Disclaimer :
Harry Potter © J.K. Rowling
My Blood is Ferret © Ms. Loony Lovegood
(Tak ada keuntungan material apapun yang saya dapatkan dengan menulis fict ini, semata-mata hanya karena kesenangan dan kecintaan saya terhadap serial menakjubkan 'Harry Potter' beserta para tokoh-tokoh istimewanya!)
.
Rated : T
Romance, Hurt/Comfort, Drama
Warning!
Saya sudah berusaha untuk tidak typo
(tapi jika masih ada, saya sungguh minta maaf)
.
RnR? Happy Reading!
.
My Blood is Ferret
Chapter 27 : Kabar Gembira
.
.
"Hati-hati, Sayang." Draco Malfoy membantu Hermione berdiri. Usia kehamilannya yang baru memasuki tiga minggu membuat Draco diliputi rasa khawatir yang luar biasa setiap kali dilihatnya wanitanya itu hendak melakukan sesuatu. Hermione tersenyum dan melambaikan tangannya ke udara kosong.
"Aku tak apa, Draco." Setelah bokongnya mendarat sempurna di atas sofa zamrud di ruangan itu, Hermione kembali melanjutkan, "Kau berlebihan, kau tahu. Bahkan kandunganku masih belum genap sebulan." Wanita itu tertawa renyah. "Aku masih bisa beraktivitas apapun sesuka hatiku, Suamiku." Draco tetiba mengecup bibir Hermione sekilas, manik kelabunya menatap khawatir ke arah bola karamel di hadapannya.
"Tetap saja, kau masih gadis kecilku, Hermione Jean Granger."
"Oh ayolah, Draco Lucius Malfoy. Aku bukanlah gadis remaja lagi, aku sudah tak semuda itu. Kupikir aku benar-benar 'wanita' sekarang." Sepersekian detik setelah itu, jemari panjang terulur di depan bibir mungil Hermione.
"Sssst. To me you're still my little princess." Kalimat itu sukses membuat pipi Hermione memanas. Tetap saja, meskipun mereka menikah sudah hampir tiga tahun (yang rasanya baru kemarin, pikir mereka), entah mengapa Hermione dan Draco masih merasa seperti pengantin baru setiap saat. Tersipu saat sesuatu menggelitik hati mereka ataupun merajuk manja saat sesuatu mengusik hati mereka, dan semua itu akan berakhir di suatu tempat; tempat tidur king size milik mereka berdua. Kau tahu maksudku.
"Aku mencintaimu, My Dragon."
"Aku lebih mencintaimu, My Angel."
"No, I love you more."
"Nah, I love you way way way more."
"But I love you most."
"Shut up, baby. I love you beyond infinity." Hermione tak dapat berbuat banyak ketika dirasanya pinggulnya melayang dan sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya. Ia tersenyum dalam ciuman yang diberikan Draco dan membalas ciuman itu tak kalah dalam.
"Kau curang." Wanita bersurai cokelat itu masih tersenyum lebar.
"Nooo! It's fact. I love you so much, Hermione Granger. My perfect enemy, my perfect soulmate."
.
~oOo~
.
"Sial! Mau sampai kapan kalian selalu gagal melacak keberadaan mereka? Dasar bodoh!" Sesosok wanita berambut hitam pekat mengumpat kesal ke arah tiga orang berbadan besar di hadapannya.
"Maafkan kami, Nona. Tapi mereka memang sangat sulit ditemukan. Tak ada informasi apapun yang valid dengan identitas mereka."
"Itu bukan urusanku! Aku sudah membayar kalian dengan sangat mahal tapi kalian bahkan tak bisa membuatku senang! Kalian mata-mata dengan bayaran tinggi, yang benar saja?!" Sosok itu melipat tangan di depan dada, napasnya terengah karena amarah. Sementara ketiga pria di hadapannya hanya menunduk dengan kedua tangan berada di depan.
"Apa yang kalian tunggu?! Go find them again, you moron!" Setelah ketiganya pergi, wanita itu dengan cepat mengambil tempat di sebuah kursi kayu antik berukir, memijat keningnya keras. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai hal. Ia merasa frustrasi. Bagaimanan tidak? Ia sangat merindukan sosok pria blonde yang seolah telah mutlak menjadi pusat obsesinya itu, Draco Malfoy. Bahkan ia rela mengubah penampilannya sampai meninggalkan Dunia Sihir guna melaksanakan aksinya, tapi tetap saja hasilnya nihil seolah pangeran pujaan hatinya itu menghilang diremuk badai. Memikirkan itu semua, Astoria Greengrass sontak berteriak histeris, menarik surai hitam sebahunya tanpa sadar.
"Aaaaaarghh! I'll find you soon Draco, and of course your filthy Mudblood too!"
.
~oOo~
.
Setelah kepergian Draco Malfoy, semakin hari Narcissa tampak lebih kurus dari sebelumnya. Tulang pipinya terlihat lebih menonjol sementara atensi yang selalu bersinar anggun memancarkan kearistokratannya seolah hilang ditelan kesedihan yang merundungnya. Lucius sudah berkali-kali berusaha untuk membuatnya tak memikirkan banyak hal tapi tetap saja hampir tak berpengaruh sama sekali. Putra semata wayangmu yang teramat kau sayangi pergi begitu saja hanya dengan selembar surat yang menyatakan bahwa ia akan baik-baik saja, kutebak dengan pasti bahwa itu tak berarti akan membuatmu baik-baik saja, bukan? Ibu mana yang tak khawatir? Kupikir takkan ada.
Dan meskipun Lucius juga tak banyak bicara, tapi Narcissa yakin benar bahwa suaminya itu juga merasakan hal yang sama dengan dirinya. Ia tahu Lucius bukanlah tipe ayah dan suami yang terbuka, tapi berpuluh-puluh tahun bersama pria itu membuatnya mengerti dengan sifat tersembunyi pria itu yang sangat jarang mengapung di permukaan. Ia selalu tahu ketika Lucius menyendiri di ruang kerjanya paling tidak mata kelabu pria itu akan berair dan memerah. Hanya saja ia terlampau gengsi untuk menunjukkan segalanya di hadapan Narcissa, istrinya. Ingat? Ia seorang Malfoy yang harga dirinya bahkan hampir menyentuh langit. Dan Narcissa tak pernah bertanya ataupun hanya sekadar mengusik lebih jauh, karena ia mengerti bahwa jauh di lubuk terdalamnya, Lucius masih memiliki hati yang sebagian besar sosok ayah miliki. Namun pria itu selalu mampu menyembunyikan emosinya dengan topeng dingin yang seolah telah menyatu dengan wajah kakunya. Narcissa tahu semuanya.
Pernah sekali ia mendapati Lucius yang mengigau menyebut nama Draco di dalam tidurnya. Kontan Narcissa bangun dan menelisik lebih dalam ke arah suaminya itu, mencari-cari apakah pria itu benar-benar merindukan Draco, putra mereka? Buah cinta mereka? Dan entah mengapa melihat kerutan-kerutan halus di dahi suaminya membuatnya menitikkan air mata. Ia sadar akan kesalahan yang pernah mereka perbuat di masa silam. Ia mencoba mengerti keputusan Draco, putranya itu berhak memilih demi kebahagiaannya sendiri. Cukup sudah mereka telah menyita segala hal itu selama belasan tahun hidup Draco.
"Kau mau teh?" Suara berat itu menyentaknya. Mau tak mau wanita itu tersenyum tipis, meski hanya terlihat segaris, menandakan jawaban 'ya'. Tak lama kemudian, Lucius datang dengan dua buah cangkir teh hangat beraroma kayu manis di tangannya. Tak ada yang tahu bagaimana persisnya sejak kepergian Draco, Lucius berubah. Dalam hal yang baik, tentu saja. Sejak saat itu ia menjadi sedikit banyak memerhatikan istrinya, Narcissa Malfoy. Toh, semua orang tahu kalau Lucius Malfoy bukanlah sosok yang pandai memanjakan wanita ataupun menunjukkan emosinya di hadapan wanita bahkan istrinya sendiri. Tapi semua orang bisa berubah, 'kan? Dan hal itu sedikit terlalu membuat Narcissa senang. Ya, sedikit senang namun lebih sering terlalu senang. Entahlah. Ini terasa seperti di awal-awal pernikahan mereka dulu. Dan tentu saja Narcissa menyukainya.
"Jadi bagaimana?" Narcissa menyeruput teh hangat buatan Lucius yang rupanya tak kalah enak dengan buatannya sendiri, diam-diam Narcissa memuji.
"Belum ada kabar, tapi pencarian masih dilakukan." Terdengar hembusan napas keras sementara Narcissa hanya mengangguk samar.
"Jadi bagaimana kabarmu?" Lucius kembali membuka percakapan dan tentu saja Narcissa suka diperhatikan seperti ini. Wanita separuh baya itu tersenyum, kali ini senyumnya nyaris mencapai telinganya, entah mengapa, dan ia juga tak ingin repot-repot untuk menahannya.
"Aku baik, Lucius. Terima kasih."
"Janganlah terlalu banyak memikirkan Draco." Senyum di wajah Narcissa sontak menghilang. "Aku yakin dia baik-baik saja. Draco adalah seorang Malfoy yang kuat, apalagi Ms. Granger bersamanya." Sejujurnya Lucius selalu bimbang harus memanggil Hermione dengan sebutan apa dan menurutnya 'Ms. Granger' merupakan panggilan yang pas di bibir setipis sari apelnya. Bukan berarti ia masih tak menyukai pahlawan perang yang tangguh itu, hanya saja mungkin ia belum sempat merasa akrab dengannya namun apa daya, keadaanlah yang berkata demikian. Mereka memang belum sempat mengenal lebih jauh satu sama lain.
"Ya, kupikir juga begitu. Hermione bisa melindungi ribuan penyihir ketika perang, aku yakin ia pasti lebih bisa melindungi dan menjaga Draco kita." Berbeda dengan Lucius, Narcissa entah bagaimana telah merasa akrab untuk memanggil istri Draco itu dengan nama depannya. Matanya yang tajam tampak menerawang jauh ke depan, ke arah jendela besar di lantai dua Malfoy Manor. Lucius hanya mengangguk dalam diam dan baru akan kembali menyeruput tehnya ketika sebuah ketukan di balik jendela memecah fokusnya.
'Tok ... Tok ... Tok ...' Suami istri Malfoy itu menoleh bersamaan. Lalu kemudian ...
"Libby!"
'POP!' Seiring dengan bunyi 'POP' yang nyaring, sesosok peri rumah bertubuh kecil dengan telinga lebar muncul membungkuk.
"Yes, Mistress?" Mata bulat besarnya menengadah.
"Tolong, lihat dan buka jendelanya." Ah, bukan rahasia lagi. Meskipun keluarga Malfoy masih memiliki beberapa Peri Rumah untuk dipekerjakan, nyatanya sekarang mereka lebih memilih untuk bertutur dan bertindak lebih sopan dibanding sebelumnya. Lagipula para Peri Rumah yang bekerja di Manor dengan senang hati melayani mereka. Percayalah, tak ada yang tak mungkin di dunia sempit ini.
Libby berjalan terbungkuk lalu memeriksa jendela besar sesuai titah Narcissa dan seketika mendapati seekor burung hantu berbulu abu-abu tengah bertengger di kusen jendela dengan sebuah surat di kakinya. Dengan sekali jentikan, sepotong cracker muncul di salah satu permukaan tangan Libby. Ia memberikannya ke burung hantu berbulu abu-abu itu dan kemudian burung itu segera pergi pertanda bahwa ia tak memerlukan sebuah balasan surat. Libby berbalik dengan memegang surat itu dan memberikannya perlahan ke Narcissa yang sudah menunggunya.
"Please, Mistress."
"Terima kasih, kau bisa pergi." Dengan itu, bunyi keras POP kembali terdengar, namun kali ini sosok Peri Rumah yang bernama Libby itu turut menghilang. Narcissa menatap Lucius yang dibalas dengan anggukan. Jemari lentiknya mencoba membuka amplop tanpa nama itu, tentu saja ia merasa heran. Sangat aneh, seseorang mengirimkan surat beramplop tanpa nama padanya? Namun keraguannya berganti dengan keterkejutan luar biasa sepersekian detik setelah ia berhasil membuka dan melihat isi surat di dalamnya. Inisial DM benar-benar membuatnya senang bukan kepalang. Sambil menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya yang bebas, ia menoleh ke arah Lucius yang tampak sama terkejutnya. Pria paruh baya itu terlihat sangat tertarik dan seketika mendekat ke arah istrinya, Narcissa.
"Dari Draco, Lucius. Aku tak percaya ini." Lucius hanya mengangguk dan menginstruksikan sebuah gerakan kecil agar Narcissa lekas membaca suratnya.
Dear Mother and Father
Bagaimana kabar kalian? Kuharap baik, sepertiku dan Hermione di sini. Maafkan aku yang tak pernah memberi kabar. Bukannya aku tak mau, tapi aku benar-benar tak bisa dan kalian tahu sendiri sebabnya. Aku sangat merindukan kalian dan suasana di Manor. Tapi untuk saat ini kami belum bisa kembali hingga situasinya membaik dan kuharap itu segera terjadi.
Mom, Dad ... Kalian tahu? Aku punya berita baik dan penting untuk kalian yang membuat tanganku sangat gatal untuk menulis surat ini agar kalian bisa tahu secepatnya. Kabar baiknya adalah bahwa kalian akan segera memiliki cucu. Hermione-ku hamil. Aku sangat senang, dan kuharap kalian bisa turut merasakan kebahagiaan yang kami rasakan saat ini. Kuharap segala permasalahan ini bisa segera berakhir, aku ingin kalian melihat anakku nantinya.
Aku akan kembali menulis untuk kalian segera. Kumohon jaga kesehatan kalian berdua. Aku menyayangi kalian.
DM
p.s. : Hermione titip salam untuk kalian. Oh ya, sekarang usia kehamilannya sudah hampir sebulan.
"Lucius, kita akan segera punya cucu!" Naricissa memekik kegirangan, menutup mulutnya tak percaya dengan sebelah tangannya yang bebas. Matanya berlinang senang, bukan main senangnya! Dan untuk pertama kalinya setelah kepergian Draco, Narcissa bisa melihat Lucius yang tersenyum dengan garis lengkung yang nyaris mencapai telinga. Narcissa semakin senang melihat reaksi suaminya itu. "Aku tak sabar untuk menerima surat selanjutnya," lanjutnya lagi sementara Lucius hanya mengangguk antusias.
.
~oOo~
.
Hermione bersenandung kecil sembari menata dua piring di atas meja makan kecil dengan dua buah kursi. Hari ini Draco bilang akan pulang makan siang dengannya dan tentu saja Hermione merasa senang. Ia telah menyiapkan menu makan siang yang menurutnya sederhana, tapi merupakan kesukaan Draco; pasta (varian apapun, dan kali ini Hermione memasak spaghetti) dan kentang tumbuk serta beberapa buah-buahan segar. Ah, masalah buah, kupikir bukan rahasia lagi jika Draco sangat menyukai apel hijau dan Hermione menyiapkan buah itu dua kali lebih banyak dari buah-buahan lainnya.
"Sayang, aku pulang!" Hermione seketika berdiri dan berlari kecil ketika didengarnya suara Draco dari balik pintu. Dengan senyum sumringah, wanita itu membuka pintu untuk suaminya. Draco langsung mengecup kening istrinya dan juga ikut tersenyum. Ia merangkul istrinya sayang.
"Honey, aku sudah sangat lapar," rengeknya. Wanita yang dipanggilnya 'honey' itu mencubit pinggang Draco kemudian tertawa setelah melihat pria itu mengerang berlebihan.
"Aku yakin tak sesakit itu," komentar Hermione sambil mengambil tempat duduk di meja makan, menunggu Draco meletakkan bokong di seberangnya.
"Ternyata kau masih singa liar yang—ouuuch!" Draco mengelus kepalanya yang baru saja dijitak Hermione dengan keras. "Terkadang aku berpikir apakah ular sepertiku benar-benar takluk terhadap singa kejam sepert—ouuuch! Aku bercanda, Sayaaaaang!" Pukulan kedua tak terelakkan namun beberapa detik setelahnya Draco juga terkekeh melihat wajah istrinya yang cemberut.
"Rasakan! Satu jitakan dariku dan pukulan lainnya dari anak kita." Wanita itu tampak imut dengan bibir yang mengerucut sementara kedua tangannya terlipat rapi di depan dada. Draco tersenyum, berdiri dan kemudian berlutut di hadapan Hermione.
"Kau tahu, Love. Kau memang 'singa'. Singa betina yang selalu mampu membuat ular di perutku menciut ataupun bergerak senang hanya karena satu atau dua auman darimu." Wajah Hermione memerah namun masih enggan menoleh. "Oh, lihat! Dasar tikus nakal!" Draco menjerit berlebihan. "Di bawah kakimu, Sayang!" Dengan itu Hermione berdiri dan bergerak-gerak heboh dengan wajah ketakutan.
"Mana? Di mana, Draco?!" Hermione memekik histeris.
GOTCHA! Draco menyeringai licik dan seketika sebuah ide jahil muncul di kepala pirangnya. Sementara Hermione masih sibuk berteriak dan bergerak-gerak mencari keberadaan tikus yang nyatanya tak pernah ada itu, Draco mengambil kesempatan untuk segera duduk di tempat Hermione.
"Di sana, Sayang!" Telunjuk panjang Draco menunjuk ke suatu arah, di belakang Hermione, membuat wanita itu mundur secara brutal dan tanpa sengaja menubruk Draco, jatuh terduduk di atas pangkuan pria itu yang lantas menyeringai mesum. Ia mendekap istrinya sangat erat dan berbisik sensual di telinga Hermione yang membuat wanita itu sedikit bergidik.
"Tikusnya ada di celanaku." Hermione menatap lurus ke arah sebuah toples dengan tutup berwarna merah dan seketika menyadari bahwa wajahnya sekarang pasti tak ubahnya tutup toples itu.
"Ap-apa mak-maksudmu, Draco?" Setelah beberapa detik yang hening berlalu, Draco Malfoy terbahak keras, Hermione menoleh dan menyipitkan mata tak suka.
"Tikusnya di celanaku, Sayang," bisiknya lagi, masih menggoda.
"Dasar pria mesum!" Draco kembali tergelak sementara Hermione berusaha sekuat tenaga melepaskan diri namun lengan kokoh Draco menahannya.
"Ayo kita makan." Sekali lagi wanita itu menoleh dan mendapati wajah Draco yang sangat dekat dengan wajahnya.
'CUP'. Sebuah ciuman lembut mendarat di bibir Hermione. Pria itu memberikan senyum termanisnya sedang Hermione masih sibuk mengatur ritme jantungnya. Oh, percayalah, terkadang Draco bisa bersikap sangat-sangat romantis seolah mereka baru menikah kemarin!
"Ba-bagaimana bisa?" Hermione mencicit dan Draco hanya tersenyum, yang anehnya semakin lebar.
"Begini." Ia meraih makanan di hadapannya, mengambil pasta di satu piring kemudian menyuapkannya ke mulut Hermione. Wanita itu kembali memerah diperlakukan seperti putri kecil oleh suaminya sendiri namun tak urung ia membuka mulut dan mengunyah pasta buatannya itu. Enak juga ya buatanku, batinnya. Satu sendok kembali melayang ke arahnya, membuatnya kembali reflek membuka mulut.
"Berbaliklah," titah Draco. Wanita itu menurutinya dan Draco tersenyum semakin lebar melihat mulut Hermione yang masih penuh dengan spaghetti yang sebagian masih menjuntai cukup panjang di bibirnya. Tanpa menunggu lama, pria Slytherin itu memulai makan siangnya dengan spaghetti dari mulut Hermione, menghisapnya dengan tidak sabar yang berakhir dengan bertemunya bibirnya dan juga bibir Hermione. Draco menggeram rendah dan menutup matanya, makan siangnya berubah menjadi ciuman panas yang sangat menggairahkan. Beberapa saat kemudian mereka melepas ciuman itu ketika keduanya merasa butuh pasokan oksigen. Wajah Hermione memerah dan ia berani bersumpah bahwa wajah pucat Draco juga mengeluarkan semburat merah di kedua pipinya. Lama mereka bertatapan seperti itu dan kemudian ... mereka tertawa renyah bersamaan.
"Kau benar-benar mesum."
"Tapi kau menyukainya," balas Draco masih tersenyum dan Hermione mencubit pipi suaminya itu gemas, namun tiba-tiba suatu hal mengusik perhatian Draco, manik abunya memicing ke arah dinding dapur. "Aku baru tahu kau suka dengan benda-benda langit?" Hermione mengikuti arah tatapan suaminya dan seketika tersenyum dan mengangguk, ia senang Draco menyadari lukisan baru yang diletakkannya di dapur itu. Well, meski sebenarnya lukisan benda langit itu tak begitu cocok diletakkannya di ruangan seperti ini, Hermione membatin, menilai selera anehnya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Ia suka memandanginya dan merasa jauh lebih nyaman ketika ia memasak ditemani lukisan itu.
"Tentu saja. Ke mana saja kau?"
"Hey, bukankah itu Uranus?" Tanpa menanggapi perkataan Hermione sebelumnya, kini Draco malah menunjuk lukisan di dinding itu lagi, ke arah sebuah planet yang dipanggilnya 'Uranus'. Pria itu merasakan Hermione yang menganggukkan kepalanya di pangkuannya.
"Can I take a look at Uranus then, Hermione?" Draco bertanya serius dan Hermione lagi-lagi tersenyum.
"Tentu sa—" Kalimat itu tak pernah sampai karena senyum Hermione tetiba menghilang digantikan dengan kening berkerut dan alis padat yang seolah sudah hampir menyatu tepat di tengah.
"Ouuuchhhh!"
"Itu pantas untuk pria mesum sepertimu!" ujar Hermione setelah mencubit paha Draco dengan keras, membuat suaminya itu mengaduh kesakitan.
"Salahkah jika aku mesum kepada istriku sendiri? Atau kau mau aku bersikap mesum terhadap wanita lain—oouchhh! Kenapa kau sangat kasar, Sayang?" Hermione bangkit berdiri dan menjulurkan lidahnya ke arah Draco lantas mengambil tempat di hadapan pria itu.
"Kau membuat pastanya dingin," omel Hermione jengkel. Untuk sesaat Draco memasang wajah cemberut lalu kemudian berubah serius hanya dalam beberapa detik setelahnya. Hermione yang menyadari perubahan itu merasa penasaran. "Kenapa?" Draco menggeleng-gelengkan kepalanya, tersadar bahwa Hermione baru saja memergokinya, samudera kelabunya berpindah cepat memandangi wajah cantik istrinya.
"Ada yang ingin kubicarakan dan ... ini penting."
"Apa itu?"
"Hermione, kau tahu 'kan aku sangat mencintaimu?" Hermione mengangguk dan Draco kembali melanjutkan. "Aku sangat senang begitu mendengar kabar dirimu hamil beberapa bulan lalu, aku tak bohong tapi aku benar-benar merasa menjadi pria paling beruntung sedunia." Hermione menunggu. "Tapi aku sadar, Hermione, hidupku sudah tak seperti dulu lagi. Maksudku kau akan segera melahirkan dua-tiga bulan kedepan." Hermione kembali mengangguk. "Aku butuh pekerjaan baru dengan gaji yang cukup untuk membiayai persalinanmu, Honey." Sekarang Hermione tampak mengerti arah pembicaraan Draco, ia menunduk dan mengelus sayang perutnya yang semakin hari tampak semakin membesar. "Aku mendapat tawaran kerja baru dengan gaji yang bisa dibilang sangat cukup untuk persiapan kelahiran anak kita nanti. Jadi ..." Draco memberi jeda, ia menggigit bibir bawahnya gelisah. "Apa kau mengijinkanku?" Tiga detik berlalu dan Hermione mengeluarkan tawa renyah lalu kemudian menjawab dengan cepat.
"Tentu saja, Draco-ku sayang. Kenapa tidak boleh?" Wanita itu tersenyum yang diam-diam membuat Draco kembali mengaguminya dalam hening.
"Tapi ... Pekerjaan ini di London," jelas Draco menatap dalam-dalam ke arah bola mata cokelat Hermione Granger. Namun ketika dilihatnya Hermione yang sedikit menganga karena terkejut, pria itu buru-buru menambahkan, "Di perusahaan Muggle, tentu saja. Cukup jauh dari jangkauan Dunia Sihir. Kurasa aku harus terbiasa berinteraksi dengan Muggle sekarang." Hermione menutup mulutnya, tampak berpikir. Hembusan napas keras terdengar setelahnya.
"Baiklah." Draco Malfoy tersenyum. "Tapi aku ikut." Pria itu kembali mengangguk antusias. "Kupikir aku juga rindu dengan kedua orangtuaku dan sahabat-sahabatku di London. Bisakah kita menemui mereka kali ini?" Draco tampak khawatir dan hening yang cukup lama menyelimuti mereka berdua. "Aku juga ingin bertemu orang tuamu, bagaimanapun mereka adalah mertuaku dan aku tak mau menjadi menantu durhaka." Hermione terkekeh. Ah, Malfoy Senior. Jujur, Draco juga sangat merindukan kedua orangtuanya itu. Bagaimana kabar mereka sekarang? Terakhir kali ia menyuratinya ketika usia kehamilan Hermione menginjak tiga bulan, itu berarti sudah sekitar empat bulan yang lalu. Sudah sangat lama. Mungkin dengan sedikit mencuri waktu dan bertemu dengan mereka semua di suatu tempat rahasia yang cukup jauh dari jangkauan Dunia Sihir merupakan tindakan aman? Err, mungkin saja. Draco hara begitu.
"Alright, we'll meet them all soon." Draco bangkit berdiri dan mengecup bibir Hermione lama.
.
.
.
To be Continued
.
.
Halo, para readers setia MBiF! (semoga ada, ya). Setelah setahun bertapa (maafkan saya.. chapter selanjutnya tidak akan selama ini, target update sudah ada), akhirnya saya mendapatkan mood yang bagus untuk kembali melanjutkan cerita ini (ini 3k+ lho, without author's note). Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya galau antara dua (atau tiga) kemungkinan endingnya; happy ending atau sad ending (atau gantung? atau justru twist?). But aha! I have decided the ending already and I think I'm sure enough about it. Tapi masih rahasia, ya. Kalau penasaran, silakan kalian tunggu chapter-chapter selanjutnya. We're almost there, we're almost there! Hehe, ya tidak akan lama lagi tamat. Sekarang sudah chapter 27 ya, maaf jika kebanyakan chapter. Tapi percayalah, ini karena saya tak ingin buru-buru juga hingga terkesan endingnya maksa, ya 'kan?
Dan ah, saya baru menyadari betapa kacaunya chapter kemarin, kenapa paragraf-paragraf akhir ter-italic sendiri ketika publish, ya? Rasanya berantakan sekali, saya minta maaf dan mungkin saya tak bisa mengeditnya kembali. Tapi kabar baiknya, MBiF akan hadir 'with a better version' on Wattpad. Ini karena saya merasa geli setelah membaca ulang beberapa chapter, saya melakukan banyak kesalahan ternyata. Untuk itu saya berniat me-repost fic ini di Wattpad dengan versi yang lebih rapi dan nyaman dibaca, perubahan-perubahan kecil mungkin juga bakal ada. Nah, kalau kalian mau baca nantinya, silakan bisa follow saya MsLoonyanna. Atau mau tanya-tanya sesuatu via FB, juga boleh: Ms. Loony Lovegood.
(Btw, lelucon tentang "Uranus" sebenarnya leluconnya Ron, ya, kalau kalian baca bukunya. Yang gak paham, saya yakin karena kalian masih innocent xD)
Terakhir, saya haturkan terima kasih banyak bagi yang sudah review di chapter sebelumnya, dan juga untuk favs dan folls-nya, tentu saja. It means a lot! Hope you liked this one too! Let me know your thoughts through clicking the review button below:)
(maaf untuk note yang panjang, saya suka berceloteh)
.
.
.
Bunch of love,
Ms. Loony Lovegood
