Sosok namja bertubuh cukup kecil terus saja berlari dengan gusar. Ia mencoba masuk pada gang kecil untuk menyembunyikan dirinya dari lawan yang terus mengejarnya.
Terlihat darah pada sudut bibirnya, wajah mungilnya itu pun cukup lebam, entah apa yang terjadi pada namja ini.
Nafasnya terengah saat berhasil bersembunyi pada lorong kecil untuk seukuran tubuhnya.
Ketika merasa sudah aman, namja ini keluar dari lorong. Namun baru saja keluar, seseorang menempelkan pistol tepat di kepalanya. Tubuhnya mematung ketika merasakan pistol itu berada di kepala bagian belakang.
"Kau tidak bisa melarikan diri begitu saja, Byun Baekhyun!"
Ya, sosok namja bertubuh mungil itu adalah Baekhyun. Sepertinya ia sedang menjadi buronan oleh mafia dari agennya sendiri.
Mafia itu menarik Baekhyun hingga berhadapan pada beberapa mafia lainnya.
Bugh!
Tubuh Baekhyun terhempas di tanah tepat di hadapan mereka semua.
"Biarkan aku terlepas dari kalian!"
"Kau mau berkhianat?"
"Aku tidak berkhianat! Aku hanya tidak mau berada dalam agen pecundang seperti kalian semua!"
"Lancang sekali mulutmu!"
Bugh!
Tubuh Baekhyun di tendang cukup kuat. Namja ini hanya bisa menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, karena tidak ada senjata apapun yang ia punya. Bahkan untuk melawan 4 orang di hadapannya, sangat tidak mungkin.
"Katakan kalimat terakhirmu pada dunia." Pistol kembali mengarah ke arahnya.
"Yang di katakannya benar, kalian memang pecundang!"
Tiba-tiba suara seseorang mengalihkan pandangan mereka. Terdapat seorang namja tinggi bersandar pada tiang dengan santainya.
"Siapa kau? Jangan ikut campur urusan kami!"
Namja tinggi itu menyeringai dan melangkah mendekati mereka semua.
Pistol itu beralih ke arah namja tersebut yang terlihat sama sekali tidak takut.
"Jika orang yang hanya menggunakan senjata, mereka akan bodoh tanpa senjata apapun." Namja itu terhenti tepat di hadapan Baekhyun yang mencoba beranjak. Sesekali ia melirik namja mungil itu dengan tatapan meremehkan, namun terlihat prihatin.
"Kau mau meremehkan kami?!"
"Buang senjata kalian, lawan aku dengan tangan kosong."
"Siapa kau berani sekali menantang kami?"
"Ingat baik-baik, namaku Park Chanyeol. Agen dari Yang Hyunsuk! Kalian bisa katakan itu pada ketua kalian."
Merasa terbawa emosi, keempat mafia itu membuang senjata mereka dan segera menyerang Chanyeol.
Dengan cepat, namja tinggi itu melawan penyerangan tersebut. Dapat Baekhyun lihat perlawanan Chanyeol yang cukup pintar. Namja itu melawan 4 mafia sekaligus dengan tangan kosong.
Bugh! Bugh!
Kaki jenjang dan tangan kekar itu berhasil melumpuhkan lawan, dan cukup membuat tulang mereka remuk. Satu kaki Chanyeol menginjak punggung salah satu dari mafia tersebut, saat mereka semua telah kalah dalam perlawanan.
"Sudah terbukti bukan? Kalian akan bodoh jika tidak ada senjata. Cih, dasar pecundang!" Chanyeol menyeka sedikit darah pada sudut bibirnya, lalu meludah di hadapan mereka semua.
"Pergilah! Sebelum aku remukan semua tulang kalian. Dan jangan berani mengganggunya lagi." Jari Chanyeol menunjuk arah Baekhyun.
"Sekarang dia sudah masuk dalam agen Yang Hyunsuk." Lanjut Chanyeol.
Keempat mafia itu langsung pergi begitu saja saat Chanyeol melepaskan mereka semua.
Selesai dengan mereka, Chanyeol mendekati Baekhyun yang masih belum berdiri juga.
Tangan Chanyeol terulur di hadapan Baekhyun yang mulai menatapnya.
"Lihatlah kau seperti anak anjing terbuang. Bangunlah, jangan lemah seperti itu." Sindir Chanyeol terdengar dingin.
"Kenapa kau menolongku?" Baekhyun masih belum menerima uluran tangan itu.
"Karena aku tidak suka melihat mereka yang menyerang lawan kecil seperti mu. Itu terlihat terlalu bodoh."
Merasa gemas, Chanyeol menarik lengan Baekhyun hingga namja mungil itu kembali berdiri.
Chanyeol memperhatikan wajah itu yang cukup lebam. Bahkan Baekhyun terlihat terus menahan sakit di tubuhnya.
"Ikut aku, tanpa penolakan!"
Baekhyun terdiam sejenak melihat Chanyeol melangkah begitu saja, walau ragu ia tetap mengikuti langkah tersebut.
Tiba di sebuah markas, Baekhyun terus memperhatikan seluruh sudut ruangan yang tidak begitu banyak barang-barang.
"Duduklah!" Ujar Chanyeol, membuat Baekhyun menuruti perintahnya.
Tak lama kemudian, Chanyeol kembali mendekat dan duduk di samping Baekhyun dengan kotak obat yang ia bawa.
Tanpa bicara, Chanyeol mencoba mengobati luka di sekitar wajah mungil itu.
Baekhyun hanya terdiam selama Chanyeol mengobatinya. Bahkan dapat ia rasakan nafas hangat Chanyeol yang menerpa wajahnya, karena posisi wajah mereka begitu dekat.
"Sudah selesai. Dan kau tidak perlu berterima kasih padaku. Karena sebagai gantinya, kau akan menjadi partner ku." Jelas Chanyeol merapihkan kotak obat tersebut.
"Menjadi partner?"
"Ya, aku akan memasukanmu ke agen Yang Hyunsuk. Dengan begitu, kau akan menjadi partner in crime bersamaku."
"Kenapa kau menjadikan ku partner mu?"
"Karena sepertinya akan menyenangkan jika mempunyai partner. Tenanglah, aku akan mengajarimu bertahan hidup."
"Namamu Park Chanyeol?"
"Ckck kau mengingatnya dengan baik. Lalu siapa namamu?"
"Byun Baekhyun."
"Melihat tubuh mungilmu, aku tidak yakin jika kau menjadi seorang mafia. Bahkan kau terlihat lemah berhadapan dengan mereka."
"Jangan meremehkanku."
"Ok, aku tidak akan meremehkanmu jika kau sudah pintar ku ajarkan untuk berbagai hal." Chanyeol menarik dagu Baekhyun dan menatap teduh ke arah bibir tipis itu.
"Gurae, akan ku terima ajakanmu."
"Selamat datang di duniaku, Byun Baekhyun." Bisik Chanyeol dengan suara beratnya.
Setelah resmi menjadi partner in crime, Chanyeol mengajarkan berbagai hal tentang cara melawan penyerangan.
"Argh!" Baekhyun sedikit mengerang saat Chanyeol mengkilir tangannya ke belakang.
"Jangan lemah, Baek. Lawan aku dengan caramu. Kau bisa melawan jika posisi seperti ini."
"Kau yakin?" Baekhyun memastikan setelah dia tau cara melepaskan diri.
"Ya! Lakukanlah jika kau bisa."
Bugh!
"Arrghh!" Kali ini Chanyeol mengerang cukup keras saat Baekhyun meninju miliknya di bawah sana.
Ya, satu tangan Baekhyun masih dapat bergerak dengan bebas.
"Aku sudah memperingatimu, Yeol." Baekhyun menahan tawanya saat melihat Chanyeol memegang miliknya di balik celana. Namja itu benar-benar terlihat kesakitan.
"Shhh kau merusak asetku, Baek!"
"Hanya itu yang ada di otakku untuk menyerang. Apakah itu benar-benar sakit?" Baekhyun mendekati Chanyeol dan terlihat mulai khawatir dengan keadaan milik namja itu.
"Ini sangat berdenyut."
Baekhyun mulai merasa bersalah melihat Chanyeol yang sepertinya memang sangat kesakitan.
Tiba-tiba Baekhyun menyingkirkan tangan Chanyeol yang terus memegangi miliknya itu.
"A-apa yang kau lakukan?" Chanyeol terlihat gugup saat Baekhyun menempelkan tangannya tepat pada miliknya yang masih terbungkus celana.
"Mengusapnya agar sakitnya hilang." Balas Baekhyun terdengar lugu.
Tangan itu mulai mengusap milik Chanyeol yang terasa mengembung di balik celana.
"Mpphh Baek..." Chanyeol merasakan nikmat saat tangan Baekhyun mengusap miliknya dengan baik.
"Apakah masih sakit?"
"Oh ya Tuhan, kau mafia terlugu yang ku kenal."
*TBC*
