Harry Potter © J. K. Rowling
My Blood is Ferret © Ms. Loony Lovegood
Setting at Hogwarts, 7th Year
After Hogwarts War
Romance-Drama-Hurt/Comfort
•••
Sorry for the typos and all mistakes (if I did).
Happy reading!
.
.
Hermione
Dua bulan sudah sejak Draco berkata padaku untuk segera pindah ke London dengan alasan yang—yeah, kalian-tahu-apa. Jujur saja, selama dua bulan itu pula aku nyaris setiap hari bergulat dengan pikiranku sendiri tentang keputusan yang akan kami ambil ini. Bukannya aku tak memercayai Draco, hanya saja ... err, entahlah. Ada sesuatu yang kecil–namun cukup kuat–yang seolah selalu memaksaku untuk berpikir kembali dan mengubah rencana secara total. Tapi, sayangnya aku tak pernah tahu pasti apa itu dan kenapa harus demikian. Maksudku, bukannya kami akan tinggal di kawasan muggle yang jauh dari jangkauan dunia sihir? Lantas, apa yang harus aku khawatirkan? Ini hanya faktor kehamilan kukira.
"Hermione, kau siap?" Aku sedikit tersentak ketika mendapati kepala pirang yang menyembul dari balik pintu kamar. Bukan apa-apa, dengan posisiku yang tengah menghadap cermin, sempat kupikir kalau itu adalah ... ah, sudahlah. Itu jelas-jelas Draco-ku.
Aku memutar tubuh ke belakang dan melemparkan seulas senyuman sebelum mengangguk kecil, kulihat ia melakukan hal yang sama. Tak butuh waktu lama, Draco pun segera masuk ke kamar kami dan membantuku membawa beberapa barang yang memang perlu kami bawa ke London. Well, jika kalian berpikir bahwa kami akan menjual rumah ini, berarti kalian salah. Faktanya, kami berdua sudah mantap memutuskan bahwa pada akhirnya kami akan kembali ke rumah ini lagi. Kuharap Paul—lelaki tua yang bekerja dengan menyewakan kapalnya kepada turis-turis yang datang ke pantai—dapat menjaga rumah kami dengan baik selagi kami berada di London.
Memang lokasi rumah kami agak terpencil dari pusat kota dan bahkan masih butuh sekitar kurang lebih satu kilometer untuk sampai ke rumah Paul. Namun, jikalau sudah nyaman, harus bagaimana lagi? Lagi pula, Draco sudah bisa mengandarai mobil—salah satu hal yang masih teramat kubanggakan hingga detik ini, jadi tak masalah. Dan berbicara mengenai Paul, kami mengenalnya dengan cukup baik selama hampir tiga tahun kami tinggal di sini. Beberapa kali mampir ke rumahnya membuat aku dan Draco mudah akrab dengannya. Selain itu, istrinya pun merupakan seseorang yang sangat ramah, sungguh. Sayangnya, mereka tak memiliki satu pun keturunan. Kurasa itu sebabnya mereka bisa sangat menyukai aku dan Draco hingga kami bisa dekat seperti sekarang ini. Ya, intinya mereka adalah orang yang baik dan kami saling percaya satu sama lain.
Ah, ngomong-ngomong, karena usia kehamilanku yang sudah menginjak sembilan bulan, maka kami memutuskan untuk menggunakan cara biasa ke London. Aku tahu ber-apparate tentu saja akan sangat memudahkan dan menghemat banyak waktu, tapi ya ... begitulah. Mana mau Draco membiarkanku melakukan itu? Percayalah, sekarang ia berubah menjadi pria manis yang super protektif terhadapku. Ia bahkan tak lagi memperbolehkanku untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya sudah menjadi tugasku. Jadi, ya ... bisa kalian tebak sendiri bahwa selama beberapa bulan terakhir, Draco lah yang berperan besar dalam hal kebersihan rumah kami. Bukannya aku malas dan mau menjadi istri durhaka, tapi apa boleh buat? Itu titahnya padaku.
Pernah sekali aku melakukan hal-hal biasa yang aku lakukan secara diam-diam ketika ia tak berada di rumah, namun setelah ia tahu, aku justru berakhir dalam gendongannya dan diperlakukan bak seorang princess selama beberapa hari setelahnya. Ia bahkan rela membuat sarapan dan makan malam untuk kami. Aku hanya kebagian membuat makan siang, kau tahu. Untungnya itu hanya berlangsung beberapa hari atau aku akan merasa sangat berdosa dan semakin tak enak padanya. Oh ayolah, sebelum kami bersama, kalian tahu betul seperti apa seorang Draco Malfoy. Ia termasuk anak 'mama' yang sangat dimanja. Ataukah aku harus menyebutnya anak 'papa'? Berhubung Draco yang dulu selalu menyangkutpautkan segala sesuatu dengan kekuasaan ayahnya. Tanpa sadar bibirku terangkat membentuk sekurva senyuman.
"Kau baik-baik saja, Love?" Lagi-lagi aku mendengar suara bariton mengusik segala pikiran dalam kepalaku. Ya, itu Draco.
"Kita harus segera ke bandara atau kita akan ketinggalan pesawat." Aku mengangguk dan sekali lagi memandangi kamar kami untuk yang ke-terakhir kalinya sebelum mengangkat kakiku keluar dari ruangan ini. Bukannya aku ingin berfirasat buruk, hanya saja ... entahlah, aku hanya merasa bahwa aku akan sangat merindukan rumah kami ini. Semoga segala sesuatunya berjalan lancar sehingga kami bisa segera kembali ke sini sesuai rencana awal.
Ya, semoga.
•••
"Come on, Love. Aku sudah menyiapkan semuanya. Kita kebagian kamar 309. Well, itu adalah kamar di lantai terendah yang bisa kudapatkan, lainnya penuh. I hope you're okay with that?" Aku mengangguk sebagai jawaban. Melihat usia kandunganku yang sudah setua ini, aku memang sudah tak bisa banyak bergerak. Setidaknya jika lift-nya mati—yang kuharap tidak—aku tak perlu menggunakan banyak anak tangga.
Kami berjalan beriringan menuju ke lantai tiga dengan Draco yang sesekali menanyaiku apa aku baik-baik saja. Ugh, sudah kubilang, Draco sangat protektif selama aku mengandung. Tepat di saat lift berdenting terbuka, Draco mengecup bibirku sekilas sebelum menggamit tanganku dan menuntunku menuju ke apartemen yang akan kami tempati selama beberapa waktu ke depan. Aku sibuk memperhatikan sekitar sebelum Draco bersorak kecil karena ia berhasil membuka pintunya dan tepat pada saat itu, aku melihat sesosok familier yang melintas di ujung lorong. Namun, setelah aku mengedipkan mata, sosok itu menghilang. Ah, mungkin aku hanya kelelahan.
"Welcome to our new homie!"Draco berseru senang, membuat atensiku berhasil teralihkan sepenuhnya. Aku tertawa kecil sebelum memasuki tempat tinggal baru kami ini.
Semoga Merlin memberkati.
•••
Aku dan Draco tengah duduk bersantai dan menonton serial televisi muggle sembari menikmati semangkuk es krim (well, juga buatan muggle) rasa vanila—mint untuk Draco. Ya, Draco kini sudah tak asing dengan berbagai benda-benda muggle dan tentu saja hal itu membuatku senang bukan kepalang—oh, by the way, aku sudah terlalu banyak menyebutkan kata muggle. Dan, well, kalau kalian ingin tahu, ini sudah hampir seminggu sejak kami menempati apartemen ini. Aku merasa sedikit lega karena sejauh ini tak ada satu pun hal aneh yang terjadi, tak sesuai dengan rasa paranoidku beberapa hari sebelumnya. Hm, sepertinya aku saja yang terlalu berlebihan.
Ngomong-ngomong, Draco dan aku sudah memutuskan bahwa kami akan mengunjungi kedua orangtuaku pekan ini–setelah Draco bertemu dengan kolega kerjanya di hari Sabtu. Jujur, aku merasa sangat senang. Maksudku, sudah berapa lama aku tak melihat mereka? Tapi, di sisi lain aku juga merasa khawatir. Jika kami akan mengunjungi kedua orangtuaku, itu artinya kami juga akan mengunjungi kedua orangtua Draco. Apa benar perkataan Draco bahwa Lucius dan Narcissa sudah bisa menerimaku? Bagaimana jika mereka hanya berpura-pura? Ap—
"DRACO!"
Aku berteriak secara refleks ketika lampu apartemen padam secara mendadak. Gesekan sendok dengan mangkuk pun tiba-tiba menghilang. Dengan cukup panik, aku sibuk meraba-raba sekitar dan seketika bertambah panik tatkala aku tak berhasil menemukan Draco di sampingku. Perasaanku jadi tak enak–terlebih di saat aku tetiba merasakan embusan napas hangat yang seolah memenuhi leher belakangku.
Waswas, aku segera berbalik dan bersamaan dengan itu pula lampu apartemen kembali menya—
"Aaaaaarrghhhhh!"
.
.
.
To be continued ...
Halo, ada yang kangen Loony? OMG! Udah lama banget gak main ke FFn karena kena internet positif T_T Hari ini nyoba pakai app bantuan dan BERHASIL! YAYYY! Anyway, guys, kalau kalian punya Wattpad, follow me there MsLoonyanna. Because actually ada chapter tambahan sebelum ini, tapi enggak bisa di-edit karena itu berarti harus rombak dan re-upload semua file di FFn. I know it sucks, so if you wanna read the better and longer version of MBiF, just find me there. A few more chapters left to the end! We're close!
Aight, I think that's all. See ya!
P.S. Sorry kalau chap ini enggak rapi, langsung di-copas ke file FFn, bukan word.
.
.
Salam,
MsLoonyanna❤
