.T. yang beruntungnya sudah berakhir tepat pada hari ini. Oh, aku bebas. Bolehkah aku berjoget gangnam style sekarang? Haha, memikirkannya saja aku tak sanggup. Apa kata orang-orang? Gadis sekalem diriku berjoget bodoh seperti itu? Yang benar saja. Jangan membuatku tertawa berguling-guling di lantai dingin kastil Hogwarts!
Well, actually, aku sama sekali tak takut apabila ada yang melihatku dan menertawaiku. Justru yang aku takutkan adalah kalau sampai siswa-siswi bahkan para profesor yang melihatku malah akan ikut bejoget ria dengan diriku sebagai pemimpin utamanya. Oh, percayalah, masuk dalam harian Daily Prophet di halaman muka dengan insiden konyol seperti itu bukanlah ide yang baik. Bagaimana kalau dunia sihir justru akan nge-trend dengan tarian gila Muggle itu? Haha, sepertinya Merlin akan benar-benar bangkit dan membunuhku.
Tapi sebenarnya dari seluruh hal yang membuatku bahagia, sejujurnya ini tidaklah berotasi pada hal itu semata. Ujian N.E.W.T. berakhir dan itu artinya aku punya banyak waktu untuk mengurus apa-apa saja yang perlu kuurus. Dan oh, jangan lupakan rencana gila Draco tempo hari. Maksudku, awalnya tentu saja aku menolak rencana itu mentah-mentah meskipun ia telah menciumku penuh-penuh dengan muslihat agar aku mau menyetujuinya. Tetapi kukira itu adalah rencana konyol dan gila tingkat kuadrat. Namun sepertinya beberapa hari setelahnya aku benar-benar harus merombak segala isi kepalaku dengan memikirkan berbagai sebab akibat yang telah dipaparkan Draco padaku. Yah, 'sebab' mengapa aku harus menyetujuinya dan 'akibat' apabila aku tak menyetujuinya.
Ah, tentu kalian masih mengingat perihal Kutukan Ferretlyfors yang menimpa kami, 'kan? Sebenarnya aku sangsi ketika pada akhirnya harus melanggar janji dengan tidak sehidup semati bersama Draco. Bagaimanapun, janji yang telah kami berdua ucapkan sudah sakral dan otentik, tak dapat diganggu gugat bahkan sampai Hagrid melahirkan sekalipun. Oh, tidak, tidak … Membayangkannya saja aku sudah ingin pingsan.
Jadi, dengan segala kemantapan yang telah kukumpulkan dengan segenap hati, jiwa, dan ragaku, err…aku memutuskan setuju dengan rencana gila Draco. Aku sudah memikirkan segala konsekuensi serta risiko-risiko mengerikan yang akan menimpa kami nantinya. Toh, kami pun sudah terlanjur mabuk. Mengapa tak gila saja sekalian?
.
.
-OoOoO-
.
.
Kutatap pantulan siluetku di cermin di depanku. Ini adalah kali terakhirnya aku akan berada di Hogwarts dengan status sebagai siswi asrama Gryffindor. Well, malam ini adalah malam perayaan kelulusan murid tahun ketujuh. Aku tak senang? Bohong besar. Tentu saja aku senang luar biasa. Tapi tak pelak, sebagian dari hatiku sebenarnya tak cukup rela apabila harus benar-benar meninggalkan Hogwarts. Makdusku, ini sama saja dengan berakhirnya kebersamaan kami selama tujuh tahun, oh tidak, kupikir delapan tahun! Aku bahkan menghabiskan masa-masa remaja dan puberku di kastil ini, di sekolah luar biasa ini, di Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry. Jadi kurasa aku tak berlebihan jika harus melankolis seperti ini. Bagaimanapun Hogwarts sudah aku anggap sebagai rumah keduaku, teman-temanku serta sahabatku telah kuanggap sebagai saudaraku, dan para profesor telah kuanggap sebagai orang tuaku—meskipun pada mulanya, begitu banyak yang membenciku, terlebih dari asrama Slytherin. Tetapi mau tak mau, aku harus mengakui bahwa di sinilah aku menemukan belahan jiwaku, cinta sejatiku. Ah, bohong apabila kalian tak mengerti tentang siapa yang kumaksud.
Oh, bahkan aku pernah berperang merelakan nyawa berhargaku demi sekolah tercinta ini. Perang yang bahkan tak pernah kupikirkan sebelumnya, sebelum aku tahu siapa aku sebenarnya, seorang peyihir Kelahiran Muggle! Darah lumpur kotor selalu setia mengalir di setiap oplah darahku, darah yang menjadi pokok pertentangan adanya pencetusan perang besar setahun silam.
Melenyapkan seluruh penyihir Kelahiran Muggle? Itu gila! Tapi aku senang dan merasa sangat bersyukur sebab ia pastinya telah sengsara di neraka, yah, si Pangeran Botak tak tahu diri itu—maksudku, dengan soknya dia ingin melenyapkan Kelahiran Muggle sementara dirinya sendiri hanya seorang Darah Campuran? Benar-benar tak masuk di akal.
Uh, oke. Lupakan sejenak tentang Dia-Yang-Namanya-Sudah-Boleh-Disebut. Kupejamkan mataku lamat-lamat, mencoba merenungi segala hal yang telah kulewati delapan tahun terakhir ini, terlebih bersama sahabat-sahabatku, Harry dan Ron. Dan oh, juga Draco—meskipun ia memiliki status lebih dari sekadar sahabat, tentu saja. Begitu banyak kenangan yang telah kami torehkan di sini dan sebentar lagi Hogwarts akan melepas kami menjadi individu-individu yang bebas memilih jalan hidupnya sendiri. Aku tersenyum skeptis, yah, memang benar. Toh, sebentar lagi aku pun akan memilih jalan hidupku sendiri bersama Draco, meskipun tanpa restu orang tua.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan melalui cuping hidungku. Kubuka mataku pelan hingga sepasang permata karamel kini dapat kulihat dengan jelas di cermin di hadapanku. Sepasang netra yang telah menjadi saksi atas segala suka-pelik kehidupanku selama kurang lebih sembilan belas tahun aku berpijak di bumi bahkan hingga hari ini.
Sorot fokusku bergerilya tajam memindai setiap senti wajahku yang hanya berpoles bedak tipis, sedikit eyeliner, blush on, serta bibirku yang hanya terbalut lipgloss berwarna merah muda. Ah, aku memang tak begitu suka akan hal-hal yang berlebihan, terutama dalam hal menghias wajah. Menurutku, tampil cantik tak perlu dengan berdandan heboh yang pada akhirnya hanya akan membuatmu bak boneka Barbie yang tak tahu fesyen. Well, itu pandanganku. Kupikir tampil natural justru akan membuat inner-mu muncul ke permukaan. Percayalah.
Kurasa sudah cukup. Aku menatap pantulanku sendiri dengan puas, tanpa sadar senyum tipis terkembang samar di manik wajahku. Sekali lagi kuperhatikan tatanan rambutku yang hanya kuurai begitu saja setelah kurapalkan sedikit mantra agar ia dapat bertahan dengan ikal sempurnanya. Aku suka melihatnya menggantung di balik punggungku seperti ini apalagi dengan warna baru, maksudku, khusus untuk malam ini aku sengaja mengecatnya menjadi warna blonde, nyaris serupa dengan surai platina milik Draco. Oh, aku bahkan sudah tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana reaksinya nanti ketika melihat penampilanku. Dan untuk itu aku sengaja menyuruhnya untuk turun ke aula duluan, aku berkata bahwa aku akan menyusul segera.
Aku beranjak berdiri, menumpukan diri sepenuhnya di atas tumitku yang sudah terbalut high heels berwarna emas dengan tinggi sekitar tujuh sentimeter. Warna yang sepadan dengan gaun selutut berwarna merah marun yang tengah kukenakan—sangat melambangkan Gryffindor. Gaun dengan lengan seperempat yang membungkus erat tubuhku hingga menonjolkan lekukan-lekukan yang Draco bilang sangat menarik dan err, seksi. Aku selalu senang sekaligus merona apabila mengingat ucapan Draco tentang ini. Oh, ya, gaun ini memiliki bagian bawah yang sedikit mengembang serta bagian pundak yang hampir serupa, maksudku kalian bisa membayangkan gaun-gaun para Barbie yang sering kutonton di dunia Muggle. Tak lupa dengan bordiran serta rajutan-rajutan berwarna emas di sisi-sisinya, membuatku terlihat bersinar dan elegan ketika ditimpa pencahayaan minim. Betapa aku menyukai gaun pemberian ibuku ini, dalam sekejap gaun ini berhasil membuatku merasa sempurna sekaligus berhasil menyama-padankan riasan wajahku yang tak begitu mencolok. Ah, satu lagi. Sebagaia tambahan, aku memakai bando berwarna merah dengan pita emas besar yang berpendar dengan kilau glitter-nya.
Setelah semuanya kuanggap sempurna—dari segi personalku, aku pun segera memutar tumit meningglkan ruang Asrama Ketua Murid setelah mengulum senyum penuh percaya diri.
Kuharap malam ini bisa menjadi malam terindah sepanjang hidupku selama di Hogwarts.
.
.
-OoOoO-
.
.
Ini bukan kali pertamanya aku menginjakkan kaki di acara sepantaran ini. Aku sudah pernah ke Yule Ball, Pesta Topeng, dan pesta-pesta lainnya sebelumnya, tapi entah mengapa tetap saja jantungku tak bisa diajak berkompromi, bergemuruh hebat di balik gaun kebanggaanku ini. Ekshalasiku menjadi tak teratur, meskipun aku sudah berusaha keras menyiasatinya dengan mengambil napas sebanyak yang aku bisa kemudian menghembuskannya perlahan. Aku berharap bisa rileks. Maksudku, ya kau tahu, sebagai orang yang baru datang tentu saja akan menyita sorot fokus masing-masing hadirin yang telah berada di dalam. Dan kalau boleh jujur, sebenarnya aku sangat tak menyukai jika aku menjadi pusat perhatian. Oh, percayalah, aku bukan tipe gadis yang justru akan mengangkat dagunya tinggi-tinggi tatkala mendapat sorot atensi banyak orang.
"Oke, tenanglah, Hermione. Ini hanya pesta kelulusan, bukan pesta pertunangan apalagi pernikahan," aku berusaha keras memberi autosugesti pada diriku sendiri, berusaha agar menanamkan rasa percaya diri meskipun aku nyaris tertawa di akhir kalimatku. Maka seiring berakhirnya ucapan itu di ujung tenggorokanku, aku pun melangkahkan kaki jenjangku memasuki aula.
Awalnya aku merasa senang karena rupanya tak ada sama sekali yang menyadari kehadiranku di sini. Tentu saja hal ini begitu memudahkanku untuk segera bergabung dan berbaur dengan yang lainnya agar kehadiranku tak begitu mencolok hingga berujung dengan banyak pasang mata yang menyadariku. Maka dengan hati ringan, kuangkat kakiku seolah aku tengah melangkah di udara tanpa beban. Tapi sekali lagi kutekankan, itu adalah 'awalnya' sebelum suara idiot Seamus berhasil menarik seluruh perhatian orang-orang di aula ini.
"Oi, HERMIONE! KAU CANTIK SEKALI!" Seamus menjerit tak tahu diri, membuat seluruh pasang mata akhirnya teralihkan padaku. Aku bisa merasakan darah terpompa deras menuju wajahku, hingga aku begitu yakin bahwa pasti kini wajahku sudah hampir serupa dengan warna gaunku. Hey! Maksudku bagaimana kalau kau berada di posisiku? Ditatap dengan sorot lapar oleh berpuluh-puluh pasang mata yang haus akan lanskap hidup di tengah tangga aula?
Maka dengan canggung, aku pun berujar sekenanya, "Oh, hi, Seamus …" Nada bicaraku kikuk, lebih menyerupai nada orang merana ketimbang nada menyapa.
Satu detik … Sepuluh detik … Lima belas detik …
Krik … Krik … Krik …
"_"
Hey! Kenapa mereka masih menatapku? Tak tahukah mereka bahwa hal itu justru menambah ketidakpercayaan diriku? Hell, bahkan dari ekor mataku, aku dapat menangkap sosok orang-orang di aula ini dengan berbagai macam ekspresi hingga menimbulkan ekspektasi tersendiri di serebrumku. Ada yang hanya diam menatapku tanpa berkedip, ada yang menatapku dengan cengiran lebar—yang menurutku sangat bodoh, dan bahkan ada yang menatapku hanya dengan menyetel tampang cengo luar biasa.
Aku berbisik pada batinku, apakah ada yang salah denganku? Oh, ya, aku baru ingat, mungkin mereka cukup terkejut melihat rambutku yang berubah warna seperti ini. Err, atau mereka justru mengira aku ini bukanlah siswi Hogwarts melainkan seorang penyusup yang sedang bertandang ke Hogwarts? Merlin! Tadinya aku tak berpikir sampai sana. Tapi kurasa sekarang sudah begitu terlambat untuk sekadar mengubah tatanan rambutku atau apa segala macamnya, sebentar lagi para profesor akan memberikan sambutan dan itu artinya tak mungkin bagiku untuk melewatkannya. Aku Ketua Murid Perempuan, ingat? Tentu saja aku ingin meninggalkan kenangan terbaikku sebelum meninggalkan sekolah ini.
"Selama malam, Nona Malfoy," sebuah suara berhasil menarikku dari pusaran khayal yang sempat menguasaiku beberapa waktu lamanya. Aku langsung tersadar dan merasa seolah baru saja keluar dari meditasi yang sangat lama. Aku mengerjap sesaat, berusaha menyesuaikan sorot fokusku dengan objek yang telah berdiri di dua anak tangga di bawahku sekarang.
Hal perdana yang menyambut iris cokelatku adalah seulas senyuman seorang bidadara berambut pirang platina yang bertindak sebagai bentuk manifestasi pikiran-pikiran mengerikanku sebelumnya terhadap penampilanku yang kukira buruk ini.
Ah, betapa menawannya pemuda di hadapanku ini. Siapa namanya? Seorang bidadara yang kuakui sangat-sangat tampan! Seorang yang sungg—Oh, tidak, tidak, tunggu dulu … I—It… Itu Draco! Yah, aku tak pernah salah mengenalinya. Demi rambut Rowena! Draco sangat tampan malam ini! Mak—maksudku penampilannya sungguh luar biasa dengan paduan setelan jas hitam lengkap kemeja hijau zamrud berdasi perak ivory-nya. Auw! Bolehkah kupeluk dia sekarang?
Uh, oke. Ak mengenyahkan pikiran itu jauh-jauh dari serebrum kepalaku—hanya untuk saat ini—, karena aku sepertinya tak bisa menjamin bahwa aku memang tak berniat melakukan hal itu nantinya. Aku terhenyak begitu sadar bahwa sebuah tangan pucat telah terulur tulus tepat di depan hidungku, oh, ya, kalian mengerti maksudku. Draco Malfoy menyambutku dengan hangat, membawaku hingga ke tengah-tengah aula yang disesaki ratusan umat berbahagia pada malam ini.
Telingaku tak bisa berhenti menangkap berbagai komentar yang terlontar dan mengudara di sekitar kami. Ah, aku tahu mereka tengah membicarakan kami. Sepasang insan dengan rambut blonde-perak. Well, meskipun setelan yang kami gunakan masing-masing menunjukkan identitas asrama kami, tapi toh, tetap saja kami terlihat padu dengan warna rambut yang serupa seperti ini.
Bisik-bisik masih dapat kudengar sebelum fokusku teralihkan pada sosok profesor Minerva McGonagall yang kini tengah berdiri apik di depan kami semua. Menurutku penampilan profesor McGonagall cukup istmewa juga pada malam ini, meskipun ia masih tetap setia dengan jubah hijau zamrudnya, namun … entahlah, aku merasa ada yang sedikit berbeda dan membuat siapa saja yang melihatnya seolah terpancing pesona magis yang dimilikinya.
Ah, percayalah, aku begitu menyukai profesor McGonagall, ia selalu mem— … Wait, what? Apakah aku tak salah dengar barusan? Haruskah aku meloncat ke pelukan Draco sekarang? Oh benar, sepertinya aku memang perlu untuk meloncat dalam dekapan pemuda tampan di sampingku ini setelah prof McGonagall memproklamirkan bahwa aku adalah lulusan terbaik tahun ini! Kalian dengar? Lulusan terbaik! Merlin!
Well, aku lulusan terbaik untuk tahun ini disusul dengan Luna Lovegood di posisi kedua serta Draco di posisi ketiga. Aku tak heran kalau Luna bisa berada di bawahku. Dia pintar, tentu saja, seorang Ravenclaw pastilah memiliki kapasitas otak yang hampir selalu di atas rata-rata, jadi aku tak akan heran dengan fakta ini. Aku pun tak menyangsikan kalau Draco bisa menjadi lulusan terbaik ketiga mengingat ia hampir sama jeniusnya denganku. Dan aku yakin apabila ia lebih serius sebelumnya dan tak banyak beban pikiran, aku berani bertaruh demi Baron Yang Berdarah bahwa ia bisa saja melesat ke urutan lulusan terbaik kedua. Oh, tapi sudahlah, kurasa dia harus cukup puas dengan ini. Namun yang membuatku heran dan tak habis pikir adalah perkembangan Harry yang begitu pesat, dia—percayalah, aku sebenarnya tak cukup percaya akan hal ini—maksudku, rambut Helga! Dia—dia, Harry, cukup memukau dengan kenyataan bahwa ia berhasil menjadi lulusan terbaik keempat setelah Draco! Bahkan aku tak ingat kalau Harry pernah membaca buku sebelumnya di depanku. Tapi bagaimanapun, ini merupakan pencapaian yang sangat luar biasa, sebagai sahabat, tentu saja aku bangga padanya.
"Selamat, Hermione. Kau spektakuler!" Aku mendengar sebuah suara dari arah belakangku seiring dengan tepukan hangat yang mendarat di pundakku, yang segera aku asumsikan bahwa pemilik suara itu adalah Harry Potter, sahabatku. Kuputar tumitku seratus delapan puluh derajat dan mendapati wajah Harry yang nampak begitu senang—ditemani dengan sosok Ginny Weasley di sebelahnya, mereka menggunakan setelan yang padu satu sama lain. Tentu saja itu mudah, mengingat mereka sama-sama berada di Gryffindor.
"Oh, Harry!" Aku reflek memeluknya erat, menggantungkan kedua tanganku di lehernya. Ups! Aku bahkan lupa kalau di sini masih ada Draco. Aku baru ingat ketika kurasa punggungku panas akan tatapan tajamnya. Dengan tergesa, aku pun segera melepaskan diri dari Harry disusul dengan Harry yang langsung mengambil kesempatan untuk membenahi letak kacamatanya.
"Ya, ini aku!" Harry berujar singkat seraya memasang cengiran lebarnya.
"Oh, Hermione. Congratulation for you." Ginny beringsut maju ke arahku, memelukku sebentar sebelum melayangkan sebuah ciuman ringan di kedua belah pipiku. "Kau tampak cantik dan—terlihat begitu Malfoy! Err, aku suka rambutmu!"
Aku tersipu mendengar komentar Ginny, namun segera kualihkan dengan mencoba mengatakan sesuatu yang kurasa perlu kukatakan. "Oh, percayalah, Ginevra Weasley, kau tak ubahnya denganku. Kau terlihat sangat cantik malam ini. Iya, 'kan, Harry?" Aku berkedip kecil ke arah Harry yang kembali memasang senyum bangga. Well, mungkin Harry berpikir bahwa ia sangat beruntung bisa mendapatkan seorang Ginny Weasley yang tampil begitu menawan malam ini. Ah, aku tak bohong. Gadis bungsu Weasley itu memang tampak sangat cantik sekarang.
"Ekhm … Oh, well, sepertinya aku dilupakan di sini." Aku berbalik dan mendapatkan sosok Draco dalam raut wajah yang terlihat bosan, meskipun netra kelabunya terlihat berpendar tajam memindai kami bertiga satu per satu.
"Oh, Draco, maafkan aku. Sama sekali aku tak bermaksud seperti itu," ujarku membela diri.
"Ya, ya, ya …" Ia memutar permata argent-nya nampak tak peduli. Tak membuang kesempatan, aku pun segera menggapai lengannya dan mengajaknya untuk lebih dekat denganku. Sedetik aku melihat sorot terkejut dari kilat iris abunya, tapi aku tak peduli.
"Hi, Malfoy!" Harry menyapa dengan seulas senyum tipis di bibirnya. Sementara Ginny terlihat mengulum senyum yang lebih lebar dan bersahabat.
"Oh, hello, Potter, Weasley," sapa Draco terkesan enggan. "Selamat, Potter, aku tak menyangka kalau kepala pitakmu itu bisa membawamu dalam lulusan terbaik keempat di bawahku," Draco berujar santai namun terdengar dingin, disusul dengan tatapan garangku bersamaan dengan aksiku yang menyodok rusuknya cukup keras. Ia pun berbalik mendelik ke arahku, yang langsung kusambut dengan wajah sekeras batu—seolah-olah berusaha menyuruhnya segera meminta maaf melalui pandangan tersiratku.
"Oh, tentu saja aku hanya bercanda, Potter," Draco tertawa kering. "Maksudku kau menawan dengan posisi itu." Harry mengangguk samar, dan Draco terlihat berusaha keras mengulum senyum tulus, meskipun nampaknya ia sama kesusahannya ketika hendak mengajakku 'berdamai' dulu. Yah, kalian tahu maksudku.
"Sekali lagi selamat!" Kali ini Draco mengulurkan tangannya hendak menjangkau Harry dalam jabatan hangatnya. Namun tak kusangka-sangka, ia justru memeluk Harry penuh konspirasi aura persahabatan. Ah, jangan berpikir macam-macam. Well, kau tahu, pelukan pemuda sesama pemuda berbeda dengan pelukan seorang gadis dengan teman-temannya. Awalnya Harry nampak kikuk dan terkejut, begitu pun dengan Draco yang melakukannya tanpa sadar. Namun lima detik setelahnya, aku bisa merasakan kehangatan luar biasa yang teriring penuh tulus di wajah Harry. Ya, dia tersenyum. Tersenyum untuk Draco! Oh, kurasa Godric dan Salazar benar-benar akan bangkit dari kuburnya.
Draco melepas Harry dengan kikuk seraya tersenyum salah tingkah.
"Kurasa kita bisa jadi teman, Malf—Draco," Harry berujar kalem, sorot gratifikasi jelas terpancar di wajahnya. Oh, bahkan ini adalah kali pertamanya Harry menyebut nama depan Draco. Bagaimanapun aku tentu merasa sangat senang, seolah hendak menarik Ginny dari sisi Harry dan mengajaknya bergoyang Caisar di tengah-tengah aula. Ah, lupakan. Bahkan aku tak tahu siapa itu 'Caisar'. Aku hanya asal menyebutnya, kau tahu. Mungkin dia seorang artis Muggle di masa depan. Oh, entahlah. Dan hey! Sejak kapan aku mulai meramal seperti ini?
"Tentu saja, Har—Harry!" Senyum terkembang cukup lebar di wajah Draco, membuatku kembali tersadar dari sudut-sudut eratik pikiranku.
Percayalah, kurasa sebentar lagi Godric dan Salazar akan benar-benar bangkit dari kuburnya dan ikut bergoyang itik bersamaku. Hell! Kenapa selepas N.E.W.T., otakku begitu banyak dipenuhi dengan berbagai macam jenis goyangan? Kurasa aku sudah cukup korslet dengan segala hal yang sangat absurd namun justru terjadi tepat di depan hidungku!
Aku ikut tersenyum lebar menanggapi usaha perdamaian keduanya barusan, namun tiba-tiba aku merasa sebuah godam telak menghantam kepalaku. Ah, aku baru teringat sesuatu. Pantas saja aku merasa ganjal, err … tidakkah kalian merasakan hal yang sama denganku?
"Ngomong-ngomong di mana Ron?" Dua sosok di hadapanku—Harry dan Ginny—terlihat sama terkejutnya. Ya, mereka pun pasti baru menyadari fakta yang sangat mengganjal ini.
Benar, kan? Di mana sosok Ronald Billius Weasley?
.
.
.
To Be Continue
.
.
|Pojok Author|
Halo! *celingak-celinguk … Err, apakah masih ada yang nungguin kelanjutan fict ini? *senyum awkward. Well, sebelumnya saya sangat meminta maaf atas keterlambatan update yang kira-kira udah sebulan, ya? Ah, maafkan saya /.\ … Chapter ini saya sengaja gunain Hermione's PoV, karena pengen nyampein isi kepalanya Hermione dengan santai, luwes, dan dengan pembawaan yang terkesan lebih rileks ketimbang menggunakan sudut pandang saya sendiri. Tapi, di chapter depan, bakal balik lagi ke sudut pandangnya Loony, hehe … But, honestly, asli deh gak pede banget nge-publish chapter ini, entahlah … saya merasa ini benar-benar jelek luar biasa :(
But, terima kasih tak terhingga bagi kalian yang masih setia dengan fict ini, terlebih bagi kalian yang udah ngasih semangat lewat review di chapter kemarin :) Beneran deh, sewaktu Loony ngerasa WB menyerang padahal lagi ada waktu nulis, Loony baca ulang review2 dari kalian di chapter kemaren, dan ah ternyata itu manjur banget buat Loony semangat nulis isi kepala Loony di chapter ini ^_^
So, BIG THANKS, HUGS, and KISSES(?) for :
JCX122, Hermione Malfoy19, Tsurugi De Lelouch, yanchan, gothicamylee, Ryoma Ryan, Rochro, Astro O'Connor, Jeane Riddle, Dramionefans, Titah Anggraeni, Guest, Diena Granger, Riani, Guest, fire, Guest (aduh guest banyak juga, ya? *plok), priscillaveela, echiprwth, LuluIslamiah, ryah septia, medina, yukii, poosy-poo20, , delphinus malfoy, adis, Farah Zhafirah, Naomi Averell, qunniv19, dan Gallatrance Hathaway :D :*
(ah, ternyata bahkan ada yg ngaku silent reader dan pada akhirnya unjuk diri hihi *thanks. Yup, review lagi, ya, guys? :D)
Oh, ya, saya juga pengin ngucapin terima kasih bagi beberapa di antara kalian yang udah rela-relain nge-PM demi ngingetin update fict ini :*(loves u) … Ah, percaya deh, Loony seneng kok ditagih2 gitu asal terkesan gak sampai maksa ya, hehe (yeah, u know what I mean).
Btw, tadinya Loony pengin nulis sampai 7k+ buat chapter ini, tapi yeah setelah mikir, yaudah gak jadi. Yang ada ntar kalian justru bosan bacanya, hehe …
Mmh, promosi boleh gak? :D
The Ending UPDATE!
Cintaku Tak Lekang oleh Tompel UPDATE!
Vampire's Diary UPDATE! (well, ini fic baru Loony. Request dari seorang pembaca setia Loony) ^^
So, REVIEW?
.
.
Salam,
Miss Loony.
