Warn! Typos!
.
.
Jaemin dan Jeno langsung terdiam setelah mendengar perkataan Kun.
Renjun dan Lucas adalah Soulmate... Kebetulan gila macam apa ini?!
"Mereka berdua harus saling bersentuhan juga sekarang !"
Kun menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak bisa sekarang Jaemin. Mereka berdua dalam keadaan tidak sadar. Dan itu percuma saja. Salah satu dari mereka harus ada yang bangun agar mereka bisa memunculkan Tatoo Soulmate-nya. "
Jeno memijat pelipisnya pelan. Salah satu diantara mereka harus segera sadar.
"Kalau Renjun tidak bangun lagi bagaimana?!" Jaemin menggoncang-goncangkan tubuh Jeno panik.
"Dia pasti akan sadar Jaem, tenang lah dulu. " Jeno mencoba menengkan Soulmate-nya.
"Kapan?! Sudah 2 jam 45 menit 56 detik anak setan itu masih belum sadar juga! Aku panik!!" Pekik Jaemin.
"Jaemin tenanglah, dia pasti akan segera terbangun. " ujar Kun.
Jaemin menghembuskan nafas pelan lalu melepaskan pelukan Jeno.
"Aku akan menghubungi Donghyuck dulu. " Jaemin berjalan keluar dari ruang kesehatan untuk menghubungi Donghyuck. Bisa-bisa anak itu mengamuk jika tidak diberitahu tentang hal sepenting ini.
"Ughh.. "
Kun dan Jeno langsung terkesiap saat mendengar suara Renjun.
"Renjun-sshi, kau sudah sadar?" Kun segera mengambil alat medisnya dan memeriksa keadaan Renjun.
Renjun merasakan seluruh tubuhnya merasa sakit, ia tidak dapat mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Aku dimana?" Tanya Renjun dengan suara lemah.
"Kau di ruang kesehatan, tadi dirimu tidak sadarkan diri. " jawab Jeno.
Renjun memegangi kepalanya yang berdenyut pening, "Apa yang terjadi?"
Kun meletakan alat medisnya kembali kedalam tas nya, "Bagaimana perasaanmu Renjun-sshi?" Tanya Kun.
"Entahlah, badanku terasa sakit semua. " gumam Renjun.
Renjun menolehkan kepalanya kesamping dan melihat ada orang lain yang berbaring di ranjang sebelah.
Renjun mengernyitkan dahinya heran, entah kenapa jantungnya berdetak kencang saat memandang wajah penuh lebam lelaki yang berbaring tidak sadarkan diri di ranjang sebelahnya.
"S-siapa dia?" Tanya Renjun sambil menunjuk ke arah samping.
Jeno mengikuti arah pandang Renjun yang ternyata sedang memandangi Lucas.
"D-dia-"
"Renjun?! Kau sudah sadar?!" Jaemin yang baru selesai menelpon Donghyuck dan kembali masuk ke dalam ruang kesehatan langsung berteriak heboh saat melihat Renjun sudah sadar.
"Akh suaramu Jaem, bisa langsung menghilangkan kemampuan pendengaran orang. " ucap Renjun sambil menutup telinganya.
Jaemin mendudukan dirinya di kursi yang berada di samping ranjang Renjun, kemudian mencubit kuat perut Renjun. "Dasar anak setan! Bisa-bisanya kau mengatakan hal seperti itu saat sahabatmu yang paling manis sedunia ini sangat mengkhawatirkan dirimu!"
Renjun mendelik kesal karna cubitan dari Jaemin, "Sakit sialan!"
"Sepertinya dia sudah sehat melihat bagaimana dia mengumpat kepada Soulmate-mu. " ujar Kun kepada Jeno sambil sedikit terkekeh.
Jeno tertawa mendengar perkataan Kun, "Hahaha kau benar dokter Kun. "
"Ah iya Jaem, kau tahu siapa dia?" Renjun menunjuk lelaki yang berbaring tak sadarkan diri di sebelahnya.
"Ah iya!!!" Jaemin memekik keras membuat Renjun, Jeno dan Kun terlonjak kaget.
"Apa sih!" Balas Renjun sambil mendelik kesal.
"Sayang, kecilkan suaramu. " tegur Jeno kepada Soulmate-nya.
Jaemin hanya memamerkan cengiran khasnya kemudian meminta maaf.
"Dia Lucas. " ucap Jeno.
"Lucas? Ah bukannya Lucas itu temanmu?"
Jeno menganggukan kepalanya pelan, ia menatap Renjun dengan serius, membuat Renjun memasang raut wajah bertanya-tanya.
"Kenapa Soulmate-mu menatapku seperti itu Jaem. Membuat takut saja. " bisik Renjun kepada Jaemin.
"Uhmm Njun, sebenarnya Lucas itu..." Jaemin mengusap tengkuknya, ia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan kepada Renjun jika Lucas itu adalah Soulmate-nya.
Kun yang melihat suasana canggung pun akhirnya angkat bicara.
"Renjun-sshi, bisakah kau bangun sebentar?"
Renjun menganggukan kepalanya lalu berusaha bangkit dari tidurnya dengan kesusahan, "Bantu aku sialan!" Sungut Renjun saat melihat Jaemin yang duduk disebelahnya hanya melongo seperti orang bodoh.
"Ah maaf-maaf Yang mulia. " Jaemin segera membantu Renjun agar bisa duduk di pinggir ranjang menghadap ke arah Lucas.
Kun meraih sebelah tangan Lucas dan Renjun.
Renjun mengerutkan dahinya kebingungan, "Apa yang kau lakukan?"
"Kau mungkin akan sedikit terkejut. "
Kun mendekatkan tangan Lucas dan Renjun sehingga bersentuhan.
Jantung Renjun berdegub hebat saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Lucas, ia tidak mengerti apa artinya itu semua sampai dirinya merasakan panas di tengkuknya.
Jaemin yang berada di belakang tubuh Renjun langsung membekap mulutnya tidak percaya.
"ASTAGA!!" Teriak Jaemin kaget.
Renjun menyentuh tengkuknya sendiri dan merasa tengkuknya sangat panas, ada gelenyar aneh di dadanya saat dirinya menyentuh tengkuknya sendiri. Perasaan ini... Tidak mungkin kalau...
"Kalian berdua adalah sepasang Soulmate! "
Renjun langsung meneteskan air matanya saat mendengar jeritan heboh dari Jaemin.
Benarkah? Dirinya dengan lelaki yang sedang berbaring tidak sadarkan diri itu adalah sepasang Soulmate?
Renjun bangkit dari duduknya kemudian pindah ke kursi yang berada di samping ranjang Lucas.
"Kau Soulmate-ku?" Lirih Renjun sambil menggenggam tangan Lucas dengan erat.
"Kenapa kau bisa seperti ini?" Renjun semakin menangis terisak saat tangannya menyentuh luka lebam yang ada di wajah Soulmate-nya itu.
Jeno melirik ke arah Jaemin yang terlihat akan menangis melihat Renjun dan Lucas.
Jeno berjalan mendekati Jaemin kemudian mengelus pelan surai sang Soulmate dengan sayang, "Kenapa menangis hm?"
Jaemin menyeka air matanya dan mengerucutkan bibirnya sebal, "Tidak. Aku tidak menangis!" Elak Jaemin cepat. "Anak setan itu membuat mataku berkeringat. "
Jeno mencubit pipi Jaemin gemas melihat tingkah Soulmate-nya itu yang sangat menggemaskan.
"Dokter, apa dia akan mati?" Renjun menatap Kun dengan mata bulatnya yang basah karna air mata.
"Tidak, dia hanya tertidur. " jawab Kun.
"Kenapa dia tertidur dengan wajah jelek penuh lebam seperti itu? Hiks.. Kenapa aku menangisi orang ini? "
Jeno ingin tertawa sebenarnya melihat sepasang sahabat itu menangis, tapi ia tidak mungkin melakukannya. Bisa-bisa Jaemin mengamuk padanya.
Brakkkk!!!!
Suara pintu yang dibuka dengan kuat membuat seluruh orang yang ada di dalamnnya terlonjak kaget.
"Renjun!!!!"
Donghyuck langsung menghambur ke arah Renjun dan memeluknya dengan erat.
"Kau tidak apa-apa?! Kata Jaemin kau sekarat dan akan segera mati!!" Pekik Donghyuck heboh.
Jeno melirik ke arah Jaemin yang tengah menahan tawanya. Astaga Soulmate-nya ini benar-benar.
"Jeno? "
Jeno menolehkan kepalanya saat merasa ada suara familiar yang memanggil namanya.
"Mark?"
Jaemin memasang raut bingung. Iya yakin lelaki itu masuk bersama Donghyuck, tapi siapa dia? Kenapa dia Jeno mengenalnya.
"Sayang, kau mengenalnya?"
Jeno menganggukan kepalanya meng-iyakan "Dia Mark, temanku yang mempunyai alis camar yang menukik. "
"Ahhh kau yang bernama Mark."
"Ngomong-ngomong Mark, dari mana kau tahu Lucas berada disini?" Tanya Jeno.
"Lucas? Dia kenapa?" Mark memasang raut kebingungan mendengar pertanyaan Jeno.
"Itu, Lucas terbaring tidak sadarkan diri karna berkelahi dengan Hendery. "
Mark membulatkan matanya terkejut, "Hah? Bagaimana bisa?"
"Iya, lalu kenapa kau kesini?"
"Aku mengantar Soulmate-ku. " jawab Mark sambil menunjuk ke arah Donghyuck yang sedang menangis bersama Renjun sambil berpelukan.
"Kau Soulmate-nya Donghyuck?!" Pekik Jeno kaget.
Jeno ingat Mark pernah mengatakan jika Soulmate-nya itu bernama Donghyuck, tapi Jeno tidak menyangka jika Donghyuck yang Mark maksud adalah sahabat dari Jaemin, Soulmate-nya.
"Gila.. " gumam Jeno pelan.
"Huaaaaaa Renjun!!! Kenapa kau tidak sekarat seperti apa kata Jaemin di telpon?! Kau tahu aku langsung menelpon Mark hyung supaya mengantarku ke sini karna mobil hyungku yang tidak bisa diandalkan itu tidak mempunyai bensin! Aku panik!! Aku ingin menangis dengan keras di dalam mobil Mark hyung! Tapi aku malu! Aku harus jaga image! Aku takut kau mati sebelum aku sampai disini! Kau masih belum mengembalikan novelku!"
"Sialan! Kau ingin aku mati atau bagaimana?!" Singut Renjun sambil menangis semakin keras.
"Huaaaas Na Jaemin sialan! Kemari kau!" Donghyuck melepaskan pelukannya pada Renjun kemudian berlari menuju Jaemin.
Jaemin menyembunyikan diri dibalik tubuh Jeno, "Hahahaha maafkan aku!"
Donghyuck menarik tubuh Jaemin lalu mencubit pinggangnya dengan keras, "Kau membuatku takut sialan!"
Mark menganga kaget melihat tingkah Soulmate-nya yang ternyata sangat liar tidak hanya dengan Ayah dan hyungnya saja, tetapi dengan sahabatnya juga.
"Hyuck.. " panggil Mark.
Donghyuck langsung berhenti mencubiti pinggang Jaemin setelah mendengar Mark memanggilnya.
"Hyung... Maafkan aku. " lirih Donghyuck.
Jaemin memasang raut wajah melongo saat mendengar sahabatnya itu langsung bersikap malu-malu dan lemah lembut setelah Soulmate-nya memanggilnya.
Mark menarik Donghyuck agar mendekat padanya lalu mengelus kepalanya pelan. "Jangan bar-bar seperti itu. Nanti kau terjatuh bagaimana? "
Sama halnya seperti Jaemin, Jeno juga terkejut melihat sikap sahabatnya yang sangat berbeda saat bersama Soulmate-nya.
"Huaaaaaa Jaemin!! Donghyuck!! Dia bergerak!! " Renjun berteriak heboh saat melihat Soulmate-nya telah sadar.
Kun dengan sigap memerika keadaan Lucas.
"Huaaaa kenapa Soulmate-ku sangat mengerikan?! Wajahnya seperti preman!!"
Mark dan Jeno langsung tergelak mendengar sahabatnya dikatai berwajah preman oleh Soulmate-nya sendiri.
"Renjun kau benar! Kenapa Soulmate-mu sangat mengerikan!!" Komentar Donghyuck sambil memeluk tubuh Jaemin.
Lucas membuka matanya dengan perlahan, dan hal pertama ia lihat saat membuka mata adalah seorang lelaki manis yang sedang menangis sambil menggenggam tangannya.
"Keadaan Lucas sudah stabil, beberapa jam lagi dia sudah boleh pulang. Aku akan menuliskan resep obat untuk luka-lukanya, kalian bisa mengambilnya nanti di klinikku. " Kun memasukan semua peralatan medisnya lalu bangkit berdiri, "Kalau begitu aku undur diri. "
"Terimakasih Kun hyung!" Ucap Jaemin sebelum Kun menghilang dari balik pintu.
"M-mark... J-jeno... ?"
Mark dan Jeno langsung mendekati Lucas setelah sahabatnya itu memanggil nama mereka.
"Cas, kau tak apa? Apakah masih sakit? Dimana yang sakit? Apa yang kau rasakan?! Kata-" Jeno menghujami Lucas dengan berbagai pertanyaan membuat Mark langsung membekap mulut Jeno dengan tangannya.
"Berisik bodoh!"
Jeno menyingkirkan tangan Mark yang membekap mulutnya, "Aku khawatir tahu!" Singut Jeno.
"Bagaimana perasaanmu? Kau merasa pusing?" Giliran Mark yang bertanya.
Lucas hanya diam saja, tidak menjawab pertanyaan sahabat-sahabatnya.
Jeno dan Mark memasang raut kesal karna Lucas hanya diam saja sambil memandang mereka berdua.
"Katakan sesuatu sialan!" Geram Mark kesal.
"Astaga Jaemin, apa kau lihat? Mark hyungku baru saja mengumpat!" Bisik Donghyuck pelan kepada Jaemin.
"Aku lihat bodoh! Astaga, ku kira dia orang penyabar. " balas Jaemin.
"Cas! Jangan diam saja. Kau membuat kami berdua takut!" Ucap Jeno.
Lucas mendesah kesal, "Bibirku robek! Wajahku sakit jika aku berbicara!" Dumal Lucas sambil meringis kesakitan karna wajahnya tertarik saat ia mengatakan sesuatu.
"Jangan memaksanya untuk berbicara! Lihat wajah jeleknya itu kesakitan!" Renjun memelototi Mark dan Jeno yang berada di hadapannya. Membuat kedua dominan itu langsung memundurkan tubuhnya ngeri.
Lucas menatap heran ke arah lelaki manis di sampingnya yang sedari tadi menggenggam tangannya dengan erat.
Ia bertanya-tanya sebenarnya siapa dia? Kenapa lelaki itu bersikap seperti itu? Lucas yakin jika dirinya tidak mengenalnya sama sekali.
Renjun yang merasa di perhatikanpun balas menatap Lucas, "Kenapa memandangku seperti itu? Minta dipukul ya?" Tanya Renjun sambil mendelik kesal.
"Enak saja. Kau siapa?"
"Aku?" Wajah Renjun langsung kebingungan saat mendengar pertanyaan Lucas. Bagaimana caranya memberi tahu Lucas jika dia ini adalah Soulmate yang selalu menyiksanya selama ini.
"Dia Huang Renjun. " sahut Jaemin.
"Anak setan. " timpal Donghyuck.
Renjun mendelik kesal ke arah dua sahabatnya yang tengah berdiri di belakangnya.
"Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. " Lucas tampak diam berpikir sejenak setelah mendengar nama yang ia rasa tidak asing.
"Selamat ya bro!" Mark memeluk tubuh Lucas yang tengah berbaring lalu menepuk pundaknya pelan.
"Akhirnya penderitaanmu selesai. " Jeno juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Mark.
"Apa-apaan sih kalian?" Lucas memasang raut wajah bingung.
"Uhhmm Lucas-sshi.. " panggil Renjun pelan.
Lucas mengalihkan pandangannya ke arah Renjun.
"Coba kau sentuh tengkukmu... "
Lucas menaikan sebelah alisnya tidak mengerti. Menyentuh tengkuknya? Untuk apa?
Walaupun Lucas masih merasa bingung, tapi dirinya tetap melakukan apa yang dikatakan oleh Renjun.
"Aw!" Lucas memekik pelan saat merasa tengkuknya saat jarinya menyentuh tengkuknya itu. Kemudian dirinya merasa jantungnya berdegub kencang saat menatap wajah Renjun. Ia tidak mengerti kenapa begitu, tapi ia merasa jika perasaan asing ini adalah sesuatu yang membahagiakan.
"Kita ini... Seorang Soulmate... "
"Hah?" Lucas semakin memasang raut wajah kebingungan saat mendengar penuturan dari Renjun.
"Tatoo Soulmate-mu muncul setelah aku menyentuhmu. Begitu juga dengan diriku. Tatoo Soulmate-ku muncul setelah aku menyentuhmu. "
Donghyuck dan Jaemin berusaha menahan tawanya agar tidak pecah.
Bukan karna kata-kata Renjun yang terdengar seperti dialog di sinetron kesayangan Ibu Jaemin, tapi karna...
Renjun membalik tubuhnya memunggungi Lucas, lalu dirinya menundukan kepalanya agar Lucas dapat dengan jelas melihat Tatoo Soulmate-nya dengan jelas.
Jeno dan Mark langsung tertawa terbahak-bahak, membuat Donghyuck dan Jaemin langsung mendelik kesal ke arah sang dominan.
Lucas tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Tatoo Soulmate milik Renjun.
"Yang benar saja!! Aduh!" Lucas langsung memegangi wajahnya yang perih karna berteriak.
"Kenapa?" Renjun berbalik dan menatap Lucas dengan pandangan bertanya-tanya.
"Tatoo Soulmate-mu.. "
"Kenapa dengan Tatoo Soulmate-ku?" Tanya Renjun tak sabar.
"Kenapa Tatoo Soulmate-mu bergambar Badak?!!!"
"Hah?!!!"
.
.
.
.
Omake:
Mingyu berbaring sambil memandang langit-langit kamarnya.
"Aku kesepian. " lirih Mingyu.
"Soulmate-ku yang sudah berada di surga, bagaimana keadaanmu? Aku tidak baik-baik saja. Adiku sudah bertemu dengan Soulmate-nya. Soulmate-nya sangat tampan dan baik. "
Mingyu berbicara sendiri sambil menerawang jauh. Ia selalu melakukan hal ini, seakan-akan berbicara dengan sang Soulmate untuk membagi perasaannya.
"Aku khawatir dengan Ayahku. Dia sangat takut saat memikirkan Donghyuck harus pergi meninggalkannya dan ikut dengan Soulmate-nya. "
"Apakah dia akan merasakan hal yang sama jika aku memutuskan ikut pergi bersamamu?"
Mingyu menutup matanya menggunakan lengan tangannya. Ia menghembuskan nafas pelan.
"Hatiku.. Kumohon kuatlah. " ucapnya pelan.
.
.
.
.
tbc
