Kembang api menghiasi langit malam. Suara ledakan yang membahana mengisi sunyinya tengah malam. Terompet terus ditiup bersahut-sahutan. Arang yang sudah habis terbakar terus ditambah. Daging ayam dan ikan menyisakan tulang, soda dan teh senantiasa membasahi kerongkongan.
Fang tertawa keras sekali, Boboiboy hampir terjatuh dari atap gedung kantornya dengan konyol. Tanpa berniat membantu, Fang malah bercanda dengan karyawannya yang datang memeriahkan pesta.
Boboiboy membantu dirinya sendiri untuk bangkit berdiri dan menatap langit yang mulai berbau asap.
"Selamat tahun baru, Boboiboy," bisik Fang dari belakang.
Boboiboy mengulas senyum. "Selamat tahun baru."
BAR
Bukan Angka Romansa
Tingkat fluffy tidak melampaui batas bahkan jauh dari standar.
FangBoi yang tidak panas.
#eleficsoflove
"Oh Ya Tuhan..."
Kaizo merasakan darahnya mendidih, Fang membuang muka saat ia datang berkunjung, melupakan kenyataan bahwa kakak laki-lakinya datang.
Sai dan Shielda sudah buru-buru mendekati Kaizo dan mengajaknya mengobrol, tak lupa menyediakan Kaizo dan asistennya Lahap secangkir kopi.
"Kalian ajari adikku apa, hah?" Tanya Kaizo.
Lahap menggelengkan kepalanya. "Tidak baik menyalahkan orang lain atas perubahan Fang, Kaizo."
"Kaizo, aku tidak mensugesti adikmu untuk berbuat kurang ajar, ya. Maaf, nih. Pekerjaan kami juga banyak," jawab Sai santai.
"Grr. Apa dia sudah punya kekasih baru?"
Sai menatap Shielda. 'Kasih tau ga?' tanya Sai menggunakan gerak bibir.
Shielda memalingkan wajah dan pura-pura tidak melihat. Ia meminum kopinya dengan tenang.
"Gak tahu juga, sih. Tapi belakangan emang suka pulang tepat waktu."
"Emang biasanya pulang jam berapa?"
"Bos kecil kita 'kan hobi menginap di kantor."
Manik merah Kaizo melirik ruangan dibelakangnya. Fang tidak menutup horden dan membiarkan orang-orang melihat aktivitasnya. Sampai sekarang pun tidak berubah, masih saja bermain-main sambil mengecek supermarketnya.
Kaizo masih dalam mode ngambeknya menggerutu sambil bercerita kepada Sai. Keseriusan dalam candaan mereka membuat karyawan lain jengah. Kaizo dan duo Sai-Shielda memang tidak boleh bersama, bisa-bisa satu kantor jadi rumah hantu.
"Kaizo, bukannya lebih baik kau kembali ke kantor sekarang?" Tanya Lahap.
Sai menaikkan sebelah alisnya. "Kantor yang mana?"
"Dia diundang ke seminar. Entahlah, manusia satu ini ketagihan setelah sekali mendatangi seminar," jawab Lahap.
"Aku cuma ingin bertemu kekasihku, kok."
Shielda tertawa. "Kekasih? Kaizo punya kekasih? Puji Tuhan."
"Ck. Sejak kapan kau punya kekasih. Mentang-mentang uda tidur bareng bukan berarti kekasih. Nomornya aja kaga tahu."
Ucapan Lahap membuat Kaizo geram. Rambut pink dijambak pelan.
"Aku akan menjadikannya kekasihku kalau ketemu lagi nanti."
Pintu ruang Fang terbuka. Atensi Kaizo dan Lahap langsung tergantikan. Lahap tersenyum simpul dan berdiri.
"Paman Lahap! Sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Fang memeluk erat Lahap.
"Tidak ada yang terjadi. Hebat. Kau suda berkembang tapi tetap saja belum mengejar Kaizo. Tetap berjuang."
Fang mengangguk antusias. "Mau makan apa, Paman?"
"Hei Hei Hei. Kemana sopan santunmu untuk Kakakmu hah?" Protes Kaizo.
Fang menjulurkan lidahnya. "Bodo." Lalu berlari menuruni tangga karena tahu menunggu lift hanya membuang waktu.
Kaizo mengejarnya dengan cepat. Kaki panjangnya melangkahi beberapa tangga sekaligus. Lengan atas Fang ditariknya mendekat.
"Kaaaak."
Kaizo memasang wajah kesal terjeleknya. "Mau kemana kamu, hah?!"
"Mau ke kantin. Laper!"
Kaizo memutar bola mata merahnya. "Oh gitu? Terus aku gak diajak?"
Fang menatap jijik Kaizo. "Penting banget ngajak Kakak?"
Kaizo mendorong Fang menubruk dinding.
"Apa-apaan, sih. Lepasin."
"Mau kasar apa damai?" tanya Kaizo.
Fang membuang wajahnya. "Gak dua-duanya."
Kaizo menangkup wajah Fang kasar dan menjedukkan dahi mereka. Fang meringis sementara Kaizo tenggelam dalam manik merah Fang yang tidak ada bedanya.
Mendengar alarm tanda bahaya imajiner, Fang buru-buru mendorong Kaizo menjauh dan berlari kabur. Ia tahu jelas kebiasaan kakaknya yang satu ini.
Sambil mengelus pantatnya Fang bergumam, "puji Tuhan lobang masih aman."
Kaizo menatap para mahasiswa di universitas sebrang kantor adik kecil kesayangannya. Ia menghela nafas berat begitu tidak menemukan satu pun pemuda dengan topi terbalik duduk tersenyum padanya. Selama pembawaan materi Kaizo hanya memasang wajah dinginnya, tak terkejut atau terkesima mendapat beberapa pertanyaan berat yang membuatnya sedikit berpikir keras.
Toilet hanya diisi oleh satu orang. Kaizo merapikan rambut jabriknya sambil bersiul pelan. Bilik toilet terbuka, seorang yang telah ia tunggu selama beberapa bulan belakangan muncul di cermin.
"Boboiboy?"
Yang dipanggil tersenyum kikuk. "Ka-Kaizo? Sedang apa di sini?"
Kaizo menyandarkan diri pada wastafel sambil memperhatikan tangan mungil membersihkan diri disampingnya. "Aku ada seminar. Kau tidak ikut tadi?"
Manik madu terus lari dari manik merah. "Aku punya beberapa hal yang harus diurus."
"Projek?"
"Seperti itu lah."
"Memangnya kau tidak lihat namaku di poster? Harusnya kau datang."
Boboiboy makin merasa tersudutkan begitu tangan Kaizo menggenggamnya. "A-Anu, Kaizo. Aku harus segera kembali. Teman-temanku pasti sedang menunggu."
"Kau menjauhiku? Aku jadi pengisi seminar karena aku pikir aku akan menemuimu. Tapi sekarang? Kau menghindar?"
Boboiboy menggaruk pipinya. "Aku sudah...err...punya anu...pacar."
Kaizo meninju cermin. Boboiboy sontak menutupi wajahnya takut.
"Ah maaf aku tak bermaksud menakutimu. Tapi, sumpah. Tidak ada waktu untukku?"
Boboiboy menurunkan tangannya perlahan dan menatap Kaizo ragu. "Eung. Pergilah ke kantin. Aku mau mengambil laptop dulu." Lalu ia lari begitu saja.
Kaizo hendak mengejar tapi ia membelokkan tujuannya. Ia mengetikkan pesan pada Lahap dan berkeliling mencari kantin. Tak banyak mahasiswa di sana. Beberapa sibuk dengan candaannya atau laptopnya.
Boboiboy datang setelah Kaizo menghabiskan segelas jus jeruk. Gelas lain datang dan Boboiboy langsung menatapnya lapar.
"Kau mau?" tawar Kaizo. Boboiboy mengangguk antusias dan Kaizo memberikannya begitu saja.
"Jadi, apa yang mau kau katakan padaku?" tanya Boboiboy. Suara seruput jus dan ketikan keyboard menjadi backsoundnya.
"Aku merindukanmu."
"Oh ya?" Boboiboy melepaskan kegiatannya. "Aku atau bokongku?"
Senyum mengejek Boboiboy membuat Kaizo tertawa. "Dua-duanya. Ayo. Malam ini di hotel ujung jalan."
Boboiboy menggeleng. "Tidak bisa. Dengar, ya. Aku tidak berbohong soal tugas. Aku memang sedang mengerjakannya. Lagipula malam ini aku mau menginap di rumah teman."
"Ayolah. Hanya sebentar. Mau, ya?"
"Aku tidak tahu kau pakai pelet apa untuk membuat dirimu tampan sampai aku mau dibobol begitu saja," gumam Boboiboy.
Kaizo tertawa. "Kau mau, nih?"
"Jangan sampai ketahuan pacarku saja. Sore sebelum makan malam. Hanya satu ronde dan tidak ada bekas."
"Oke. Nomor kamarnya akan kuberi tahu lewat...eung, lewat mana ya?"
Boboiboy melirik. "Kau berusaha meminta nomor teleponku, hmm?"
"Sudah berapa lelaki yang terjerat olehmu, Boboiboy?"
"Ntahlah. Tapi aku tidak begitu menyukaimu sekarang. Dan ngomong-ngomong, baumu seperti bau pacarku. Aku pergi dulu, ya."
Kaizo mendengus. "Aku akan menunggu dilobi diwaktu yang sudah ditentukan."
"Oke."
Fang menatap sedih layar smartphonenya yang menunjukkan chatnya dengan sang pacar. Boboiboy bilang ia tidak bisa bertemu sama sekali hari ini. Ia harus mengerjakan tugasnya di rumah teman dan tidak bisa diganggu. Bahkan Boboiboy mengancam akan memblock akun line sang kekasih kalau ditelpon atau sekadar dichat "Hai."
Kejamnya.
Jam makan malam sudah dekat, Fang memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di salah satu restoran untuk menikmati sepiring makan malam. Dengan wajah kusam, Fang menerima sambutan pelayan hotel yang bersedia membawanya ke restoran.
Baru saja menjejalkan kakinya ke lantai, manik merah Fang menangkap sosok Kaizo di lobby. Ia tengah berbicara dengan seseorang yang mungkin kenalannya. Tanpa menaruh rasa penasaran yang tinggi, Fang kembali melangkah masuk. Tapi, begitu suara yang ia kenal terdengar, sontak ia berbalik dramatis.
"Kaizo!" Suara itu tidak begitu nyaring, namun cukup membuat Fang hampir terkena serangan jantung.
"A-Ah…Bo-Bo-Bo!" Fang menatap tidak percaya. Boboiboy menatap kesal Kaizo.
"Hai, Boboiboy!" Kaizo menghampiri Boboiboy, menepuk kepalanya dan mencium singkat kening sang pemuda. "Kenalkan ini salah satu klien lamaku. Eum, Rian, aku ada urusan. Sampai jumpa nanti."
"Kau yakin masih bisa menjumpaiku setelah ini, haha?"
"Jam setengah 7 di restoran. Aku yang bayar kalau telat."
"Oke, Kaizo. Selamat menikmati waktumu."
Sambil merangkul Boboiboy, Kaizo membawa pemuda mungil itu ke dalam lift. Reflek Fang memaksa masuk ke dalam lift tapi terlambat. Syukurlah ia masih mendengar lantai berapa mereka akan pergi.
"Ka-Kakak! Aku boleh minta akses?" tanya Fang pada salah satu pelayan.
"Eum, maaf tapi…"
Beberapa lembar kertas diselipkan ketangan sang pelayan. "O-Oke, ini kartunya. Kembalikan padaku, ya."
"Terima kasih!"
Fang menyusul secepat yang ia bisa. Syukur liftnya kosong melompong. Begitu sampai di lantai yang dituju, sosok Kaizo dan Boboiboy terlihat di ujung koridor, berjalan santai.
"Boboiboy!"
"Astaga," gumam Boboiboy. Ia berbalik, mendapati Fang berlari ke arahnya dengan wajah khawatir.
Tubuh mungil ditarik, Boboiboy sedikit mengaduh sebelum kemudian tersenyum kecil.
"Boboiboy! Kau diculik, ya?" Fang menyentuh dahi Boboiboy. "Kau tidak kena pelet atau yang lainnya 'kan?"
Boboiboy menepis tangan di dahinya. "Apa-apaan, sih. Aku masih waras, nih."
"Yakin? Terus ngapain sama om-om gajelas ini?"
Kaizo berkedut kesal. "Siapa yang kau panggil om, hah?!"
"Dasar om pedo! Kalau gapunya pacar, gausa ambil pacar orang juga, dong!"
Pipi empuk dicubit gemas. "Dengar, ya, Fang! Aku masih muda dan aku gak ambil pacar ora—hah? Pacar?"
Fang mendorong jauh Kaizo. "Kenapa? Kaget? Ini pacar aku! Jauh-jauh sana!"
Kaizo mengedipkan matanya beberapa kali—genit lu—bingung. "Boboiboy. Beneran?"
Boboiboy menghela nafas dan menepuk jidatnya. Ternyata ini kenalan Fang.
"Kaizo, perkenalkan ini Fang dan Fang kenalkan ini Kaizo. Dan namaku Boboiboy!"
"Aku tidak tanya itu, sayang. Aku tanya ini pacarmu?" tanya Kaizo.
"Heh! Heh! Siapa yang kau panggil sayang hah?" sewot Fang.
"Ini pacarku. Boleh aku tahu sesuatu, kalian berdua ini saling kenal?"
Fang mendengus dan memalingkan wajahnya—oke, ini bukan pertama kalinya Fang ngambek.
"Fang…" panggil Boboiboy halus.
Fang menunjuk wajahnya sendiri, lalu beralih ke Kaizo. "Kau tidak lihat ada kemiripan diantara kami?"
Boboiboy mengelus dagunya. "Selain warna rambut dan mata, mungkin struktur wajah."
"Nah, yasudah!"
"Kalian kakak beradik?"
Kaizo menepuk pundak Fang dan tersenyum. "Ini adikku. Katakan hai pada calon kakak iparmu, Fang!"
"Enak saja! Yang benar itu calon adik iparmu!"
Wajah Boboiboy mendadak memerah—kesal, malu, entahlah—dan menjedotkan kepalanya ke tembok. "Astaga…"
"Hei! Boboiboy!"
Kaizo menjauhkan Boboiboy dan memeriksa jidat yang tertutup poni. "Puji Tuhan aman."
Fang melotot, mendorong Kaizo jauh. "Jadi, apa yang kalian lakukan di sini?"
Boboiboy tersenyum kikuk dan menggaruk pipinya. "Ka-Kami mau bahas…eung tugasku. Soal bisnis."
Kaizo mengangkat tas ransel Boboiboy yang lumayan berat. "Lihat ini?"
"Oh. Kenapa tidak minta aku saja? Tunggu, katanya mau ke rumah teman?"
"Kebetulan tadi Kaizo seminar di kampusku."
"Kalian sudah kenal sebelumnya?"
Boboiboy memalingkan wajahnya. "Yah, tepatnya sebelum kau tahu aku laki-laki."
Fang mengatupkan mulutnya. Masalah ini kalau sudah disinggung agak bahaya.
"Aku akan ikut!" putus Fang.
Kaizo melongo. "Hah?!"
"Tidak usah, Fang…kau ke sini untuk urusan bisnis 'kan?"
"Aku ke sini buat makan, sih. Pokoknya aku ikut!"
"Faaaang. Aku mau ke rumah temanku secepatnya!"
"Lah, terus ngapain ke sini?"
"Tadi ketemu! Terus dia ngajak ketemuan!"
"Gagagagagaggagagagaggagagagagagga."
Kaizo menutup telinganya dan membuka pintu kamar hotel. "Bye."
Fang mendengus dan melotot pada Boboiboy. "Ke mobil sekarang."
end
