Chapter 3 : 帰り道 (Kaeri Michi) Jalan pulang
Kedua pemuda-pemudi itu berjalan berdampingan di bawah langit malam gelap. Sambil menjinjing tas biola milik Ayane, Hajime yang biasanya memilih menjadi pendengar, kini memutuskan untuk memulai percakapan di antara mereka. "Lalu, dari sejak jam berapa kamu ada di sana?" tanya pemuda pemilik mata ungu ini sambil memperhatikan sosok Ayane dari samping.
Menyelipkan rambutnya ke balik telinga, menoleh dan menjawab, "Mungkin kisaran jam sepuluh," tersenyum ragu atas jawabannya sendiri. Lagipula Ayane juga tidak terlalu persis sudah sejak kapan dia berada di taman itu, tapi yang pasti setelah menyelesaikan pekerjaannya di café, dia langsung beranjak pergi ke taman itu. Awalnya dia hanya ingin mengecheck partiture yang baru saja diberikan oleh dosennya tadi siang, tapi dia malah keterusan mempelajari partiture itu sampai-sampai lupa akan waktu.
Dengan desahan Hajime menimpali "Omae sa.." melirik tas yang dibawa perempuan bermata hazel itu dengan pandangan yakin kalau di dalam tas itu berisikan partiture-partiture permainan biola, "…Hontou ni baka da na.."
"EH?!" balas Ayane cepat bibir merah mudanya mengerucut, tidak terima dengan perkataan pemuda yang memiliki tinggi 182 cm itu, "Mutsuki-san, jahat sekali.."
"…Lagian apalagi kalau bukan namanya bodoh sampai-sampai lupa kalau sudah berjam-jam berlalu sampai pertengahan malam begini? Kebiasaan burukmu itu harus dihilangkan, Kurotsuki kalau tidak akan membahayakan dirimu sendiri lo' " sangatlah jarang bagi leader Six Gravity ini berbicara seperti ini kepada oranglain di luar anggota Six Gravity maupun anggota Procella.
Memang benar ucapan dari Hajime, kebiasaan Ayane itu bisa dibilang buruk kalau dilihat dari kejadian ini, namun bisa dibilang baik kalau dilihat dari sisi lain. Kebiasaan lupa akan waktu kalau sudah berkonsentrasi, bahkan sampai tidak menyadari keberadaan apa-apa di sekitarnya -seakan-akan dia berada di dunianya sendiri -itu sangat berbahaya kalau perempuan berparas cantik bak Nadeshiko ini berada di luar ruangan.
Seakan-akan diomeli oleh orangtuanya Ayane dengan nada bersalah menjawab, "Iya, maaf.." lalu menoleh memperhatikan Idol yang berjalan di sampingnya itu dengan senyuman jahil Ayane kembali melanjutkan "… Ngomong-ngomong Mutsuki-san sudah seperti ayahku saja… hehehe" sambil tertawa riang, mengejek Hajime.
"Hora!"
-;-
Sudah 3 bulan lamanya sejak Hajime mengenal sosok Kurotsuki Ayane. Bermula dari pencariannya terhadap Kuroda yang kabur, pemuda berambut hitam ini bertemu dengan perempuan bermata hazel misterius itu. Tadinya sang Idol ini mengira kalau mereka tidak akan bertemu lagi setelahnya, namun seperti takdir atau bisa dibilang kebetulan membawa mereka berdua saling bertemu dan malah semakin mengenal satu sama lain.
Beberapa kali Hajime bertemu lagi dengan Ayane dengan cara yang sama. Setiap kali Hajime memutuskan untuk pulang ke asrama dengan berjalan kaki, sang Kuro-Ousama ini menemukan perempuan sang pemain biola itu sedang duduk atau memainkan biolanya di taman tak jauh dari asrama. Entah mengapa sejak awal bertemu kembali tidak ada rasa canggung sama sekali, bagaikan teman akrab yang bertemu kembali, mereka berbincang ringan mengenai hal kecil. Sejak saat itu juga mereka menjadi teman akrab bahkan sampai bertukar nomor dan alamat chat.
Bahkan seorang Mutsuki Hajime sang Idol terkenal yang selalu bertemu dengan orang baru -baik itu artis, staff -tidak bisa begitu saja akrab. Namun ada faktor apa yang mempengaruhi Idol ini berbicara dengan alami, layaknya ketika dia berbicara dengan Haru. Membicarakan hal-hal kecil, keluh-kesahnya sehabis kerja, bahkan masalah yang berhubungan dengan pekerjaan, begitu saja keluar dari mulut menawan sang Ousama.
Mungkin keberadaan seorang Kurotsuki Ayane yang begitu ramah nan lembut serta mengeluarkan aura misterius membuat oranglain terperangkap dalam kehangatan nyaman memanipulasi diri ini untuk mengatakan semua yang terlintas di hati membongkar rahasia terdalam yang tak bisa diungkapkan. Kekuatan yang menyeramkan sekaligus mengagumkan.
Kurotsuki Ayane perempuan menawan berambut hitam panjang lurus jatuh sampai di pertengahan pinggangnya, mata hazel memancarkan kehangatan sekaligus misterius, bibir merah muda yang merekah, bak Nadeshiko. Seorang pemain biola yang sudah berada di tahun ketiganya di sebuah kampus prestisius khusus musik.
Kecantikan Ayane hampir bisa dibilang sama dengan seorang Hanazono Yuki, -leader grup Fluna -mereka berdua layaknya Nadeshiko -tingkat kecantikan Jepang Tradisional -tapi ketidaksempurnaan sosok Ayane membuat perempuan itu melebihi sosok Hanazono Yuki.
Kurotsuki Ayane tahu batasan yang dapat dia lakukan, dan menerima batasan itu tanpa ingin mengubahnya. Menerima batasan itu sebagai ketidaksempurnaan dirinya yang menjadikan dirinya sebagai manusia biasa. Sedangkan Hanazono Yuki terus memaksa dirinya untuk melampaui batasan yang bisa dia lakukan sampai dia bisa menuju ke puncak kesempurnaan.
-;-
Sesampainya di depan apartemen Ayane, Hajime menyerahkan kembali tas biola pada sang empunya, "Lain kali jangan sampai seperti ini lagi.." mengangkat salah satu alisnya dengan nada yang terdengar kesal Hajime menasihati teman perjalanan pulangnya itu. Walaupun tahu kalau nasihatnya itu tidak akan dihiraukan oleh sang empunya biola, karena sudah beberapa kali dia menasihati hal yang sama namun masih saja perempuan berumur 21 tahun itu melanggar nasihatnya.
Ayane meraih tas biola yang sudah dibawakan Hajime sambil tertawa seakan tidak mengindahkan nasihat sang Idol bermata ungu itu. "Arigatou Mutsuki-san sudah mengantarku pulang.." membungkukkan badannya dengan cepat, lalu tersenyum mata hazelnya bertemu dengan mata ungu gelap menatapnya dengan tatapan hangat, "Otsukaresama! Maaf tadi aku lupa mengucapkannya…" menepuk pundak sang empunya mata ungu itu.
Sudut bibir merah Hajime terangkat, menatap Ayane dengan hangat "Arigatou.." hanya dengan satu ucapan itu beban pekerjaannya seakan-akan menghilang dari pundaknya "… Omae mo na. Otsukaresama.." mengelus puncak kepala sang Hime-sama.
Membalasnya dengan senyuman lembut, Ayane mengambil langkah "Ja, Sampai jumpa lagi Mutsuki-san.." membungkukkan badannya kembali, Ayane melambaikan tangannya.
"Sampai jumpa.." balas Hajime dengan singkat lalu menunggu sampai Ayane memasuki apartemen sebelum pada akhirnya dia beranjak melanjutkan perjalanannya dia pulang menuju asrama.
-;-
Jarak asrama dengan apartemen hanya berkisar 10 menit dengan berjalan kaki, jadi perjalanan Hajime tidak terlalu jauh. Sambil menutup mulutnya yang menguap sang leader Gravi ini memasuki kamar pribadinya. Menyalakan lampu kamarnya, cahaya terang langsung merayap menerangi ruang tidurnya. Mendesah pelan ketika mendapati ternyata di atas tempat tidurnya sudah ada penghuninya, yaitu Kuroda yang sudah tertidur pulas.
Mengambil pakaian ganti lalu beranjak untuk membersihkan dirinya sebelum tidur. Hajime merenggangkan tubuhnya yang lelah lalu mengangkat Kuroda dari atas tempat tidur, menggendongnya "Kuroda?" mengelus bulu hitam halus milik kelinci itu sambil mencoba membangunkannya. Namun tampaknya Kuroda sudah begitu terlelap dalam tidurnya. Mendesah sambil menarik selimut, sang Idol ini berbaring di atas tempat tidur dengan Kuroda yang berada didekapannya.
-;-
Ayane membereskan partiture yang berserakan di atas meja kecil yang ada di tengah ruang tamu apartemennya. Bahkan sampai jam setengah dua malam pemilik mata hazel ini belum juga tidur, malahan dia menyendok pudding cokelat yang tadi dia ambil dari dalam kulkas.
'Memang deh kalau habis belajar enaknya makan puding~!' menyenderkan badannya ke tembok menarik nafas panjang, sambil berpikir kalau sudah keempat kalinya leader Gravi yang bernama Mutsuki Hajime menemukannya di taman di tengah malam begini, dan keempat kalinya juga pemuda itu mengantarkannya pulang, padahal Ayane awalnya selalu menolak ajakannya itu karena dia tahu kalau pastinya sang Idol juga kelelahan setelah bekerja, namun pemuda bermata ungu itu bilang setelah Ayane mengatakan alamat apartemennya "Kalau itu tidak jauh dari asrama jadi sekalian saja, lagipula aku lewat situ."
Mata hazel misterius itu menatap langit berpikir kembali, kalau ini merupakan pengalaman pertamanya bisa berteman dengan seorang Idol. Pertama kali bertemu dengan Mutsuki Hajime dan temannya Yayoi Haru, Ayane benar-benar tidak mengenali mereka karena perempuan ini tidak begitu memperhatikan sekitarnya -well, kalau kata Shoko bahwa Ayane hidup tertutupi oleh sebuah balon besar memisahkan dunia hingar bingar dengan dirinya -lagipula dia bukanlah fans Six Gravity seperti Fujiwara Shoko, temannya sejak SMA, lalu dia baru bahwa kedua pemuda itu adalah Idol setelah mengingat poster besar yang terpampang di pintu apartemen Shoko.
Tidak mengikuti trend yang sedang digeluti orang banyak, maupun berita politik yang sedang memanas, bagi Ayane dia tidak tertarik dengan itu semua. Harus ada hal khusus yang dapat menarik perhatian Ayane.
Namun bukan berarti dia ini bagaikan tuan putri yang tidak tahu apa-apa di dunia luar sana. Dia tahu bagaimana keras dan sulitnya kehidupan dan dia sudah merasakannya sendiri. Tidak seperti anggapan orang tentangnya, Ayane hanyalah perempuan berumur 21 tahun biasanya.
Tak ada yang special darinya, bermain biola? Oranglain juga bisa bermain biola lebih bagus darinya. Cantik? Di luar sana banyak yang lebih cantik nan menawan. Namun entah mengapa orang-orang selalu menganggapnya dirinya itu sebagai Hime-sama.
Kalau dia memang Hime-sama, Ayane tidak usah repot-repot untuk megikuti berbagai kompetisi musik agar mendapatkan juara dan meraih impiannya. Menjadi juara pertama di kompetisi musik classic Nasional. Bersusah payah bersaing dengan banyak orang yang mempunyai impian yang sama. Terlebih dia juga memiliki kompleks sendiri. Ayane bukanlah orang yang percaya diri, dia tidak percaya dengan kemampuannya, terkadang bahkan sering dia frustasi ketika melihat oranglain dapat menampilkan permainan yang begitu apik. Oleh karena itu dia berlatih terus sampai-sampai lupa waktu untuk mengasah permainan biolanya.
Tersenyum miris lalu mendesah lelah "Baka da na.."
Ayane yang dimata orang lain dan Ayane yang ini sangatlah bertolak belakang.
-;-
