Disclaimer :

Harry Potter © J.K. Rowling

My Blood is Ferret © Ms. Loony Lovegood

(Tak ada keuntungan material apapun yg saya dapatkan dengan menulis fict ini, semata-mata hanya karena kesenangan dan kecintaan saya terhadap serial menakjubkan 'Harry Potter' beserta para tokoh-tokoh istimewanya)

.

Rated : T

Romance, Hurt/Comfort

Warning!

Saya sudah berusaha untuk tidak typo

(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf)

.

*Happy Reading, Guys... Butdon't like? Don't read! RnR please*

.

.

"Jadi?"

"Apa?"

"Oh, ayolah, Hermione, atau kau masih mau, eh?"

"Ugh! Baiklah, kau kumaafkan," ujar Hermione sembari memutar bola matanya. Draco menjawil gemas hidung mungil berbintik sang istri tercintanya tersebut.

"Wajahmu masih terlihat pahit." Hermion menaikkan sebelah alisnya mendengar komentar Draco.

"Bagaimana dengan satu ciuman?" Pemuda Malfoy itu menyeringai. "Aku yakin itu dapat membuat wajahmu kembali manis."

"Gombal," kekeh Hermione pelan.

Dan selepas itu semua, suasana pun kembali tenang, sunyi, dan temaram. Satu ciuman yang sepertinya berlanjut ke aktivitas lainnya. Well, tak baik mengganggu privasi orang di kamar. Bukan begitu?

.

.

My Blood is Ferret

.

.

Chapter 26 : Langkah Pertama Sang Ular Betina

.

.

.

"Aku pulang ..." Hening, tak ada jawaban ataupun langkah-langkah kecil khas yang setiap harinya selalu bergegas menghampirinya, membukakan pintu, dan menyambutnya dengan senyum lembut penuh cinta. Ini sudah hampir tiga bulan sejak mereka berdua kawin lari. Dan ini pun kali pertamanya Draco merasakan rumah kecil penuh cinta mereka sesunyi ini.

Pemuda blonde itu merasa heran, mengangkat sebelah alisnya dan kemudian mencoba memutar kenop pintu perlahan, yang ajaibnya—sekaligus membuatnya terkejut karena pintu itu rupanya tak dikunci sama sekali.

Sangat aneh, benar-benar aneh. Batin Draco menyeletuk. Tak biasanya Hermione akan membiarkan pintu rumahnya dalam keadaan tak terkunci seperti ini, apalagi Draco belum pulang. Tentu saja wanita hazel itu sangat tahu akan bahaya apa saja yang dapat menimpanya sewaktu-waktu jika ia bertindak ceroboh seperti ini. Lagipula ia seorang wanita yang sangat cerdas dan juga sangat perhitungan, bukan? Lalu ... Kenapa?

Lantaran rasa penasaran yang menggebu dan begitu banyaknya gejolak pertanyaan yang kini nyaris merembes di luar nalar normalnya, maka tak perlu banyak membuang waktu lagi, pemuda berkharisma itu segera melangkah masuk dengan raut wajah was-was yang nampak serius dan ... agak tegang di saat yang bersamaan.

Satu langkah. Tidak ada pergerakan apapun.

Dua langkah. Draco memasang pendengarannya dengan lebih tajam, visualnya waspada ke segala arah. Bukannya ia menginginkan sesuatu yang buruk terjadi, tapi aneh saja batinnya mengatakan demikian.

Tiga langkah. Masih tak ada tanda-tanda istrinya di sini.

Lima langkah.

Sunyi. Masih hening.

Kecemasan Draco makin membesar dan mulai menjadi sesak tersendiri di dalam dadanya, ia tak tahu mengapa dan jujur ia sangat benci akan perasaan ini. Perasaan seakan takut ... Takut kehilangan. Tapi ... Kehilangan apa?

Tiba-tiba saja, jantungnya berdesir. Bukan, bukan karena rasa bahagia atau semacamnya. Ini desiran yang aneh. Seperti ... Seperti ...

"Hermione?" Ia mulai berteriak ke sekeliling ruang tamu depan, rautnya sedikit panik sekarang. Namun tetap saja, suara tegas namun lembut khas sang istri tak kunjung kedengaran jua.

"Love, kumohon jangan bercanda. Kau bisa dengar aku? Di mana kau, Hermione? Pleasee come out, honey... Ini sama sekali tidak lucu!" Lagi, ia berteriak dan mendapati dirinya seorang diri yang jelas merasa bodoh sekarang, ia berbicara pada udara kosong tanpa respons sama sekali. Maka kaki panjang nan kokohnya membawanya memasuki ruang selanjutnya, yang seketika membuat samudera peraknya membeliak tanpa sadar.

Ruangan itu tampak berantakan sekali. Meja, kursi, dan perabot lainnya berhamburan di lantai tanpa tatanan sewajarnya—karena memang ini tak tertata rapi seperti biasanya, ini sangat ... err, berantakan, seperti sengaja diporak-porandakan entah oleh apa atau siapa. Bahkan beberapa di antaranya ada yang pecah, kepingannya berserakan di sekeliling ruangan, membuat iris kelabu pemuda itu semakin menyiratkan kecemasan yang luar biasa.

Draco masih mematung, terlalu terkejut, terlalu bingung, dan terlalu takut untuk menyimpulkan semua keadaan ini.

"Oh, Merliiinn. No... I beg noo, please ..." Ia bergumam pada dirinya sendiri, kini wajahnya tampak pucat, maksudku lebih pucat dari yang biasanya. Inilah ketika seorang Malfoy dalam keadaan syok dan tercengang seperti ini, siapa pun yang melihatnya bisa mengira kalau ia adalah pahatan patung tampan yang sedang dipamerkan di tengah-tengah ruangan itu. Wajahnya benar-benar pucat pasi, hanya kelabu peraknyalah yang nampak hidup dari semua hal yang bisa diasumsikan hidup darinya.

Dengan langkah berat ia menyeret kakinya sekali lagi, kepalanya berputar, menatap lebih tercengang lagi ke dinding sebelah barat. Di sana. Di sana, tempat bertenggernya pigura besar berisikan momen-momen bahagianya dengan Hermione—dulunya. Ya, dulunya. Karena nyatanya sekarang dinding berwarna kastanye itu tampak kosong melompong, benda yang seharusnya ada di sana justru tak ada di sana. Hal ini jelas membawa Draco ke sebuah pemikiran yang lebih kalut. Atau jujur saja ... agak mengerikan baginya. Ia bahkan enggan memikirkan kemungkinan terburuknya.

Ada yang tak beres di sini, ia harus berhenti berpura-pura untuk menyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya—termasuk sang istri tercinta, Hermione Malfoy dalam keadaan baik, bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun kenyataan tak seperti itu, ia tahu jelas sekarang bahwa semuanya salah dan tidak dalam keadaan baik-baik saja dan tentunya ini sangat patut untuk dikhawatirkan.

Tanpa banyak membuang-buang waktu lagi, kini ia berjalan tergesa-gesa menuju kamar utamanya di dalam rumah mungil tersebut—kebetulan di rumah itu terdapat dua buah kamar.

Pemuda bersurai platina itu tampaknya baru saja akan memutar kenop pintu dengan sedikit usaha, yang nyatanya tak perlu ia lakukan. Ya, ia tak perlu repot-repot mengeluarkan tenaganya untuk hal satu ini. Ia dapat melihat gerandel pintunya yang rusak parah, bahkan nyaris jatuh—seperti berusaha dibuka paksa oleh seseorang. Ia mengumpat secara tak sadar dan jantungnya benar-benar kembali memacu sekarang. Dan tak mungkir, ia berani bersumpah demi kaus kaki Salazar, bahwa rasanya seperti ratusan musang sedang melompat-lompat di dalam jantungnya entah bagaimana, membuatnya harus menahan napas selama beberapa saat.

Dan kemudian ...

Ceklek ...

Pintu terbuka perlahan, Draco menatap ke sekeliling kamar. Keadaan kamar tersebut hampir sama hancur dan berantakannya dengan ruangan sebelumnya. Kapuk bantal bertebaran di mana-mana, pecahan gelas, cermin, dan segala barang yang ada di ruangan itu tampak berada di tempat yang tidak seharusnya. Draco melangkah masuk dan berhenti ketika sepatunya menginjak sesuatu, sesuatu yang bisa dibilang familiar tapi ... sedikit aneh—bisa dibilang bahwa yang membuatnya aneh adalah ... Well, kenapa 'ini' bisa berada di sini?

Ia menunduk merendahkan atensinya, memicingkan indera visualnya tersebut seraya membungkuk lebih dalam untuk memungut sesuatu yang baru saja menunda langkah kakinya.

Sedetik, ia sibuk memerhatikan benda apakah gerangan yang baru saja dipungutnya itu. Dan detik berikutnya, manik kelabunya membeliak kaget—atau harus kubilang bercampur luapan emosi?

Dan tiga detik selanjutnya, hatinya benar-benar mencelos. Serasa semua oksigen di sekitarnya terikat di suatu tempat entah di mana—yang jelas tak serasa berada dalam paru-parunya dan itu membuatnya merasa sangat sulit bernapas walaupun ia sangat ingin melakukannya.

Sesuatu itu berwarna cokelat—warna yang sangat akrab dengan Draco—dan berbau mawar bercampur vanilla, aroma yang sangat lekat dengan indera penciumannya, aroma yang sarat akan begitu banyak memori, yang bahkan hingga kini pun masih dapat berputar manis dalam kepala pirangnya.

Ya, itu adalah sejumput rambut, rambut istrinya, Hermione—yang tampaknya ditarik dan terlepas secara paksa dari kepala pemiliknya.

.

.

-OoOoO-

.

.

'Tok ... Tok ... Tok ...'

Tak ada jawaban sama sekali.

'Tok ... Tok ... Tok ...'

Masih tak ada jawaban hingga membuat pemuda itu kembali melakukannya lagi dan lagi.

'Tok ... Tok ... Tok ...' Kali ini terdengar lebih keras dan nyaring. Pemuda di luar sana nampaknya pun sudah berdecak tak sabaran.

"Yes, I'm coming... wait a minute please." Terdengar derapan kaki setengah berlari.

Ceklek ...

"Tuan Muda Malfoy ..." Pelayan itu menunduk sopan ketika melihat sosok yang tengah berada di muka pintu itu. "Maaf," tambahnya cepat-cepat. Tentu saja ia mengenalnya, maksudku siapa yang tidak mengenal seorang Draco Lucius Malfoy? Apalagi sang majikan sempat memiliki hubungan khusus dengan pemuda itu, atau well, setidaknya itu yang dilihat masyarakat sihir selama ini.

"Di mana majikanmu?" Tanpa sempat memberikan kesempatan pelayan itu menjawab pertanyaannya, kakinya sudah melangkah masuk ke dalam rumah megah itu yang membuat sang pelayan segera bergeser ke samping secara reflek.

"Astoria ... Dii mana kau? Keluarlah, Greengrass!" Ia berbalik, menatap sang pelayan yang seketika menyibukkan diri dengan berusaha menatap lantai marmer di bawahnya dengan teliti.

"Jangan bilang majikanmu ada di dalam marmer itu?" Seringai Draco penuh sarkasme. "Di mana dia? Apa nenek sihir itu tidak ada di sini?"

Dan lagi-lagi, baru saja ketika pelayan itu akan menjawab namun tak sempat karena di saat yang bersamaan pula tetiba suara tegas seorang Astoria Greengrass terdengar dari belakang punggung Draco, membuat pemuda jangkung itu reflek berbalik, peraknya menyelisik tajam ke arah sosok itu, seakan-akan ingin menghabisinya hanya melalui tatapan maut sedingin esnya.

Gadis aristokrat yang kini sedang berjalan menuruni tangga meliuknya dengan anggun itu mengenakan gaun selutut berwarna merah simpel namun terlihat sangat elegan di tubuh rampingnya yang tampak sempurna. Dengan satu lirikan mata yang berarti, pelayan yang sedari tadi masih berdiri mematung di sana segera pergi dengan kepala masih tertunduk. Well, sebagai informasi, sekarang Astoria Greengrass lebih memilih mempekerjakan orang-orang yang kebanyakan adalah penyihir berdarah lumpur sebagai pelayannya ketimbang peri rumah, entah mengapa.

Gadis itu berpaling ke arah Draco, memberinya senyuman puas.

"Oh, well ... Jadi Tuan Draco Malfoy berada di sini...Mmh, menarik," katanya lambat-lambat. "What do you want from me?" Ia masih tersenyum hingga kaki jenjangnya mendarat di anak tangga yang terakhir. Sebenarnya ia tak benar-benar bermaksud berkata 'Tuan' dalam konteks yang sebenarnya, itu hanya sekadar sindiran, well maksudku yeah, kalian pasti mengerti maksudku.

"Aku mau bicara," balas Draco dingin, seakan tak perlu susah payah untuk menggerakkan bibirnya.

"Tak perlu tergesa-gesa." Gadis itu berjalan ke arah sebuah sofa berpelitur mewah di sebelah kiri—tak jauh dari tempat ia berdiri sebelumnya.

"Aku tak punya banyak waktu," jawab sang pemuda Malfoy yang rupanya masih enggan bergerak dari posisinya, membuat Astoria mendongak, menaikkan sebelah alisnya kemudian tersenyum penuh arti.

"Oh, tentu saja kau punya banyak waktu."

"Tidak," sengit Draco keras kepala.

"Oh, come on, aku yakin kau punya beberapa waktu. Kalau tidak, untuk apa kau datang ke sini?"

"Tak usah berbasa-basi." Pemuda itu mendengus, membuat Astoria kembali berdiri dan kini berjalan menghampiri Draco. Rupanya ia menyerah untuk tetap membujuk Draco bahkan hanya untuk sekadar duduk bersama dan membicarakan apakah gerangan yang membuat pemuda itu mendatangi kediamannya malam-malam begini.

Lama. Gadis itu memandang raut wajah Draco diam-diam, bahkan hingga saat ini—bahkan hingga dalam kondisi yang seperti ini sekalipun ia masih tak bisa berhenti mengagumi ketampanan sang pewaris tunggal Malfoy itu.

'Tampan. Sangat tampan,' batinnya takjub. Wajahnya berseri sebelum kemudian kembali berubah angkuh dan bercampur kesal, mengingat pria pujaan yang ada di hadapannya kini telah resmi menikahi gadis lain, terlebih gadis itu adalah seorang Gryffindor, darah lumpur pula. Ia mencibir secara tak sengaja ketika menyadari kenyataan yang menurutnya sangat menjijikan itu untuk ukuran seorang darah murni tampan nan tersohor seperti Draco Malfoy untuk memiliki pendamping hidup seorang Muggle-Born. Lantas sebuah pemikiran menarik melintas begitu saja dalam benaknya, membuatnya kembali tersenyum licik.

"Apa" Entah mengapa Draco merasa sedikit risih, meskipun tentu saja ia sangat enggan mengakuinya.

"Umm, tidak ... Tidak apa-apa," dusta Astoria. "Lalu ... angin apa yang membuatmu ke sini?" Ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, bak menantang Sang Ular Jantan.

"Aku ingin mencari istriku." Gadis Slytherin bersurai cokelat gelap itu tertawa dan Draco sama sekali tak menyukai cara tertawanya itu. Baginya, ini sama saja halnya ketika ia berhadapan dengan seorang Bellatrix Lestrange dan well, mau tak mau, itu membuatnya seakan-akan memikirkan dua nenek sihir Slytherin sekaligus dalam waktu yang bersamaan.

"Tidak ada yang lucu," geramnya. "Aku bilang aku mencari istriku. Aku mencari Hermione." Tatapannya masih tak lepas dari sorot cokelat gelap di hadapannya. Astoria melipat tangan, merasa di atas angin, dan jujur Draco tak tahu mengapa.

"Apa maksud—"

"Kau tahu jelas apa maksudku."

"Aku ... tidak?" Gadis bungsu Greengrass itu memasang wajah polos, menggelengkan kepalanya separo yakin. "Ceritakan yang benar," tambahnya lagi, yang tiba-tiba saja segera menyibukkan dirinya dengan menatapi kuku-kuku bercat hitam mengilatnya.

"Hermione is missing..." Draco berujar singkat. Astoria mendongak, bergeming kemudian memutar balik tubuhnya membelakangi Draco. Ia tersenyum penuh kemenangan—yang tentu saja tak dapat dilihat oleh sang pemuda platina itu.

"Lantas ... apa hubungannya denganku?" Ia bertanya dalam tempo pelan dan seakan memang sengaja dilambat-lambatkan.

"Aku tahu, kau tahu, dan kita semua tahu bahwa hilangnya Hermione pasti ada hubungannya denganmu," kata Draco tegas, to the point.

"Apa jaminanmu berkata seperti itu? Atau ah, maksudku apa jaminanmu memfitnahku seperti itu?"

"My life."Astroria seketika berbalik, menaikkan sebelah alisnya, merasa sangat tertarik.

"Your life?"

"Yes," jawab Draco sungguh-sungguh dan Astoria mencoba menyetel mimik simpati di wajahnya, meskipun tampaknya tak begitu berhasil. "Aku tahu bahwa kaulah di balik semua ini," lanjut Draco kukuh.

"Jangan menduhku begitu, itu fitnah namanya."

"Tidak, ini sama sekali bukan fitnah. Entah mengapa, hatiku berkata seperti itu."

"Oh, itu artinya hatimu berkata salah."

"Tidak."

"Iya."

"Tidak."

"Iya, hatimu berkata salah sekarang."

"Katakan ..."

"What?" Astoria maju mendekat.

"Where's Hermione?!"

"I don't know, baby... Or mmmh, I might know?" Ia maju selangkah lagi.

"Fineee..."

"Ya?"

"Fine, Astoria, fineee..." Suara Draco menggantung di udara. Lalu kemudian ... "Apa maumu?" Dan bersamaan dengan itu, tatapannya kini seolah mencoba menyelam dalam-dalam ke bola pekat sang gadis Greengrass tersebut. Namun tentu saja semua orang tahu bahwa itu adalah tatapan yang tidak menyenangkan.

Akan tetapi anehnya, seketika sebuah senyuman licik di wajah Astoria kembali terkembang begitu saja. Ia maju lagi ke arah Draco, lebih dekat dan ... kini ia berada tepat di hadapan Draco, dekat. Sangat dekat, bahkan rasa-rasanya ia dapat menghirup udara yang sama dengan udara yang dihirup Draco saat ini, dan juga aroma maskulin khas mint dari pemuda itu dari jarak yang sedekat dan se-intens ini. Astoria menjinjit dan ...

'CUP!'

Ia mencium bibir mungil Draco tiba-tiba. Tersenyum sebentar dalam ciumannya, meskipun sama sekali tetap saja tak ada respons dari pemuda itu. Namun ia tetap bertahan dalam posisi seperti itu selama kurang lebih semenit penuh dan anehnya tak ada perlawanan ataupun ekspresi sama sekali dari sang pewaris Malfoy, terkecuali samudera peraknya yang membeliak terkejut di detik pertama hingga ketiga.

"Jadi apa maumu?" Ulang Draco lagi, namun terdengar lebih dingin kali ini, selepas Astoria mencmnya.

Hening. Dan kalau boleh jujur ini adalah situasi yang sangat tidak mengenakkan bagi Draco, udara di sekitarnya mendadak bak bertransformasi menjadi titik-titik beku es yang sangat dingin. Dan kemudian ...

"Marry me."

.

.

-OoOoO-

.

.

"Satu lagi ..." Kata sebuah suara berat yang mulai tidak fokus. Seorang bartender menyorongkan sebotol whiskey lagi dan pemuda itu langsung menenggaknya tak sabar. Sementara keadaan di sekitarnya sangatlah bising, musik dan hiruk-pikuk teriakan wanita dan pria memenuhi tempat tersebut.

"Hey, seksi ..." Draco tersenyum konyol kepada seorang wanita berbusana minim yang baru saja melintas di hadapannya, meremas bokong wanita itu sekilas yang dibalas dengan kedipan mata nakal dari wanita tersebut sebelum seorang pria bertubuh besar menariknya ke lantai dansa.

"Bokong yang bagus," tambahnya lagi setengah tak sadar, menyeringai, sambil kembali menenggak minumannya tepat ketika sebuah sentuhan hangat mendarat di bahu kanannya. Sentuhan yang begitu ragu-ragu, seakan-akan terkejut dan tak akan menyangka kalau ia akan bertemu dengan pemuda platina itu di sana.

Draco susah payah memutar kepala pirangnya dan kemudian tersenyum sangat lebar bak seorang anak kecil yang baru saja mendapat permen, matanya tidak fokus tapi setidaknya ia masih memiliki sedikit kesadaran, ya hanya sedikit. Tapi percayalah, ia terlihat sangat konyol dengan cengiran bodoh seperti itu.

"Pans?" Ia lantas mengerjap bingung beberapa saat setelah mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sama sekali tak salah melihat meskipun ia dalam keadaan trans seperti ini.

"Pansy Parkinson? Kau ... Pansy, 'kan? Apa yang—" Perkataannya terhenti di udara, alisnya bergumul tepat di tengah. "Weasley? Kau juga? Kalian ... Apa yang kalian la—" Namun belum sempat pemuda Malfoy itu menyelesaikan kalimatnya, ia sudah roboh dalam detik yang sama dan tak sadarkan diri. Well, ia terlalu banyak mengonsumsi alkohol malam ini.

Pansy menggelengkan kepalanya prihatin dan beralih memandang ke sosok pemuda tegap bersurai merah di sebelahnya yang hanya balas menatapnya dengan pandangan cengo.

.

.

-OoOoO-

.

.

"Aargh ..." Sebuah erangan pelan bersumber dari sebuah ranjang di sudut ruangan. Reflek, dua pasang manik jelaga dan biru cemerlang menoleh ke asal suara tersebut. Dan kemudian seseorang di antaranya melangkah berdiri menghampirinya. Seorang gadis bersurai hitam sepunggung.

"Kau ... kau sudah bangun, Drake?" Sementara itu orang yang ditanya masih mencoba memfokuskan visualnya, mengerjap-ngerjap sebentar sebelum atensi perak itu tertuju kepada sosok gadis di hadapannya. Gadis yang sedari dulu sudah ada bersamanya, menjadi sahabatnya sejak bertahun-tahun silam, yang kemudian jatuh cinta padanya dan ... juga sempat mencoba merusak hubungannya dengan Hermione.

"Pansy?" Gadis itu tersenyum ramah, bahkan Draco tak bisa mengingat kapan terakhir kali gadis itu dapat tersenyum sehangat ini.

"Sudah sadar kau rupanya, Ferret. Lama sekali kau ini pingsan. Membuat repot saja," celetuk sebuah suara sinis yang juga sudah sangat dikenal Draco. Tetapi bukan dikenal karena mereka dekat, tetapi dikenal karena Draco selalu jengkel dan juga cemburu pada pemuda yang satu ini. Kontan saja Pansy yang mendengar ucapan Ron itu diam-diam memberinya tatapan tutup mulut yang spontan dibalas dengan sebuah dengusan yang tak repot-repot disamarkan oleh si Surai Merah Menyala itu.

"Kenapa kalian ada di sini? Maksudku, kenapa kau membiarkan dia ada di rumahmu?" Ia memandang Ron Weasley dengan sedikit risih. "Ini rumahmu, 'kan, Pans? Aku tak mungkin lupa." Kemudian Draco menatap berkeliling ruangan dan kembali ke wajah Pansy. "Ya, aku tahu, ini memang rumahmu, Pans."

"Ya, ini memang rumahku, Drake." Entah mengapa wajah gadis Slytherin yang dulunya setingkat dengan Draco itu terlihat memerah, meskipun hanya sedetik. Lalu kemudian manik kelabu itu kembali beralih ke arah Ronald Weasley yang secara sengaja justru memilih membuang muka, tapi hanya berselang tiga detik sebelum pemuda itu menghadap Draco kembali.

"Kami berkencan," jelasnya seakan menjawab pertanyaan tersirat Draco. Lalu tiba-tiba pemuda platina itu tertawa kecil.

"Kencan? Kencan katamu, Weasley?" Ia kembali tertawa. "Dengan siapa?" Sang Malfoy junior baru saja hendak untuk melanjutkan tawanya ketika Pansy menjawab tegas namun kedengaran tak senang pula di saat yang bersamaan.

"Denganku."

"What?!" Atensi perak pemuda itu membulat reflek.

Pansy menarik napas sebal. "Aku dan Ron berkencan."

"Ron katamu?"

"Apa kau tuli?"

"Bahkan sekarang kau memanggilnya dengan nama depan dan tak lagi memanggilnya dengan sebutan 'Weasley Bodoh'?" Draco begitu terpukau. Ini benar-benar hal yg sangat-sangat berada di luar perkiraannya. Maksudku ini sama saja halnya jika Professor Snape akhirnya mau menggunakan jubah berwarna pink cerah ke Hogwarts, yang mana itu begitu mustahil untuk terjadi.

"Pans, jadi selama ini kau menganggapku bodoh?" kejut Ron yang hanya dibalas tatapan meminta maaf disusul senyuman manis dari Pansy.

"Dulu," jawabnya tenang.

"Tapi ... Maksudku apa yang terjadi? Mengapa bisa?" Draco kembali memotong tiba-tiba di antara percakapan singkat dua sejoli 'impossible' itu yang nyatanya sekarang menjadi 'possible'.

"Well, ceritanya cukup panjang, Drake. Dan sebelum aku bercerita padamu, sebaiknya kau dulu yang bercerita kepada kami tentang apa yang sebenarnya membuatmu seperti ini. Maksudku kurasa kau tak pernah lagi mabuk-mabukan seperti itu setelah dekat dengan Granger, terlebih sekarang kau adalah suaminya. Dan jujur, kau terlihat sangat kacau dan berantakan. Apa kau ada masalah dengannya?"

"Awas saja kalau kau sampai menyakiti sahabatku, Ferret Albino!" Gemas Ron tetiba. Pansy menggeleng kepala, ia pikir mereka berdua akan berubah, maksudku setidaknya bisa bersikap lebih dewasa setelah hampir setahun lamanya tak bertemu. Namun nyatanya, sang Singa Jantan ini memang sangat susah akur dengan sang Ular Jantan.

"A..aku ... Aku tidak menyakitinya, Weasel!" Jawab Draco emosi, sebelum kemudian ia kembali terlihat tenang lantas melanjutkan perkataannya. "Tapi ..." Ron menunggu tak sabar dengan sebelah alis terangkat.

"Tapi ... Tapi sepertinya ia tersakiti karena aku yang tak akan menyakitinya." Ron yang mendengar pernyataan ambigu Draco itu memberungut tak senang.

"Blimey, Malfoy, apa maksudmu?"

Pemuda pirang itu hanya menatap lurus ke depan, mencoba menerawang kejadian semalam yang membuatnya benar-benar merasa frustrasi, membuat hatinya merasakan indignasi luar biasa yang berujung dengan mabuk-mabukan di sebuah bar hingga akhirnya—yang sebenarnya sangat aneh dan membuatnya bertanya-tanya—ia bertemu dengan Pansy Parkinson dan juga Ron Weasley di sana. Lalu ia mencoba menceritakan semuanya, semua yang bisa ia ingat kepada mereka berdua.

.

.

"Jadi apa maumu?" Ulang Draco dingin selepas storia mengecupnya.

Hening. Dan kalau boleh jujur ini adalah situasi yang sangat tidak mengenakkan bagi Draco, udara di sekitarnya mendadak bak bertransformasi menjadi titik-titik beku es yang sangat dingin. Dan kemudian ...

"Marry me."

"_"

"_"

"_"

"Apa?"

"Kau tuli, Draco? Aku bilang, nikahi aku."

Draco tertawa hambar, menganggap ini hanya sebuah lelucon—yang tentu saja sama sekali tidak lucu baginya. "Jangan bergurau, kau tahu betul bahwa aku sudah menikah."

"Ya, aku tahu," jawab Astoria tenang.

"Nah, itu artinya aku tak bisa menikahimu." Sorot abu-abu pemuda itu terlihat lebih dingin sekarang.

"Kau bisa." Astoria tersenyum tipis. "Aku tak keberatan menjadi istrimu yang kedua."

"Ta...tapi—"

"Ya, terserah kau saja, sih. Kalau tak mau juga tak apa, setidaknya aku masih punya 'mainan' pelampiasan." Ketika mendengar itu, Draco sudah hampir melayangkan tamparannya di pipi Astoria, tepat di saat gadis itu kembali buka suara.

"Aku bisa menyakitinya dengan cara yang bahkan tak bisa kau bayangkan sebelumnya."

.

.

"Bloody hell, Malfoy! Bloody hell! Kau membuat Hermione berada dalam masalah!" Ron maju secara tiba-tiba dan seketika itu juga melayangkan sebuah tinju tepat di wajah sang tuan muda Malfoy.

"Ronald Weasley! What the hell are you doing?!" Namun anehnya, Draco tidak membalas sama sekali, ia justru menghalau tangan Pansy yang mencoba menyentuh wajahnya.

"Tidak, aku tidak apa, Pans," sangkal Draco sambil mencoba mengelap beberapa tetes darah yang mengalir dari kedua lubang hidungnya. "Aku pantas mendapatkannya," sambungnya lagi kemudian mendongak ke arah pemuda bersurai merah terang yang tampaknya sedikit ragu, ragu akan rasa emosi yang masih berada di ubun-ubunnya dan juga rasa sedikit bersalah, well, hanya sedikit.

"Pukul aku lagi, Weasley," pinta Draco. Namun anehnya Ron lebih memilih membuang muka ketimbang kembali melayangkan tinjunya.

"Drake, cukup. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri," ujar sebuah suara, suara milik Pansy Parkinson. "Kita masih bisa menyiapkan rencana B. Dan kupastikan kita bisa membawa Granger pulang malam ini." Seketika dua pasang mata menoleh kepadanya, memandangnya penasaran dan dengan gejolak rasa ingin tahu yang tinggi.

"KATAKAN, PANS!" Dan kedua pemuda itu berkata serempak.

.

.

-OoOoO-

.

.

Draco tak bisa merasakan apa pun ketika wajahnya serasa dipenuhi sesuatu yang halus beraroma khas mawar dan vanilla.

"Draco!" Wanita itu memeluk Draco erat-erat di leher, sang pemuda masih belum berkata apa-apa, tetapi yang jelas ia sangat merasa lega.

"Aku merindukanmu," jujur pemuda Malfoy itu. "Sangat merindukanmu." Lalu ia mempererat pelukannya, tak sengaja setitik air mata jatuh di pipi pucatnya—air mata yang begitu jarangnya Draco keluarkan dari samudera peraknya. Ia menunduk, mencium pucuk kepala sang istri dengan amatory yang luar biasa.

"Aku akan menjaga dirimu baik-baik dan kumohon berjanjilah bahwa kau tak akan pernah meninggalkanku lagi." Samudera kelabu itu bersirebok dengan kilauan indah sang hazel di hadapannya. "Aku sangat takut. Takut akan kehilanganmu, Hermione. I love you so much, my honey bee."

"I love you too, my lovely hubby." Kemudian Hermione menarik Draco dan menciumnya dalam-dalam, rasanya lama sekali. Seakan ia mencoba mengalirkan seluruh kekalutannya selama ini tanpa Draco di sisinya dan baru akan melepasnya di saat dirasanya oksigen di sekitarnya sudah mulai menipis. Kemudian ia menatap sang suami dengan intens lantas tertawa, sementara itu Draco hanya mengerutkan kening tidak mengerti.

"Kau memerah."

"Tidak, aku tidak—apa tadi katamu? Memerah? Hah, yang benar saja." Draco memalingkan muka yang dengan segera kembali dipalingkan ke arah Hermione, dengan tangan gadis itu tentunya.

"Ayolah, kau bahkan malu menatapku." Wanita Malfoy itu kembali tertawa, Draco yang tak tahan dipojokkan seperti ini dengan gerakan tiba-tiba menangkup wajah Hermione dalam kedua tangannya yang besar, membuat wanita itu berhenti tertawa—melainkan menatap terkejut ke arah Draco yang tanpa tedeng aling-aling segera melumat bibirnya tanpa ampun, mengulum bibir merah itu dan mencoba untuk mendapatkan akses lebih, memasuki mulut Hermione tanpa permisi, mengabsen barisan rapi gigi-gigi sang istri dan juga memainkan lidahnya dengan lidah Hermione yang kini turut menikmati ciuman menggairahkan sang suami, Draco Lucius Malfoy. Mereka berdua berciuman dalam-dalam, ciuman yang sangat panas dengan kedua pasang mata tertutup rapat di balik kelopak yang terang memancarkan perasaan nikmat masing-masing pemiliknya. Ciuman kerinduan yang teramat sangat.

Hermione mulai mengalungkan kedua tangannya di sekeliling leher Draco, mengangkat sebelah kakinya tanpa sadar dan mengelilingi sekitar pinggang pemuda Malfoy itu membuat sang suami dibakar rasa gairah yang memabukkan dan kembali memperdalam ciumannya, menekan kepala Hermione lebih dalam hingga akhirnya ciuman itu berlanjut ke jenjang leher wanita tersebut, meninggalkan beberapa bekas kemerahan di beberapa bagian di sana. Namun tepat ketika Draco hendak mengecup belahan dadanya, Hermione menarik diri dengan napas terengah-engah, tak beraturan. Sang suami mendongak, sedikit merasa kecewa karena aktivitas mereka tidak berlanjut ke hal yang sebagaimana sudah tersusun rapi dalam kepala pirangnya, namun tak urung sebuah guratan senyum tipis tertoreh di wajah tirusnya.

"Kenapa kau bisa membebaskanku?" Tanya Hermione penasaran.

"Aku mengelabuinya." Draco menyeringai tipis. "Yang benar saja, selicik-liciknya ular betina, aku berani jamin bahwa ular jantan pastilah lebih licik." Ia mengedip nakal ke arah Hermione, lantas kembali ingin melumat bibir sang istri yang seketika itu kembali menahannya.

"Tapi bagaimana?" Draco mendengus sebal kemudian berjalan menuju sebuah sofa dan menjatuhkan bokongnya di atasnya.

"Pansy dan Weasel membantuku, ceritanya panjang."

"Siapa yang kau maksud?" Hermione sedikit terbelalak.

"Si Weasel itu, yang dulu pernah kau sukai karena kau terlalu bodoh saat itu dan—"

"Maksudmu Ron? Benarkah? Bersama Pansy? Kenapa bisa? Maksudku bagaimana?"

Pemuda pucat itu meniup poni pirangnya asal kemudian berkata tidak sabar. "Sudah kubilang, ceritanya panjang, sayaaaaang Dan kabar buruknya, aku sedang malas bercerita saat ini.

"Tapi Draco aku ha—"

"Baiklah-baiklah, akan kuceritakan sedikit," potong Draco tak sabar lalu mulai bercerita. "Ketika aku menemuinya, kukatakan padanya bahwa aku ingin menikahinya detik itu juga. Lalu kusuruh ia untuk bersiap-siap agar segera melangsungkan pernikahan atau aku akan berubah pikiran. Dan ketika ia terlihat begitu sibuk berpikir dan terlalu lama menyiapkan ini dan itu di ruangan lain dan ketika semua pelayannya turut sibuk membantunya dan ketika itulah—"

"Kau terlalu banyak menggunakan kata 'ketika' dalam satu kalim—"

"Mau kuceritakan tidak?" Ujar Draco sedikit sebal sambil mencubit gemas pipi istrinya yang seketika menggembungkan pipinya namun tak membalas sama sekali, melainkan mengangguk kecil.

"Ketika itulah Pansy dan Weasley mengabariku bahwa ia sudah tahu tempat di mana kau ia sembunyikan dan begitulah... Akhirnya aku menemukanmu, love. Karena sejak pagi itu, di saat aku menceritakannya pada mereka, Pansy memberi tahu kami ide cemerlangnya, well semacam jebakan." Draco menaikkan pundaknya pelan lalu kemudian cepat-cepat menyambungnya. "Tapi tak akan kuceritakan detailnya sekarang. Dan yah, kami akhirnya mulai menyusun rencana untuk ini semua, dan bahkan mengikuti salah satu pesuruhnya yang kami curigai. Dan lihat? Semuanya tepat seperti apa yang kami perkirakan. Kami berhasil membebaskanmu."

"Tapi di sana banyak sekali penjaga dan bahkan aku tak melihat mereka. Dan ... bagaimana bisa Pansy mau menolongku? Kukira—"

"Ia sudah berubah. Banyak yang berubah darinya. Bahkan seleranya ikut berubah sekarang." Draco mengernyitkan hidungnya di kalimat terakhirnya.

"Maksudmu?"

"Dia berkencan dengan Weasel."

"Ron maksudmu?" Tanya Hermione dengan raut terlampau serius namun yang ditanya hanya menaikkan kedua bahunya dengan wajah yang seolah-olah berkata 'aku pun tak mengerti bagaimana bisa'.

"Anyway, love...Kita akan segera pindah ke Miami," Draco berujar santai, tapi sukses membuat berlian cokelat di hadapannya membulat terkejut.

"Florida? Yang benar saja? Maksudku aku sudah nyaman di—"

"Sudah, jangan banyak protes." Pemuda kelabu itu menarik Hermione dalam pelukan singkatnya dan mendaratkan kecupan hangat di dahi sang istri lantas kembali melanjutkan kalimatnya. "Di sini memang nyaman, Hermione dear... Tapi tak lagi aman untuk kita berdua. Pokoknya segera kemasi barang-barang dan kita akan pergi secepatnya."

.

.

-OoOoO-

.

.

Miami Beach, Florida

"Ah, indahnya ..." Wanita muda bermahkota cokelat terang itu merentangkan tangannya di udara tatkala angin sepoi-sepoi silih berganti menyapu wajahnya dan menerbangkan helaian-helaian halus karamelnya.

"Sudah kubilang 'kan, love. Kau tak akan menyesal." Tiba-tiba saja sepasang tangan kekar melingkar nyaman di perut Hermione membuat wanita itu tergelak spontan seraya tetap memamerkan senyum memesonanya. Draco menyandarakn dagunya dengan nyaman di pundaknya. Hermione menutup matanya, masih tersenyum.

"Ya, kau benar. Aku sama sekali tak menyesal kita pindah ke sini. Ini benar-benar indah! Apa kau pernah ke sini sebelumnya?" Ia memutar kepalanya, membuat posisi wajahnya kini berhadapan dengan Draco, namun tetap dalam posisi yang sama. Pemuda itu tersenyum kalem, senyum yang sangat natural dan begitu pas dengan rupanya yang tampan.

"Ya, aku dulunya selalu ke sini. Kuperkirakan sejak usia 9 tahun hingga 15 tahun. Setelah itu di saat tahun ke-enam kita, aku tak pernah lagi ke sini. Well, kau tahu sendiri apa sebabnya." Ia menutup matanya sebentar, menikmati semilir angin lantas kembali menampilkan pendaran kelabu indah itu di balik kelopaknya yang terlihat sayu, memandangi panorama pantai Miami yang begitu menyejukkan mata. Kediaman mereka pun tak jauh dari sana, jadi mereka berdua dapat dengan mudahnya mengunjungi pantai Miami kapan pun mereka mau.

"Aku suka laut," sambungnya lagi dengan nada tenang dan terdengar sedikit bersemangat, entah karena apa. "Mother selalu bilang bahwa mataku seperti pancaran laut baginya yang selalu membuatnya merasa damai dan bahagia ketika melihatku. Ia selalu membuatku tersenyum ketika ia mulai bertanya, 'Mengapa bisa kau memiliki laut seindah ini di dalam dirimu, my Dragon? Siapa yang membuatnya?"" Draco tergelak sedikit, kemudian kembali melanjutkan monolognya, "Aku bilang padanya bahwa tentu saja laut ini dibuat olehnya dan Father." Senyumannya makin mengembang. "Ia pun berkata bahwa diriku adalah perpaduan yang sangat sempurna di matanya dan merupakan salah satu anugerah terbaik yang bisa ia harapkan. Rambutku selalu menarik untuknya, katanya rambutku sama saja halnya dengan kedamaian musim salju. Sedangkan mataku bagaikan samudera luas yang bahkan tak akan pernah sanggup ia arungi. Sedangkan bibirku, Mother selalu menggodaku seperti, 'Siapa yang akan memiliki permen bantal yang manis ini?' Dan sekarang tentu saja aku sudah tahu jawabannya." Draco masih tersenyum, perlahan membalikkan tubuh Hermione yang balas tersenyum menatapnya.

"Aku baru sekali ini mendengarmu bercerita begitu panjang lebar mengenai seseorang, terlebih itu ibumu."

"That's mean, you're a lucky lady. But anyway, she's your mother too though, your mother in law." Draco mencolek dagu mungil sang wanita pujaan hati. Hermione tertawa lembut sebelum kemudian kembali membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.

"Lalu kalau aku beruntung, bisakah permen bantal yang manis itu menjadi milikku?" Draco tertawa mendengarnya. Kedua tangannya berada di pipi Hermione, menatap dalam-dalam ke arah bola karamel benderang di hadapannya.

"Aku mencintaim, Hermione. Dulu, sekarang, selalu, dan selamanya. Kuhadiahkan permen bantalku ini hanya untuk dirimu. Itu menandakan betapa spesialnya dirimu. Dan tak seorangpun yang dapat menggantikanmu di hatiku sampai kapanpun."

Hermione tersenyum senang. "Jadi bolehkah aku menggigitnya?" Tanyanya jahil.

"Tentu. Bahkan kau boleh melahapnya sesuai keinginan hatimu." Mereka berdua tertawa bersama di depan deburan ombak yang tampak menari-nari senang menyaksikan keduanya.

"Kalau begitu ..."

'CUP'

Hermione mencium Draco tiba-tiba namun sang pemuda dapat dengan mudah menyadari serangan itu dan tampaknya sekarang malah lebih mendonasi ketimbang 'sang penyerang'. Draco terus menciumi bibir ranum sang wanitanya yang kemudian dengan perlahan mulai mengangkat Hermione ala bridal style.

"Aku mau lebih. Ayo kita pulang, aku tak sabar untuk membuat Malfoy junior denganmu," bisiknya sensual, masih tersenyum. "Dan jangan coba-coba lagi kau menggunakan mantra kontrasepsi seperti sebelumnya, mengerti?" Ia mencubit lembut pipi Hermione yang nampak makin bersemu di bawah pendaran jingga langit yang mulai temaram.

Jujur, Hermione sangat malu jika mengingat dirinya yang ketahuan menggunakan mantra itu di bulan-bulan sebelumnya. Namun sekarang, ia merasa bahwa dirinya sudah siap menjadi ibu dari anak-anak seorang Draco Lucius Malfoy. Dan pikiran itu cukup untuk membuatnya tersenyum semakin lebar namun semakin merona pula di waktu yang bersamaan.

Sementara itu di tempat lain, di waktu yang sama pula, mereka sama sekali tak tahu bahwa jauh di sana ternyata masih ada seseorang yang merasa sangat sakit hati dan masih berusaha untuk merusak hubungan keduanya.

"Tunggu saja pembalasanku, Mudblood. Ini baru langkah awal dariku. Tidak lama lagi Draco akan menjadi milikku sepenuhnya." Dengan gigi bergemelutuk menahan kesal, ia membanting sebuah keramik yang berada tak jauh darinya sampai pecah berkeping-keping.

.

.

.

~oO¤To Be Continued¤Oo~

.

.

Hi, everyone! Anybody missed me? Hehe.

First of all, all I want to say is pleaseee forgive me, guys. I know right that Im not been here since so long, and Im really sorry for that. And about Vampire's Diary, I think I will continue that one after MBiF's end, so please b patient because I wanna focus on this fic only for now, Im sorry.

Sebenarnya, MBiF chap 26 ini sudah harus update beberapa bulan lalu, sekitar Maret atau April. Dan saya sudah menulis sebagian besar ceritanya saat itu, namun karena suatu hal, akhirnya lama kelamaan chap 26 ini agak terbengkalai dan nah, barulah sekarang saya bisa merampungkannya. Sy bener2 minta maaf bagi semua pembaca setia saya yang telah saya buat menunggu selama setahun belakangan ini. Dan saya jg meminta maaf jika tdk smpat membalas beberapa pm dari kalian, tapi sebenarnya saya baca, kok. Dan jujur saja saya selalu merasa senang dan bahkan terharu di saat mendapat review menyenangkan dari kalian. Dan juga bagi beberapa yang udah nagih lewat pm maupun akun sosmed saya, ini sudah di-update ceritanya 3

Jadi jangan lupa untuk review ya, hehe...biar saya tahu bagaimana pendapat kalian mengenai chap ini dan agar bisa lebih baik lagi ke depannya dan percayalah bahwa satu review itu sangat berharga bagi saya, terlebih sebagai motivasi dan penyemangat menulis. Oh ya, gak keberatan 'kan, kalo MBiF chap-nya 'agak' banyak? Saya juga gak mau alurnya terkesan terburu2 soalnya.

But once again, thankyou so much for all of u who keep waiting for this fic n still love this fic till now! N specially for the ones who keep reviewing my story! I love u, guys!

Semoga chap ini gak mengecewakan, ya!

Diusahakan update secepatnya. Dan anyway sy agak risih kalau dipanggil dgn sebutan 'thor'. Emangnya saya cemilan astor? lol

.

.

Contact me on fb (page):

Ms. Loony Lovegood

Ask dot fm (new one):

missAnna997

.

.

Sincerely love,

Ms. Loony