CAST
- Byun Baekhyun
- Park Chanyeol
- Park Jesper
- Park Jackson
- Kim Jongin
GS/CHANBAEK/DRAMA/MARRIAGE LIFE/ROMANCE/FLUFFY/FAMILY/RATE M
"Good morning, sweetheart..."
Baekhyun mengerjap lirih saat suara husky Chanyeol mengalun syahdu di pendengaran. Suara serak yang terdengar menggoda dan diam-diam menjalarkan seberkas rasa hangat di hatinya.
Baekhyun sengaja menajamkan pendengarannya, memastikan jika sapaan manis yang ia dengar sedetik lalu bukanlah bagian dari bunga tidurnya. Benarkah ini Chanyeol? Mantan suaminya yang berotak bebal dan sering bertingkah menjengkelkan?
"Bagaimana tidurmu semalam? Apakah nyenyak?"
Baekhyun telah mendengar pertanyaan ini ribuan kali, sebab Chanyeol selalu menanyakan pertanyaan serupa setiap ia terjaga.
Diam-diam Baekhyun merindukan pertanyaan itu. Sebaris pertanyaan yang terdengar sederhana, namun menyimpan kenangan yang rumit.
Ia lantas mengangguk lirih, berujar setuju perihal pertanyaan retoris yang Chanyeol celotehkan. Tentu saja nyenyak, tidur dalam keadaan lelah memang lebih terasa nikmat. Apalagi jika lelah setelah melakukan olahraga malam.
Sejujurnya, Baekhyun merasa canggung dengan keadaan ini. Terjaga dari lelap dengan sepasang lengan kekar yang merengkuh tubuh telanjangnya dari belakang. Sebuah pose intim yang membuat dada bidang Chanyeol kini tak lagi berjarak dengan punggung sempitnya. Chanyeol bahkan tak sungkan menghujani pundaknya dengan kecupan-kecupan hangat, bersikap semanis madu yang membuat Baekhyun seketika blank dan tak tahu harus bereaksi seperti apa.
Baekhyun bergegas memutar tubuhnya, sengaja mengakhiri cumbuan liar yang Chanyeol berikan padanya.
Sipitnya kini menatap sayu ke arah Chanyeol, memandang sepasang manik cokelat serupa Jackson, yang ternyata masih menatapnya dengan cara yang sama. Hangat dan memuja.
Ia membiarkan iris cokelat keduanya beradu pandang, menikmati seraut wajah tampan yang menjadi pemandangan pertamanya saat terjaga.
"Aku tau, kau pasti sedang mengagumi ketampananku kan? Aku tau aku memang tampan...Aku juga terkadang lelah dengan ketampanan ini..."
Chanyeol sama sekali tak berubah, paras tampan yang ia miliki seringkali membuat tingkat kepercayaan dirinya berada pada kasta tertinggi. Overdose. Terdengar sedikit tidak tahu diri, namun sialnya, semua yang ia katakan adalah kenyataan. Baiklah, semua termaafkan karena ia memang benar-benar tampan.
"Tapi aku rasa Jesper dan Jackson jauh lebih tampan daripada kau..."
"Mau ku beritahu satu rahasia?"
"Rahasia apa?"
Chanyeol mengulas sebuah seringai mencurigakan saat melihat Baekhyun mulai terjebak rasa penasaran. Ia menempatkan bibir merahnya di depan telinga Baekhyun, bersiap meracuni Baekhyun dengan sebaris kalimat yang bernada menyesatkan.
"Itu karena spermaku tak hanya hangat dan bisa membuatmu menjerit, tapi juga bisa menghasilkan anak-anak yang tampan seperti mereka...Tak hanya itu, spermaku juga bisa menghasilkan anak perempuan yang cantik sepertimu...Berminat membuktikannya?"
"Omong kosong..."
Baekhyun melayangkan sebuah pukulan manja ke dada Chanyeol. Mengujarkan sebuah protes atas penyataan Chanyeol yang membuatnya malu sekaligus muak. Malu karena Chanyeol begitu vulgar membahas perihal adegan terlarang yang terjadi semalam.
Ya semalam. Setelah Baekhyun berhasil membujuk Jackson agar mau pindah ke kamar Jesper.
"Chanyeol..."
"Yes,Baby..."
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan..."
Chanyeol menangkup kedua belah pipi Baekhyun dengan telapak tangannya, memusatkan seluruh atensinya pada wanita mungil yang kini menatapnya sayu.
"Sesuatu apa? Katakan saja..."
Dengan ke-soktau-an yang setinggi gunung Everest, Chanyeol mencoba meraba arah pembicaraan yang akan Baekhyun ujarkan.
Tatap hangat yang Baekhyun layangkan membuat Chanyeol kian meyakini, bahwa tema pembicaraan kali ini adalah jawaban atas lamaran yang semalam ia ujarkan. Lamaran romantis yang terjadi diatas ranjang dengan status sama-sama sedang birahi. Bukankah lamaran dengan seikat mawar merah dan cincin permata sudah terlalu mainstream?
Monoton dan klise.
Chanyeol telah menyiapkan segenap hati dan jiwanya untuk mendengar jawaban dari Baekhyun. Jawaban yang ia yakini adalah sebuah anggukan lirih penuh kesungguhan, yang akan membuat Baekhyun kembali menyandang marga Park di depan namanya.
Setidaknya, begitulah yang Chanyeol bayangkan.
"Chanyeol...Sebenarnya aku..."
"Aku tau kau juga sebenarnya masih memiliki perasaan yang sama sepertiku... Terimakasih telah memberiku kesempatan kedua,Baek..."
Chanyeol melabuhkan sebuah kecupan singkat di punggung tangan Baekhyun, mengabaikan ekspresi gagal paham yang tercetak di wajah si mungil kesayangannya.
"Tapi Chanyeol..."
"Jangan khawatirkan apapun... Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan kedua jagoan kita..."
"Tapi Chanyeol..."
"Kau meragukanku? Kau takut jika nantinya kita akan gagal lagi?"
"Bukan seperti itu,Chanyeol...Tapi..."
"Anggap saja kegagalan kita di masa lalu adalah cara tuhan untuk mendewasakan kita...Cara tuhan untuk membuat kita sadar, jika sebenarnya kita masih saling mencintai..."
Baekhyun memijit pelipisnya yang mulai berdenyut hebat. Jujur, ia mulai kehabisan akal untuk menjeda ucapan Chanyeol yang terus mengoceh tanpa titik koma. Ocehan yang sama sekali tak ada hubungannya dengan apa yang sebenarnya ingin ia tanyakan.
"Kembalilah bersamaku,Baek...Ayo kita mulai lagi semuanya dari awal...Jika aku saja tak cukup menjadi alasan agar kau kembali,maka kembalilah untuk Jesper dan Jackson...Mereka berhak atas kasih sayang yang lengkap dari orangtuanya..."
Baekhyun menyudahi ocehan berisik Chanyeol dengan sebuah kecupan singkat. Kecupan yang semula hanya ia tujukan untuk membungkam omong kosong Chanyeol,namun nyatanya justru disambut dengan suka cita oleh si telinga yoda. Si pencari kesempatan dalam kesempitan.
Baekhyun tersentak saat Chanyeol tiba-tiba meraup bibir tipisnya tanpa aba-aba. Melumatnya dengan lembut dan sesekali memberikan gigitan kecil agar Baekhyun lekas membalas ciumannya.
Sipitnya reflek terpejam saat Chanyeol menarik tengkuknya dalam sebuah gerakan yang agresif, membuat keduanya kian menyatu dalam pagutan dengan hela nafas yang saling beradu.
Hening yang semula menyelimuti kini mulai terusik. Terusik oleh bunyi kecipak yang lolos bersamaan dengan lelehan saliva yang luruh terurai.
Baekhyun sengaja membiarkan Chanyeol memegang kendali atas cumbuan ini. Memilih menjadi pihak yang hanya melenguh merdu saat lidah Chanyeol mulai menyusup masuk ke dalam goa hangatnya. Mengecap dan menggaris kebasahan di setiap jengkal bibir merahnya. Bibir ranum yang hingga detik ini masih menjadi candu yang memabukkan bagi Chanyeol.
Nikmat cumbuan yang Chanyeol beri, perlahan merayap menuju desimal tertinggi. Baekhyun menjadi kian vocal saat Chanyeol mulai bergerilya menjamah tubuh telanjangnya. Membelai lembut punggung sempitnya, hingga akhirnya sentuhan adiktif itu berlabuh di bokong sintal kebanggaan Baekhyun. Squisshy kenyal yang membuat Chanyeol merasa gemas dan tak bisa berhenti untuk meremasnya.
"Chanyeol...Hentikan..."
Baekhyun merengek di sela ciumannya. Tangan ringkihnya berusaha mendorong pundak Chanyeol menjauh, memaksa Chanyeol untuk mengakhiri pagutannya yang begitu menuntut.
"Kita harus bergerak cepat,Baek...Bukankah kau sudah berjanji akan memberikan seorang adik bayi pada Jackson?"
"Sebaiknya kau ingat, jika semalam kau telah orgasme berkali-kali...Rahimku sudah tidak mampu lagi menampung spermamu,Park Chanyeol..."
"Sekali saja...Kumohon..."
Chanyeol mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Membuat gesture mengiba dengan bibir yang telah sempurna mengecurut, meniru apa yang sering Jackson lakukan ketika merajuk.
"Tidak bisa...Kau harus segera berangkat kerja,Chanyeol...Aku hanya tidak ingin kau dipecat dan akhirnya jadi gelandangan..."
"Sekali saja...Jika kau lelah,kau tak perlu melakukan apapun...Kau hanya perlu mendesahkan namaku dan memintaku untuk menusukmu lebih dalam..."
"Berhentilah berbicara mesum,Park Chanyeol..."
"Sekali saja,Baek...Ini sangat menyiksa..."
Ujung telunjuk Chanyeol mengarah pada selatan tubuhnya yang mulai ereksi,mengacung tegak dengan urat-urat menggoda yang membuat Baekhyun harus menelan salivanya susah payah.
Jangan tergoda,Baek...Jangan...Atau kau akan kesusahan berjalan setelah ini.
Chanyeol meraih jemari lentik Baekhyun, menuntunnya agar menangkup little Chanyeol yang tengah menanti sebuah sentuhan hangat.
"Selesaikan sendiri...Aku harus bangun dan mengurus anak-anak kita berangkat sekolah..."
Dengan tenaga yang tak seberapa, Baekhyun mencoba melepaskan diri dari cengkraman Chanyeol. Sekuat hati menahan diri agar tak tergoda pada belalai nakal milik si mesum Chanyeol. Namun naas, Chanyeol justru menarik lengannya, membuat tubuhnya terbanting dan kembali berakhir di bawah kungkungan lengan kekarnya.
"Yak! Chanyeol,apa yang kau lakukan? Cepat keluarkan!"
Baekhyun tersentak saat kedua jari Chanyeol tiba-tiba melesak masuk ke dalam vitalnya. Mengusik dengan gerakan-gerakan sensual yang melahirkan sebuah kebasahan di pangkal paha.
"Chanyeol...Hentikan..."
"Apa? Teruskan?...Baiklah,perintah diterima..."
Baekhyun benar-benar kepayahan menghadapi Chanyeol pagi ini. Kepalanya sesekali terlempar ke belakang dengan leher yang memanjang. Pertahanannya akhirnya runtuh, ia tak lagi mampu menahan serangan Chanyeol pada sekujur tubuhnya.
Chanyeol benar-benar menikmati sarapannya pagi ini. Membenamkan wajah di perpotongan leher Baekhyun, dan mengukir tanda merah keunguan pada area sensitif Baekhyun dalam mode lapar.
"Jangan tandai aku,Chanyeol...Jangan gigit..."
Baekhyun merengek putus asa, tangannya tergerak mencakar punggung Chanyeol dengan kuku panjangnya, melukiskan pola absrak sebagai pelarian atas rasa nikmat yang membuat tubuhnya menggeliat. Namun sialnya, Chanyeol sengaja menuli. Ia hanya menyeringai menang melihat ketidakberdayaan Baekhyun dibawah kuasanya.
"Chanyeol...Hentikan...Jangan goda aku seperti ini..."
Baekhyun mencoba menyingkirkan kedua jari Chanyeol dari vitalnya. Jari kurang ajar yang melesak masuk tanpa permisi dan kini membuat dunianya jungkir balik. Nirwana sekali.
"Kau tak suka jariku ada di dalam sini,hum?"
Baekhyun mengangguk lirih. Sengaja memasang raut mengiba agar Chanyeol menyudahi kegiatannya. Di seraut wajah indah yang dihiasi bulir-bulir keringat pada keningnya. Sebuah pemandangan exotic yang membuat Baekhyun terlihat ratusan kali lebih sexy dari biasanya.
"Baiklah..."
Baekhyun menghela nafas lega saat melihat Chanyeol mengangguk setuju dan kemudian menarik diri dari vitalnya.
Namun sayangnya, itu hanyalah sebuah kamuflase belaka. Sebab nyatanya, Chanyeol justru menahan kedua tangannya diatas kepala, mengunci pergerakannya agar tak berontak saat tiba-tiba Chanyeol melesakkan penisnya dalam sekali hentakan.
"Chanyeol pelan pelan...Ahhhh...Ah..."
Desahan putus-putus yang lolos dari bibir tipisnya, membuat Chanyeol kian terbakar. Ia bahkan langsung bergerak tanpa menunggu Baekhyun terbiasa akan keberadaan dirinya di dalam sana. Chanyeol begerak dalam tempo cepat,membuat tubuh mungil Baekhyun terhentak-hentak seirama dengan dorongan yang ia berikan.
"Aku tau kenapa kau tak suka jariku ada didalam sini? Itu pasti karena kau lebih menyukai milikku ada di dalam sini kan?"
Baekhyun mengangguk lirih dengan sipit yang telah sempurna terpejam. Terpejam dan dikuasai hasrat yang memuncak saat Chanyeol memompanya dengan kecepatan konstan. Ia sengaja menggigit bibir bawahnya, memasang ekspresi menggoda serupa bintang porno jepang agar Chanyeol menaikan tempo tusukannya.
"Lebih dalam,Chanyeol...Aahhhhh..."
"Lihatlah...Siapa yang sekarang merengek meminta lebih? "
Chanyeol bersorak menang dalam hati. Menertawakan pertahanan Baekhyun yang akhirnya roboh untuk keduanya kalinya. Sebab sekuat apapun Baekhyun berpura-berpura menolaknya, ia akan tetap mendesah dan merengek manja dibawah kuasanya.
Tanpa tau malu, Baekhyun melebarkan kedua pahanya. Melingkarkan kaki rampingnya pada pinggang Chanyeol agar tak lagi jarak yang memisahkan. Sesekali ia mengetatkan miliknya, membuat little Chanyeol semakin membengkak dan membuat vitalnya terasa penuh sesak.
"Kau yakin Jesper dan Jackson keluar dari sini? Kenapa masih saja sempit,hum? Kau membuatku gila,Baek..."
"Hanya cepat selesaikan...sebelum anak-anak bangun..."
"Mommy...Daddy...!"
Terlambat sudah.
Kosentrasi keduanya seketika buyar saat sebuah teriakan melengking tiba-tiba terdengar dari balik pintu. Suara khas milik si bungsu yang kini sibuk menggedor-gedor pintu kamar Chanyeol.
"Mommy...Daddy...Kenapa pintunya dikunci? Huwaaaa... Aku mau masukk...Huwaaaaa..."
Baekhyun seketika diserang panik saat mendengar Jackson kini meraung histeris di balik pintu. Meraung dan berguling di lantai demi mendapat perhatian dari kedua orangnya.
"Iya,sayang...Mommy disini...Tunggu sebentar..."
"Pokoknya aku mau masuk sekarang...Kenapa mommy dan Daddy mengunciku diluar?Huwaaaa... Aku lapar...Aku rasa aku hampir mati karena kelaparan..."
"Hentikan,Chanyeol..."
Dengan tenaga yang tak seberapa, Baekhyun berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Chanyeol. Sebagai seorang ibu, batinnya jelas terusik mendengar si bungsu meraung memanggilnya. Namun naas,Chanyeol ternyata tak berada di pihak yang sama dengannya. Ia justru sengaja menuli, tak mengindahkan rengekan Jackson diluar sana dan masih saja sibuk mengejar sebuah pelepasan.
"Sebentar lagi... Kita belum selesai..."
"Bagaimana mungkin kau masih bisa menikmati ini sementara anakmu sedang menangis kelaparan...Yak! Chanyeol...Pelan...Pelan...Ahhh..."
Baekhyun benar-benar frustasi saat Chanyeol tak kunjung menurunkan tempo permainannyaa. Ia bahkan harus menggigit bibir bawahnya, menahan lenguhan erotisnya saat Chanyeol tiba-tiba melahap kedua gundukan sintalnya dengan rakus. Melumat dan mengecap kedua payudaranya bak seorang bayi besar yang dahaga.
"Aku haus..."
"Lepaskan aku,Chanyeol...Eungggg..."
Pengabaian yang Jackson terima membuat bibirnya kini sempurna mengerucut dengan sepasang kaki mungil yang ia hentak-hentakan. Detik ini,ia mulai membenci Chanyeol. Chanyeol yang menculik mommy kesayangannya ketika ia ingin menikmati detik-detik berharganya dengan Baekhyun. Tak hanya itu, Chanyeol juga membuatnya terpaksa tidur dengan Jesper Hyung ketika sebenarnya ia ingin tidur pelukan Baekhyun..
"Daddy jahat...Aku benci daddy..."
Begitulah kesimpulan yang Jackson pikirkan saat ini.
Kini,ia mulai dibayangi rasa penasaran tentang apa yang tengah dilakukan kedua orangtuanya di dalam sana. Tentang apa yang membuat mereka mengabaikan tangisannya yang nyaring dan melengking hingga lima oktaf.
Jackson menempelkan telinga peri-nya yang serupa Chanyeol ke daun pintu. Mencoba menajamkan pendengarannya demi menghapus rasa penasaran yang menghantui. Namun sialnya, satu-satunya suara yang ia tangkap adalah suara rintihan Baekhyun. Rintihan dan desahan yang ia simpulkan sebagai sebuah ekspresi rasa sakit.
"Daddy...Apa yanng terjadi pada mommy? Kenapa mommy merintih kesakitan?"
"Mommy tidak apa-apa,sayang... Tunggu sebentar ya..."
"Daddy pasti bohong...Apa yang sedang daddy lakukan pada mommy? Daddy tidak boleh menyakiti mommy...Bukankah daddy pernah bilang kalau laki-laki tidak boleh menyakiti wanita?"
Chanyeol menyeka bulir keringatnya yang membasahi kening, sejenak menjeda kegiatannya demi memikirkan sebuah alasan logis untuk menjawab pertanyaan lugu dari si bungsu.
"Bukankah semalam kau bilang ingin adik bayi? Sekarang daddy dan mommy sedang membuat adik bayi..."
"Benarkah? Jadi sebentar lagi aku akan punya adik bayi? Aku mau adik perempuan,dad...Aku mau adik bayi memanggilku Jackson oppa..."
"Siap...Perintah diterima,Kapten!"
"Ay ay,Kapten! Jackson tidak jadi benci daddy...Jackson sayang daddy..."
Jackson bersorak girang dengan sebuah cengiran lebar yang menghias wajah tampannya. Kini, pikiran polosnya telah melangang jauh menuju dunia khayal. Dunia dimana keluarga kecilnya bisa kembali bersama dengan formasi yang utuh. Daddy,Mommy,Jesper Hyung,dirinya, dan adik bayi menggemaskan yang memanggilnya oppa.
...
"Hyung, aku lapar...Kenapa mommy lama sekali? Aku bisa mati kelaparan..."
Jackson merebahkan kepalanya di pundak Jesper, mengadu dan bertingkah seolah perut mungilnya tak tersentuh nasi selama seminggu.
"Tunggulah sebentar lagi...Mommy pasti sedang menyiapkan menu special untuk kita..."
"Menurut hyung,kira-kira mommy sedang masak apa?"
"Entahlah...Hyung harap,mommy sedang memasak semangkuk ramyeon dengan telur setengah matang dan irisan sosis...Hyung sudah lama sekali tidak makan ramyeon..."
"Ah...Kasihan sekali...Seharusnya hyung tinggal disini...Setiap malam daddy masak ramyeon...Kadang daddy juga menambahkan irisan kimchi dan mozarela yang meleleh...Hmmm...Aku jadi semakin lapar..."
Bagi Jackson, ada sebuah kebahagiaan tersendiri saat ia bisa menyombongkan diri di hadapan Hyungnya. Menyombongkan menu lezat yang ia yakini bisa membuat Jesper menyeka liurnya di sudut bibir.
"Aku tau...Hyung pasti iri denganku,kan? Mengaku saja..."
"Sama sekali tidak...Karena kata mommy, ramyeon itu tidak baik untuk kesehatan...Ususmu bisa berlubang jika terlalu banyak makan ramyeon..."
"Benarkah? Aku tidak mau ususku berlubang..."
Niat hatinya untuk menggoda Jesper seketika pupus.
Jackson mengelus perut mungilnya dengan wajah pucat. Pikiran polosnya telah melanglang buana ke angkasa raya. Membayangkan, bagaimana jika ususnya benar-benar berlubang dan harus dipotong? Tentu saja itu lebih mengerikan daripada jarum suntik yang menusuk bokongnya saat imunisasi.
"Aku jadi ingin tinggal dengan mommy...Aku bosan sarapan dengan roti bakar gosong buatan daddy...Aku juga tidak mau ususku berlubang gara-gara setiap hari makan ramyeon..."
"Tapi kalau kau tinggal dengan mommy, lama-lama kau akan berubah menjadi kambing..."
"Berubah jadi kambing? Jadi nanti di kepalaku akan tumbuh tanduk?"
Jesper menepuk keningnya dengan frustasi. Ia lupa jika Jackson masihlah bocah lima tahun dengan pemikiran yang teramat polos. Bocah lugu yang belum bisa mencerna kata kiasan yang ia ujarkan sedetik lalu.
"Bukan begitu...Maksud hyung, kalau kau tinggal dengan mommy, setiap hari kau harus makan daun-daunan seperti seekor kambing...Rasanya sangat tidak enak..."
"Aku suka daun...Apapun masakan mommy,aku akan memakannya dengan lahap..."
Jesper mengangguk lirih. Memilih mengalah dan pura-pura untuk percaya pada celotehan si bungsu, meski ia seratus persen yakin jika Jackson akan mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat makanan bercita rasa absurd buatan mommy-nya telah terhidang di atas meja.
Tak berselang lama, Baekhyun datang menghampiri keduan jagoannya dengan sebuah nampan di tangan. Nampan berisi hasil karya yang telah ia buat dengan segenap cinta.
"Yeay...Mommy datang..."
Jackson menyambut kedatangan Baekhyun dengan sebuah cengiran lebar yang tercetak di wajah tampannya. Tangan mungilnya menepuk sisian kursinya yang kosong, mengiba agar Baekhyun berbaik hati mengabulkan pintanya yang sederhana.
"Mommy duduk disini saja...Aku ingin duduk di sebelah mommy..."
"Tapi kata mommy, mommy ingin duduk di sebelah daddy..."
Chanyeol bergegas menginterupsi. Sengaja menabuh genderang perang untuk mengajak Jackson berduel demi memenangkan perhatian Baekhyun. Memang terdengar sedikit kekanakan untuk ukuran seorang pria dewasa dengan dua orang anak.
"Tidak boleh...Mommy tidak boleh duduk di sebelah daddy..."
Jackson lipat kedua tangan mungilnya di depan dada. Berada pada mode galak dengan manik cokelat yang membulat dan menatap tajam ke arah Chanyeol. Jangan lupakan bibir mungilnya yang telah sempurna mengerucut, menambah gairah Chanyeol untuk menggoda si bungsu yang ternyata posesif seperti dirinya.
Jackson kembali memupuk kebencian pada Chanyeol. Mengutuk sikap dominant Chanyeol yang terlalu memonopoli eksistensi Baekhyun. Chanyeol seolah lupa, jika kedatangan Baekhyun dan Jesper adalah kado ulangtahun yang ia persembahkan untuk Jackson.
"Pokoknya aku mau duduk di sebelah mommy...Daddy duduk disana saja...Di sebelah Jesper Hyung..."
"Kau mengusir daddy? Itu tidak sopan,boy..."
"Aku tidak peduli..." Jackson menjulurkan lidahnya ke arah Chanyeol. Sengaja menuli dan mengacuhkan petuah yang Chanyeol ujarkan padanya. Baginya, itu hanyalah akal-akalan Chanyeol untuk mengelabuhinya.
"Berhentilah bertengkar Park Chanyeol...Park Jackson...!"
Kedua pria dengan telinga peri itu akhirnya terdiam saat Baekhyun akhirnya buka suara. Mengakhiri pertengkaran mereka dengan sebuah teriakan yang berada pada nada tiga oktaf.
Jujur, ia merasa tersanjung karena diperebutkan oleh kedua pria tampan itu. Tapi tetap saja, ini bukanlah saat yang tepat untuk mendengarkan pertengkaran mereka yang disebabkan oleh alasan yang sepele.
Baekhyun akhirnya menjatuhkan pilihannya pada Jackson, sengaja mengabaikan raut kesal yang ditunjukan Chanyeol usai kalah melawan si bungsu.
Baekhyun lantas bergegas melayani ketiga lelakinya, memenuhi mangkuk kosong mereka dengan nasi dan berbagai sayur yang telah ia buat dengan sepenuh hati. Ada hangat yang menjalar dihati, saat netranya mendapati Chanyeol dan Jesper makan dengan lahap. Menyuapkan berbagai sayur dan lauk yang ia buat hingga membuat mulut keduanya terlihat penuh.
Namun ironisnya,itu tak terjadi pada si bungsu. Jackson hanya menatap deretan makanan di depannya dengan wajah masam. Seolah kecewa dengan kenyataan yang tak seindah apa yang ia bayangkan.
"Kenapa Jackson belum makan? Jackson tidak suka masakan mommy? Atau mau mommy suapi?"
"Aku sudah lima tahun,mom...Aku bisa makan sendiri..."
"Lalu kenapa belum mulai makan?"
Baekhyun mengusak surai cokelat Jackson dengan lembut. Mencoba menerka apa yang membuat si bungsu tiba-tiba tertunduk lesu dan tak bergairah.
"Aku...Aku tidak suka sayur...Aku ingin makan sosis saja..."
Jackson mencicit lirih, sedikit ketakutan jika jawabannya akan membuat mommy-nya kecewa apalagi marah. Nyatanya,ia tak melihat satupun makanan yang manusiawi di lidahnya. Hanya ada Tumis brokoli dan wortel,sup asparagus, dan tumis jamur yang ia bahkan tak tahu apa namanya.
"Kenapa tidak suka? Lihat...Daddy dan Jesper hyung saja makan dengan lahap..."
"Itu tidak enak...Aku tidak suka sayur hijau seperti ini...ini terlihat seperti makanan kambing..."
"Makanan kambing? Memangnya siapa yang mengatakan kalau ini makanan kambing?"
"Jesper hyung..."
Sebuah jawaban polos yang suskes membuat Jesper seketika tersedak. Chanyeol bahkan harus bergegas mengulurkan segelas air putih padanya, menepuk-nepuk punggung sempinya agar batuk nakal yang menyerangnya lekas pergi.
"Jesper...Jangan ajari adikmu yang macam-macam..."
Baekhyun menatap tajam ke arah Jesper. Memperingatkan si sulung agar tak mengajarkan hal-hal aneh pada adik kecilnya.
Baekhyun sangat sadar,jika kini Jackson berada pada masa kaset kosong. Masa dimana ia dapat dengan mudah merekam perkataan orang lain, tanpa tahu pasti arti dari kalimat yang ia serap.
"Iya,mom...Maaf..."
"Darimana Jackson tau kalo ini tidak enak? Jackson bahkan belum mencobanya..."
Dengan tingkat kesabaran yang selebar samudra, Baekhyun mulai membujuk si bungsu. Mematahkan sugesti Jackson jika sayur selalu identik dengan makanan kambing yang tidak enak.
"Aku tidak mau...Itu pasti pahit..."
Jackson sengaja mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menolak mentah-mentah saat Baekhyun mencoba untuk mengangsurkan satu suapan untuknya.
"Ini tidak pahit,sayang...Kalau pahit, daddy dan Jesper tidak akan makan dengan lahap..."
"Aku tidak mau...Aku mau sosis..."
"Ya sudah...kalau Jackson tidak mau makan masakan mommy, besok mommy dan Jesper hyung tidak mau kesini lagi..."
"Iya...Iya...Aku mau..." Tanpa pikir panjang, Jackson bergegas meralat ucapannya. Ancaman horor dari Baekhyun benar-benar ampuh menaklukkan si bungsu yang keras kepala.
"Tapi aku mau disuapi mommy..."
"Aku sudah lima tahun,mom...Aku bisa makan sendiri..."
Itu bukan Jackson,tapi Chanyeol. Chanyeol yang sedang meledek sekaligus menirukan gaya sok dewasa dari si bungsu.
"Mommy...Daddy meledekku..."
"Jangan dengarkan daddy...Semakin kau merengek,dady akan semakin senang..."
Baekhyun merasa jika stok kesabarannya kini kian menipis. Jujur, ia sedikit terkejut melihat Chanyeol dan Jackson yang terlihat seperti sepasang musuh bebuyutan. Saling meledek dan mencibir seolah keduanya adalah teman sebaya berumur lima. Chanyeol bahkan lupa jika ia adalah seorang ayah dari dua orang putra dengan umur hampir kepala tiga.
Baekhyun mengambil alih mangkuk Jackson. Ia seratus persen yakin,jika Jackson hanya akan malas-malasan menyendok makanannya jika ia tak lekas turun tangan.
"Ayo aaaaaaa..."
Jackson mendapatkan suapannya yang pertama. Suapan berisi brokoli dan wortel yang kini dikunyahnya dengan susah payah.
"Bagaimana? Enak?"
Jackson mengangguk dengan setengah hati, memaksakan diri mengulas sebuah senyuman palsu di wajahnya yang masam. Sepertinya, sekarang ia harus menarik kembali perkataannya. Perkataan bahwa ia ingin tinggal bersama Baekhyun. Walaupun Chanyeol seringkali bersikap menjengkelkan,namun ia percaya bahwa hidupnya akan jauh lebih menyenangkan jika tinggal dengan Chanyeol.
Baekhyun mengerutkan kedua alisnya saat melihat si bungsu diam-diam terisak. Terisak tertahan sembari mengunyah makanannya dengan mulut penuh. Hati kecilnya tiba-tiba dirundung rasa bersalah, apakah ia terlalu memaksakan Jackson untuk memakan apa yang tidak ia suka?
"Hei...Jagoan mommy kenapa menangis,hum? Ada apa,sayang?"
Tak ada jawaban apapun.
Jackson hanya menggeleng lirih. Tangan mungilnya menghapus lelehan air mata yang luruh di kedua belah pipinya yang bulat. Ia membenci air matanya yang lancang keluar tanpa permisi, membuatnya image keren yang melekat padanya seketika menguap pergi.
"Itu karena kau memaksanya makan sayur...Anak bungsumu itu cengeng dan tidak suka dipaksa seperti itu..."
Sebagai seorang daddy sekaligus pawang yang menjaga si bungsu 1x24jam, Chanyeol tentu sudah hapal di luar kepala tentang tabiat putranya. Sedikit manja dan susah diatur.
Beruntung Baekhyun hanya mendapati putranya menangis terisak seperti ini. Chanyeol bahkan sudah kebal melihat putranya tantrum,berguling-guling dilantai sambil melempar apapun yang ada di sekitarnya. Entah apa yang diinginkan Baekhyun saat hamil dulu hingga keluarlah bocah yang luar biasa ini.
"Benarkah? Maafkan mommy,nak...Mommy tidak bermaksud seperti itu..."
"Bukan karena mommy...Mommy tidak salah..."
"Lalu kenapa jagoan mommy menangis,hum? Katakan pada mommy….."
Baekhyun mengusap belah pipi Jackson, menghapus jejak air mata yang tertinggal disana. Sedang sipitnya kini menatap teduh, mencoba meyakinkan si bungsu agar tak menyimpan rasa sakitnya seorang diri.
"Aku...Aku rindu roti bakar gosong buatan daddy..."
TBC
A/N :
- Ini pertama kalinya gue ngetik NC, biasanya cuma mentok di foreplay doang, buat gue ini kemajuanㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ
- Sampai jumpa di Chap selanjutnya. Jangan lupa doian biar Chanbaek cepet rujuk.ㅋㅋㅋㅋㅋㅋㅋ
- Salam Chanbaek is Real.
