Malam ini Chanyeol dan Baekhyun menikmati hari mereka dengan santai. Keduanya pun mengunjungi pasar malam desa Busan yang cukup ramai.
"Jika seperti ini, aku merasa kita hidup sangat normal tanpa ketegangan." Pikir Baekhyun memperhatikan suasana di sekitar.
"Kenapa kau masuk ke dunia kriminal jika kau ingin hidup normal?" Tanya Chanyeol.
"Kau yang memaksaku untuk ikut."
"Ye?"
"Bukankah kau yang memintaku untuk menjadi partner in crime?"
"Sebelumnya kau pun sudah masuk dalam dunia kriminal bukan?"
Baekhyun menghentikan langkahnya, terdiam memandang wajah tegas Chanyeol.
"Mungkin aku tidak akan ikut mereka jika fakta yang ku dapati sangat membuatku ingin membunuh mereka semua."
"Apa maksudmu?"
"Aku hidup sebatang kara, atau lebih tepatnya aku anak yang di buang begitu saja oleh orang tuaku. Ya, itulah yang ku ketahui dari panti asuhan."
Chanyeol terdiam membiarkan Baekhyun menceritakan semuanya.
"Hingga aku pergi dari panti untuk mencari nenekku yang mereka katakan berada di panti jompo."
"Sepertinya tidak hanya aku yang di buang, tapi nenek pun di terlantarkan begitu saja oleh orang tuaku. Entahlah, aku tidak sudi memanggil mereka sebagai orang tua."
Dapat Chanyeol lihat tatapan kebencian dari mata Baekhyun. Namja mungil ini benar-benar menyimpan kebencian pada orang tuanya.
"Aku menemukan panti jompo itu, lalu bertemu dengan nenek. Aku sangat senang, karena setidaknya aku memiliki 1 orang keluargaku."
"Dengan meminta izin pemilik panti, aku bisa tinggal dengan nenek. Hingga akhirnya aku mencari pekerjaan di luar, aku masuk ke sebuah agen yang saat itu aku tidak tau tentang agen tersebut."
"Aku masuk dan bekerja di agen itu yang ternyata adalah agen mafia. Mereka menahanku untuk keluar, dan menggodaku dengan bayaran mahal."
"Mau tak mau, aku pun bertahan dan bekerja di agen itu tanpa sepengetahuan nenek. Aku melakukan beberapa kriminal pun nenek tidak tau."
"Saat di panti aku hanyalah cucu yang baik dan manis. Namun di luar itu, aku sangat buruk. Dan aku merasa bersalah pada nenek."
"Hingga sebuah agen sosial datang ke panti, dan ia menawarkanku pekerjaan. Aku masih ragu saat itu."
"Dan maka dari itulah kau di anggap berkhianat oleh agen mafia itu?" Chanyeol mencoba menebaknya.
"Ya, mereka mengetahuinya. Dan dengan sangat kejamnya, mereka membakar panti tanpa sepengetahuanku."
"Aku benar-benar sangat terkejut mengetahui berita itu, hingga aku mencoba melawan mereka semua yang berani membakar panti dan melenyapnya nyawa orang lansia disana, termasuk nenekku."
Terlihat liquid bening yang terbendung di mata sipit itu, dan untuk pertama kali, Chanyeol melihat Baekhyun menangis di hadapannya.
Perlahan, jemari Chanyeol menyeka air mata itu yang terjatuh di kedua pipi Baekhyun.
"Jangan membuat dirimu menangis, itu terlihat kau sangat lemah. Kau tidak boleh lemah, Byun Baekhyun."
"Dan kau tau? Ku pikir, aku benar-benar akan hidup seorang diri. Namun, sekarang kau adalah teman hidupku. Aku bersyukur untuk itu." Baekhyun mencoba tersenyum kembali di hadapan Chanyeol.
"Ya, kau tidak akan sendiri. Kita akan selalu bersama, apapun yang terjadi." Chanyeol mengusap rambut halus milik Baekhyun.
"Belikan aku permen kapas itu." Pinta Baekhyun tiba-tiba menunjuk ke arah pedagang permen kapas.
"Mwo? Kau mau itu?" Tanya Chanyeol yang hanya di balas anggukan oleh Baekhyun.
"Gurae, tunggulah disini."
Baekhyun tersenyum geli melihat Chanyeol yang menuruti permintaannya. Semenjak mereka melakukan penyamaran, namja mungil ini sangat menikmati penyamaran mereka yang membuatnya seperti sepasang kekasih yang manis.
Bugh!
Tak sengaja seseorang menabrak bahu Baekhyun hingga ia terjungkal. Namun dengan sigap, orang yang menabraknya menyanggah tubuh mungil itu.
Sejenak, keduanya saling menatap. Beberapa kali Baekhyun berkedip dengan tatapan lugunya.
"Kau..." Orang itu mencoba menebak namja mungil yang ada di dekapannya.
"Baek--" Panggilan Chanyeol berhasil membuat mereka beralih.
Dengan cepat, Baekhyun melepaskan diri dari tangan Sehun. Ya, orang itu adalah Oh Sehun yang tak sengaja menabraknya.
Baekhyun langsung berlari ke arah Chanyeol, lalu menarik namja tinggi itu berlari.
"Ayo Yeol..."
Sekilas Chanyeol dan Sehun bertatapan. Dan detik kemudian, Chanyeol yang menuntun Baekhyun berlari.
"Yak! Jangan lari kalian!" Gertak Sehun.
"Ada apa Hun?" Luhan datang menghampiri setelah dirinya dari toilet.
"Dua target kita melarikan diri. Kkaja..." Sehun dan Luhan mulai mengejar dua mafia itu.
Chanyeol dan Baekhyun berlari tanpa memperdulikan orang yang mereka tabrak.
Bahkan beberapa meja dagangan orang lain terjatuh berantakan begitu saja. Ya, Chanyeol sengaja melakukan pemblokiran jalan untuk kedua detektif itu dengan meja-meja tersebut.
Keduanya berhasil membuat kacau pasar malam itu, hingga keluar dari area tersebut. Dan dengan seenaknya, Chanyeol merampas motor orang lain yang baru saja akan pergi.
"Maaf, sepertinya kami lebih membutuhkannya."
Bugh!
Chanyeol memukul namja pemilik motor itu dan menghempaskannya hingga terjatuh.
"Cepat naik Baek."
Dengan segera, Baekhyun menaiki motor tersebut.
Brummm~
Kedua tangan Baekhyun mendekap punggung Chanyeol yang menarik gas dengan cepat.
"Ambil kembali motormu di lampu merah terdekat!" Seru Chanyeol pada pemilik motor dengan suara kerasnya.
"Yak! Brengsek!" Gertak namja itu.
Dan ya, ketika terhenti di rambu lalu lintas, Chanyeol dan Baekhyun meninggalkan motor itu begitu saja. Lalu mereka kembali berjalan beberapa meter untuk menuju hotel.
*skip*
Tiba di hotel, keduanya membanting diri di atas tempat tidur untuk mengatur nafas mereka yang terengah.
"Ah berlari sangat melelahkan." Gerutu Baekhyun.
"Bagaimana bisa kau bertemu dengannya?" Tanya Chanyeol.
"Dia tak sengaja menabrakku, lalu tubuhku di tahan olehnya."
"Dia mendekapmu?"
Baekhyun melirik ke arah Chanyeol yang menatapnya penuh selidik. Sekilas, ide jahil muncul di pikirannya.
"Ya, dan beruntung aku tidak terjatuh. Dia mendekapku cukup kuat. Lalu kami bertatapan beberapa detik sebelum kau datang."
"Dan..."
Grep!
Tiba-tiba Chanyeol menindih Baekhyun begitu saja, membuat namja mungil itu cukup terkejut dan menahan nafasnya.
"Berani sekali dia melakukan itu padamu!"
"Wae? Dia tidak melakukan hal lebih padaku." Sejujurnya ingin sekali Baekhyun tertawa ketika mendapat respon yang menyeramkan oleh Chanyeol.
"Dia menyentuhmu dan menatapmu! Aku tidak sudi untuk itu."
"Apakah tidak ada yang boleh lakukan itu padaku hmm?" Baekhyun menarik kerah sweater yang Chanyeol kenakan, hingga hidung mereka saling bersentuhan.
"Tanpa ku jawab, kau pun sudah tau jawabannya bukan? Byun Baekhyun, hanya milik Park Chanyeol seorang." Tatapan Chanyeol meneduh ke arah bibir tipis yang selalu membuatnya tergoda.
"Kau membuang permen kapasku eoh?" Baekhyun mulai mengingat permen kapas yang tak sengaja terbuang oleh Chanyeol.
"Kau mau permen yang lain?"
"Permen apa?"
Namja tinggi itu mulai menyeringai menatap Baekhyun yang terlihat bingung.
"Mungkin lebih tepatnya lolipop." Bisik Chanyeol mengecup sekilas hidung itu, lalu meraup bibir tipis yang selalu membuatnya menginginkan lebih.
"Eumphhh~"
Chanyeol terus menyapu belahan bibir bawah Baekhyun, bahkan menjilatnya dan mengigitnya dengan gemas.
Namun permainannya harus terhenti ketika mendengar suara bel pintu di luar sana.
"Shit! Mengganggu saja." Mau tak mau Chanyeol beranjak untuk membukakan pintu.
Sementara itu, Baekhyun hanya terkekeh menghapus saliva yang tertinggal di bibirnya.
"Maaf, ini pesanan makanannya."
Ya, seorang pelayan hotel telah mengantarkan makanan untuk mereka.
"Ok, gamsahamnida."
Melihat Chanyeol kembali dengan membawa makanan, Baekhyun langsung beranjak dan mendekatinya.
"Ah waktu yang tepat! Aku benar-benar lapar." Baekhyun tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.
"Gurae, kita makan sekarang. Lalu, aku akan memakanmu setelah ini."
"Ckck aku tidak yakin untuk ini. Kau pasti akan segera tidur setelah makan!"
"Ani."
Mereka pun segera makan bersama dengan sangat lahap. Setelah selesai makan, Baekhyun ke kamar mandi meninggalkan Chanyeol di kamar.
Ketika keluar dari kamar mandi, Baekhyun mendapati namja tinggi itu sudah tertidur dengan lelap.
"Sudah ku katakan bukan? Ckck dasar bayi besar!"
*TBC*
