Kereta terhenti tepat di stasiun akhir, Busan. Semua penumpang pun segera turun dari kereta. Ketika Sehun dan Luhan ingin keluar, mereka mencoba membangunkan dua orang yang tertidur.

"Jeogi..." Luhan menepuk bahu namja yang bertubuh besar itu.

Refleks, namja itu terbangun dan menoleh ke arah Luhan juga Sehun. Ia pun merapihkan posisi kacamatanya.

"Ini sudah stasiun akhir." Lanjur Luhan.

"Ah ya. Gamsahamnida..." Namja itu tersenyum simpul, namun masih dapat menampakan dimple pada salah satu pipinya.

Ya, Park Chanyeol dan Byun Baekhyun tak sadar jika mereka tertidur pada tengah perjalanan.

Chanyeol pun mencoba membangunkan Baekhyun yang masih bersandar di bahunya. Walau masih keadaan mengantuk, keduanya segera keluar dari kereta. Bahkan mendahului Luhan juga Sehun.

"Eoh? Sepertinya wajahnya pernah ku lihat." Pikir Sehun terus memperhatikan dua namja itu yang sudah berjalan jauh.

"Kau pernah bertemu dengannya?" Tanya Luhan.

"Entahlah, ayo keluar dan cari dua mafia itu." Sehun menuntun Luhan untuk keluar.

"Jjakaman, kau mengenali wajah mafia itu?"

Pertanyaan Luhan membuat Sehun kembali terhenti. Namja putih ini terdiam sejenak mencoba mengingat sesuatu.

"Hanya sekilas saat mengejarnya lalu."

"Mwo? Bagaimana bisa kita mencari tau mereka, sedangkan kita tidak begitu jelas mengenali wajah mafia itu."

"Dua mafia dengan tubuh tinggi dan mungil. Salah satu mafia itu mungkin tingginya lebih dariku sedikit."

"Hunnie, apakah yang tadi..." Luhan mencoba untuk menebak.

"Benar! Kemungkinan besar itu adalah mereka. Ayo cepat..."

Kedua detektif ini langsung berlari untuk menyusul target mereka. Dengan penampilan yang berbeda dari mafia itu, Sehun dan Luhan benar-benar tak berpikir sebelumnya jika dua namja itu adalah target mereka.

Chanyeol dan Baekhyun terus berlari keluar dari stasiun. Ya, mereka menyadari jika orang yang membangunkan mereka adalah pekerja dari polisi.

Dengan cepat, keduanya menaiki taxi yang berada di depan stasiun. Taxi itu pun segera melaju setelah mendapat tujuan tempat dari Chanyeol.

"Mereka memang bodoh." Chanyeol tertawa meremehkan.

"Beruntung mereka tidak mengenali kita." Baekhyun menyandarkan kepalanya di kursi mobil taxi tersebut.

Sementara itu, Sehun dan Luhan masih berusaha menelusuri stasiun. Entah sudah berapa lama mereka terus mencari, hingga mereka menyerah.

"Sepertinya kita kehilangan jejak mereka." Sehun mengatur nafasnya yang terlihat lelah.

"Lalu bagaimana?"

"Kita adalah detektif, tentu saja kita harus tetap mencari target kita. Sekarang kita cari penginapan."

Mereka pun keluar dari stasiun, lalu menaiki sebuah taxi.

"Ahjussi, apakah melihat dua namja tinggi dan mungil mengenakan hoodie? Salah satunya berwarna kuning." Sehun mencoba bertanya pada supir taxi tersebut.

"Ah ya aku lihat sekilas. Mereka seperti terburu-buru menaiki sebuah taxi."

Mendengar jawaban tersebut membuat kedua detektif ini berharap lebih.

"Apakah ahjussi tau ke arah mana taxi yang di tumpangi mereka?"

"Kalian mau mengikutinya?"

"Ya, tolong bantu kami. Karena mereka adalah buronan."

"Mwo? Gurae, aku akan coba mengingat ke arah mana taxi itu pergi."

"Gamsahamnida~"

*Skip*

Baekhyun membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Sejenak ia memejamkan kedua matanya. Ya, Chanyeol dan Baekhyun sudah berada di sebuah hotel.

Ketika kedua mata sipit itu kembali terbuka, tepat di hadapannya sepasang mata besar menatapnya dengan lekat.

"Setelah ku perhatikan, aku menyukai penampilanmu seperti ini, Yeol." Ucap Baekhyun saat Chanyeol menyanggah kedua tangan yang mengunci tubuh mungilnya.

"Dan aku pun sangat menyukai penampilanmu yang menggemaskan seperti ini, Baek." Balas Chanyeol mengusap lembut bibir tipis itu.

Baekhyun melepaskan kacamata yang masih di kenakan Chanyeol, lalu meletakannya sembarang tempat. Kedua tangannya menggantung pada leher jenjang milik Chanyeol, ia menariknya membuat jarak wajah mereka semakin dekat.

"Baek, adakah yang kau harapkan dariku?" Chanyeol sedikit berbisik.

"Lalu bagaimana denganmu? Apa yang kau harapkan dariku?" Baekhyun balik bertanya.

"A-aku..." Entah kenapa ada perasaan berdebar saat Chanyeol ingin berkata sesuatu.

Namja mungil itu masih menunggu kalimat Chanyeol yang menggantung. Tiba-tiba tangannya mendekap bagian dada Chanyeol sebelah kiri. Dan ya, dapat ia rasakan jantung Chanyeol yang berdetak cepat.

"Jangan memaksakan dirimu untuk berbicara lebih, Yeol." Baekhyun tersenyum manis di hadapan Chanyeol.

"Kau dapat merasakannya bukan?" Chanyeol menyadari jika telapak tangan Baekhyun masih berada di dada kirinya.

"Sejujurnya keadaan jantung kita sama. Namun lidah kita masih kelu untuk mengata--"

"Aku mencintaimu."

Tiba-tiba Chanyeol memotong pembicaraan Baekhyun yang seketika terbungkam mendengar kalimat itu.

"Y-ye?"

"Ku rasa sudah waktunya untuk mengungkapkannya."

"Kau yakin dengan perkataanmu?" Baekhyun mencoba memastikan.

"Aku memang tidak sepenuhnya mengerti tentang itu. Tapi kenapa aku selalu merasa berdebar ketika ingin mengatakannya padamu?"

"Ku pikir, kau tidak akan pernah bisa peka terhadap perasaanmu sendiri. Aku pun tidak bisa membaca jalan pikiranmu, Yeol."

"Kalau begitu, mari bermain dengan perasaan." Chanyeol berbisik tepat di hadapan wajah Baekhyun yang terlihat memerah.

Pandangan Chanyeol mulai meneduh dan mengarah pada bibir tipis di hadapannya. Kedua mata Baekhyun terpejam ketika nafas keduanya saling menerpa.

Dengan sangat lembut, Chanyeol mendaratkan bibirnya pada bibir Baekhyun. Sejenak ia terdiam dan membuat sepasang mata mereka kembali di pertemukan.

Perlahan dan hati-hati, bibir plum Chanyeol mengulum bibir tipis Baekhyun. Entah kenapa mereka merasakan debaran yang tak biasa dari ciuman ini.

Keduanyanya saling melumat dengan sedikit decakan manis yang mengisi atmosfir kamar. Ciuman yang memang tak biasa mereka lakukan secara menuntun.

Chanyeol terus menyesap bibir bawah Baekhyun yang menurutnya terasa manis. Sedangkan Baekhyun menyesap bibir atas Chanyeol.

Bibir tipis itu membuka ruang pertanda Chanyeol dapat menelusuri ke dalamnya. Ya, lidah Chanyeol mulai masuk dan menyapa lidah Baekhyun dengan manis. Hingga akhirnya mereka pun bertarung lidah, membuat ciuman mereka semakin dalam.

Pada menit berikutnya, mereka melepaskan ciuman itu lalu mengatur nafas masing-masing.

Drrttt~

Ponsel Chanyeol bergetar, membuat namja ini mau tak mau harus mengangkatnya. Dan ya, ia mendapat panggilan dari Yang Hyunsuk.

"Kami sudah di hotel."

"Segera temui Kim Youngmin."

"Kim Youngmin?"

"Dia yang bekerja sama dengan agen kita."

"Beri kami istirahat lebih dulu."

"Baiklah, setelah itu segera temui dia."

"Pertemukan kami dengannya besok."

Selesai menerima panggilan tersebut, Chanyeol meletakan kembali ponselnya di meja. Baekhyun pun beranjak dari tidurnya.

"Ada apa?"

"Besok kita harus bertemu dengan seseorang."

"Gurae, sebaiknya sekarang kita tidur. Ku yakin kau pun lelah."

"Kau yakin tidak ingin melanjutkan yang tadi?"

"Melanjutkan apa?" Baekhyun sudah mengambil posisinya untuk tidur.

"Ah lupakan. Gurae, ayo tidur!" Chanyeol pun mengambil posisinya di samping Baekhyun.

Melihat ekspresi Chanyeol yang kecewa, membuat Baekhyun menahan tawanya. Ya, sebenarnya ia tau arah pembicaraan Chanyeol. Hanya saja dirinya pun masih lelah.

"Kau bisa lakukan itu setelah tugas kita besok selesai. Lakukan sepuasmu, Park Chanyeol."

Ucapan Baekhyun membuat Chanyeol menoleh pada namja mungil di sampingnya yang mulai tidur membelakanginya.

"Kau tidak bisa tidur membelakangiku, Baek." Chanyeol menarik tubuh mungil itu untuk masuk dalam dekapannya.

Baekhyun hanya tersenyum geli di balik dada bidang Chanyeol yang mendekapnya erat.

*TBC*