Disclaimer :

Harry Potter © J.K. Rowling

My Blood is Ferret © Ms. Loony Lovegood

(Tak ada keuntungan material apapun yg saya dapatkan dengan menulis fict ini, semata-mata hanya karena kesenangan dan kecintaan saya terhadap serial menakjubkan 'Harry Potter' beserta para tokoh-tokoh istimewanya!)

.

Rated : T

Romance, Hurt/Comfort

Warning!

Saya sudah berusaha untuk tidak typo

(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf)

.

*Happy Reading, Guysss... But,don't like? don't read! RnR please*

.

.

Dengan langkah riang, wanita itu kini sudah berada tepat di belakang kenop pintu, siap untuk membukakan pintu untuk sang suami tercinta. Well, mungkin dengan sedikit kecupan sambutan bisa membuat Draco cukup senang. Sekali lagi ia mencoba merapikan rambut cokelatnya yang kini memang nampak sedikit berantakan. Ia mulai mengatur senyumannya dan mulai memutar kenop pintu hati-hati disertai dengan debaran jantung yang tak wajar.

'Come on, Hermione. Ini hanya Draco. Ok, tenangkan dirimu', sugesti Hermione pada dirinya sendiri.

Ceklek …

"_"

"_"

"_"

"Oh, hi, Granger. Senang bertemu kembali." Sosok di hadapannya memasang senyum angkuh yang benar-benar mampu mengikat seluruh oksigen yang bergerak bebas di sekitar Hermione, membuatnya sulit bernapas dan mengumpulkan kesadarannya. Bahkan kini ia tak lagi peduli dengan sarung tangan memasak yang masih menempeli salah satu tangannya.

"Ap…Apa yang kau lakukan di sini?"

"Well, hanya berkunjung." Sosok itu kembali memasang senyum yang dibuat-buat. Hermione mencelos, jantungnya serasa jatuh ke perut. Ia yakin ada maksud terselubung dari perkataan sosok itu barusan.

'Siapa pun tolong sadarkan aku dari mimpi buruk ini,' batin Hermione merana.

.

.

My Blood is Ferret

.

.

Chapter 25 : Semian Cinta di Awal Petaka

.

.

.

"Jadi?"

Hermione mengerjapkan matanya, bingung. Ia masih belum mengerti dengan apa yang tengah atau setidaknya hendak dibicarakan sesosok gadis aristokrat bersurai cokelat gelap di hadapannya ini.

"Ngomong-ngomong, apa kau merasa sopan membiarkan tamu sepertiku berdiri bodoh di depan pintu seperti ini?" Wanita bermarga Granger—yang sekarang bernama belakang Malfoy itu masih cukup syok dengan apa yang tengah terjadi sekarang. Bahkan di saat dirinya belum berbicara sepatah katapun, sesosok wanita bersurai sepunggung itu sudah masuk ke dalam rumahnya tanpa menunggu izin darinya, yang notabene merupakan pemilik dari rumah tersebut.

"Well, tak cukup buruk rupanya." Gadis itu mengedarkan indra visualnya menyelisik seisi ruangan yang dapat dijangkaunya. Kedua tangannya tersilang rapat di depan dada, benar-benar terlihat angkuh dan menyebalkan. Manik kelamnya kemudian berhenti di salah satu sudut ruangan, tempat di mana sebuah pigura berukuran cukup besar terlihat menghiasi sisi dinding yang berwarna kastanye muda.

"Wah, wah ... Aku tak dapat undangan, eh?" lanjutnya lagi pura-pura terkejut dengan kedua bola mata yang sengaja dibulatkan seiya dengan gerakan alisnya yang terlipir entah bagaimana—bak mendengar sedam meriam, namun tak lama setelahnya bibir berpoles gincu merah pucat itu berkedut menyungging seringai arogan. Hermione tak dapat berbuat banyak, satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah memandangi sosok gadis di hadapannya dengan degup jantung bertalu-talu, seolah-olah hendak menembus keluar tubuhnya. Bahkan ia tak ingat hal ini ada dalam mimpi buruknya semalam.

"KAU! MUDBLOOD JALANG!" Penglihatan Hermione menjadi buram seketika, bahkan ada kalanya di detik seperti ini ia justru teringat pada Luna Lovegood—sahabat anehnya—mengenai serangan Wrackspurts yang akan membuat orang menjadi linglung. Tetapi ia berani bertaruh, ini sama sekali bukan lantaran Wrackspurts atau makhluk-makhluk lainnya yang sering digumamkan dalam wajah bermimpi seorang Luna Lovegood. Ini jelas lebih sekadar ...

"Greengrass, lepaskan!" Hermione terperangah, terengah-engah untuk mencuri napas di sela-sela paru-parunya yang serasa kosong. Oksigen benar-benar menjauhinya. Rasanya tak jauh beda ketika dikecup tiga Dementor sekaligus.

"Le—lepaskan! Uhuk ... uhuk!" Wanita cantik bersurai cokelat ikal itu mulai terbatuk seiring dengan menipisnya oksigen yang seharusnya berhamburan masuk lewat saluran pernapasannya. Namun kasusnya berbeda ketika lehermu tengah dicekik sadis oleh seseorang seperti ini. Bahkan Astoria Greengrass tak mau repot-repot untuk sekadar melonggarkan cengkeramannya tersebut. Yah, dan Hermione sama sekali tak mengekspektasikan hal ini sebelumnya, sampai si bungsu Greengrass itu tetiba berjalan ke arahnya dan langsung mencekik lehernya tanpa ampun.

"KAU TELAH MEREBUT DRACO-KU, DARAH LUMPUR SIALAN!" Astoria berteriak tepat di depan wajah Hermione yang kini dialiri keringat sebesar biji-biji jagung. Air mata mulai merembes turun membasahi pipi mulus Hermione. Rasanya bagai sudah di ujung kehidupan, di mana kau tak mampu lagi berbuat apa-apa selain bersikap pasrah akan nasib baik serta keajaiban yang mungkin akan Merlin kirimkan padamu.

"KAU TELAH MERUSAK SEGALANYA, GRANGER! KAU TELAH MEMBUNUHKU DARI DALAM! TAK TAHUKAH KAU BETAPA SAKITNYA AKU, HAH?!" Tanpa disangka, gadis Slytherin itu akhirnya melepaskan cengkeramannya di leher Hermione. Sebuah tanda kemerahan jelas berbekas di sana, bahkan beberapa goresan halus masih jelas memamerkan betapa tajamnya kuku sang gadis brunette itu tenggelam dalam kenjenjangan leher putih mulus Hermione.

Dan selanjutnya hal yang sama sekali berada jauh dari perkiraan Hermione ketika gadis Greengrass itu berbalik memunggunginya dengan pundak bergetar khas orang menangis. Isakan raungan kepedihan jelas berasal dari pita suara gadis itu.

"Rasanya lebih sakit dari apa yang baru saja kau rasakan," kata gadis itu dengan suara bergetar. "Aku sudah mati, Granger ... Aku sudah mati," lanjutnya kemudian masih dalam isakan pilu. Mau tak mau, Hermione sedikit meluluh dibuatnya. Bagaimanapun, ia adalah seorang wanita, sama seperti Astoria. Ia tahu bagaimana rasanya ketika seseorang yang kaucintai tak mampu kau raih, justru malah semakin jauh dalam jangkauanmu. Seperti halnya yang sempat ia rasakan ketika ia masih benar-benar mencintai seorang Ronald Billius Weasley—dulu.

Kilasan masa lalu itu tiba-tiba saja berhenti berdesing dalam kepalanya tatkala dengan gerakan tak disangka-sangka—lagi, Astoria Greengrass berbalik menatapnya dengan tatapan yang Hermione sendiri pun sulit untuk mendefinisikannya.

Gadis Ular itu baru saja akan mengeluarkan suaranya kembali—dilihat dari gerak bibirnya yang seolah hendak mengucap sesuatu—tepat di saat langkah sepatu masuk memenuhi ruangan. Kedua penyihir berjenis kelamin perempuan itu segera menoleh bersamaan untuk melihat siapa gerangan yang telah menginterupsi suasana mencekam di antara mereka.

"As?" Kemudian manik kelabu pemuda itu terarah ke sosok di hadapan sang gadis Greengrass. "Hermione?" Jika tadi suaranya didominasi perasaan terkejut ketika melihat Astoria, kini suaranya justru berubah panik serta bingung dengan alis menyirit melihat sang istri yang terpojok di salah satu dinding.

Ia segera menyimpan tas kerjanya dan bergerak cepat ke arah sang istri tercinta dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya.

"Hermione, dear?" Ia menangkup wajah cantik Hermione, mengangkat wajah wanita itu perlahan agar kilat kelabunya dapat melihat kilau hazel kesedihan yang tengah terlukis di dalam hazel sang istri. "Apa yang terjadi? Kau tak apa-apa? Kenapa dia bisa ada di sini? Apakah di—" Serbuan pertanyaan Draco terhenti tatkala visualnya bergulir dan berakhir di leher jenjang Hermione. Ia mengangkat alisnya tinggi-tinggi sebelum menyentuh leher Hermione yang terlihat kemerahan karena beberapa goresan kecil.

"Lehermu ..." Ia berbisik sementara samudera peraknya masih tak mau lepas dari leher sang istri. "Ada apa denganmu, Hermione?!" Kini pemuda platina itu benar-benar panik dan cemas, kedua tangan kokoh yang sedari tadi menangkup wajah cantik Hermione, kini berpaling memegangi kedua bahu Hermione dengan kuat—sesekali mengguncangnya perlahan ketika Hermione mencoba menghindari tatapan tajamnya. Ia berbalik ke belakang dengan raut wajah yang bahkan Hermione sendiri pun belum pernah melihatnya—ralat, maksudku baru sekali ini ia melihatnya.

"KAU?! APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAP ISTRIKU?!" Draco benar-benar kehilangan kesabaran, satu-satunya obyek yang bisa dicurigainya saat ini adalah seorang gadis lainnya dalam ruangan itu, Astoria Greengrass. Adik kelas dua tingkat di bawahnya, di Slytherin. Gadis manis yang ia kira tak akan tega berbuat hal semacam ini. Tapi sekali lagi, jangan pernah menilai seseorang dari tampak luarnya.

Astoria hanya bisa menunduk memandangi jemari kakinya yang nampak pucat dalam bungkusan high heels berwarna hijau temaramnya.

"JAWAB AKU! APA YANG KAU LAKUKAN, GREENGRASS?!" Mendengar nama belakangnya disebut, akhirnya gadis itu berani mendongakkan kepalanya dan menatap langsung ke arah manik kelabu yang sepertinya kini tengah bercampur lautan api emosi. Draco hanya akan memanggil nama belakangnya ketika ia benar-benar sedang marah kepada gadis itu. Dan itu artinya ia benar-benar marah sekarang, oh atau mungkin kata 'murka' kebih tepat untuk menggambarkan semuanya. Ini kali keduanya Draco berteriak di depan wajahnya—tentu yang kali pertama karena insiden di Danau Hitam, kalau kalian masih ingat.

"Drake! Kau membentakku?!" Gadis itu menyalak balik dengan manik cokelat gelapnya yang tampak semakin berkaca-kaca.

"Ya, aku membentakmu! Kenapa?! Kau keberatan?" Urat-urat di sekitaran pelipis Draco mulai menonjol keluar, seiring dengan tonjolan urat-urat di sekitar lehernya ketika pemuda jangkung itu kembali mengeluarkan volume suara yang naik beberapa oktaf dari sebelumnya.

"Kau jahat, Drake!" Astoria terisak, visualnya terasa buram dengan sesakan air mata di pelupuknya.

"Oh, YES I AM." Draco menyeringai tipis lantas mengeluarkan gelak tawa menghina dari pangkal tenggorokannya yang—jujur saja—kini terasa mulai kering lantaran terlalu banyak berteriak.

"AKU TIDAK AKAN JAHAT PADAMU, KALAU KAU TAK BERLAKU DEMIKIAN KEPADA ORANG YANG AKU CINTAI!" Pemuda itu maju selangkah, mengangkat wajah Astoria untuk berhadapan langsung dengan permata kelabu miliknya.

"LIHAT! TATAP AKU, GREENGRASS!" Astoria semakin terisak diperlakukan seperti itu terhadap Draco. Andai saja keadaannya tak seperti ini, tentu saja ini bisa menjadi salah satu momen-momen romantisnya bersama Draco. Tapi sayangnya permasalahannya berbeda. Pemuda di hadapannya kini tentu saja sangat jauh dari penggambaran romansa yang ada dalam benaknya. Ini sama saja Draco mencoba membunuhnya lewat tatapan menusuknya. Yah, setidaknya tatapan tersebut sudah bisa dipastikan tepat menghujam Astoria di dada, meninggalkan lubang menganga di palung hatinya.

"Lihat ..." Suara Draco terdengar mengecil dari sebelumnya, sementara Astoria tampak mengkeret ketakutan di bawah pandangannya. Hermione yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia pun tak bisa berbuat banyak selain melanjutkan aktivitasnya. Di lain sisi ia tak tega melihat Astoria dipojokkan seperti itu, tapi di sisi lain ia merasa bahwa tak ada gunanya mencegah Draco yang sedang kesetanan seperti ini. Lagi pula ia yakin, Draco melakukan ini untuknya. Semata-mata hanya untuknya. Yah, agar gadis bungsu Greengrass itu berhenti mengejar dan mencoba merusak rumah tangganya dan Draco.

"Lihat ..." Draco kembali mengulang perkataannya. "Perhatikan baik-baik, Greengrass," ia mendesis berbahaya. "Apakah kau melihat tatapan cinta atau semacamnya di mataku? Hah?! Ayo jawab!" Gadis bersurai cokelat gelap nyaris hitam itu memalingkan wajahnya, namun tak bertahan lama lantaran Draco kembali menuntun wajahnya agar berhadapan dengannya. Kalau boleh jujur, kini leher hingga dagunya serasa kaku dan mati rasa.

Sebenarnya ia sudah tahu jawabannya. Tak ada sedikit pun tanda-tanda kehangatan di mata itu untuknya. Yang ada hanyalah tatapan kebencian dan kemurkaan yang luar biasa, tapi ia masih belum bisa menerima kenyataan menyayat hati itu begitu saja. Ia masih berpikir bahwa pasti masih ada jalan di balik semua ini. Well, wajar saja. Tipe Slytherin. Sungguh sulit untuk merasa puas dan menyerah jikalau keinginan mereka belum tercapai. Jika Malfoy selalu mendapat apa yang diinginkannya, mengapa Greengrass tidak? Itulah benak Astoria dalam mengartikan tatapan mengintimidasi dari Draco itu.

Dengan kekuatan yang tak disangka-sangka Draco sebelumnya, Astoria melepaskan tangan Draco yang sedari tadi terus-terusan menyeret dagunya demi mendongak ke kelabu berkabut api emosi itu. Tentu saja Draco cukup terkejut dengan itu.

"Baik! AKU MENGAKU SALAH KALI INI, DRAKE!" Astoria berkata lantang lantas menolehkan kepalanya ke arah Hermione sambil menunjuk-nunjuk wajah wanita Malfoy itu. "Dan KAU MUDBLOOD JAL—"

PLAK!

"JANGAN PERNAH KAU BERANI-BERANI MENGATAI ISTRIKU SEPERTI ITU!" Hermione terperangah untuk beberapa waktu. Ia menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang satunya lagi menjadi penopang tubuhnya di sisi dinding.

"DRAKE! KAU MENAMPARKU?!" Pipi kiri Astoria tampak memerah oleh tamparan Draco barusan. Namun, meskipun Astoria semakin menangis, terisak, hingga suaranya serak sekalipun, Draco tetap tak mengubah sikapnya. Ia masih menyetel wajah keramatnya di hadapan Astoria, tak ada sedikitpun rasa penyesalan ataupun setidaknya rasa bersalah—karena sudah menampar seorang wanita—yang tampak menari di kilat abu sang pemuda Malfoy itu.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Astoria bisa dikategorikan sebagai gadis yang sangat spesial—well, karena ia merupakan satu-satunya—atau sebut saja gadis pertama yang ditampar oleh seorang Draco Malfoy. Sekalipun dulunya ia sangat membenci Hermione, tapi tak pernah sekalipun tangan pucatnya tersebut mendarat di pipi sang gadis Granger tersebut. Penghormatan yang sangat besar, bukan, bagi sang lady Greengrass kita ini?

"SEKALIPUN HERMIONE HANYA KETURUNAN MUGGLE-BORN, KAU SAMA SEKALI TAK PANTAS BERKATA SEPERTI ITU PADANYA! LAGI PULA SEKARANG HERMIONE ADALAH SEORANG MALFOY, SAMA SEPERTIKU! JADI KALAU KAU MENGHINANYA, ITU SAMA SAJA KAU TURUT MENGHINAKU! DAN PERLU KAU TAHU, GREENGRASS, MALFOY TAK AKAN PERNAH BISA MENERIMA PENGHINAAN!" Draco terengah-engah setelah berteriak panjang lebar seperti itu nyaris tanpa jeda.

"Dan satu lagi," bukanya kembali. "YANG TERPENTING ADALAH MESKIPUN HERMIONE HANYA SEORANG MUGGLE-BORN, TAPI SETIDAKNYA HATINYA LEBIH MURNI DARI HATIMU!" Draco mendorong bahu gadis itu hingga terjatuh. Dan itu membuat Hermione menjadi semakin tak tega terhadap Astoria.

"MUDHEART!" Sembur Draco sadis. Sang gadis Slytherin menatap Draco tak percaya, sebegitu berharganya kah Hermione kini baginya, hingga tega mengatai dirinya—apa tadi? HATI LUMPUR? Yang benar saja! Ini benar-benar penghinaan besar baginya.

"DRACO! STOP IT!" Hermione berlari menahan Draco tepat ketika pemuda itu hendak melayangkan tangannya untuk yang kali keduanya. Astoria hanya bisa memejamkan permata dark-brown-nya ketika dipikirnya tangan Draco akan kembali mencetak memar kemerahan di pipinya. Namun ia merasa bingung setelah beberapa saat lamanya sama sekali tak ada yang terjadi padanya. Maka dengan perlahan ia membuka kelopaknya, menampilkan sepasang manik yang terlihat begitu terguncang.

Tanpa pikir panjang lagi, gadis itu segera berdiri dan berlari keluar dari rumah kecil keluarga baru sang Malfoy junior.

.

.

-OoOoO-

.

.

"Hermione, dear, kau tak apa-apa?" Semenjak kejadian beberapa jam lalu itu, tak henti-hentinya Draco menanyai Hermione.

"Draco, aku tak apa-apa, sungguh." Wanita dengan hazel cemerlang itu mengulum senyum tipis, berusaha meyakinkan sang suami—entah untuk yang keberapa kalinya.

"Astoria benar-benar keterlaluan," ujar Draco mengingat-ingat. Sementara tangannya masih setia membelai lembut pucuk surai sang istri. Hermione pun merasa nyaman dan damai bergelung dalam pelukan Draco Malfoy. Satu tangan pemuda itu menjadi tumpuan kepala Hermione—pengganti bantal.

"Dia sangat mencintaimu sepertinya," jawab Hermione tenang, membuat Draco menunduk ke arahnya.

"Yang benar saja? Itu bukan lagi namanya cinta, tapi obsesi yang benar-benar keterlaluan dan di luar nalar!" ungkap Draco penuh emosi. "Kalau dia benar-benar mencintaiku, sepatutnya dia bahagia dan ikhlas menerima semua ini. Bukankah cinta tak selamanya harus saling memiliki?"

Hermione tergelak dalam beberapa saat, membuat Draco mengangkat sebelah alisnya.

"Kau lucu, love ..." kata Hermione di sela-sela gelakannya, namun sang suami justru semakin bingung. Melihat Draco yang benar-benar 'polos' seperti sekarang, membuat Hermione menghela napasnya pelan. Ia bangkit duduk dan menatap intens tepat ke arah sang manik kelabu Draco.

"Dengarkan aku, kurang lebih tujuh tahun aku mengenalmu, ini kali pertamanya aku mendengarmu berpendapat mengenai cinta," mulai Hermione. Namun reaksi yang diharapkannya tak sesuai yang terjadi, Draco masih terlihat bingung tanpa mau bersusah-susah mengubah ekspresinya.

Wanita yang sekarang bernama belakang Malfoy itu hanya memutar bola matanya bosan. "Oh, ayolah, Draco," katanya sedikit putus asa.

"Jadi ..." Draco berkata lamat-lamat, sementara Hermione kini memasang senyum lebar—mengira Draco sudah paham akan maksudnya.

"Di mana letak lucunya?" tanyaa Draco polos.

"_"

"_"

"_"

"Dasar kau FERRET MENYEBALKAN!" Satu bantal melayang begitu saja mengenai wajah Draco. Hermione membanting dirinya di kasur sebelahnya, berbalik dengan wajah judes setelah ia menarik hampir seluruh bagian selimut.

"Selamat malam, Ferret!" cebik Hermione di balik selimutnya, masih memunggungi Draco yang tak ia sadari kini tengah menyeringai lebar di balik punggungnya.

"Hermione, beginikah perlakuanmu pada suamimu? Oh, kupikir kau adalah wanita yang baik hati dan tidak sombong..." Draco berkata dalam nada sedih yang dibuat-buat. Alis Hermione berkerut. Apa hubungannya? Pikirnya.

"Oh, come on, love. It was just joking..." Draco diam-diam menyelipkan lengan kokohnya ke pinggang Hermione.

'Cuman candaan katanya?' Hermione membatin geram lalu kemudian berbalik menghadap Draco dengan manik hazel yang nampak membesar dari biasanya.

"Just joking you said, Malfoy?! Don't you see how serious am I? Or am I look sil—"

"Kau juga seorang Malfoy, love," potong Draco tanpa sedikit pun merasa bersalah, membuat Hermione semakin kesal tak karuan. Wanita itu menggeram tanpa perlu repot-repot menyembunyikan kekesalannya.

"Kau tampak lucu seperti itu, darling. Aku jadi gemas," komentar Draco tersenyum lebar seraya mencubit pelan pipi sang istri. Hermione melotot ke arahnya, bahkan tampaknya bola matanya nyaris saja keluar dari rongganya.

"DRACOOOO MALFOOOOYYYYYY!"

"HERMIONEEEEEEE GRANGEEEEEEEEER! Ops, ralat, maksudku HERMIONEEEEEE MALFOOOYYYY!"

"Untuk apa kau mengikutiku, Ferret?"

"Memangnya aku mengikutimu?"

"Ya, kau melakukan hal yang sama denganku."

"Aku tidak."

"Kau melakukannya!"

"Tidak, Hermione, dear."

Hermione menghela napas untuk kesekian kalinya.

"Aku tidak mengikutimu, tahu. Katanya kau gadis terpintar di angkatan kita, tapi kenapa otak berang-berangmu masih kau pakai?"

"Apa maksudmu?" sewot Hermione, merasa tak terima otaknya kembali disamakan dengan otak seekor berang-berang.

"Well, maksudku, aku tidak mengikutimu, tentu saja. Kau berkata 'Dracooooo Malfoooooy'..."—ujar Draco lambat-lambat, menirukan pengucapan Hermione sebelumnya—"Sementara aku mengatakan 'Hermioneeeee Grangeeer' lalu kemudian aku mengubahnya menjadi 'Hermioneeee Malfooooy.' Jadi, aku tidak mengikutimu, 'kan?" jelas Draco panjang lebar.

Hermione menepuk jidatnya. Kening Draco mengernyit.

"Kenapa? Ada yang salah dengan perkataanku?" tanyanya polos. Hermione memberikan senyuman lebar ke arahnya.

"Tidak ada yang salah dengan perkataanmu, Draco darliiinngg ..." balas Hermione dalam nada suara yang dibuat semanis mungkin lalu kemudian kembali membanting tubuhnya di atas kasur, sementara Draco mengikutinya dan melakukan hal yang sama.

"Oh, ayolah, Hermione ... Kau masih marah padaku?" Pemuda Malfoy itu memasang wajah memelas di balik punggung Hermione. Jari-jemarinya kini bermain-main dengan surai cokelat ikal sang istri. Sungguh, jika dilihat dari belakang seperti ini, rambut Hermione benar-benar luar biasa megar seperti semak-semak. Diam-diam Draco terkekeh kecil.

"Apa yang kau tertawakan?!" Cebik Hermione, kembali memutar badannya ke arah Draco.

"Tidak ... Tidak ada," dusta sang pemuda Malfoy.

"Aku tahu kau bohong, Draco ..."

"Tidak, aku jujur, loveeeee..."

"Tapi kau cekikikan seperti gadis perempuan!" Kini giliran Draco yang mencebik. Seperti gadis perempuan katanya? Cih.

Pemuda itu menghela napas pelan sebelum membuka suara. "Well, aku hanya menertawakan rambut keriting semakmu!" Hermione mendelik. Bukankah sudah sejak dahulu kukatakan bahwa ia sama sekali tak suka jika rambut megarnya dibahas? Ia sangat sensitif mengenai hal itu.

"Dasar Pirang!"

"Pirang tampaaaan~"

"Terserah apa katamu, kau menyebalkan, Ferret!" Hermione nampaknya benar-benar kesal padanya kali ini, gadis itu kembali berbalik memunggungi Draco dan menarik semua selimut hingga tak tersisa sedikit pun di tubuh Draco.

"Kau curang, love!"

"_"

"_"

"_"

Merasa tak mendapat respons, akhirnya kepala pirang pemuda itu mendapatkan sebuah ide. Dan ia yakin ini pasti berhasil!

"Hahhahahhahaha ... Dracoooo! Henti—hahhaha—kan!" Namun Draco tak akan mau berhenti menggelitiki Hermione, setidaknya sampai wanita itu berhenti ngambek padanya.

"Dracooooooo...Hahhahahaha...ge—li, Pirang!"

"Berjanjilah padaku kau tak boleh lagi ngambek-ngambek seperti ini."

"Tapi aku tidak ma—hahahhahahahhahhahha! Uh, Dra—coooh! Hahahaha, okay, okay, hentikan, pleeeeeeeaseee..." Hermione akhirnya memohon, membuat Draco tak tahan untuk menyeringai lebar.

"Jadi?"

"Apa?"

"Oh, ayolah, Hermione, atau kau masih mau, eh?"

"Ugh! Baiklah, kau kumaafkan," ujar Hermione sembari memutar bola matanya. Draco menjawil gemas hidung mungil berbintik sang istri tercintanya tersebut.

"Wajahmu masih terlihat pahit." Hermione menaikkan sebelah alisnya mendengar komentar Draco.

"Bagaimana dengan satu ciuman?" Pemuda Malfoy itu menyeringai. "Aku yakin itu dapat membuat wajahmu kembali manis."

"Gombal," kekeh Hermione pelan.

Dan selepas itu semua, suasana pun kembali tenang, sunyi, dan temaram. Satu ciuman yang sepertinya berlanjut ke aktivitas lainnya. Well, tak baik mengganggu privasi orang di kamar. Bukan begitu?

.

.

.

To Be Continue

.

.

Halo semua! *senyum kalem*

Apakah ada yang merindukan sayaaaa? Well, saya harap ada ya xD

Oke, maaf untuk update yang cukup lama *bungkuk2*

Sekali lagi maaaaaaaaf banget, saya sangat sibuk dan kurang semangat menulis belakangan ini. Dan saya bahkan sempat berpikir untuk berhenti menjadi author di ffn.

Hmm, untuk itu saya sangat butuh semangat melalui review-review kalian!

Tak mungkir, ya, saya emang sekarang ini lagi butuh banget dorongan dari kalian biar saya punya alasan mengapa saya harus tetap berada di sini dan menulis/melanjutkan cerita-cerita saya (selain karena kesenangan pribadi saya dalam menulis, ya, tentunya).

Setidaknya itu cukup membuat saya tahu bahwa ternyata masih ada yang menginginkan kehadiran saya dan cerita-cerita saya di sini *smiles dreamy*

Well, dan untuk kalian yang sampai detik ini masih setia menunggu dan membaca fic-fic saya, saya sangat berterima kasih. Tanpa dukungan positif dari kalian, mungkin saja saya tak akan pernah melanjutkan fic ini lagi. Tapi saya mohon maaf ya, karena sebelumnya saya pikir ini hanya akan menjadi belasan chapter. Tapi nyatanya? Aduh, sungguh di luar perkiraan saya. Maaf banget kalau ada yang merasa terganggu dengan jumlah chapter yang semakin banyak! *bungkuk2 lagi*

Dan juga makasih buat beberapa orang yang udah bela-belain nge-PM saya dan mengingatkan agar fic MBiF dan Vampire's Diary segera dilanjut *terharu* Tapi, maaf karena saya baru bisa menulis lanjutan MBiF. Tapi tenang saja, Vampire's Diary tetap akan dilanjut (meskipun kayaknya akan lama) hehe.

Oh ya, saya sudah baca review-review chap kemarin, favs dan juga follows. Aduh makasih banget ya, kawan-kawan! :) Dan untuk yang nanyain mengenai facebook pribadi, twitter, bbm, dan segala macemnya, maaaaf banget saya gak bisa ngasih tahu lewat sini (apalagi yang gak punya akun).

Hmm, tapi tenang aja, kalian tetap bisa menghubungi saya lewat PAGE FACEBOOK : Ms. Loony Lovegood (searching aja di facebook).Lewat sana, mungkin kalian bisa bertanya lebih detail lagi mengenai akun-akun pribadi saya ^^

Oke, saya rasa cukup sekian dan sampai jumpa di chapter selanjutnya (semoga panjang umur, aamiin)! KEEP READ AND REVIEW,ya, guyssss! I LOVE YOU!

P.S. : Maaf, kalau banyak typo dan kesalahan lainnya. Ini saya tulis dan langsung update aja tanpa nge-check ulang, hehe. Maaf.

.

.

Salam manis,

MissLoony