Ketika terdengar suara pintu terbuka, dengan cepat Baekhyun melangkah ke arah pintu. Selama terkunci di dalam markas, Baekhyun selalu memikirkan Chanyeol yang pergi entah kemana.
Klek~
Bruk!
Tepat saat itu juga, tubuh besar Chanyeol ambruk di hadapan Baekhyun yang segera menahannya.
Kedua mata sipit itu membulat terkejut ketika melihat kepala Chanyeol yang berdarah. Dan dapat ia lihat serpihan kaca di sekitar rambut Chanyeol.
"A-apa yang terjadi?"
Mendengar pertanyaan itu, Chanyeol mencoba untuk menatap wajah Baekhyun yang terlihat khawatir.
Darah segar dari kepala Chanyeol terus mengalir di kening bahkan hingga pipi. Ya, sepertinya kepalanya terkena goresan luka.
"Apa kau akan tinggalkan aku jika keadaanku seperti ini?"
"Aku tidak mengerti denganmu, Yeol." Dapat Baekhyun cium aroma alkohol dari nafas Chanyeol.
"Bukankah kau ingin meninggalkanku?" Chanyeol terkekeh khas orang mabuk.
"Kau mabuk keras, Yeol." Baekhyun mencoba membawa Chanyeol untuk masuk.
Tubuh besar itu Baekhyun baringkan di atas sofa. Dan dengan segera ia mengambil kotak obat yang selalu tersedia.
Flashback On#
Chanyeol kembali mengunjungi club malam milik Kasper. Untuk kali ini ia tak peduli jika dirinya mabuk dengan beberapa botol wine yang ia habiskan.
Bahkan Kasper tak bisa mengendalikan minum Chanyeol yang menurutnya sudah berlebihan.
"Kau ada masalah?" Tanya Kasper saat menemani temannya itu di meja bar.
"Kau bahkan tau jika hidupku memang penuh masalah, bro."
"Ya aku tau itu. Tapi ini tidak seperti biasanya. Apa yang terjadi?"
"Aku pun tidak tau apa yang terjadi."
"Ckck aku selalu bersabar dengan teman sepertimu. Lalu dimana partnermu?"
"Dia pergi."
"Pergi?"
"Ya, sepertinya tak lama lagi dia akan pergi meninggalkanku."
Dapat Kasper lihat genggaman tangan Chanyeol mengerat pada botol wine itu.
"Sebaiknya kau pulang. Sebelum partnermu pergi." Ujar Kasper yang sebenarnya ia pun tak tau apa yang terjadi dengan temannya ini.
"Tidak akan ku biarkan dia pergi!" Chanyeol beranjak dari duduknya.
Namun tak sengaja ia menabrak seseorang dari belakang. Entah setan apa yang merasukinya, emosinya benar-benar tak terkendali.
"Perhatikan langkahmu!" Gertak Chanyeol.
"Yak, kau yang menabrakku!"
"Mwo? Kau mau menyalahkanku?"
"Kau memang bersalah!"
"Lancang sekali kau mengatakan itu padaku!
Bugh!
Satu pukulan berhasil Chanyeol hantamkan ke wajah pria di hadapannya. Dan ya, perkelahian pun terjadi. Bahkan Kasper mencoba menjadi penengah keduanya.
Hingga pria itu menyerang kepala Chanyeol dengan botol minuman karena ia tak terima jika mendapat serangan begitu saja.
Flashback Off#
Baekhyun terus mengobati beberapa luka Chanyeol yang sudah tertidur.
Dengan perlahan ia memberi perban pada kepala Chanyeol yang beruntung tidak begitu parah luka goresannya.
Ketika selesai, Baekhyun mulai beranjak dari tempatnya. Namun dengan cepat Chanyeol menahan tangan mungil itu. Sepertinya namja tinggi ini tidak benar-benar tidur.
"Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku." Mata besar itu mulai terbuka dan menatap Baekhyun yang menoleh.
"Aku hanya mau meletakan kotak obat ini." Dapat Baekhyun rasakan eratnya tangan Chanyeol yang mencengkram pergelangan tangannya.
"Letakan itu sembarang."
Baekhyun hanya menurut, ia meletakan kotak obat itu pada meja di hadapannya.
"Kemarilah." Chanyeol menepuk dadanya.
"Ada apa denganmu, Yeol?"
"Jangan menolakku. Tidurlah di atasku."
Mau tak mau, Baekhyun naik ke sofa lalu membaringkan tubuhnya di atas Chanyeol. Tangan kekar itu mendekap punggung Baekhyun cukup erat.
"Jika kau pergi dariku, aku berjanji akan membunuh mereka semua yang mengambilmu dariku." Tangan Chanyeol mulai mengusap surai Baekhyun yang terasa lembut.
"Apakah karena ini kau terluka? Kau memikirkan pembicaraanku dengan mereka?" Tanya Baekhyun bersandar pada dada bidang Chanyeol, namun ia mencoba untuk menatapnya.
"Entahlah, aku hanya takut untuk itu. Bahkan lebih takut dari pada harus di penjara."
"Berjanjilah tidak akan melakukan hal gila ini karena ku, Yeol." Baekhyun sedikit memajukan posisi tidurnya agar mendekati wajah Chanyeol.
"Dan berjanjilah akan tetap bersamaku, Baek."
Jemari lentik Baekhyun mengusap pipi Chanyeol dengan lembut. Bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman.
Chu~
Bibir tipis itu mendaratkan ciumannya pada bibir plum Chanyeol. Ia tidak tau harus melakukan apa untuk menenangkan Chanyeol, karena menurutnya dengan memberikan sentuhan lebih perasaan mereka akan kembali tenang.
*Skip*
Baekhyun lebih dulu bangun di pagi hari. Ia melirik jam dinding menunjukan pukul 7 pagi. Pandangannya beralih pada Chanyeol yang masih tertidur lelap.
Dapat ia lihat di bawah sofa yang cukup berantakan karena beberapa pakaian mereka yang terbuang sembarang.
Ya, keadaan keduanya full naked dengan posisi Baekhyun masih berada di atas Chanyeol. Sepertinya mereka kembali menghabiskan malam yang penuh gairah.
Perlahan Baekhyun mencoba beranjak dari tempat tanpa membangunkan Chanyeol. Namun baru ia sadari jika milik Chanyeol masih bersarang di dalam tubuhnya.
"Kau mau kemana?"
Tubuh Baekhyun mematung saat Chanyeol sudah terbangun karena pergerakannya.
"Tidurlah jika kau masih mengantuk, Yeol."
Bukan melepaskan, Chanyeol semakin mengeratkan lengannya yang mengunci tubuh mungil itu.
"Kau harus menemaniku." Chanyeol belum membuka kedua matanya.
Baekhyun masih tak mengerti dengan tingkah Chanyeol yang tiba-tiba manja seperti ini.
'Apakah dia begitu takut diriku pergi?'
"Aku lapar, Yeol. Sejak kau pergi aku belum makan."
"Tidak ada makanan di kulkas."
"Aku akan beli di luar."
"Andwae!"
"Wae? Aku tidak akan pergi jauh lagi."
"Kalau begitu pergi denganku."
Tiba-tiba Chanyeol beranjak dari tidurnya, membuat miliknya terlepas dari Baekhyun.
Tidak mau berdebat, Baekhyun tidak mempermasalahkan jika Chanyeol ikut dengannya untuk mencari makan di luar.
Ketika mereka berada di kedai pinggir jalan, tak sengaja Jongdae dan Minseok kembali bertemu dengan mereka.
"Baek?" Panggil Minseok.
Dan ya, tentu saja raut wajah Chanyeol sangat dingin saat dirinya kembali bertemu dengan dua orang di hadapannya ini.
"Apa kau belum sarapan?" Tanya Jongdae.
"N-nde..." Baekhyun hanya membalas dengan senyuman kaku.
"Cepat ambil pesanan kita. Dan pergi dari sini." Ucap Chanyeol ketika sang pemilik kedai memberikan pesanan mereka.
Baekhyun pun menuruti perintahnya. Ia mengambil bungkus pesanan makanannya.
"Bisakah kita makan bersama?"
Mendengar ajakan itu, Chanyeol menoleh kembali pada dua orang yang dari tadi terus tersenyum ramah. Tatapan Chanyeol sangat dingin dan mematikan. Namja ini pun mendekati keduanya dan berbisik sesuatu pada mereka.
"Jangan pernah menemuinya lagi, atau kalian akan ku bunuh."
Jongdae dan Minseok hanya mematung mendengar bisikan tersebut. Sedangkan Baekhyun di tarik pergi begitu saja oleh Chanyeol.
"Kenapa dia begitu menyeramkan eoh? Bahkan kita sudah ramah padanya." Gerutu Minseok.
"Sepertinya Baekhyun terparuh oleh namja itu." Pikir Jongdae.
"Kita harus mengambil Baekhyun darinya. Dia telah meracuni karakter Baekhyun."
*TBC*
