Disclaimer :
Harry Potter © J.K. Rowling
My Blood is Ferret © Ms. Loony Lovegood
(Tak ada keuntungan material apapun yg saya dapatkan dengan menulis fict ini, semata-mata hanya karena kesenangan dan kecintaan saya terhadap serial menakjubkan 'Harry Potter' beserta para tokoh-tokoh istimewanya!)
.
Rated : T
Romance, Hurt/Comfort
Warning!
Saya sudah berusaha untuk tidak typo
(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf)
.
*Happy Reading, Guysss... But,don't like? don't read! RnR please*
.
.
"Nyonya Malfoy membutuhkan donor darah secepatnya, terlambat sedikit saja nyawanya bisa tak tertolong."
"Kalau begitu, ayo segera berikan donor darah pada istri saya, dok! Tunggu apa lagi?! Anda tidak tahu siapa saya? Saya bisa membayar samahal apapun biayanya asal Anda dapat menyelamatkan istri saya! Bahkan kalau perlu, saya bisa membeli rumah sakit ini sekalian!" Kini Draco telah benar-benar dikuasai emosi, tanpa sadar jemari pucatnya sudah bergerak dan mencengkeram kerah kemeja sang dokter yang tampak mulai ketakutan diperlakukan seperti itu oleh Draco.
"Tapi masalahnya kami sedang kehabisan persediaan darah, Tuan … Ka—kami tak bisa melakukan banyak hal untuk saat ini," jawab dokter itu mulai terbata-bata.
"SAYA YANG AKAN MENDONORKAN DARAH SAYA!"
"Ja—jadi, apakah gol—golongan darah Anda B?"
"Golongan darah B? Apa-apaan Anda ini? SAYA INI GOLONGAN DARAH MURNI, KALAU ANDA MAU TAHU!"
"_"
"_"
"_"
.
.
My Blood is Ferret
.
.
Chapter 24 : New Life
.
.
.
Sesosok pemuda berambut platina nampak tengah duduk bersandar di sebuah sofa sewarna karamel lembut di tepi ruangan. Matanya terpejam menampik penat yang sedari tadi menggerogoti kanal serebrasinya. Entahlah, begitu banyak yang dipikirkannya sekarang. Ia lelah, jujur saja. Terlebih ia baru saja mendonorkan darahnya untuk sang kekasih hati, Hermione Jean Granger. Well, sebenarnya itu bukan masalah besar baginya. Toh, apapun akan ia lakukan demi Hermione, 'kan? Ya, apapun.
Tapi, kalau boleh jujur—lagi—ia tak habis pikir mengapa bisa golongan darahnya harus B? Bukankah A lebih tinggi dari B? Lagi pula ia seorang penyihir bangsawan berdarah murni. Lantas, mengapa ia tak bergolongan darah A saja? Err, setidaknya itu akan lebih terdengar elite, 'kan?
Akan tetapi, diam-diam ia juga merasa bersyukur lantaran jika golongan darahnya bukan B, apakah ia masih bisa melihat gadis yang dicintainya itu baik-baik saja hingga sekarang? Untuk itu Draco menarik kesimpulan; ia tak rugi sama sekali. Ia justru beruntung karena golongan darahnya sama dengan golongan darah milik Hermione. Ya, sama! Sangat kebetulan.
Jodoh, eh? Hah, bibir Draco berkedut pelan mengumbar seulas senyum tipis—namun masih terlalu enggan untuk menampilkan sorot kelabunya dalam bauran cahaya ruangan yang seolah mengintimidasi agar kelopak itu terus terbenam dalam kedamaian selama beberapa saat. Namun 'relaksasi'nya tetiba terusik tatkala rungunya samar-samar menangkap sebuah gumaman pelan yang—err…seperti menyuarakan namanya, eh?
Draco kembali mempertajam indera dengarnya, dan suara itu kembali terulang. Ah, ini bukan mimpi. Jelas bukan.
"Dra…co….Draaa—coo…"
Janggut Merlin! Itu Hermione! Maka dengan kecepatan bak komet melintasi angkasa, Draco bangun terburu-buru. Berjalan tergopoh-gopoh ke arah sumber suara. Samudera peraknya berbinar penuh harap, bahagia, dan lega berbaur menjadi satu.
"Hermione dear, kau sudah sadar?" Sekali lagi, pemuda Malfoy itu mengerjap tak percaya. Jemari pucatnya menggenggam jemari-jemari mungil milik Hermione yang kini terlihat hampir sama pucatnya dengan jemari miliknya sendiri. Sementara tangan satunya lagi ia gunakan untuk mengelus pucuk surai cokelat Hermione, membelainya penuh dengan dominasi afeksi yang mendalam.
Sebuah kecupan kecil mendarat di kening Hermione. Gadis Gryffindor itu tersenyum lemah.
"Draco, aku … aku mau keluar dari sini." Ia menatap Draco dengan pandangan memelas.
"Tapi kau belum sembuh total, love…"
"I'm okay, Draco. Aku luar biasa," Hermione kembali berujar, mencoba meyakinkan.
"Ta—"
Perkataan Draco terputus begitu saja tepat di saat decitan kecil pintu yang dibuka menyentak punggungnya. Lekas-lekas ia berbalik dan seketika mendapati sesosok pria bertubuh gempal—sosok yang sama dengan yang dilihatnya kemarin.
Ah, itu memang dokter yang kemarin.
"Keadaan Mrs. Malfoy sudah mengalami banyak kemajuan. Pendarahan yang dialaminya sudah bisa dikatakan pulih." Hermione hendak menginterupsi ucapan sang dokter tepat di saat dokter itu memanggilnya dengan sebutan 'Mrs. Malfoy', namun Draco segera meremas jemarinya pertanda agar gadis itu tak perlu berkomentar apapun.
"Anda sudah bisa pulang," tambah dokter itu kembali memamerkan senyumnya.
"Benarkah?" Draco berani bersumpah bahwa ia melihat binar bahagia yang terlampau kentara di balik manik hazel Hermione kala itu. Sang dokter hanya mengangguk mengiyakan.
"Draco, kau dengar itu? Aku sudah bisa keluar dari sini!" Seiring dengan perkataan gadis itu, ia lantas bangun dari posisi berbaringnya. Sementara itu sang Malfoy junior bingung harus berkata apa. Di sisi lain ia sangat senang mendapati fakta bahwa Hermione sudah pulih dan itu artinya ia tak perlu mengkhawatirkan kesehatan gadis itu lagi. Namun di sisi lain … Jujur, sebenarnya ia sangat bingung. Jika mereka meninggalkan rumah sakit ini sekarang, lantas mereka berdua akan tinggal di mana? Tentu sangat tidak mungkin apabila mereka harus kembali ke dunia sihir sekarang. Itu sangat tidak lucu.
Setelah tenggelam dalam pikirannya sendiri, akhirnya pemuda Slytherin itu menyahut dengan nada yang terkesan cukup enggan, "Err, baiklah. Aku akan kembali setelah mengurus semua administrasinya," pamit Draco sebelum kaki panjangnya membawanya hingga ke luar ruangan.
.
.
-OoOoO-
.
.
"Anda harus banyak beristirahat dan rutin meminum obatnya agar Anda bisa cepat pulih seutuhnya," papar sang dokter yang diketahui bernama Anthony, seorang berkebangsaan Perancis.
Hermione hanya hanyut dalam rengkuhan senyum ramahnya menanggapi perkataan sang dokter.
"Terima kasih, dok." Draco ikut tersenyum setelah sebelumnya ia menjabat tangan dokter Anthony. Sang dokter mengangguk hangat sebelum berlalu dari kilas atensi kedua alumni Hogwarts itu.
"Draco …" Hermione mendongak dan seketika bertemu pandang dengan cercah permata abu-abu mantan partner ketua muridnya, Draco. Pemuda itu hanya mengangkat sebelah alisnya, menuggu kelanjutan kalimat Hermione.
"Jadi ….." Jeda sejenak, "kita akan ke mana?"
DEG!
Draco merasa pangling sendiri, bagaimana tidak? Sejujurnya ia belum terpikir sama sekali tentang akan ke mana mereka selepas keluar dari rumah sakit muggle ini. Yang ia tahu bahwa ia hanya perlu pergi dari dunia sihir untuk sementara waktu. Setidaknya sampai kedua orang tuanya membatalkan perjodohan berujung pernikahannya dengan si bungsu Greengrass, Astoria Greengrass.
"Aku…aku belum tahu, love." Hermione terdiam, wajahnya terlihat berpikir.
"Kau masih punya uang?"
"Setidaknya masih ada sisa dari pembayaran rumah sakit tadi. Untunglah aku sempat mengambil beberapa galleon dan menukarnya di Gringotts sebelum acara laknat itu."
"Jadi?"
"Menginap di pemukiman muggle?" Draco berkata tak yakin, namun rasa ragunya segera tertepiskan dengan polesan senyum yang tergurat manis menghiasi wajah Hermione.
"Ide bagus, tak ada salahnya."
.
.
-OoOoO-
.
.
"Hermione, maafkan aku. Aku tak bisa menyewakan tempat tinggal yang besar untukmu." Terselip nada penyesalan di balik perkataan sang Malfoy junior itu.
"Tak apa, Draco. Bagiku ini sudah cukup. Lagi pula pemandangan di sekitar sini bisa menyegarkan pikiranku." Manik karamel sang gadis menatap berkeliling, menyelisik keadaan sekitarnya. Mengamati hamparan pegunungan yang tersaji apik memanjakan sorot visualnya. Ia menarik napas dalam-dalam lantas menghembuskannya perlahan, penuh dengan perasaan lega dengan selipan rasa bahagia yang teramat kentara. Mau tak mau Draco akhirnya ikut tersenyum.
"Well, itu salah satu nilai plus-nya. Setidaknya tempat ini cukup jauh dari sentuhan langsung para muggle. Ah, aku tak percaya ada muggle yang menyewakan rumah di tempat seperti ini." Hermione tertawa lepas mendengar perkataan Draco. Nampaknya keadaan gadis itu telah benar-benar pulih sekarang.
"Hahaha, Draco … Kukira kau sudah tak membenci muggle. Lalu, bagaimana denganku? Aku hanya seorang Muggleborn—"
"Stop it, love … Stop. Sudah berapa kali kukatakan bahwa kau tak boleh mengungkit-ungkit hal itu lagi, hm?" Telunjuk Draco masih menempel di atas bibir ranum Hermione. Permata argent-nya mengunci pandangan sang gadis. Ia terlihat sangat serius hingga entah mengapa justru membuat Hermione merasa sesak dan seolah-olah perutnya dililit tiga Nagini sekaligus.
"Draco?"
"_"
"Draco?"
"_"
"Oh, Draco, berhentilah … Kumohon!" Hah, benar saja, rupanya gadis itu tak begitu nyaman akan sifat serius Draco yang datang tiba-tiba ini. Namun diam-diam gadis itu merasa bersyukur tepat dilihatnya sang kekasih hati yang tampak akan membuka mulutnya untuk mengucap sepatah kata entah apa. Well, bagi Hermione apa saja tak masalah, asal pemuda itu berbicara padanya. Ya, apapun. Setidaknya itu sedikit mengendurkan rasa aneh yang serasa bergumul di lambungnya.
"Aku tak lagi membenci muggle, Hermione. Kau mau tahu mengapa aku cukup senang tempat ini tak begitu terjamah muggle, eh?" Gadis Granger itu hanya mengedip bingung seraya menganga bodoh tanpa sadar. Lalu kemudian …
Draco menjawil hidung mungil berbintik milik Hermione dan berujar pongah setelahnya.
"Alasannya adalah …" Gadis Singa itu masih setia menunggu lanjutan kalimat sang mantan rivalnya sedari dulu. Percayalah, dibuat penasaran itu rasanya sungguh tak enak.
"KARENA AKU TAK INGIN DIGANGGU SIAPAPUN DI SAAT KITA SEDANG—"
Firasat Hermione berubah tak enak, kedua alis cokelatnya saling bertaut—merasa telah menangkap ke arah mana perkataan Draco akan berlabuh.
"…..SEDANG MEMBUAT MALFOY JUNIOOOORRRbbb—" Suara Draco menghilang secara tiba-tiba tepat ketika sebuah tangan mungil menghalangi jalannya pita suaranya menembus atmosfer—tidak, tidak, maksudku tepat di saat tangan mungil Hermione membekap mulutnya.
"Hewpmiowpne! Lewpasdkwan!"
"Dasar Musang mesum!" Teriak Hermione di depan wajah Draco, ia melepas bekapannya lantas segera berlari menjauh dari pemuda jangkung bersurai platina itu.
"Hahahahaha….tangkap aku kalau kau bisa, Musang!" Tawa Hermione pecah seiring dengan langkah kakinya yang berlari menjauh dari pandangan Draco. Pemuda itu tersenyum sebentar sebelum ikut berlari mengejar Hermione.
"Oh, baiklah. Rupanya kau ingin bermain-main, eh?" Seringai tampan membelah wajah maskulinnya. "Akan kudapatkan kau, Singa kecil!" Hermione masih tertawa-tawa, sama halnya dengan Draco. Entahlah, hanya saja rasanya bagai lepas dari Azkaban. Well, meskipun mereka belum pernah merasakan dinginnya hawa suram Azkaban, akan tetapi, yah, setidaknya analoginya seperti itu. Mereka merasa bahwa baru kali ini mereka merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, terlebih bagi Draco. Ia seperti baru mendapatkan seluruh kebahagiaan yang selama ini belum pernah dikecapnya sama sekali selama berada di bawah tekanan sang Pangeran Kegelapan.
Pendeknya, yah, mereka bahagia. Sama sekali tak ada kata penyesalan atas apa yang telah mereka perbuat. Bagi mereka, memang beginilah jalan mereka yang seharusnya.
.
.
.
"Hermione …" Draco masih berusaha mengatur ekshalasinya setelah beberapa saat lamanya terlibat saling kejar-mengejar dengan Hermione.
"Hmm?"
"Apa kau tak merasa menyesal?" Hermione yang mendengar perkataan Draco tersebut segera menoleh ke arah sang pemuda yang kini tengah berbaring di hamparan padang rumput persis di sebelahnya. Well, inilah salah satu kelebihan yang disebutkan Draco tadi. Selain udaranya sejuk dan cukup jauh dari jangkauan para muggle, pemandangan dan beberapa wilayah di sekitarnya memang nyaman—terlebih untuk bersantai atau sekadar relaksasi.
"Karena apa?" Gadis Gryffindor itu balik bertanya.
"Yah, karena kabur bersamaku." Pandangan Draco menerawang jauh ke langit senja yang mulai tampak terbakar oleh lembayung jingga. Kedua tangannya ia lipat di belakang kepala.
Hermione tertawa. "Haha … Kau bicara apa, Draco? Tentu saja tidak, aku tidak menyesal," ujar gadis itu melukis senyum. "Aku senang, jujur saja."
Draco reflek menoleh ke arah sang gadis, menatap Hermione dalam-dalam tepat di permata hazelnya.
"Senang?" Mantan seeker Slytherin itu bertanya heran, namun tak dimungkiri wajahnya terlihat aneh—berkedut-kedut seakan-akan berusaha menyembunyikan senyum yang nyaris meletup-letup ke permukaan. "Kau serius, love?" tambahnya lagi. Hermione hanya mengangguk sebagai jawaban. Dan tak perlu waktu lama bagi gadis itu untuk segera berada dalam kungkungan rasa hangat afeksi Draco. Tubuh mungilnya nampak berbaur dalam lingkaran lengan kokoh si rambut platina.
Ia dapat merasa dirinya meleleh di saat Draco mencium keningnya dengan waktu yang terlampau cukup lama. Well, meskipun ini bukan kali pertamanya Draco mencium Hermione tepat di kening, namun entahlah. Ciumannya kali ini rasanya … err, berbeda.
Draco melepas kecupannya dan kembali beralih menatap bola karamel bening gadis di pelukannya.
"Hermione, dear … Aku ingin berbicara sesuatu padamu."
"Katakan saja, love," tukas Hermione tersenyum.
"Aku serius."
"Kaupikir aku tidak serius?"
"Well, okay." Draco mulai memperbaiki posisinya, ia menuntun Hermione agar segera bangun dari belaian padang rumput yang memanjakan itu. Diam-diam ia bersyukur karena rerumputan di sini ukurannya tidaklah tinggi-tinggi, err, mungkin lebih mirip dengan rerumputan di Teletubbies? O ayolah, serial tv anak-anak muggle.
Tanpa disangka-sangka Draco segera berlutut di hadapan Hermione, membuat gadis itu berjengit dan membulatkan manik cokelatnya.
"Dra…co. Apa yang ka—"
"Usst…" Malfoy muda itu mengisyaratkan Hermione agar diam sejenak. Dengan berat hati maka gadis hazel itu pun menelan bulat-bulat kata-kata yang hendak diucapkannya barusan. Jujur, melihat Draco yang seperti ini membuatnya sedikit takut. Pemuda itu tampak begitu serius. Memang, apa yang ingin dikatakannya? Hermione merasa sangat penasaran, penasaran setengah hidup.
Perlahan namun pasti, jemari pucat Draco bergerak menggenggam jemari mungil Hermione dan menciumnya penuh dengan kasih sayang. Mata kelabunya terbenam dalam kelopaknya yang terpejam. Hermione seketika merasakan darahnya berdesir dan jantungnya berdenyar aneh.
Draco membuka kelopaknya perlahan, menampilkan sepasang sorot kelabu yang berpendar penuh kharisma. Menghipnotis gadis Granger yang kini membatu bak baru saja dirapalkan mantra Petrificus Totalus.
"Hermione Jean Granger, will you marry me?"
DEG!
Draco mengeluarkan sebuah cincin mewah berwarna perak dengan ukiran huruf 'M' yang nampak rumit sekali. Sebuah cincin turun-temurun keluarga Malfoy yang sengaja diberikan oleh Narcissa untuk memilih pilihan hati Draco, putra kesayangannya.
Kali ini Hermione benar-benar merasa bahwa jantungnya jatuh ke perut, entah bagaimana logikanya. Yang jelas seperti itulah kira-kira gejolak hebat yang kini tengah dirasakan oleh gadis berambut cokelat ikal itu.
Alih-alih menjawab, Hermione justru membiarkan kristal beningnya menghujam bumi. Ia merasa terharu, sangat bahagia.
3 detik …
5 detik …
7 detik …
9 detik …
"Yes, I will …" Hermione berucap tertahan.
HAP!
Tubuh mungil gadis itu kini kembali terbenam dalam pelukan hangat sang Malfoy muda. Erat, nyaman, dan penuh afeksi.
Sekali lagi, mereka bahagia.
.
.
-OoOoO-
.
.
"Aku tak menyangka hari ini akan tiba, Draco," Hermione berujar tak percaya. Kini gadis—ah, maksudku wanita cantik itu tengah duduk di depan kaca rias di dalam sebuah kamar yang ukurannya memang tak seberapa luas, namun tentu saja masih layak untuk ditinggali.
"Aku akan berkata sama dengan apa yang kau ucapkan, love," setuju Draco. Pemuda berambut platina itu menarik ritsleting gaun pengantin sang istri, Hermione Jean Malfoy. Lalu guliran kelereng abunya menitis fokus ke dalam sebuah cermin yang menampilkan siluet keduanya. Dipegangnya pundak Hermione seraya tersenyum tulus.
"Ucapan terima kasih kurasa tak akan pernah cukup untuk membayar semua jasa baik ibumu pada kita berdua, Draco. Dimulai dari cincin hingga gaun pengantin ini." Hermione menatap pantulan bayangannya di cermin, memperhatikan dengan saksama gaun indah pemberian Narcissa Malfoy yang belum terlepas seutuhnya dari tubuhnya.
"Mum rela melakukan apa saja demi kebahagiaanku, Mione." Draco menuntun Hermione agar berdiri. Kedua permata kelabunya menghujam sang karamel, menatap sang istri dengan penuh cinta—berbaur gairah. Ia mengusap pipi Hermione lembut sebelum menangkup wajah cantik itu dengan kedua tangan pucatnya.
"Aku mencintaimu, Hermione Jean … Malfoy," bisik pemuda pecinta apel hijau itu sensual. Seketika Hermione merasa bulu kuduknya meremang, bukan lantaran merasa takut ataupun sejenisnya, melainkan hanya karena merasa begitu terhipnotis akan tingkah laku Draco yang seperti ini.
Perlahan tapi pasti, kini pemuda itu mendekatkan wajahnya ke wajah Hermione. Mengecup bibir ranum yang masih terpoles sedikit lipgloss itu lembut. Kedua bola mata peraknya terbenam dalam aliran kedamaian yang menjalari sekujur tubuhnya. Hermione pun mulai ikut terbawa suasana, kedua lengan mungilnya ia kalungkan di leher sang suami, Draco Malfoy, yang masih melumat bibirnya penuh damba dan gairah.
"I love you more, my lovely bouncing ferret …" Hermione bergumam di sela-sela ciumannya. Sedetik berikutnya ia tak lagi merasakan kakinya memijaki bumi, melainkan seolah melayang dalam kuaran aroma mint yang dengan segera menyesaki indra penciumannya.
"Welcome, Malfoy junior." Draco menyeringai kecil sebelum kembali melanjutkan 'aktivitas'nya.
.
.
-OoOoO-
.
.
BRAAAKKKK!
Suara gebrakan meja terdengar riuh memenuhi sebuah ruangan dengan beberapa orang di dalamnya.
"Aku tak bisa menerima ini, Lucius! Kejadian ini tak ubahnya sebuah penghinaan besar yang disodorkan di depan wajahku! Bagaimana bisa putra idiotmu itu kabur dengan wanita lain di hari pertunangannya dengan putri bungsuku, Astoria?!"
"Maafkan aku, tapi ini benar—" Lucius Malfoy mencoba menenangkan Mr. Greengrass yang sayangnya detik itu juga ditepis keras oleh penanam saham terbesar di Mafoy Corporation itu.
"Aku tak peduli! Pokoknya jika dalam kurun waktu seminggu anakmu itu belum ditemukan," jeda sejenak, Mr. Greengrass menggeram berbahaya lantas kemudian kembali melanjutkan perkataannya, "Aku tak segan-segan akan membatalkan semua ikatan kerja sama kita," cibirnya dengan tatapan mencemooh. "Well, tentu ingatanmu tidak terlalu buruk untuk mengingat semua jasa-jasa keluargaku selama ini dalam mendongkrak kembali kariermu yang nyaris di ambang kehancuran, 'kan?" Pria paruh baya itu tertawa sarkastik sebelum kibaran jubahnya mengilang di balik perapian, meninggalkan Lucius Malfoy dengan petaan wajah datar yang kaku nan dingin.
Narcissa dengan sigap beringsut maju ke arah Lucius, mengelus pundak pria tersebut penuh perhatian, menyiratkan dukungan penuhnya terhadap sang suami yang kini tengah krisis pikiran jernih itu.
"Pikirkan yang terbaik, Lucius. Kebahagiaan Draco jauh lebih berharga."
.
.
-OoOoO-
.
.
"Kau yakin, Draco?" Hermione bertanya ragu sambil terus menaruh fokus pada dasi sang suami yang belum terpasang benar. Jemari mungilnya dengan lincah membuat simpulan dasi itu rapi seketika.
"Untuk hidup kita yang baru," jawab Draco tersenyum.
"Tapi apa mereka akan menerimamu bekerja dengan ijazah-ijazah muggle palsu yang kaubuat?"
"Tentu saja, aku akan pastikan itu, love. Apa, sih, yang tak bisa dilakukan seorang Malfoy?" Senyumannya kini berbaur dengan seringai tampannya.
"Tapi itu tidak legal." Hermione menggigit bibir bawahnya, membuat Draco gemas untuk segera menciumi bibir ranum tersebut.
"Hidup ini keras, love. Terkadang kita memang harus sedikit melenceng dari yang seharusnya." Kini Hermione Granger tak lagi berkomentar. Lagi pula perkataan Draco ada benarnya juga.
"Kalau begitu aku pergi dulu, jaga dirimu." Draco melayangkan kecupan singkat di bibir dan di kening Hermione, lantas berlalu pergi meninggalkan rumah kecil bahagia mereka.
"Err, Draco …" panggil Hermione.
"Kau tak ber-apparate?" Wanita bermata hazel itu mengerutkan keningnya bingung tatkala dilihatnya Draco yang hendak pergi melewati pintu depan.
"Hanya mencari suasana baru, kupikir tak ada salahnya menggunakan angkutan muggle," jelas Draco tersenyum, Hermione tak mengucap sepatah kata pun. Sungguh, ia tak menyangka perkataan itu akan keluar langsung dari bibir Draco Malfoy sendiri yang notabene merupakan seorang Darah Murni yang bahkan sampai detik ini belum bisa sepenuhnya berbaur dengan para muggle. Tapi lihat, barusan ia mengatakannya, 'kan? Why in Voldemort's name!
"Tak ada salanya mulai menyesuaikan diri dengan muggle," tambahnya kemudian, membuat Hermione kembali takjub akan hal sederhana namun berjuta makna yang diucapkan sang suami tercintanya itu.
Tak urung wanita ikal itu akhirnya tersenyum senang akan pernyataan Draco. Bagaimanapun ini adalah awal dari kebahagiaan kecil mereka.
Ya, ia yakin itu.
.
.
-OoOoO-
.
.
Hermione tengah sibuk menyiapkan makan malam sederhana menjelang kepulangan Draco petang itu. Hanya bermodalkan pasta biasa yang dibuatnya dengan sepenuh hati beserta jus apel yang sengaja ia buat sebagai pelengkap untuk Draco—mengingat pemuda itu sangat menyukai buah apel.
Well, bagaimanapun ia harus pintar-pintar mengatur keuangan Draco yang memang tak seberapa—itu pun masih sisa dari pemberian Narcissa sebenarnya. Setidaknya sampai bulan depan jika pemuda Malfoy itu sudah mendapatkan gaji pertamanya bekerja. Yah, benar-benar bekerja atas keringatnya sendiri. Hermione tersenyum tipis mengingat fakta terakhir.
Tepat di saat ia akan menata dua buah piring untuk Draco dan untuknya sendiri, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu depannya. Wanita itu tampak berpikir sebentar sebelum kaki mungilnya bergerak lincah meninggalkan ruang dapur dan beralih ke ruang depan setelah sebelumnya mengelap tangannya yang masih meninggalkan aroma masakan.
Ia sangat senang mendapati sang suami tercinta rupanya pulang lebih awal dari yang ia perkirakan. Lagi pula hidangan masakannya sudah siap. Ah, entah mengapa ia tiba-tiba merasa seolah perutnya dililit Nagini. Well, mungkin ini memang kebiasaan aneh setiap wanita yang baru saja akan menemukan dirinya dinilai oleh sang suami atas masakan perdana mereka, pikir Hermione mencoba menghalau rasa deg-degannya. Bagaimanapun ia sudah berusaha untuk memasak sesuatu untuk Draco dan ia harap itu tak cukup mengecewakan. Ya, semoga.
Dengan langkah riang, wanita itu kini sudah berada tepat di belakang kenop pintu, siap untuk membukakan pintu untuk sang suami tercinta. Well, mungkin dengan sedikit kecupan sambutan bisa membuat Draco cukup senang. Sekali lagi ia mencoba merapikan rambut cokelatnya yang kini memang nampak sedikit berantakan. Ia mulai mengatur senyumannya dan mulai memutar kenop pintu hati-hati disertai dengan debaran jantung yang tak wajar.
'Come on, Hermione. Ini hanya Draco. Ok, tenangkan dirimu', sugesti Hermione pada dirinya sendiri.
Ceklek …
"_"
"_"
"_"
"Oh, hi, Granger. Senang bertemu kembali." Sosok di hadapannya memasang senyum angkuh yang benar-benar mampu mengikat seluruh oksigen yang bergerak bebas di sekitar Hermione, membuatnya sulit bernapas dan mengumpulkan kesadarannya. Bahkan kini ia tak lagi peduli dengan sarung tangan memasak yang masih menempeli salah satu tangannya.
"Ap…Apa yang kau lakukan di sini?"
"Well, hanya berkunjung." Sosok itu kembali memasang senyum yang dibuat-buat. Hermione mencelos, jantungnya serasa jatuh ke perut. Ia yakin ada maksud terselubung dari perkataan sosok itu barusan.
'Siapa pun tolong sadarkan aku dari mimpi buruk ini,' batin Hermione merana.
.
.
.
To Be Continue
.
.
Today, Sunday-30 MARCH 2014
(Flashback : Saturday-30 MARCH 2013 "My Blood is Ferret" was published the first chapter)
Yeay! 1st anniversary~ of MBiF *rise our wand xD, periculum!
Hello, dears! :) Im here …
Oh, seriously … Err, I dont know what to say. But I know that's too late to update and Im sorry for it. U may believe it or not, but Im very-very busy lately. And I've many important activities ryt now, so yeah, I have no chance for update my stories … But, I promise u, the all of my stories will not discontinue :) trust me! I'll do my best for u ^^
Ah, yeah, thank u so much for ur reviews, supports, favs, and follows in this fict until now, Im so glad! ^_^ But, Im so sorry because maybe this chapter isn't good enough as u wish. Maybe so many typos and another fault. Once again I should tos say sorry, honestly I haven't to check it hehe … no time for edit this chap *don't kill me, Im serious.
Please leave me ur review … It'll becomes a moodbooster for me :) And please pray for me, wish me luck and the all of my activities will be success! Aamiin …
.
.
With loves,
MissLoony
.
.
P.S.S. : Maaf banget ya soal chapter ini. Udah berbulan-bulan saya gak nulis dan akhirnya nulis kembali di sela-sela kesibukan saya demi memperingati setahun berjalannya My Blood is Ferret ini. Jadi mungkin agak kaku dan ngebosenin, maaf ya hehe…
P.S. : I'll back soon with some new stories, maybe :') Bye! Love u all!
