Chapter 4 : 珍しく (Mezurashiku) Jarang Terjadi

Shiwasu Kakeru berjalan menyusuri jalan pulang menuju asrama setelah menyelesaikan sesi pemotretan tadi siang. Langit merah jingga terlukis dengan begitu indah, perut pemuda berambut pirang ini tiba-tiba berbunyi menandakan pasokan makanan di dalamnya sudah habis untuk dibakar menjadi energi. Lagipula tadi siang dia hanya memakan tiga buah sandwich yang disediakan staff di studio foto, dan sekarang dirinya sudah lapar lagi.

'Yappa, kalau sore begini enaknya makan yang manis-manis sambil minum teh' pikir sang Idol berparas pendek ini, kedua matanya mencari-cari toko makanan murah di sepanjang jalan. Sepertinya ramalan Shun-san kalau hari ini adalah hari keberuntungan untuk orang yang lahir pada bulan desember benar adanya. Mulutnya membentuk huruf 'O' ketika mendapati papan tulis di depan sebuah café yang bertuliskan beli 6 gratis 6 dengan harga murah lagi. Tanpa berpikir panjang Shiwasu Kakeru yang terkenal dengan gaya hidup hematnya langsung terpanggil dan langsung beranjak memasuki café tersebut.

"Irasshaimase.."

'Whoah kirei' mata orange milik pemuda berusia 20 tahun ini terpana melihat seorang pelayan wanita yang sangat cantik bagaikan putri dari kisah Yamato-Nadeshiko ini menyapanya ketika memasuki café dengan interior jepang classic. Walaupun Kakeru sendiri seorang Idol yang sudah sering melihat banyak artis dan model cantik, tapi baginya kecantikan pelayan wanita ini sangatlah berbeda. Kalau bisa dikatakan bukan paras cantik saja tapi wanita ini memancarkan sebuah aura yang sangat mirip dengan–

'Aura Hajime-san,' kedua Iris matanya masih terus menatapi sang pelayan wanita yang memakai sebuah kimono yang sangat pas ditubuhnya. Yup menurut pemuda bertubuh paling kecil dibandingkan member Six Gravity lainnya ini wanita ini bagaikan Mutsuki Hajime versi wanitanya. Memancarkan aura karismatik, dan Ousama dalam hal ini lebih tepatnya disebut Jousama secara pelayan itu adalah wanita.

"Ano, Okyaku-sama,"

Suara lembut pelayan itu membangunkan Kakeru yang masih terpana.

Dengan suara lantang Kakeru menjawab "Hai!" bagaikan seorang tentara yang menjawab pimpinannya.

Pelayan berambut hitam panjang bermata hazel ini tertawa lembut, "Apakah ada yang bisa saya bantu?"

Jantungnya berdegup cepat seraya gugup menjalar diseluruh tubuh mungil pemuda yang bernama Kakeru ini, dengan terbata-bata dia menjawab, "Apakah persedian kue yang sedang dipromosikan masih ada?" entah mengapa dia menggunakan tutur bahasa yang sangat sopan.

Pelayan wanita bermata hazel itu terheran dengan kelakuannya -tidak seperti biasanya seorang pembeli menggunakan bahasa yang begitu baku, seharusnya yang menggunakan bahasa baku adalah pelayan itu sendiri, -dengan senyuman kecil pelayan ini menjawab, "Iya masih ada, anda mau memesan rasa apa saja?" lalu menjelaskan beberapa variant rasa yang bisa dibeli.

'Cokelat pisang, cokelat blueberry, vanilla macha, sepertinya semuanya enak.' Pikir Kakeru membayangkan betapa nikmatnya kue-kue yang dipesannya itu sambil menahan air liurnya yang tergoda dengan hanya memikirkan kue-kue tersebut.

Menunggu sang pelayan wanita cantik itu membungkus kue-kue tersebut, pemuda berambut pirang ini memerhatikan isi café classic itu. Terlihat beberapa pembeli yang sedang menikmati makanannya, tidak begitu ramai, bahkan bisa dikatakan sepi. Walaupun ada papan promosi di depan pintu café, namun pembelinya sedikit. Bisa dikatakan bahwa café ini baru saja buka beberapa bulan dan belum banyak orang yang mengetahui keberadaan café ini. Bisa dibilang lokasi café ini tidak strategis.

"Maaf menunggu,"

Kakeru menoleh ke arah pelayan Hajime versi wanita itu yang membawa dua buah kotak kue. Pelayan tersebut membuka kedua kotak kue itu dan memperlihatkan isinya. Di dalam kotak tersebut terdapat 6 buah kue dengan 3 variant rasa. "Yang ini adalah 6 kue yang dibeli, dan yang ini adalah 6 kue gratisnya" jelas pelayan berkimono tersebut sambil menunjukan kue-kue tersebut yang begitu cantik.

Seandainya kue itu bukan makanan, Kakeru tidak tega untuk memakannya. Alasannya adalah kue-kue tersebut sangatlah cantik, setiap hiasan kue itu sangatlah detail dan elegant. Tapi sayangnya hiasan cantik itu akan masuk ke dalam perut pemuda berumur 20 tahun ini.

"Arigatou gozaimasu" mengambil beberapa lembar uang yen, Kakeru membayar kue tersebut.

Pelayan cantik ini memberikan senyuman kecil, menyerahkan uang kembalian sekaligus 2 buah kotak kue yang tadi dibeli sang Idol, "Arigatou gozaimasu.. Mata kite ne," ucap sang pelayan sambil menundukkan badannya.

-;-

"Apa itu yang kamu bawa Kakeru-san?" tanya seorang pemuda berambut pink kepada Shiwasu Kakeru yang baru saja sampai di asrama.

Menghampiri meja makan yang ada di ruang kumpul, lalu meletakkan 2 kotak kue di atasnya, sambil beranjak menuju wastafel Kakeru menjawab pertanyaan pemuda berambut pink yang bernama Koi Kisaragi tersebut dengan nada suara bangga, "Coba dengar Koi hari ini adalah hari keberuntunganku! Fu,fu,fu,"

Koi tersenyum bingung dengan jawaban anggota Six Gravity yang seumuran dengannya itu "Haa.. Aku tidak begitu mengerti sih'.. lalu?" tanya sang Idol, jari telunjuknya menunjuk 2 kotak di atas meja.

"Aku membeli kue~.." setelah mencuci tangannya pemuda berambut pirang ini menghampiri meja makan, menatap kedua kotak kue itu dengan tatapan senang "Dan tahu tidak aku membeli kue ini dengan setengah harga~ mereka sedang mengadakan promosi beli 6 gratis 6~…" menarik nafasnya dalam, Kakeru lalu melanjutkan "Sugoi darou?!~" mata orange miliknya memancarkan kerlingan menyilaukan.

Koi Kisaragi yang dijadikan Idol icon Februari ini hanya bisa menatap temannya itu dengan heran, "Haa.. Sugoi," mengiyakan pernyataan tadi dengan nada terpaksa, "Toko kue yang dimana?" sepanjang pemuda berambut pink ini tahu, toko dekat mereka bekerja tidak ada yang menawarkan promosi kue seperti ini.

Dengan tampang arrogant pemuda kecil berambut pirang itu menjawab, "Fu,fu, fu, café yang tidak berada jauh dari sini, mungkin sekitar 20 menit dengan berjalan kaki.."

"Café?" Koi bertanya lagi layaknya wartawan yang sedang mewawancarai. Sepengetahuannya dia tidak ada café dekat asrama mereka. "Apa café itu baru buka?"

Memasang wajah berpikir anggota Gravi paling bertubuh pendek ini mengangguk, "Sepertinya sih café itu baru beberapa bulan buka" mengingat kembali situasi café tadi yang hanya didatangi beberapa pengunjung saja.

"Ja, berarti Kakeru-san belum tahu apakah kue itu enak atau tidak bukan?" sambil menatap kotak kue di atas meja makan dengan tatapan lekat, "Jangan-jangan kuenya tidak enak makanya dibuat promosi gratisan biar cepat habis," lanjut Koi, kedua iris matanya memancarkan kerlingan curiga.

"Heeee!" mata orange Kakeru membulat, 'Benar juga ya! Tapi dari penampilan kuenya terlihat sangat enak!' pikir sang empunya kue itu. "Tapi Koi kue-kue ini terlihat sangat enak lo'" sambil membuka salah satu kue tersebut dengan senyuman terpaksa. "Hora.. miro!"

Kedua iris mata Koi membulat seraya memerhatikan keenam kue di dalam kotak yang disodorkan Kakeru ke hadapannya, "Whoah benar! Kelihatan enak!" sambil menalan ludahnya, pemuda yang memiliki kembaran di anggota Fluna ini terus menatap kue-kue itu.

"Kan sudahku bilang," jawab Kakeru mengikuti Koi menatap kue-kue yang tadi dia beli dengan tatapan lekat.

"Sedang apa kalian berdua?"

"WHOAH!"

Tiba-tiba terdengar suara yang membangunkan kedua pemuda anggota Six Gravity yang paling muda ini dari lamunan mereka memakan kue-kue manis dihadapan mereka.

-;-

Yayoi Haru meneguk teh yang dibuatkan oleh Koi, "Ah, cafe yang itu," ucapnya seketika setelah mendengar cerita Kakeru dengan kue yang dibelinya. Café dimana dia dan Hajime bertemu dengan Hime-sama -ah salah tapi dengan perempuan berparas cantik bernama Kurotsuki Ayane. Berkat Kuroda lelaki berkacamata ini beberapa kali mengunjungi café tempat Ayane bekerja. Awalnya Haru kembali mengunjungi café itu untuk memberikan ucapan terimakasih sekaligus meminta maaf karena sudah merepotkan atas kejadian Kuroda, namun karena suasana café yang tenang, dan nyaman ditambah dengan berbagai variant teh membuat Haru menjadi ketagihan mengunjungi café tersebut.

"Terus ya Haru-san pelayannya sangat cantik deh~"dengan mata orange yang bersinar Kakeru menceritakan betapa cantiknya pelayan café tersebut, "Bagaikan Nadeshiko~" lanjutnya dengan nada yang menggebu-gebu.

"Heee jadi ingin lihat.." Koi mengomentari cerita Kakeru,

Haru menggumam, "Nadeshiko?" memasang wajah berpikir lelaki berkacamata ini bertanya, "Ne Kakeru, pelayan itu apakah berambut panjang, bermata hazel, dengan senyuman hangat?"

"Sou da yo.. Ne kenapa Haru-san bisa tahu?" jawab Kakeru dengan heran, bagaimana ibu dari Six Gravity ini bisa tahu tentang pelayan itu? Kedua mata orange miliknya membulat, "HAH! Jangan-jangan Haru-san seorang esper?"

"Wheee!" ucap Kakeru dan Koi secara bersamaan

Dengan senyuman khasnya Haru menjawab, "Tidaklah, aku bukan Shun yang memiliki kekuatan seperti itu," mengibas-ngibaskan tangannya seakan-akan menepis pernyataan dari member Gravi paling kecil itu. "Aku mengenal pelayan itu.." jelas Haru sambil memerhatikan kue berwarna hijau muda dengan beberapa cokelat putih berbentuk burung merpati yang menghiasinya, "Kue ini sangat merupakan ciri khas mereka.." tambahnya sebelum memotong kue vanilla macha itu.

Sambil mengunyah kue, suatu hal terlintas dibenak sang idol berkacamata ini, 'Kalau Kurotsuki-san pelayan di café itu, lalu mengapa setiap aku ke sana tak bertemu ya?Hmmm…' setelah dipiki-pikir lagi setiap Haru berkunjung dia tidak pernah bertemu dengan Kurotsuki Ayane yang melayani.

Saat dia bertemu dengan Ayane ketika ingin mengucapkan terimakasih juga, perempuan bermata hazel itu tidak mengenakan seragam pelayan. Lalu mengapa hari ini Kakeru bisa bertemu dengan Kurotsuki Ayane? Apakah dugaan dia salah kalau Ayane-lah yang melayani pesanan Kakeru? Tidak. Haru sangat yakin kalau itu adalah Ayane. Lagipula siapa lagi yang bisa disebut dengan Nadeshiko selain Kurotsuki Ayane.

"Tadaima.."

Suara yang sangat dikenal Haru membangunkan pemuda berkacamata ini dari lamunannya.

"Eh?! Hajime-san kok ke sini?" sambut Koi dan Kakeru bersamaan melihat leader grup mereka yang pulang lebih awal dari jadwal yang tadi pagi diberitahukan oleh Tsukishiro-san.

Berhenti di pertengahan lorong antara ruang kumpul dan ruang makan, Mutsuki Hajime menjawab dengan nada sarkastik "Iyalah aku kan tinggal di sini.." lalu beranjak menuju wastafel untuk mencuci tangannya.

"Bukan itu maksudnya.. tapi kok pulang lebih cepat? Bukannya malam ini ada meeting?" tanya Koi memerhatikan Kuro-Ousama yang sedang mencuci tangannya di wastafel.

Sambil mengeringkan tangannya dengan handuk Hajime menjawab, "Dibatalkan, jadi bisa pulang.." mata ungu miliknya menangkap dua buah kotak kue di atas meja makan. "Sore wa?" tanyanya sammbil menunjuk kotak tersebut.

Haru yang duduk di sofa menjawab "Kakeru membeli kue dari café tempat Kurotsuki Ayane-san bekerja.." membenarkan posisi kacamatanya, "Apa Hajime ingat dengan Kurotsuki-san?" lanjut Haru mempertimbangkan apakah sang Ousama ingat dengan orang yang telah menemukan Kuroda beberapa bulan lalu.

"Hnnn.. Begitu." berjalan menuju ruang kumpul, idol yang memiliki fans bernama Initium ini lalu duduk di samping Haru, "Ingat kok," lanjutnya sebelum mengucapkan terimakasih kepada Kakeru yang menuangkan teh untuknya.

"Hajime-san mau rasa apa?" tanya Kakeru membuka kotak kue lalu menunjukkan kue tersebut ke depan sang leader.

"Cokelat blueberry" jawab lelaki bermata ungu ini dengan santai, 'Sudah lama tidak memakan kue ini lagi,' pikir sang Kuro-Ousama.

Memang sudah lama dia tidak memakan kue dengan rasa ini. Pertama kali dia mencobanya adalah ketika berkunjung untuk menyampaikan terimakasih setelah insiden Kuroda terjadi. Hajime yang tidak terlalu suka dengan makanan manis ini sangat menyukai kue rasa cokelat blueberry ini karena rasa manis cokelatnya tercampur dengan rasa blueberry yang segar.

"Eh Hajime kenapa bisa tahu rasanya?" tanya Haru heran karena bagaimana teman sejak SMP-nya itu tahu rasa kue tersebut, sedangkan Kakeru tidak memberitahukannya -Kakeru hanya menunjukkan kue di dalam kotak tanpa memberitahukan rasanya. Iya memang kue tersebut berwarna ungu yang berasal dari blueberry, tapi bisa saja oranglain menebaknya dengan cokelat anggur. Terlebih lagi cokelat dari kue tersebut tersimpan di dalamnya, jadi bagaimana sang leader tahu sebelum kalau kue itu adalah cokelat blueberry.

Aneh.

Mengambil kue yang dia inginkan, Hajime menjawab Haru dengan santai, "Karena aku pernah memakannya…" lalu memotong kue itu dengan sendok, isian cokelat kue itu meluber keluar.

"Ehh.. Tapi aku tidak pernah lihat Hajime-san memakan kue seperti ini.." Haru dan Koi menganggukkan kepalanya tanda menyetujui pernyataan dari Kakeru yang terheran itu.

"Itu karena aku memakannya di café" jawab sang Ousama setelah mengunyah potongan kue yang dipotongnya menggunakan sendok.

"EH?! Hajime ternyata pergi ke café itu juga?" Haru menyondongkan tubuhnya mendekat ke Hajime.

"Kedekatan.." gumam Hajime menjauhkan wajah temannya itu, "Ke sana untuk menyampaikan terimakasih." Jawabnya menoleh Haru dengan cepat.

"Menyampaikan terimakasih?" ucap kedua pemuda paling muda usianya diantara anggota Gravi sambil menatap satu sama lain.

Idol berkacamata yang duduk di sampingnya mengangguk tanda mengerti -ungkapan terimakasih atas kejadian Kuroda waktu itu. membenarkan letak kacamatanya Haru kemudian bertanya lagi kepada Hajime, "Ne Hajime, kalau kamu pernah ke café itu, apakah kamu tahu kalau Kurotsuki-san bekerja di sana sebagai pelayan?" pikirannya sebelum sang leader pulang kembali menghampirinya.

"Pelayan?" kedua iris ungu milik Hajime bertemu dengan mata Haru yang berkacamata, menatapnya dengan bingung, "Kurotsuki bukan pelayan, tapi seorang chef yang membuat kue-kue ini."

"Whoah! Hajime-san kenapa bisa tahu?!"

Tanpa Haru bertanya kedua member paling muda ini bertanya kepada sang leader yang sekarang sedang meneguk tehnya.

"Karena aku berteman dengannya," jawab Mutsuki Hajime dengan santai seolah-olah jawabannya itu bukanlah sesuatu hal yang besar. Memang kalau dilihat pernyataan itu bukanlah hal yang besar, tapi bagi Haru dan anggota Six Gravity lain ini adalah hal yang besar. Terlebih ini berasal dari mulut sang Kuro-Ousama yang hanya berurusan dengan pekerjaan dan mungkin kenalan Hajime adalah orang-orang yang bekerja sama dengannya.

"EH?!"

"Tentang itu aku belum pernah dengar," gumam Haru yang terkejut dengan jawaban Hajime.

Teman?

Dengan orang yang benar-benar tak ada hubungannya dengan pekerjaan?

Sesuatu yang jarang -bahkan bisa dibilang tidak pernah terjadi -terjadi dalam dunia Hajime.

Sepengetahuan Haru, sang leader sangat jarang berteman dengan oranglain di luar pekerjaan maupun di luar kampus. Dan berteman dengan Kurotsuki Ayane? Hajime? Sampai-sampai tahu tentang pekerjaan sang perempuan bermata hazel misterius nan hangat itu?

Aneh.

Sangat aneh.

Dari balik kacamatanya Haru memerhatikan temannya itu yang sedang bercerita kepada Kakeru dan Koi tentang kejadian Kuroda yang kabur dan mempertemukan Haru dan dirinya dengan seorang Kurotsuki Ayane.

-;-