My Blood is Ferret

.

.

Disclaimer :

Harry Potter © J.K. Rowling

My Blood is Ferret © Ms. Loony Lovegood

(Tak ada keuntungan material apapun yg saya dapatkan dengan menulis fict ini, semata-mata hanya karena kesenangan dan kecintaan saya terhadap serial menakjubkan 'Harry Potter' beserta para tokoh-tokoh istimewanya!)

.

Rated : T

Romance, Hurt/Comfort

Warning!

Saya sudah berusaha untuk tidak typo

(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf)

.

|Happy Reading, Guysss... But,don't like? don't read! RnR please|

.

.

Chapter 23 : Kawin Lari?

.

.

.

"Hermione …"

Gadis bersura i cokelat ikal itu berbalik demi mendapati orang yang baru saja menyerukan nama depannya.

"Ron!" Hermione Granger memekik reflek—setengah senang, setengah terkejut. Sangat kebetulan orang yang dicari-carinya semenjak pesta berlangsung kini tiba-tiba muncul tepat di depan hidung mungil berbintiknya.

Gadis itu segera menghampiri si pemuda Weasley dan memeluknya sebentar—untuk ini, Draco Malfoy yang menyaksikannya hanya membuang muka menanggapi. Tentu saja melihat kekasihmu memeluk pria lain yang notabene merupakan pria yang pernah dicintainya cukup membuat hatimu pedih entah mengapa. Benar, 'kan?

"Ekhm …" Draco berdeham pelan ketika dilihatnya Ronald Weasley yang kini menatap 'gadisnya' insitif. Namun seolah tak memedulikan insinuasi tersirat sang Malfoy muda itu—atau lebih tepatnya memang tak ingin peduli—, Ron justru berujar sesuatu yang sukses membuat Draco menggeram dan seketika merasa hatinya seolah dirayapi rasa indignasi luar biasa.

"Mione, aku ingin berbicara denganmu." Pemuda bermahkota sewarna jahe itu menjeling sekilas ke arah Draco lantas kembali melanjutkan ucapannya. "Hanya berdua." Untuk sedetik, bola mata karamel sang gadis Granger jelas memancarkan sorot keheranan sebelum sang empunya mengangguk pelan mengiyakan. Lantas kemudian ia menggulirkan kelereng pekatnya ke sesosok pemuda pias bersurai platina yang berdiri tak jauh darinya. Gadis itu berusaha keras untuk berkomunikasi via bainiah untuk memperoleh izin sang kekasih yang tanpa ia sadari sudah tersulut gemercik kecemburuan. Namun tak ayal Draco mengangguk samar di antara mendung yang meraup seluruh parasnya. Bisa dipastikan itu ia lakukan dengan berat hati.

"Thanks, love …" Hermione berujar singkat sebelum bibir mungilnya bergerak mengecup pipi Draco Malfoy sekilas sebelum kakinya melangkah pergi membawanya ke suatu tempat yang cukup memenuhi syarat 'privasi' bagi dirinya dan juga sahabat berambut merahnya Ronald Billius Weasley.

Jujur saja, mungkin ia memang pernah sempat merasa kesal dengan pemuda yang satu ini. Tapi bagaimanapun, mereka tetap sahabat, 'kan? Sampai kapan pun. Right?

.

.

-OoOoO-

.

.

"Apa yang ingin kaubicarakan padaku, Ron?" Hermione tak henti-hentinya mengawasi pemuda berhidung panjang dengan wajah berbintik-bintik—khas Weasley—di hadapannya. Sementara yang dilempari pertanyaan seperti itu hanya bisa menunduk dalam diam, bergerak gelisah di atas sepatu hitam mengilatnya. Samudera biru cemerlangnya sesekali beredar menelisik seisi ruangan yang nampaknya masih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Bahkan di saat ingar-bingar pesta yang kini mulai kembali merayapi keduanya, pemuda Weasley itu masih saja tetap bungkam, diam membisu.

"Ron?"

"_"

"_"

"RONALD! BUMI MEMANGGIL!" Gadis Singa itu sudah habis sabar rupanya, ia berteriak lantang tepat di depan wajah sang putra bungsu Weasley. Pemuda itu terlihat gelagapan di saat yang bersamaan ketika ia mengangkat kepalanya reflek lantaran suara keras seorang Hermione Jean Granger yang menyerbu gendang telinganya.

"Ma…maafkan aku." Hermione mendengus sebagai jawabannya. Ia melipat tangannya di depan dada sementara petaan wajahnya tampak acuh dengan perkataan Ron barusan. Gadis itu menepi perlahan, memberi sedikit jarak dengan pemuda itu. Wajahnya berpaling ke sudut ruangan yang lain. Dari sini ia dapat dengan jelas menangkap sejumput surai platina yang terlihat mengawasinya dari kejauhan. Tentu saja pemuda itu tengah berusaha untuk mengawasi sang kekasih hati dari sosok pemuda yang belum bisa dipercayainya sepenuhnya. Itu wajar, 'kan?

"Oh, Ron … Kalau memang kau tak ingin mengatakan sesuatu apapun padaku, sebaiknya aku pergi." Gadis hazel itu memutar tumitnya untuk segera meninggalkan Ron sebelum sebuah tangan kokoh mencegat jalannya seiring dengan pergelangan tangan kanannya yang serasa kebas di waktu yang bersamaan. Oh, rupanya Draco jauh lebih lembut ketimbang pemuda yang satu ini. Tak rugi ia akhirnya bisa berpaling ke pemuda Malfoy itu. Dingin tapi lembut. Ah, manis sekali kalau Hermione boleh jujur.

"Tunggu! Baiklah …" Pemuda itu menghela napas sesaat. "Sebenarnya aku ingin mengatakan suatu hal yang kurasa mungkin sudah begitu terlambat untuk kukatakan. Tapi sungguh, aku tak sanggup lagi untuk menyimpan hal ini terus-menerus."

Hening.

"Aaarrrgggh! Ini membuatku gila!" Kedua lengan pemuda itu bergerak cepat menyambar surai merahnya sendiri, meremasnya penuh dengan rasa penyesalan. Sontak sang gadis Granger itu hanya bisa menatap tanpa kedip melihat ekspresi yang sama sekali tak disangkanya.

"Maafkan aku, 'Mione … Maafkan aku…" Suara pemuda ginger itu terdengar parau dalam kelirihannya. Manik madu Hermione menyipit penuh tanda tanya.

"Ron … Kita sudah saling mengenal selama kurang lebih delapan tahun! Apakah itu tak cukup untuk membuatmu mengenalku?" Lengan mungilnya tergantung pelan di pundak kokoh Ron Weasley.

"Kau yakin tak akan marah padaku, 'Mione?" Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawabannya.

"Baiklah. Kuharap ini tak mengubah apapun tentang kita." Jujur, Hermione semakin bingung dengan ucapan Ron ini. Tak ada angin, tak ada hujan, apalagi badai. Tapi mengapa pemuda ini bersikap seperti ini kepadanya? Memang hal sepenting apa yang hendak dikatakannya?

"Ron … Ceritalah apapun. Kita teman, ingat?" Gadis itu mencoba mengulum senyum terbaiknya, berharap dapat melumerkan kegelisahan sahabat berambut merahnya itu.

'Well, kita teman, Hermione … Hanya teman. Meskipun sampai saat ini aku masih berharap kita bisa lebih dari itu. Tapi kukira sudah terlambat. Aku suda lama menyia-nyiakan kehadiranmu. Baik, kita teman. Kucoba untuk menerima hal itu meski berat hati. Tapi apa kau masih mau menganggapku demikian setelah aku memberitahumu hal ini?' batin Ron pelik.

"Aku … Aku … Ini tentangmu dan Draco." Kedua alis cokelat Hermione bergumul tepat di tengah. "Well, aku tahu meskipun aku tak cukup banyak mengambil bagian dari hal ini, tapi tetap saja aku ikut memuluskan niat licik si little Greengrass sialan itu. Aku ben—"

"Tunggu dulu. Kau berbicara apa, Ron?" Pemuda Weasley itu menghela napas tertahan. Ia menggigit pipi bagian dalamnya. Dari gerak-gerik tubuhnya yang tertangkap sorot visual Hermione, sangat jelas bahwa pemuda itu tengah gugup maksimal.

"Kau ingat surat yang kauterima beberapa bulan lalu?" Hermione tampak berpikir sebelum Ron kembali menyabet waktu dan kembali melanjutkan perkataannya. "Surat atas nama si Ferret Melambung, tepat di malam kau mendapatainya tengah bersama Greengrass."

DEG! Akhirnya gadis itu kembali teringat memori kelam menyesakkan itu. Ya, bagaimana ia bisa lupa tentang itu?

"A…aku tidak mengerti apa yang kaubicarakan, Ron …" Hermione setengah bergumam.

"Maafkan aku, 'Mione … Tapi aku bersekongkol merencanakan hal ini bersama Greengrass."

Hening.

Satu lelehan kesedihan akan pengkhianatan meluncur begitu saja di pipi bening Hermione.

Jadi, akar dari semua permasalahannya selama ini adalah sahabat kentalnya sendiri, eh? Oh, betapa ironinya dunia. Biarkan gadis itu tertawa sebentar untuk mengapresiasi kesetiaan sahabatnya yang satu ini. Tipikal sahabat sejati. Benar-benar sejati. Hermione mencibir dalam relung mengingat fakta tak berfaktual itu.

"Mione, tunggu!" Lagi-lagi pemuda itu mencegat lengan mungil Hermione di saat sang empunya mencoba untuk segera memutar tumitnya meninggalkan sang pemuda bersamudera biru cemerlang itu.

"Lepaskan aku, Ron!"

"Hermione, tunggu. Biarkan aku menjelaskannya terlebih dulu," bujur Ron susah payah.

"Lepaskan, Ron! Aku mau pergi dari sini!" Entah mendapat kekuatan dari mana sehingga gadis itu berhasil menyentak cengkeraman Ron dengan cukup kuat. Air mata sudah jatuh saling susul-menyusul dan menganak sungai di pipi seputih kapasnya.

"Hermione, kau sudah berjanji untuk tidak marah padaku setelah aku menceritakannya, 'kan? Jadi kumohon dengarkan penjelasanku dulu!" Bentak Ron yang sedetik kemudian begitu ia sesali.

'Bodoh!' umpatnya setengah mati. Ia sungguh tak bermaksud untuk menyentak Hermione dalam nada seperti itu. Ini hanya reflek! Ya, hanya semacam itu.

"Maaf, Ron. Tapi aku perlu waktu untuk sendiri! Ini sama sekali tak pernah kubayangkan sebelumnya!" Hermione berteriak lantang tepat di depan wajah pucat Ron, sebelum dengan tegas ia memutar tubuhnya dan meninggalkan pemuda itu dengan berjuta rasa bersalahnya.

Hancur sudah harapan Hermione malam ini. Ia kira malam ini akan menjadi malam terindahnya di Hogwarts. Tapi apa? Salah satu sahabat karibnya justru menghancurkannya dengan pengakuan semenjijikan itu. Hell, di mana otak pemuda itu?!

.

.

-OoOoO-

.

.

Permata argent Draco bergerak cepat menangkap siluet Hermione yang meninggalkan sudut aula besar. Sempat tersapu oleh pandangannya saat lembaran surai blonde sang gadis berkibar berantakan tatkala si empunya berlari tergesa menuju gerbang Aula Besar.

Hell, apa yang terjadi? Apa yang Weasley keparat itu lakukan sehingga membuat gadisnya seperti itu? Ia yakin ada sesuatu yang tak beres di sini. Ia tak boleh tinggal diam. Ia harus segera mengusut hal ini bahkan hingga ke akar-akarnya sekalipun!

Maka setelah berpamitan seadanya dengan teman-teman Slytherinnya, maka pemuda itu segera melajukan kaki panjangnya untuk mengejar Hermione. Ya, bagaimanapun keadaannya, ia tetap harus selalu ada untuk sang gadis pujaan hatinya itu. Harus..

.

.

Derap langkah saling beradu menyapu koridor sepi. Bergema cukup nyaring mengalahkan kebisuan tembok-tembok dingin. Pemuda itu terus memacu langkahnya mengikuti hasrat rungunya akan derap langkah seseorang yang dipikirnya pasti belum cukup jauh darinya.

"Hermione?" Ia mencicit dalam keremangan koridor. Pantulan cahaya perak rembulan membuat surai platina pemuda itu nampak melayang-layang dalam kegelapan.

"Katak Jelek!" Draco berseru lantang kepada sosok lukisan di hadapannya sebelum lukisan itu mengayun terbuka dan menampilkan undakan-undakan kecil yang harus dipanjat untuk mencapai ruang rekreasi Ketua Murid.

"Hermione?" Ia bergumam, terlihat bingung melihat kekasihnya yang kini tengah mengubur kepalanya di antara kedua lututnya. High heels-nya sudah terlepas entah ke mana. Sementara kaki jenjang nan mulusnya nampak cukup terekspos dalam posisi seperti itu. Draco segera mengambil inisiatif sendiri untuk duduk di sebelah sang gadis blonde—setidaknya sebelum ia kembali menormalkan rambut brunette-nya.

"Kau kenapa, love?" Bahu gadis itu masih terlihat bergetar. Sesekali isakannya masih dapat ditangkap oleh rungu sang pemuda.

"Huss… Berhentilah menangis, 'Mione … Kau bisa cerita apa saja padaku, kau tahu." Draco menarik kepala Hermione dan serta-merta membenamkannya di dalam dada bidangnya yang masih berlapis kemeja hijau zamrudnya. Gadis itu diam, tak melawan ataupun memberontak tatkala jari-jemari pucat Draco mulai membelai sayang puncak mahkotanya. Mungkin saat ini yang memang ia butuhkan adalah pemuda itu, Draco Malfoy.

"Aku … Aku tak percaya Ron akan tega melakukan ini padaku," gadis itu mulai membuka suara, berujar lemah berusaha mengimbangi rasa kering pada kerongkongannya.

"Jadi ini karena Weasley?" Draco berbisik dengan nada tajam, namun jemarinya masih setia mengusap lembut pucuk kepala Hermione. Ia dapat merasakan gadisnya itu mengangguk dalam dekapannya.

"Dan juga Greengrass. Maksudku, Astoria Greengrass." Sang pemuda Malfoy itu mengernyit bingung, cuping hidungnya mengerut tidak suka.

Jadi Weasley dan Tori bersekongkol, eh? Draco membatin geram. Tapi dalam hal apa? Dan akhirnya lantaran ia sudaha tak lagi sanggup membendung rasa ingin tahunya, maka malam itu ia bertanya sepuas hatinya kepada Hermione. Dan dengan lugas gadis itu pun menuturkan semua yang ia tahu, dari A hingga Z.

"Greengrass sialan!" umpat Draco kesal setengah mati. "Jadi ini semua ide busuknya untuk menjebakku? Benar-benar murahan!" Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya frustrasi sebelum ia bangkit berdiri hendak beranjak.

"Draco!" Sebuah suara lembut berhasil mengehentikan langkah emosinya. "Jangan bilang kau ingin menemuinya? Jangan gila, Draco. Kau tahu, kalian sama-sama 'ular'. Aku yakin ia bahkan bisa menjebakmu lebih dari yang kaukira."

"Draco … Ayolah kita selesaikan semua ini dengan kepala dingin." Hermione bangkit berdiri, jemari mungilnya menempel di pundak kokoh Draco yang perlahan kemudian bergerak mengambilnya dan menciumnya pelan.

"Baiklah, Hermione …" Pemuda itu menghela napas berat. Hermione menunggu.

"Tak ada cara lain, kita harus … Kawin lari."

.

.

-OoOoO-

.

.

Malfoy Manor tampak lebih megah hari ini. Sepanjang mata memandang, bermacam-macam dekorasi tampak menghiasi berbagai penjuru tempat dan ruangan. Bebungaan pun tampak ikut menyembul di sudut-sudut tertentu. Nyaris seluruh ornamen bernuansakan hijau dan perak.

Sementara itu di dalam sebuah kamar nan luas, sesosok pemuda pias sibuk mondar-mandir. Setelan serba hitamnya terlihat sangat cocok dan necis di tubuh atletiknya. Langkahnya kemudian terhenti tepat di saat ia melewati sebuah chiffonier yang dilengkapi dengan cermin berukuran wahid. Ia menatap dalam-dalam siluet di hadapannya—siluet dirinya sendiri. Manik kelabunya berpendar tajam penuh emosi.

'Ah, dasar Greengrass dan Weasley sialan! Kalau bukan karena rencana bodoh mereka, tentu saja ia tak perlu repot-repot melakukan pertunangan bodoh ini. Cih!' Ia membatin geram. Ingin rasanya ia melempar kutukan kepada kedua makhluk berbeda gender itu saking kesalnya.

"Draco, dear …" Pintu berderit terbuka, menampilkan wajah cantik Narcissa yang melongok di baliknya. Mendapati putra kesayangannya tak merespons, maka dituntun dengan naluri keibuannya, ia pun beranjak masuk ke dalam kamar putra satu-satunya itu.

"Draco …" Ia mengelus sayang punggung Draco, pemuda itu tersentak. Jujur sama sekali ia tak menyadari kehadiran ibunya sampai saat sebuah sentuhan hangat serasa membelai punggung kokohnya.

"Mum …" Atensi Draco teralih, kini ia tengah menatap pantulan seorang wanita paruh baya nan cantik rupawan yang berdiri anggun di belakang punggungnya dari kaca cermin, sebelum permata abu itu bergulir cepat seiring dengan pergerakan sang empunya yang memutar perlahan.

"Apa kau senang dengan pertunangan ini?" Narcissa bertanya khawatir. Gurat-gurat kecemasan nampak jelas menjalar-baur dengan garis-garis wajahnya.

"Aku … Aku …" Narcissa menunggu dengan sabar disertai dengan hembusan napas berat Draco setelahnya. "Apakah aku harus menjawab jujur, Mum?" Samudera perak pemuda itu menelisik setiap jengkal manik bingkai wajah sang ibu dengan penuh perasaan.

"Tentu saja aku menginginkan jawaban terjujurmu, dear …" Ia mengelus lembut pipi kanan Draco.

"Bisakah aku mengatakan bahwa aku sama sekali tak bahagia dengan ini, Mum? Aku tahu ini demi keluarga kita, aku tahu itu. Tapi tak bisakah hidupku sedikit lebih bahagia dengan takdir yang akan kupilih sendiri? Aku bosan menjadi boneka hidup, Mum. Aku lelah untuk terus menjalani hidup tanpa bisa mengendalikan hidupku sendiri. Aku butuh kebahagiaan, Mum … Aku lelah. Sungguh." Pemuda itu menunduk dalam-dalam. Entah mengapa ia merasa tak sanggup untuk berhadapan dengan permata biru sang ibu yang selama ini telah membesarkannya penuh dengan kasih dan sayang.

"Draco …" Suara Narcissa seolah tercekat di ujung karotidnya, terdengar bergetar dan meradang dalam waktu yang bersamaan. "Maafkan ibu, Nak …" Seiring dengan perkataannya itu, ia pun memeluk putra semata wayangnya dengan erat. Air mata yang sedari tadi sudah mendesak keluar melalui kelopaknya kini benar-benar tumpah ruah di atas wajah cantiknya. "Maafkan ibu …" ulangnya lagi, lebih terdengar berbisik kepada dirinya sendiri. Perlahan lengan Draco pun bergerak dan balas memeluk ibunya.

Namun di tengah keharu-biruan ibu dan anak itu, sebuah suara berat berhasil menginterupsi keduanya.

"Draco, Cissy, cepatlah! Prosesi sudah akan dimulai." Hah, tidak salah lagi. Itu pasti Lucius Malfoy.

Narcissa dengan berat hati terpaksa melepas pelukannya, membersihkan sisa-sisa air mata di wajahnya.

"Mum …" panggil Draco. "Bisakah aku bahagia?" Baru saja wanita cantik itu mengelasp air matanya, namun kini air mata yang lain justru ikut turun melumer dalam kesedihan dan keharuannya. Wanita itu akhirnya mengangguk sebelum kembali meraup Draco dalam satu pelukan hangat khas seorang ibu.

"Terima kasih, Mum. Kuharap aku dapat bahagia dengan Hermione," bisik Draco masih memeluk ibunya. Well, meskipun ia merupakan pemuda dingin, namun bukan berarti ia tak memiliki nurani. Bagaimanapun ia tetaplah seorang lelaki kecil di mata ibunya. Ia akan selalu menjadi putra kesayangan Narcissa Malfoy, sampai kapan pun.

.

.

-OoOoO-

.

.

"Hi, Weasley …" Ron menoleh dengan cukup terkejut mendapati sosok gadis yang baru saja menyapanya. Bukan apa-apa, tapi bagaimanapun ini sangat aneh. Karena gadis itu adalah—

"Parkinson?" Gadis bermarga Parkinson itu mengangguk pelan, bibir berpoles gincu merahnya tertarik dalam sebuah senyum simpul.

'Blimey! Parkinson tersenyum di hadapanku?' Ron membatin tak percaya.

"Well, aku tahu ini tidak biasa. Di mana seorang ular sepertiku malah menyapa seorang singa pemberani sepertimu." Jujur, Ron masih sangat bingung akan maksud dan tujuan gadis ini menyapa dan mengobrol dengannya.

"Aku tak mengerti." Pansy Parkinson mengulum senyum setengah mengejek sebelum ia kembali membuka suara.

"Aku memang tak pernah memintamu untuk mengerti, Weasley …" ungkapnya lamat-lamat.

"Jadi apa tujuanmu ke sini?" Gadis itu tersenyum getir kini.

"Tentu saja untu menghadiri pertunangan orang yang sangat kucintai sedari dulu." Gadis Parkinson itu terlihat menerawang, tenggelam dalam delusi fatamorgananya.

"Maksudmu si Bouncing Ferret itu? Oh, sorry, maksudku … Malfoy?" tanya Ron tepat sasaran, yang serta-mera hanya dibalas anggukan kecil oleh Pansy. Manik kelam gadis itu terpejam seiring dengan rangkaian kata yang kemudian berhasil meluncur mulus dari bibir merah darahnya.

"Tapi aku sadar sekarang, apapun yang dipaksakan tentu saja tak akan pernah bisa berhasil. Begitu pun dengan cinta. Aku tahu, meskipun cintaku sebesar dunia kepada Draco, tapi tetap saja aku tak dapat memilikinya." Ia menghela napas muram. Jujur, sangat langka bagi Ron Weasley untuk melihat seorang Slytherin seperti ini berubah melankolis tepat di depan mata kepalanya. Oh, andai saja Ron bisa mengabadikan hal ini untuk ia simpan aga bisa ia lihat di hari-hari ke depannya. Semata-mata untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini bukanlah sebuah mimpi ataupun ilusi maya.

"Cinta memang menyakitkan," tanggap Ron terbawa suasana. Turut mengingat bagaimana hubungannya dengan Hermione belakangan ini. Lagi pula ini salahnya juga, di saat gadis itu menumpukan harapan padanya, ia justru tak pernah menganggap kesunngguhan Hermione dan malah berkencan dengan Romilda Vane. Gadis yang belakangan diketahuinya berselingkuh dengan salah satu pemuda kelas enam asrama Hufflepuff. Ew, benar-benar menjijikan. Jadi seharusnya ia sudah cukup puas untuk sekadar hanya menjadi sahabat Hermione, tak lebih dari itu—mengingat kesalahan fatal yang telah dilakukannya selama ini. Membiarkan gadis baik hati seperti Hermione harus menelan pil pahit berulang kali hanya karena dirinya.

"Tapi setidaknya aku tahu bahwa di luar sana mungkin aku akan mendapatkan sosok yang lebih dari Draco. Bagaimanapun aku tetap harus melanjutkan hidupku, 'kan?" Pansy berpaling menatapnya.

"Menurutmu apakah sudah begitu terlambat bagiku untuk meminta maaf pada Hermione? Oh, tidak. Lupakan." Ron meralat perkataannya, mengingat bahwa Pansy Parkinson tak thu-menahu perihal masalahnya dengan Hermione.

"Menurutku tak ada kata terlambat untuk meminta maaf." Pemuda berambut krimsom itu menoleh terkejut, manik birunya seolah berkata 'apa kau tahu apa yang kumaksud?'

"Weasley … Aku sudah tahu perihal masalahmu dengan Granger dan Astoria."

"Begitu? Mak—maksudku, bagaimana bisa?" Pansy menghembuskan napas gugup.

"Sebenarnya hanya tak sengaja tahu, di saat aku mendengar percakapanmu bersama Astoria beberapa bulan lalu. Dan sejak itu aku berusaha mencari tahu dan akhirnya Astoria bercerita semuanya padaku. Jujur, aku sakit hati padanya. Di saat aku menunggu waktu yang tepat untuk Draco berpaling padaku, dia justru menggunakan cara licik menjijikan seperti itu." Gadis Slytherin itu tertawa hambar. "Well, aku tahu, aku pun seorang Slytherin yang tak dimungkiri dan tak munafik, aku jujur mengakui bahwa aku pun licik. Ya, karena itu sudah menjadi sifat hampir semua individu di asrama Slytherin. Tapi sungguh, sama sekali aku tak pernah berpikiran sampai ke sana. Bagaimanapun aku tetap menginginkan Draco agar ia bersamaku karena benar-benar mencintaiku, bukannya karena terpaksa seperti ini."

Ron terdiam. Otak bebalnya sibuk memikirkan perkataan Pansy barusan. Ia tak tahu bahwa gadis berwajah anjing Pug ini memiliki sisi lain yang menarik rupanya. Oh, tak ada yang tak mungkin di duia sihir, ingat?

"Ron!" Pemuda itu mendongak, mendapati sahabatnya, Harry Potter yang tengah berdiri di hadapannya.

"Aku mencarimu ke mana-mana. Rupanya kau di sini bersama … Pansy?" Harry mengernyit bingung.

"Potter …" Pansy menyapa dengan sedikit polesan senyum tipis, sementara Hary terlihat sibuk memberi kode kepada Ron melalui ekor matanya, berusaha meminta penjelasan.

"Di mana Ginny?" Oh, rupanya Ron mengabaikan pertanyaan tersirat sahabat berambut acak-acakannya itu.

"Oh, dia di bangku belakang, menemani Hermione. Well, kau tahulah, wanita." Pemuda Potter itu mengedikkan bahunya. "Lagi pula kupikir Hermione memang butuh sandaran sekarang. Percayalah, dia benar-benar gadis yang kuat, di saat hatinya remuk redam, ia masih saja nekat untuk datang ke acara pertunangan ini." Harry menggeleng turut menyesal. Dalam hati, Ron serta Pansy membenarkan perkataan Harry. Bagaimanapun sudah menjadi rahasia umum bahwa Draco dan Hermione tengah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih sampai adanya berita dan acara pertunangan yang menggemparkan ini. Bahkan keluarga Greengrass mengundang seluruh murid-murid serta para staf Hogwarts.

"Hadirin yang mulia…" Sayup-sayup ketiga rungu orang itu—Harry, Ron, dan Pansy— telah menangkap dengar pembukaan pertunangan ini. Dan itu berarti bahwa sebentar lagi mereka akan sampai pada acara intinya, acara pertukaran cincin pada masing-masing mempelai.

"Kuharap Hermione baik-baik saja," Harry berbisik pada dirinya sendiri.

Sementara di lain tempat, Draco tengah terlihat gugup dan gelisah. Sebentar lagi pemandu acara akan membawa mereka ke acara inti; pertukaran cincin. Dan dia tidak ingin hal itu sampai terjadi. Samudera kelabunya sibuk mencari-cari pucuk kepala berwarna cokelat di antara sekian banyaknya tamu undangan yang hadir di Malfoy Manor. Namun maniknya tampak berbinar sejenak tatkala ia berhasil menemukan sosok yang dicari-carinya tengah duduk di barisan paling belakang bersama Ginevra Molly Weasley—Ginny.

"Baiklah, memasuki acara yang paling ditunggu-tunggu! Pertukaran cincin masing-masing mempelai!" Sang pemandu acara bersorak senang diiringi dengan tepuk tangan meriah setelahnya.

Astoria yang memakai gaun berwarna hijau, tersenyum senang menatap Draco yang tengah berdiri tegap di hadapannya. Perlahan namun pasti akhirnya ia berhasil menelusupkan sebuah cincin emas putih berlapis berlian di jari-jemari Draco. Dan kini tiba saatnya untuk pemuda itu melakukan hal serupa.

'Dig … Dag … Dig … Dig'

Tak ayal jantung Draco berdegup kencang, rasa takut menyergap seluruh sudut-sudut hatinya. Bagaimanapun ia sudah memikirkan ini masak-masak sebelumnya. Dan ya! Untuk kali ini sepertinya Draco memang harus bersikap berani layaknya seorang Gryffindor. Well, apapun yang terjadi, dia harus melakukan ini semua. Demi Hermione, demi kebahagiaannya. Demi kebahagiaan mereka berdua.

"Drake, cepat sedikit!" Astoria menggeram tertahan, matanya menajam menghujam permata kelabu sang pewaris Malfoy. Pemuda itu hanya mendongak sekilas sebelum …..

Ting … Tring ….

Cincin tunangan yang seharusnya terpasang alot di jemari mungil Astoria justru terjatuh berkelontangan di atas lantai marmer yang tak tertutup karpet merah.

Dan secepat angin menyapu bumi, Draco berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Astoria yang masih terlampau terkejut untuk sekadar menyadari maksud Draco sebenarnya.

Pemuda itu berlari tergesa menembus kerumunan tamu undangan yang memadati halaman luas Malfoy Manor. Tujuannya satu, ia harus mencapai bangku paling belakang dan membawa Hermione lari bersamanya. Ya, harus! Sebelum orang-orang suruhan Malfoy Senior dan Greengrass Senior mengejar dan menghentikan mereka.

Hermione yang belum sempat menyiapkan apa-apa lantaran lengannya yang serta-merta digamit kuat oleh Draco hanya bisa melongo selama beberapa saat sebelum ikut berlari bersama sang pemuda platina.

Oh, sungguh. Kenapa halaman Malfoy Manor harus seluas ini? Tak bisakah lebih luas lagi dari ini? Tanpa sadar Draco mendengus kecil. Hell! bahkan keluasan manornya sewaktu-waktu dapat memberi efek yang tak menguntungkan seperti ini. Hah!

"Draco! Kita mau ke mana? Kau tahu, kita belum mendapat restu dari orang tua kita!" Suara lembut Hermione yang sedikit terbawa angin membuyarkan Draco dari lamunannya. Mereka baru saja berhasil keluar dari halaman Malfoy Manor. Sementara seperti yang sudah diduga oleh Draco sebelumnya, pasti orang tuanya tak akan tinggal diam. See? Buktinya sekarang mereka tengah dikejar-kejar oleh para orang-orang bertubuh tinggi tegap! What's really going on here?! Double HELL!

"Merlin, Hermione! Kawin lari memang tak butuh restu orang tua!

"Draco … Aku sudah tak sanggup lagi. Aku lelah." Hermione berhenti di tengah jalan, napasnya tak beraturan. Ia terengah-engah, sesak bergumul di dadanya. Sementara high heels yang sedari tadi melekat di kaki jenjangnya kini sudah terlepas entah ke mana.

"Ayo, Mione! Kau past bisa! Kita harus pergi dari sini secepatnya! Paling tidak sampai kita menemukan daerah untuk ber-apparate yang aman!" Draco balas berteriak setelah ia kembali menggandeng Hermione yang sempat berhenti berlari.

"Mione, kau siap? Kita akan ber-apparate!" Hermione hanya mengangguk lemah sebelum pusaran hitam pekat kembali menguasai sorot visual serta serebrasinya. Selama beberapa saat mereka ditelan kegelapan dan pusaran yang benar-benar mampu membuat siapa saja mual setengah mati.

Dan tepat ketika mereka tiba di salah satu tempat yang sama sekali tak direncanakan oleh Dra—

"Aaaaarrrrrggggghhh!"

"HERMIONEEE!" Draco terperangah, terparanjat selama beberapa saat sebelum hatinya mencelos menyadari sesuatu.

Ah, sudah kukatakan. Mereka ber-apparate di tempat yang tak mereka rencanakan. Siapa yang salah ketika tiba-tiba ada sebuah mobil berkecepatan tinggi yang menyambar tubuh kekasihmu? Toh, kau pun ber-apparate di tengah jalan raya yang dipenuhi dengan lalu-lalang kendaraan.

Tidak. Di sana gadis Granger itu terbaring, tergolek lemah tak berdaya dalam balutan gaun berwarna berangan yang kini tampak baur dengan sedikit bercak-bercak kemerahan—darah? Oh, tidak. Apa itu yang mengucur menetes di pelipis gadis itu? Draco tak akan memaafkan dirinya sendiri apabila sampai terjadi sesuatu pada Hermione Jean Granger, sang belahan jiwanya.

Ya, tidak akan!

.

.

-OoOoO-

.

.

"Tolong selamatkan istri saya. Tolong," Draco berkata tergesa di sela-sela rasa despondensi yang merayapi sudut-sudut hatinya. Bahkan ia sampai tak sadar ketika menyebut Hermione sebagai 'istrinya' di hadapan salah satu suster Muggle yang kini sibuk ikut berlari bersamanya sambil menggendong tubuh lemah Hermione. Bahkan ia tak peduli lagi ketika rasa gengsinya runtuh tatkala memohon pertolongan seperti itu kepada seorang Muggle! Baginya yang terpenting sekarang adalah keselamatan Hermione. Ya, tak ada yang lebih penting dari itu untuk saat ini.

"Tuan, maaf, Anda hanya bisa mengantar sampai sini. Silakan Anda keluar dulu, harap sabar menunggu." Manik kelabu Draco nyaris saja keluar dari rongganya tatkala mendengar celotehan—yang menurutnya tak penting—sang suster yang kini telah mengambil alih Hermione. Sekarang tak hanya satu suster dalam ruangan itu, tapi ada tiga suster! Lengkap dengan satu dokter Muggle yang mulai memeriksa keadaan Hermione.

Oh, Draco tak berharap ini akan menjadi buruk.

"Silakan keluar dulu, Tuan. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk istri Anda. Kami jamin itu." Setelah mendapat pencerahan dari sang dokter bertubuh gempal itu, akhirnya dengan berat hati Draco pun menuruti perintah sang dokter.

"Tolong, selamatkan dia! Dia sangat berharga bagi saya! Saya mohon, saya tak ingin terjadi apa-apa dengannya," pesan pemuda perak itu sebelum meninggalkan ruangan Unit Gawat Darurat. Hell! Bahkan ia tak tahu dari mana ia mendapat inisiatif untuk membawa Hermione ke rumah sakit Muggle seperti ini.

Hah, entahlah. Apapun itu. Yang penting gadisnya dapat selamat dan kembali meanjutkan hidup bersamanya.

.

.

-OoOoO-

.

.

Draco tengah memijait pelipisnya frustrasi tepat di saat pintu ruangan UGD menjeblak terbuka. Secepat komet di angkasa, pemuda itu menoleh dan langsung menagih janji sang dokter akan jaminan keselamatan gadinya.

"Dok, apa yang terjadi? Bagaimana keadaannya? Bolehkah aku menemuinya sekarang?" Pemuda pias itu mengguncang-guncangkan tubuh sang dokter gempal hingga menyebabkan kacamata dokter itu pun turun hingga ke pertengahan hidungnya.

"Sabar, Tuan. Sabar," ujar sang dokter mencoba menenangkan.

"Bagaimana saya bisa sabar kalau orang yang paling saya cintai tengah berbaring lemah di dalam sana?!" hardik Draco kesal, emosinya sudah mencapai kulminasi hingga ke ubun-ubunnya.

"Saya perlu berbicara dengan keluarga pasien," jelas sang dokter kalem.

"Saya keluarganya, dok! Saya suaminya!" Hah, bagus sekali! Bahkan sekarang Draco sudah pandai berbohong.

"Nyonya Granger—"

"Malfoy," Draco memotong tak sabar.

"Oh, maaf. Maksud saya, Nyonya Malfoy kehilangan banyak darah. Kepalanya mengalami benturan yang cukup keras hingga menyebabkan pendarahan hebat." Draco membeliak tak percaya mendengarkan penjelasan sang dokter.

Apa katanya? Hermione-nya kehilangan banyak darah lantaran kepalanya mengalami pendarahan hebat? Oh, sungguh. Ia tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika saja sampai terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada Hermione.

"Tolong lakukan sesuatu, dok! Saya mohon!"

"Nyonya Malfoy membutuhkan donor darah secepatnya, terlambat sedikit saja nyawanya bisa tak tertolong."

"Kalau begitu, ayo segera berikan donor darah pada istri saya, dok! Tunggu apa lagi?! Anda tidak tahu siapa saya? Saya bisa membayar samahal apapun biayanya asal Anda dapat menyelamatkan istri saya! Bahkan kalau perlu, saya bisa membeli rumah sakit ini sekalian!" Kini Draco telah benar-benar dikuasai emosi, tanpa sadar jemari pucatnya sudah bergerak dan mencengkeram kerah kemeja sang dokter yang tampak mulai ketakutan diperlakukan seperti itu oleh Draco.

"Tapi masalahnya kami sedang kehabisan persediaan darah, Tuan … Ka—kami tak bisa melakukan banyak hal untuk saat ini," jawab dokter itu mulai terbata-bata.

"SAYA YANG AKAN MENDONORKAN DARAH SAYA!"

"Ja—jadi, apakah gol—golongan darah Anda B?"

"Golongan darah B? Apa-apaan Anda ini? SAYA INI GOLONGAN DARAH MURNI, KALAU ANDA MAU TAHU!"

"_"

"_"

"_"

.

.

.

To Be Continue

.

.

Hi! *senyum awkward. Well, saya mohon maaf karena baru bisa update sekarang. Jujur, sebenarnya saya ingin meng-update MBiF ini bersama Vampire's Diary di hari Rabu lalu (29 Januari), tepat di hari ulang tahun saya yang ke …. *sensor (tebak sendiri :p hihi, siapa tahu ada yang pengin ngucapin? xD/plak) Hehe, tapi rupanya keadaan berkehendak lain karena saya malah gak enak badan di hari itu :( *poor me … Jadi saya baru ada waktu lagi buat ngetik kemaren, sementara untuk Vampire's Diary baru selesai setengah jalan. Ah, maaf, ya T_T tapi saya usahakan untuk update secepatnya, kok ^^

Yang kedua, saya pengin meminta maaf karena chapter ini belum sempat saya edit, jadi maaf banget kalau bahasa, EyD, serta typo masih bertebaran di sana-sini T_T

Yang ketiga, saya rasa ini cukup penting. Karena saya mulai berpikir untuk memasuki masa HIATUS, jadi saya mohon maaf apabila dalam jangka waktu lama saya tak bisa lagi meng-update fict2 saya :'( Meski saya berusaha keras agar tetap bisa menulis di sela-sela kesibukan saya. Tenang aja, kok. Saya merupakan tipe author yang tak akan menelantarkan cerita-cerita saya begitu aja. Ini cuman sebagai warning aja, kok, agar jika saya menghilang secara tiba2 dari peradaban(?) perfanfictionan nanti, gak ada yang nyariin hehe *plak (gak bakal ada juga kali! Ckc)

Tapi jika yang review lumayan banyak dan meminta fict ini agar dilanjutkan segera, maka dengan senang hati saya akan berusaha sebisa saya untuk meng-update secepatnya :D *seriously.

SO, guys, REVIEW? :)

.

.

Salam,

MissLoony