Chapter 2 :思い出 (Omoide) Kenangan

Suara melodi merdu nan hangat membangunkan seorang Mutsuki Hajime yang sedang memejamkan matanya di sebuah bangku taman, dirinya memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah. Karena merasa lelah setelah seharian dikelilingi oleh banyak orang di sekolah sampai tadi dia berpamitan pun masih saja ada orang yang mau mengikutinya. Entah kenapa selalu saja tuan muda ini, selalu dikelilingi oleh orang-orang, walaupun merasa tidak keberatan namun tetap saja pemuda bermata ungu ini terkadang membutuhkan waktu untuk menyendiri.

Mendongakan wajahnya ke langit jingga kemerahan pertanda hari sudah semakin sore, lampu-lampu di sekitar taman itu juga sudah dinyalakan. Suara melodi yang tadi membangunkan pewaris keluarga Mutsuki ini semakin lama semakin terdengar jelas.

'Biola?'pikir Hajime seraya telinganya menyimpulkan suara melodi itu.

Beranjak dari tempatnya beristirahat, pemuda berparas tampan ini menghampiri asal sumber suara itu. Sambil menjinjing tas sekolahnya, pemuda berumur 17 tahun ini mendapati seorang gadis memakai seragam sekolah SMA yang sedang memainkan biolanya dengan begitu hikmat sampai-sampai tidak menyadari bahwa orang-orang di sekitar memperhatikan permainan biolanya itu.

Permainan biola gadis itu kini sudah menyentuh bagian akhir, Hajime hanya bisa memperhatikan gadis berambut hitam panjang itu dengan tatapan terpukau. Baru kali ini dia melihat seseorang memainkan biola dengan penuh kehangatan dan penghayatan, seakan-akan perasaan sang pemain biola tersampaikan sampai ke lubuk hati yang mendengarnya.

Orang-orang yang melihat permainan gadis itu bertepuk tangan dengan meriah sambil memberikan ungkapan pujian, begitu juga dengan sang Ousama yang terpukau dibuatnya. Seakan terbangunkan dari sihir yang membuat dirinya lupa akan kehadiran orang lain di sekitarnya, gadis berambut panjang hitam nan lebat ini, membungkukan badannya tanda hormat pada orang-orang yang sudah melihat permainan biolanya, lalu mengangkat wajahnya memberikan senyuman lembut nan ramah bagaikan senyuman seorang Hime-sama dalam sebuah dongeng, mata hazelnya memancarkan kehangatan memukau orang-orang yang melihatnya.

-;-

"Hajime, bangun! Sudah pagi." Yayoi Haru anggota Six Gravity sekaligus icon bulan Maret ini menggoyangkan tubuh temannya itu yang masih terlelap dalam mimpinya.

"Hhhnnngggh"

"Hora.. Tsukishiro-san sudah datang lo'. Ayolah Hajime bangun.." sambil membuka gorden yang menutupi jendela kamar sang Ousama membiarkan cahaya matahari menyinari ruangan gelap itu.

Hajime mengernyitkan dahinya seraya sinar matahari memasuki ruangan, merayap menyinarinya, mengusap-usap matanya yang masih mengantuk "Hoamm.. Pa.. gi.. Ha..ru" kedua mata ungu miliknya berkedip seakan-akan mencoba mengusir rasa kantuknya itu.

"Ohayou Ousama.. Sa.. Sekarang cuci mukamu, semuanya sudah menunggu lo' di ruang kumpul," jawab pemuda berkacamata ini sambil tersenyum karena seperti biasanya Kuro-Ousama memang sangat membenci pagi hari.

Sudah sepantasnya sih kalau seorang bernama Mutsuki Hajime ini membenci pagi hari, secara setiap pergantian hari berarti setumpuk pekerjaan sudah menunggunya. Hajime adalah salah satu dari sekian banyak talent Tsukino Production yang paling banyak pekerjaan individunya, entah itu menjadi model iklan, majalah, menghadiri wawancara, dan masih banyak lagi. Dan semua pekerjaan itu harus dia kerjakan sampai tengah malam.

Terkadang Haru sebagai orang terdekat Hajime sampai heran bagaimana temannya itu dapat bertahan sampai sekarang. Bukan berarti pemuda berkacamata ini menginginkan sang Kuro-Ousama sakit atau semacamnya, tapi bagi orang biasa pasti tidak ada yang dapat bertahan dengan keseharian seperti Hajime itu.

"Hnnn.. iya,"

"Aku duluan ke ruang kumpul ya, Hajime," setelah mendapatkan jawaban Haru meninggalkan kamar temannya itu dan beranjak menuju ruang kumpul dimana seluruh anggota Six Gravity sudah berkumpul untuk mendengarkan dan mengkonfirmasi jadwal mereka masing-masing.

-;-

"Baiklah, nanti aku naik taksi saja pulangnya.. tidak apa-apa kok, Tsukishiro-san duluan saja.. Iya.. Sampai jumpa."

Hajime mematikan sambungan telephonenya dengan Tsukishiro-san yang tadi bilang kalau dia tidak dapat menjemputnya karena masih ada pekerjaan di kantor yang harus segera diurus, sepertinya pekerjaan sebagai manajer sebuah grup idol juga tak kalah melelahkan, bahkan bisa dibilang lebih merepotkan dari Idol itu sendiri. Menjadwalkan pekerjaan masing-masing Idol setiap harinya, bahkan mengurus keperluan sehari-hari seorang Idol. Sang Ousama merasa sangat berterimakasih dengan kerja keras seorang Tsukishiro Kanade yang selalu bekerja dengan baik mengurusi anak-anak Six Gravity.

Keluar dari studio foto tempat tadi dia melakukan pemotretan untuk sebuah majalah fashion, Hajime memasukan tangannya ke dalam saku jaketnya, udara malam berhembus lembut mengenai pipi sang Idola ini. Mengangkat kepalanya memandang sejenak hitamnya langit bertabur bintang, sambil berpikir kalau sudah sebulan lamanya dia belum mendapatkan libur. Otaknya sudah mumat penuh dengan pekerjaan yang sudah dia lewatkan, sepertinya sudah saatnya untuk menyegarkan pikirannya itu.

Untuk pertama kalinya dalam sebulan seorang Mutsuki Hajime memutuskan untuk tidak kembali ke asrama menggunakan taksi, melainkan berjalan kaki sambil menikmati udara malam. Hanya pada malam hari seperti ini -malam tanpa banyak orang yang berlalu lalang, tanpa memikirkan bahwa ada seorang Idol terkenal berbaur di tengah mereka -pemuda bermata ungu ini dapat menikmati kehidupannya sebagai orang biasa tanpa harus menyamar.

Langkahnya terhenti ketika mendapati seseorang sedang duduk di sebuah bangku taman yang tak jauh dari asrama.

'Are.. Bukannya itu?' Hajime mengenali figur itu, apa yang dilakukan gadis itu jam segini? Tidakkah dia tau kalau berbahaya untuk seorang gadis muda masih berada di luar jam setengah satu malam begini?

Menghampiri gadis yang duduk di bangku taman itu dengan langkah cepat, Hajime menghentikan langkahnya di samping bangku dan mendapati kalau gadis berambut hitam panjang itu sedang menggunakan earphone sambil mempelajari sebuah buku? Tidak itu adalah sebuah partiture.

"Oi.." memanggilnya sekali, dan tak ada jawaban.

Mendesah perlahan ketika panggilan keduanya masih tetap tak diindahkan.

Akhirnya leader Six Gravity ini berdiri tepat di depan gadis muda yang masih menundukkan kepalanya mempelajari partiture di pangkuannya, "Hoiii Kurotsuki-san!" panggilnya menggoyangkan punggung gadis itu sambil membungkukkan badannya sedikit..

"WHOAH!"

-;-

"Gomen nasai! Daijoubu desu ka?" Kurotsuki Ayane gadis berambut hitam lebat ini, meminta maaf sekaligus menanyakan keadaan dagu pemuda ini yang tak sengaja terbentur kepalanya.

Untuk pertama kalinya Hajime merasakan sakit seperti ini, rasa sakit yang tidak sebanding dengan latihan bela diri "Si…l.. Sakit tahu! Kepalamu terbuat dari baja ya?! Keras sekali.." mengelus-elus dagunya memerah.

Mata hazel seorang Kurotsuki Ayane memancarkan kehangatan sambil tertawa, "Tentu saja tidak, Mutsuki-san.." lalu menggantikan tangan Hajime yang masih mengelus dagunya "Ah merah sekali.."

Pupil milik Hajime membulat seraya merasakan tangan Ayane yang begitu lembut mengelus dagunya. Mata ungunya bertemu dengan mata hazel misterius sang Hime-sama ini seraya bertanya, "Ne.. Mutsuki-san, apa aku akan dipenjara karena telah melukai seorang Idol?!"

"Tentu saja kamu akan dipenjara.."

Mata hazel yang memukau itu membulat raut wajahnya berubah menjadi suram, mendengar jawaban datar dari Idol berumur 22 tahun itu. Tidak! Dia tidak mau dipenjara!

"Kalau perbuatan itu memang disengaja untuk menyakiti.." lanjut sang Idol melihat gadis itu yang panik.

"Hontou ni gomen nasai! Benar deh aku tidak sengaja, lagipula salah Mutsuki-san sendiri yang tiba-tiba mengagetkanku begitu.." protes gadis sang empunya mata hazel itu sambil cemberut.

Hajime berdeham menahan dirinya mengucapkan kata 'imut' sambil mengalihkan pandangannya dari Ayane yang cemberut. "Maaf, maaf.." menepuk pundak Ayane dengan pelan, iris ungunya menyipit, "Lagipula aku juga sudah memanggilmu beberapa kali tapi tidak jawab.. Dan lagi kamu ngapain sih jam segini masih di sini?" omel sang Ousama pada Ayane yang berdiri di depannya sambil menundukkan kepalanya dengan malu karena sudah diomeli oleh seorang Idol.

"Memangnya sudah jam berapa sekarang, Mutsuki-san?" tanya gadis bermata hazel yang tingginya sepundak Hajime ini dengan senyuman kecil di bibir merah mudanya.

Dengan nada datar Idol yang digandrungi gadis remaja ini menjawab "Satu"

"Whoah.. aku benar-benar tidak menyadarinya sama sekali kalau sudah malam…" gumam lawan bicara sang Idol itu sambil berpikir kalau ini sudah yang ke berapa kalinya sang Idol yang menjadi Icon bulan Januari ini mendapati dirinya di tempat dan jam yang sama seperti ini.

Mata ungu milik Hajime melihat ke arah bangku taman yang di atasnya berserakan beberapa partiture dan sebuah tas biru tempat penyimpanan biola, lalu bekata dengan nada menyuruh "Bereskan, semuanya. Aku antar pulang."

Seakan tak bisa berkutit atas petuah yang diberikan, Ayane menjawab "Baiklah.." lalu membereskan barang-barangnya yang berada di atas bangku taman itu.

-;-