Chapter 5 : 休日 (Kyuujitsu) Hari Libur

'Iya aku mengerti. Sudah sana cepat pergi dan jangan pulang sebelum jam 7 ya!'

Ayane mendesah pelan berjalan menelusuri pinggiran sungai yang membelah daerah apartment dengan pusat kota. Perempuan berumur 21 tahun ini masih tidak percaya kalau dirinya diusir dari apartment miliknya oleh Shoko yang merupakan teman dekatnya dari SMA. Mungkin memang ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu, kalau dirinya membutuhkan suasana yang berbeda, secara sudah tiga hari ini dirinya mengurung diri -yang sebenarnya tidak sengaja dia lakukan karena terlalu fokus -di apartment berlatih arasemen musik yang akan dia bawakan untuk audisi kompetisi di kampusnya.

Menoleh ke sungai bening yang mengalir dengan tenang, sebuah senyuman kecil menghiasi wajahnya, menengadah melihat sinar matahari yang dengan perlahan terpancar ke penjuru ufuk. Betapa senangnya Ayane bisa melihat matahari lagi, karena selama ini dia memang benar-benar mengurung dirinya tanpa keluar sekalipun dari apartment.

Jadi mungkin karena itulah Shoko mengkhawatirkan dirinya bahkan sampai menyuruh untuk tidak pulang sebelum jam 7 malam ditambah dengan menghubungi seluruh pegawai café untuk tidak bekerja hari ini, karena Shoko tahu kalau Ayane akan memilih menghabiskan waktunya bekerja di café daripada benar-benar menghabiskannya dengan bersantai.

"Haaahhh" kedua bahu Ayane bergerak turun seraya mendesah dengan panjang. "Bagaimana mau bersantai kalau apa yang senang aku lakukan tidak bisa dilakukan?" gumam sang pemain biola ini sambil memasang cemberut. Biolanya ditahan oleh Shoko, Café dengan terpaksa harus tutup karena tidak ada yang datang bekerja, kedua hal yang biasa dilakukan oleh perempuan bermata hazel ini sekarang tak bisa dilakukannya.

Dan dia juga tak bisa kembali ke apartment sebelum jam 7 malam, isi dompet miliknya hanya tinggal beberapa lembar uang yen saja, dan kalau dia mau menghabiskan waktu ke kota sebelah dia lupa membawa kartu keretanya. Sepertinya dewi keberuntungan belum berada di pihak perempuan berparas cantik ini.

Merebahkan tubuhnya ke atas rerumputan menatap langit pagi biru cerah, menutup kedua mata hazel miliknya mencoba meresapi pancaran sinar matahari pagi yang hangat sambil membuang segala penat dari dalam dirinya. Menghirup nafas dalam lalu membuangnya, setelah itu mengenyampingkan badannya,

'Sepertinya enak kalau tidur di sini' suasana sepi nan damai ditambah suara sungai yang mengalir dengan pancaran sinar matahari yang hangat memang cocok untuk dijadikan waktu tidur. 'Tidak! Tidak boleh! Kalau sampai Shoko tahu nanti aku bisa dimarahi!'

Terakhir kali dia ketiduran di luar lebih tepatnya ketiduran di bangku taman yang berada tak jauh dari apartment Shoko langsung menceramahinya dengan panjang. Ceramah bagaimana kalau ada orang yang berlaku jahat pada dirinya sewaktu tertidur dengan pulas. Dan entah darimana Shoko bisa tahu soal Ayane yang tertidur di bangku taman itu padahal waktu itu Shoko sedang berada Kyoto. Saat ditanyakan darimana perempuan berambut cokelat itu bisa tahu kalau Ayane tertidur di bangku taman, dia hanya menjawab dengan senyuman misterius 'Kalau itu sih gampang segala hal yang dilakukan oleh Ayane aku pasti tahu,'

Mungkin untuk orang pada umumnya pernyataan Shoko itu mengerikan layaknya seorang penguntit professional, namun bagi Ayane yang sangat mempercayai sahabatnya ditambah menyukai hal-hal yang berbau gaib itu malah terlihat kagum dan berkesimpulan kalau Shoko seorang esper yang tahu akan segalanya tanpa harus melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Kesimpulannya itu bukan didapatkan dari satu bukti saja, tapi beberapa bukti yang sudah terjadi seperti chat berisikan 'Sekarang kamu sedang minum milkshake dari café yang baru buka itu kan'

Ayane mengira kalau Shoko sedang berada dekat di sekitarnya namun saat dihubungi Shoko menjawab dia sedang berada di apartment. Serta beberapa kejadian aneh yang menimpa baik Ayane maupun Shoko. Entah kenapa kalau pergi dengan Shoko pasti ada saja kejadian yang menghambat mereka sampai tujuan.

"Hehehe" Ayane tertawa kecil seraya sosok Shoko memakai baju penyihir sambil menaiki sapu terbang terlintas di benaknya.

Kedua mata hazelnya membuka kembali, kerlingan geli terpancar dari dalamnya, berkedip seraya memfokuskan titik pandangannya. Raut bahagia menghiasi wajahnya dengan lembut, mendapatkan sesuatu yang sulit untuk ditemukan dengan tidak sangaja.

Semanggi berdaun empat

"Sepertinya hari ini bakalan beruntung,"

Mengeluarkan smartphone dari kantung cardigannya, lalu memotret semanggi berdaun empat itu. Melihat hasilnya yang cukup bagus, lalu mengirimkan gambarnnya melalui chat ke beberapa temannya dengan harapan kalau keberuntungan akan menghampiri mereka hari ini.

-;-

Menutup mulutnya yang menguap Hajime berjalan tepat di belakang Haru dengan wajah mengantuk. Seperti biasa setiap pagi, kalau saja tidak ada pekerjaan hari ini pasti Hajime akan terus terlelap dalam tidurnya secara semalam dia pulang sangat larut daripada biasanya.

"Ah! Akhirnya datang juga si tukang tidur!"

Mengedipkan kedua mata ungunya yang masih berat dan berhenti seraya Haru berhenti di depannya, "Maaf, maaf aku pulang larut semalam," gumam sang leader sambil mengusap-usapkan matanya.

Koi yang tadi berbicara langsung terkejut "Maksudku bukan Hajime-san, tapi Arata tuh!" membenarkan maksud orang yang tadi dia katakan secara Hajime dan Haru datang bersamaan dengan Arata dan Aoi lalu berhenti di depan pintu ruang kumpul secara bersamaan.

Kalau dilihat-lihat bukan Hajime saja yang masih terlihat mengantuk namun Arata juga masih terlihat memejamkan matanya tanda setengah sadar dari tidurnya, namun entah kenapa dia masih bisa berjalan ke ruang kumpul ini. "Kalau dilihat-lihat Hajime-san apa tidak apa-apa? Terlihat masih mengantuk sekali." Lanjut laki-laki berambut pink ini seraya mengkhawatirkan kondisi leader grupnya itu.

Tsukishiro Kanade yang merupakan manajer Six Gravity ini langsung bertanya pada sang leader "Hajime-kun apa benar tidak apa-apa?" wajahnya terlihat khawatir akan kesehatan Kuro-Ousama itu.

Senyuman kecil dan meyakinkan terlukis di sudut bibir merah Hajime, "Iya aku tidak apa-apa kok, Tsukishiro-san,"

Raut lega tergambar jelas di wajah muda sang manajer, walaupun sudah berada di pertengahan 20 akhir, wajah Tsukishiro Kanade masih terlihat bagaikan laki-laki berumur 19 tahun, "Jangan memaksakan diri ya," ucapnya menasihati laki-laki bermata ungu itu yang sampai sekarang Tsukishiro masih agak canggung ketika berurusan dengannya.

Walaupun sudah beberapa tahun mengurusi Six Gravity dan mengenal dekat dengan anak-anak member grup tersebut namun tetap saja ada rasa canggung ketika berbicara dengan seorang Mutsuki Hajime. Terlepas umurnya yang lebih tua daripada sang leader, namun aura yang dipancarkan sang pewaris Mutsuki itu tanpa disadari oleh orangnya aura itu sangat mengintimidasi seorang Tsukishiro Kanade yang merupakan pria biasa.

"Ja, Mina-san! Karena semuanya sudah kumpul, sekarang saya akan memberitahukan jadwal kalian hari ini"

Mengalihkan pembicaraan mereka kembali ke tujuan awal, yaitu mengkonfirmasi jadwal masing-masing untuk hari ini. Setelah semua anggota duduk melingkar di kursi masing-masing Kanade mulai memberitahukan setiap detail jadwal masing-masing anggota, lalu berhenti ketika ingin memberitahukan jadwal Hajime, teringat pembicaraan antara dia dengan Sakurai Akiko -yang sekarang menjadi penanggung jawab sekaligus produser sementara Six Gravity dan Procellarum menggantikan Tsukino Mikoto sang pemilik Tsukino Production yang sedang ke Amerika untuk beberapa waktu -tadi pagi sekali.

Membenarkan posisi kacamatanya, lalu tersenyum "Untuk hari ini Hajime-kun tidak ada pekerjaan"

"HEH?!" empat dari enam anggota Gravi terkejut mendengarnya.

"Dengan kata lain hari libur untuk Hajime-san?" Arata, Koi, dan Kakeru bertanya secara bersamaan sambil menoleh ke arah Kuro-Ousama yang mengedipkan kedua mata ungunya terkejut mendengar pemberitahuan dari manajer Gravi itu.

"Bukankah bagus untukmu Hajime? Jadi kamu bisa beristirahat seharian deh," komen Haru yang duduk di samping Hajime dengan senyuman khasnya.

Laki-laki berkacamata ini merasa sedikit lega karena sudah sebulan temannya itu belum mendapatkan libur, dan mendengar berita ini sangat melegakan hatinya yang sudah khawatir akan kesehatan sang leader, walaupun tahu kalau sang leader tidak akan tumbang begitu saja, namun untuk mencegah hal yang tidak diinginkan sudah seharusnya seorang Mutsuki Hajime mendapatkan libur.

"Eh? Benarkah aku tidak ada pekerjaan hari ini Tsukishiro-san?" tanya Hajime yang merasa masih terkejut sekaligus aneh. Yah aneh karena sebulan ini yang dilakukannya hanyalah bekerja tanpa henti, dan tiba-tiba disuruh libur seharian rasanya aneh bagi tubuhnya yang sudah terbiasa bergerak banyak karena bekerja. Tapi bukan berarti dia tidak senang karena sudah diberikan kesempatan untuk libur hari ini.

"Iya, hari ini Akiko-san berpesan kalau Hajime-kun hari ini tidak ada jadwal apapun" jawab Kanade meyakinkan kalau apa yang dia katakan adalah benar adanya.

"Bukankah bagus Hajime-san? Lagipula hanya Hajime-san lah yang selalu bekerja sebulan penuh tanpa libur lo'. Tidak baik untuk tubuh tahu Hajime-san," sahut Aoi sambil menasihati sang leader yang terlihat memforsir diriya itu.

Mendengar nasihat dari Aoi, Hajime akhirnya menganggukkan kepalanya, "Baiklah, aku akan istirahat hari ini," senyuman hangat terukir di bibirnya.

"Ah! Kalau kamu bosan kamu bisa ajak Kuroda jalan-jalan," membenarkan posisi kacamatanya, Haru menatap kelinci hitam besar yang sedang memakan wortel di mangkuknya itu dengan senyuman jahil di bibirnya. "Akhir-akhir ini, kelinci itu semakin gendut entah siapa yang memberikan makanan tambahan untuknya" mengucapkan kalimat ini sambil tersenyum manis pada Arata yang langsung tersedat.

Kedua mata ungu Hajime menatap Arata seraya mengetahui orang yang dimaksud oleh Haru. Selain Hajime dan Arata anggota Gravi yang lain memang menahan diri untuk tidak memanjakan kelinci hitam besar itu. "Baiklah akan aku lakukan.

-;-

"Eh?! Kenapa aku baru tahu, na Dai?!"

"Mau bagaimana lagi baru diputuskan di tadi pagi sekali"

Hal tersebut yang pertama kali Hajime dengar sesampainya di lobi asrama, suara Shimotsuki Shun sang leader Procella dan Kurotsuki Dai sang manajer grup tersebut. Semua anggota Procella lainnya sudah naik ke dalam mobil van duluan, meninggalkan sang leader, manajer, dan Fuzuki Kai yang merupakan sosok kakak baik bagi Procella maupun Gravi.

"Ada apa ini?" tanya Haru memerhatikan argument antara Shun dan Dai.

"Kalian masuk duluan saja ke van biar ini aku dan Haru yang urus." Hajime memerintahkan anggota lainnya untuk masuk ke dalam mobil van yang sudah parkir di depan lobi asrama.

"Ne, Hajime apa benar hari ini kamu libur?" tanya Shun dengan senyuman manis pada Kuro-Ousama yang berdiri di samping Tsukishiro Kanade.

Hajime yang malas meladeni Shun hanya mengangguk pelan tanda mengiyakan pertanyaan sang Maou-sama itu.

Melihat jawaban Idolanya, Shun sekarang bertanya pada manajer Six Gravity untuk memberikan konfirmasi "Kenapa bisa aku tak mengetahuinya? Bukankah hari ini seharusnya aku dan Hajime ada kerja bersama?"

Kanade dengan senyuman kecil menjawab pertanyaan laki-laki berambut silver itu, "Akiko-san memberitahukannya juga mendadak,"

Di saat Shun ingin membuka mulutnya kembali, Hajime berkata, "Kalau ini membuatmu merasa lebih baik, aku juga baru tahu tadi saat kumpul,"

Kalau memang itu adanya, Shun tidak bisa berkata apa-apa lagi, lagipula yang bisa mengalahkan perkiraan sang Maou-sama ini hanyalah seorang Sakurai Akiko yang sekarang menjabat sebagai produser sementara menggantikan Tsukino Mikoto. Laki-laki yang lahir di bulan November ini tadinya mengira kalau Akiko-san merupakan salah satu pengguna sihir seperti dirinya, tapi dia tidak merasakan aura aneh dari Akiko-san, hanya saja pergerakan dan apa yang dipikirkan oleh sang produser itu tidak bisa ditebak dengan mudah bahkan untuk seorang Shimotsuki Shun.

Kekuatan yang menyeramkan.

Senyuman manis khas terukir dengan indah di wajah rupawan milik Idol yang mempunyai fans bernama Albion ini, "Oke deh kalau begitu aku juga mau libur bersama Hajime~"

"Oi! Oi! Oi! Tidak bisa!?" sekarang giliran Fuzuki Kai yang beragument dengan leader Procella itu. "Oi Shun kamu kan sudah dapat libur kemarin!" mendesah lelah dengan kelakuan Maou-sama itu.

"No, no, no, Kai. Bukankah kamu sudah lihat kalau di kalender milikku semuanya itu tanggal merah? Jadi hari ini adalah hari libur juga." Dengan paras tak bersalah Shun membalas argument Kai dengan santai.

Haru tertawa kecil mendengar ungkapan Shun itu, "Aku tidak tahu kamu beli dimana kalender seperti itu, tapi keren ya bisa seperti itu."

Hajime yang terbiasa dengan kelakuan aneh dari leader Procella itu hanya bisa mendesah lelah, "Sudahlah kalian." Lalu kedua mata ungu bagaikan batu amethyst menatap Shun dengan tatapan tegas, "Shun," panggilnya dengan santai.

"Wai~ kenapa Hajime?" jawab Shun dengan senang karena dipanggil oleh Idolanya, walaupun sama-sama Idol tapi Shun sangat mengidolakan leader Gravi ini.

"Yang semangat kerjanya, lalu titip member Gravi yang lainnya." Pesan Hajime yang merasa bersalah tidak bisa ikut kerja bersama anggota lainnya.

Menganggukkan kepalanya, senyuman hangat tanda paham akan perasaan sang Kuro-Ousama, Shun menjawab, "Tentu saja." Membalikkan badannya, lalu memanggil Kai sambil keluar dari lobi "Ayo Kai, kita punya pekerjaan yang harus kita lakukan,"

"Hah, baguslah," desah Kai lega, hanya dengan perkataan Hajime sang Maou-sama akhirnya mau juga bekerja hari ini. "Arigatou na Hajime! Ja!" Kai mengucapkan terimaksih sebelum akhirnya meninggalkan lobi.

"Kalau begitu aku juga berangkat ya. Hajime jangan lupa ajak Kuroda jalan-jalan ya~" pesan Haru lalu beranjak pergi menyusul anggota Six Gravity lainnya.

Menganggukkan kepalanya sedikit, lalu menjawab "Iya. Hati-hati."

-;-

Hajime memasuki ruang kumpul yang biasanya ramai, kini sepi hanya tinggal dirinya dan para hewan penghuni asrama. Mata amethyst milik laki-laki berumur 22 tahun ini mendapati hewan-hewan peliharaan asrama itu bermain bersama memenuhi ruangan. Kurokke -Shiba-inu -yang dirawat oleh Kakeru dan Koi sedang berguling di atas karpet bersama Kuroda, Hokekkyou-kun burung kecil milik Haru bertengger di atas tv bercuit sambil memerhatikan Shiba-inu dan Kuroda.

Bingung apa yang harus dia lakukan di hari liburnya itu, terlebih rasa kantuknya sudah menghilang bersamaan dengan perginya anggota lain bekerja. Memikirkan apa yang dapat dia lakukan untuk menghabiskan waktu di pagi harinya itu. Setelah beberapa saat sebuah ide muncul di benaknya.

"Bagaimana kalau hari ini aku memandikan kalian? Ne, Kurolke, Kuroda?" dengan senyuman hangat Hajime menghampiri kedua hewan itu yang masih berguling-guling di atas karpet. Kedua hewan tersebut berhenti mendengar ucapan dari Ousama, seakan-akan menngerti apa yang dikatakan, Kurokke menggonggong ekornya bergoyang ke kanan ke kiri seakan-akan senang diajak mandi, sedangkan Kuroda hanya menatap Hajime.

Menyimpulkan kalau kedua hewan itu tidak keberatan dengan tawarannya, Hajime kemudian menyuruh kedua hewan tersebut mengikutinya menuju kamar mandi "Baiklah Kuroda dan Kurokke, ikuti aku. Dan Hokekkyou-kun tolong jaga ruangannya ya.." dengan diikuti Shiba-inu dan kelinci besar, Hajime berjalan menuju kamar mandi.

-;-

Setelah memandikan kedua hewan berbulu tersebut, pemilik fans bernama Initium ini mengambil smartphone miliknya dari meja kamarnya, kembali ke ruang kumpul lalu merebahkan tubuh proporsionalnya itu di atas sofa hitam empuk yang ada di tengah ruangan. Mendesah pelan sambil mengusap-usap kepalanya menyingkirkan rambut hitam miliknya yang menutupi matanya, lalu mengecheck chat yang ada di smartphone miliknya.

Beberapa chat terpampang di layar smartphonenya.

Yang pertama kali pemilik mata ungu amethyst ini membuka chat dari Akiko-san yang berisikan pemberitahuan kalau dirinya mendapatkan libur hari ini. Benar apa yang dibilang Tsukishiro-san kalau keputusan pemberian libur untuknya mendadak sekali. Seharusnya hari ini dia ada pekerjaan sampai jam 7, setelah itu ada meeting bersama leader grup lainnya.

Tapi sepertinya karena Akiko-san sudah tahu bahwa laki-laki sang empunya wajah tampan ini belum mendapatkan libur selama sebulan, akhirnya memutuskan untuk meliburkannya. Kalau Akiko-san yang mengatur semuanya Hajime tidak khawatir akan pekerjaan yang ditunda hari ini. Semua menjadi tanggung jawab sang produser.

Selesainya membaca chat dari Akiko-san, Hajime beralih ke chat yang dikirimkan oleh Kurotsuki Ayane. Terpampang di layar sebuah foto semanggi berdaun empat, dan dengan pesan di bawahnya 'Semoga hari ini beruntung~ Semangat bekerja ' tersenyum hangat ketika membacanya.

'Bagaimana reaksinya kalau dia tahu kalau aku tak bekerja hari ini ya?' matanya melirik waktu kapan chat itu dikirim. Kedua matanya menyipit mendapati waktu kirim itu pagi sekali sekitar jam 6 pagi tadi.

'Bukankah terlalu pagi keluar jam segitu?'

Kalau Hajime sendiri jam segitu masih tertidur lelap di atas kasur. Terheran bagaimana seorang perempuan seperti Ayane bisa bangun dan keluar beraktivitas di luar sepagi itu. Dan Hajime yakin kalau waktu tidur Ayane sama seperti dirinya, secara setiap Idol ini pulang dari pekerjaannya sambil jalan kaki, dia selalu saja bertemu dengan perempuan nan anggun itu.

Kuroda tiba-tiba melompat ke pangkuan Hajime yang tiduran di atas sofa "Kuroda, berat." Matanya mendapatkan kelinci hitam besar itu yang kini sudah bermanja-manja minta dielus di pangkuan, mendesah pelan lalu tangan kirinya mengelus bulu hitam milik kelinci tersebut, sedangkan tangan kanannya membalas chat dari Ayane.

'Eh semanggi berdaun empat. Beruntung sekali kamu bisa menemukannya. Dan sepertinya aku juga sedang beruntung hari ini karena hari ini akhirnya mendapatkan libur'

Mengirim chat tersebut lalu mata ungunya mulai terasa berat, memang deh kalau suasana sepi seperti ini enaknya tidur. Tak berselang lama kedua mata ungu bagaikan batu amethyst tersebut tertutup seraya sang empunya tertidur pulas dengan Kuroda yang tertidur juga di pangkuannya.

-;-