"Lebih tinggi lagi..." Seru anak kecil itu membuat Baekhyun semakin mengangkatnya tinggi.

"Yey...balonnya berhasil aku dapatkan!" Dengan senangnya anak kecil itu berseru setelah berhasil merasih balon yang tersangkut di pohon.

Baekhyun pun menurunkan anak kecil itu, lalu mengusap puncak rambutnya dengan gemas.

Namun tak sengaja pandangannya mengarah pada sebuah mobil yang terhenti di depan panti. Kedua mata sipit itu menajamkan pandangannya, hingga ia dapat lihat dua orang yang akhir-akhir ini melacak keberadaannya.

"Kau sudah mendapatkan balonnya bukan? Kalau begitu, paman harus pergi. Annyeong~" Seru Baekhyun pada anak kecil itu yang terlihat bingung dengan kepergiannya.

Tanpa sepengetahuan Jongdae dan Minseok, Baekhyun lebih dulu pergi meninggalkan panti. Ya, tidak mungkin dirinya harus tertangkap begitu saja.

Selama berlari, Baekhyun mencoba untuk menghubungi Chanyeol. Namun tak ada jawaban dari panggilan tersebut.

"Aisshh apakah dia pingsan?"

"Ayolah Yeol, angkat!"

*Skip*

Chanyeol membuka kedua matanya. Ia mencoba melihat jam sudah menujukan pukul 1 siang.

"Baek? Kau sudah pulang?" Namja ini mencoba memanggil Baekhyun, namun tak ada balasan apapun dari panggilannya.

"Apakah dia belum pulang?" Chanyeol beranjak dari tidurnya, lalu menelusuri setiap ruangan yang kosong.

Ketika Chanyeol membuka ponselnya, ia cukup terkejut melihat layar persegi itu menunjukan nama Baekhyun yang menghubunginya berkali-kali.

Merasa ada sesuatu yang terjadi, Chanyeol mencoba untuk kembali menghubungi Baekhyun.

"Yeol, tolong aku."

"Apa yang terjadi?"

"Mereka melacakku."

"Mwo?! Kau dimana?"

"Aku akan bersembunyi di jalan kecil pertokoan Gangnam."

"Tunggu aku!"

Tanpa membuang waktu, Chanyeol segera menyusul Baekhyun dengan sebuah motor.

Selama perjalanan, pikirannya terus tertuju pada Baekhyun yang dalam keadaan terancam. Ya, ia tidak akan membiarkan siapapun menangkap Baekhyun.

*skip*

Baekhyun terus berlari mencari tempat persembunyian. Ketika ia tak sengaja mendengar suara sirine, mafia mungil ini mulai terlihat panik.

Dengan cepat ia masuk ke gang untuk bersembunyi. Nafasnya terengah karena cukup lama ia berlari.

"Sial, kenapa mereka ada dimana-mana?" Umpatnya yang mengatur nafas.

Dapat ia lihat mobil polisi itu telah melewatinya begitu saja. Namja ini cukup merasa lega karena itu artinya mereka tak bisa menemukan dirinya.

Baekhyun mencoba melangkah kembali melanjutkan perjalanannya, ia memilih jalan pintas dari gang ini. Namun baru saja kakinya melangkah, seseorang menahan bahunya dari belakang.

Deg!

Tubuh mungil itu mematung, jantungnya kembali berdebar. Ia merasa nyawanya seperti di ujung tanduk dengan keadaan ini.

"Baek..."

Mendengar suara itu, Baekhyun pun berbalik arah menoleh pada orang yang menahan bahunya.

"Yeol!"

Ya, orang itu adalah Park Chanyeol. Dia tak sengaja melihat Baekhyun yang bersembunyi di gang.

Tubuh besar itu di peluk dengan erat oleh Baekhyun. Sepertinya namja mungil ini benar-benar merasa ketakutan.

"Ah syukurlah kau datang, Yeol."

"Jangan takut, aku sudah bersamamu." Chanyeol mengusap punggung Baekhyun untuk menenangkannya.

"Ayo cepat kembali ke markas. Di luar benar-benar tidak aman."

Lengan Baekhyun di tuntun oleh Chanyeol menuju motor yang terparkir di sebrang mereka.

Dengan cepat, Chanyeol menarik gas hingga motor melaju cepat. Kedua tangan Baekhyun pun mendekap punggung itu dengan erat.

Kedua mafia ini berhasil kembali ke markas dengan aman tanpa di ikuti oleh sekelompok polisi.

"Kenapa kau bisa di daerah sana? Bukankah kau hanya ke mini market terdekat?" Chanyeol mulai mengintrogasi Baekhyun.

"Aku--"

"Kau tau bukan? Jika mereka masih melacak kita! Dan sangat berbahaya jika kau hanya sendiri di luar sana, Byun Baekhyun!"

Baekhyun tertegun mendapati gertakan cukup keras oleh Chanyeol. Ia tidak tau harus membalas ucapan Chanyeol seperti apa, bahkan melihat wajah itu pun ia tak berani.

Chanyeol mendekati Baekhyun yang terus menunduk. Tangannya mengangkat dagu Baekhyun, agar namja mungil itu menatapnya.

"Jangan takut padaku, Baek. Aku hanya terlalu khawatir denganmu." Suara Chanyeol kembali pelan menatap manik indah milik Baekhyun.

"M-maafkan aku, Yeol." Baekhyun terdengar bergetar, tangannya mendekap leher jenjang itu, lalu meraup bibir plum Chanyeol. Ia menciumnya dengan tergesa-gesa.

Chanyeol membiarkan Baekhyun yang menciumnya hingga puas. Namun pada menit berikutnya ia merasakan sesuatu meremas miliknya di bawah sana.

Kedua mata mereka pun kembali saling bertemu dan menatap dengan intens. Jemari lentik itu mulai membuka kancing baju Chanyeol tanpa melepaskan ciumannya.

Merasa mengerti arah tujuan Baekhyun, Chanyeol tak lagi tinggal diam. Tubuh mungil itu ia angkat, lalu membawanya ke kamar.

Brukk!

Tubuh Baekhyun terbanting begitu saja di atas tempat tidur. Ia mengatur nafasnya, selama Chanyeol melepaskan baju yang di kenakannya.

"Eumpphh~"

Chanyeol menindih tubuh mungil di bawahnya, dan meraup bibir tipis itu dengan agresif. Mereka memang tak pernah bosan untuk bercumbu satu sama lain.

"Nghhh~" Baekhyun mengangkat wajahnya saat Chanyeol menciumi area lehernya.

Ketika merasa sudah cukup pada area leher, Chanyeol menyelusup masuk ke dalam hoodie besar yang di kenakan Baekhyun.

"Yeolhh asshh~" Baekhyun merasakan sedikit perih dan geli pada nippe miliknya.

Tentu saja di balik hoodie, Chanyeol asik menyesap nipple Baekhyun secara bergantian. Tubuh mungil itu menggelinjang dengan gerakan sensual, saat menikmati sentuhan lebih dari Chanyeol.

Perlahan, celana Baekhyun terbuka begitu saja. Kedua kakinya mulai di buka dengan lebar oleh Chanyeol. Dan entah bagaimana pintarnya Chanyeol membuka pakaian bawah tanpa melepaskan dirinya yang masih berada di balik hoodie tersebut.

Tangan Chanyeol meraih miliknya, untuk mengarahkannya ke tempat yang akan ia masuki.

"Akkhhh~"

Kepala milik Chanyeol sudah masuk ke dalam bawah sana. Dan sekali hentakan, miliknya berhasil masuk sepenuhnya.

"Arrghhh Yeol!" Baekhyun mengerang kesakitan.

"Kau masih terasa sempit, Baek. Dan aku suka itu mmpphh~" Balas Chanyeol di balik hoodie itu.

"Keluarlah dari hoodie ku."

"Tidak, sayang."

"Aaahhh Yeolhh ngghhh~"

Baekhyun mulai mendesah dan melenguh dengan nikmat, ketika Chanyeol menggerakan pinggulnya dan tetap menyesap nipple di dalam sana.

"Chanhh Yeolhh aaahhh~aaahh~"

Pergerakan Chanyeol mulai cepat, dan namja ini pun membuka hoodie yang di kenakan Baekhyun. Ya, kini tak ada lagi halangan sehelai benang pun.

"Kau menikmatinya hmm?" Chanyeol memandang wajah Baekhyun yang memerah.

"Yahh ini ouhhh nikmat Yeolhh mmphh~"

"Suaramu sangat indah, Baek. Maka dari itu aku suka membuatmu mendesah." Chanyeol mengecup kilas bibir tipis itu.

Ketika mendapati titik klimaks, Chanyeol menekan pinggul Baekhyun dan semakin mempercepat pergerakan. Bahkan tak henti ia menghentakan miliknya di dalam sana.

"Aaaahhh~aaahhh~" Tubuh mungil itu ikut terhentak seiring pergerakan Chanyeol.

"Mmpphh~"

Satu tembakan berhasil Chanyeol semburkan di dalam tubuh Baekhyun.

Chanyeol menahan tubuhnya agar tidak terjatuh di atas tubuh Baekhyun yang mengatur nafasnya. Dapat ia lihat keringat yang membasahi wajah mungil itu.

"Apa kau sudah tidak takut lagi?" Tangan Chanyeol menghapus keringat itu dari wajah Baekhyun.

"Ani. Perasaanku jauh lebih tenang sekarang. Gomawoyo..." Baekhyun tersenyum manis di hadapan Chanyeol.

Namja tinggi itu mengeluarkan miliknya yang masih bersarang di dalam sana.

Baekhyun mengigit bibir bawahnya menahan rasa perih ketika milik Chanyeol terlepas darinya.

Tubuh mungil itu di dekap cukup erat oleh Chanyeol yang sudah terbaring di samping Baekhyun.

"Mulai sekarang jangan lagi pergi tanpa diriku, Baek."

"Nde, arraseo." Baekhyun menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Chanyeol.

*TBC*